Beranda blog Halaman 112

Jalan Terjal Nan Berliku Cristian Gonzales Demi Membela Timnas Indonesia

0

Fenomena pemain naturalisasi sedang marak di persepakbolaan Indonesia. PSSI bersama pelatih Timnas Indonesia, Shin Tae-yong bahu-membahu mencari pemain-pemain berdarah Indonesia yang berkarir di Eropa. Pemain-pemain yang masuk dalam kategori Grade A akan dipanggil untuk membela Skuad Garuda.

Namun, sebelum berseragam Timnas Indonesia, pemain tersebut harus melalui proses naturalisasi terlebih dahulu. Menariknya, proses naturalisasi di era Erick Thohir berjalan begitu cepat. Jauh berbeda dengan yang dialami oleh pemain-pemain naturalisasi zaman dulu, macam Cristian Gonzales. Di era itu, mantan pemain Arema tersebut harus berdarah-darah demi satu stel jersey berwarna merah putih.

Gonzales bahkan harus menggadaikan momen-momen penting bersama keluarganya di Uruguay. Namun, dengan tekad yang kuat dan dorongan dari sang istri, Gonzales berhasil menguatkan hatinya. Lantas, bagaimana Gonzales melewati masa-masa sulit itu? Mari kita simak kisahnya.

Kehadiran Gonzales ke Liga Indonesia

Berbeda dengan pemain-pemain naturalisasi di era sekarang yang memiliki darah Indonesia, pemain yang memiliki nama asli Cristian Gerard Alfaro Gonzales itu sama sekali tidak memiliki leluhur di Indonesia. Gonzales muncul di persepakbolaan Indonesia sebagai pemain asing asal Uruguay. 

Kala itu, PSM Makassar jadi yang paling berjasa memperkenalkan Gonzales kepada sepakbola Indonesia. Pada tahun 2003 jadi debutnya bersama PSM. Dirinya datang dengan status free transfer usai hanya bermain 22 pertandingan saja di klub sebelumnya, Deportivo Maldonado. Meski performanya di Deportivo tidak terlalu oke, Gonzales terbukti moncer bersama Juku Eja.

Di musim 2003/04, Cristian Gonzales langsung mencetak 27 gol sekaligus mengantarkan PSM Makassar finis di urutan kedua Liga Indonesia 2003/04. Sialnya, tahun kedua Gonzales di Indonesia tidak berjalan baik. Dirinya justru dikenai skorsing oleh PSSI selama satu musim penuh. Dirinya juga didenda Rp20 juta karena memukul salah seorang petugas Persita Tangerang.

Namun, berkat skorsing itu Gonzales memiliki banyak waktu dengan keluarganya. Eva Siregar selaku istrinya pun membantu Gonzales untuk beradaptasi di Indonesia. Eva mengajak Gonzales untuk mengenal bahasa, budaya, dan kuliner khas Indonesia. Bahkan Eva pula yang mengenalkan agama Islam kepada Gonzales. 

Pada Oktober 2003, dirinya memutuskan untuk memeluk agama Islam. Setelah menjadi mualaf, Gonzales memiliki nama muslim, sebagai Mustafa Habibi. Eva Siregar jadi sosok paling penting dalam kehidupan religi Gonzales. Bahkan rasa syukur kepada Allah SWT selalu ia panjatkan seusai mencetak gol. Semenjak itu, Gonzales mulai kerasan tinggal di Indonesia.

Persik Kediri

Bebas dari skorsing, Cristian Gonzales memutuskan untuk hengkang dari PSM Makassar. Meski dikenal bengal dan emosional, Gonzales belum sepi peminat di Indonesia. Itu dibuktikan dengan dirinya yang langsung bergabung dengan Persik Kediri. Gonzales pun membantu klub berjuluk Macan Putih meraih gelar di tahun 2006. 

Di Kediri, dirinya membangun koneksi yang luar biasa dengan dua pemain asing lainnya, yakni Ronald Fagundez dan Danilo Fernando. Publik sepakbola Indonesia bahkan sampai menyebut mereka sebagai trio Latin paling berbahaya kala itu. Trio tersebut juga berjasa membawa Persik tampil di Liga Champions Asia dan Gonzales mengemas tiga gol. Itu sebuah pencapaian luar biasa bagi seluruh punggawa Persik, terutama Gonzales itu sendiri.

Sayangnya, Gonzales hanya bertahan dua tahun di Persik Kediri. Krisis finansial yang dialami Macan Putih membuat manajemen harus melakukan rasionalisasi gaji, atau gampangnya penundaan gaji untuk sementara. Gonzales merupakan salah satu dari beberapa pemain Persik yang tidak setuju atas keputusan tersebut.

Meski demikian, Gonzales telah mengokohkan namanya sebagai penyerang papan atas di Liga Indonesia. Menurut statistiknya, Gonzales bahkan mampu mengemas 102 gol hanya dari 95 pertandingan bersama Macan Putih. Dirinya bahkan mengakhiri musim 2005/06 dengan status top skor Liga Indonesia berkat torehan 29 golnya. 

Moncer di Persib

Ketajamannya itu membawa Gonzales hijrah ke Bumi Pasundan untuk membela Persib Bandung pada tahun 2009. Menariknya, Gonzales dikontrak dengan status sebagai pemain pinjaman dari Persik. Biarpun cuma pemain pinjaman, Persib menggaji Gonzales dengan nilai yang cukup tinggi. Rumornya, ia mendulang sekitar 60 juta rupiah per bulan dari Maung Bandung.

Bermain sebagai pemain pinjaman tidak mengurangi komitmen Gonzales kepada Persib. Sang pemain tetap menunaikan tugasnya dengan sangat baik. Mulai bergabung di paruh kedua Liga Indonesia musim 2008/09, Gonzales menjadi mesin gol baru Maung Bandung kala itu. Dirinya bahkan langsung mencetak gol di laga debutnya melawan Persipura Jayapura.

Berkat ketajamannya di mulut gawang, Gonzales pun mendapat julukan El Loco, yang jika diartikan berarti Si Gila. Setelah mencetak 14 gol dari 16 penampilan sebagai pemain pinjaman, Gonzales langsung dihadiahi kontrak permanen dari manajemen Maung Bandung. Selama kurang lebih dua setengah musim berseragam Persib Bandung, Gonzales mengemas 41 gol dari 64 penampilan.

Permintaan Langsung dari SBY

Nama El Loco Gonzales pun kian menggema di persepakbolaan Tanah Air. Kabar tentang konsistensi dan keganasan Gonzales dalam menjebol gawang lawan pun akhirnya sampai ke telinga Presiden Indonesia kala itu, Susilo Bambang Yudhoyono. Orang nomor satu di Indonesia itu sangat mengapresiasi kinerja Gonzales selama berkiprah di persepakbolaan Indonesia.

SBY bahkan secara terang-terangan merekomendasikan Gonzales kepada PSSI jika memungkinkan untuk dinaturalisasi. Saat itu, Indonesia sebetulnya tidak memiliki urgensi untuk menaturalisasi pemain depan. Karena skuad Indonesia masih memiliki Bambang Pamungkas dan Boaz Salossa. Namun, SBY yakin keberadaan Gonzales bisa menambah daya gedor tim nasional di kancah internasional.

Permintaan langsung dari SBY pun dikonfirmasi oleh istri Cristian Gonzales, Eva Siregar beberapa tahun kemudian. Diwawancarai oleh CNN Indonesia, Eva mengaku bahwa Susilo Bambang Yudhoyono sangat menginginkan Gonzales jadi WNI dan membela Timnas Indonesia secepatnya.

Proses yang ribet

Mendengar hal itu, Cristian Gonzales pun tidak keberatan. Toh, dirinya sudah tidak ada kemungkinan untuk membela Timnas Uruguay di kemudian hari. Umurnya sudah 33 tahun kala itu. Apalagi, saat berkarir di Liga Indonesia, Gonzales sudah membangun rumah tangga dengan istrinya yang asli orang Indonesia. Mengantongi status WNI akan memudahkan kehidupannya bersama Istri tercinta.

Awalnya, wacana naturalisasi disambut positif oleh Cristian Gonzales dan Eva Siregar. Namun, ternyata untuk mendapatkan status WNI tidak semudah itu. Mereka menghadapi regulasi dan persyaratan yang luar biasa sulit. Eva bahkan sampai turun tangan sendiri untuk mendampingi Gonzales yang harus mengurus banyak berkas sendirian.

Eva dan Gonzales pun berkelana dari kantor satu ke kantor lain untuk mengurus beberapa berkas yang dibutuhkan. Eva juga harus melakukan komunikasi langsung dengan keluarga Gonzales yang ada di Uruguay untuk mengurus beberapa surat yang diperlukan untuk menunjang perpindahan federasi. Gonzales juga terus memperpanjang visa izin tinggalnya karena tidak boleh pulang ke Uruguay.

Seperti yang sudah disampaikan tadi. Karena berstatus sebagai orang asing yang tidak memiliki darah Indonesia sama sekali, Gonzales harus memenuhi beberapa persyaratan tambahan. Salah satunya tidak boleh pulang ke Uruguay selama lima tahun berturut-turut. Kebetulan, terakhir kali dirinya pulang adalah tahun 2005, jadi harus stay di Indonesia setidaknya dua tahun lagi.

Tidak Bisa Pulang ke Uruguay

Namun, yang jarang terungkap adalah perjuangan Cristian Gonzales selama menjalani masa tinggal tersebut. Dua tahun itu jadi tahun-tahun paling menyiksa bagi Gonzales. Dirinya seperti terkurung karena hanya bisa berkomunikasi jarak jauh dengan keluarganya di Uruguay. Bahkan untuk terbang ke Spanyol guna menyambangi adiknya, Gonzales tidak dibolehkan. 

“Dulu di Indonesia ada aturan harus tinggal selama lima tahun secara terus menerus. Karena saya orang asing, yang ingin bisa dinaturalisasi, saya harus ikut aturan Negara Indonesia. Lima tahun, saya tidak pulang ke negara saya, Uruguay atau negara apa pun,” ucap Cristian Gonzales kepada TVOne News.

Striker yang kini berusia 48 tahun itu pun akhirnya tidak bisa pulang kampung ke Uruguay untuk menengok keluarganya. Padahal saat itu dirinya sempat mendapat kabar bahwa ayahnya sedang jatuh sakit. Situasi ini jelas membuat Gonzales dilema. Pilihannya hanya dua: menemui sang ayah atau memenuhi persyaratan naturalisasi. 

Gonzales sempat frustrasi kala itu. Namun, tekadnya yang besar membuat ia lebih memilih untuk tinggal di Indonesia, tanggung. Eva Siregar pun kagum dengan keteguhan hati sang suami. “Sampai waktu itu mulai dari Papanya Gonzales sehat, segar bugar sampai sakit, sampai stroke ia tidak pernah pulang ke Uruguay. Sebegitu besarnya pengorbanan suami saya untuk bisa menjadi warga negara Indonesia,” ujar Eva.  

