Kisah Kelam Kegagalan Liverpool di Final Liga Champions

spot_img

Tak selamanya Liverpool bernasib indah ketika di final seperti layaknya kisah “Miracle of Istanbul” di 2005 maupun edisi terakhir mereka menjadi kampiun pada 2019 ketika berjumpa Tottenham Hotspur. Ada kalanya The Reds tak berhasil bahkan menyimpan kisah pilu di final Liga Champions, sejak keikutsertaannya dari tahun 1977.

Misalnya, di tahun 1985. Sebuah tragedi terjadi di final Liga Champions kelima Liverpool. Final yang berlangsung di stadion Heysel,Brussels Belgia, membuat 39 jiwa arwah melayang yang dikenal ketika itu dengan “Heysel 1985”

Ironisnya lagi, pada saat itu pula, Liverpool harus menelan pil pahit usai kalah dari Juventus 1-0. Bukan itu saja. Kekalahan itu juga menjadi kekalahan pertama Liverpool sejak tahun 1977 di final Liga Champions. The Reds sebelumnya selalu menang di final Liga Champions.

2007

Setelah 20 tahun sejak final 1985, Liverpool tampil lagi di final pada 2005 dan berakhir dengan indah di Istanbul ketika mengalahkan Milan lewat adu tos-tosan. Namun, kisah manis itu tak terluang di final Liga Champions 2007.

Bermodal di edisi tahun 2005, Liverpool menatap final Liga Champions 2007 dengan penuh percaya diri. Selain itu, lagi pula musuh yang dihadapi masih sama, yaitu AC Milan dengan pelatih yang sama, Carlo Ancelotti.

Sementara di kubu The Reds, Rafael Benitez masih memegang kendali. Skuad Liverpool pun masih diperkuat para pemain lama, dan beberapa amunisi baru seperti Javier Mascherano, Arbeloa, Dirk Kuyt, Jermaine Pennant, sampai Craig Bellamy.

Perjalanan buruk Liverpool di final Liga Champions 2007, diawali dengan tidak lolosnya mereka dengan mudah, lantaran berada di peringkat ketiga Liga Inggris musim sebelumnya. Liverpool pun harus mengikuti babak playoff kualifikasi terlebih dahulu. Menghadapi wakil Israel, Maccabi Haifa. Beruntungnya, Liverpool mampu melaju mulus ke fase grup setelah mengatasi wakil Israel itu dengan agregat 3-2.

Di fase grup, Liverpool tergabung di grup C bersama PSV Eindhoven, Bordeaux, dan Galatasaray. Secara mengejutkan, Liverpool berhasil lolos ke babak 16 besar sebagai juara grup. Di babak 16 besar, pasukan Benitez mesti menghadapi Barcelona.

Mampu menang dengan agresivitas gol tandang atas Barca, Liverpool melaju ke perempat final dengan menghadapi kembali rivalnya di grup, yakni PSV Eindhoven. Pasukan Benitez secara mengejutkan mampu menggulung wakil Belanda itu dengan skor agregat telak 4-0.

Di semifinal, tanda-tanda Dejavu 2004/05 sebenarnya sudah terlihat. Ketika Liverpool kembali bertemu Chelsea. Di mana mereka pernah sama-sama bertemu di semifinal 2004/05. Kali ini semifinal menjadi milik Liverpool kembali.

Liverpool mampu menang dengan susah payah setelah skor agregat imbang di dua leg. Liverpool akhirnya menang lewat adu tos-tosan. Mereka melaju ke final Liga Champions musim 2006-2007 dan bertemu AC Milan di Athena, Yunani.

Final yang diharapkan fans Liverpool menjadi “Miracle of Athens” gagal terwujud. Liverpool menyerah 2-1 atas Milan. Dendam Milan yang terbalaskan itu menenggelamkan Liverpool dalam kegagalan keduanya di final Liga Champions. Dua gol Filippo Inzaghi dan 1 gol Dirk Kuyt menjadi hasil akhir pertempuran ulangan 2005 itu di Yunani.

