Di tengah polemik pemakzulan wakil presiden Indonesia, kita mendengar kabar bahagia dari dunia sepakbola Eropa. Mengutip cuitan Fabrizio Romano, ada darah Maluku yang kabarnya akan segera membela salah satu klub terbesar di Inggris, Manchester City. Pemain yang dimaksud bukan Joey Pelupessy, bukan pula Ricky Akbar Ohorella, melainkan Tijjani Reijnders.
Gelandang yang sempat digoda untuk membela Timnas Indonesia itu meninggalkan peran pentingnya di AC Milan demi klub yang baru saja menyelesaikan musim tanpa gelar. Bagi sebagian orang, langkah ini mungkin teramat kejam. Karena Tijjani meninggalkan Milan yang telah membesarkan namanya.
Namun, dari kacamata mereka yang mengikuti jejak karier Reijnders, ini terasa seperti bab selanjutnya yang tak terelakkan. Dari AZ Alkmaar ke San Siro, kini ke Etihad, perjalanan Tijjani Reijnders adalah cerita tentang sebuah kenaikan level. Lantas, mengapa demikian? Apakah Milan tidak cukup bagus untuk seorang Tijjani Reijnders?
Daftar Isi
Ikut Bangga
Sebelum masuk dalam pembahasan, kali ini mimin akan sedikit memberikan apresiasi untuk kakak dari Eliano Reijnders itu. Walau kini dirinya membela Belanda, bukan skuad garuda, darah Indonesia tetap mengalir di tubuhnya. Melihat Tijjani Reijnders berseragam Manchester City musim depan, rasanya seperti saudara jauh kita ikut tampil di panggung sepak bola tertinggi dunia.
Kalau ditanya apakah mimin bangga? Banget! Mimin yakin ketika kabar kepindahan Tijjani Reijnders ke Manchester City diumumkan oleh Fabrizio Romano, bukan hanya para penggemar The Citizens yang bersorak. Melainkan banyak hati di Indonesia ikut bergetar kagum.
Dari gang-gang kecil tempat anak-anak Indonesia bermain bola bertelanjang kaki, sampai gemerlap Etihad Stadium. Jaraknya kini terasa lebih pendek. Reijnders adalah pengingat bahwa darah Nusantara bisa hadir dan tumbuh menjadi jantung permainan klub sekaliber Manchester City.
Milan Layak Ditinggalkan
Setelah mengutarakan isi hati, mari kita mencermati. Layakkah AC Milan untuk ditinggal pergi? Jika melihat kondisi tim saat ini, hengkang dari klub kebanggaan warga Milan itu adalah keputusan yang harus diambil oleh pemain yang sedang dalam top performa seperti Tijjani Reijnders.
Jika ditanya mengapa? Ada beberapa faktor yang seharusnya cukup untuk membuat kita ngebatin, “iya juga sih”. Yang pertama adalah soal kestabilan performa. AC Milan musim lalu sedang dalam performa yang acak-acakan, gonta-ganti pelatih dan seperti Manchester United, gagal finis di zona Eropa.
Setelah meraih kejayaan dengan gelar Serie A musim 2021/22, banyak yang berharap AC Milan akan terus berkembang menjadi kekuatan yang stabil di Italia dan Eropa. Namun, kenyataan jauh dari impian. Proyek olahraga Milan tampak mulai kehilangan arah. Beberapa keputusan transfer yang tidak konsisten justru menjauhkan Milan dari gelar juara di musim-musim berikutnya.
Di musim 2024/25, AC Milan juga tercatat jadi tim yang labil. Gonta-ganti pelatih dalam waktu yang singkat. Sergio Conceicao bahkan dipecat setelah hanya menjalankan perannya selama kurang lebih enam bulan. Udah gitu, yang gantiin malah Massimiliano Allegri.
Secara permainan, Tijjani yang lebih ofensif dan mampu membongkar pertahan melalui pergerakannya, sangat tidak cocok dengan Allegri. Allegri itu alergi dengan sepakbola menyerang. Bisa-bisa, Tijjani cuma dijadiin gelandang bertahan sepanjang musim 2025/26. Maka dari itu, daripada kemampuannya tak dimanfaatkan secara maksimal, Tijjani pindah ke City aja.
Bekerja Di Bawah Guardiola
Namun, apakah dengan pindah ke Manchester City, Tijjani Reijnders bisa mengeluarkan potensi maksimalnya? Tidak ada jaminan, tapi potensinya untuk terwujud sangat besar. Mengapa demikian? Karena Tijjani akan bekerja di bawah arahan sang maestro kepelatihan, Pep Guardiola.
Pelatih berkepala plontos itu sudah punya banyak riwayat positif dalam memaksimalkan potensi pemain yang dimilikinya. Bagi gelandang seperti Tijjani, bermain di bawah arahan Pep bukan sekadar menimba ilmu, tapi mendalami seni. Itu ibarat Alip Jon yang sedang berguru di kediaman Pablo Picasso.