Yang lebih bikin Gonzales sedih adalah, dirinya tidak bisa pulang saat adik dan kakaknya meninggal dunia. Gagal hadir di dua momen penting itu, sempat membuat Gonzales menangis dipelukan Eva. Gonzales berkisah kepada tvOne bahwa adiknya meninggal dunia karena terjatuh dari apartemennya di Spanyol dan tak tahu penyebabnya hingga sekarang. Sedangkan, kakaknya meninggal karena jadi korban perampokan di Uruguay.

Bantuan dari Persib Bandung dan PSSI

Melihat perjuangan Cristian Gonzales, Persib Bandung selaku klub induk pun berusaha membantu. Maung Bandung berusaha memberikan bantuan hukum dengan harapan proses naturalisasinya bisa segera rampung. Kala itu, Persib sampai mengirimkan salah satu pengacaranya, untuk mendampingi Cristian Gonzales.

PSSI pun tidak tinggal diam, mereka juga berusaha memberikan uluran tangan kepada Gonzales. Kala itu, perwakilan dari PSSI, yakni Marco Gracia Paulo yang diutus untuk mendampingi Gonzales. Dirinya jadi sosok penting dalam urusan lobi melobi. Kiprah Marco di dunia sepakbola Indonesia tak bisa dianggap remeh. Koneksinya di dunia sepakbola baik nasional maupun internasional sangat luas.

Marco Garcia bahkan memiliki koneksi di negara asal Gonzales, Uruguay. Itu karena dirinya tergabung dalam proyek Indonesia Football Academy (IFA) yang mengirimkan pemain berbakat dari Indonesia ke tim SAD di Uruguay. Selain Marco, Iman Arif, selaku Deputi Bidang Teknis Badan Tim Nasional saat itu juga turun tangan. Dirinya memastikan agar proses naturalisasi El Loco bisa berjalan sesuai regulasi.

Berkat bantuan dari orang-orang tersebut, proses naturalisasi yang awalnya ribet pun akhirnya bisa sedikit teratasi. Dengan koneksi yang dimiliki oleh Marco Garcia dan Iman Arif, Cristian Gonzales pun akhirnya bisa mengucap sumpah WNI pada awal November tahun 2010.

Debut di Piala AFF 2010

Beberapa pekan setelah mengantongi status warga negara Indonesia, Cristian Gonzales langsung dipanggil oleh pelatih Timnas Indonesia, kala itu Alfred Riedl. Pelatih yang kini sudah tutup usia itu memasukan nama Gonzales ke daftar pemain yang akan tampil di Piala AFF 2010. Laga melawan Malaysia jadi debut sah Gonzales sebagai punggawa Timnas Indonesia.

Mengenakan jersey bernomor punggung sembilan, El Loco langsung mencetak satu gol dan mengakhiri laga dengan kemenangan telak, 5-1. Jelas, ini menjadi awal yang bagus bagi sang bomber. Keberadaannya di lini depan skuad racikan Alfred Riedl membuat masyarakat Indonesia pede kalau edisi 2010 akan jadi milik Indonesia.

Sayangnya, Gonzales tidak bisa memenuhi ekspektasi masyarakat Indonesia. Meski terus tampil apik dan sempat mencetak gol spektakuler ke gawang Filipina, El Loco gagal membawa Skuad Garuda menggondol trofi Piala AFF 2010. Di final, skuad asuhan Alfred Riedl takluk dari Harimau Malaya yang sempat dibabat habis di fase grup. 

Malaysia menang agregat 4-2 setelah Indonesia kalah 3-0 di leg pertama dan hanya menang 2-1 di leg kedua. Pada akhirnya, turnamen ini begitu ikonik dan selalu menempel di ingatan para penonton. Selain karena menjadi ajang debut bagi El loco, Piala AFF juga jadi saksi beberapa kontroversi yang masih hangat dibicarakan hingga sekarang. 

Menjadi Pemain Naturalisasi Tersukses

Pasca Piala AFF 2010, karir Gonzales di tim nasional Indonesia cuma sebentar. Dirinya gagal memberikan gelar dan hanya mengantongi 32 penampilan dan mengoleksi 13 gol bersama Skuad Merah Putih. Namanya tak pernah lagi menghiasi komposisi pemain tim berjulukan Skuat Garuda itu sejak penampilan terakhirnya melawan Myanmar pada 2015 lalu.

Meski demikian, El Loco Gonzales tetap dikenal sebagai salah satu predator ulung yang pernah dimiliki Indonesia. Dirinya pernah empat kali tercatat sebagai top skor Liga Indonesia. Selama 16 tahun kariernya di Indonesia, Cristian Gonzales mengemas 249 gol. Itu bahkan jauh lebih baik daripada torehan gol Budi Sudarsono.

Si Ular Piton bahkan hanya mampu mencetak 185 gol selama berkarir di Liga Indonesia. Lantas, predikat apa yang cocok untuk melabeli sosok Cristian Gonzales? Penyerang terbaik Liga Indonesia atau pemain naturalisasi terbaik Indonesia? Ahh, sepertinya keduanya sangat layak disandang oleh El Loco

Sumber: CNN Indonesia, Tvone News, Indosport, VIVA, Bola

Teken Kerja Sama dengan KNVB, PSSI Harus Tiru Mereka!

0

Kabar baik datang dari PSSI. Institusi tertinggi sepak bola nasional ini baru saja meneken kerja sama dengan KNVB alias PSSI-nya Belanda. Kerja sama ini ditandatangani pada Rabu, 25 September lalu antara Erick Thohir dan Gijs de Jong selaku Sekjen KNVB. Salah satu hasil dari kerja sama ini akan mempertemukan Timnas Putri kedua negara pada Oktober nanti.

Selain akan rutin mengadakan uji coba, kerja sama ini juga akan terjadi pada urusan pembinaan pelatih, pembinaan pemain muda, hingga sepak bola wanita. Lantas, sehebat apa sih sebenarnya KNVB sehingga mereka bahkan melahirkan pemain-pemain yang akhirnya juga dipakai Timnas Indonesia? Mari kita coba bedah.

 

KNVB Campus

Apabila Italia punya Coverciano, maka Belanda punya KNVB Campus. Kompleks pelatihan yang ada di Kota Zeist ini merupakan otak dari perkembangan sepak bola yang ada di Belanda. Di tempat ini, segala inovasi lahir. KNVB sebagai otoritas tertinggi sepak bola Belanda ingin menjamin bahwa sepak bola Belanda tidak stuck dan ketinggalan jaman.

KNVB Campus merupakan pusat eksperimen di mana federasi bisa melakukan riset untuk mencari solusi atau membuat inovasi baru yang bisa mereka pakai di kehidupan nyata. Mereka akan bekerja sama dengan universitas atau pihak-pihak terkait, misalnya dalam pengembangan sport science demi meningkatkan kualitas pemain.

Selain sebagai pusat inovasi, KNVB Campus ini merupakan sekolah untuk para pelatih di Belanda. Dari sini kurikulum sepak bola Belanda diajarkan kepada para calon pelatih. Oleh karena itu, jangan heran jika para pelatih asal Belanda umumnya memiliki kesamaan dalam segi taktikalnya, misalnya soal urusan pemanfaatan ruang. Kesamaan seperti ini akan memudahkan pemain jika nantinya bermain untuk tim nasional.

Tak hanya itu, KNVB Campus juga menghasilkan para wasit. Bahkan program pendidikan wasit di sini tergolong lengkap. Mulai dari wasit utama, asisten wasit, hingga pengawas pertandingan, semuanya diajarkan di sini. Ini menunjukkan bahwa KNVB serius dalam melihat sebuah pertandingan. Karena bagaimanapun percuma sebuah tim bermain menawan jika harus kalah melalui keputusan ajaib sang pengadil lapangan.

 

Memiliki Program Internasional

Tak hanya berfokus kepada pelatih-pelatih lokal, KNVB juga memiliki program untuk mendidik pelatih dari luar Belanda. Program ini bernama WorldCoaches. Program ini sudah digelar dengan banyak negara Amerika Latin, Asia, dan Afrika. Nah, kerja sama PSSI dengan KNVB soal kepelatihan, sepertinya merupakan bagian dari program ini.

KNVB WorldCoaches ini sendiri memang sudah menelurkan lebih dari 18 ribu pelatih di seluruh penjuru dunia. Tak hanya mendidik lalu membiarkan para lulusannya, KNVB tetap memantau dan saling terkoneksi dengan mereka. Para lulusan program ini diperkirakan sudah melatih setidaknya 580 ribu anak-anak di seluruh dunia. Hebatnya lagi, dari total 18 ribuan pelatih tadi, 35% di antaranya adalah wanita. Dari sini, komitmen PSSI untuk mengembangkan sepak bola wanita bisa dimulai.

 

Liga yang Terstruktur

Jika urusan produksi pemain dalam hal ini melalui tangan pelatih sudah diatasi, giliran KNVB memikirkan bagaimana caranya mengelola pemain yang dihasilkan. Dalam hal ini, mereka pastinya akan membuat kompetisi rutin semacam liga. Namun, tak sekadar bikin kompetisi, KNVB juga membuat kompetisinya terstruktur dan berjenjang.

Liga Belanda sendiri memang punya 10 kasta. Apa tujuannya? Ya agar jam terbang tiap pemain tersedia. Coba bandingkan saja dengan Liga 3 di Indonesia. Di liga paling sulit di seluruh muka bumi ini, jumlah pesertanya 80 tim. Itu pun fase nasional. Jika digabung dengan fase regional, jumlah klubnya bahkan ratusan. Sayangnya, sistem kompetisinya turnamen. Hal itu membuat klub yang kalah di babak awal hanya akan bermain segelintir laga saja.

Dampaknya apa? Para pemainnya kekurangan jam terbang. Gimana mau jago main bola kalau main bola saja nggak pernah. Nah, kualitas kompetisi semacam itulah yang tak mungkin diterapkan di Belanda. KNVB ingin memastikan seluruh pesepakbola di Belanda memiliki jam terbang yang cukup dengan membagi kompetisi mereka sampai 10 kasta. Setiap kastanya digelar dengan format liga sehingga jadwalnya sangat panjang.

Nah, ilmu seperti ini yang harus PSSI serap dari kerja samanya dengan KNVB. Agar tak ada lagi kompetisi yang digelar dadakan dan seakan yang penting jalan. Ratusan klub bertanding untuk segelintir jatah promosi, itu namanya gila, bos.

 

Pembinaan Pemain Muda yang Kompetitif

Pembinaan pemain muda di Belanda juga tergolong jempolan. Mereka tak hanya melatih pemain muda  soal teknik dan taktik, namun juga memberi kesempatan untuk praktik. Jam terbang adalah kata kunci dari pembinaan sepak bola di Belanda. Hal ini sesuai dengan slogan yang dipegang oleh KNVB Campus, yakni “learning by doing.

Oleh karena itu, banyak dari klub di Belanda memiliki tim kedua yang diisi khusus dengan pemain muda. Kalian pasti tak asing dengan nama-nama seperti Jong Ajax hingga Jong Utrecht. Klub tersebut merupakan klub muda dari tim yang bersangkutan.

Uniknya, klub-klub ini akan langsung berkompetisi di 10 kasta tadi. Artinya, mereka akan langsung bermain di liga yang sangat kompetitif. Mereka tak hanya akan bermain melawan pemain muda, namun juga pemain senior dengan segala pengalamannya. Maka jangan heran jika para pemain keturunan Indonesia di Belanda jago-jago main bola, wong tua-muda sudah dilawan semua.

