Melempar Ingatan Saat Real Madrid Hattrick Liga Champions

spot_img

Tendangan keras Karim Benzema dari dalam kotak penalti mengunci kemenangan Real Madrid atas Manchester City. Gol itu membawa Los Galacticos unggul 3-1 dan menggenapi kemenangan agregat 6-5 untuk lolos ke final Liga Champions untuk ke-17 kalinya. Itu sekaligus menjadi pertanda kalau Real Madrid memang rajanya Liga Champions.

Ingat saat bagaimana Los Galacticos menciptakan hattrick Liga Champions? Iya, itu dilakukan El Real pada tahun 2016, 2017, dan 2018. Cerita tiga kali berturut-turut menjuarai Liga Champions itu sudah tentu akan selalu diingat oleh seluruh penggemar Real Madrid.

Titik Balik Musim 2015-2016 

Kisah dongeng Real Madrid yang berhasil meraih gelar Liga Champions tiga musim berturut-turut berawal dari musim 2015-2016. Real Madrid yang ditinggal Rafael Benitez di pertengahan musim, memaksa manajemen memutar otak untuk mencari siapa yang pantas menggantikan posisinya.

Tak memiliki waktu banyak, petinggi Madrid akhirnya menunjuk Zinedine Zidane yang kala itu masih menjabat sebagai pelatih Real Madrid Castilla, demi menyelamatkan sisa musim El Real.

Di luar dugaan, Zidane yang masih bau kencur di dunia kepelatihan, ternyata membawa warna baru di skuad Madrid. Hasil kurang memuaskan di paruh awal musim terbayar dengan Zidane yang berhasil mengamankan posisi kedua klasemen.

Zidane tak melakukan perubahan signifikan terhadap materi pemain. Perubahan yang cukup mencolok justru terlihat di staf kepelatihan. Ia mendatangkan Antonio Pintus, mantan pelatih fisiknya sewaktu ia masih berseragam Juventus.

Antonio Pintus menganut filosofi kebugaran bahwa tim yang dapat berlari paling cepat untuk waktu terlama akan memenangkan laga. Zidane pun mengamini filosofi yang kelak terbukti ampuh dalam tiga musim ke depan.

Setelah menyelamatkan musim Real Madrid, Zidane secara mengejutkan justru berhasil mencapai partai final di Liga Champions dan berhadapan dengan rival sekota, Atletico Madrid.

Berawal di Milan

Layaknya laga derby, laga final yang diselenggarakan di Milan itu berjalan alot. Pertahanan Real Madrid yang masih dikawal dua bek pemakan kaki lawan, Pepe dan Sergio Ramos berhasil meredam serangan Atletico Madrid di babak pertama. 

Bahkan, Sergio Ramos memberi El Real keunggulan awal gol yang cukup kontroversial, lantaran pemain Spanyol itu tampak berada dalam posisi offside. Namun, wasit tak mengambil tindakan apa pun, dan skor 1-0 bertahan hingga turun minum.

Babak kedua giliran Los Rojiblancos yang tampil menekan. Serangan sporadis yang dilancarkan Fernando Torres CS menghasilkan penalti, hanya beberapa menit setelah peluit babak kedua dibunyikan.

Namun sayang, Griezmann yang ditunjuk sebagai algojo tak mampu menyelesaikan tugasnya dengan baik. Akhirnya, Yannick Carrasco pun muncul sebagai penebus kesalahan Griezmann dan menyamakan kedudukan dengan 11 menit waktu normal tersisa.

Menariknya, ramuan strategi pertahanan Simeone membuat sang mega bintang, Cristiano Ronaldo dibuat mati gaya oleh duo bek jangkung Diego Godin dan Stefan Savic. Penjagaan yang baik membuat Ronaldo jarang mendapat suplai bola dari lini tengah.

Lantaran tak terjadi gol di babak tambahan, laga dilanjutkan ke babak adu penalti. Kegagalan Juanfran saat adu penalti, menandai kesuksesan Real Madrid memenangi gelar pertama dari tiga trofi Liga Champions yang diraih bersama Zidane.

