AS Roma vs Feyenoord: Laga Final Penuh Rasa Dendam

spot_img

AS Roma asuhan Jose Mourinho bakal menghadapi tim kejutan, Feyenoord di final UEFA Conference League pada akhir Mei nanti. Pertandingan yang bakal diselenggarakan di Tirana National Arena, Albania ini akan menjadi partai final yang sangat menarik. 

Selain karena tahun ini adalah edisi perdana dari UEFA Conference League, laga ini akan jadi laga ulangan babak 32 besar Europa League musim 2014/15. Yang mana laga tersebut menjadi salah satu laga paling panas di Europa League musim itu.

Laga tersebut dimenangkan AS Roma dengan skor agregat 3-2 dan berhak maju ke babak 16 besar kompetisi nomor dua antarklub Eropa itu. Praktis pada 26 Mei nanti, Feyenoord bakal tampil habis-habisan dengan mengusung misi balas dendam.

Namun, Roma yang mereka hadapi bukanlah Roma yang dulu. Kali ini mereka akan menghadapi AS Roma versi Jose Mourinho, yang mana Mourinho terkenal tak terkalahkan di final kompetisi Eropa.

Perjalanan Kedua Klub di Conference League

Perjalanan kedua kesebelasan dalam mencapai partai puncak pun cukup menarik. Feyenoord yang dicap sebagai tim yang tak diunggulkan nyatanya menemui jalan mulus untuk mencapai final.

Catatan statistik Feyenoord bahkan lebih bagus dari AS Roma. Tim asal Belanda ini belum mencicipi satu kekalahan pun selama gelaran Conference League dimulai. Mereka tercatat meraih 8 kemenangan dan 4 hasil imbang tanpa sekalipun mencicipi rasanya kalah.

Sedangkan sang Serigala Roma, mencatatkan 7 kemenangan 3 hasil imbang dan 2 kekalahan. Menariknya, dua kekalahan Roma didapat dari tim yang sama, yaitu tim antah berantah dari Norwegia, FK Bodo/Glimt yang namanya saja cukup asing terdengar. 

Di laga semifinal, kedua tim sama-sama menghadapi tim kuat. AS Roma menghadapi wakil Inggris, Leicester City dan Feyenoord Rotterdam menghadapi wakil Prancis, Marseille. 

Roma berhasil menahan imbang The Foxes di kandang mereka dengan skor 1-1 dan berhasil menang tipis di leg kedua dengan skor 1-0 berkat gol tunggal Tammy Abraham melalui skema tendangan pojok.

Sedangkan Feyenoord harus menang susah payah di kandang melawan Marseille. Sempat unggul dua gol di menit awal, Marseille malah berhasil menyamakan kedudukan melalui Bamba Dieng dan Gerson Santos. 

Hasil imbang tanpa gol di leg kedua pun sudah cukup untuk mengantarkan Feyenoord ke partai puncak.

Dendam Europa League 2015

Menariknya, laga final kali ini akan menyajikan dua tim yang sama-sama memiliki suporter yang sangat militan. Selama Roma dan Feyenoord berkompetisi, kedua suporter tak kenal lelah mendukung tim kesayangan mereka baik ketika bermain di kandang maupun tandang.

Selain jadi partai ulangan bagi kedua kesebelasan. Final kali ini juga akan menjadi misi balas dendam bagi kedua belah suporter. Terutama bagi para suporter Feyenoord yang masih menyimpan dendam lantaran mereka harus menerima kekalahan 2-1 di kandang. 

Laga Feyenoord kontra AS Roma di Europa League musim 2014/2015 dihiasi kerusuhan antar dua suporter. Kerusuhan itu berawal dari suporter Feyenoord yang rusuh di kawasan kota Roma pada leg pertama. Ratusan suporter Feyenoord berteriak-teriak nggak jelas sambil melempari toko-toko yang mulai tutup dengan botol minuman.

Tak hanya berbuat rusuh, para suporter Feyenoord juga melakukan vandalisme guna mengompori suporter Roma dengan menempelkan stiker-stiker, yang bergambarkan seseorang yang telah memenggal kepala serigala berlatarkan bangunan Colloseum Roma. 

Suporter Feyenoord ini memang terkenal doyan rusuh di negara orang. Namun, alih-alih memancing amarah ultras Roma, beberapa dari mereka, justru dibekuk pihak kepolisian lantaran mengganggu kenyamanan warga lokal.

