Beranda blog Halaman 554

Kisah Kelam Kegagalan Liverpool di Final Liga Champions

Tak selamanya Liverpool bernasib indah ketika di final seperti layaknya kisah “Miracle of Istanbul” di 2005 maupun edisi terakhir mereka menjadi kampiun pada 2019 ketika berjumpa Tottenham Hotspur. Ada kalanya The Reds tak berhasil bahkan menyimpan kisah pilu di final Liga Champions, sejak keikutsertaannya dari tahun 1977.

Misalnya, di tahun 1985. Sebuah tragedi terjadi di final Liga Champions kelima Liverpool. Final yang berlangsung di stadion Heysel,Brussels Belgia, membuat 39 jiwa arwah melayang yang dikenal ketika itu dengan “Heysel 1985”

Ironisnya lagi, pada saat itu pula, Liverpool harus menelan pil pahit usai kalah dari Juventus 1-0. Bukan itu saja. Kekalahan itu juga menjadi kekalahan pertama Liverpool sejak tahun 1977 di final Liga Champions. The Reds sebelumnya selalu menang di final Liga Champions.

2007

Setelah 20 tahun sejak final 1985, Liverpool tampil lagi di final pada 2005 dan berakhir dengan indah di Istanbul ketika mengalahkan Milan lewat adu tos-tosan. Namun, kisah manis itu tak terluang di final Liga Champions 2007.

Bermodal di edisi tahun 2005, Liverpool menatap final Liga Champions 2007 dengan penuh percaya diri. Selain itu, lagi pula musuh yang dihadapi masih sama, yaitu AC Milan dengan pelatih yang sama, Carlo Ancelotti.

Sementara di kubu The Reds, Rafael Benitez masih memegang kendali. Skuad Liverpool pun masih diperkuat para pemain lama, dan beberapa amunisi baru seperti Javier Mascherano, Arbeloa, Dirk Kuyt, Jermaine Pennant, sampai Craig Bellamy.

Perjalanan buruk Liverpool di final Liga Champions 2007, diawali dengan tidak lolosnya mereka dengan mudah, lantaran berada di peringkat ketiga Liga Inggris musim sebelumnya. Liverpool pun harus mengikuti babak playoff kualifikasi terlebih dahulu. Menghadapi wakil Israel, Maccabi Haifa. Beruntungnya, Liverpool mampu melaju mulus ke fase grup setelah mengatasi wakil Israel itu dengan agregat 3-2.

Di fase grup, Liverpool tergabung di grup C bersama PSV Eindhoven, Bordeaux, dan Galatasaray. Secara mengejutkan, Liverpool berhasil lolos ke babak 16 besar sebagai juara grup. Di babak 16 besar, pasukan Benitez mesti menghadapi Barcelona.

Mampu menang dengan agresivitas gol tandang atas Barca, Liverpool melaju ke perempat final dengan menghadapi kembali rivalnya di grup, yakni PSV Eindhoven. Pasukan Benitez secara mengejutkan mampu menggulung wakil Belanda itu dengan skor agregat telak 4-0.

Di semifinal, tanda-tanda Dejavu 2004/05 sebenarnya sudah terlihat. Ketika Liverpool kembali bertemu Chelsea. Di mana mereka pernah sama-sama bertemu di semifinal 2004/05. Kali ini semifinal menjadi milik Liverpool kembali.

Liverpool mampu menang dengan susah payah setelah skor agregat imbang di dua leg. Liverpool akhirnya menang lewat adu tos-tosan. Mereka melaju ke final Liga Champions musim 2006-2007 dan bertemu AC Milan di Athena, Yunani.

Final yang diharapkan fans Liverpool menjadi “Miracle of Athens” gagal terwujud. Liverpool menyerah 2-1 atas Milan. Dendam Milan yang terbalaskan itu menenggelamkan Liverpool dalam kegagalan keduanya di final Liga Champions. Dua gol Filippo Inzaghi dan 1 gol Dirk Kuyt menjadi hasil akhir pertempuran ulangan 2005 itu di Yunani.

Sebuah kegagalan sekaligus penyesalan bagi Liverpool. Ketika mereka memilih strategi yang salah tidak memainkan dua strikernya yang lagi subur ketika itu, yakni Peter Crouch dan Bellamy sebagai starter.

Benitez malah memilih memainkan Dirk Kuyt sebagai penyerang tunggal dari awal laga, yang itu bukan posisi aslinya. Ini murni kesalahan strategi Benitez, dan itu mampu dibaca Ancelotti dengan masterclass formasi pohon cemaranya.

2018

Setelah 11 tahun lamanya, Liverpool akhirnya mencoba lagi peruntungannya di final Liga Champions. Di musim 2017/18, Liverpool kembali masuk final untuk kedelapan kalinya. Final kali ini, Liverpool bertemu lawan yang tidak mudah, yakni peraih gelar juara Liga Champions dua kali berturut edisi sebelumnya, yakni Real Madrid.

Liverpool dan Real Madrid bertemu lagi di final Liga Champions setelah terakhir mereka bertemu di final 1981. Bagi Liverpool, ini adalah momentum yang tepat untuk meraih gelar keenamnya di Eropa, dengan berkaca pada memori indah 1981. Ketika itu The Reds mampu meraih gelar ke-3 nya dengan menghempaskan Madrid 1-0.

The Reds musim itu dengan proyek pembangunan skuad bersama Jurgen Klopp mampu mengamankan tiket Liga Champions setelah finish di posisi 4 Liga Inggris musim sebelumnya. Liverpool di musim 2017-2018 ini juga kedatangan banyak pemain seperti Mohamed Salah, Andy Robertson, Chamberlain maupun Virgil Van Dijk.

Akan tetapi Liverpool harus terlebih dahulu menjalani partai playoff kualifikasi Liga Champions musim itu. Di babak playoff, Liverpool mengalahkan wakil Jerman, Hoffenheim dengan agregat 6-3.

Masuk fase grup, The Reds menjadi juara grup di atas Sevilla, Spartak Moscow dan Maribor. Masuk ke babak 16 besar, The Reds mampu mengatasi perlawanan wakil Portugal Porto dengan agregat telak 5-0. Sedangkan di perempat final, The Reds juga mampu menang agregat telak 5-1 atas wakil Inggris, Manchester City.

Di semifinal, hujan gol terjadi ketika The Reds bertemu wakil Italia, AS Roma. Agregat 7-6 pun tak terhindarkan dan memantapkan posisi The Reds melaju ke babak final untuk melawan raksasa Spanyol, Real Madrid. Ini merupakan final pertama bagi Klopp di Liverpool, sekaligus yang kedua bagi Klopp di Liga Champions, setelah ia pernah merasakan atmosfer final ketika bersama Dortmund di 2012-2013.

Final yang dihelat di Kiev, Ukraina pada tanggal 27 Mei 2018 itu ternyata malah menjadi rentetan kisah kelamnya Liverpool di final Liga Champions. Kekalahan atas Madrid dengan skor 3-1 pun tak terelakan berkat dua gol Bale, Benzema, dan Mane.

Faktor Mo Salah yang cedera di babak pertama, dan blunder yang diciptakan kiper mereka, Loris Karius menjadi catatan kelam yang tak terlupakan. Klopp tak mampu memutus rantai juara Real Madrid dan menjadikannya 3 kali berturut-turut Madrid menjuarai Liga Champions.

Sekarang, di 2021-2022 Liverpool untuk kesekian kalinya akan manggung lagi di partai puncak Liga Champions, dalam rangka mengejar asa gelar ketujuh mereka di Eropa. Kini, mereka kembali Dejavu dengan bertemu Real Madrid, lawan yang pernah dihadapi The Reds dalam dua edisi final di partai puncak Liga Champions, yakni 1981 yang berujung manis, dan 2018 yang berujung kelam.

Sumber Referensi : uefa.com, transfermarket, footballfandom

Melempar Ingatan Saat Real Madrid Hattrick Liga Champions

0

Tendangan keras Karim Benzema dari dalam kotak penalti mengunci kemenangan Real Madrid atas Manchester City. Gol itu membawa Los Galacticos unggul 3-1 dan menggenapi kemenangan agregat 6-5 untuk lolos ke final Liga Champions untuk ke-17 kalinya. Itu sekaligus menjadi pertanda kalau Real Madrid memang rajanya Liga Champions.

Ingat saat bagaimana Los Galacticos menciptakan hattrick Liga Champions? Iya, itu dilakukan El Real pada tahun 2016, 2017, dan 2018. Cerita tiga kali berturut-turut menjuarai Liga Champions itu sudah tentu akan selalu diingat oleh seluruh penggemar Real Madrid.

Titik Balik Musim 2015-2016 

Kisah dongeng Real Madrid yang berhasil meraih gelar Liga Champions tiga musim berturut-turut berawal dari musim 2015-2016. Real Madrid yang ditinggal Rafael Benitez di pertengahan musim, memaksa manajemen memutar otak untuk mencari siapa yang pantas menggantikan posisinya.

Tak memiliki waktu banyak, petinggi Madrid akhirnya menunjuk Zinedine Zidane yang kala itu masih menjabat sebagai pelatih Real Madrid Castilla, demi menyelamatkan sisa musim El Real.

Di luar dugaan, Zidane yang masih bau kencur di dunia kepelatihan, ternyata membawa warna baru di skuad Madrid. Hasil kurang memuaskan di paruh awal musim terbayar dengan Zidane yang berhasil mengamankan posisi kedua klasemen.

Zidane tak melakukan perubahan signifikan terhadap materi pemain. Perubahan yang cukup mencolok justru terlihat di staf kepelatihan. Ia mendatangkan Antonio Pintus, mantan pelatih fisiknya sewaktu ia masih berseragam Juventus.

