Pemain Ini Buktikan Balikan Sama Mantan Tak Selamanya Buruk

spot_img

Football lovers pasti pernah melihat seorang pemain yang bolak-balik ke klub yang sama dengan alasan pembalasan jasa, uang miliaran euro atau bahkan hanya demi mendapat menit bermain.

Seperti yang dialami gelandang Manchester United, Paul Pogba. Setelah United melepasnya secara cuma-cuma ke Juventus, Pogba kembali ke Manchester United pada tahun 2016 dengan biaya yang memecahkan rekor sebagai pemain termahal MU kala itu.

Namun, beberapa pengamat bola menganggap Pogba gagal di MU, ia tak sebagus saat di Juve. Namun, tak semua pemain yang kembali ke klub lamanya bernasib sama dengan Pogba. Berikut buktinya.

Leonardo Bonucci

Selama bertahun-tahun, Leonardo Bonucci telah membangun reputasi sebagai pemain belakang paling sangar se jagad Italia bersama Juventus. Bersama klub yang bermarkas di kota Turin itu, Bonucci telah memenangkan belasan gelar bergengsi. 

Namun, pada musim 2017/2018 hal yang ditakutkan seluruh fans pun terjadi. Dengan mengejutkan, Bonucci malah menyeberang ke rival, AC Milan. Sontak setelah keputusan kontroversialnya itu, hari-hari Bonucci selalu dihiasi oleh kebencian dari fans Juve

Hanya bertahan semusim, ia pun kembali ke pelukan Juve. Selama periode keduanya bersama Juve, Bonucci kembali dibanjiri trofi seperti biasanya. Ia pun kembali menemukan performa terbaiknya dan duetnya bersama Chiellini hampir tak tergantikan hingga sekarang.

Ricardo Kaka

Selanjutnya ada Ricardo Kaka. Ia memenangkan semua yang dia bisa bersama Milan. Bahkan jadi yang terbaik di dunia setelah meraih Ballon d’Or dan pemain terbaik versi FIFA selama ia berseragam panji Rossoneri.

Sihir Kaka di San Siro, membuat Real Madrid tertarik menggunakan jasanya. Ia menjalani empat musim yang tak begitu spesial di Spanyol. Bersama Los Blancos, Kaka tak bisa membawa kualitas yang sama seperti masa-masa indahnya di Milan.

Bahkan ketika di Madrid, Kaka justru sering mengalami cedera sehingga tak begitu banyak mendapat menit bermain dari Jose Mourinho. Kurangnya menit bermain membuat Kaka kembali ke Milan, tempat yang seharusnya tak pernah ia tinggalkan.

Dalam periode keduanya bersama Milan, ia kembali menunjukan permainan memukau. Jika Kaka tak membuang-buang waktunya di Madrid, mungkin Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi tak akan mendapat Ballon d’Or sebanyak sekarang.

Nemanja Matic

Nemanja Matic didatangkan Chelsea pada tahun 2009. Seperti bintang muda lainnya, Matic tak terhindar dari tradisi peminjaman pemain. Ia pun langsung dipinjamkan ke Vitesse. 

Setelah masa peminjamannya selesai, Matic justru dijual ke Benfica. Ia dijadikan alat tukar untuk memperlancar Chelsea dalam merekrut David Silva. Lucunya, pada tahun 2014 Matic kembali mengiyakan pinangan Chelsea yang sempat membuangnya itu.

Menariknya, keputusan Matic untuk melanjutkan kisah lama yang belum usai dengan The Blues adalah keputusan yang tepat. Ia menjadi sosok penting di lini tengah Chelsea dan meraih beberapa trofi bergengsi termasuk dua gelar Liga Inggris pada tahun 2015 dan 2017.

Filipe Luis

Filipe Luis menjelma salah satu bek kiri terbaik kala bermain di Atletico Madrid asuhan Diego Simeone. Setelah musim 2013/14 yang hebat, Chelsea menaruh perhatian pada Luis dan memutuskan untuk mengontraknya. 

Mengemban ekspektasi yang sangat tinggi, Luis nyatanya tak mampu memenuhinya. Bek Brasil itu hanya membuat 15 penampilan bersama The Blues di Liga tanpa mencetak satu gol pun. Luis pun bertahan hanya semusim di Chelsea sebelum akhirnya balikan sama Atletico.

Mungkin karena memang berjodoh dengan Atletico, Filipe Luis menghabiskan empat musim lagi dan kembali menemukan performa terbaiknya. Ia juga berkontribusi dalam dua trofi Eropa yaitu Europa League dan UEFA Super Cup di musim 2017/18. 

Daley Blind

Berikutnya ada mantan punggawa Manchester United, Daley Blind. Pemain internasional Belanda ini dibawa oleh Louis Van Gaal dari Ajax Amsterdam pada tahun 2014.

Namun, setelah kepergian Van Gaal, praktis Daley Blind cukup kesulitan untuk bersaing di skuad utama United. Posisinya tergeser oleh Ashley Young yang diplot sebagai bek kiri oleh Jose Mourinho.

