Rasa-rasanya, tahun 2025 seakan sudah dirancang untuk memunculkan dua sosok wonderkid yang mengguncang jagat sepak bola Eropa. Sampai-sampai, persaingan di antara talenta berbakat ini membawa lagi ingatan saat awal mula pertarungan antara Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo waktu masih muda dulu.
Lamine Yamal dan Desire Doue kini silih berganti membuat penikmat sepak bola tak hentinya berdecak kagum. Keduanya memberikan warna tersendiri dalam percaturan sepak bola Benua Biru. Akhir-akhir ini, Yamal dan Doue terlibat dalam persaingan yang seru. Sang berlian dari Catalunya dan Si permata dari Paris saling klaim menjadi bocah ajaib dari Eropa di abad ini. Perdebatan sengit pun jadi tak terelakkan di kalangan fans.
Lalu, bagaimana persaingan yang tersaji di atas rumput hijau antara Lamine Yamal dan Desire Doue belakangan ini? Adakah kesempatan perseteruan panas kedua pemuda ini terus berlanjut hingga beberapa tahun ke depan dan jadi legenda baru?
Daftar Isi
Doue dan Final Yang Tak Dipunyai Yamal
Mimin yakin sebelum musim 2024/25 bergulir, tak banyak yang mengenal siapa itu Desire Nonka-Maho Doue selain fans sejati Ligue 1. Darah muda keturunan Pantai Gading ini mulai dibicarakan satu Prancis ketika musim terakhirnya bersama Stade Rennes. PSG pun segera mengikatnya dengan biaya sebesar 50 juta euro di bursa transfer musim panas.
Di awal musim, Doue sebetulnya tampak kesulitan mendapatkan tempat di skema Luis Enrique. Menit bermainnya tak begitu bagus dibanding sesama pemain muda di lini serang, Bradley Barcola.
Enrique baru mulai mempercayai Doue secara reguler setelah pergantian tahun 2025. Doue segera memberikan sentuhan magis di laga-laga yang dijalani Les Parisiens. Rentetan gol brilian dan assist ciamik ia persembahkan, dari panggung Ligue 1 sampai pentas Liga Champions.
🚨🔴🔵 Désiré Doué to Paris Saint-Germain, agreement confirmed and here we go!
Rennes will receive fee close to €60m after PSG got the green light from Doué two days ago.
Medical tests booked on Thursday for Doué ahead of contract signing after PSG won the race vs Bayern. pic.twitter.com/BKfdCHSCgM
— Fabrizio Romano (@FabrizioRomano) August 14, 2024
Perlahan tapi pasti, Doue mulai terekspos dan menjadi spotlight. Sampai akhirnya, namanya seketika mencuat setelah berkontribusi mengantarkan PSG ke partai puncak Liga Champions untuk kedua kalinya. Maka, sejak itulah pemain setinggi 181 cm mulai dibanding-bandingke dengan Lamine Yamal yang sudah lama digaungkan sebagai pemain muda terbaik tanah Eropa.
Tentu saja dengan indikator Doue yang bisa menapak final Liga Champions lebih dulu dari Yamal. Padahal, sejak awal Yamal jauh lebih difavoritkan untuk mejeng di final, daripada Doue dan PSG. Malangnya, Barcelona malah habis bensin dan mogok di empat besar.
Popularitas Doue semakin melejit setelah berperan sebagai salah satu aktor di balik pembantaian lima gol PSG atas Inter Milan di Munchen. Penggemar berat Neymar itu melesakkan dua gol ke gawang Yann Sommer. Gol Doue tak hanya sarat makna bagi tim, tapi juga dirinya sendiri. Doue resmi masuk dalam sejarah sebagai pencetak gol termuda keempat di final Liga Champions dengan usia 19 tahun, 11 bulan, dan 28 hari. Catatan tersebut hanya kalah dari Patrick Kluivert semasa di Ajax, Senny Mayulu yang juga rekan setimnya, dan Carlos Alberto dari FC Porto.
⭐️ Désiré Doué in the UCL final vs. Inter:
– 2 goals
– 1 assist
– 4 shots
– 100% dribbles
– 3 key passes
– 100% crosses
– 4 duels won pic.twitter.com/Kwknu0YjEu— The Touchline | Football Coverage (@TouchlineX) May 31, 2025
Tak sampai situ saja, Doue juga dinobatkan sebagai pemain paling muda yang menyumbangkan dua gol di final. Ia sejajar dengan bintang lapangan yang pernah mencetak dua gol lainnya seperti Filippo Inzaghi, Diego Milito, Gareth Bale, hingga Cristiano Ronaldo.
PSG pun melengkapi dominasi di kancah domestik dengan mahkota Eropa yang pertama sepanjang sejarah mereka. Klub ibukota Prancis sukses menutup perjalanan di musim 2024/25 dengan torehan emas quadruple.
Desire Doue lit up the UCL final.
A wonderful talent who has an incredibly high ceiling!
Lamal might have a contender to the future Worlds Best! pic.twitter.com/8mihs32GlP
— J2AFC (@j2afc_) June 1, 2025
Oh iya hampir lupa. Doue juga mendapat anugerah penghargaan sebagai pemain muda terbaik Liga Champions musim 2024/25. Dengan begitu, winger kanan kelahiran Juni 2005 semakin membuat pendukung Yamal kepanasan. Doue bertambah harum dibandingkan Yamal yang belum punya trofi kuping gajah ataupun hanya sekadar mencetak gol di final.
Pembalasan yang Elegan dari Yamal
Emang dasarnya definisi pemain muda dengan jiwa dewasa, Yamal tak perlu banyak berkomentar dan membela diri di media terkait dirinya yang dianggap kalah dari Doue. Kurang dari seminggu setelah final Liga Champions, gantian alumni terbaik La Masia yang menggila dan seolah menjawab tuntas cibiran yang mengarah padanya.
Momen balas dendam Yamal tersaji di babak semifinal UEFA Nations League. Kebetulan, Spanyol sebagai juara bertahan, bertemu dengan Prancis dalam pertandingan yang berlangsung di Stuttgart. Satu di antara mereka akan menyusul Portugal yang lebih dulu sampai ke final.
LAMINE YAMAL SCORES A BRACE VS. FRANCE! pic.twitter.com/avBSiWd9Mn
— Barça Universal (@BarcaUniversal) June 5, 2025
Persis seperti prediksi banyak pihak, Yamal dan Doue kompak diturunkan sejak menit pertama. Yamal dipasang sebagai sayap kanan dalam formasi 4-3-3 buatan Luis De la Fuente, begitupun dengan Doue dalam skema 4-2-3-1 racikan Didier Deschamps.
Kendati sama-sama main sejak awal, kali ini giliran Yamal yang memberi pembuktian. Pemuda dengan garis keturunan Guinea-Ekuatorial dan Maroko itu mengorkestrasi kemenangan dramatis La Furia Roja 5-4. Yamal menyarangkan dua gol, salah satunya dari titik putih ke gawang Les Blues.
🚨🇪🇸 𝐎𝐅𝐅𝐈𝐂𝐈𝐀𝐋 | Lamine Yamal (17) wins MOTM for his performance vs France! 🏅 pic.twitter.com/3kNKR0ufmm
— EuroFoot (@eurofootcom) June 5, 2025
Sang juara bertahan pun berhak melesat ke final berjumpa Portugal. Spanyol menyegel tiket final dan Yamal mendapat pengakuan MVP di laga tersebut oleh UEFA. Dalam wawancara setelah menerima MVP, Yamal menjawab nada sumbang yang mengarah padanya. Dengan nada santai namun menohok, Yamal mengatakan ia hanya membuktikan kualitas yang terbaik di lapangan, sehingga orang dapat menilai siapa yang lebih baik. DAMN.