Namun, klub-klub berlabel “jong” ini maksimal hanya bisa bermain satu kasta di bawah klub utamanya. Oleh karena itu, jangan heran jika klub-klub muda yang ada di Eerste Divisie tak pernah promosi ke Eredivisie.

 

Negara Pertama Penyelenggara Liga Disabilitas

Hebatnya lagi, KNVB ini merupakan salah satu negara yang memiliki liga disabilitas. Mereka membuat sebuah yayasan bernama Het Gehandicapte Kind. Proyek ini merupakan hasil kolaborasi KNVB dan UEFA. Tujuan utama digulirkannya kompetisi ini adalah untuk meningkatkan kesehatan, kemandirian, kepercayaan diri, dan memberi kesempatan anak-anak disabilitas untuk meraih mimpinya menjadi pesepak bola.

Akhirnya, Het Gehandicapte Kind menggulirkan kompetisi bernama Bijzondere Eredivisie pada tahun 2019. Ini merupakan kompetisi sepak bola pertama untuk anak-anak disabilitas. Pada musim pertamanya tersebut, beberapa klub yang mengirimkan kontingen untuk berkompetisi di dalamnya adalah Ajax, ADO Den Haag, De Graafschap, Excelsior, FC Emmen, FC Groningen, FC Utrecht, Heracles Almelo, SC Heerenveen, dan VVV Venlo.

 

Sepak Bola Wanita yang Tumbuh Subur

Soal sepak bola wanita, Belanda juga tak kalah jago. Pembinaan sepak bola wanita di Belanda tak berbeda dengan laki-laki. Bahkan pada usia di bawah 18 tahun, perempuan diperbolehkan untuk bermain bersama dengan laki-laki. Selebihnya, mereka akan bermain untuk tim sepak bola wanita.

Namun tenang saja, kompetisi sepak bola wanita di Belanda juga tak kalah kompetitif dengan laki-laki. Mereka memiliki liga yang terbagi hingga 7 kasta. Lagi-lagi, lebih terstruktur dari Liga Indonesia!

Soal kepelatihan pun, perempuan memiliki kesempatan yang sama. Pernah dengar nama Sarina Wiegman? Nah, pelatih Timnas Putri Inggris ini merupakan salah satu contoh bagus soal pelatih wanita di Belanda. Sarina merupakan salah satu pionir sepak bola wanita di Belanda. Sarina bahkan pernah menjadi juara Piala Eropa dan 2 kali masuk final Piala Dunia. Saking jagonya, dia bahkan masuk bursa calon pengganti Gareth Southgate di Timnas Inggris! 

https://youtu.be/wiCXlCz-Zr0

Sumber: KNVB, KNVB Campus, WorldCoaches, UEFA, dan The Guardian 

Drama Welber Jardim, Mangkir dari Panggilan Timnas Indonesia

0

Bintang Timnas Indonesia U-20, Welber Jardim, dikabarkan tak masuk skuad Indra Sjafri dalam ajang Kualifikasi Piala Asia U-20 2025. Absennya Welber langsung menarik perhatian publik. Sebab, Welber sendiri merupakan salah satu pilar penting di skuad Garuda Nusantara pada ajang AFF U-19 2024 lalu.

 

Namun, drama Welber Jardim dengan Timnas ini ternyata tak terjadi kali ini saja. Sebelumnya, sempat terjadi sesuatu antara Welber dan Timnas Indonesia. Lantas, seperti apa kisahnya? Mari kita bahas.

 

Pertanyaan Ibu Welber

Pada Juni 2024 lalu, ibu Welber Jardim, Lielyana Halim, menggemparkan pecinta Timnas Indonesia. Pasalnya, perempuan asal Banjarmasin tersebut curhat di media sosial dan menyolek PSSI bahkan sang ketua umum, Erick Thohir.

“Yang terhormat Ketum PSSI Erick Thohir atau perwakilan yang bisa menghubungkan saya. Saya mau bicara masalah anak saya, Welber Jardim. Terima kasih. Mohon maaf menghubungi via medsos karena kesulitan mengontak pihak PSSI,” begitulah tulis Lielyana, dikutip dari Tribunnews.

Sontak curhatan ini langsung menjadi buah bibir bagi para pecinta Timnas. Isu-isu liar mulai bermunculan, menggelinding tanpa hambatan, sampai muncullah satu isu yang pada akhirnya menjadi yang paling dominan dibicarakan.

Netizen berspekulasi bahwa pertanyaan ini sepertinya berhubungan dengan status kewarganegaraan Welber. Mereka menerka-nerka dan menyimpulkan bahwa sepertinya Welber juga sedang dipantau Tim Samba.

Memang sih, isu kewarganegaraan ini bisa jadi merupakan kegelisahan yang tersimpan di benak orang tua Welber Jardim. Mengingat usia Welber kini sudah menginjak 17 tahun. Artinya, tahun depan dia harus memutuskan untuk memilih kewarganegaraannya. Apakah akan menjadi warga negara Indonesia atau Brazil.

Masalah ini pada akhirnya langsung ditanggapi oleh PSSI. Erick Thohir menyebutkan bahwa keluhan orang tua Welber tak ada kaitannya dengan kewarganegaraan. Selain itu, Erick Thohir hanya mengindikasikan bahwa ada semacam permintaan khusus dari ibunya Welber terkait teknis sepakbola.

Entah apa yang dilakukan. Namun, pada akhirnya Welber pun tetap ikut ke dalam skuad Indra Sjafri di ajang AFF U-19 2024 lalu. Bersama Jens Raven, Welber menjadi salah satu pilar penting Garuda Nusantara. Welber bersama dengan tim akhirnya mengulangi keberhasilan angkatan Evan Dimas yang bisa meraih juara di ajang ini 11 tahun sebelumnya.

 

Absen dari TC di Korea Selatan

Setelahnya, pada bulan Agustus, Welber tak ikut rombongan Indra Sjafri untuk melakukan pemusatan latihan. Pemusatan latihan yang ditujukan untuk persiapan Kualifikasi Piala Asia U-20 2025 ini diadakan di Korea Selatan. Masih ingat kabar Garuda Muda mengalahkan Argentina? Nah, itu merupakan bagian dari program pemusatan latihan di sana.

Sebenarnya tak cuma Welber saja yang tidak mengikuti kegiatan ini, Jens Raven juga mangkir. Namun, ketidakhadiran keduanya sebenarnya bisa dipahami. Sebab, keduanya bermain di luar negeri. Sangat sulit untuk meminta izin dari klub luar untuk melepaskan pemainnya. “Kalau cuma buat latihan, mereka pun latihan di sini,” mungkin kira-kira begitu yang ada di benak klub Welber dan Raven.

 

Kembali Mangkir di Kualifikasi Piala Asia U20 2025

Masalahnya, Welber kembali mangkir saat dirinya dipanggil untuk membela Garuda Muda untuk Kualifikasi Piala Asia U-20 2025. Hal inilah yang membuat nama Welber Jardim kembali menjadi topik hangat di kalangan pecinta Timnas.

Publik kecewa dengan absennya Welber dari Garuda Nusantara. Dirinya merupakan salah satu pilar dan bintang yang digadang menjadi masa depan Timnas Indonesia. Masalah kian membesar setelah Indra Sjafri ternyata sudah diberi tahu bahwa klubnya Welber, Sao Paulo, sudah memberi lampu hijau untuk Welber bergabung ke Timnas Indonesia.

Kekecewaan makin membuncah setelah PSSI sudah menyiapkan tiket untuk Welber datang ke Indonesia. Namun, tak seperti Jens Raven, sang pemain tak kunjung datang ke Indonesia.

 

Respon Indra Sjafri

Sebagai seorang pelatih, Indra Sjafri juga sabar menanti kehadiran Welber. Hingga detik-detik terakhir sebelum pendaftaran pemain untuk Kualifikasi Piala Asia U-20 ditutup, pelatih yang pernah belajar ke Juventus itu masih menanti kehadiran Welber Jardim.

Akan tetapi, Welber tak kunjung datang memenuhi panggilan ibu pertiwi. Akhirnya pada penutupan untuk mendaftarkan pemain, Indra Sjafri pun terpaksa mencoret namanya dari skuad.

“Saya sebagai pelatih harus memilih pemain. Tidak boleh menunggu-nunggu begitu karena pada 20 September 2024, kami wajib sudah daftarkan 23 pemain,“ kata Indra Sjafri dikutip dari Bola.

Ia pun menambahkan tak mau lagi menghabiskan energi untuk mengurusi Welber Jardim seorang. Indra Sjafri tak mau masalah ini terus-terusan digoreng. Jika terus mengungkit permasalahan ini, menurut Indra Sjafri, hal itu justru seolah-olah membuat pemain lain tidak memiliki kontribusi di timnya.

 

Klarifikasi Ayah Welber

Di lain tempat, ayah Welber, Elisangelo Jardim memberi klarifikasi bahwa Welber mangkir karena ingin membantu klubnya. Welber memutuskan untuk bertahan karena jadwal Sao Paulo muda sedang padat. Sang ayah juga mengakui bahwa tiket sudah dibelikan, klub juga sudah memberi lampu hijau, tapi Welber sedang berusaha menambah jam terbangnya agar bisa tembus tim utama.

”Welber bilang ke saya ‘Pak, pelatih sangat senang sekali saya bisa tinggal di sini dan membantu tim’. Sejak saat itu, Welber bermain terus, bisa mencetak gol, performanya naik luar biasa, saya ada statistiknya,” cerita Elisangelo kepada Kumparan.

Sang ayah pun menyebut bahwa Welber sedang butuh adaptasi dengan Sao Paulo. Sebab, mereka baru saja melakukan pergantian pelatih. Welber butuh waktu untuk bisa menyesuaikan taktik dan skema pelatih barunya.

 

Seperti Apa Sebenarnya Welber Jardim?

Memangnya sehebat apa sosok Welber Jardim ini? Kok ketidakhadirannya bisa jadi polemik di kalangan pecinta Timnas Indonesia. Jadi begini, harus diakui bahwa Welber Jardim memanglah pemain potensial yang berbakat.

Welber merupakan gelandang yang memiliki kemampuan giring bola yang bagus. Tak hanya itu, pemahaman taktikalnya juga bisa dibilang bagus untuk anak seusianya. Salah satu pelatih Sao Paulo, Marcelo Texeira, juga mengagumi kemampuan umpan jarak jauhnya. Semua kemampuannya ini merupakan hasil dari rutinnya Welber Jardim bermain dengan skuad junior Sao Paulo.

Tak hanya itu, Welber pun tak lepas dari pantauan pelatih Tim Samba Junior, Phelipe Leal. Ia mengaku bangga bahwa ada pemain berbakat dari Brazil yang bisa tampil untuk negara lain. “Itu adalah suatu kehormatan yang luar biasa buat kami, sebab ada satu pemain yang luar biasa di Brasil namun juga mempunyai darah Indonesia yang akan memperjuangkan karirnya,” ungkap Phelipe via TVOneNews

 

The Next Elkan Baggott?