Di tangan Pep, sepakbola tak lagi sekadar urusan menang dan kalah. Tapi simfoni ruang dan waktu, gerak dan diam, keberanian mengambil risiko, dan keindahan menciptakan keunggulan dari ketidakpastian. Tijjani Reijnders, dengan naluri eksploratif dan kaki yang tak suka diam, menemukan rumah baru di tengah orkestra Pep yang menuntut kecerdasan daripada gaya main yang bikin ngos-ngosan.
Dan seperti halnya Kevin De Bruyne, Bernardo Silva, Ilkay Gundogan, dan Rodri, Tijjani Reijnders punya potensi untuk naik level. Eks pemain AZ Alkmaar itu bisa menjadi lebih dari dirinya yang sekarang. Karena di bawah Guardiola, pemain tak sekadar berkembang. Mereka berevolusi.
Peran Vital
Selain keberadaan Pep Guardiola, peran yang akan dimainkan Tijjani Reijnders juga jadi alasan mengapa bergabung dengan Manchester City adalah pilihan yang tepat. City akan mengarungi musim baru tanpa mesin penggerak utama, Kevin De Bruyne. Sang gelandang memutuskan untuk menyudahi masa kerjanya dengan The Sky Blues akhir musim ini.
Lantas, apakah Tijjani akan diplot sebagai pengganti Kevin? Beberapa media mengatakan demikian, termasuk Transfermarkt. Mereka bahkan mengulas khusus tentang bagaimana Tijjani yang bisa jadi pengganti yang sempurna untuk ruang yang ditinggalkan KDB. Namun, nyatanya Tijjani tidak memiliki identitas permainan yang sama dengan KDB.
Reijnders bukan De Bruyne. Dan Tijjani tak perlu menjadi KDB untuk masuk ke pola permainan Manchester City. Karena kekuatannya justru ada pada kemampuannya mengisi celah di lini depan tanpa permisi, alias menyelinap. Dia seperti air, mengalir di ruang-ruang kecil yang tak terlihat. Menyusup di antara garis tekanan, hadir di tempat yang tak diduga untuk menciptakan peluang atau mungkin menjebloskan bola ke gawang.
Di bawah bimbingan Guardiola, Reijnders bukan hanya akan jadi pelayan. Ketika City membangun serangan dari bawah, dia akan menjadi jembatan. Ketika lawan menumpuk barisan pertahanan, dialah yang akan bergerak seperti bayangan, membuka jalur, memancing perhatian, lalu mengalirkan bola. Ia bisa menjadi penyimbang sekaligus pengatur arah permainan seperti Andres Iniesta saat ditukangi Pep di Barcelona.
Memperindah CV
Yang mungkin kalian lupa, pesepakbola juga sebuah pekerjaan. Jadi, bagi Tijjani Reijnders, pindah ke Manchester City adalah upaya untuk memperindah CV-nya. Meski yang mencapai final Liga Champions musim 2024/25 itu klub Italia, bukan klub Inggris, pindah ke Premier League tetap dianggap sebagai sebuah peningkatan karir.
Secara popularitas, Liga Inggris adalah kompetisi terbaik saat ini. Penikmatnya dari berbagai kalangan dan usia. Hak siarnya pun jadi yang tertinggi saat ini. Dengan bermain di Manchester City, Tijjani yang sudah membangun reputasi di Italia, bisa semakin memantapkan nama baiknya di Inggris.
Bermain baik di Serie A membuat Reijnders dikenal. Tapi tampil di Premier League, apalagi bersama Manchester City, akan membuatnya mendapat pengakuan global. Ia tidak hanya akan dikenal sebagai talenta menjanjikan asal Belanda, tapi sebagai pemain elit yang mampu bersaing dan bertahan di sistem paling kompetitif di dunia.
Jika status itu sudah dicapai, maka nantinya market value-nya akan melonjak. Saat pertama kali bergabung dengan Milan, ia hanya dihargai 20 juta euro saja. Kini, baru deal sama City saja, potensi kenaikan harga pasarnya sangat signifikan. Sebab, City kabarnya menebus Tijjani di angka 57 juta euro. Jika performanya terus meningkat di City, bukan tidak mungkin harga pasarnya akan menginjak 80 juta euro.
Peluang Juara
Yang terakhir adalah soal legacy. Apabila Tijjani Reijnders mampu menyesuaikan diri di Manchester City, ia bisa membangun warisan sebagai pemain Belanda yang sukses di salah satu klub tersukses di Inggris. Prestasi seperti memenangkan Premier League, FA Cup, atau Liga Champions akan menempatkannya dalam sejarah klub dan meningkatkan statusnya sebagai ikon sepakbola Belanda.
Loh, tapi kan City musim lalu juga dalam performa buruk. Sama dong kayak AC Milan? Bahkan, di musim terburuk Pep Guardiola bersama City pun, ia masih bisa membawa tim finis di urutan ketiga dan mengamankan satu tiket ke Liga Champions. Lain hal sama Milan. Sekalinya menjalani musim yang buruk ya buruk banget. Finis di urutan kedelapan. Gimana mau menggaransi gelar juara? Wong masuk zona Liga Champions aja nggak bisa.
____
Sumber: Sempre Milan, Transfermarkt, Goal, Men