Pertemuan Perdana di Lapangan yang Sama
Sejatinya, sebelum semifinal itu berlangsung, lebih banyak yang sadar kalau laga itu menjadi momen penentuan siapa yang paling layak menyandang Ballon D’Or tahun ini. Sorotan lebih mengarah pada gerak-gerik Yamal dengan Ousmane Dembele. Padahal, laga itu juga menjadi pertemuan perdana Yamal dan Doue secara langsung di atas lapangan yang sama.
In an interview before Spain vs. France, Lamine Yamal said “If people want to play on Thursday, we’ll play on Thursday,” when asked who he’d vote for as the next Ballon d’Or winner, hinting at going toe-to-toe with one of the favourites Ousmane Dembélé.
Thursday came… 👀 pic.twitter.com/2Wvdlz4Oul
— ESPN FC (@ESPNFC) June 5, 2025
Hasilnya seperti yang sudah disampaikan, pertemuan pertama mereka dimenangkan oleh anak ideologis Messi. Yamal 1, Doue 0. Selain suguhan dua golnya yang antarkan Spanyol tumbangkan Prancis, kemenangan perdana Yamal atas Doue juga disertai dengan rating tertinggi di antara semua pemain yang turun dari kedua tim. Situs Fotmob memberikan rating 9,5 alias nyaris sempurna kepada Yamal.
Modal pencapaian itu lebih dari cukup membuat peluang Yamal menjadi pemenang termuda sepanjang masa Ballon D’Or masih hidup. Pasalnya, Dembele yang jadi rival terdekatnya mendadak jadi noob pada laga penting tersebut. Tanpa gol dan assist satupun yang dibuat.
🇫🇷 Doué vs España
63′ minutos jugados
0 goles 🔥
0 asistencias 🔥
0 regates 🔥¿Mejor que Lamine Yamal? 🤔 pic.twitter.com/WW2W9kq4qa
— Trigger (@TriggerFCB) June 5, 2025
Lain cerita dengan Yamal, Doue malah tampak nelangsa karena tak dapat berbuat banyak saat negaranya diseruduk kawanan banteng matador. Jangankan mencetak gol, Doue membuat Deschamps kesal, sehingga ditarik menit 63 dan digantikan Bradley Barcola. Rating Doue versi Fotmob juga cuma mentok di 6,1 saja.
Kendati harus menelan pil pahit bersama seragam timnas, Doue setidaknya masih menyimpan harapan menjadi pemenang Kopa Trophy atau pemain terbaik dunia 2025. Penghargaan individu bergengsi yang tahun lalu disabet oleh Yamal. Itu karena tak banyak kandidat pemain muda lain yang secara prestasi lebih baik atau sekiranya mendekati produk akademi Rennes itu.
Peluang Bertemu Kembali di Masa Depan
Selepas laga Spanyol vs Prancis, bisa dibilang Yamal dan Doue berpeluang untuk kembali tatap muka dalam beberapa kesempatan ke depan. Entah itu momennya ketika Barcelona berjumpa dengan PSG di Liga Champions, Timnas Spanyol bersaing dengan Prancis di panggung Eropa atau Piala Dunia, atau siapa tau Doue diangkut Real Madrid, sehingga mereka saling sikut di El Clasico. Bayangin aja dulu.
Tapi, apapun itu, duel Yamal dan Doue adalah pelipur kegagalan pecinta sepak bola saat dulu menantikan Kylian Mbappe dan Erling Haaland muda akan menjadi seteru yang abadi. Nyatanya, si kura-kura ninja dan si pirang dari Norwegia tak sampai jadi rival yang mengganggu seperti era La Pulga dan CR7.
Kira-kira, akankah persaingan Desire Doue dan Lamine Yamal akan terus berlanjut hingga masa tua? Atau hanya salah satu di antara mereka yang akan dikenang sebagai bintang besar?
dailymail.co.uk, sports.yahoo.com, goal.com, uefa.com, edition.cnn.com, espn.com, foxsports.com