Merasa tak terima, setibanya para suporter AS Roma di Rotterdam pada leg kedua, beberapa suporter Feyenoord menyusul ke lokasi berkumpulnya suporter Roma dan mereka pun dengan cepat terlibat perkelahian. Sebanyak lima suporter Roma, dan belasan suporter Feyenoord ditahan di kantor polisi.

Ketika pertandingan berlangsung pun kerusuhan belum juga usai. Bahkan pertandingan tersebut sempat dua kali mengalami penundaan akibat ulah kedua suporter. Jadi, pada laga final di Albania nanti, sudah dipastikan Feyenoord dan Roma bakal datang dengan membawa dendam masing-masing.

Pemain Kunci

Selain persaingan antar pemain ke 12 mereka, persaingan lini serang kedua kesebelasan juga sangat menarik untuk disimak. Dengan Tammy Abraham di sisi Roma dan Cyriel Dessers di kubu Feyenoord.

Menggantikan Edin Džeko di lini serang AS Roma bukanlah tugas yang mudah, tetapi Tammy Abraham telah melakukannya dengan luar biasa sejak didatangkan oleh Jose Mourinho dari Chelsea. 

Striker jangkung ini sangat mobile, terhubung dengan baik dengan rekan setimnya di lini tengah dan memanfaatkan peluangnya saat mereka datang. 9 gol di kompetisi Conference League dan 15 gol di Serie A sejauh ini, membuktikan bahwa pemain 24 tahun ini sedang dalam kondisi on fire.

Sedangkan the rising star milik Feyenoord, Cyriel Dessers tak begitu spesial di Eredivisie. Ia hanya mencetak 8 gol dari 26 pertandingan. Itu angka yang sangat sedikit untuk ukuran penyerang tengah. 

Namun, striker berkebangsaan Belgia-Nigeria ini cukup mengejutkan di Conference League. Untuk sementara, ia sedang menduduki puncak daftar pencetak gol terbanyak, dengan torehan 10 golnya. 

Mungkin yang akan muncul sebagai pembeda di final nanti adalah kapten AS Roma saat ini, Lorenzo Pellegrini. Perkembangan Pellegrini di tangan Mourinho sangat signifikan. Mobilitasnya di lini tengah sangat membantu tim, apalagi ia sangat piawai memainkan peran sebagai penghubung antar lini.

Pemain lulusan akademi Roma itu juga cukup rajin membantu serangan Giallorossi. Ia tercatat telah mencetak 8 gol di liga dan 4 gol di Conference League.

Jose Mourinho Jadi Kunci

Faktor lain yang mengunggulkan AS Roma dalam partai Final nanti adalah Jose Mourinho. Mungkin bisa dibilang, The Special One bakal jadi faktor kunci untuk mengantarkan Giallorossi meraih gelar Eropa pertama mereka.

Mourinho yang kerap mengandalkan formasi tiga bek yaitu Smalling, Mancini, dan Ibanez di lini pertahanan, dan dua bek sayap yang kerap membantu serangan. Terbukti efektif di Roma. 

Mou juga menginstruksikan anak asuhnya untuk melakukan serangan balik cepat, dan membawa bola ke depan dengan sentuhan sesedikit mungkin. Hal ini sudah pasti akan merepotkan barisan pertahanan Feyenoord.

Bola pun selalu dipusatkan ke Zaniolo atau Pellegrini sehingga mereka bisa memberikan ruang untuk Tammy Abraham, sehingga ia lebih leluasa bergerak di lini serang.

Dengan dua gelar Champions League, dan dua gelar Europa League yang telah diraih Mourinho, ia berambisi menjadi pelatih pertama yang memenangkan ketiga kompetisi terbesar Eropa saat ini. Jose Mourinho adalah seorang pemenang dan ia ahlinya dalam menghadapi tekanan di level tertinggi.

Jadi, tunggu apalagi? Publik kota Roma sudah harus menyiapkan perayaan yang meriah dari sekarang untuk menyambut kedatangan pahlawan Roma dari medan perang di Albania nanti.

Sumber: UEFA, Planetsport, The Athletic, Panditfootball

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rp109,000Rp125,000
Obral!
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rp109,000Rp120,000

Artikel Terbaru