Cerita gelap sejak 2006 mulai dilupakan dua klub penghuni Kota Milan. Inter Milan dan AC Milan kini menatap Serie A dengan penuh mentalitas, keyakinan, dan rasa balas dendam akan juara yang meletup-letup.
Iya, selama ini, duo Milan kerap terseok-seok di Serie A. Sebab dominasi Juventus sulit terbendung. Sementara duo Milan hanya bisa bergiliran memesan kesengsaraan. Jika yang satu menempel ketat para calon scudetto, yang satunya lagi terpelanting keluar dari lima besar. Begitu pula sebaliknya.
Namun, kini dua musim sudah dua klub asal Kota Milan mulai menunjukkan lagi dominasinya. Penduduk Kota Milan, yang sudah rindu akan dominasinya di Liga Italia, akhirnya terjawab sudah. Tinggal menunggu waktu saja, apakah Kota Milan akan berakhir membiru atau justru memerah.
Daftar Isi
Hilangnya Dominasi Milan Dulu
Sebelum itu, dominasi Milan mulai menunjukkan tanda-tanda redup sejak 2006. Tapi, meredupnya dominasi keduanya makin kentara memasuki tahun 2011. Pada musim 2011-2012, Juventus yang mengambil scudetto. Sementara, duo Milan nasibnya berbeda signifikan.
AC Milan berada di peringkat kedua, sedangkan Inter terlempar di posisi keenam. Awalnya, sinar dominasi Milan mulai pudar lantaran hilangnya para pemain bintang. Selain tentu saja krisis ekonomi buntut dari kasus calciopoli.
#OnThisDay in 2006
Juventus were relegated to Serie B and stripped of their Serie A titles following the Calciopoli match-fixing scandal.
AC Milan, Fiorentina, Lazio, and Reggina were also punished. pic.twitter.com/kaZcCz2Z3g
— GOAL (@goal) July 14, 2019
Andai saja duo Milan hanya sekadar kehilangan pemain bintang, itu bukanlah menjadi masalah. Ironisnya, duo Milan bukan hanya kehilangan pemain seperti Ricardo Kaka’, Alessandro Nesta, Dida, Javier Zanetti, Eto’o, sampai Diego Milito, tapi mereka gagal menemukan sosok penerusnya.
Belum lagi masalah juru taktik. Sepeninggal Carlo Ancelotti, AC Milan sendiri tak menemukan pelatih yang cespleng. Max Allegri, yang pernah melatih Rossoneri, waktu itu hanya sanggup membawa Milan berada di posisi terendah.
Sementara, di sisi Inter, usai Jose Mourinho tak lagi melatih, tidak ada pelatih bagus yang menangani Inter, kecuali Roberto Mancini. Nama-nama seperti Andrea Stramaccioni, Walter Mazzarri, sampai Frank de Boer hanya membuat Inter berada di posisi terpuruk.
Kedatangan Manajer Baru, Pioli!
Kembalinya dominasi duo Milan pelan-pelan kelihatan ketika para manajer baru mulai berdatangan. Antonio Conte yang datang ke Inter tahun 2019, dan Stefano Pioli, mantan pelatih Inter yang dipercaya menangani AC Milan di tahun yang sama.
Di kubu AC Milan, Stefano Pioli yang notabene pelatih bekas tetangganya itu, ternyata masih memiliki siasat yang jitu untuk sisi merah Kota Milan. Kegagalan ketika melatih Inter, tampaknya menjadi pelajaran berharga untuk Pioli, agar ia tidak malu lagi di hadapan publik Milan. Meski Milan yang berbeda.
📰 #CorriereDelloSport: In August #ACMilan will have to sign four more players to make Stefano #Pioli‘s team even more competitive. pic.twitter.com/FgXIl2AOVY
— Milan Posts (@MilanPosts) August 2, 2021
Banyak perubahan komprehensif terjadi di kubu Milan. Tangan dingin Pioli membuat Milan tampil luar biasa sejak kedatangannya pada Oktober 2019. Pioli merombak hampir keseluruhan tubuh AC Milan.
Sejak ia datang, dari segi strategi saja, Milan mengalami perubahan. Dari yang semula memakai pakem formasi 4-3-3 menjadi 4-2-3-1. Pioli pelan-pelan mencoba menyuntikkan apa yang disebut DNA Milan.
Pioli bukan hanya mengubah jiwa seluruh tim. Tapi ia juga menanamkan keseimbangan, keteguhan, dan mentalitas pemenang di atas segalanya. Buktinya, Pioli menggiring AC Milan kembali menyapa penonton Liga Champions Eropa, setelah tidak melakukannya setelah sekian purnama.
Conte Sang Pendobrak!
Lain Rossoneri, lain pula il Nerazzurri. Inter Milan yang tak mau mengulangi hasil-hasil buruk, merekrut Antonio Conte. Awalnya, Inter era Conte tampak biasa-biasa saja. Tapi memang kita tidak boleh terkecoh pada sosok Antonio Conte.
Para pendukung awalnya membenci fakta bahwa, Conte dipekerjakan menjadi pelatih kepala Inter karena ikatan sejarahnya dengan Juventus. Conte pernah melatih Bianconeri. Namun, kebencian itu langsung menjadi senyuman yang tak henti-hentinya setelah Conte membawa Inter scudetto pada musim 2020-2021.
Antonio Conte at Inter Milan:
2019/20: second in the league one point behind Juventus + EL finalist
2020/21: won the Scudetto and ended the Juventus monopoly after nine years
A serial winner. pic.twitter.com/w2ucCAVGG1
— Francesco Porzio (@fraporzio95) May 26, 2021
Satu musim yang sangat menggembirakan bagi interisti di seluruh dunia. Meski pada musim pertamanya gagal, Conte telah menunjukkan bahwa manajemen Inter tak salah menunjuknya sebagai pelatih.
