Liverpool vs Real Madrid: Adu Keajaiban di Final UCL 2022

spot_img

Akan sangat membahagiakan, andai saja Real Madrid mampu mengatasi perlawanan Liverpool di final Liga Champions Eropa. Para fans akan kembali berkumpul di patung Dewi Cibeles untuk kedua kalinya, setelah mereka melakukan itu usai memastikan diri menjuarai La Liga.

Ini menjadi momen yang berharga. Los Galacticos bisa saja mengawinkan dua gelar yang klub mana pun menginginkannya. Namun, para fans Real Madrid harus panas dingin terlebih dahulu, Carlo Ancelotti dan para pemainnya mesti berpusing ria terlebih dahulu.

Mengingat lawan Los Merengues di final adalah Liverpool. Raksasa Liga Inggris yang berambisi menciptakan quadruple di musim ini. Liverpool yang sekarang adalah Liverpool yang berbeda. The Reds punya senjata-senjata ampuh untuk menandingi Real Madrid. Senjata-senjata yang bisa jadi membuat taktik Ancelotti buntu.

Liverpool Mulus ke Final

Liverpool mencapai puncak tertinggi Liga Champions dengan mulus. Hambatan mereka hanya berada di babak 16 besar ketika menghadapi Inter. The Reds kalah di leg kedua 1-0 menghadapi pasukan La Beneamata.

Namun, faktanya adalah itu satu-satunya kekalahan Liverpool di ajang Liga Champions. Fakta lainnya, kekalahan itu tak berpengaruh bagi The Reds. Sebab di leg pertama, anak asuh Jurgen Klopp sudah lebih dulu mengecilkan nyali Inter dengan menaklukkannya lewat dua gol tanpa balas.

Jalan Liverpool ke final berikutnya terbilang mulus, bahkan lebih mulus dari jalanan di Kabupaten Pemalang. Pasukan Klopp ‘hanya’ menghadapi Benfica di perempat final. Menghadapi Benfica, bagi Liverpool, tak jauh berbeda dengan mereka menghadapi Newcastle United di Premier League atau Nottingham Forest di Piala FA.

Pada leg pertama, Liverpool sudah menunjukkan ke Benfica, bahwa mereka tak pantas menginjakkan kaki ke perempat final Liga Champions. Kekalahan 3-1 bukan hanya kekalahan yang menyakitkan buat Benfica, tapi kekalahan yang memang sudah seharusnya mereka alami. Apalagi Liverpool tampil begitu perkasa, sampai-sampai seorang Ibrahima Konate pun bisa membobol gawang Benfica.


Usai menghadapi Benfica, di semifinal, Liverpool harus menghadapi tim ‘chiki’ lainnya, Villarreal. Well, sebelum itu jika kalian menganggap Villarreal bukanlah tim enteng, lantaran mengalahkan Bayern Munchen, silakan saja.

Tapi ingat, Munchen dan Liverpool itu dua klub yang berbeda. Munchen tinggal di liga petani, sementara Liverpool adalah klub tangguh buah persaingan Liga Inggris yang ketat. Mengalahkan Liverpool, bagi Villarreal, seperti mimpi di siang hari.

Jalan Terjal El Real

Perjalanan mulus The Reds mencapai final ternyata tak bisa ditiru Real Madrid. Entah bagaimana, Tuhan seperti menakdirkan bahwa El Real mesti ditempa dulu sebelum ke final. Jalan Real Madrid sangat terjal.

Baru pertandingan kedua di UCL, El Real harus mendapat perlakuan tidak menyenangkan setelah dikalahkan klub antah berantah, Sheriff Tiraspol. Tapi El Real tetaplah El Real. Kekalahan dengan mudahnya dikubur dalam-dalam. Real Madrid pun lolos ke babak gugur dengan cara terhormat.

Di fase gugur, Los Galacticos langsung bertemu PSG yang bertekad menghapus make-up badutnya di Liga Champions. Dan benar saja, Real Madrid kalah di leg pertama di Parc des Princes, meski hanya lewat sebiji gol telat Kylian Mbappe.

Namun, di leg kedua, Real Madrid menunjukkan bahwa pestanya belum usai. Badut tetap harus menjadi badut. PSG hancur di Santiago Bernabeu dengan skor telak 3-1. Melangkah ke perempatfinal, Real Madrid ketemu tim yang merepotkan lagi.

Adalah Chelsea, musuhnya di perempatfinal, dan yang pernah menggagalkan upaya Los Merengues melangkah ke final di edisi sebelumnya. Tak disangka, Madrid justru mengalahkan Chelsea dengan mudah di leg pertama.

Namun, justru Carletto dibikin pusing di kandang sendiri. Keunggulan 3-0 Chelsea sedikitpun tak mampu dikurangi El Real hingga menit ke-79. Tapi, pada menit 80, si bocah ajaib, Rodrygo Goes mendadak jadi puyer lewat golnya setelah menerima umpan luar biasa Modric.

Tapi, puyer hanya bisa meredakan sakit kepala. Agregat 4-4, membuat laga mesti berlanjut ke extra time. Tundukan Benzema benar-benar menyudahi perlawanan Chelsea. Sakit kepala Carletto pun hilang, meski hanya sebentar.