Antonio Pintus menganut filosofi kebugaran bahwa tim yang dapat berlari paling cepat untuk waktu terlama akan memenangkan laga. Zidane pun mengamini filosofi yang kelak terbukti ampuh dalam tiga musim ke depan.

Setelah menyelamatkan musim Real Madrid, Zidane secara mengejutkan justru berhasil mencapai partai final di Liga Champions dan berhadapan dengan rival sekota, Atletico Madrid.

Berawal di Milan

Layaknya laga derby, laga final yang diselenggarakan di Milan itu berjalan alot. Pertahanan Real Madrid yang masih dikawal dua bek pemakan kaki lawan, Pepe dan Sergio Ramos berhasil meredam serangan Atletico Madrid di babak pertama. 

Bahkan, Sergio Ramos memberi El Real keunggulan awal gol yang cukup kontroversial, lantaran pemain Spanyol itu tampak berada dalam posisi offside. Namun, wasit tak mengambil tindakan apa pun, dan skor 1-0 bertahan hingga turun minum.

Babak kedua giliran Los Rojiblancos yang tampil menekan. Serangan sporadis yang dilancarkan Fernando Torres CS menghasilkan penalti, hanya beberapa menit setelah peluit babak kedua dibunyikan.

Namun sayang, Griezmann yang ditunjuk sebagai algojo tak mampu menyelesaikan tugasnya dengan baik. Akhirnya, Yannick Carrasco pun muncul sebagai penebus kesalahan Griezmann dan menyamakan kedudukan dengan 11 menit waktu normal tersisa.

Menariknya, ramuan strategi pertahanan Simeone membuat sang mega bintang, Cristiano Ronaldo dibuat mati gaya oleh duo bek jangkung Diego Godin dan Stefan Savic. Penjagaan yang baik membuat Ronaldo jarang mendapat suplai bola dari lini tengah.

Lantaran tak terjadi gol di babak tambahan, laga dilanjutkan ke babak adu penalti. Kegagalan Juanfran saat adu penalti, menandai kesuksesan Real Madrid memenangi gelar pertama dari tiga trofi Liga Champions yang diraih bersama Zidane.

Mempertahankan Gelar di Cardiff

Kegemilangan Real Madrid di Liga Champions pun berlanjut pada musim selanjutnya. Seakan ingin menjawab segala keraguan terhadap dirinya, Zidane pun membangun tim untuk musim 2016/17 dengan lebih rapi.

Dan benar saja, anak asuh Zinedine Zidane berhasil memuncaki klasemen La Liga dengan selisih tiga poin dari sang juara bertahan musim lalu, Barcelona. Masih belum puas, Real Madrid berambisi mengawinkan gelar La liga dengan Liga Champions setelah mencapai laga final kontra Juventus. 

Juventus yang menjadi satu-satunya wakil Italia, berhasil menumbangkan tim kejutan AS Monaco di semifinal dan menantang sang juara bertahan, di partai final yang dimainkan di Cardiff.

Beda halnya dengan final musim lalu. Madrid yang dipimpin oleh Ronaldo dan Benzema di lini depan tampil superior sepanjang jalannya laga. Ronaldo yang musim lalu tak mencolok, kini tampil kesetanan dengan memborong dua gol.

Ronaldo memberikan keunggulan cepat di menit 20. Namun, tujuh menit berselang, Juve berhasil menyamakan kedudukan melalui salah satu gol terbaik di final Liga Champions buah karya Mario Mandzukic. Skor satu sama pun berakhir hingga interval babak pertama.

Di babak kedua, pertahanan Juve semakin diobok-obok. Zidane yang melakukan penyesuaian kecil dalam strateginya, gagal diantisipasi oleh Massimiliano Allegri. Hasilnya? Sudah pasti. Pembantaian! 

Sang juara bertahan kembali mencetak tiga gol tambahan yang tak mampu dibalas oleh si Nyonya Tua, sehingga membuat Gianluigi Buffon tampak sangat kelelahan lantaran dipaksa untuk kembali memungut bola dari gawangnya sendiri. 

Babak kedua jadi milik Madrid. Mereka dominan dan mengakhiri laga dengan skor telak 4-1, sekaligus menjadi tim pertama di era Liga Champions yang berhasil mempertahankan gelar juaranya.

Hattrick Liga Champions di Kiev

Puncaknya, Real Madrid dengan luar biasa, kembali mencapai partai final Liga Champions 2017/2018, meski harus susah payah melewati klub-klub raksasa lainnya, seperti PSG, Juventus dan Bayern Munchen di fase gugur. 

Berhadapan dengan Liverpool di final, Zidane kembali mencadangkan Gareth Bale dan mengandalkan formasi 4-4-2 diamond, dengan mengandalkan Cristiano Ronaldo dan Karim Benzema di lini depan. Belum genap 30 menit jalannya pertandingan, Liverpool harus rela kehilangan pemain andalan mereka, Mohamed Salah yang mengalami cedera bahu lantaran dipiting oleh Sergio Ramos.

Berharap keajaiban Portugal yang kehilangan Ronaldo, namun malah berhasil menjuarai Euro 2016 menular ke pasukan The Reds di Kiev. Ternyata mitos itu hanyalah isapan jempol.

Bencana justru berdatangan kala memasuki babak kedua, ketika wak haji mengaktifkan genjutsu yang membuat Karius terpaksa melakukan blunder. Tak menyia-nyiakan peluang, Benzema pun menyerobot bola dari Karius, dan gol ajaib pun terjadi. 

Sempat disamakan oleh Sadio Mane pada menit 55. Zizou merespons dengan memasukan Gareth Bale ke arena pertarungan menggantikan Isco yang tampil kurang maksimal. Insting Zidane pun berbuah manis.

Tak butuh waktu lama, Bale langsung mencetak gol spektakuler. Mendapat umpan dari Marcelo, Bale mengeksekusinya dengan teknik andalan Captain Tsubasa yang diarahkan ke sudut atas gawang.

Tidak ada perlawanan berarti dari Liverpool, penderitaan Karius justru semakin parah ketika ia tak mampu menggagalkan tendangan keras dari Bale, yang akhirnya gol tersebut memastikan Real Madrid meraih gelar Liga Champions ketiga secara beruntun.

Sumber: Bleacher Report, UEFA, Managingmadrid, Black White 

10 Kandidat Teratas Pemenang Ballon d’Or 2022

0

Seperti biasa, penghujung musim, majalah asal Prancis, France Football akan memberikan penghargaan Ballon d’Or kepada para pemain yang dianggap layak mendapatkannya. Ballon d’Or sendiri sering dinilai sebagai supremasi tertinggi karier seorang pesepakbola.

Lionel Messi adalah orang terakhir yang membawa trofi Ballon d’Or ke mobilnya, pada tahun 2021 lalu. Namun, pada Ballon d’Or tahun 2022 ini, akan ada perubahan, terutama perubahan format.

France Football menjelaskan bahwa pemain yang akan meraih Ballon d’Or, akan dilihat performa individunya sepanjang Agustus 2021 sampai Juli 2022 atau bisa dikatakan satu musim penuh, bukan satu tahun kalender seperti edisi sebelumnya. Di mana itu akan menjadi penilaian utama pada Ballon d’Or mendatang.

Dengan kata lain, dalam format yang baru ini, Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo, dua pemain yang kerap berebut Ballon d’Or, bisa jadi tidak akan mendapatkannya di edisi kali ini. Mengapa? Karena performa keduanya, di musim ini mengalami pasang surut.

Kalau Messi dan Ronaldo bukan kandidat terkuat pemenang Ballon d’Or, lalu siapa? Nah, berikut ini Starting Eleven akan sajikan kandidat teratas pemenang Ballon d’Or 2022, yang sengaja dihimpun dari berbagai situs olahraga. Siapa saja mereka?

Son Heung-Min

Lincah, cepat, taktis, dan tangkas, begitulah penggambaran sempurna sosok Son Heung-Min. Son yang kini bermain untuk Tottenham Hotspur menyuguhkan penampilan terbaiknya di musim ini. Ia, sebagai seorang pemain yang memiliki fleksibilitas yang tinggi, sudah mencetak 21 gol dari 33 pertandingan di Premier League.

Dengan catatan itu, ia menjadi top skor kedua di Premier League hingga sejauh ini. Catatan itu tambah menggembirakan, setelah ia juga mengemas 9 asis dari pertandingan yang ia lakoni. Maknanya, selain menjadi mesin gol, Son juga seorang pemain yang mampu mengkreasikan sebuah peluang mematikan.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Premier League (@premierleague)

Bukan hanya itu, Son Heung-Min juga masih memiliki peluang untuk membawa Tottenham Hotspur ke Liga Champions. Beberapa pekan terakhir, Son menjadi salah satu nominasi pemain terbaik Liga Premier Inggris musim ini. Dengan catatan-catatannya itu, jelas sangat mungkin bagi Son untuk menjadi kandidat teratas pemenang Ballon d’Or.

Virgil Van Dijk

Virgil Van Dijk sebetulnya bukan nama asing di kancah perebutan Ballon d’Or. Bek Liverpool itu pernah memiliki kesempatan untuk bersaing memperebutkan trofi tersebut. Meski ia masih menemui kegagalan.

Namun, percayalah! Tepat kalau mengatakan bahwa Van Dijk, adalah kandidat Ballon d’Or yang potensial. Ia telah membawa Liverpool menjuarai Carabao Cup di musim ini. Van Dijk juga menggiring The Reds ke final Liga Champions.

Penampilan individunya musim ini juga sangat baik. Van Dijk sudah membubuhkan 3 gol dan 5 asis di segala kompetisi, di musim ini. Namun, catatan seorang bek tidak fair kalau dilihat dari gol dan asisnya. Van Dijk setidaknya sudah menciptakan 31 clean sheets pada musim ini.

Christopher Nkunku

Mengingat format baru Ballon d’Or tahun 2022, tentu kalian nggak perlu kaget ada nama Nkunku di daftar ini. Beberapa media olahraga internasional, seperti Goal telah memasukkan nama Christopher Nkunku sebagai salah satu kandidat pemenang Ballon d’Or.

Selain harga pasarannya yang naik, kualitas seorang Nkunku juga mengalami lonjakan yang signifikan. Ia, pada musim ini saja, sudah menciptakan 34 gol di semua ajang bersama RB Leipzig. Bukan cuma gol, catatan 20 asis juga mengikuti perjalanannya musim ini.

Nkunku sukses mengantarkan Leipzig ke semifinal Liga Eropa. Ia kini, juga masih memiliki tabungan trofi. Di mana Nkunku bisa saja membawa Leipzig menjuarai DFB Pokal, andai saja bisa mengatasi perlawanan SC Freiburg di partai final nanti.

Sadio Mane

Sadio Mane bisa jadi akan meninggalkan Liverpool. Namun, performa sang pemain tak pernah bisa dilupakan begitu saja. Pada musim ini, Mane menebalkan reputasinya sebagai salah satu pemain terbaik yang pernah dilahirkan Afrika.

Catatannya juga sangat-sangat mentereng. Mane menelurkan 22 gol untuk Liverpool di musim ini. Ia juga turut mengemas 5 asis. Bukan itu saja. Sumbangsihnya di lini depan Liverpool, turut mengantarkan pasukan Jurgen Klopp juara Carabao Cup.

Performanya di timnas? Tentu tak usah ditanya. Pemain berpaspor Senegal itu berhasil membawa negaranya juara AFCON. Jadi akan sangat aneh apabila Mane justru tak masuk kandidat terkuat pemenang Ballon d’Or.

Kevin de Bruyne

19 gol dan 13 asis dari 43 pertandingan hanya catatan kecil dari seorang Kevin De Bruyne. Pemain berambut blonde ini mengambil peran penting di skuad Manchester City. Ia menjadi pahlawan The Citizens di partai perempatfinal Liga Champions kontra Atletico Madrid.

Golnya di menit 70, menjadi satu-satunya gol yang tercipta. Lebih dari itu, De Bruyne acap kali menjadi kunci keberhasilan anak asuh Pep menghadapi lawan-lawannya.

Ia telah membantu City untuk mencetak gol ke gawang Manchester United, Liverpool, Atletico Madrid, dan bahkan Real Madrid. Hebatnya, De Bruyne juga pernah meraih dua kali pemain terbaik PFA.

Kylian Mbappe

Kekalahan di babak 16 besar Liga Champions, membuat Kylian Mbappe harus mengubur dalam-dalam mimpinya meraih gelar bergengsi di Eropa. Namun, ia tak perlu khawatir, bersama Paris Saint-Germain, gelar domestik adalah keniscayaan.

Meski gagal bersama klubnya di kompetisi Eropa, Mbappe masih punya peluang untuk meraih gelar individu bergengsi semacam Ballon d’Or. Performanya di musim ini sangat mengagumkan.

Mbappe sudah mencetak 24 gol di Ligue 1, bersamaan dengan itu, ia juga membubuhkan 17 asis dari total 33 pertandingan di Liga Prancis. Selain itu, jika ditotal semua kompetisi, golnya Mbappe sudah menginjak 35 gol dari 44 pertandingan selama musim 2021-2022.

Mohamed Salah

Mohamed Salah menjadi mesin gol Liverpool, terutama sepanjang musim ini. Ia telah mengemas 22 gol dari 34 pertandingan Premier League. Catatan itu membuatnya menjadi top skor Liga Inggris hingga saat ini. Tentu catatan liga saja belum cukup.

Salah menambahkannya dengan mencetak 8 gol selama 12 pertandingan Liga Champions. Itu pun masih bisa bertambah lagi, mengingat Salah membawa The Reds melaju hingga partai puncak, dan bakal menghadapi Real Madrid.

Ia juga di musim ini sudah memenangi satu trofi. Di level negara, prestasi terbaiknya di musim ini membawa Mesir menjadi runner-up di ajang AFCON. Tentu dengan catatan tersebut, bukan mustahil kalau Salah bisa saja menduduki tiga pemain teratas dalam kandidat pemenang Ballon d’Or.

Robert Lewandowski

Banyak orang mencibir “perampokan” ketika Lionel Messi justru meraih Ballon d’Or 2021, ketika ada nama Robert Lewandowski yang lebih layak mendapatkannya. Namun, jangan khawatir, perampokan semacam itu mungkin tidak akan terulang kembali.

Secara, format yang berubah, belum lagi jomplangnya performa Messi dan Lewandowski. Lewandowski sejauh ini, masih sangat konsisten dengan penampilannya yang sangat impresif.

Ia, bagaimanapun adalah mesin gol The Bavarians. Musim ini saja, Lewy menyumbangkan 34 gol di Bundesliga buat Bayern Munchen. Hebatnya, jumlah golnya itu lebih banyak satu angka dari pertandingan yang ia lakoni.

Trofi? Ya, meski tersingkir di Liga Champions oleh Villarreal, Lewandowski masih bisa mempersembahkan trofi Bundesliga untuk Die Roten. Catatan-catatan tadi, semestinya sanggup menghindarkan Lewy dari “perampokan” Ballon d’Or untuk kesekian kalinya.

Erling Haaland

Kalau soal performa individu, sebagaimana format baru Ballon d’Or, nama Erling Haaland mestilah masuk. Oke, timnya memang gagal total di kompetisi Eropa bahkan di kancah domestik. Namun, penampilan Haaland selalu baik.

Bersama Borussia Dortmund, Haaland sudah mengukir setidaknya 28 gol dari 29 pertandingan di semua kompetisi. Ia juga menjadi komoditas terpanas di penghujung musim 2021-2022. Dan membuatnya merapat ke Manchester City.

Karim Benzema

Nama terakhir tentu saja Karim Benzema. Yups, nama Big Benz belakangan ini memang sedang ranum-ranumnya. Beberapa kali ia menjadi kunci kemenangan Real Madrid di Liga Champions, sampai membawa Los Galacticos ke final.

Benzema juga menjadi bagian krusial dalam perburuan juara La Liga. Musim ini, Benzema sudah mengemas 44 gol dari 44 pertandingan di segala kompetisi. Coba bayangkan! Itu artinya, ia tak pernah absen dalam mencetak gol di setiap pertandingannya.

Benzema, bagaimanapun menjadi pemain yang sangat berpeluang meraih Ballon d’Or. Ia bahkan menjadi favorit bandar judi untuk meraih Ballon d’Or. Maka, bukan mustahil kalau Benzema akan menjadi satu di antara tiga kandidat terkuat Ballon d’Or 2022.

https://youtu.be/gOu1uNzvDKs

Sumber referensi: Sportingnews, FourFourTwo, VBetNews, StartingEleven

Mengapa MU Ngebet Datangkan Paul Mitchell dari AS Monaco?

0

Dengan resmi ditunjuknya Ten Hag sebagai pelatih Manchester United musim depan, otomatis itu juga mengkonfirmasi bahwa Rangnick bakal naik pangkat, dan ngambil job yang lebih krusial di dalam manajemen klub. Tak tanggung-tanggung, mulai musim depan Rangnick bakal beroperasi sebagai penasehat klub. 

Meski tugas tersebut baru akan dijalankan Rangnick musim depan, namun pengaruh Rangnick di internal United sudah mulai terasa. Petinggi MU mulai mengikuti arah Rangnick.

Hal itu dibuktikan dengan United yang tiba-tiba ngebet pengen mendatangkan Paul Mitchell dari AS Monaco. Usut punya usut, Paul Mitchell ini merupakan salah satu keinginan dari Rangnick. Namun, sebenarnya siapa sih Paul Mitchell ini? Kenapa United ngebet banget datangkan orang ini?

Siapa Paul Mitchell?

Menariknya, Paul Mitchell adalah mantan seorang pesepakbola. Ia berhenti dari dunia sepakbola di usia 27 tahun lantaran cedera parah. Karena masih sangat mencintai dunia sepakbola, ia memutuskan untuk menjadi perekrut pemain.

Karirnya sebagai pesepakbola tak begitu mentereng, tercatat ia pernah membela Wigan Athletic dan MK Dons. Dalam empat tahun di Dons, Mitchell adalah seorang kapten dan membuat 81 penampilan di semua kompetisi sebelum gantung sepatu pada tahun 2009.

Paul Mitchell memulai peruntungan sebagai perekrut pemain, bersama klub yang terakhir ia bela, MK Dons pada tahun 2010. Di mana ia mulai dikenal lantaran berhasil mengontrak mantan striker Manchester United Alan Smith pada tahun 2012 untuk bermain di tim League One itu.

Kepiawaian Mitchell dalam menggoda pemain untuk mau bergabung ke MK Dons membuat klub sekelas Southampton tertarik untuk menggunakan jasanya. Ia memulai bersama Soton, sewaktu mereka masih bermain di Championship tahun 2012. 

Selama bersama Southampton, Paul bekerja sama dengan Les Reed di luar lapangan, duet mereka mulai membangun standar yang tinggi tentang sepakbola.

Kejutan dibuat oleh Southampton pada musim 2013/14. Saat itu, mereka berhasil mengakhiri kompetisi di urutan kedelapan meski di awal kompetisi sama sekali tidak difavoritkan. Yang membuat ia bangga, empat pemain reguler Southampton saat itu adalah temuannya, seperti Dejan Lovren, Nathaniel Clyne, Jay Rodriguez, dan Artur Boruc.