Antonio Conte mempersembahkan trofi scudetto dengan mengungguli AC Milan 12 poin. Hebatnya lagi, saat itu juga Conte telah menciptakan rekor, bahwa itu adalah kedua kalinya dalam sejarah, Inter memiliki poin lebih dari 90 di akhir musim Serie A.
Bukan hanya itu. Conte juga menciptakan rekor pribadi. Ia menjadi satu-satunya pelatih Serie A yang bisa juara dengan memenangkan lebih dari 90 poin, dengan klub yang berbeda. Namun, permasalahannya dengan internal La Beneamata, membuat Conte pergi dengan cara yang kurang baik.
Conte Pergi, Tenang Masih Ada Inzaghi
Tidak seperti AC Milan yang masih bertahan dengan Stefano Pioli, Inter memilih menunjuk Simone Inzaghi, mantan pelatih Lazio untuk menahkodai pasukan peninggalan Conte. Masalahnya, tidak semua pemain masih di Inter.
Mau tidak mau, Inzaghi harus meramu taktik baru, gaya main baru, bahkan pendekatan yang baru. Tentu saja demi menjaga dominasi persaingan duo Milan yang sudah mulai pada era Antonio Conte dan Pioli.
OFFICIAL: Inter Milan have apointed Simone Inzaghi as their new manager, replacing Antonio Conte.
Inzaghi won the Coppa Italia and two Supercoppa Italiana in five years with Lazio 🏆 pic.twitter.com/c3eGiFLtFC
— B/R Football (@brfootball) June 3, 2021
Dengan gaya permainan yang lebih dekat kepada kebebasan, khas Simone Inzaghi, para pemain Inter jauh lebih cair dalam mengolah strategi. Kebebasan itu tidak lantas membuat Inzaghi kehilangan kendalinya.
Pemain tetap mengikuti arahannya. Hanya saja, para pemain, oleh Inzaghi, diberikan kebebasan untuk membuat keputusan individu, ketika sudah berada di lapangan. Hasilnya? Seperti apa yang kalian lihat sekarang. Inter masih sanggup menempel ketat AC Milan, dan bonusnya menjuarai Coppa Italia.
Kedalaman Skuad
Salah satu kunci kembalinya dominasi duo Milan adalah kedalaman skuad masing-masing tim. AC Milan dengan Stefano Pioli memiliki beberapa pilihan, kendati pemain seperti Hakan Calhanoglu membelot ke Inter Milan.
Setidaknya, Pioli masih memiliki senjata-senjata tak terduga di kubu Rossoneri. Pioli masih mempunyai pemain seperti Sandro Tonali, Ismael Bennacer, Rafael Leao, Brahim Diaz, Olivier Giroud, sampai tentu saja Zlatan Ibrahimovic.
Rafael Leão has been directly involved in 5 out of AC Milan’s last 8 Serie A goals:
🅰️🅰️ vs Hellas Verona (1-3 W)
⚽️ vs Fiorentina (1-0 W)
🅰️ vs Lazio (1-2 W)
⚽️ vs Genoa (2-0 W)Ending the season in brilliant form. 🇵🇹👏 pic.twitter.com/S0QNcio2ZJ
— Statman Dave (@StatmanDave) May 9, 2022
Rafael Leao dan Ibra beberapa kali menjadi kunci serangan AC Milan. Sementara, Franck Kessie dan Theo Hernandez, menurut The Analyst menjadi otak di balik terciptanya peluang Milan. Lalu, ada nama Alexis Saelemakers dan Brahim Diaz yang kreativitasnya sangat bagus.
Sementara, di kubu Inter, Simone Inzaghi masih tetap melanjutkan tradisi tiga bek Conte. Namun, ia melakukannya dengan cara sendiri. Meski pilihan bek tengahnya agak terbatas, namun Inzaghi berhasil membuatnya jadi mewah. Milan Skriniar yang tampil solid, misalnya.
Lalu, ia juga punya pilihan lain seperti Stefan de Vrij dan Ranocchia. Di sisi tepi, kehilangan Achraf Hakimi bukan masalah, sebab masih ada Matteo Darmian dan pemain baru mereka, Denzel Dumfries.
Di lini tengah, Nicolo Barella menjadi salah satu komponen penting. Itu kemudian ditopang dengan lini depan yang tajam, macam Lautaro Martinez, Alexis Sanchez, sampai Edin Dzeko.
Melempemnya Juventus
Kembalinya dominasi duo Milan juga lantaran Si Nyonya Tua yang benar-benar mencapai masa tuanya. Juventus, sejak terakhir kali menjuarai Serie A, persis ketika dilatih Maurizio Sarri, sudah kehilangan sentuhannya di Liga Italia.
Menurut laporan Goal, Juventus mengalami penurunan mental setelah kepergian Sarri. Pergantian ke mantan pemain mereka sendiri, Andrea Pirlo justru hanya membuat Juventus makin memburuk.
Bersama Max Allegri musim ini, Juventus masih saja seret. Mereka masih kesulitan hanya untuk meraih kemenangan. Bahkan oleh tim-tim yang harusnya mudah mereka kalahkan. Melempemnya Juventus inilah yang coba dimanfaatkan duo Milan untuk kembali menemukan ritmenya di Serie A.
Sumber referensi: TotalFootballAnalysis, CBSSPorts, Sempreinter, Reuters, Goal, Marca, Sempremilan, Quora, Sportco