Mangkirnya Welber Jardim ini pun membuatnya dikait-kaitkan dengan Elkan Baggott. Sebab, Big Elk juga pernah tersandung kasus indisipliner seperti ini. Big Elk beberapa kali mangkir dari panggilan Shin Tae-yong, yang membuatnya jarang dipanggil kembali untuk membela garuda di dada. Sangat disayangkan, mengingat pemain ini merupakan salah satu potensi di lini belakang Timnas Indonesia.

Nah, Welber Jardim ini ditakutkan akan mengalami nasib yang serupa dengan Elkan. Apabila kasus seperti ini terjadi berulang, bukan tidak mungkin jika ke depannya Welber Jardim tak akan dipanggil ke Timnas lagi. Tak hanya untuk di kelompok usia, tapi bisa juga sampai ke level senior. Mengingat, Shin Tae-yong sangat anti dengan laku-laku indisipliner.

 

Sumber: Tribunnews, Bolasport, Bola, Kumparan, TVOneNews, dan Jawapos 

Pemain Abroad Harus Tiru! Kala Bepe dan Elie Aiboy Guncang Liga Malaysia

Publik sepak bola Indonesia saat ini bisa berbangga melihat pemainnya banyak bermain di luar negeri. Baik yang sekadar merantau di negeri tetangga hingga yang bermain di kompetisi antarklub Eropa.

Namun, dahulu pernah ada pemain Timnas Indonesia yang tak hanya bisa bermain abroad, tapi juga berprestasi dan menjadi legenda di klubnya. Mereka berdua adalah Bambang Pamungkas dan Elie Aiboy. Dua pemain yang diboyong dari Persija ini sudah dianggap sebagai legenda dari klub Malaysia, Selangor. Lantas, kenapa bisa seperti itu? Mari kita bahas sama-sama.

 

Kepindahan Keduanya dari Persija

Bambang Pamungkas dan Elie Aiboy datang ke Selangor pada tahun 2005 dari Persija Jakarta. Selangor sendiri, sebenarnya sudah sejak lama mengincar Bambang Pamungkas. Striker hasil didikan Diklat Salatiga ini diincar oleh Selangor sejak dirinya membobol gawang Timnas Malaysia di ajang Piala AFF 2002. Kala itu, gol semata wayang Bepe di semifinal tersebut berhasil memupuskan asa Harimau Malaya melaju ke final.

Keinginan Gergasi Merah untuk mendatangkan Bepe tersebut akhirnya baru terwujud beberapa tahun setelahnya. Sementara untuk Elie Aiboy, kedatangannya ke Selangor sejatinya tak pernah direncanakan. Ia berhasil memikat hati Datuk Haji Hamidin, presiden Gergasi Merah yang kala itu sedang memantau Bepe untuk diboyong.

“Pada saat saya main lawan Persijatim di Lebak Bulus, saya tidak bikin gol, tapi saya mengumpan tiga gol, tiga-tiganya untuk Bambang Pamungkas,” ujar Elie Aiboy di kanal Youtube Persija Jakarta.

Namun uniknya, Elie malah dikira sebagai pemain asing oleh Datuk Hamidin. Presiden Selangor yang sudah berkomunikasi dengan Bepe langsung bertanya kepadanya soal Elie. “Bepe, Itu pemain asing kah, yang nomor delapan itu? Nigeria kah atau dari mana?’, tanya Datuk Hamidin. Mendengar pertanyaan tersebut, sontak Bepe langsung tertawa.

Kemudian Bepe menjelaskan bahwa Elie bukan orang asing, dia orang Indonesia dari Papua. Akhirnya, Datuk Hamidin langsung menanyakan soal Elie kepada pihak Persija. Bang Yos yang kala itu merupakan bos Persija, tanpa basa-basi melepas pilar utamanya ke Selangor. Bos Persija itu lebih rela kehilangan keduanya untuk pergi ke luar negeri ketimbang melihat mereka bermain untuk tim lawan di Liga Indonesia.

 

Membawa Selangor Kembali Ke Atas

Sesampainya di Malaysia, Bepe dan Elie mendapatkan tugas yang sangat berat, yakni mengembalikan Selangor ke kasta teratas sepak bola Malaysia. Selangor sendiri termasuk klub yang terdegradasi tahun 2003 karena reformasi sistem kompetisi di Malaysia. Sejak tahun 2004, Malaysia Super League diciptakan sebagai kompetisi teratas Malaysia menggantikan Premier League yang kemudian menjadi kasta kedua.

Nah, Selangor sendiri termasuk enam klub yang terdegradasi ke kasta kedua. Sebab, musim pertama Super League, hanya terdiri dari delapan klub saja. Padahal di musim sebelumnya ada 13 klub yang berlaga di kasta tertinggi. Setelah gagal meraih promosi pada 2004, Selangor merombak timnya dan menunjuk Dollah Salleh sebagai pelatih. Termasuk mendatangkan dua bintang Indonesia Bambang Pamungkas dan Elie Aiboy.

Tanpa basa-basi, di laga pertamanya, Bepe langsung mencetak sebuah gol. Pemain yang mengidolai Carlos Valderrama tersebut hanya butuh waktu 8 menit untuk memperkenalkan diri ke khazanah sepak bola Malaysia. Di akhir laga, Bepe dan Elie berhasil membuat Selangor menang 4-1 atas Melaka.

Selama satu musim di Liga Premier itu, Bepe berhasil menjadi top skor kompetisi dengan 23 gol. Jumlah ini mengungguli duetnya di Selangor, Brian Fuentes, dan nama-nama yang kelak bakal bersinar di Liga Indonesia seperti Christian Bekamenga dan Roman Chmelo. Sementara Elie Aiboy, menjadi winger lincah yang menjadi penyuplai baik Bepe maupun Brian Fuentes.

Selangor akhirnya menjadi juara kompetisi Premier League setelah mengalahkan Negeri Sembilan 4-2 lewat babak pertambahan waktu. Selangor yang hampir kalah berhasil comeback dan Bepe menjadi salah satu aktor yang mencetak gol di babak pertambahan waktu tersebut.

 

Treble!

Jika kalian berpikir, “Ah itu mah gampang, kan mainnya di kasta kedua,” tolong dijaga dulu otaknya. Di musim ini, Selangor tak hanya menjadi juara Premier League, tapi juga menyapu bersih Piala FA dan Piala Malaysia. Alias, mereka berhasil menyapu bersih semua kompetisi yang diikutinya dan meraih tiga trofi dalam satu musim! Prestasi yang sangat sulit untuk diikuti oleh pemain Indonesia lain.

Di Piala FA, Selangor harus menghadapi peringkat tiga Super League musim 2005, yakni Perak. Jika hanya dilihat secara kasta, keduanya memang beda jauh, tapi kalau segi kualitas, boleh diadu. Di hadapan publik Stadion Shah Alam, Bepe menunjukkan kelasnya. Laga baru berjalan 8 menit, jala Perak sudah ia jebol. Pemain lincah ini tidak sedang main-main.

Elie Aiboy pun ikut-ikutan di menit ke-24. Di akhir laga, Bepe mencetak gol sekali lagi sehingga membuat laga berakhir 4-2 untuk kemenangan Gergasi Merah. Selain mencium sebuah trofi, di akhir laga Bepe juga mengantongi gelar top skorer kompetisi.

Puncaknya adalah final Piala Malaysia yang waktunya sekitar seminggu setelah mereka berpesta di Shah Alam. Yang lebih epik, laga final yang kebetulan melawan juara Super League 2005 ini merupakan panggungnya Bepe dan Elie. Duo Indonesia ini menggila di final kompetisi cup paling tua di Asia ini. Asal kalian tahu saja, kompetisi yang sudah digelar sejak 1921 ini merupakan ajang yang sangat bergengsi di Malaysia.

Di hadapan Stadion Nasional Bukit Jalil, Bepe dan Elie menaklukkan juara Super League dengan skor 3-0. Kenapa yang disebut hanya Bepe dan Elie? Ya karena semua golnya diciptakan oleh Bepe dan semua assist-nya berasal dari Elie.

Hebatnya lagi, Bepe jadi top skor lagi! Meski, 7 golnya tersebut sebenarnya setara dengan rekannya, Brian Fuentes. Ini adalah momen ketika bendera Indonesia Bepe kibarkan di tengah lapangan markas Harimau Malaya.

 

Menjadi Legenda dan Menginspirasi

Sayangnya, kegemilangan Selangor di 2005 tak bisa diulangi pada 2006. Meski mereka bisa menembus babak delapan besar AFC Cup, Selangor malah kembali terdegradasi sebagai juru kunci. Tapi uniknya, Selangor menjadi klub dengan produktivitas nomor dua bersama TM Malaka dengan 31 gol. Bepe menjadi pencetak 11 gol di antaranya dan menjadi top skorer ketiga.

Sementara, catatan kebobolan Selangor menjadi yang terburuk di liga. Gergasi Merah terbobol 46 kali. Artinya, bukan Bepe dan Elie yang jelek, tapi pertahanan Selangor yang terlampau busuk.

Setelah musim 2006 berakhir, kontrak Bepe dan Elie habis. Keduanya kembali ke Indonesia. Meskipun Bepe sebenarnya diincar oleh Kedah dan Elie juga sempat akan ditarik kembali ke Selangor pada 2007. Pada akhirnya, mereka menjadi legenda bagi Selangor. Keduanya sangat dicintai.

Bahkan wajah mereka sampai dijadikan mural di Stadion Shah Alam, sebelum stadion itu diambrukkan pada pertengahan 2024. Di mural itu juga terdapat satu pemain Indonesia lain, yakni Andik Vermansah. Pemain yang juga berprestasi bersama Selangor, mengikuti jalan Bepe dan Elie.

Sekadar fun fact, selain Bepe, Elie, dan Andik, ternyata dahulu ada orang Indonesia yang juga berhasil meraih Piala Malaysia bersama Selangor. Orang itu bernama Ristomoyo Kassim. Beliau adalah orang Indonesia pertama yang berkarir di Malaysia dan meraih Piala Malaysia pada edisi 1986.

Sumber: Goal, Detik, Persija, Indosport, Kompas, TVOneNews, dan Vocket FC

Dari Bocah Medioker yang Dihina, Puyol Berhasil Bungkam Keraguan Barcelona

0

Satu pilar penting dari skuad tiki-taka legendaris Barcelona yang sering terlupakan adalah Carles Puyol. Dia adalah otak yang memimpin skuad legendaris asuhan Pep Guardiola tersebut. Saking luar biasanya Puyol, mantan rekannya, Gerard Pique, sampai menyebut bahwa predikat “The Next Puyol” adalah omong kosong. Sebab, tak akan ada lagi pemain seperti Puyol.

Meski pada akhirnya menjadi legenda, awal karir Puyol di Barca ternyata harus diraih dengan berdarah-darah. Ia diragukan bahkan dihina. Meski pada akhirnya, kerja keras dan keyakinan Puyol berhasil membungkam semua hal buruk yang ia terima. Lantas, seperti apa kisahnya? Mari kita bahas.

 

Bocah Medioker

Carles Puyol lahir di sebuah desa kecil di sekitar gugusan pegunungan Maurici, sekitar 3 jam dari Barcelona yang terletak di pesisir. Selayaknya anak kecil di lingkungannya saat itu, Puyol sangat mencintai sepak bola. Namun, dia bukanlah anak yang paling bertalenta. Skill Puyol hanya rata-rata seperti anak seusianya. Bukan seperti Lionel Messi dan Andres Iniesta yang sejak kecil sudah menyilaukan mata.

Puyol kecil bergabung dengan klub lokal, CF Pobla de Segur. Saat kecil posisinya adalah kiper. Namun, karena bahunya cedera, ia akhirnya dipasang sebagai striker. Setelahnya, ia dipindah lagi menjadi pemain tengah hingga pada akhirnya, Puyol terdampar di posisi bek kanan. Karena Puyol ingin selalu bermain bola, ia hanya manut saja keputusan pelatihnya.

Puyol sangat mengidolakan Barcelona, dirinya sangat ingin bergabung ke La Masia. Namun, kesempatan itu tak kunjung didapatkannya. Pemandu bakat La Masia memang sering blusukan untuk mencari pemain, tapi Puyol tak pernah terpilih.

Suatu kali, ia pernah ditawari untuk ikut trial di akademi Real Zaragoza, namun Puyol menolaknya. Sebab, dirinya yakin bisa meraih mimpinya untuk berseragam Blaugrana. Jika pun kesempatan itu tak pernah datang, Puyol siap berhenti main bola.

 

Pesan Penting Sang Ayah

Suatu ketika pada tahun 1995, pemuda kelahiran 13 April 1978 ini mendapat kesempatan untuk berlatih bersama La Masia. Namun, kesempatan itu hanya berlaku satu hari. Ya, hanya satu hari saja waktu yang Barcelona berikan untuk Puyol. Dalam waktu sesingkat itu, Puyol harus betul-betul memanfaatkannya.

Ini adalah kesempatan langka, umurnya sudah 17 tahun, bisa jadi ini adalah kesempatan terakhirnya untuk bisa masuk Barca U19. Jika tidak, Puyol siap untuk meninggalkan sepak bola untuk selamanya. Karena Puyol kecil sudah berjanji pada dirinya, dia tak akan membela klub sepak bola kecuali Blaugrana semata.

Ketika kesempatan langka tersebut terdengar ke telinga orang tuanya, sang ayah hanya membekali Puyol sebuah pesan sederhana. Dikutip dari Tribuna, sang ayah hanya berpesan, “Jika mereka tak memilihmu karena ada anak yang lebih berbakat, itu tak apa. Namun, jika mereka tak memilihmu karena ada anak yang berusaha lebih keras, carilah rumah lain untuk pulang.”

Pesan itu menancap kuat di ingatan Puyol. Ajaibnya, kesempatan sehari itu malah diperpanjang untuk sehari lagi, kemudian sehari lagi, dan sehari lagi. Hal ini berjalan hingga satu bulan hingga pada akhirnya, ada nama Carles Puyol di skuad Barca U19. Kini, mimpinya masuk ke La Masia tercapai. Namun, ini hanya permulaan, sebab perjuangannya masih sangat panjang.

 

Keraguan dan Penghinaan

Meski sudah masuk ke Barcelona, karirnya di Camp Nou masih harus diperjuangkan mati-matian. Ia bahkan sudah secara tidak langsung didepak oleh Louis van Gaal pada 1998. Van Gaal yang datang sebagai penerus Johan Cruyff, menerima tawaran Malaga yang ingin menggaet Puyol muda.

Ini merupakan tanda bahwa pemain berusia 20 tahun tersebut tak ada dalam rencana jangka panjang Van Gaal. Meskipun di Barca B, Puyol merupakan pemain reguler yang mengisi pos bek kanan. Ia menjadi korban dari bias Van Gaal yang lebih suka menarik banyak pemain Belanda ke Camp Nou.

Puyol baru mendapatkan debut di usia 21 tahun pada 2 Oktober 1999. Puyol masuk sebagai pengganti di laga tandang melawan Real Valladolid. Di bawah Van Gaal, Puyol hanya menjadi ban serep dari bek kanan asal Belanda yang diboyongnya dari AC Milan, Michael Reiziger. Wajar sih, pemain keturunan Suriname ini memang andalan Van Gaal saat menjuarai Champions League bersama Ajax.

Namun, Puyol yang memang dari sananya sudah baik hati dan pekerja keras, hanya menganggapnya sebagai motivasi saja. Dirinya percaya bahwa kelak, ia bisa seperti rekan setimnya di La Masia, Xavi Hernandez yang sudah menjadi tulang punggung tim.

Bahkan Van Gaal sendiri pernah menganggapnya sebagai pemuda yang tak punya uang. Sebab, rambutnya tumbuh terlampau panjang seperti orang yang tak mampu membayar tukang cukur saja. Pedas juga omongan bapak-bapak ini.

 

Pembuktian Sang Kapten

Lambat laun, Puyol mulai diberi jam terbang. Puyol yang saat itu masih memakai nomor 24 langsung mendapatkan tugas berat. Pada El Clasico pertama setelah pengkhianatan Figo, Van Gaal memberinya tugas untuk menjaga sang pengkhianat. Puyol tentu saja menerima tantangan Van Gaal. Ia berhasil menjaga Figo dan Real Madrid sehingga mereka tak bisa membalas dua gol dari Blaugrana.

Performanya di laga ini langsung menarik perhatian Cules. Aksi epiknya menahan bola James Obiorah dengan dadanya pada Champions League 2002 semakin membuatnya dipuja fans.

Masa depan Puyol semakin cerah ketika Van Gaal pergi. Frank Rijkaard yang meneruskan tonggak kepemimpinan Van Gaal, ternyata memilihnya sebagai pilar utama di belakang. Bahkan setelah Luis Enrique pensiun, nama Puyol yang terpilih sebagai kapten Barcelona. Alih-alih Xavi Hernandez.

Di bawah kepemimpinannya ini Barcelona kembali menuai trofi. Ia adalah sosok yang mampu menjadi teladan dan mengendalikan teman-temannya. Pemain emosional seperti Ronaldinho bisa luluh di hadapannya. Ia juga selalu mengedepankan respek kepada lawan. Misalnya, pada saat laga melawan Mallorca. Ia tak melawan ketika ditampar oleh pemain lawan. Malahan, Puyol menjaga lawan yang sudah menamparnya dari amarah Ronaldinho.

Kehebatan Puyol ini semakin menjadi kala Pep Guardiola datang dan membawa pulang Gerard Pique. Mereka berdua bisa membuat Barcelona-nya Pep menjadi salah satu tim terbaik sepanjang masa. Bagaimana tidak terbaik? Kalau mereka merupakan tim pertama yang meraih sextuple atau mendapatkan 6 trofi sekaligus.

Hebatnya lagi, Puyol tak hanya mengubah lini belakang Barcelona menjadi tembok yang sulit ditembus, tetapi juga membawa tembok ini ke level internasional. Piala Eropa 2008 adalah awal dari kejayaan Spanyol di era modern, dan Carles Puyol adalah salah satu pilar pentingnya.

Ia bisa mengendalikan ego para pemain Barcelona dan Real Madrid yang saat itu memang sedang panas-panasnya. Kesatuan kekuatan dua raksasa sepak bola ini benar-benar menjadi kekuatan yang mengerikan. Mereka hanya sekali terbobol di fase gugur Piala Dunia 2010 dan pulang membawa trofinya. Pun di tahun 2012, Puyol masih mampu membawa kembali Piala Eropa.

Sayang, karir Puyol berakhir karena cedera. Ia pensiun di akhir musim 2013/14. Bahkan Puyol sendiri yang mengumumkan keputusan ini di hadapan para media. Ia memutus kontraknya yang masih tersisa dua tahun karena tak ingin memakan gaji buta dari klub kesayangannya, FC Barcelona. 

 

Sumber: Bleachers Brew, Tribuna, Hive, FCB, dan The Guardian 

Berita Bola Terbaru 26 September 2024 – Starting Eleven News

HASIL PERTANDINGAN

Dari hasil La Liga jornada ke-7, Barcelona kembali belum terkalahkan setelah berhasil mengandaskan tamunya, Getafe dengan skor tipis 1-0. Gol satu-satunya El Barca dicetak oleh Lewandowski di menit 19. Hasil ini membuat posisi Blaugrana kokoh di puncak klasemen La Liga dengan raihan 21 poin.

Beralih ke hasil Europa League. Manchester United gagal meraih poin penuh setelah hanya bermain seri 1-1 saat menghadapi timnya Mees Hilgers, FC Twente. Gol yang dicetak oleh Christian Eriksen di menit 35, berhasil disamakan oleh Sam Lammers di menit 68. Hasil ini membuat Red Devils sementara berada di posisi 11 klasemen Europa League.

Sementara itu dari laga Kualifikasi Piala Asia U-20 2025, Timnas Indonesia berhasil menggasak Maladewa empat gol tanpa balas. Semua gol dicetak di babak kedua masing-masing oleh Aditya Warman, Figo Dennis, Toni Firmansyah, dan Jens Raven. Kemenangan ini bisa menjadi modal positif Indonesia menghadapi Timor Leste pada laga selanjutnya, Jumat 27 September mendatang.

Pindah ke hasil dari ronde ketiga Carabao Cup. Arsenal berhasil menang besar atas tamunya Bolton Wanderers 5-1. Gol dari The Gunners masing-masing dicetak oleh brace dari pemain muda Nwaneri, gol debut dari Sterling, dan gol dari Declan Rice dan Kai Havertz.

Masih dari hasil Ronde ke-3 Carabao Cup. Di tempat lain, Liverpool juga menang dengan skor 5-1 saat menjamu tamunya West Ham United. Gol dari pasukan Arne Slot dicetak oleh brace dari Diogo Jota, brace dari Cody Gakpo dan satu gol lainnya dari Mohamed Salah.

HASIL UNDIAN CARABAO CUP

Pasca kemenangan Arsenal dan Liverpool, EFL telah resmi mengundi ronde ke-4 atau babak 16 besar Carabao Cup. Dilansir Goal, dari hasil undian ronde ke-4 tersebut menghasilkan laga di antaranya Manchester City yang akan bertemu dengan Tottenham Hotspur. Selain itu, ada Brentford yang akan bertemu Sheffield Wednesday, Soton akan melawan Stoke City, dan Aston Villa akan melawan Crystal Palace. Lalu MU akan berhadapan dengan Leicester, Arsenal akan menghadapi Preston, dan Liverpool akan menghadapi Brighton. Sementara itu pemenang dari laga tunda Wimbledon vs Newcastle akan bertemu Chelsea. Laga ronde ke-4 ini rencananya akan dimainkan mulai tanggal 28 Oktober 2024.

HILGERS DIKASIH BENDERA MERAH PUTIH

Sementara itu, laga MU vs Twente di Liga Eropa menyisakan kisah menarik. Sebelum laga pemain FC Twente, Mess Hilgers tak mengira ada fans Indonesia yang mengikutinya. Fans tersebut memberinya bendera merah putih seusai latihan. Hilgers lalu membagikan ceritanya saat ditemui fans tersebut. Ia menulis di insta story-nya ungkapan terima kasih kepada fans tersebut yang sudah menunggu di luar stadion. Dalam postingannya tersebut Hilgers terlihat memangku bendera merah putih pemberian fans tersebut.