Kedekatan Dengan Rangnick

Paul Mitchell yang sukses bersama Southampton lantas menyusul Mauricio Pochettino ke Tottenham Hotspurs sebelum akhirnya merantau ke Jerman dan berakhir di Prancis sebagai Direktur Olahraga AS Monaco.

Nah, ketika Paul merantau ke Jerman bersama RB Leipzig ia mulai membangun kedekatan dengan Ralf Rangnick. Paul bekerja sama dengan Rangnick kurang lebih selama dua tahun.

Rangnick yang berposisi sebagai manajer, dan dilanjut sebagai direktur olahraga bekerja sama dengan Paul dalam membangun klub melalui pengembangan pemain muda. Mereka bekerja sama menjaring bakat-bakat muda potensial lalu mereka asah bakat mereka agar potensi para pemain muda keluar secara maksimal.

Satu cara yang dilakukan oleh Leipzig kala itu adalah merekrut beberapa pemain untuk tim U17 dan U19. Sejak strategi itu diterapkan, Leipzig berhasil mendapatkan total tiga gelar untuk kompetisi U19 dan enam gelar pada jenjang usia U17.

Jadi tak heran, Leipzig era Rangnick menjadi pabrik para pemain-pemain muda potensial, seperti Timo Werner di Chelsea atau Naby Keita yang kini tergabung dalam skuad Liverpool asuhan Jurgen Klopp. Yang terbaru ada nama Christopher Nkunku yang sedang gacor-gacornya di Liga Jerman. Ia juga buah dari kejelian Paul Mitchell. 

Apa yang bisa diberikan untuk United?

Dengan CV pencari bakat yang luar biasa dari Paul, lantas apa yang bisa diberikan oleh Paul Mitchell apabila ia berhasil didatangkan Manchester united sebagai kepala rekrutmen musim depan? 

Sebenarnya, jauh sebelum tawaran dari Manchester United datang tahun ini, Setan Merah sudah pernah menawari jabatan yang sama setelah ia memutuskan pergi dari Tottenham pada akhir musim 2016/17. Namun, Paul Mitchell malah memilih RB Leipzig dengan alasan untuk mencari tantangan yang lebih dari Liga Inggris.

Jika Paul Mitchell datang ke Manchester United, tentu ia akan bereuni dengan mantan rekannya sewaktu di RB Leipzig, Ralf rangnick. Paul juga akan merubah strategi transfer yang ngawur milik manchester United. Ia juga akan meluruskan seluruh jaringan klub agar tak lagi salah dalam membeli pemain

Tentu hal itu tak hanya bertujuan untuk skuad utama saja. Melainkan, pemuda-pemuda potensial yang nantinya mereka hasilkan bisa dijual dengan harga yang cengli kepada klub-klub peminat dari liga-liga Eropa lainnya.

Tak sampai di situ, Paul Mitchell juga berpengalaman dalam membangun fasilitas-fasilitas kelas wahid untuk pengembangan pemain muda. Hal itu dibuktikan saat ia ditunjuk AS Monaco untuk menangani segala detail pengembangan pemain muda.

Jadi, peningkatan fasilitas sesuai kemauan si Paul akan mendongkrak metode pelatihan, yang otomatis akan meningkatkan hasil atau kualitas dari para pemain muda binaan akademi Manchester United. 

Bukan tidak mungkin, skuad utama beberapa tahun ke depan saat Manchester United memasuki era Paul Mitchell nanti, akan dihiasi para pemain-pemain muda lulusan akademi sendiri.

Hasil Kerja Paul Mitchell

Tentu salah satu faktor kuat yang membuat Manchester United ngebet banget datangkan si Paul Mitchell ini, adalah hasil kerjanya selama beberapa kali menangani transfer klub-klub sepakbola.

Contohnya saja ketika Paul masih bekerja untuk Southampton. Masih ingat kan, klub besar seperti Liverpool sering mendatangkan pemain top dari Southampton? Ya, bisa dibilang, pemain-pemain tersebut adalah buah dari kinerja Paul Mitchell. Sebut saja seperti, Dejan Lovren, Nathaniel Clyne, hingga Sadio Mane.

Setali tiga uang dengan yang ia lakukan di Soton, ketika Paul mengikuti jejak Pochettino ke White Hart Lane, ia berhasil menemukan bakat-bakat potensial seperti Dele Alli atau bahkan bintang Korea Selatan, Son Heung-min.

Para pemain temuan Paul Mitchell tak jarang meraih kesuksesan di klubnya masing-masing. Bahkan untuk nama pemain seperti Sadio Mane dan Son Heung-min masih berada di performa terbaiknya hingga sekarang. 

Mungkin jika Paul tidak jeli dalam mencari pemain, kita tak akan pernah mendengar nama Sadio Mane dan Son Heung-min di Liga Inggris.

Seberapa Besar peluang United Mendapatkan Paul Mitchell?

Nah, jika muncul pertanyaan, seberapa besar kemungkinan Paul Mitchell bakal gabung United musim depan? Meski belum ada kabar resmi dari pihak klub. Kemungkinannya cukup besar.

Apabila mengingat hubungan baik Paul dengan Rangnick serta Setan Merah baru-baru ini mengumumkan duo pemandu bakat Jim Lawlor dan Marcel Bout akan meninggalkan klub pada akhir musim. Itu akan menjadi momen yang pas bagi United untuk mendatangkan Paul guna menambal kekosongan posisi.

Terlebih, Ed Woorwad juga sudah tak menjabat di MU. Jadi, Paul bisa lebih leluasa dalam mengatur ulang manajemen perekrutan pemain United musim depan.

Sumber: Manchesterworld, The Athletic, The Flanker, The Sportsman

Berita Bola Terbaru 13 Mei 2022 – Starting Eleven News

Berita Bola Terbaru dan Terkini

SOAL RUMOR MATIC KE AS ROMA, BEGINI KATA MOURINHO

Manajer AS Roma, Jose Mourinho, akhirnya buka suara untuk mengomentari kabar merapatnya gelandang Manchester United, Nemanja Matic, ke skuat Il Lupi. Matic diwartakan masuk ke dalam daftar belanja manajer Roma, Jose Mourinho, yang tak lain adalah mantan pelatihnya di Chelsea dan MU. Saat ditanya terkait kebenaran kabar tersebut, Mourinho justru menolak memberikan komentarnya. Mou tak berkomentar lantaran Matic masih berstatus sebagai pemain klub lain.

NGOTOT BELI AC MILAN, INVESTCORP SIAPKAN TAWARAN FANTASTIS

Investcorp siap meluncurkan tawaran fantastis untuk mengakuisisi AC Milan sekaligus menikung RedBird Capital. Kabarnya, RedBird Capital bersedia mengucurkan dana cash sebesar 1 miliar euro untuk membeli I Rossoneri. Jika ditelisik, jumlah tersebut lebih besar ketimbang harga yang ditawarkan oleh Investcorp di mana perusahaan asal Bahrain itu menawarkan dana 800 juta euro dalam bentuk tunai dan 400 juta euro lainnya sebagai utang kepada bank. Investcorp tak tinggal diam, menurut Football Italia kini Investcorp siap untuk mencoba lagi dengan tawaran baru.

BARCELONA JUAL COUTINHO KE VILLA AKHIR PEKAN INI

Klub raksasa Spanyol, Barcelona akan menjual Philippe Coutinho ke Aston Villa pekan ini. Sport mengatakan Barcelona telah mencapai kesepakatan untuk penjualan Coutinho ke Aston Villa. Pemain Brasil, yang dipinjamkan ke klub Liga Premier itu, akan bergabung dengan mereka secara permanen di musim panas.

DANI ALVES BERHARAP BARCELONA PERPANJANG KONTRAKNYA

Pemain Barcelona, Dani Alves, berharap kontraknya yang akan berakhir akhir musim ini diperpanjang oleh Barcelona. Namun jika tidak, pemain gaek itu tak akan mempermasalahkannya. “Jika Barcelona ingin saya memperbarui kontrak saya, saya senang. Jika mereka tidak menginginkan saya maka saya akan mengatakan ‘terima kasih banyak’ dan akan terus membela klub ini sampai mati dimanapun saya berada.” kata Alves.

KLOPP TANGGAPI KEDATANGAN ERLING HAALAND KE MANCHESTER CITY

Manchester City sudah mencapai kesepakatan transfer dengan Haaland. Manajer Liverpool Jurgen Klopp ikut menanggapi soal pencapaian Manchester City tersebut. Klopp menilai Haaland adalah perekrutan yang sangat bagus dan sang pemain diproyeksi akan mencetak banyak gol untuk the Citizen. Manajer asal Jerman itu menyatakan upaya Manchester City mendapatkan Haaland merupakan hal fantastis untuk musim depan. Sebab, Haaland dinilai sebagai pemain yang bagus.

DEST JADI KUNCI BARCELONA UNTUK DAPATKAN KOUNDE

Masa depan Sergino Dest di Camp Nou tampaknya akan segera berakhir setelah dua musim bersama dan mantan pemain Ajax itu siap untuk hengkang pada jendela transfer musim panas ini. Sergino Dest dapat dimasukkan dalam negosiasi untuk menurunkan harga Jules Kounde. Seperti diketahui, Barcelona sangat ingin mendatangkan bek milik Sevilla itu untuk musim depan.

NICE KECAM ULAH PENDUKUNG MEREKA YANG EJEK SALA

Nice mengecam keras lagu yang dinyanyikan pendukung mereka untuk mengejek Emiliano Sala dalam laga final Coupe de France melawan Nantes, Sabtu (7/5). Sebagai informasi, Sala merupakan eks pemain Cardiff City. Dia dan pilot David Ibbotson meninggal dunia ketika pesawat yang membawa mereka dari Nantes menuju Cardiff City jatuh di selat yang memisahkan Prancis dan Inggris.

KOVACIC CEDERA PARAH AKIBAT TEKEL DANIEL JAMES

Laga leeds United vs Chelsea diwarnai dengan tekel horor Daniel James. Mateo Kovacic, gelandang The Blues, menjadi korbannya. Di menit ke-24, Terjangan kaki kiri Daniel James mendarat tepat di tulang kering gelandang asal Kroasia itu. Pemain asal Wales itu pun dikartu merah wasit. Melihat hantaman James, Thomas Tuchel selaku pelatih Chelsea tahu bahwa kemungkinan Kovacic tidak akan bermain di final FA Cup akhir pekan ini.

JAMES RODRIGUEZ DOAKAN LIVERPOOL JUARA LIGA CHAMPIONS

Tidak semua mantan pemain Real Madrid mendukung tim El Real untuk menang atas Liverpool di final Liga Champions. Eks pemain Real Madrid asal Kolombia, James Rodriguez membuat pengakuan mengejutkan. Dalam wawancaranya di Twitch, dia mengaku berharap Liverpool memenangkan Liga Champions dengan mengalahkan Real Madrid di final. Alasannya satu, ada temannya di Liverpool bernama Luis Diaz yang juga berasal dari Kolombia. 

CELTIC JUARA LIGA PRIMER SKOTLANDIA

Celtic telah memenangkan gelar Liga Utama Skotlandia setelah bermain imbang 1-1 dengan Dundee United di Tannadice Park, Kamis. Hasil tersebut membuat tim asuhan Ange Postecoglou unggul empat poin dari Rangers yang berada di posisi kedua dengan hanya satu pertandingan liga tersisa musim ini. 

HASIL PERTANDINGAN

Dari ajang La Liga, Real Madrid membantai Levante dengan skor 6-0. Keenam gol Madrid pada laga ini dicetak oleh Ferland Mendy di menit 13, Karim Benzema di menit 19, Rodrygo di menit 34, serta tambahan tiga gol alias hattrick dari seorang Vinicius Jr, masing-masing di menit 45, 68, dan 83. Dengan hasil ini, Madrid mengoleksi 84 poin dari 36 laga, sedangkan Levante makin terbenam di dasar klasemen. Di laga lainnya, Villarreal menang 5-1 atas Rayo Vallecano, dan Real Sociedad menang 3-0 atas Cadiz.

Di ajang Liga Inggris, derby London utara sukses dimenangi Tottenham atas Arsenal. Bermain di Tottenham Hotspurs stadium, Harry Kane cs menang atas Arsenal dengan skor 3-0. Pada laga ini, Harry Kane mencetak dua gol. Pertama, di menit 22 lewat sepakan penalti. Kedua, di menit 37 usai menerima umpan Bentancur. Di babak kedua, giliran Son Heung Min yang mencatatkan namanya di papan skor. Kemenangan 3-0 ini membawa Spurs sukses memangkas jarak dengan Arsenal menjadi hanya satu poin di klasemen sementara.

ARTETA TUDING WASIT RUSAK PERTANDINGAN

Mikel Arteta terlihat kecewa berat setelah timnya dipermak Tottenham tiga gol tanpa balas. The Gunners terpaksa bermain dengan 10 orang sejak menit ke-33 setelah Rob Holding dikartu merah wasit. Setelah laga Arteta menyebut dirinya akan dihukum enam bulan jika mengatakan apa yang ada di pikirannya. Arteta menuding wasit Paul Tierney telah merusak pertandingan timnya melawan Tottenham. Dia kemudian meminta wasit menjelaskan alasan di balik keputusannya memberikan kartu merah kepada Holding. 

CONTE EJEK PELATIH ARSENAL

Kebiasaan Mikel Arteta yang suka menggerutu mendapat ejekan dari Antonio Conte. Menurut pelatih Tottenham Hotspur itu, tak pantas juru taktik hebat seperti Mikel Arteta menjadikan berbagai alasan ketika tim yang dia besut menelan kekalahan. Allenatore asal Italia ini menyarankan agar Arteta lebih kalem dan bersikap terbuka dalam menyikapi semua kejadian dalam pertandingan.

LEWY NGEBET GABUNG BARCELONA

Robert Lewandowski dikabarkan sudah membuat keputusan soal masa depannya. Media Jerman Bild mengabarkan, Lewandowski diklaim memastikan takkan memperpanjang kontraknya di Bayern. Bayern sendiri merespons keputusan Lewandowski ini dengan berencana menjualnya pada musim panas ini dengan nilai transfer 35 hingga 40 juta euro. Tak hanya itu, Lewandowski juga diyakini ingin pindah ke Barcelona pada musim panas 2022 ini ketimbang harus menunggu statusnya menjadi bebas agen pada tahun depan.

CR7 SABET GELAR PEMAIN TERBAIK BULANAN EPL

Mega bintang Manchester United, Cristiano Ronaldo menyabet gelar pemain terbaik bulanan Liga Primer Inggris untuk periode April. Sepanjang April, Ronaldo membukukan lima gol. Ini gelar kedua bagi Ronaldo di musim ini setelah meraih penghargaan serupa pada September 2021.

MESSI JADI ATLET DENGAN BAYARAN TERTINGGI

Forbes melaporkan pemain PSG, Lionel Messi jadi atlet dengan bayaran tertinggi. Bahkan mengalahkan pemain NBA, LeBron James dan pesepakbola Cristiano Ronaldo. Messi mengantongi US$130 juta atau sekitar Rp1,9 triliun. Sementara itu LeBron James berada di belakang pesepakbola 34 tahun dengan US$121 juta (Rp1,7 triliun). Sedangkan CR7 memperoleh pendapatan US$115 juta (Rp1,6 triliun).

BENZEMA SAMAI REKOR RAUL DI REAL MADRID

Karim Benzema sah menjadi pencetak gol terbanyak kedua Real Madrid bersama Raul Gonzalez. Benzema mencetak satu gol saat juara La Liga itu mengalahkan Levante 6-0. Gol sang striker membuatnya sejajar dengan Raul dengan 323 gol untuk Real Madrid, menjadikan mereka pencetak gol terbanyak kedua bersama dalam sejarah klub di belakang Cristiano Ronaldo.

ASTON VILLA RESMI PERMANENKAN COUTINHO

Aston Villa puas dengan performa Philippe Coutinho. Alhasil, The Villans memutuskan mempermanenkan playmaker asal Brasil tersebut. Setelah melalui proses negosiasi yang alot, Villa sukses menurunkan harga jual Coutinho menjadi 20 juta euro atau Rp 303 miliar, dari seharusnya yang diminta Barcelona di angka 35 juta euro. Pemain yang kurang bersinar di Barca itu dikontrak selama empat tahun.

INTER JUARA COPPA ITALIA 2022, INZAGHI LALUI CAPAIAN CONTE

Coppa Italia menjadi trofi kedua untuk Inter Milan di musim 2021/22. Sebelumnya, Inter pun bisa mengalahkan Juventus pada ajang Final Supercoppa Italia pada Bulan Januari silam. Selain untuk Inter, kemenangan itu pun cukup spesial, khususnya untuk sang pelatih, Simone Inzaghi. Ia kini tercatat sudah bisa melewati raihan dari Antonio Conte dengan merengkuh trofi keduanya untuk Inter Milan. Sementara Conte, hanya bisa menyumbangkan satu trofi, yakni Scudetto Serie A di musim 2020/21 lalu.

TERUNGKAP! SEGINI KLAUSUL RILIS HAALAND DI MAN CITY

Musim depan, Erling Haaland resmi memperkuat Manchester City. Belakangan, sang pemain diketahui memiliki kontrak yang masif dan klausul rilisnya bersama tim sudah terungkap di publik. Klausul rilis sang pemain akan aktif di musim keduanya. Dikutip Sportbible, jika Haaland bisa saja meninggalkan City andai ada tim yang sanggup membayar di angka 150 juta Euro atau setara Rp2,2 triliun.

IVAN PERISIC KIRIM SINYAL ANGKAT KAKI DARI INTER

Setelah menjuarai Coppa Italia, Inter Milan dibikin kelabakan dengan Ivan Perisic yang melempar sinyal bakal angkat kaki dari Giuseppe Meazza. Alasan utama Ivan Perisic adalah manajemen tidak menghargai kinerjanya selama musim ini di skuad Inter Milan. Dia mengaku belum tahu soal perpanjangan kontrak dari Inter. Ia menilai Inter Milan meragukan peran pentingnya di tim.

FINAL PIALA FA: FABINHO DIPASTIKAN ABSEN

Jelang laga final Piala FA antara Chelsea vs Liverpool, The Reds dipastikan tampil tanpa diperkuat gelandangnya, Fabinho. Sang gelandang mengalami cedera hamstring saat Liverpool menang 2-1 atas Aston Villa di laga lanjutan Liga Premier Inggris, Selasa kemarin. Meskipun akan absen di laga final Piala FA, tetapi Jurgen Klopp memiliki keyakinan bahwa Fabinho bisa tampil di final Liga Champions melawan Real Madrid di Paris pada 28 Mei mendatang.

SESUMBAR MO SALAH, MENGAKU TERBAIK DI DUNIA

Mohamed Salah percaya bahwa dirinya merupakan pemain terbaik di dunia di posisinya sebagai penyerang sayap. Hal itu dia sampaikan jelang Liverpool vs Chelsea di final Piala FA, 14 Mei mendatang. Pemain asal Mesir itu berani menilai dirinya sebagai pemain terbaik di dunia dengan dasar statistik impresif yang dia ciptakan dalam beberapa musim terakhir bersama Liverpool.

INI DIA PENGGANTI ERIK TEN HAG DI AJAX

Ajax Amsterdam sudah menemukan pengganti Erik ten Hag yang akan hengkang ke Manchester United musim depan. Klub asal Belanda itu menurut Bein Sports menjatuhkan pilihan kepada Alfred Schreuder. Schreuder telah memutuskan untuk meninggalkan Club Brugge guna meneruskan estafet Ten Hag di Johan Cruijff Arena sebagaimana ia diikat kontrak dengan durasi dua tahun dengan opsi perpanjangan setahun lagi.

ADA PERAN RONALDO DI BALIK SUKSES MU U-18

Di balik kemenangan Manchester United U-18 di Piala FA junior, rupanya ada peran Cristiano Ronaldo. Pemilik 5 Ballon d’Or itu ternyata sempat memberi pesan berupa video untuk Garnacho dkk. Seperti dilansir Mirror, video itu diputar di ruang ganti tim jelang final. Dan kata-kata mega bintang asal Portugal itu diklaim membakar semangat tim MU U-18 sampai akhirnya bisa juara.

Rangers vs Frankfurt : Adu Jotos Berebut Tahta Kedua Di Eropa

Banyak yang mengira bahwa final Europa League musim ini akan terjadi All German Final antara Leipzig vs Frankfurt, ketika keduanya unggul di leg pertama semifinal atas lawannya masing-masing. Akan tetapi, justru Rangers yang melaju untuk bertemu Frankfurt di Ramon Sanchez Pizjuan, markas Sevilla di final nanti.

Pertemuan antara wakil 2 negara berbeda di final nanti, selain menyimpan gengsi, tentu menarik untuk melihat bagaimana kedua kubu saling adu taktik dan kekuatan demi gelar yang mereka idamkan untuk kedua kalinya. Siapa yang lebih unggul?

Gengsi Negara

Pertarungan final Europa League musim 2021/21 ini saling mempertemukan wakil dari Jerman dan Skotlandia. Keberadaan wakil Jerman di sini mewakili beberapa klub yang keok di beberapa kompetisi Eropa musim ini seperti Muenchen maupun Dortmund. Frankfurt menjadi tulang punggung Jerman dalam menjaga gengsinya untuk merebut tahta Eropa musim ini.

Sedangkan untuk Skotlandia, mungkin menjadi negara yang jarang menyumbangkan wakilnya di partai puncak kejuaraan Eropa beberapa tahun terakhir. Kali ini bersama Rangers, Skotlandia menaruh harapannya.

Eintracht dan Rangers adalah klub berbeda ke-17 dan ke-18 yang mencapai final UEFA Europa League. Pasalnya sekarang hanya tiga negara yang mampu memenangkan gelar turnamen ini sejak musim 2009/10 ketika turnamen ini rebranding nama menjadi UEFA Europa League dengan anthemnya yang khas itu.

Spanyol dengan 8 gelar, Inggris dengan 3 gelar dan Portugal 1 gelar. Selain itu, ini adalah pertama kalinya klub dari Jerman atau Skotlandia yang bisa mencapai final di turnamen ini sejak berganti nama menjadi UEFA Europa League.

Adu Kuat Taktik 2 Pelatih

Berbicara soal gengsi negara, juga terkait dengan adu kekuatan beberapa pilar kedua klub. Terutama sang arsitek keduanya, Oliver Glaner dan Gio Van Bronckhorst. Glasner dan Van Bronckhorst kali ini juga bersaing demi gengsi untuk menjadi pelatih pertama dari Austria dan Belanda yang mampu memenangkan UEFA Europa League.

Gio dan Glasner tentu mempunyai latar belakang yang berbeda, Gio yang pernah merasakan final dua kali ketika menjadi pemain ketika itu bersama Barcelona dan Timnas Belanda, tentu punya nilai lebih bagi mental bertanding yang akan ditularkan ke anak asuhnya nanti. Gio yang baru ditunjuk awal musim ini menunjukan mental Eropanya kepada skuad Rangers. Itu menjadi keunggulan tersendiri bagi Rangers.

Sedangkan Glasner, pelatih non populer asal Austria ini, musim ini mampu mengejutkan beberapa pihak dengan sentuhannya. Glasner sendiri bukan muka lama bagi Frankfurt. Ia merupakan pelatih yang baru ditunjuk musim ini. Ia dibajak dari Wolfsburg, ketika ia berhasil bertarung dengan skuad muda Wolfsburg di papan atas Bundesliga musim lalu.

Adu kuat taktik antara Glasner dan Gio juga menarik. Di mana pola 3 bek dari Glasner dan 4 bek Gio akan tersaji di final nanti. Kedua pelatih rising star ini sama-sama mempunyai gaya menyerang dengan intensitas pressing yang tinggi.

Pola 4-3-3 Gio bersama Rangers terletak pada kekuatan sisi sayap mereka yakni James Tavernier di bek kanan yang sementara menjadi top skor, kemudian Barisic di bek kiri. Keduanya sering mengeksploitasi lini belakang lawan lewat overlap-nya yang menusuk ke kotak penalti lawan dan tak jarang berbuah peluang berbahaya maupun gol.

Terkadang juga beberapa kali Gio memasang bek ekstra dan mengubah formasinya menjadi 3 bek dengan tetap mengandalkan serangan melalui Tavernier dan Barisic. Sementara, pemain lain yang akan menjadi kunci bagi Rangers yakni seperti tangguhnya kiper kawakan McGregor. Kemudian kompaknya lini depan antara Ryan Kent, Glen Kamara maupun Aribo dan Arfield. Supersub macam Ramsey dan Diallo mungkin juga bisa dimanfaatkan menjadi pembeda di tengah laga.

Dari kubu Frankfurt, Glasner dari segi taktik juga hampir mirip dengan Gio dalam memanfaatkan penyerangan. Glasner terbukti berhasil menggunakan pola pakem 3 bek dengan varian opsi formasi yang kaya, baik itu 3-5-2, 3-4-2-1, maupun 3-4-3. 2 bek sayap di pola 3 bek milik Frankfurt yang ditempati oleh Filip Kostic dan Arnold Knauff menjadi kunci.

Tak jarang keduanya menjadi sosok penting pendulang gol bagi Frankfurt. Crossing dan penetrasinya sama kuatnya sehingga tak jarang sering merangsek berada di kotak penalti lawan. Sedangkan kekuatan kunci Glasner lainnya yakni terletak pada kombinasi lini depan antara top skor mereka, Rafael Borre dan pemain Asia, Daichi Kamada maupun Peter Hauge.

Kemudian kokohnya duet Sebastian Rode dan Djibril Sow di dua pivot Frankfurt. Serta kokohnya pertahanan bersama kiper Kevin Trapp dan komando Martin Hinteregger di 3 bek sejajar Frankfurt

Akan susah ditebak, mana strategi yang akan lebih unggul dari beberapa analisis yang ada. Kedua klub kemungkinan akan mengandalkan pola penyerangan yang sama, tinggal faktor kesiapan mental di pertandingan nanti yang akan menentukan.

Faktor Non Teknis Penunjang

Selain kesiapan mental dan perang taktik antara kedua klub, faktor eksternal maupun non teknis dari laga ini juga dapat mempengaruhi hasil pertandingan. Dalam hal ini adalah pemain ke 12 atau penonton.

Tidak dipungkiri faktor ini sering menjadi sorotan, terutama Frankfurt yang beberapa waktu belakangan, banyak disorot tentang pendukungnya yang militan. Rangers juga tidak mau kalah, mereka juga punya basis militan ala Britania yang akan menggempur markas Sevilla di final nanti.

Kabar terkini bahwa Rangers lewat Managing Director, Stewart Robertson mengatakan klubnya akan bekerja sama dengan UEFA untuk membangun zona penggemar tambahan di final nanti. Karena jatah tiket 10 ribu dari 40 ribu yang disediakan dianggap kurang. Begitupun ultras Frankfurt, yang kita tahu sendiri militannya seperti apa ketika mereka menginvasi Camp Nou, dan London Stadium markas West Ham.

Jadi, kedua massa suporter tak mau kalah akan saling mengisi dan mendominasi tribun Ramon Sanchez Pizjuan. Demi untuk memberikan teror bagi setiap lawannya. Tak jarang kehadiran setiap fans militan jadi motivasi lebih ketika mandeknya performa tim di lapangan.

Sama-Sama Mengincar Tempat Di Champions League

Partai final Europa League musim ini sama-sama mempertemukan 2 klub pesakitan di liganya masing-masing. Frankfurt musim ini terdampar di posisi 12 klasemen, bahkan tak ada jalan lain untuk meraih tempat di turnamen Eropa kecuali merebut juara Europa League. Karena sang juara Europa League akan mendapat jatah tiket melaju ke Champions League musim depan.

Sementara Rangers, sebagai juara bertahan Liga Skotlandia, musim ini kembali digusur oleh Celtic yang baru saja menyegel kembali juara Liga Skotlandia. Berada di posisi 2 liga, Rangers sebenarnya berhak mengikuti kompetisi Europa League musim depan.

Akan tetapi, ambisi mereka kali ini adalah kembali ke Champions League musim depan dengan merebut juara Europa League. Rangers sendiri musim ini gagal melangkah ke babak grup Champions League setelah kalah di babak play-off melawan Malmo.

Sama-Sama Ambisi Merebut Tahta Kedua Di Eropa

Tentunya mengincar jatah tiket ke Champions League musim depan pasti harus bisa memenangkan gelar Europa League terlebih dahulu. Sedangkan bagi masing-masing klub, sama-sama pernah satu kali meraihnya ketika belum bernama Europa League. Dan ini menjadi ambisi kedua klub untuk meraih gelarnya yang kedua.

Rangers pernah mengangkat Piala Winners Eropa pada tahun 1972, dengan mengalahkan Dynamo Moscow. ​​​​Sedangkan Frankfurt pernah mengklaim Piala UEFA pada tahun 1980 berkat kemenangan melawan sesama klub Bundesliga, Borussia Mönchengladbach.

Namun, duel sengit ini tak hanya soal gelar kedua di Eropa maupun sekadar mendapat tiket Champions League. Gengsi kedua negara, adu duel pembuktian taktik kedua pelatih, serta faktor-faktor lain yang menjadi bumbu partai final Europa League kali ini patut untuk ditunggu.

https://youtu.be/yDnJ8aLfwTE

Sumber Referensi : uefa.com, sportingnews, theathletic

Liverpool vs Real Madrid: Adu Keajaiban di Final UCL 2022

0

Akan sangat membahagiakan, andai saja Real Madrid mampu mengatasi perlawanan Liverpool di final Liga Champions Eropa. Para fans akan kembali berkumpul di patung Dewi Cibeles untuk kedua kalinya, setelah mereka melakukan itu usai memastikan diri menjuarai La Liga.

Ini menjadi momen yang berharga. Los Galacticos bisa saja mengawinkan dua gelar yang klub mana pun menginginkannya. Namun, para fans Real Madrid harus panas dingin terlebih dahulu, Carlo Ancelotti dan para pemainnya mesti berpusing ria terlebih dahulu.

Mengingat lawan Los Merengues di final adalah Liverpool. Raksasa Liga Inggris yang berambisi menciptakan quadruple di musim ini. Liverpool yang sekarang adalah Liverpool yang berbeda. The Reds punya senjata-senjata ampuh untuk menandingi Real Madrid. Senjata-senjata yang bisa jadi membuat taktik Ancelotti buntu.

Liverpool Mulus ke Final

Liverpool mencapai puncak tertinggi Liga Champions dengan mulus. Hambatan mereka hanya berada di babak 16 besar ketika menghadapi Inter. The Reds kalah di leg kedua 1-0 menghadapi pasukan La Beneamata.

Namun, faktanya adalah itu satu-satunya kekalahan Liverpool di ajang Liga Champions. Fakta lainnya, kekalahan itu tak berpengaruh bagi The Reds. Sebab di leg pertama, anak asuh Jurgen Klopp sudah lebih dulu mengecilkan nyali Inter dengan menaklukkannya lewat dua gol tanpa balas.

Jalan Liverpool ke final berikutnya terbilang mulus, bahkan lebih mulus dari jalanan di Kabupaten Pemalang. Pasukan Klopp ‘hanya’ menghadapi Benfica di perempat final. Menghadapi Benfica, bagi Liverpool, tak jauh berbeda dengan mereka menghadapi Newcastle United di Premier League atau Nottingham Forest di Piala FA.

Pada leg pertama, Liverpool sudah menunjukkan ke Benfica, bahwa mereka tak pantas menginjakkan kaki ke perempat final Liga Champions. Kekalahan 3-1 bukan hanya kekalahan yang menyakitkan buat Benfica, tapi kekalahan yang memang sudah seharusnya mereka alami. Apalagi Liverpool tampil begitu perkasa, sampai-sampai seorang Ibrahima Konate pun bisa membobol gawang Benfica.


Usai menghadapi Benfica, di semifinal, Liverpool harus menghadapi tim ‘chiki’ lainnya, Villarreal. Well, sebelum itu jika kalian menganggap Villarreal bukanlah tim enteng, lantaran mengalahkan Bayern Munchen, silakan saja.

Tapi ingat, Munchen dan Liverpool itu dua klub yang berbeda. Munchen tinggal di liga petani, sementara Liverpool adalah klub tangguh buah persaingan Liga Inggris yang ketat. Mengalahkan Liverpool, bagi Villarreal, seperti mimpi di siang hari.

Jalan Terjal El Real

Perjalanan mulus The Reds mencapai final ternyata tak bisa ditiru Real Madrid. Entah bagaimana, Tuhan seperti menakdirkan bahwa El Real mesti ditempa dulu sebelum ke final. Jalan Real Madrid sangat terjal.

Baru pertandingan kedua di UCL, El Real harus mendapat perlakuan tidak menyenangkan setelah dikalahkan klub antah berantah, Sheriff Tiraspol. Tapi El Real tetaplah El Real. Kekalahan dengan mudahnya dikubur dalam-dalam. Real Madrid pun lolos ke babak gugur dengan cara terhormat.

Di fase gugur, Los Galacticos langsung bertemu PSG yang bertekad menghapus make-up badutnya di Liga Champions. Dan benar saja, Real Madrid kalah di leg pertama di Parc des Princes, meski hanya lewat sebiji gol telat Kylian Mbappe.

Namun, di leg kedua, Real Madrid menunjukkan bahwa pestanya belum usai. Badut tetap harus menjadi badut. PSG hancur di Santiago Bernabeu dengan skor telak 3-1. Melangkah ke perempatfinal, Real Madrid ketemu tim yang merepotkan lagi.

Adalah Chelsea, musuhnya di perempatfinal, dan yang pernah menggagalkan upaya Los Merengues melangkah ke final di edisi sebelumnya. Tak disangka, Madrid justru mengalahkan Chelsea dengan mudah di leg pertama.

Namun, justru Carletto dibikin pusing di kandang sendiri. Keunggulan 3-0 Chelsea sedikitpun tak mampu dikurangi El Real hingga menit ke-79. Tapi, pada menit 80, si bocah ajaib, Rodrygo Goes mendadak jadi puyer lewat golnya setelah menerima umpan luar biasa Modric.

Tapi, puyer hanya bisa meredakan sakit kepala. Agregat 4-4, membuat laga mesti berlanjut ke extra time. Tundukan Benzema benar-benar menyudahi perlawanan Chelsea. Sakit kepala Carletto pun hilang, meski hanya sebentar.

Madrid mesti berjumpa Manchester City di semifinal. Guardiola bukanlah pelatih yang mudah dibaca taktiknya. Kedua tim, bisa dibilang punya kualitas yang sama. Benar saja, pada leg pertama pesta gol terjadi.

Namun, justru City yang berhasil mengatasi perlawan Madrid dengan skor 4-3. Hal itu membuat El Real wajib menang di leg kedua, jika ingin lolos ke final. Tetapi, jalannya leg kedua hampir sama dengan pertama.

City unggul lebih dulu lewat Riyad Mahrez. Sayangnya, DNA UCL Real Madrid masih belum pudar. Menginjak menit 90, Real Madrid baru sanggup memberondong gol. Dua gol Rodrygo membuat agregat jadi sama kuat. Namun, gol Benzema di penghujung laga jelas menjadi pembeda. Real Madrid lolos ke final dengan susah payah!

Adu Keajaiban

Sampai di sini, perjalanan Real Madrid yang susah payah ke final Liga Champions, selain kerja keras juga tak bisa lepas dari keajaiban. Tuah DNA UCL yang melekat di tubuh El Real membawanya ke final.

Mereka nyaris kalah. Iya, sekali lagi, Real Madrid nyaris saja tersingkir di semifinal. Bahkan saat itu, Carletto sudah sangat pusing. Wajahnya menunjukkan kecemasan. Bagaimana nggak cemas? Tak ada satu pun gol bersarang ke gawang Ederson sampai laga hampir tuntas.

Magisnya kelihatan ketika Rodrygo tiba-tiba menyusup ke pertahanan Real Madrid, dan menerima umpan matang dari Benzema, untuk membobol gawang Ederson dengan sekali sentuhan. Bocah itu menggandakan golnya, tepat ketika ia ikut melompat di belakang Asensio dan berhasil mendapati bola tepat di kepalanya.

Keajaiban makin kelihatan ketika Benzema dilanggar di kotak penalti saat injury time. Penalti wak haji yang berbuah gol, menunjukkan kepada kita  bahwa keajaiban benar-benar ada.

Sementara, Liverpool juga tak ketinggalan tuahnya. Mereka lolos ke final dengan sedikit keberuntungan, karena menghadapi lawan-lawan yang terbilang mudah. Ini akan menjadi hal yang menarik ketika kedua tim melangkah ke final dengan keajaibannya masing-masing. Entah klub mana yang tuahnya bakalan habis.

Head to Head

Tentu, keajaiban saja belum cukup untuk melihat jalannya pertandingan nanti. Head to head kedua tim juga tak boleh kita lupakan begitu saja. Dalam hal ini, Liverpool kalah dari Real Madrid, walaupun tipis.

Sejauh ini, Real Madrid sudah mengalahkan Liverpool 4 kali. Namun, itu terjadi setelah tahun 2009. Sebelumnya, Liverpool mengalahkan El Real sebanyak 3 kali. Satu-satunya hasil imbang adalah ketika keduanya bertemu di leg kedua perempatfinal Liga Champions musim lalu.

Dari segi head to head, Liverpool kalah. Tapi itu tipis sekali. Lagi pula, apakah ini hanya soal head to head? Tentu saja tidak.

Taktik dan Kedalaman Skuad

Kedua tim, bagaimanapun memiliki kedalaman skuad yang sama. Di sisi Liverpool, Klopp masih punya opsi yang berlimpah untuk membobol gawang El Real. Ia masih punya Mohamed Salah yang tampil impresif sejauh ini.

Belum lagi, sokongan dari Luis Diaz dan Diogo Jota, atau bisa juga Sadio Mane akan berpengaruh pada jalan ceritanya nanti. Kedalaman lini dobrak hampir seimbang dengan kedalaman di lini belakang.