Sebuah kegagalan sekaligus penyesalan bagi Liverpool. Ketika mereka memilih strategi yang salah tidak memainkan dua strikernya yang lagi subur ketika itu, yakni Peter Crouch dan Bellamy sebagai starter.

Benitez malah memilih memainkan Dirk Kuyt sebagai penyerang tunggal dari awal laga, yang itu bukan posisi aslinya. Ini murni kesalahan strategi Benitez, dan itu mampu dibaca Ancelotti dengan masterclass formasi pohon cemaranya.

2018

Setelah 11 tahun lamanya, Liverpool akhirnya mencoba lagi peruntungannya di final Liga Champions. Di musim 2017/18, Liverpool kembali masuk final untuk kedelapan kalinya. Final kali ini, Liverpool bertemu lawan yang tidak mudah, yakni peraih gelar juara Liga Champions dua kali berturut edisi sebelumnya, yakni Real Madrid.

Liverpool dan Real Madrid bertemu lagi di final Liga Champions setelah terakhir mereka bertemu di final 1981. Bagi Liverpool, ini adalah momentum yang tepat untuk meraih gelar keenamnya di Eropa, dengan berkaca pada memori indah 1981. Ketika itu The Reds mampu meraih gelar ke-3 nya dengan menghempaskan Madrid 1-0.

The Reds musim itu dengan proyek pembangunan skuad bersama Jurgen Klopp mampu mengamankan tiket Liga Champions setelah finish di posisi 4 Liga Inggris musim sebelumnya. Liverpool di musim 2017-2018 ini juga kedatangan banyak pemain seperti Mohamed Salah, Andy Robertson, Chamberlain maupun Virgil Van Dijk.

Akan tetapi Liverpool harus terlebih dahulu menjalani partai playoff kualifikasi Liga Champions musim itu. Di babak playoff, Liverpool mengalahkan wakil Jerman, Hoffenheim dengan agregat 6-3.

Masuk fase grup, The Reds menjadi juara grup di atas Sevilla, Spartak Moscow dan Maribor. Masuk ke babak 16 besar, The Reds mampu mengatasi perlawanan wakil Portugal Porto dengan agregat telak 5-0. Sedangkan di perempat final, The Reds juga mampu menang agregat telak 5-1 atas wakil Inggris, Manchester City.

Di semifinal, hujan gol terjadi ketika The Reds bertemu wakil Italia, AS Roma. Agregat 7-6 pun tak terhindarkan dan memantapkan posisi The Reds melaju ke babak final untuk melawan raksasa Spanyol, Real Madrid. Ini merupakan final pertama bagi Klopp di Liverpool, sekaligus yang kedua bagi Klopp di Liga Champions, setelah ia pernah merasakan atmosfer final ketika bersama Dortmund di 2012-2013.

Final yang dihelat di Kiev, Ukraina pada tanggal 27 Mei 2018 itu ternyata malah menjadi rentetan kisah kelamnya Liverpool di final Liga Champions. Kekalahan atas Madrid dengan skor 3-1 pun tak terelakan berkat dua gol Bale, Benzema, dan Mane.

Faktor Mo Salah yang cedera di babak pertama, dan blunder yang diciptakan kiper mereka, Loris Karius menjadi catatan kelam yang tak terlupakan. Klopp tak mampu memutus rantai juara Real Madrid dan menjadikannya 3 kali berturut-turut Madrid menjuarai Liga Champions.

Sekarang, di 2021-2022 Liverpool untuk kesekian kalinya akan manggung lagi di partai puncak Liga Champions, dalam rangka mengejar asa gelar ketujuh mereka di Eropa. Kini, mereka kembali Dejavu dengan bertemu Real Madrid, lawan yang pernah dihadapi The Reds dalam dua edisi final di partai puncak Liga Champions, yakni 1981 yang berujung manis, dan 2018 yang berujung kelam.

Sumber Referensi : uefa.com, transfermarket, footballfandom

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rp109,000Rp125,000
Obral!
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rp109,000Rp120,000

Artikel Terbaru