STATISTIK KEREN HILGERS IMBANGI MU

Bendera merah putih tersebut secara tak langsung memberikan semangat berlipat ganda pada Hilgers. Catatan penampilan Hilgers di laga tersebut pun terbilang mengesankan. Secara statistik, bek tengah 23 tahun itu melakukan delapan kali sapuan, paling banyak dibanding rekan satu timnya. Hilgers juga melakukan total tiga tekel sukses, dan 92% umpan sukses. Fotmob juga memberikan rating 7.0 untuk aksi Mees Hilgers. Hanya ada dua pemain Twente yang punya rating lebih tinggi darinya, yakni bek kanan Bart van Rooij (7,6), dan sang pencetak gol Sam Lammers (8,2).

POLISI TAHAN FANS LAZIO YANG BERSENJATA

Masih dari Europa League. Dilansir Goal, kepolisian Jerman dilaporkan telah menahan sekitar 60 fans Lazio yang kedapatan membawa senjata saat away ke Volksparkstadion jelang laga melawan Dynamo Kiev. Sekitar 60 ultras Lazio tersebut menurut pihak kepolisian setempat kedapatan membawa pisau, pentungan, dan senjata tajam lainnya saat mau masuk stadion. Pihak Lazio juga telah merilis pernyataan resmi yang mengonfirmasi bahwa para fans yang ditahan tersebut, juga akan dihukum larangan menghadiri laga Lazio berikutnya.

KEJUTAN SUPERCOMPUTER OPTA TEBAK JUARA EUROPA LEAGUE

Masih dari pekan pertama Liga Eropa. Dilansir Sportbible, jelang laga pertama Europa League musim ini Supercomputer Opta memprediksi siapa yang berpeluang menjadi juara musim ini. Secara mengejutkan FC Porto diprediksi menjadi juara. Klub asal Portugal itu diberi peluang tertinggi yakni 17,8%. Sementara kejutan lainnya yakni ada di nomor dua dan tiga yang ditempati klub La Liga Athletic Bilbao dengan 10,9%, dan klub Liga Ceko Slavia Praha dengan 9,6%. Sementara itu klub-klub macam Spurs, Roma, dan MU malah hanya menempati posisi keempat, kelima, dan keenam.

EMPAT CALON PENGGANTI RODRI DI CITY

Beralih ke kabar dari Liga Inggris. Dilansir Sportbible, Manchester City telah menyusun daftar empat pemain yang disiapkan untuk jadi pengganti Rodri. Dari keempat pemain tersebut rencananya akan diproses untuk bisa didatangkan pada Januari nanti. Menurut laporan, keempat pemain tersebut adalah Nicolo Barella, gelandang Atalanta Ederson, gelandang Crystal Palace Adam Wharton, dan Martin Zubimendi. Namun, dalam rentang waktu jangka pendek hingga Januari, Pep sementara akan mengandalkan Kovacic untuk menempati posisi Rodri

MAGUIRE DIDENDA GARA-GARA NGEBUT

Kabar lainnya datang dari pemain MU, Harry Maguire. Dilansir dari Daily Mail, bek MU tersebut telah dikenakan denda setelah mengaku bersalah atas tindakan ngebut di jalanan Sheffield dengan mobil Land Rover-nya pada bulan Maret lalu. Akibat pengakuan kesalahannya tersebut, Maguire tak harus datang ke persidangan kasusnya. Ia hanya disuruh untuk membayar denda sebesar 1.208 pounds.

MBAPPE ABSEN TIGA PEKAN

Beralih ke kabar La Liga. Dilansir dari Goal, pemain Real Madrid Kylian Mbappe telah dipastikan absen karena cedera selama tiga pekan. Tim medis El Real menyatakan bahwa Mbappe didiagnosis mengalami cedera pada otot bisep femoralis kaki kirinya pasca laga melawan Alaves. Dengan cedera tersebut, Mbappe akan absen di pertandingan La Liga melawan Atletico Madrid, laga melawan Lille di UCL, dan kemungkinan pertandingan La Liga berikutnya melawan Villarreal. Selain itu, Mbappe juga akan absen membela Timnas Prancis di laga Nations League saat melawan Israel dan Belgia.

BENTROKAN PANAS DERBY DELLA LANTERNA

Kabar berikutnya datang dari sepakbola Italia. Dilansir dari Football Italia, telah terjadi bentrokan antara Ultras Genoa dan Sampdoria pasca laga Coppa Italia keduanya. Bentrokan tersebut terjadi di luar Stadion Luigi Ferraris. Kembang api dan benda-benda lainnya terlihat dilemparkan dalam bentrokan tersebut. Bentrokan Derby Della Lanterna ini sebenarnya sudah terjadi di dalam stadion selama laga berlangsung. Polisi anti huru-hara pun berusaha memisahkan bentrokan mereka. Menurut laporan, sudah ada tanda-tanda akan terjadi bentrokan pasca laga ketika Ultras Sampdoria meninggalkan tribun lebih awal, dengan tujuan untuk menghadang Ultras Genoa.

PENSIUN, VARANE TETAP DI COMO

Berikutnya ada kabar dari Raphael Varane yang baru saja mengumumkan pensiun. Dilansir dari Football Italia, meski pensiun ia akan tetap berada di Como. Varane mengatakan akan mengambil peran yang berbeda. Pihak Como juga mengatakan hal serupa. Namun, belum jelas peran baru apa yang akan diberikan Como pada Varane.

TEMAN SATU TIM CR7 JADI BINTANG PORNO

Kabar berikutnya datang dari teman CR7, Fabio Paim. Dilansir The Sun, teman satu tim CR7 di akademi Sporting Lisbon tersebut kini beralih profesi sebagai bintang porno. Saat ditemui pihak The Sun dalam sesi pemotretan, mantan pemain Chelsea tersebut terlihat bersama artis porno wanita, Diana Melancia. Karier sepakbola Fabio Paim memang buruk setelah sebelumnya sempat dipenjara akibat kasus narkoba. Fyi, Fabio Paim ini sudah pensiun menjadi pesepakbola pada pada tahun 2021 lalu di klub Polandia, LZS Starowice Dolne.

PSSI KERJASAMA DENGAN KNVB

Beralih ke kabar sepakbola nasional. PSSI secara resmi telah menjalin kerja sama dengan Federasi Sepak Bola Belanda (KNVB) untuk mempercepat prestasi sepak bola Indonesia dari usia muda, wanita, hingga senior. Ketum PSSI, Erick Thohir resmi menandatangani nota kesepahaman dengan pihak KNVB yang diwakili oleh Sekjen KNVB Gijs de Jong, Kepala Program Internasional KNVB, Michael van der Star, dan Kepala Pemasaran dan Kerjasama KNVB, Ruud van der Sar. Menurut Erick Thohir, kerjasama ini adalah kelanjutan dari pertemuan mereka pada bulan Mei lalu.

BOCORAN PEMAIN NATURALISASI BERIKUTNYA

Sementara itu dari kabar lainnya, Anggota Exco PSSI, Arya Sinulingga, kembali memberikan bocoran terkait pemain keturunan baru yang akan bergabung dengan timnas Indonesia. Bocoran tersebut keluar dari mulut Arya Sinulingga di channel YouTube pribadinya. Menurut Arya, setelah Hilgers dan Eliano akan ada dua pemain lagi yang segera diproses dinaturalisasi pada bulan Oktober nanti, dan diharapkan bisa mulai tampil melawan Jepang dan Arab Saudi di bulan November. Bocorannya menurut Arya, dua pemain tersebut adalah pemain yang menempati sektor penyerangan, yakni gelandang serang dan striker.

NEWCASTLE IKUT BANTU WIMBLEDON BENAHI RUMPUT STADION

Dilansir dari tribalfootball, Newcastle United telah ikut membantu AFC Wimbledon untuk memperbaiki lapangannya yang rusak akibat banjir. The Magpies telah membantu sebesar 15 ribu pounds. Sebelumnya, laga babak ketiga Carabao Cup yang akan dimainkan di markas Wimbledon, Plough Lane resmi ditunda akibat kondisi lapangan yang buruk. Sembari lapangan diperbaiki, laga antara Wimbledon vs Newcastle rencananya akan dipindah ke markas Newcastle St James Park pada tanggal 2 Oktober mendatang.

MCTOMINAY DIAWASI POLA MAKANNYA DI NAPOLI

Bergeser ke kabar dari mantan pemain MU, Scott McTominay. Dilansir dari Daily Mail, McTominay kini sedang diawasi agar tidak tergoda oleh makanan khas kota Napoli. Conte khusus mengundang ahli gizi, Tiberio Ancona untuk mengawasi pola makan pemain baru seperti McTominay. Nantinya pemain seperti McTominay akan membawa pulang sebuah catatan tiap harinya dari Ancona setelah latihan. Isinya adalah daftar yang boleh dan tidak boleh ia makan.

BARCA GANDENG COLDPLAY DI EL CLASICO

Dari Italia pindah ke Spanyol. Dilansir dari Mirror, Barca akan menggunakan logo grup band Coldplay di jerseynya pada laga spesial El Clasico 27 Oktober mendatang. Barca yang punya sponsor platform musik Spotify, berulang kali menggunakan logo penyanyi atau band di jersey edisi spesial laga El Clasico. Logo penyanyi atau band seperti Rosalia, Drake, maupun Rolling Stones sebelumnya sudah pernah terpampang di jersey Barca.

MARSEILLE AJUKAN DIRI SEBAGAI TUAN RUMAH FINAL UCL 2027

Beralih ke kabar dari Prancis. Dilansir dari Getfootballnewsfrance, Marseille telah resmi mengajukan kepada UEFA agar stadion Velodrome bisa jadi venue Final UCL 2027. Pengajuan tersebut dilakukan setelah UEFA mengonfirmasi bahwa San Siro dicoret dari venue tuan rumah. Wakil Wali Kota Marseille yang bertanggung jawab atas olahraga, Sebastien Jibrayel, mengkonfirmasi bahwa publik Prancis Selatan akan berusaha keras dan mendorong agar Velodrome bisa jadi tuan rumah Final UCL 2027. Velodrome sendiri berkapasitas sekitar 67 ribu tempat duduk, dan belum pernah menjadi tuan rumah final UCL.

MIRALEM PJANIC RESMI GABUNG KLUB RUSIA

Kabar berikutnya datang dari pemain yang pernah membela Lyon, Miralem Pjanic. Dilansir dari Arena Sport, pemain asal Bosnia Herzegovina ini dilaporkan telah resmi bergabung dengan klub Rusia, CSKA Moscow. Ia datang sebagai agen bebas dan akan dikontrak selama setahun dengan opsi perpanjangan selama setahun. Pjanic dilaporkan telah tiba di Moskow untuk menandatangani kontrak. Fyi, Pjanic telah berstatus bebas transfer setelah dilepas klub asal Uni Emirat Arab Sharjah FC bulan Juli lalu.