Klopp masih punya Ibrahima Konate dan Virgil Van Dijk di lini bertahan. Sedangkan, di kubu Real Madrid, Karim Benzema masih akan menjadi andalan Don Carlo. Jika Benzema dimatikan geraknya, Carletto masih memiliki Rodrygo, dan kalau mau membongkar pertahanan The Reds, Vinicius bisa jadi opsi.

Kedua pelatih memiliki gaya bermain yang berbeda, sekalipun formasinya sama. 4-3-3 Klopp lebih menuntut intensitas tekanan yang tinggi. Para pemain dituntut bergerak cepat agar tak lama kehilangan bola.

Ancelotti berbeda. Alih-alih menuntut intensitas , ia lebih sering melakukan pendekatan secara teknis. Ia lebih menyukai memanfaatkan kualitas teknik, visi, dan pengalaman pemain seperti Toni Kroos, Modric, dan Casemiro. Ditambah, Ancelotti seperti selalu punya cara gaib ketika timnya sedang terjepit.

Sulit untuk memprediksi siapa yang bakal menang nanti. Selain kita hanya bisa menanti, keajaiban tim mana yang bakal jadi kunci. Apakah ‘Miracle of Istanbul’ akan diadopsi menjadi ‘Miracle of Paris’, atau justru kenangan pahit di Kyiv akan terulang kembali?

https://youtu.be/fu1IFmWE-vI

Sumber referensi: UEFA, BR, Goal, 11v11, Sportingnews

AS Roma vs Feyenoord: Laga Final Penuh Rasa Dendam

0

AS Roma asuhan Jose Mourinho bakal menghadapi tim kejutan, Feyenoord di final UEFA Conference League pada akhir Mei nanti. Pertandingan yang bakal diselenggarakan di Tirana National Arena, Albania ini akan menjadi partai final yang sangat menarik. 

Selain karena tahun ini adalah edisi perdana dari UEFA Conference League, laga ini akan jadi laga ulangan babak 32 besar Europa League musim 2014/15. Yang mana laga tersebut menjadi salah satu laga paling panas di Europa League musim itu.

Laga tersebut dimenangkan AS Roma dengan skor agregat 3-2 dan berhak maju ke babak 16 besar kompetisi nomor dua antarklub Eropa itu. Praktis pada 26 Mei nanti, Feyenoord bakal tampil habis-habisan dengan mengusung misi balas dendam.

Namun, Roma yang mereka hadapi bukanlah Roma yang dulu. Kali ini mereka akan menghadapi AS Roma versi Jose Mourinho, yang mana Mourinho terkenal tak terkalahkan di final kompetisi Eropa.

Perjalanan Kedua Klub di Conference League

Perjalanan kedua kesebelasan dalam mencapai partai puncak pun cukup menarik. Feyenoord yang dicap sebagai tim yang tak diunggulkan nyatanya menemui jalan mulus untuk mencapai final.

Catatan statistik Feyenoord bahkan lebih bagus dari AS Roma. Tim asal Belanda ini belum mencicipi satu kekalahan pun selama gelaran Conference League dimulai. Mereka tercatat meraih 8 kemenangan dan 4 hasil imbang tanpa sekalipun mencicipi rasanya kalah.

Sedangkan sang Serigala Roma, mencatatkan 7 kemenangan 3 hasil imbang dan 2 kekalahan. Menariknya, dua kekalahan Roma didapat dari tim yang sama, yaitu tim antah berantah dari Norwegia, FK Bodo/Glimt yang namanya saja cukup asing terdengar. 

Di laga semifinal, kedua tim sama-sama menghadapi tim kuat. AS Roma menghadapi wakil Inggris, Leicester City dan Feyenoord Rotterdam menghadapi wakil Prancis, Marseille. 

Roma berhasil menahan imbang The Foxes di kandang mereka dengan skor 1-1 dan berhasil menang tipis di leg kedua dengan skor 1-0 berkat gol tunggal Tammy Abraham melalui skema tendangan pojok.

Sedangkan Feyenoord harus menang susah payah di kandang melawan Marseille. Sempat unggul dua gol di menit awal, Marseille malah berhasil menyamakan kedudukan melalui Bamba Dieng dan Gerson Santos. 

Hasil imbang tanpa gol di leg kedua pun sudah cukup untuk mengantarkan Feyenoord ke partai puncak.

Dendam Europa League 2015

Menariknya, laga final kali ini akan menyajikan dua tim yang sama-sama memiliki suporter yang sangat militan. Selama Roma dan Feyenoord berkompetisi, kedua suporter tak kenal lelah mendukung tim kesayangan mereka baik ketika bermain di kandang maupun tandang.

Selain jadi partai ulangan bagi kedua kesebelasan. Final kali ini juga akan menjadi misi balas dendam bagi kedua belah suporter. Terutama bagi para suporter Feyenoord yang masih menyimpan dendam lantaran mereka harus menerima kekalahan 2-1 di kandang. 

Laga Feyenoord kontra AS Roma di Europa League musim 2014/2015 dihiasi kerusuhan antar dua suporter. Kerusuhan itu berawal dari suporter Feyenoord yang rusuh di kawasan kota Roma pada leg pertama. Ratusan suporter Feyenoord berteriak-teriak nggak jelas sambil melempari toko-toko yang mulai tutup dengan botol minuman.

Tak hanya berbuat rusuh, para suporter Feyenoord juga melakukan vandalisme guna mengompori suporter Roma dengan menempelkan stiker-stiker, yang bergambarkan seseorang yang telah memenggal kepala serigala berlatarkan bangunan Colloseum Roma. 

Suporter Feyenoord ini memang terkenal doyan rusuh di negara orang. Namun, alih-alih memancing amarah ultras Roma, beberapa dari mereka, justru dibekuk pihak kepolisian lantaran mengganggu kenyamanan warga lokal.

Merasa tak terima, setibanya para suporter AS Roma di Rotterdam pada leg kedua, beberapa suporter Feyenoord menyusul ke lokasi berkumpulnya suporter Roma dan mereka pun dengan cepat terlibat perkelahian. Sebanyak lima suporter Roma, dan belasan suporter Feyenoord ditahan di kantor polisi.

Ketika pertandingan berlangsung pun kerusuhan belum juga usai. Bahkan pertandingan tersebut sempat dua kali mengalami penundaan akibat ulah kedua suporter. Jadi, pada laga final di Albania nanti, sudah dipastikan Feyenoord dan Roma bakal datang dengan membawa dendam masing-masing.

Pemain Kunci

Selain persaingan antar pemain ke 12 mereka, persaingan lini serang kedua kesebelasan juga sangat menarik untuk disimak. Dengan Tammy Abraham di sisi Roma dan Cyriel Dessers di kubu Feyenoord.

Menggantikan Edin Džeko di lini serang AS Roma bukanlah tugas yang mudah, tetapi Tammy Abraham telah melakukannya dengan luar biasa sejak didatangkan oleh Jose Mourinho dari Chelsea. 

Striker jangkung ini sangat mobile, terhubung dengan baik dengan rekan setimnya di lini tengah dan memanfaatkan peluangnya saat mereka datang. 9 gol di kompetisi Conference League dan 15 gol di Serie A sejauh ini, membuktikan bahwa pemain 24 tahun ini sedang dalam kondisi on fire.

Sedangkan the rising star milik Feyenoord, Cyriel Dessers tak begitu spesial di Eredivisie. Ia hanya mencetak 8 gol dari 26 pertandingan. Itu angka yang sangat sedikit untuk ukuran penyerang tengah. 

Namun, striker berkebangsaan Belgia-Nigeria ini cukup mengejutkan di Conference League. Untuk sementara, ia sedang menduduki puncak daftar pencetak gol terbanyak, dengan torehan 10 golnya. 

Mungkin yang akan muncul sebagai pembeda di final nanti adalah kapten AS Roma saat ini, Lorenzo Pellegrini. Perkembangan Pellegrini di tangan Mourinho sangat signifikan. Mobilitasnya di lini tengah sangat membantu tim, apalagi ia sangat piawai memainkan peran sebagai penghubung antar lini.

Pemain lulusan akademi Roma itu juga cukup rajin membantu serangan Giallorossi. Ia tercatat telah mencetak 8 gol di liga dan 4 gol di Conference League.

Jose Mourinho Jadi Kunci

Faktor lain yang mengunggulkan AS Roma dalam partai Final nanti adalah Jose Mourinho. Mungkin bisa dibilang, The Special One bakal jadi faktor kunci untuk mengantarkan Giallorossi meraih gelar Eropa pertama mereka.

Mourinho yang kerap mengandalkan formasi tiga bek yaitu Smalling, Mancini, dan Ibanez di lini pertahanan, dan dua bek sayap yang kerap membantu serangan. Terbukti efektif di Roma. 

Mou juga menginstruksikan anak asuhnya untuk melakukan serangan balik cepat, dan membawa bola ke depan dengan sentuhan sesedikit mungkin. Hal ini sudah pasti akan merepotkan barisan pertahanan Feyenoord.

Bola pun selalu dipusatkan ke Zaniolo atau Pellegrini sehingga mereka bisa memberikan ruang untuk Tammy Abraham, sehingga ia lebih leluasa bergerak di lini serang.

Dengan dua gelar Champions League, dan dua gelar Europa League yang telah diraih Mourinho, ia berambisi menjadi pelatih pertama yang memenangkan ketiga kompetisi terbesar Eropa saat ini. Jose Mourinho adalah seorang pemenang dan ia ahlinya dalam menghadapi tekanan di level tertinggi.

Jadi, tunggu apalagi? Publik kota Roma sudah harus menyiapkan perayaan yang meriah dari sekarang untuk menyambut kedatangan pahlawan Roma dari medan perang di Albania nanti.

https://youtu.be/RL5ISve1aIk

Sumber: UEFA, Planetsport, The Athletic, Panditfootball