Madrid mesti berjumpa Manchester City di semifinal. Guardiola bukanlah pelatih yang mudah dibaca taktiknya. Kedua tim, bisa dibilang punya kualitas yang sama. Benar saja, pada leg pertama pesta gol terjadi.

Namun, justru City yang berhasil mengatasi perlawan Madrid dengan skor 4-3. Hal itu membuat El Real wajib menang di leg kedua, jika ingin lolos ke final. Tetapi, jalannya leg kedua hampir sama dengan pertama.

City unggul lebih dulu lewat Riyad Mahrez. Sayangnya, DNA UCL Real Madrid masih belum pudar. Menginjak menit 90, Real Madrid baru sanggup memberondong gol. Dua gol Rodrygo membuat agregat jadi sama kuat. Namun, gol Benzema di penghujung laga jelas menjadi pembeda. Real Madrid lolos ke final dengan susah payah!

Adu Keajaiban

Sampai di sini, perjalanan Real Madrid yang susah payah ke final Liga Champions, selain kerja keras juga tak bisa lepas dari keajaiban. Tuah DNA UCL yang melekat di tubuh El Real membawanya ke final.

Mereka nyaris kalah. Iya, sekali lagi, Real Madrid nyaris saja tersingkir di semifinal. Bahkan saat itu, Carletto sudah sangat pusing. Wajahnya menunjukkan kecemasan. Bagaimana nggak cemas? Tak ada satu pun gol bersarang ke gawang Ederson sampai laga hampir tuntas.

Magisnya kelihatan ketika Rodrygo tiba-tiba menyusup ke pertahanan Real Madrid, dan menerima umpan matang dari Benzema, untuk membobol gawang Ederson dengan sekali sentuhan. Bocah itu menggandakan golnya, tepat ketika ia ikut melompat di belakang Asensio dan berhasil mendapati bola tepat di kepalanya.

Keajaiban makin kelihatan ketika Benzema dilanggar di kotak penalti saat injury time. Penalti wak haji yang berbuah gol, menunjukkan kepada kita  bahwa keajaiban benar-benar ada.

Sementara, Liverpool juga tak ketinggalan tuahnya. Mereka lolos ke final dengan sedikit keberuntungan, karena menghadapi lawan-lawan yang terbilang mudah. Ini akan menjadi hal yang menarik ketika kedua tim melangkah ke final dengan keajaibannya masing-masing. Entah klub mana yang tuahnya bakalan habis.

Head to Head

Tentu, keajaiban saja belum cukup untuk melihat jalannya pertandingan nanti. Head to head kedua tim juga tak boleh kita lupakan begitu saja. Dalam hal ini, Liverpool kalah dari Real Madrid, walaupun tipis.

Sejauh ini, Real Madrid sudah mengalahkan Liverpool 4 kali. Namun, itu terjadi setelah tahun 2009. Sebelumnya, Liverpool mengalahkan El Real sebanyak 3 kali. Satu-satunya hasil imbang adalah ketika keduanya bertemu di leg kedua perempatfinal Liga Champions musim lalu.

Dari segi head to head, Liverpool kalah. Tapi itu tipis sekali. Lagi pula, apakah ini hanya soal head to head? Tentu saja tidak.

Taktik dan Kedalaman Skuad

Kedua tim, bagaimanapun memiliki kedalaman skuad yang sama. Di sisi Liverpool, Klopp masih punya opsi yang berlimpah untuk membobol gawang El Real. Ia masih punya Mohamed Salah yang tampil impresif sejauh ini.

Belum lagi, sokongan dari Luis Diaz dan Diogo Jota, atau bisa juga Sadio Mane akan berpengaruh pada jalan ceritanya nanti. Kedalaman lini dobrak hampir seimbang dengan kedalaman di lini belakang.

Klopp masih punya Ibrahima Konate dan Virgil Van Dijk di lini bertahan. Sedangkan, di kubu Real Madrid, Karim Benzema masih akan menjadi andalan Don Carlo. Jika Benzema dimatikan geraknya, Carletto masih memiliki Rodrygo, dan kalau mau membongkar pertahanan The Reds, Vinicius bisa jadi opsi.

Kedua pelatih memiliki gaya bermain yang berbeda, sekalipun formasinya sama. 4-3-3 Klopp lebih menuntut intensitas tekanan yang tinggi. Para pemain dituntut bergerak cepat agar tak lama kehilangan bola.

Ancelotti berbeda. Alih-alih menuntut intensitas , ia lebih sering melakukan pendekatan secara teknis. Ia lebih menyukai memanfaatkan kualitas teknik, visi, dan pengalaman pemain seperti Toni Kroos, Modric, dan Casemiro. Ditambah, Ancelotti seperti selalu punya cara gaib ketika timnya sedang terjepit.

Sulit untuk memprediksi siapa yang bakal menang nanti. Selain kita hanya bisa menanti, keajaiban tim mana yang bakal jadi kunci. Apakah ‘Miracle of Istanbul’ akan diadopsi menjadi ‘Miracle of Paris’, atau justru kenangan pahit di Kyiv akan terulang kembali?

Sumber referensi: UEFA, BR, Goal, 11v11, Sportingnews

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rp109,000Rp125,000
Obral!
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rp109,000Rp120,000

Artikel Terbaru