MUNCHEN AKAN BERPISAH DENGAN KEPALA PENCARI BAKATNYA

Beralih ke kabar dari sepakbola Jerman. Dilansir dari getfootballnewsgermany, Bayern Munchen dipastikan akan berpisah dengan kepala pemandu bakat mereka, Markus Pilawa. Pria berusia 47 tahun itu bergabung dengan Die Roten sejak 2022 lalu dari Dortmund. Menurut laporan, Piwala adalah korban dari kebijakan manajemen Die Roten yang tengah berupaya merampingkan beberapa departemen, dan mengurangi jumlah staf yang dilaporkan membengkak dalam beberapa tahun terakhir.

FANS TIMNAS JERMAN VOTING PILIH PENGGANTI TER STEGEN

Masih dari kabar sepakbola Jerman. Dilansir dari getnewsfootballgermany, fans Timnas Jerman kini sedang melakukan voting yang digelar oleh Sky Germany untuk memilih siapa yang cocok untuk menggantikan posisi kiper Der Panzer yang ditinggalkan Neuer karena pensiun dan Ter Stegen yang cedera panjang. Dalam daftar voting tersebut terdapat nama kiper seperti Alexander Nubel, Oliver Baumann, Kevin Trapp, Bernd Leno, Noah Atubolu, dan Stefan Ortega. Namun untuk sementara, kiper Stuttgart Alexander Nubel memimpin voting tersebut dengan 64% suara. Diikuti oleh kiper City Stefan Ortega dan kiper Frankfurt Kevin Trapp, dengan masing-masing 14% dan 12%

VIETNAM AKAN TURUNKAN STRIKER NATURALISASI DI PIALA AFF 2024

Kabar berikutnya datang dari sepakbola nasional. Timnas Indonesia sepertinya harus waspada terhadap Vietnam yang rencananya akan memainkan pemain naturalisasinya, Rafaelson atau Nguyen Xuan Son di Piala AFF 2024. Meski pemain tersebut belum memenuhi persyaratan naturalisasi dari FIFA, namun Timnas Vietnam berkilah bahwa turnamen Piala AFF bukan agenda FIFA. Jadi, Rafaelson bisa untuk bermain. Fyi, di Piala AFF 2024 yang akan dimulai bulan Desember nanti, Vietnam satu grup dengan Indonesia, Filipina, Myanmar dan Laos.

TIMOR LESTE JADIKAN INDONESIA PATOKAN SEPAKBOLA

Masih dari sepakbola nasional. Calon lawan Timnas Indonesia di Kualifikasi Piala Asia U-20 2025, Timor Leste, mengakui bahwa Timnas Indonesia dijadikan patokan utama bagi perkembangan sepakbola di negara mereka. Hal tersebut dikatakan sendiri oleh pelatih Timor Leste U-20, Gopal Krishnan Ramasamy. Jelang berduel di hari Jumat 27 September, Gopal mengatakan bahwa perkembangan sepakbola Indonesia jadi satu benchmark atau tolok ukur untuk menilai sejauh mana tim mereka. Selain itu, sering bertemunya Timor Leste dengan Indonesia di beberapa ajang, menurutnya adalah sebuah pelajaran berharga bagi persepakbolaan Timor Leste.

JADWAL TIMNAS INDONESIA LAWAN ARAB SAUDI DAN JEPANG RESMI DIRILIS

Dari kabar lainnya, jadwal laga Timnas Indonesia di Babak Ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia melawan Jepang dan Arab Saudi pada bulan November 2024, telah resmi dirilis oleh AFC. Di dua laga tersebut, Timnas Garuda akan bermain di Stadion Utama Gelora Bung Karno. Untuk jamnya juga sudah ditentukan yakni pukul 19.00 WIB. Timnas Indonesia akan melawan Jepang duluan pada Jumat, 15 November 2024, sebelum melawan Arab Saudi di hari Selasa, 19 November 2024.

Ketika Bakat Rafael Struick Ditemukan PSSI Lewat Football Manager

0

Beberapa pekan lalu, Starting Eleven telah membahas tentang bagaimana PSSI mendapatkan pemain-pemain keturunan yang berkualitas di Eropa. Dan ternyata prosesnya panjang dan merepotkan. Apalagi kalau kasusnya kayak Maarten Paes, duh ribet deh. Kalian bisa tonton langsung selengkapnya di konten sebelumnya.

Tapi ada yang menarik soal bagaimana PSSI menemukan pemain incaran. Selain melalui daftar rahasia yang sudah dimiliki sebelumnya, PSSI memiliki banyak aplikasi dan tools untuk mendapatkan informasi tentang pemainnya. Salah satunya melalui game paling terkenal di dunia, Football Manager. 

Seperti yang kita ketahui, game ini sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia, tak terkecuali orang-orang di PSSI. Dan pemain yang bergabung Timnas Indonesia melalui game tersebut adalah Rafael Struick. Lantas bagaimana kisahnya? 

Kemauan STY

Semua berawal dari 2022. Saat itu, Shin Tae-yong mulai menukangi Timnas Indonesia U-20. Pelatih berkebangsaan Korea Selatan itu melakukan pemusatan latihan di Eropa, tepatnya Spanyol. Hal ini dilakukan demi mendapat fasilitas latihan terbaik dan memudahkan agenda uji coba melawan negara-negara Eropa.

Karena target Shin Tae-yong memang menjajal kekuatan skuadnya untuk melawan tim-tim yang memiliki postur dan teknik yang jauh di atas Indonesia. Semua ini dilakukan demi mempersiapkan tim yang akan tampil di Piala Dunia U-20. Yang kala itu memang rencananya akan diselenggarakan di Indonesia setahun setelahnya.

Spanyol juga dipilih karena dekat dengan Belanda dan Inggris, di mana Ivar Jenner dan Justin Hubner agar tidak menempuh perjalanan yang begitu jauh. Namun, setelah melakukan beberapa sesi latihan, STY merasa ada yang kurang sreg di komposisi skuadnya. Alhasil mantan pelatih Timnas Korea Selatan itu menghubungi Ketua Umum PSSI saat itu, Iwan Bule.

Kepada Ketua Umum PSSI, Coach Shin ternyata meminta tambahan dua pemain keturunan lagi. Namun, kali ini harus pemain yang berposisi striker. Mendengar itu Iwan Bule pun langsung menghubungi staff PSSI, Hamdan Hamedan dan Hasani Abdulgani yang kala itu masih aktif mengurusi pemain-pemain keturunan.

Awalnya Bukan Rafael Struick

Permintaan dua striker sekaligus terbilang mendadak. Karena STY meminta nama tersebut agar bisa langsung bergabung ke pemusatan latihan yang ada di Spanyol. Hamdan Hamedan yang memegang data pemain diaspora pun langsung mencari pemain yang diinginkan Coach Shin.

Ternyata posisi striker menjadi sektor yang minim opsi. Selain sulitnya mencari pemain yang memiliki kecocokan gaya bermain dengan skema yang diusung Coach Shin, nama-nama yang muncul telah berusia matang. Hanya sedikit yang berusia di bawah 20 tahun. 

Dari beberapa nama yang disetorkan ke PSSI dan Shin Tae-yong, nama Zico Soree lebih dulu dipilih. Hamdan Hamedan pun bergerak cepat dengan menghubungi Zico pada malam harinya. Bak gayung bersambut, pemain yang kala itu masih berusia 19 tahun itu juga setuju untuk menyusul Timnas Indonesia U-20 yang sudah ada di Spanyol.

Namun, Shin Tae-yong meminta dua penyerang, jadi Hamdan masih berhutang satu pemain padanya. Hamdan pun berdiskusi dengan beberapa stafnya untuk mencari pemain yang masuk kriteria STY. Di tengah kebingungan, Hamdan mendapat kabar dari koleganya di Belanda, bahwa ada pemain muda ADO Den Haag, bernama Rafael Struick yang disinyalir memiliki darah Indonesia.

Peran Football Manager

Merasa buntu, tim Hamdan Hamedan pun mendengarkan saran temannya dan mencari informasi tentang Rafael Struick. Sialnya, informasi tentang Rafa begitu minim. Hamdan Hamedan kesulitan untuk mengidentifikasi apakah Rafael Struick adalah pemain yang tepat untuk mengisi skuad Timnas Indonesia U-20 atau bukan.

Hamdan pun sampai berselancar di website resmi ADO Den Haag untuk mencari informasi tambahan. Setelah dilihat melalui database, Rafael dinilai sebagai pemain muda yang memiliki potensi besar. Namun, database yang ada dirasa kurang meyakinkan. Alhasil, tim naturalisasi menggunakan sumber lain.

Salah satu orang kepercayaan Hamdan Hamedan mengusulkan ide gila untuk melakukan riset melalui salah satu game bola, Football Manager. Terdengar aneh memang, tapi langkah ini bukan terobosan baru di dunia sepakbola. Football Manager sendiri sudah lama digunakan oleh klub-klub sepakbola Eropa untuk mencari pemain yang sesuai dengan karakteristik tim

Selain itu, tim Hamdan Hamedan memilih Football Manager sebagai tools pembantu karena jaringannya yang luas. Dikutip dari Eurogamer, Football Manager memiliki staff pemandu bakat sebanyak lebih dari 1000 orang yang tersebar di 50 negara di dunia. Sehingga FM mampu mencakup lebih dari 370 ribu pemain dari 20 ribu tim yang berbeda, tak terkecuali tim-tim di piramida sepakbola Belanda.

Mulailah riset mendalam dilakukan oleh tim naturalisasi. Selain kecocokan dengan skema bermain Timnas Indonesia, mereka juga mengidentifikasi beberapa kelebihan dan kelemahan yang dimiliki oleh Rafael Struick. Potensial rating sang pemain pun tak luput dari penilaian. Dirasa cukup, Hamdan pun langsung menandai Rafa dengan tanda hijau. Yang berarti “Good Player” atau pemain yang sangat cocok untuk Timnas Indonesia.

Dipanggil ke Spanyol

Setidaknya butuh tiga hari setelah pemanggilan Zico untuk dapat menghubungi Rafael Struick. Setelah melakukan beberapa panggilan telepon, Hamdan dan PSSI melakukan meeting khusus dengan Rafa dan orang tuanya. Syukurnya, sang pemain tertarik dengan tawaran itu, mengingat Indonesia akan tampil di Piala Dunia U-20.

Pada tanggal 17 November 2022, Rafael Struick dan Zico Soree pun akhirnya merapat ke Spanyol untuk bergabung dengan pemain-pemain Timnas Indonesia yang lain. Setelah melakukan beberapa penyesuaian taktik, Rafael langsung diturunkan di laga melawan Slovakia U-20.

Sialnya, Timnas Indonesia kalah 1-2 dari Slovakia meski sempat unggul lebih dulu. Rafael Struick menjadi pencetak gol satu-satunya bagi tim berjuluk Garuda Nusantara itu. Usai mencetak gol, Rafa pun mengungkapkan kegembiraannya. Dia merasa bangga bisa membela Indonesia. Dirinya juga senang bisa langsung mencetak gol untuk tanah leluhurnya yang luar biasa.

Piala Dunia U-20 Batal

Sementara itu, Shin Tae-yong mengungkapkan plus dan minus performa Rafael Struick usai merampungkan serangkaian uji coba di Eropa. “Secara organisasi permainan, Rafa agak kurang karena memang belum berlatih dengan kami. Namun, secara kemampuan individu tetap baik,” jelas Shin Tae-yong.