Akhirnya, pada tahun 2018 ia memutuskan untuk kembali ke Ajax yang kala itu sudah dilatih Ten Hag. Bermain di kampung halaman, ia seperti pemain yang terlahir kembali. Ia langsung menjadi sosok yang selalu diandalkan oleh Ten Hag.

Dalam kesempatan keduanya bersama Ajax, ia juga berkontribusi penuh dalam meraih beberapa gelar domestik seperti gelar Liga Belanda pada musim 2018/19, 2020/21 dan 2021/22.

Shinji Kagawa

Selain Daley Blind, Shinji Kagawa juga bernasib sama. Kagawa tergabung dalam skuad Dortmund yang menjuarai Bundesliga 2011 dan 2012. Menjalani dua musim yang luar biasa, membuat Sir Alex tergoda untuk mendatangkannya di awal musim 2012/13.

Sempat berhasil membantu United meraih gelar Liga Inggris di tahun pertamanya, Kagawa mulai tersisih ketika Sir Alex pensiun. Kagawa cukup kesulitan untuk mengamankan satu tempat di skuad utama. 

Merasa sudah habis di Inggris, Dortmund datang untuk menyelamatkan karir Kagawa. Menjalani periode keduanya bersama Dortmund, Kagawa mulai bangkit. Bahkan Ia berhasil menambahkan satu gelar DFB Pokal pada tahun 2016/17.

Van Persie

Mantan pemain Manchester United lainnya ada Robin Van Persie. Berbeda dengan Daley Blind dan Shinji Kagawa, Van Persie tak langsung kembali ke Arsenal ketika sudah menyelesaikan kerjasama dengan Setan Merah.

Van Persie sempat bermain untuk Fenerbahce sebelum akhirnya kembali ke klub masa kecilnya, Feyenoord. Bersama Feyenoord, Van Persie muda dulu pernah mengantarkan klub asal Belanda itu meraih gelar Europa League pada tahun 2002.

Menariknya, di periode keduanya bersama Feyenoord, Van Persie belum habis. Ia membantu Feyenoord untuk meraih dua gelar piala domestik. Bahkan legenda Arsenal ini masih bisa berkontribusi di 21 gol Feyenoord dalam 25 pertandingan di Liga musim 2018/19.

David Luiz

David Luiz yang datang ke Chelsea pada tahun 2011 tergabung dalam skuad Chelsea asuhan Roberto Di Matteo yang berhasil menjuarai Liga Champions untuk pertama kali dalam sejarah klub.

Luiz menghabiskan empat musim bersama Chelsea sebelum akhirnya dipinang oleh klub kaya raya asal Prancis, PSG. Berbeda dengan pemain lain di daftar kali ini, Raihan trofi, David Luiz di PSG semakin deras. Namun, ia tak pernah sekalipun meraih trofi Eropa bersama PSG.

Nah, ketika Antonio Conte menukangi Chelsea, ia memulangkan David Luiz dari PSG. Di Musim debut keduanya, Luiz langsung memberikan gelar Liga Inggris untuk The Blues. Puncaknya pada musim 2018/19, ia kembali meraih trofi Europa League. 

Didier Drogba

Masih dari Chelsea, ada Didier Drogba. Periode pertama Drogba di Chelsea sudah tak bisa diragukan lagi. Drogba yang sempat diragukan, seketika menjelma  mesin pencetak gol di bawah asuhan Jose Mourinho. 

Setelah memenangkan trofi Liga Champions di tahun 2012, Drogba sempat berkelana ke China hingga Turki, sebelum akhirnya kembali memperkuat Chelsea pada tahun 2014. 

Kembali berkolaborasi dengan Jose Mourinho, saat usianya sudah menginjak 36 tahun, Drogba membuktikan diri bahwa ia masih bisa memberikan kontribusi untuk klub. Ia berhasil menghadirkan dua gelar domestik yaitu satu Liga Inggris dan satu Piala Liga pada tahun 2015.

Zlatan Ibrahimovic

Yang terakhir ada Lord Zlatan Ibrahimovic. Sempat berkelana ke beberapa klub top Eropa, pada musim 2020/21, dengan mengejutkan Zlatan kembali memperkuat AC Milan. Di usianya yang tak muda lagi, banyak pihak yang meragukan kapasitas Ibra untuk bermain di sepakbola Eropa.

Namun, semua anggapan itu salah besar. Usia hanyalah angka bagi Lord Ibra. Di musim pertamanya kembali ke AC Milan, Ibra berhasil mencetak 10 gol dari 18 pertandingan musim lalu. Itu angka yang cukup untuk pemain yang sudah berusia 39 tahun.

Kini, ia menjalani musim kedua bersama Milan. Lagi-lagi, Ibra menjadi inspirator semangat Milan. Bahkan Ibra dan kolega sedang berambisi untuk meraih gelar scudetto musim ini demi mengembalikan kejayaan AC Milan yang telah lama hilang.

https://youtu.be/aVBqrpC4VUM

Sumber: Planetfootball, Fadeawayworld, Sportskeeda, Transfermarkt

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru