Beranda blog Halaman 22

Ketika Desire Doué Bersinar, Lamine Yamal Menjawab: Pertarungan Dua Bocah Ajaib Eropa Saat Ini

Rasa-rasanya, tahun 2025 seakan sudah dirancang untuk memunculkan dua sosok wonderkid yang mengguncang jagat sepak bola Eropa. Sampai-sampai, persaingan di antara talenta berbakat ini membawa lagi ingatan saat awal mula pertarungan antara Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo waktu masih muda dulu. 

Lamine Yamal dan Desire Doue kini silih berganti membuat penikmat sepak bola tak hentinya berdecak kagum. Keduanya memberikan warna tersendiri dalam percaturan sepak bola Benua Biru. Akhir-akhir ini, Yamal dan Doue terlibat dalam persaingan yang seru. Sang berlian dari Catalunya dan Si permata dari Paris saling klaim menjadi bocah ajaib dari Eropa di abad ini. Perdebatan sengit pun jadi tak terelakkan di kalangan fans. 

Lalu, bagaimana persaingan yang tersaji di atas rumput hijau antara Lamine Yamal dan Desire Doue belakangan ini? Adakah kesempatan perseteruan panas kedua pemuda ini terus berlanjut hingga beberapa tahun ke depan dan jadi legenda baru? 

Doue dan Final Yang Tak Dipunyai Yamal

Mimin yakin sebelum musim 2024/25 bergulir, tak banyak yang mengenal siapa itu Desire Nonka-Maho Doue selain fans sejati Ligue 1. Darah muda keturunan Pantai Gading ini mulai dibicarakan satu Prancis ketika musim terakhirnya bersama Stade Rennes. PSG pun segera mengikatnya dengan biaya sebesar 50 juta euro di bursa transfer musim panas. 

Di awal musim, Doue sebetulnya tampak kesulitan mendapatkan tempat di skema Luis Enrique. Menit bermainnya tak begitu bagus dibanding sesama pemain muda di lini serang, Bradley Barcola.

Enrique baru mulai mempercayai Doue secara reguler setelah pergantian tahun 2025. Doue segera memberikan sentuhan magis di laga-laga yang dijalani Les Parisiens. Rentetan gol brilian dan assist ciamik ia persembahkan, dari panggung Ligue 1 sampai pentas Liga Champions. 

Perlahan tapi pasti, Doue mulai terekspos dan menjadi spotlight. Sampai akhirnya, namanya seketika mencuat setelah berkontribusi mengantarkan PSG ke partai puncak Liga Champions untuk kedua kalinya. Maka, sejak itulah pemain setinggi 181 cm mulai dibanding-bandingke dengan Lamine Yamal yang sudah lama digaungkan sebagai pemain muda terbaik tanah Eropa.

Tentu saja dengan indikator Doue yang bisa menapak final Liga Champions lebih dulu dari Yamal. Padahal, sejak awal Yamal jauh lebih difavoritkan untuk mejeng di final, daripada Doue dan PSG. Malangnya, Barcelona malah habis bensin dan mogok di empat besar. 

Popularitas Doue semakin melejit setelah berperan sebagai salah satu aktor di balik pembantaian lima gol PSG atas Inter Milan di Munchen. Penggemar berat Neymar itu melesakkan dua gol ke gawang Yann Sommer. Gol Doue tak hanya sarat makna bagi tim, tapi juga dirinya sendiri. Doue resmi masuk dalam sejarah sebagai pencetak gol termuda keempat di final Liga Champions dengan usia 19 tahun, 11 bulan, dan 28 hari. Catatan tersebut hanya kalah dari Patrick Kluivert semasa di Ajax, Senny Mayulu yang juga rekan setimnya, dan Carlos Alberto dari FC Porto. 

Tak sampai situ saja, Doue juga dinobatkan sebagai pemain paling muda yang menyumbangkan dua gol di final. Ia sejajar dengan bintang lapangan yang pernah mencetak dua gol lainnya seperti Filippo Inzaghi, Diego Milito, Gareth Bale, hingga Cristiano Ronaldo. 

PSG pun melengkapi dominasi di kancah domestik dengan mahkota Eropa yang pertama sepanjang sejarah mereka. Klub ibukota Prancis sukses menutup perjalanan di musim 2024/25 dengan torehan emas quadruple

Oh iya hampir lupa. Doue juga mendapat anugerah penghargaan sebagai pemain muda terbaik Liga Champions musim 2024/25. Dengan begitu, winger kanan kelahiran Juni 2005 semakin membuat pendukung Yamal kepanasan. Doue bertambah harum dibandingkan Yamal yang belum punya trofi kuping gajah ataupun hanya sekadar mencetak gol di final. 

Pembalasan yang Elegan dari Yamal

Emang dasarnya definisi pemain muda dengan jiwa dewasa, Yamal tak perlu banyak  berkomentar dan membela diri di media terkait dirinya yang dianggap kalah dari Doue. Kurang dari seminggu setelah final Liga Champions, gantian alumni terbaik La Masia yang menggila dan seolah menjawab tuntas cibiran yang mengarah padanya. 

Momen balas dendam Yamal tersaji di babak semifinal UEFA Nations League. Kebetulan, Spanyol sebagai juara bertahan, bertemu dengan Prancis dalam pertandingan yang berlangsung di Stuttgart. Satu di antara mereka akan menyusul Portugal yang lebih dulu sampai ke final. 

Persis seperti prediksi banyak pihak, Yamal dan Doue kompak diturunkan sejak menit pertama. Yamal dipasang sebagai sayap kanan dalam formasi 4-3-3 buatan Luis De la Fuente, begitupun dengan Doue dalam skema 4-2-3-1 racikan Didier Deschamps. 

Kendati sama-sama main sejak awal, kali ini giliran Yamal yang memberi pembuktian. Pemuda dengan garis keturunan Guinea-Ekuatorial dan Maroko itu mengorkestrasi kemenangan dramatis La Furia Roja 5-4. Yamal menyarangkan dua gol, salah satunya dari titik putih ke gawang Les Blues. 

Sang juara bertahan pun berhak melesat ke final berjumpa Portugal. Spanyol menyegel tiket final dan Yamal mendapat pengakuan MVP di laga tersebut oleh UEFA. Dalam wawancara setelah menerima MVP, Yamal menjawab nada sumbang yang mengarah padanya. Dengan nada santai namun menohok, Yamal mengatakan ia hanya membuktikan kualitas yang terbaik di lapangan, sehingga orang dapat menilai siapa yang lebih baik. DAMN. 

Pertemuan Perdana di Lapangan yang Sama

Sejatinya, sebelum semifinal itu berlangsung, lebih banyak yang sadar kalau laga itu menjadi momen penentuan siapa yang paling layak menyandang Ballon D’Or tahun ini. Sorotan lebih mengarah pada gerak-gerik Yamal dengan Ousmane Dembele. Padahal, laga itu juga menjadi pertemuan perdana Yamal dan Doue secara langsung di atas lapangan yang sama. 

Hasilnya seperti yang sudah disampaikan, pertemuan pertama mereka dimenangkan oleh anak ideologis Messi. Yamal 1, Doue 0. Selain suguhan dua golnya yang antarkan Spanyol tumbangkan Prancis, kemenangan perdana Yamal atas Doue juga disertai dengan rating tertinggi di antara semua pemain yang turun dari kedua tim. Situs Fotmob memberikan rating 9,5 alias nyaris sempurna kepada Yamal. 

Modal pencapaian itu lebih dari cukup membuat peluang Yamal menjadi pemenang termuda sepanjang masa Ballon D’Or masih hidup. Pasalnya, Dembele yang jadi rival terdekatnya mendadak jadi noob pada laga penting tersebut. Tanpa gol dan assist satupun yang dibuat. 

Lain cerita dengan Yamal, Doue malah tampak nelangsa karena tak dapat berbuat banyak saat negaranya diseruduk kawanan banteng matador. Jangankan mencetak gol, Doue membuat Deschamps kesal, sehingga ditarik menit 63 dan digantikan Bradley Barcola. Rating Doue versi Fotmob juga cuma mentok di 6,1 saja. 

Kendati harus menelan pil pahit bersama seragam timnas, Doue setidaknya masih menyimpan harapan menjadi pemenang Kopa Trophy atau pemain terbaik dunia 2025. Penghargaan individu bergengsi yang tahun lalu disabet oleh Yamal. Itu karena tak banyak kandidat pemain muda lain yang secara prestasi lebih baik atau sekiranya mendekati produk akademi Rennes itu. 

Peluang Bertemu Kembali di Masa Depan

Selepas laga Spanyol vs Prancis, bisa dibilang Yamal dan Doue berpeluang untuk kembali tatap muka dalam beberapa kesempatan ke depan. Entah itu momennya ketika Barcelona berjumpa dengan PSG di Liga Champions, Timnas Spanyol bersaing dengan Prancis di panggung Eropa atau Piala Dunia, atau siapa tau Doue diangkut Real Madrid, sehingga mereka saling sikut di El Clasico. Bayangin aja dulu. 

Tapi, apapun itu, duel Yamal dan Doue adalah pelipur kegagalan pecinta sepak bola saat dulu menantikan Kylian Mbappe dan Erling Haaland muda akan menjadi seteru yang abadi. Nyatanya, si kura-kura ninja dan si pirang dari Norwegia tak sampai jadi rival yang mengganggu seperti era La Pulga dan CR7. 

Kira-kira, akankah persaingan Desire Doue dan Lamine Yamal akan terus berlanjut hingga masa tua? Atau hanya salah satu di antara mereka yang akan dikenang sebagai bintang besar? 

dailymail.co.uk, sports.yahoo.com, goal.com, uefa.com, edition.cnn.com, espn.com, foxsports.com

Sapi Ngamuk, Timnas Ngamuk! China Disate, Idul Adha Full Bahagia

0

Harum gajih dibakar belum semerbak. Tapi Timnas China sudah seperti bandot: disembelih di hadapan gelanggang Stadion Gelora Bung Karno. Ibarat sapi yang nadinya dipotong, perjalanan Timnas China di Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia juga berakhir. Tamat. Selesai.

Pertambangan nikel di Raja Ampat dihentikan, tapi pertambangan tiga poin masih terus terjadi di Gelora Bung Karno. Sebelumnya tiga poin ditambang dari Bahrain, dan kemarin dikeruk dari China. Dua kemenangan beruntun diraih. Dua kemenangan yang juga sangat penting.

Lantas, bagaimana review pertandingan tersebut versi Starting Eleven? Sebelum kita mulai, tenang saja, kamu bisa menonton video ini sambil menikmati sate yang lezat itu. Jadi sono siapin dulu.

Sudah? Oke, Lets go! 

Timnas Indonesia Main dengan Strategi yang Kurang Lebih Sama

Sejak digulung Australia, Patrick Kluivert telah melakukan taubat nasuha. Tidak lagi main-main dengan strategi. Taktik menyerang total ia tinggalkan. Mungkin pelatih keturunan Suriname ini kapok dijewer Alex Pastoor di tepi lapangan.

Pendekatan Kluivert tampak lebih hati-hati di dua pertandingan terakhir. Tak terkecuali di laga menghadapi Tiongkok kemarin. Namun kali ini tidak cuma mengandalkan serangan balik, Kluivert juga memamerkan gaya tiki-taka. Mungkin Kluivert takut kena sentil Jordi Cruyff yang ada di bench

Permainan timnas pun menjadi lebih indah, lebih nyaman ditonton, dan lebih nyeni. Yang bikin terhenyak lagi adalah, permainan kelas tinggi itu diperagakan bukan hanya dari kaki pemain abroad, tapi juga pemain liga lokal.

Komposisi Pemain Lebih Berani

Patrick Kluivert menyusun komposisi 11 pertamanya lebih berani. Kehilangan beberapa pilar memberi ruang untuk bereksperimen. Seperti menduetkan Ricky Kambuaya dan Egy Maulana Vikri di belakang Ole Romeny. Suatu eksperimen yang bahkan tak pernah terpikirkan Mikel Arteta.

Ini sekaligus membuktikan omongan Kluivert sejak pertama kali diperkenalkan. Ia tak peduli di mana pemain itu bermain. Asal pemain dianggap layak, ya dimainkan. Dua pemain Lig Ang itu membuktikan bahwa mereka juga bisa main cantik di atas lapangan.

Kita mulai dari Ricky Kambuaya. Setelah menjadi supersub di laga sebelumnya, Kluivert memberi kesempatan untuknya sebagai starting. Ricky menjawab dengan penampilan mamayo. Determinasi, kengototan, agresivitas, semua diborong. Membuat kita curiga, jangan-jangan kemarin Kakak Ricky kemasukan khodam Khvicha Kvaratskhelia.

Malam itu, sekali lagi Ricky membanggakan Indonesia. Penetrasinya mendatangkan penalti dan berujung gol. Ia menunjukkan perjuangannya untuk Indonesia. Walaupun daerahnya di Papua sana, dirusak oleh pemerintah.

Penampilan Egy Maulana Messi juga tak kalah menggigit. Egy tak cukup sering dimainkan sebagai starter di era Shin Tae-yong, tapi Kluivert berani menaruhnya di 11 pertama dalam laga sepenting itu. Punggawa Dewa United itu menjawab dengan penampilan memukau. Ia licin, cepat, dan tangguh. Meski kadang malas menekan dan pengambilan keputusan yang belum cermat.

Tapi adegan tiki-taka-nya dengan Ole Romeny cukup untuk menyebut Egy memang Messi-nya Indonesia. Kombinasi umpan pendek keduanya bagai puisi yang dilagukan. Indah dan menusuk kalbu. Sayang, fragmen seindah itu tak berbuah manis.

Saat Ole drop ke sayap, tak ada orang di kotak penalti lawan. Ini PR untuk laga-laga selanjutnya. Perlu ada yang stay di kotak penalti. Walau nggak nyerang, pokoknya stay aja di sana. Mau sambil ngopi atau bikin Indomie, bebas.

Segala Lini Solid

Sepak bola adalah permainan tim. Dan kemarin, Timnas Indonesia seperti lukisan yang menggambarkan itu. Lini depan, lini tengah, lini belakang, semuanya solid. Lini depan bekerja sebaik-baiknya, walaupun masih perlu diasah lagi ketajamannya. Bukan cuma Ole yang sudah mencetak tiga gol dari tiga pertandingan, tapi siapapun yang bertugas di lini serang.

Lini tengah juga menawan seperti laga sebelumnya. Kombinasi Joey Pelupessy dan Thom Haye betul-betul sempurna. Dua pemain ini saling melengkapi. Haye tak perlu repot mengambil pekerjaan kotor karena sudah ada Joey. Ia fokus mengirim umpan-umpan terukur seperti Andrea Pirlo.

Sementara Joey adalah “Classic Number 6” yang selama ini dibutuhkan timnas. Joey bukan gelandang bertahan yang suka tabrak-tabrak masuk. Ia bermain dengan teknik, pembacaan permainan, serta timing yang pas saat pressing. Wajahnya mirip Azpilicueta, tapi permainannya mengingatkan kita pada Xabi Alonso.

Di lini belakang, trio Jay Idzes, Rizki Ridho, dan Justin Hubner sungguh tembok yang sukar ditembus. Selama tiga bek ini dipasang di tiga laga terakhir Kualifikasi Piala Dunia 2026 di GBK, timnas tak pernah kebobolan. Saat menaklukkan China kemarin, kita bahkan melihat Jusa tampil lebih baik, lebih tenang, dan tidak emosian.

Jusa juga mampu melepas sejumlah umpan krusial. Di sektor bek sayap, kita melihat permainan Calvin Verdonk sedikit berbeda dari laga-laga sebelumnya. Tidak jelek. Tapi bermain cerdas tanpa memforsir tubuh. Memang seperti itulah bek kiri terbaik Eredivisie. Lagi pula teman-temannya juga bisa diandalkan. Di kanan kita melihat Yakob Sayuri dengan peran yang berbeda.

Shin Tae-yong dulu menjadikan Yakob alat menyerang, tapi Kluivert menjadikannya alat bertahan, sehingga Egy tak dibebankan tugas bertahan. Mungkin karena itu penampilan menantunya Umi Pipik menjadi lebih baik. Bagaimana dengan debut Emil Audero Mulyadi dan Beckham?

Debut Emil dan Beckham

Beberapa kali Emil Audero melakukan kesalahan. Genggaman yang luput hingga salah umpan. Tapi secara keseluruhan, Emil patut diacungi jempol. Fotmob bahkan memberinya rating 7,7. Sepanjang pertandingan Emil melakukan sembilan recovery dan satu penyelamatan.

Penyelamatan itu terjadi di awal babak kedua dan sempat bikin senam jantung. Betapa tidak? Lewat sebuah korner, China mendapatkan second ball. Bola langsung ditembak di ruang yang tak tertutup. Dengan gesit, Emil menjatuhkan diri, menepis bola di dekat gawang. Penyelamatan itu bukan hanya menyelamatkan gawang Indonesia, tapi juga menyelamatkan bapaknya.

Penampilan apik Emil di laga tersebut membuat persaingan kiper semakin ketat. Nadeo Argawinata dan Ernando Ari Sutaryadi bahkan juga Maarten Paes, mesti bekerja lebih keras lagi. Kelak, mungkin Nadeo atau Ernando akan diberi kesempatan oleh Kluivert. Di situlah mereka harus bisa membuktikan diri.

Penampilan Beckham Putra juga tak kalah mengagumkan. Walau tidak sampai 30 menit bermain, tapi Beckham mempertontonkan kualitas pemain dari juara back to back Liga 1. Beckham bergerak cepat dan lincah seperti Vitinha. Beckham membuat pemain China sempoyongan seperti baru menenggak vodka. Pemain binaan akademi Persib itu bahkan hampir mencetak asis.

Lolos Putaran Keempat

Kemenangan atas The Dragon memberi Indonesia tiga poin. Anak asuh Patrick Kluivert kini bertengger di empat besar. Peluang untuk ke Piala Dunia otomatis memang sudah tertutup. Sebab Australia di laga sebelumnya, menaklukkan lapis kedua Jepang.

Tiada mengapa. Minimal Indonesia akan lolos ke putaran keempat, karena di tempat lain, Arab Saudi menggebuk Bahrain di rumahnya sendiri. Dengan begitu, Indonesia menjadi satu-satunya negara Asia Tenggara yang berhasil lolos ke putaran keempat Kualifikasi Piala Dunia zona Asia. Indonesia juga diprediksi melejit ke peringkat 117 FIFA.

Di putaran keempat nanti, lawan yang kemungkinan dihadapi adalah negara-negara Timur Tengah. Akan ada enam tim yang bermain di putaran keempat. Dibagi menjadi dua grup. Masing-masing terdiri dari tiga tim.

Putaran keempat menggunakan sistem round robin bukan double round robin. Jadi tidak ada home-away, pertandingan akan terpusat. Kabarnya, Arab Saudi dan Qatar akan menjadi tuan rumah putaran keempat. Nantinya juara masing-masing grup akan mendapat tiket ke Amerika.

Dua runner-up akan diadu di putaran kelima, yang kalah mesti melawan tim dari benua lain. Kabar buruknya, Blackpink akan konser di GBK pada November nanti, dan Timnas Indonesia terancam tak bisa memakai GBK di putaran kelima. Gapapa. Kita nggak perlu memusuhi para Blink. Kan bakal lolos dari putaran keempat tho?

Sumber: FotMob, GlobalTimes, CNBCIndonesia, Bolacom, Aljazeera, ESPN

Di Balik Kokohnya Suita Stadium, Arena Pertarungan Indonesia vs Jepang

0

Stadion. Suatu tempat yang bukan sekadar susunan beton dan besi yang mengurung sebidang rumput hijau. Ia adalah katedral dari sebuah perasaan kolektif. Stadion bisa jadi tempat di mana harapan, doa, amarah, dan kebanggaan tumpah ruah jadi satu. Stadion bisa jadi tempat lahirnya sebuah sejarah.

Dan kali ini, kita akan membahas tentang stadion ikonik yang akan digunakan Timnas Jepang untuk menjamu Timnas Indonesia. Laga ini nantinya akan menjadi laga pamungkas di ronde ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026. Di stadion yang memiliki nama resmi sebagai Suita Stadium, terselip bumbu-bumbu yang membuat laga Indonesia vs Jepang akan terasa makin gurih untuk dibahas.

Setiap kursinya menyimpan kisah. Tentang seorang anak yang pertama kali menggenggam tangan ayahnya saat menyanyikan lagu kebangsaan. Atau tentang suporter yang berteriak sampai suara habis, bukan karena menang, tapi karena percaya. Dan berikut adalah kisah unik di balik kokohnya Suita Stadium. 

Markas Gamba Osaka

Di jantung Prefektur Osaka yang sibuk dan terkenal dengan kemajuan teknologinya, berdiri sebuah stadion yang tak hanya gagah secara arsitektur, tetapi juga megah secara makna. Stadion itu adalah Suita Stadium. Menurut data yang ada, Suita memiliki nama resmi Panasonic Stadium Suita.

Namun, stadion tersebut lebih dikenal sebagai Suita Stadium, karena memang terletak di daerah bernama Suita. Stadion tersebut merupakan rumah bagi Gamba Osaka dan altar bagi banyak pertarungan besar di jagat sepakbola Jepang. Gamba Osaka sendiri merupakan salah satu klub kaya akan sejarah di Jepang.

Klub bernuansa biru hitam ini bermain di J1 League, divisi tertinggi dalam sistem liga sepakbola Jepang. Gamba Osaka juga telah meraih berbagai prestasi, termasuk menjuarai J1 League pada tahun 2005 dan 2014, serta memenangkan AFC Champions League pada tahun 2008.

Kembali membahas Suita Stadium, dibuka pada tahun 2015, Suita Stadium bukan stadion biasa. Ia seperti samurai tua yang tak banyak bicara, namun menyimpan banyak cerita. Dan setiap kali peluit pertama berbunyi, jantung stadion ini berdetak keras. Bukan karena pertandingan dimulai, tapi karena roda kehidupan yang sekali lagi berputar.

Keterkaitan dengan Indonesia

Ngomong-ngomong soal pemilik Suita Stadium, ada informasi menarik tentang Gamba Osaka. Ternyata, setelah ditelusuri, Gamba Osaka pernah punya hubungan dengan Indonesia. Dilansir Bolasport, Gamba Osaka ternyata pernah dibela oleh pemain legendaris asal Indonesia, Ricky Yacobi. 

Tak cuma jago di Liga Indonesia, pada tahun 1988 sang legenda sampai dikontrak oleh klub Jepang, Matsushita. Sayangnya, kiprah Yakobi di negeri Sakura tak berjalan mulus lantaran sulitnya adaptasi iklim di Jepang. Lantas, mana Gamba Osaka-nya? Matsushita itu adalah cikal bakal lahirnya Gamba Osaka.

Nama Matsushita sendiri berasal dari salah satu perusahaan elektronik yang jadi sponsor klub saat itu. Pada tahun 1992, Matsushita Electric Industrial berganti nama menjadi Panasonic Corporation, dan membuat klub ikut berganti nama menjadi Panasonic Gamba Osaka. Penambahan kata Gamba Osaka didasarkan atas asal klub yang terletak di Osaka Prefecture.

Selain dengan mendiang Ricky Yacobi, Gamba Osaka juga pernah dikaitkan dengan pemain Timnas Indonesia, Jordi Amat. Sebelum akhirnya bergabung dengan Johor Darul Ta’zim, beberapa sumber di Indonesia meyakini Amat hampir direkrut oleh klub Jepang tersebut. Namun, kesepakatan tak pernah tercapai. Dan sampai sekarang, tak ada bukti valid kalau Gamba Osaka pernah bernegosiasi dengan sang pangeran. 

Dibangun Dengan Dana Iuran

Sekilas infonya sudah cukup ya, sekarang kita kembali membahas stadionnya lagi. Proyek pembangunan Suita Stadium ini dimulai pada tahun 2010. Diprakarsai oleh Gamba Osaka yang menghadapi keterbatasan dana dari pemerintah lokal saat itu. Minim modal tidak menghalangi Gamba Osaka untuk mendirikan rumah yang megah.

Lebih dari sekadar arena pertandingan, Suita Stadium ini adalah bukti nyata dari kekuatan kolektif komunitas dan semangat gotong royong yang jarang terlihat dalam skala sebesar ini. Ya, Suita Stadium yang kita lihat sekarang berdiri berkat dana hasil iuran. 

Mungkin manajemen Gamba Osaka kala itu bikin galang dana di Kitabisa.com atau bikin kampanye #koinuntukGambaOsaka, mimin juga kurang paham. Yang pasti, antusiasnya kala itu sangat besar. Galang dana yang dilakukan pihak klub melibatkan berbagai pihak, seperti, perusahaan swasta, penggemar, dan masyarakat umum.

Hasilnya luar biasa. Tercatat di arsip Gamba Osaka, ada lebih dari 721 perusahaan, termasuk Panasonic sebagai sponsor utama, serta 34.627 individu, yang menyumbangkan dana hingga mencapai total sekitar 14 miliar yen. Jika dirupiahkan dengan menyesuaikan kurs sekarang, dana itu setara 1,5 triliun rupiah.

Setiap donatur, besar maupun kecil, diabadikan melalui plakat-plakat yang tersebar di seluruh stadion, menjadikan mereka bagian tak terpisahkan dari struktur fisik dan emosional stadion ini. 

Stadion Canggih Untuk Masa Depan

Dengan kapasitas sekitar 40.000 penonton dan fasilitas modern yang ramah lingkungan, Panasonic Stadium Suita tidak hanya memenuhi standar internasional. Tetapi juga mencerminkan nilai-nilai kebersamaan dan inovasi. Stadion ini menjadi contoh bagaimana sinergi antara klub, penggemar, dan sektor swasta dapat menciptakan sesuatu yang luar biasa.

Kabarnya, Suita Stadium ini juga dibangun untuk menjadi salah satu stadion tercanggih di Jepang. Manajemen klub dan perencana bangunan ingin menciptakan stadion yang tak lekang oleh waktu. Suita Stadium didesain agar tetap jadi stadion yang relevan di masa depan. 

Contohnya, Suita sudah dirancang dengan konsep zero-vision block, artinya tak ada satupun kursi dengan pandangan terhalang. Tidak seperti Batakan Stadium. Meski sudah tak menggunakan lintasan lari, Batakan masih menggunakan tiang-tiang penyangga yang menghalangi pandangan penonton.

Teknologi Canggih

Selain punya desain yang futuristik, markas Gamba Osaka ini dilengkapi teknologi kelas wahid. Stadion ini dirancang dengan struktur atap 3D berbasis truss baja yang memungkinkan pengurangan penggunaan baja hingga 40%. Namun, tanpa mengorbankan kekuatan strukturalnya. Desain ini memberikan fleksibilitas dan stabilitas yang diperlukan untuk menghadapi gempa bumi. Menjadikannya salah satu stadion paling aman di Jepang.

Selain itu, stadion ini dilengkapi dengan berbagai fasilitas modern yang mendukung kenyamanan dan keselamatan penonton. Misalnya, sistem pencahayaan LED canggih yang memenuhi standar 1.500 lux memastikan pencahayaan optimal di seluruh lapangan. Lalu ada dua layar besar berukuran 520 inci dan display tipe pita di belakang gawang menampilkan tayangan ulang pertandingan dan informasi penting lainnya.

Suita juga memanfaatkan panel surya berkapasitas 500 kW yang terpasang di atapnya, serta sistem pengumpulan air hujan yang digunakan untuk menyiram lapangan dan kebutuhan toilet. Langkah-langkah ini tidak hanya mengurangi jejak karbon stadion, tetapi juga menjadikannya sebagai contoh stadion ramah lingkungan.

Saksi Sejarah

Tak berhenti di situ, Suita Stadium juga pernah jadi saksi sejarah sepakbola Jepang. Tepatnya saat Kashima Antlers mencatatkan prestasi gemilang di panggung dunia. Pada 14 Desember 2016, di ajang FIFA Club World Cup, Kashima Antlers memastikan satu tempat ke final kompetisi tersebut. 

Kashima saat itu meraih kemenangan meyakinkan dengan skor 3-0 saat menghadapi wakil Benua Amerika, Atletico Nacional. Kemenangan itu menjadikan Kashima sebagai klub Asia pertama yang berhasil lolos ke final kompetisi ini. Suita Stadium, dengan demikian, menjadi tempat bersejarah yang menyaksikan tonggak penting dalam perjalanan sepak bola Asia di kancah internasional. 

Jika tahun 2016 jadi Kashima Antlers yang mengukir sejarah, apakah tahun 2025 akan jadi giliran Indonesia yang mengukir sejarah dengan mengalahkan Timnas Jepang di Suita Stadium? 

____

Sumber:  Bola, CNN, Stadiumdb, Panasonic

IKUT BANGGA! Tijjani Reijnders Alirkan Darah Maluku ke Manchester City

0

Di tengah polemik pemakzulan wakil presiden Indonesia, kita mendengar kabar bahagia dari dunia sepakbola Eropa. Mengutip cuitan Fabrizio Romano, ada darah Maluku yang kabarnya akan segera membela salah satu klub terbesar di Inggris, Manchester City. Pemain yang dimaksud bukan Joey Pelupessy, bukan pula Ricky Akbar Ohorella, melainkan Tijjani Reijnders.

Gelandang yang sempat digoda untuk membela Timnas Indonesia itu meninggalkan peran pentingnya di AC Milan demi klub yang baru saja menyelesaikan musim tanpa gelar. Bagi sebagian orang, langkah ini mungkin teramat kejam. Karena Tijjani meninggalkan Milan yang telah membesarkan namanya.

Namun, dari kacamata mereka yang mengikuti jejak karier Reijnders, ini terasa seperti bab selanjutnya yang tak terelakkan. Dari AZ Alkmaar ke San Siro, kini ke Etihad, perjalanan Tijjani Reijnders adalah cerita tentang sebuah kenaikan level. Lantas, mengapa demikian? Apakah Milan tidak cukup bagus untuk seorang Tijjani Reijnders?

Ikut Bangga

Sebelum masuk dalam pembahasan, kali ini mimin akan sedikit memberikan apresiasi untuk kakak dari Eliano Reijnders itu. Walau kini dirinya membela Belanda, bukan skuad garuda, darah Indonesia tetap mengalir di tubuhnya. Melihat Tijjani Reijnders berseragam Manchester City musim depan, rasanya seperti saudara jauh kita ikut tampil di panggung sepak bola tertinggi dunia. 

Kalau ditanya apakah mimin bangga? Banget! Mimin yakin ketika kabar kepindahan Tijjani Reijnders ke Manchester City diumumkan oleh Fabrizio Romano, bukan hanya para penggemar The Citizens yang bersorak. Melainkan banyak hati di Indonesia ikut bergetar kagum. 

Dari gang-gang kecil tempat anak-anak Indonesia bermain bola bertelanjang kaki, sampai gemerlap Etihad Stadium. Jaraknya kini terasa lebih pendek. Reijnders adalah pengingat bahwa darah Nusantara bisa hadir dan tumbuh menjadi jantung permainan klub sekaliber Manchester City.

Milan Layak Ditinggalkan

Setelah mengutarakan isi hati, mari kita mencermati. Layakkah AC Milan untuk ditinggal pergi? Jika melihat kondisi tim saat ini, hengkang dari klub kebanggaan warga Milan itu adalah keputusan yang harus diambil oleh pemain yang sedang dalam top performa seperti Tijjani Reijnders. 

Jika ditanya mengapa? Ada beberapa faktor yang seharusnya cukup untuk membuat kita ngebatin, “iya juga sih”. Yang pertama adalah soal kestabilan performa. AC Milan musim lalu sedang dalam performa yang acak-acakan, gonta-ganti pelatih dan seperti Manchester United, gagal finis di zona Eropa.

Setelah meraih kejayaan dengan gelar Serie A musim 2021/22, banyak yang berharap AC Milan akan terus berkembang menjadi kekuatan yang stabil di Italia dan Eropa. Namun, kenyataan jauh dari impian. Proyek olahraga Milan tampak mulai kehilangan arah. Beberapa keputusan transfer yang tidak konsisten justru menjauhkan Milan dari gelar juara di musim-musim berikutnya.

Di musim 2024/25,  AC Milan juga tercatat jadi tim yang labil. Gonta-ganti pelatih dalam waktu yang singkat. Sergio Conceicao bahkan dipecat setelah hanya menjalankan perannya selama kurang lebih enam bulan. Udah gitu, yang gantiin malah Massimiliano Allegri.

Secara permainan, Tijjani yang lebih ofensif dan mampu membongkar pertahan melalui pergerakannya, sangat tidak cocok dengan Allegri. Allegri itu alergi dengan sepakbola menyerang. Bisa-bisa, Tijjani cuma dijadiin gelandang bertahan sepanjang musim 2025/26. Maka dari itu, daripada kemampuannya tak dimanfaatkan secara maksimal, Tijjani pindah ke City aja.

Bekerja Di Bawah Guardiola

Namun, apakah dengan pindah ke Manchester City, Tijjani Reijnders bisa mengeluarkan potensi maksimalnya? Tidak ada jaminan, tapi potensinya untuk terwujud sangat besar. Mengapa demikian? Karena Tijjani akan bekerja di bawah arahan sang maestro kepelatihan, Pep Guardiola. 

Pelatih berkepala plontos itu sudah punya banyak riwayat positif dalam memaksimalkan potensi pemain yang dimilikinya. Bagi gelandang seperti Tijjani, bermain di bawah arahan Pep bukan sekadar menimba ilmu, tapi mendalami seni. Itu ibarat Alip Jon yang sedang berguru di kediaman Pablo Picasso.

Di tangan Pep, sepakbola tak lagi sekadar urusan menang dan kalah. Tapi simfoni ruang dan waktu, gerak dan diam, keberanian mengambil risiko, dan keindahan menciptakan keunggulan dari ketidakpastian. Tijjani Reijnders, dengan naluri eksploratif dan kaki yang tak suka diam, menemukan rumah baru di tengah orkestra Pep yang menuntut kecerdasan daripada gaya main yang bikin ngos-ngosan.

Dan seperti halnya Kevin De Bruyne, Bernardo Silva, Ilkay Gundogan, dan Rodri, Tijjani Reijnders punya potensi untuk naik level. Eks pemain AZ Alkmaar itu bisa menjadi lebih dari dirinya yang sekarang. Karena di bawah Guardiola, pemain tak sekadar berkembang. Mereka berevolusi.

Peran Vital

Selain keberadaan Pep Guardiola, peran yang akan dimainkan Tijjani Reijnders juga jadi alasan mengapa bergabung dengan Manchester City adalah pilihan yang tepat. City akan mengarungi musim baru tanpa mesin penggerak utama, Kevin De Bruyne. Sang gelandang memutuskan untuk menyudahi masa kerjanya dengan The Sky Blues akhir musim ini. 

Lantas, apakah Tijjani akan diplot sebagai pengganti Kevin? Beberapa media mengatakan demikian, termasuk Transfermarkt. Mereka bahkan mengulas khusus tentang bagaimana Tijjani yang bisa jadi pengganti yang sempurna untuk ruang yang ditinggalkan KDB. Namun, nyatanya Tijjani tidak memiliki identitas permainan yang sama dengan KDB.

Reijnders bukan De Bruyne. Dan Tijjani tak perlu menjadi KDB untuk masuk ke pola permainan Manchester City. Karena kekuatannya justru ada pada kemampuannya mengisi celah di lini depan tanpa permisi, alias menyelinap. Dia seperti air, mengalir di ruang-ruang kecil yang tak terlihat. Menyusup di antara garis tekanan, hadir di tempat yang tak diduga untuk menciptakan peluang atau mungkin menjebloskan bola ke gawang. 

Di bawah bimbingan Guardiola, Reijnders bukan hanya akan jadi pelayan. Ketika City membangun serangan dari bawah, dia akan menjadi jembatan. Ketika lawan menumpuk barisan pertahanan, dialah yang akan bergerak seperti bayangan, membuka jalur, memancing perhatian, lalu mengalirkan bola. Ia bisa menjadi penyimbang sekaligus pengatur arah permainan seperti Andres Iniesta saat ditukangi Pep di Barcelona.

Memperindah CV

Yang mungkin kalian lupa, pesepakbola juga sebuah pekerjaan. Jadi, bagi Tijjani Reijnders, pindah ke Manchester City adalah upaya untuk memperindah CV-nya. Meski yang mencapai final Liga Champions musim 2024/25 itu klub Italia, bukan klub Inggris, pindah ke Premier League tetap dianggap sebagai sebuah peningkatan karir.

Secara popularitas, Liga Inggris adalah kompetisi terbaik saat ini. Penikmatnya dari berbagai kalangan dan usia. Hak siarnya pun jadi yang tertinggi saat ini. Dengan bermain di Manchester City, Tijjani yang sudah membangun reputasi di Italia, bisa semakin memantapkan nama baiknya di Inggris.

Bermain baik di Serie A membuat Reijnders dikenal. Tapi tampil di Premier League, apalagi bersama Manchester City, akan membuatnya mendapat pengakuan global. Ia tidak hanya akan dikenal sebagai talenta menjanjikan asal Belanda, tapi sebagai pemain elit yang mampu bersaing dan bertahan di sistem paling kompetitif di dunia.

Jika status itu sudah dicapai, maka nantinya market value-nya akan melonjak. Saat pertama kali bergabung dengan Milan, ia hanya dihargai 20 juta euro saja. Kini, baru deal sama City saja, potensi kenaikan harga pasarnya sangat signifikan. Sebab, City kabarnya menebus Tijjani di angka 57 juta euro. Jika performanya terus meningkat di City, bukan tidak mungkin harga pasarnya akan menginjak 80 juta euro.

Peluang Juara

Yang terakhir adalah soal legacy. Apabila Tijjani Reijnders mampu menyesuaikan diri di Manchester City, ia bisa membangun warisan sebagai pemain Belanda yang sukses di salah satu klub tersukses di Inggris. Prestasi seperti memenangkan Premier League, FA Cup, atau Liga Champions akan menempatkannya dalam sejarah klub dan meningkatkan statusnya sebagai ikon sepakbola Belanda.

Loh, tapi kan City musim lalu juga dalam performa buruk. Sama dong kayak AC Milan? Bahkan, di musim terburuk Pep Guardiola bersama City pun, ia masih bisa membawa tim finis di urutan ketiga dan mengamankan satu tiket ke Liga Champions. Lain hal sama Milan. Sekalinya menjalani musim yang buruk ya buruk banget. Finis di urutan kedelapan. Gimana mau menggaransi gelar juara? Wong masuk zona Liga Champions aja nggak bisa.

____

Sumber: Sempre Milan, Transfermarkt, Goal, Men

Berita Bola Terbaru 4 Juni 2025 – Starting Eleven News

BRUNO FERNANDES TOLAK TAWARAN AL-HILAL

Bruno Fernandes telah menentukan pilihannya dengan menolak tawaran menyilaukan dari Al-Hilal senilai 100 juta pounds dan tetap bertahan di Manchester. Melansir dari Sky Sports, gelandang Timnas Portugal itu telah menolak kepindahan ke Saudi yang sanggup memberikannya gaji tiga kali lipat dari di United. Usut punya usut, ada peran besar dari sang istri yang membuat mantan pemain Sampdoria itu memutuskan bertahan di Old Trafford. Selain faktor keluarga, Bruno juga luluh dengan pendekatan dari Ruben Amorim yang memintanya tak jadi pergi. 

MBEUMO SUDAH TERTARIK, BRENTFORD MINTA SEGINI

Masih soal Manchester United, setelah Bryan Mbeumo sudah memberi sinyal positif untuk berlabuh, kini Setan Merah berhadapan dengan Brentford yang meminta sejumlah nominal untuk sang pemain. Mengutip Mirror, Brentford memasang harga 60 juta pounds kepada United jika benar-benar serius memboyong pemain Kamerun 25 tahun. Meskipun Brentford memiliki opsi untuk memperpanjang kontrak Mbeumo hingga 2026, mereka menerima bahwa ia dapat pergi dan United yakin bahwa kesepakatan akan tercapai .

SPURS MULAI TERBUKA JUAL SON

Dari London, Tottenham Hotspur tampaknya mulai terbuka untuk melego kapten mereka, Son Heung-Min demi dapatkan dana segar dalam perombakan skuad. Menurut The Sun, Spurs ingin menjualnya sebelum kontraknya berakhir tahun depan. Keputusan itu diambil melihat situasi The Lilywhites yang akan membangun tim di bawah era pelatih baru, dan hasil besar dari penjualan pemain Korea Selatan dapat digunakan membeli pemain baru. Sebelumnya, Son sudah ramai diberitakan tengah didekati sejumlah tim di Saudi yang siap membayarnya mahal. 

SANCHO DIMINATI TIGA TIM SAUDI 

Usai tak dipermanenkan Chelsea dan tak masuk prioritas United, Jadon Sancho diberitakan tengah diminati oleh tiga tim sekaligus dari Liga Pro Saudi. Melaporkan dari Mirror, Al Hilal, Al-Nassr, dan Al-Ittihad menjadi tim yang mulai berbaris melobi United untuk Sancho. Sancho sendiri memiliki hubungan dengan tokoh-tokoh penting di Liga Pro Saudi yang dapat membantu menengahi kesepakatan ini. Itu akan menjadi kabar baik bagi United karena transfer dengan biaya besar bisa terjadi. 

PUMA RILIS BOLA EPL MUSIM DEPAN

Setelah 25 tahun lamanya menggunakan bola dari Nike, mulai musim depan Premier League akan beralih menggunakan bola produksi Puma. Mengabarkan dari Daily Mail, apparel asal Jerman telah meluncurkan bola untuk Premier League dengan nama Orbita Ultimate PL. Bola ini memiliki desain gambar bintang dengan warna dasar putih yang berpadu dengan ungu. Bola ini akan mulai digunakan di ajang Premier League Summer Series Juli mendatang di Amerika. 

BARCELONA LANGGAR FINANCIAL FAIR PLAY LAGI

Beralih ke Spanyol. UEFA mengancam sanksi terhadap Barcelona karena pelanggaran yang berulang terhadap aturan Financial Fair Play. Dilansir Marca, setelah sebelumnya didenda 500.000 euro, klub kini menghadapi kemungkinan pengurangan poin atau membatalkan pendaftaran pemain di Liga Champions musim depan. Pelanggaran ini terkait dengan pelaporan pendapatan dari penjualan hak siar televisi yang tidak sesuai ketentuan UEFA. Sanksi resmi diperkirakan akan diumumkan dalam beberapa minggu mendatang. 

MADRID MULAI MENYERAH KEJAR CARRERAS

Real Madrid menemui halangan dalam upayanya mengejar Alvaro Carreras dari Benfica. Menurut Goal, Madrid perlahan mundur dari negosiasi Carreras karena Benfica ngotot mematok harga 50 juta euro. Madrid sempat berupaya menegosiasikan biaya transfer di kisaran 35–40 juta euro, namun ditolak. Sebagai alternatif, Xabi Alonso mengincar kemungkinan reuni dengan bek Bayer Leverkusen, Alejandro Grimaldo, yang dinilai harganya lebih terjangkau dan berpengalaman. 

SEVILLA BIDIK ALGUACIL JADI PELATIH 

Imanol Alguacil yang baru saja mengakhiri masa jabatannya selama enam musim sebagai pelatih Real Sociedad, kini menjadi kandidat utama untuk melatih Sevilla menggantikan Joaquin Caparros. Mengutip dari Marca, meskipun menghadapi tantangan finansial dan ketidakstabilan internal, Sevilla menawarkan kontrak dua tahun dengan opsi perpanjangan satu tahun. Di sisi lain, Alguacil juga menerima tawaran menggiurkan dari beberapa klub Arab Saudi yang berani menawarkan gaji tiga kali lipat lebih tinggi. 

SIMONE INZAGHI CABUT MENUJU SAUDI 

Bergeser ke Italia. Simone Inzaghi resmi meninggalkan Inter Milan setelah memimpin selama empat tahun melatih dan meraih enam trofi bergengsi, termasuk di antaranya satu Scudetto musim lalu. Melaporkan dari Football Italia, kepergian Inzaghi telah disepakati bersama dengan klub dan langsung dibenarkan oleh presiden Inter, Beppe Marotta. Selanjutnya, pria 49 tahun akan melatih Al-Hilal dan memulai debutnya melawan Real Madrid di Piala Dunia Antarklub.

INTER BUKA DISKUSI DENGAN FABREGAS

Menyusul kepergian Simone Inzaghi, Inter Milan  tengah mencari pelatih baru dan nama Cesc Fàbregas masuk di dalam daftar. Mengabarkan dari Football Italia, Fabregas menjadi kandidat utama yang dikabarkan segera dihubungi lebih lanjut oleh Nerazzurri selang beberapa jam setelah keluarnya Inzaghi. Fàbregas dilaporkan tertarik dengan pendekatan itu, namun belum memberikan keputusan. Inter harus segera menentukan pelatih baru sebelum Piala Dunia Antarklub dimulai pada 17 Juni mendatang. 

PSG IMPIKAN ZABARNYI DUET DENGAN MARQUINHOS

Terbang ke Prancis. Paris Saint-Germain tengah mengincar bek tengah Bournemouth, Ilya Zabarnyi, sebagai incaran untuk memperkuat lini pertahanan bersama Marquinhos. Melansir dari L’Equipe, Zabarnyi dikenal karena kekuatan fisik, kecepatan, dan kecerdasannya dalam membaca permainan. Namun, transfer ini menemui kendala akibat keengganan Zabarnyi bermain bersama kiper Rusia, Matvey Safonov, karena konflik Ukraina dan Rusia. PSG mempertimbangkan melepas Safonov demi merekrut Zabarnyi, yang diperkirakan bernilai lebih dari 50 juta euro. 

POGBA DITAWARKAN KE MONACO

Paul Pogba yang baru bebas dari skorsing akibat pelanggaran doping, dikabarkan telah ditawarkan ke AS Monaco. Menurut Get Football News France, gelandang berusia 31 tahun itu sebelumnya mengakhiri kontrak dengan Juventus dan tengah mencari klub baru untuk menghidupkan kembali kariernya. Pogba juga dilaporkan bersedia menerima pemotongan gaji demi bergabung dengan klub Ligue 1. Monaco sendiri belum memberikan pernyataan ketertarikan pada Pogba. 

MALAYSIA KALAH DARI CAPE VERDE

Beralih ke berita dari Asia. Timnas Malaysia menelan kekalahan telak 0-3 dari Cape Verde dalam laga uji coba Stadion Bukit Jalil, Selasa malam waktu setempat. Mengutip dari CNN Indonesia, Dailon Livramento muncul sebagai pahlawan kemenangan Cape Verde dengan mengemas dua gol, sementara satu gol datang dari Heriberto Tavares. Kekalahan dari Cape Verde yang menempati ranking 72 FIFA tidak membuat Malaysia risau. Alasannya karena ini merupakan laga uji coba dan digelar secara tertutup.

MEDIA CHINA RAGUKAN TAKTIK IVANKOVIC

Menjelang laga krusial Kualifikasi Piala Dunia 2026 antara Indonesia dan China di Jakarta pada 5 Juni 2025, media China meragukan strategi pelatih Branko Ivankovic. Mengabarkan dari Detiksport, jurnalis Pei Li dari 163.com menyindir formasi tim yang terkadang membingungkan dan tidak jelas. Keraguan ini muncul di tengah tekanan besar yang dihadapi Ivankovic, termasuk badai cedera dan performa buruk sebelumnya, yang memicu kritik tajam dari publik dan media China.

SAUDI DAN QATAR HOST KUALIFIKASI PUTARAN EMPAT

Sementara itu, AFC telah memutuskan putaran keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia akan digelar di dua negara, yaitu Arab Saudi dan Qatar. Melaporkan dari Okezone, Keputusan ini diumumkan oleh AFC setelah mempertimbangkan kesiapan infrastruktur dan fasilitas di kedua negara tersebut. Indonesia sebelumnya mengajukan diri sebagai tuan rumah, namun belum memenuhi standar venue dan tempat latihan yang ditetapkan AFC.

GUARDIOLA BELUM TERPIKIRKAN DEPAK EDERSON DAN ORTEGA

Setelah isu kepergian Ederson Moraes mengemuka, Josep Guardiola, pelatih Manchester City akhirnya angkat bicara. Pep bilang, ia belum ingin mendepak kiper asal Brazil itu. Dilansir Goal, Pep masih membutuhkan Ederson untuk Piala Dunia Antarklub. Selain Ederson, Pep juga menampik akan mengusir Stefan Ortega. Pep masih ingin memasukkan Ortega dalam rencananya.

ARSENAL LINDUNGI LEWIS-SKELLY DARI MADRID

Memperhatikan aksi berbahaya dari Real Madrid yang memasang target pada Myles Lewis-Skelly, Arsenal dikabarkan tak perlu banyak pertimbangan untuk melindungi aset masa depan mereka tersebut. Menurut Daily Mail, Arsenal akan menyiapkan perpanjangan kontrak jangka panjang plus kenaikan gaji yang signifikan untuk pemuda 18 tahun itu. Di tengah kemungkinan akan berbelok ke Santiago Bernabeu, The Gunners yakin kalau sang pemain tetap memegang komitmen mengembangkan permainan dan karirnya di London Utara. 

TIGA TIM EPL KEPINCUT PENYERANG HAMBURG 

Di Jerman, Davie Selke, penyerang Hamburger SV menjadi incaran tiga tim Premier League. Mengutip dari Daily Express, West Ham, Fulham, dan Leeds United menyatakan minatnya kepada Selke. Pemain berusia 30 tahun itu mencetak 22 gol dalam 31 pertandingan dan membawa Hamburger SV kembali ke Bundesliga setelah tujuh tahun absen. Kontrak Selke di Hamburg berakhir pada 30 Juni dan belum menyepakati perpanjangan kontrak. Selke juga dikaitkan dengan kepulangan ke mantan klubnya,RB Leipzig. 

ASISTEN POSTECOGLOU LATIH WEST BROM

Sementara itu, West Bromwich Albion resmi merekrut asisten Ange Postecoglou, Ryan Mason sebagai pelatih baru. Dilansir Bein Sports, Mason telah menandatangani kontrak tiga tahun bersama The Baggies menggantikan Tony Mowbray. Mason yang juga mantan pemain Spurs ini mengaku menantikan masa depan yang baik di West Brom, termasuk ambisi promosi kembali ke Premier League. West Brom menjadi tim pertama yang ditukangi Mason setelah mengabdi di jajaran kepelatihan The Lilywhites sejak 2018 hingga tahun ini. 

WASIT EPL KERJA SAMPINGAN JADI KURIR 

Sementara itu, nasib nelangsa dialami oleh salah satu wasit Premier League, David Coote yang kini bekerja sampingan sebagai kurir barang di Inggris untuk menyambung hidup. Melaporkan dari Talksport, Coote harus bekerja seperti itu setelah dirinya menerima sanksi tak boleh bertugas sebagai wasit oleh FIFA hingga Juni 2026. Penyebabnya, karena video viral yang memperlihatkan Coote menghisap bubuk putih diduga zat narkotika, sambil memaki-maki mantan pelatih Liverpool, Jurgen Klopp pada 2024.

REINA JADI PELATIH TIM MUDA VILLARREAL

Terbang ke Spanyol. Usai umumkan pensiun sebagai kiper Como, Pepe Reina memilih melanjutkan karirnya sebagai pelatih tim muda Villarreal mulai tahun ini. Dilansir Mundo Deportivo, Villarreal mengonfirmasi bahwa mantan pemainnya itu akan kembali ke klub untuk memimpin tim muda di kompetisi Liga Pemuda Spanyol. The Yellow Submarine sangat menghargai keputusan pria 42 tahun itu untuk mau mengabdi menjadi pemain setelah pernah diorbitkan sebagai kiper papan atas. Nantinya, Reina akan berduet dengan David Albelda di Villarreal B. 

PIPPO PERTIMBANGKAN MINAT PALERMO 

Pindah lagi ke Italia. Setelah memimpin Pisa mentas di Serie A musim depan, Filippo Inzaghi diisukan akan berpisah dan tengah mempertimbangkan minat dari Palermo. Menurut Football Italia, Pippo diprediksi tertarik dengan petualangan baru yaitu membawa Palermo kembali ke kasta teratas. Palermo memang telah menyatakan hasratnya kepada mantan pelatih Bologna itu karena merasa yakin Pippo dapat menerbangkan mereka dari Serie B, selayaknya Pisa. 

MESSI KEMBALI PERKUAT TIMNAS ARGENTINA

Dari Amerika Selatan, Timnas Argentina akhirnya kembali diperkuat oleh mega bintang Lionel Messi untuk agenda lanjutan Kualifikasi Piala Dunia 2026 Juni ini. Mengutip dari ESPN, La Pulga kembali ke kamp latihan La Albiceleste untuk laga menghadapi Chile dan Kolombia setelah absen membela timnas selama tujuh bulan. Messi terakhir kali mewakili juara bertahan Piala Dunia itu pada November 2024. Pemain Inter Miami ini alami cedera otot, sehingga tak bisa membela Argentina pada kualifikasi Maret lalu.

4 TIM PESERTA PIALA PRESIDEN 2025 

Sekarang kembali ke Indonesia. Pihak panitia penyelenggara Piala Presiden 2025 telah merilis empat tim yang akan bersaing dalam turnamen pramusim tersebut. Melaporkan dari Bolalob, empat tim tersebut adalah Persib Bandung, Oxford United, Port FC, dan Liga Indonesia All-Stars. Berbeda dari edisi sebelumnya, Piala Presiden tahun ini punya jumlah tim peserta yang lebih sedikit. Ajang ini akan diadakan di Gelora Bandung Lautan Api dari 6 sampai 12 Juli mendatang. Nantinya, pemenang akan ditentukan dengan sistem grup. 

ERICK THOHIR MINTA FANS TIMNAS TAK RASIS PADA CHINA

Menjelang laga menghadapi China besok, ketua umum PSSI, Erick Thohir meminta kepada fans yang datang menonton langsung di Gelora Bung Karno untuk tidak bersikap rasis dan xenophibia kepada fans dari China. Mengabarkan dari Bolasport, Erick mengharap agar Indonesia menjadi tuan rumah yang baik dengan tidak bersikap negatif kepada pendukung tim tamu yang hadir. 

 

TEGA BANGET! Udah Dikasih Trofi, Spurs Malah Buang Son? Ngawur!

0

Ketika malam yang dingin menyelimuti San Memes, peluit panjang berbunyi dan bintang-bintang Eropa pun merunduk pada satu nama, Son Heung-min. Kapten setia, simbol perjuangan, dan wajah lama yang dihiasi senyum manis itu akhirnya bersua dengan kejayaan. Son jadi tonggak kesuksesan Tottenham dalam merengkuh gelar Europa League musim 2024/25.

Namun, setelah banyaknya tetes keringat, banyaknya emosi yang sudah terpendam, dan mimpi yang dikorbankan, Spurs justru berniat untuk melepas sang cahaya Asia. Dilansir Metro, Spurs akan mencarikan klub baru untuk penyerang asal Korea Selatan itu. Apa pun alasannya, ide ini akan terlihat aneh. 

Spurs seharusnya punya seribu alasan untuk tidak buru-buru menjual Son. Jatuhnya tega ya. Baru juga ngasih gelar juara. Kok udah disuruh pergi aja. Nggak tahu terimakasih. Dan berikut adalah alasan yang bisa mengubah pikiran Spurs untuk tidak menjual Son musim ini.

Mengapa Spurs Ingin Jual Son?

Tapi, apa sih niat Spurs buat jual Son Heung-min? Buru-buru amat. Santai dulu lah. Baru juga angkat gelar. Menurut beberapa sumber, ada faktor-faktor internal yang mendorong klub untuk melepas sang pemain. Dilansir Mirror, tujuan utama menjual Son adalah untuk mengumpulkan pundi-pundi uang.

Klub kabarnya sedang merencanakan perombakan skuad besar-besaran. Dana dari penjualan Son Heung-min dapat digunakan untuk mendanai pembelian pemain baru yang lebih muda dan sesuai dengan visi jangka panjang klub. Kenapa harus sekarang? Karena Spurs takut harga Son keburu turun.

Gelar juara Europa League dimanfaatkan Spurs untuk memasang harga tinggi saat ingin menjual Son. Kabarnya, ketertarikan dari klub-klub Arab Saudi memberikan peluang bagi Spurs untuk menjual Son dengan harga yang menguntungkan. Klub-klub seperti Al-Ittihad dan Al-Hilal dikabarkan siap menawarkan nilai besar untuk mendapatkan jasa Son, yang dianggap sebagai ikon sepak bola Asia.

Selain itu, usia juga jadi faktor. Usia Son yang telah memasuki 32 tahun membuat klub berpikir untuk mendapatkan nilai transfer maksimal sebelum performanya kian menurun. Spurs ingin merombak skuad dan meregenerasi tim dengan pemain-pemain yang lebih muda. Dan Son tak masuk dalam rencana.

Kesetiaan Itu Mahal

Tapi, menurut mimin itu tidak cukup dijadikan alasan untuk melepas pemain seperti Son Heung-min. Seharusnya, Spurs punya lebih banyak alasan untuk mempertahankan Son. Setidaknya, Spurs bisa membiarkan Son tetap di tim sampai dirinya sadar bahwa ia sudah tak sanggup berkontribusi. Hanya Son yang berhak memutuskan apakah dia stay atau pergi dari Spurs.

Tentu tidak berlebihan mengatakan demikian. Karena Son bukan sekadar pemain, ia adalah simbol klub. Ia wajah Tottenham setelah kepergian Harry Kane ke Bayern Munchen. Tahun 2025 adalah tahun ke-10 ia mengenakan jersey putih-putih khas Tottenham Hotspur. Sepuluh tahun bukan waktu yang sebentar untuk karir pesepakbola.

Jika dirinya menerima pinangan Real Madrid pada tahun 2022, mungkin Son sudah mengoleksi gelar Liga Champions dan beberapa trofi mayor lainnya seperti La Liga atau Copa Del Rey. Atau mungkin, jika Son sudah berpaling ke Manchester City tiga tahun lalu, mungkin Son sudah merasakan apa itu yang namanya treble winner dan quatrick Premier League.

Tapi Son tidak gila trofi. Sebagai warga Korea Selatan, komitmennya tinggi. Ia ingin melakukan suatu hal yang sulit diwujudkan oleh kebanyakan pemain, bahkan sekelas Harry Kane sekalipun. Yakni, meraih gelar bersama Spurs. Dan kini ia sudah mewujudkannya. Harusnya, kesetiaan Son setimpal dengan kontrak abadi dari Spurs. Dia adalah legenda klub. 

Sulit Cari Pengganti

Alasan berikutnya adalah sulitnya mencari pemain yang memiliki kualitas setara dengan Son Heung-min. Eks pemain Bayer Leverkusen itu adalah pemain yang benar-benar bagus, baik di dalam maupun luar lapangan. Tottenham pun sampai saat ini belum menunjukkan keseriusan dalam merekrut pengganti Son.

Nama-nama seperti Eberechi Eze atau Leroy Sane memang menjanjikan, tetapi belum tentu mampu mengisi kekosongan teknis dan emosional yang ditinggalkan Son. Risiko ini bisa membuat performa tim justru menurun secara keseluruhan. Mau bagaimana pun, Son adalah pemain paling konsisten yang dimiliki oleh Spurs dalam lima tahun terakhir.

Sejak musim 2019/20, Son konsisten mencetak dua digit gol di semua kompetisi. Memang, musim ini Son hanya mencetak tujuh gol di Premier League, namun dia mencetak tiga gol di Europa League, yang mana menjadikan kontribusinya sepuluh. Dua digit juga kan. Yang tak kalah konsisten adalah kemampuan supply bolanya.

Meski dianggap performa dan menit bermainnya menurun di musim 2024/25, Son tetap mampu menghasilkan 12 assist di semua kompetisi. Itu menandakan Son boleh kurang tajam, tapi insting dan kemampuan link up play-nya masih sangat bagus. Dirinya masih bisa memberikan service yang baik bagi rekan-rekan satu timnya.

Toh, siapa sih striker Spurs sekarang? Nggak ada yang bisa diandelin. Richarlison? Belum bisa menemukan konsistensinya. Dia bahkan kemungkinan bakal dilepas juga sama Spurs. Paling cuma Dominik Solanke nih. Tapi dia masih tertinggal 100 tahun dari Son. Butuh banyak pengorbanan untuk menyamai aura dan kontribusi Son di Spurs.

Kehilangan Sosok Leader

Faktor kehilangan sosok pemimpin di lapangan dan ruang ganti barangkali menjadi salah satu alasan terpenting. Poin ini bisa memperkuat pernyataan bahwa menjual Son Heung-min adalah keputusan yang berpotensi merugikan Tottenham, baik dalam jangka pendek maupun panjang.

Son bukanlah pemimpin yang vokal seperti Roy Keane atau Virgil van Dijk. Son adalah tipe leader yang memimpin lewat teladan, kerja keras, dedikasi, dan konsistensi yang ia tunjukkan musim demi musim. Itu membuatnya dihormati bukan hanya oleh rekan setim, tetapi juga staf pelatih dan para suporter.

Dalam ruang ganti yang mulai dipenuhi oleh pemain muda seperti Destiny Udogie, Pape Matar Sarr, dan Brennan Johnson, figur seperti Son sangat penting sebagai penstabil atmosfer dan pembimbing mental. Karena pasca-kepergian Harry Kane, Son menjadi jangkar emosional klub.

Spurs saat ini tidak memiliki banyak pemain senior dengan kapabilitas kepemimpinan alami. Cristian Romero masih temperamental, dan kapten pengganti seperti James Maddison baru satu musim di klub. Sosoknya merepresentasikan Tottenham di mata dunia. Mengganti pemimpin semacam itu tidak bisa hanya mengandalkan kualitas di lapangan saja.

Kehilangan Pasar Asia

Di luar itu, Spurs bisa kehilangan pasar yang begitu besar jika melepas Son Heung-min. Ya, Spurs bisa kehilangan fans dari Asia, khususnya Korea Selatan, negara asal Son. Pandangan klub Arab Saudi terhadap Son memang tak salah. Son adalah ikon sepakbola Asia saat ini. Bahkan, bisa dibilang Son adalah atlet Asia paling terkenal di Eropa dalam satu dekade terakhir.

Kehadiran Son di Spurs membuat Spurs dikenal luas di Korea Selatan, Jepang, Cina, hingga Asia Tenggara. Berbagai sponsor Asia pun masuk, termasuk dari Korea. Karena asosiasi langsung dengan Son. Jika Son pergi, maka Spurs akan kehilangan magnetnya. Nilai komersial Spurs di kawasan Asia berpotensi anjlok drastis.

Selama beberapa tahun terakhir, Spurs secara rutin mengadakan tur pramusim di Asia, terutama di Korea Selatan, dan selalu disambut penuh antusias. Pramusim adalah ajang meraup untung dari fans di belahan dunia lain. Kalau udah nggak ada Son, ajang ini kemungkinan bakal dihilangkan. 

Jersey dengan nama “Son” dengan nomor punggung 7 menjadi salah satu produk terlaris Tottenham. Kontribusi Son terhadap penjualan merchandise sangat besar. Khususnya di pasar Asia, di mana suporter bangga memiliki representasi benua mereka di panggung tertinggi sepakbola Eropa. 

Tanpa Son, Spurs bisa kehilangan jutaan euro dari penjualan merchandise dan negosiasi hak siar Asia yang selama ini terdongkrak oleh popularitas pemain tersebut. Para fans pun akan berpindah mengikuti sang idol. Sedangkan Spurs? Ya bakal balik ke setelan pabrik. Jadi klub Inggris biasa. Spurs kalau nggak ada Son, duh kasihannn dah. 

____

Sumber: Metro, Mirror, Fox Sport, Vnexpress

Jika Aku Menjadi Viktor Gyokeres, Aku Akan…

0

Tuhan itu memang maha adil. Ketika kehilangan satu striker ikonik macam Zlatan Ibrahimovic, rahim sepakbola Swedia langsung melahirkan dua striker gacor baru. Mereka adalah Alexander Isak dan Viktor Gyokeres. Dua-duanya, tampil sangat memukau di musim 2024/25. Isak bersama Newcastle United dan Gyokeres bersama Sporting CP. 

Berbeda dengan Isak yang konon masih nyaman dan betah di Newcastle, Gyokeres kabarnya ingin hengkang dari Sporting dan menjajal level kompetisi yang lebih baik. Dengan keputusan ini, Striker berusia 27 tahun itu langsung jadi komoditas panas. 

Klub-klub kaliber Manchester United hingga Barcelona ngantri buat dapetin tanda tangannya. Lantas, klub mana yang harus dipilih Gyokeres? Mari kita bedah, mana klub yang paling cocok untuk gaya bermain striker asal Swedia itu.

Jadi Komoditas Panas

Sebelum kita masuk ke memilih klub yang pas untuk Viktor Gyokeres, kita akan sedikit menjelaskan mengapa dirinya dikejar begitu banyak klub. Starting Eleven Story sebetulnya sudah pernah membahas tentang bagaimana perjalanan karir Gyokeres. 

Mencetak gol sudah seperti minum obat baginya. Sehari tiga kali setelah makan. Performa puncaknya terjadi bersama Sporting CP. Dirinya konsisten mencetak lebih dari 30 gol di semua kompetisi setiap musimnya. Puncaknya ya musim 2024/25, saat Gyokeres bak monster yang siap menerkam pemain pertahanan lawan.

Gyokeres mencetak 54 gol dan 13 assist dalam 52 pertandingan resmi. Ia menjadi top skor Liga Portugal dengan 39 gol dan meraih penghargaan Guldbollen sebagai pemain terbaik Swedia 2024. Mungkin kalau mimin jadi Gyokeres udah bosen sama selebrasi topeng khasnya. Gimana enggak? Ia kerap melakukannya tiga sampai empat kali per laga.

Ah, tapi kan Gyokeres cuma main di Liga Portugal. Lawannya pasti gampang-gampang. Yeee, jangan salah. Performanya juga sudah teruji di Liga Champions. Dari delapan pertandingan, ia mencetak enam gol. Tiga diantaranya bahkan dicetak ke juara Premier League musim 2023/24, Manchester City. 

Namun, sebagai pemain yang sedang memasuki usia keemasan, pindah klub adalah hal yang sangat riskan. Jika ia salah memilih klub, maka karirnya bisa tamat. Ibarat bunga, belum mekar sempurna, tapi sudah dibabat habis duluan.

Manchester United

Maka dari itu, mari kita membantu sang pemain untuk memilih klub. Namun, harus tetap mempertimbangkan banyak aspek ya. Seperti keperluan tim, peran Viktor Gyokeres di klub tersebut, gaji, atau mungkin keterlibatan klub di Liga Champions. 

Kita mulai dari Manchester United terlebih dahulu. Klubnya wong kalahan ini menunjukan minat kepada Gyokeres sejak pertengahan musim. Atau, sejak Ruben Amorim menduduki kursi kepelatihan Manchester United. Itu karena Amorim adalah mantan manajer Gyokeres di Sporting CP. Dia juga yang memboyong Gyokeres dari Coventry pada tahun 2022. 

Amorim sendiri tetap menggunakan sistem permainan yang sama di Manchester United. Maka dari itu, reuni dengan sang pelatih adalah salah satu opsi yang menarik bagi Gyokeres. Selain tak masalah soal skema permainan, Gyokeres bisa mendapatkan gaji tinggi di Manchester United.

Klub asal Manchester itu memang terbiasa merayu pemain dengan iming-iming mimpi dan gaji tinggi. Bagi sebagian pemain, itu sudah cukup. Gaji tinggi, proyek ambisius, dan mendapat popularitas adalah impian bagi pemain-pemain jaman now. Sayangnya, ada masalah yang masih jadi penghalang.

Gyokeres menginginkan bermain di Liga Champions, sementara MU gagal lolos ke kompetisi tersebut setelah finis di peringkat 15 Premier League dan kalah di final UEL. Selain itu, Gyokeres belum terbiasa mendapatkan tekanan tinggi dari fans dan media. Itu bisa berpengaruh pada performa dan psikologisnya

Arsenal

Manchester United bukan satu-satunya tim yang mengejar Viktor Gyokeres. Arsenal juga menginginkannya. Menurut situs Transfermarkt, Arsenal jadi yang terdepan untuk mendatangkan Gyokeres. Kemungkinannya bahkan mencapai 67%.

Dilansir The Sun, Arsenal sudah mengajukan tawaran sekitar 60 juta pound untuk menyegel kesepakatan dengan Sporting. Namun, itu ditolak. Klub hanya bersedia melepas Gyokeres di angka 70 sampai 75 juta pound. Mendatangkan striker seperti Gyokeres adalah urgensi nomor wahid bagi Meriam London.

Musim 2024/25, Arsenal terkendala soal minimnya opsi di lini depan. Gabriel Jesus belum bisa tampil konsisten. Sedangkan Kai Havertz, justru cedera di saat mulai menemukan peak performanya kembali. Jika Gyokeres memutuskan gabung Arsenal musim depan, kabarnya ia akan mendapat jaminan menit bermain.

Karena ia akan diplot sebagai striker utama. Dari segi kecocokan antara skema permainan Mikel Arteta dengan gaya bermain Viktor Gyökeres terbilang sangat menjanjikan. Arteta kerap menggunakan formasi 4-3-3 atau 4-2-3-1 yang membutuhkan striker tidak hanya sebagai pencetak gol, tetapi juga sebagai pemantul, pemecah pertahanan, dan high press.

Selain itu, Arsenal juga kini dianggap sebagai tim langganan UCL, itu sesuai dengan kemauan sang pemain. Cuman ya itu, tak ada garansi juara Premier League selagi masih ada Liverpool dan Manchester City.

Liverpool

Nah, jika ingin meraih gelar Liga Inggris, mungkin Liverpool bisa dijadikan pilihan oleh Viktor Gyokeres. Liverpool menunjukkan minat yang signifikan terhadap Viktor Gyökeres untuk memperkuat lini serang mereka pada musim 2025/26. Kabarnya, The Reds akan menjual Darwin Nunez demi memberikan ruang kepada Gyokeres di skuad asuhan Arne Slot.

Arne Slot membutuhkan penyerang siap pakai. Sebab, pemain-pemain seperti Diogo Jota dan Luis Diaz tak bisa diandalkan. Jika Jota kerap bermasalah dengan cedera, maka Diaz kemungkinan juga akan hengkang dari Liverpool. Tapi, bagaimana dengan kecocokan strategi? Apakah Gyokeres adalah pemain yang bisa melebur dalam sistem permainan Arne Slot?

Mantan pemain Brighton itu cocok dengan skema taktik Arne Slot di Liverpool yang menekankan permainan menyerang berbasis penguasaan bola tinggi, pressing intens, dan transisi vertikal cepat. Kendati demikian, tantangan adaptasi tetap ada, terutama dalam memahami struktur pressing dan rotasi posisi khas Slot yang lebih kompleks.

Selain itu, jika Gyokeres memilih Liverpool, ia tak bisa jadi pusat permainan seperti di Arsenal. Ia harus berbagi panggung dengan Mohamed Salah. Mau bagaimanapun, Ikon Anfield adalah Salah. Gyokeres tertinggal 100 langkah untuk menyamai keagungan Salah di hadapan publik Anfield.

Barcelona

Selain klub-klub Liga Inggris, Viktor Gyokeres juga mendapat ketertarikan dari klub Spanyol, Barcelona. Sejauh ini, Direktur Olahraga Barca, yakni Deco telah mengkonfirmasi bahwa posisi striker nomor 9 bukan urgensi nomor satu bagi Barca. Namun, bukan tidak mungkin Barca mau mengamankan tanda tangan Gyokeres lebih awal.

Sebab, cepat atau lambat, Barca akan mencari pengganti Robert Lewandowski yang mulai termakan usia. Soal skema permainan pun Gyokeres tak masalah ya. Karena Hansi Flick merupakan pelatih yang mengandalkan striker utama dalam skema 4-3-3. 

Masalahnya, jika Gyokeres bergabung dengan Barca musim panas ini, maka Gyokeres harus bersaing dengan Lewandowski. Tentu ini tidak ideal bagi Gyokeres. Di lini depan, tak seharusnya ada dua alpha. Jika begini tampil di Liga Champions pun terasa percuma karena menit bermainnya akan banyak berkurang.

Selain itu, Barcelona adalah klub yang kurang stabil secara finansial. Gyokeres bisa saja bermasalah dengan pembayaran gaji yang tertunda atau pemotongan gaji di kemudian hari. Masalah-masalah internal juga sering terjadi di tubuh Barcelona. Suasananya sebelas dua belas sama MU, rada toksik.

Napoli

Klub terakhir yang bisa jadi pilihan Viktor Gyokeres adalah Napoli. Sama halnya dengan Spanyol, sepakbola Italia juga jadi hal baru bagi Gyokeres. Direktur Olahraga Il Partenopei, Giovanni Manna sebelumnya sempat membantah bahwa timnya sedang mendekati Gyokeres. Namun, di dunia sepakbola, hal-hal semacam ini kerap terjadi.

Mereka membantah agar tak terganggu saat mengadakan negosiasi. Semacam lips service gitu lah, biar wartawan nggak banyak cing-cong. Secara kebutuhan, Gyokeres bisa jadi pengganti Victor Osimhen yang sudah tak memiliki tempat di hati manajemen. Gyokeres juga bisa jadi pilar penting di dalam proyek pembangunan yang dicanangkan Antonio Conte.

Conte meminta dana besar untuk menciptakan skuad yang kompetitif. Supaya Napoli bisa bersaing di kompetisi Liga Champions. Dilansir Daily Star, Conte ingin menjadikan Gyokeres ujung tombak Napoli saat mengarungi Champions League. Kira-kira lima klub itu lah yang berjajar ngantri buat dapetin service Gyokeres. Kalau kalian jadi Gyokeres, kalian mau gabung kemana? Komen di bawah ya!

____

Sumber: Mirror, Barca Blaugranes, Football London, MEN

Bikin Eropa TERCENGANG! Pemain Asia Ini Jadi Pahlawan Juara!

0

Beberapa hari lalu, Starting Eleven sudah membuat konten tentang tim-tim yang dalam keadaan diremehkan justru mampu meraih gelar. Nah, dari situ mimin mulai penasaran nih, siapa aja pemain dari tim-tim juara tersebut. Saat mencari informasi itulah, mimin malah menemukan fakta yang lebih mencengangkan lagi.

Dari banyaknya klub yang juara di berbagai kompetisi di Eropa, ternyata hampir semua ada campur tangan dari pemain Asia. Bahkan, ada pemain Indonesia yang juga berkontribusi lho. Nggak percaya? Mari kita buktikan. Berikut adalah pemain-pemain Asia yang jadi andalan timnya untuk raih gelar di musim 2024/25. 

Wataru Endo

Sebagai disclaimer saja, daftar kali ini tentunya akan banyak didominasi oleh pemain-pemain Jepang atau Korea Selatan. Dua negara itu masih jadi lokomotif Asia di sepakbola Eropa. Mereka jadi yang paling banyak mengirimkan pemainnya ke klub-klub top Eropa. Yang pertama akan kita bahas adalah Wataru Endo yang membantu Liverpool juara Premier League musim 2024/25.

Wataru Endo memainkan peran penting dalam perjalanan Liverpool meraih gelar Liga Inggris. Yaaaa, meskipun kontribusinya lebih banyak berasal dari bangku cadangan. Ia tampil sebanyak 19 kali di bawah arahan Arne Slot, peran utama Endo adalah membantu tim mengamankan kemenangan di menit-menit akhir pertandingan, memberikan stabilitas dan ketenangan di lini tengah saat Liverpool unggul.

Setelah kedatangan manajer baru, Arne Slot, Endo mengalami penurunan waktu bermain dibandingkan era Jürgen Klopp. Namun, ia tetap menunjukkan komitmen tinggi. Endo dikenal karena profesionalisme dan sikapnya yang positif. Ia juga dianggap sebagai sosok teladan bagi pemain muda di musim ini.

Daichi Kamada

Di balik trofi mayor pertama dalam sejarah yang diraih Crystal Palace, ada peran penting pemain asal Jepang, Daichi Kamada. Bergabung dengan status bebas transfer pada awal musim 2024/25, Kamada jadi pemain Jepang pertama yang berseragam biru merah khas Crystal Palace.

Meskipun menghadapi tantangan adaptasi, Kamada menunjukkan perkembangan positif sepanjang musim. Ia mulai menunjukkan kemampuan eksploitasi ruang, visi bermainnya, dan kecerdasan taktiknya. Salah satu bukti perkembangan Kamada ditunjukan dalam perjalanan Crystal Palace meraih gelar Piala FA. Meski tak mencetak gol, ia selalu tampil dominan di lini tengah. 

Di laga final melawan Manchester City, Palace sebetulnya tidak diunggulkan. Namun, Kamada hadir untuk meredam lini tengah City yang komplit. Kamada bahkan berperan dalam proses terciptanya gol kemenangan oleh Eberechi Eze pada menit ke-16. Ia terlibat dalam kombinasi umpan dengan Jean-Philippe Mateta sebelum akhirnya bola sampai di kaki Eze.

Ao Tanaka

Masih dari pemain Jepang, ada Ao Tanaka yang berhasil mempersembahkan gelar Divisi Championship 2024/25 untuk Leeds United. Gelar ini sekaligus jadi tanda kembalinya Leeds ke kasta tertinggi Liga Inggris musim depan. Didatangkan dari Fortuna Düsseldorf pada Agustus 2024, pemain yang berposisi sebagai gelandang ini langsung menjadi pilar penting di tim asuhan Daniel Farke.

Awalnya, Tanaka direkrut sebagai gelandang serang. Namun, karena mobilitasnya tinggi dan memiliki daya juang yang luar biasa, Farke bereksperimen untuk menempatkan Tanaka di posisi gelandang bertahan. Ia diminta untuk menggantikan Ethan Ampadu yang cedera. Eksperimen ini terbukti berhasil. Tanaka jadi jantung di lini tengah Leeds. 

Ao Tanaka tampil dalam 43 pertandingan Championship dengan mencetak 5 gol dan memberikan 2 assist. Ia juga mencatatkan akurasi umpan sebesar 89,9% dan menciptakan 27 peluang, menunjukkan peran vitalnya dalam distribusi bola dan kreativitas tim. Kontribusinya yang konsisten di berbagai peran membantu Leeds meraih gelar Championship dan promosi ke Premier League.

Son Heung-min

Masih dari Inggris, tapi kali ini pemain asal Korea Selatan. Son Heung-min jadi kapten sekaligus pemain kunci di balik runtuhnya rentetan hasil buruk Spurs musim 2024/25. Meski di Premier League, Spurs hanya satu strip dari zona degradasi, Son mampu mengantarkan tim yang sudah ia bela sejak 2015 itu meraih gelar Europa League musim ini.

Ini adalah trofi pertama Spurs setelah puasa gelar selama 17 tahun lamanya. Meskipun musim ini diwarnai oleh cedera dan tantangan pribadi, kontribusi Son sebagai kapten tim sangat signifikan, baik di dalam maupun di luar lapangan. Sepanjang kompetisi Europa League, Son tampil dalam 10 pertandingan, mencetak 3 gol dan memberikan 2 assist. Ia juga mencatatkan akurasi umpan sebesar 77,5% 

Dalam final melawan Manchester United, Son masuk sebagai pemain pengganti di babak kedua. Meskipun tidak mencetak gol, kehadirannya membantu menjaga keunggulan hingga akhir pertandingan. Sebagai kapten, ia mengangkat trofi Europa League, menandai pencapaian besar dalam kariernya.

Lee Kang-in

Kompatriot Son Heung-min di Timnas Korea juga tergabung dalam tim PSG yang mengukir sejarah. Lee Kang-in membantu PSG untuk meraih treble winner musim ini. Selain berkontribusi penuh saat PSG menjadi kampiun Ligue 1 dan Piala Prancis. Lee juga menunjukan performa konsisten saat PSG menyabet gelar Liga Champions untuk pertama kalinya.

Meskipun menghadapi persaingan ketat di skuad PSG, Lee menunjukkan performa yang memuaskan. Apalagi, dengan fleksibilitas posisi yang dimiliki, Lee mampu memberikan warna baru di skuad asuhan Luis Enrique. Itu dibuktikan dengan 6 gol yang diciptakan Lee berasal dari posisi yang berbeda-beda, ada yang sebagai sayap kanan, ada juga yang sebagai penyerang tengah.

Meskipun tidak selalu menjadi starter, Lee tetap menjadi aset berharga bagi PSG. Luis Enrique bahkan menyebut Lee sebagai pemain dengan kemampuan paling lengkap di skuad. Secara keseluruhan, Lee Kang-in menunjukkan bahwa ia adalah pemain yang dapat diandalkan. Ia memberikan kontribusi penting dalam kesuksesan PSG musim ini.

Kim Min-jae & Hiroki Ito

Selanjutnya, ada Bayern Munchen yang mengandalkan pemain Korea Selatan dalam diri Kim Min-jae dan pemain Jepang, dalam diri Hiroki Ito. Meski di pekan-pekan terakhir Kim Min-jae diganggu oleh cedera, ia tampil sebagai pondasi kokoh di lini belakang Bayern Munchen dalam perjalanan mereka merebut kembali tahta Bundesliga musim 2024/25. 

Dalam 27 penampilan liga, Kim tak hanya menyumbangkan 2 gol, tetapi juga menghadirkan ketenangan dan kepemimpinan dalam formasi pertahanan Bayern. Keberadaannya di lapangan memberi dimensi penting dalam membangun serangan dari bawah. Kim mencatatkan rata-rata 110 kali sentuhan per 90 menit. Itu tertinggi kedua di skuad setelah Joshua Kimmich. 

Berbeda dengan Kim yang memainkan peran vital, Ito justru menjadi cameo di musim 2024/25. Sebab, Ito mengalami dua kali cedera tulang metatarsal. Meski begitu, kehadiran Ito tetap memberikan kontribusi strategis. Tampil dalam enam laga Bundesliga, perannya sebagai pemain rotasi kunci sangat terasa ketika The Bavarian menghadapi krisis cedera di paruh kedua musim 2024/25. 

Dean James

Jepang sama Korea Selatan mulu nih, negara Asia lain nggak ada? Tenang. Ada pemain kebanggaan Indonesia, Dean James. Dirinya berkontribusi penuh saat timnya, Go Ahead Eagles buka puasa gelar di KNVB Cup. Itu menjadi trofi mayor pertama yang dimenangkan Go Ahead sejak 1933.

Sayangnya, pemain berusia 24 tahun itu absen di laga final melawan AZ Alkmaar akibat cedera hamstring. Meski begitu, James sempat berperan memberi assist kemenangan tim dalam laga semifinal KNVB Cup kontra PSV Eindhoven. Di turnamen tersebut, bek tim nasional Indonesia itu mencatatkan empat penampilan dan mencetak satu assist.

Trofi KNVB Cup turut memastikan Go Ahead Eagles mengamankan tempat di Liga Europa musim depan. Mereka akan tampil di kompetisi kasta kedua Eropa itu untuk pertama kalinya dalam sejarah klub. Kira-kira segitu dulu daftar pemain Asia yang jadi andalan timnya dalam meraih gelar. James jadi satu-satunya pemain ASEAN di sini. Kira-kira pemain Malaysia sama Thailand, mau nyusul kapan nih?

____

Sumber: Mirror, Kyodo News, Football oranje, The Times