Namun, di awal tahun 2023, pemain-pemain yang sedang dipersiapkan menuju Piala Dunia U-20 harus mendapat kabar buruk. Bak petir di siang bolong, FIFA mencabut status Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20 pada Bulan Maret 2023. Dalam surat edaran dari FIFA itu, mereka tidak memberikan penjelasan tegas soal pembatalan tersebut. Hanya ada kata-kata ‘karena situasi saat ini’.

Seperti yang kita ketahui, kala itu ada penolakan yang cukup masif terhadap keikutsertaan Israel sebagai salah satu negara peserta Piala Dunia U-20. Selain itu, Indonesia dianggap belum siap untuk mengadakan event sebesar Piala Dunia. FIFA merasa stadion dan fasilitas penunjangnya belum memadai. Maka dari itu, soal keamanan tim Israel bukan satu-satunya alasan yang mendasari keputusan FIFA.

Kadung Tresno

Tapi mau bagaimanapun batalnya Indonesia menggelar Piala Dunia U-20 adalah sebuah pukulan telak bagi skuad Garuda Muda. Terutama Rafael Struick yang baru saja bergabung. Namun, karena rasa cinta yang sudah tumbuh, Rafael tetap teguh pada pendiriannya untuk membela Timnas Indonesia dengan atau tanpa Piala Dunia. 

Hanya berjarak dua bulan dari pencabutan status tuan rumah Piala Dunia, Rafael Struick yang ditemani oleh Ivar Jenner langsung mengucap sumpah WNI. Setelah sah menjadi seorang warga negara Indonesia, Rafael dengan cepat menjadi aset berharga bagi Indonesia.

Dirinya bahkan hampir tidak tergantikan di skuad STY. Dirinya jadi bagian penting dalam sejarah yang diukir oleh Skuad Garuda. Dari mulai lolos ke babak 16 besar Piala Asia, hingga kini berjuang di ronde ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026. Masyarakat Indonesia pun sampai memberikan panggilan sayang kepada Rafael. Mereka memanggilnya El Klemer.

https://youtu.be/FKtm_3KncDU

Sumber: Rafael Struick.net, Sport Detik, VIVA, Bola.com

Manchester United Era Ten Hag Cuma Aib Inggris di Eropa

0

Fans Manchester United cabang Indonesia pasti dibuat dilema ketika menonton pertandingan antara klub kesayangannya melawan FC Twente kemarin. Gimana enggak? Laga yang dimainkan di Old Trafford itu mempertemukan United dengan tim yang dibela oleh calon pemain Timnas Indonesia, Mees Hilgers.

Perasaan fans United Indonesia seketika terbagi dua antara malu dan bangga. Mereka bangga melihat Hilgers tampil cukup solid dan mampu meredam perlawanan striker-striker United. Tapi di sisi lain malu. Malu karena timnya cuma mendapat hasil imbang ketika melawan tim sekelas Twente.

Apalagi hasil imbang melawan Twente kian menguatkan status kebapukan United di kompetisi Eropa. Khususnya setelah kursi kepelatihan diduduki Erik Ten Hag. Mau bukti? Berikut ada beberapa statistik memalukan United di kompetisi Eropa.

Tren Negatif

Performa yang nggak karuan dari Manchester United memang sudah menjadi rahasia umum. Setelah ditinggal Sir Alex Ferguson, praktis United belum bisa mencapai peak performa seperti dulu. Lucunya, kedatangan Ten Hag yang digadang-gadang bakal memberikan angin segar, justru membawa MU ke lembah kegelapan.

Contohnya pada musim 2023/24, ketika pelatih berkebangsaan Belanda itu mengarahkan para pemain United untuk menjalani hari-hari dengan mimpi buruk. Bahkan lebih buruk dari era kepemimpinan David Moyes beberapa tahun silam. Di Liga Inggris musim 2023/24 United benar-benar mengecewakan, baik dalam jumlah poin, kekalahan, maupun selisih gol.

Namun setelah dilihat-lihat, kekecewaan yang dibawa Ten Hag tidak berlaku di Liga Inggris saja. Ternyata performa yang amburadul juga terekam dengan jelas ketika tampil di kompetisi Eropa. Selama tiga musim ditangani Ten Hag, MU sudah tiga kali pula tampil di kompetisi Eropa. Dua kali di Europa League dan satu kali di Liga Champions. 

Di dua kompetisi itu, United benar-benar jadi aib Inggris. Jadi, kalian sebagai fans jangan mudah terbuai dengan kalimat-kalimat pembodohan yang dilontarkan Ten Hag. Benar kata Ole Gunnar Solskjaer, sebuah trofi di akhir musim bukan tanda sebuah tim telah berbenah. Trofi hanya dijadikan Ten Hag sebagai perisai agar fans bisa sedikit tenang meski performa di kompetisi Eropa tak patut untuk dikenang.

Gagal Menang di Laga Pembuka

Statistik pertama yang membuat Manchester United terlihat bodoh di Eropa adalah jumlah kemenangan di laga pembuka kompetisi. Dari tiga musim, coba tebak berapa laga pembuka kompetisi Eropa yang bisa dimenangkan United? Ya benar, tidak ada. Baik Europa League maupun Champions League.

Rangkaian hasil buruk di laga pembuka berawal pada musim 2022/23. Kala itu, United bersua dengan wakil Liga Spanyol, Real Sociedad di Europa League. Bermain di kandang sendiri, Ten Hag kelewat pede dengan mencadangkan beberapa pemain penting seperti Lisandro Martinez, Raphael Varane, dan Bruno Fernandes. 

Meskipun lini depan dikawal oleh Cristiano Ronaldo, United kalah 1-0 dari Sociedad. Gol Brais Mendez jadi satu-satunya gol yang tercipta di laga ini. Di musim 2023/24, United tampil di Liga Champions. Jelas ini sebuah kemajuan. Tapi tidak dengan performanya. Menghadapi Bayern Munchen di laga pembuka penyisihan Grup A, United dihajar 4-3 di Allianz Arena.

Dan yang terbaru ya pertandingan lawan Mees Hilgers cs kemarin. Lagi-lagi, Manchester United gagal memulai petualangan Eropa-nya dengan manis. Main di kandang sendiri Setan Merah cuma dapet hasil imbang. Duh, mau taruh dimana muka Sir Jim Ratcliffe?

Membiarkan Galatasaray Menang

Dari penampilan Manchester United di Liga Champions musim 2023/24, kita juga disuguhkan dengan beberapa rekor buruk oleh Erik Ten Hag. Saat menghadapi Galatasaray di Old Trafford misalnya. United kala itu kalah 3-2 dari raksasa Turki itu. Kekalahan tentu sudah menjadi sahabat karib bagi MU, tapi kekalahan ini terasa amat berbeda.

Kemenangan atas Manchester United itu praktis membuat Galatasaray jadi tim Turki pertama yang berhasil meraih kemenangan tandang di tanah Inggris dalam 14 tahun terakhir. Besiktas jadi klub terakhir yang menang di Inggris pada tahun 2009 lalu. Lucunya, Besiktas kala itu juga meraih kemenangan dari Manchester United. 

Yang bikin kaget lagi, kemenangan Galatasaray musim lalu merupakan kemenangan perdana mereka atas klub Inggris. Selama hampir 118 tahun berdiri, Galatasaray belum pernah menang dari klub Inggris, hingga akhirnya pecah telor di Old Trafford. Bayangkan, superioritas yang sudah susah payah dijaga oleh klub-klub Inggris dihancurkan begitu saja di tangan pasukan Erik ten Hag. 

Poin Terburuk di UCL

Masih dari musim dan kompetisi yang sama, Erik Ten Hag juga menciptakan rekor buruk lagi di fase grup Liga Champions. Di akhir perjuangannya, United hanya mampu finis di urutan terakhir Grup A Liga Champions musim 2023/24. Bruno Fernandes cs cuma bisa meraih empat poin dari enam pertandingan yang dimainkan. 

Dikutip dari Squawka, Manchester United sebetulnya sudah dua kali finis sebagai juru kunci klasemen di Liga Champions. Sebelum musim 2023/24, Setan Merah juga pernah mengalami nasib serupa pada edisi 2005/06. Ketika itu, United berada di Grup D bersama Villarreal, Benfica, dan Lille.

Namun, yang membuat musim 2023/24 terlihat lebih buruk adalah jumlah poinnya. Di musim 2005/06, United masih mending karena bisa meraih enam poin dari enam pertandingan. Poin itu sama dengan Lille yang berada di urutan ketiga, tetapi United kalah secara head to head

Dengan begitu, raihan poin di fase grup Liga Champions 2023/24 telah resmi menjadi jumlah poin terendah yang pernah diraih dalam sejarah keikutsertaan Manchester United di kompetisi antarklub se-Benua Biru itu.

Rekor Buruk di UCL 2023/24

Eits, masih ada lagi. Sabar, keburukan Manchester United di Liga Champions 2023/24 masih banyak. Selama berkiprah di Liga Champions, United belum pernah mengawali dua pertandingan awal di Liga Champions dengan kekalahan beruntun. Hingga akhirnya di era Erik Ten Hag rekor itu pecah.

United mengalami dua kekalahan beruntun di UCL musim 2023/24. Yang pertama tentu saja dari Bayern Munchen. Yang kedua dialami United kala bertandang ke Galatasaray. Sempat unggul lebih dulu melalui gol Rasmus Hojlund, raksasa Turki itu bangkit dan mengalahkan United dengan skor 3-2.

Sebelumnya, United juga belum pernah kebobolan lebih dari enam gol ketika melakoni dua pertandingan awal di penyisihan grup Liga Champions. Tapi di musim 2023/24, Erik ten Hag kembali memecahkan rekor itu. Dalam dua pekan, United sudah kebobolan tujuh gol.

Statistik keseluruhan

Performa Manchester United secara keseluruhan pun tak kalah mengecewakan. Dari sembilan pertandingan terakhir United di kompetisi Eropa, Erik ten Hag hanya mampu memberikan kemenangan sekali, kalah lima kali, dan sisanya berakhir imbang. Satu-satunya kemenangan yang diraih adalah saat mengalahkan Copenhagen dengan skor 1-0.

Dari segi pertahanan pun United sangat-sangat jauh dari harapan. Jika dihitung, dari sembilan pertandingan terakhir, Setan Merah sudah kebobolan sebanyak 21 gol. Itu berarti United rata-rata kebobolan 2,3 gol per pertandingan. Jumlah kebobolan yang tinggi gagal diimbangi dengan produktivitas gol yang baik. 

Dari sembilan pertandingan terakhir, United hanya bisa membobol gawang lawan sebanyak 15 kali. Itu sama saja dengan 1,6 gol per pertandingan. Melihat riwayat buruk Setan Merah di kompetisi Eropa, sepertinya sudah saatnya mencabut status “Klub Top” dari nama Manchester United. Udah nggak bisa bersaing dengan Manchester City. United justru lebih pas disandingkan dengan klub El Prof, Almere City.

https://youtu.be/SmdhDBo9TeU

Sumber: Transfermarkt, Tribuna, GMS, Goal, The Busby Babe