Mempertahankan Gelar di Cardiff

Kegemilangan Real Madrid di Liga Champions pun berlanjut pada musim selanjutnya. Seakan ingin menjawab segala keraguan terhadap dirinya, Zidane pun membangun tim untuk musim 2016/17 dengan lebih rapi.

Dan benar saja, anak asuh Zinedine Zidane berhasil memuncaki klasemen La Liga dengan selisih tiga poin dari sang juara bertahan musim lalu, Barcelona. Masih belum puas, Real Madrid berambisi mengawinkan gelar La liga dengan Liga Champions setelah mencapai laga final kontra Juventus. 

Juventus yang menjadi satu-satunya wakil Italia, berhasil menumbangkan tim kejutan AS Monaco di semifinal dan menantang sang juara bertahan, di partai final yang dimainkan di Cardiff.

Beda halnya dengan final musim lalu. Madrid yang dipimpin oleh Ronaldo dan Benzema di lini depan tampil superior sepanjang jalannya laga. Ronaldo yang musim lalu tak mencolok, kini tampil kesetanan dengan memborong dua gol.

Ronaldo memberikan keunggulan cepat di menit 20. Namun, tujuh menit berselang, Juve berhasil menyamakan kedudukan melalui salah satu gol terbaik di final Liga Champions buah karya Mario Mandzukic. Skor satu sama pun berakhir hingga interval babak pertama.

Di babak kedua, pertahanan Juve semakin diobok-obok. Zidane yang melakukan penyesuaian kecil dalam strateginya, gagal diantisipasi oleh Massimiliano Allegri. Hasilnya? Sudah pasti. Pembantaian! 

Sang juara bertahan kembali mencetak tiga gol tambahan yang tak mampu dibalas oleh si Nyonya Tua, sehingga membuat Gianluigi Buffon tampak sangat kelelahan lantaran dipaksa untuk kembali memungut bola dari gawangnya sendiri. 

Babak kedua jadi milik Madrid. Mereka dominan dan mengakhiri laga dengan skor telak 4-1, sekaligus menjadi tim pertama di era Liga Champions yang berhasil mempertahankan gelar juaranya.

Hattrick Liga Champions di Kiev

Puncaknya, Real Madrid dengan luar biasa, kembali mencapai partai final Liga Champions 2017/2018, meski harus susah payah melewati klub-klub raksasa lainnya, seperti PSG, Juventus dan Bayern Munchen di fase gugur. 

Berhadapan dengan Liverpool di final, Zidane kembali mencadangkan Gareth Bale dan mengandalkan formasi 4-4-2 diamond, dengan mengandalkan Cristiano Ronaldo dan Karim Benzema di lini depan. Belum genap 30 menit jalannya pertandingan, Liverpool harus rela kehilangan pemain andalan mereka, Mohamed Salah yang mengalami cedera bahu lantaran dipiting oleh Sergio Ramos.

Berharap keajaiban Portugal yang kehilangan Ronaldo, namun malah berhasil menjuarai Euro 2016 menular ke pasukan The Reds di Kiev. Ternyata mitos itu hanyalah isapan jempol.

Bencana justru berdatangan kala memasuki babak kedua, ketika wak haji mengaktifkan genjutsu yang membuat Karius terpaksa melakukan blunder. Tak menyia-nyiakan peluang, Benzema pun menyerobot bola dari Karius, dan gol ajaib pun terjadi. 

Sempat disamakan oleh Sadio Mane pada menit 55. Zizou merespons dengan memasukan Gareth Bale ke arena pertarungan menggantikan Isco yang tampil kurang maksimal. Insting Zidane pun berbuah manis.

Tak butuh waktu lama, Bale langsung mencetak gol spektakuler. Mendapat umpan dari Marcelo, Bale mengeksekusinya dengan teknik andalan Captain Tsubasa yang diarahkan ke sudut atas gawang.

Tidak ada perlawanan berarti dari Liverpool, penderitaan Karius justru semakin parah ketika ia tak mampu menggagalkan tendangan keras dari Bale, yang akhirnya gol tersebut memastikan Real Madrid meraih gelar Liga Champions ketiga secara beruntun.

Sumber: Bleacher Report, UEFA, Managingmadrid, Black White 

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru