Beranda blog Halaman 707

Mengapa Tottenham Hotspur Sulit Juara?

“Sangat sulit untuk memenangkan trofi sebelumnya. Sekarang saya mungkin mengalami momen terbaik dalam karier saya. Saya melakukan banyak hal secara berbeda dan sekarang saya memiliki trofi atas nama saya,” ujar Christian Eriksen kepada Gazzetta Dello Sport pasca juara Serie A Italia bersama Inter Milan.

Begitulah bunyi pernyataan Christian Eriksen usai membantu Inter Milan meraih scudetto 2021. Pemain internasional Denmark itu jelas tak bisa menyembunyikan kegembiraannya. Bagaimana tidak, Eriksen baru saja memenangkan trofi pertamanya dalam 8 tahun terakhir kariernya.

Melalui pernyataan tersebut, Eriksen juga mengakui bahwa betapa sulitnya ia meraih juara di klub sebelumnya. Selama 6 setengah tahun mengabdi di Tottenham Hotspur, Eriksen selalu gagal meraih juara. Selain mengundang simpati, pernyataan Eriksen tadi juga mengundang reaksi negatif dari pada pendukung Spurs. Banyak yang menyayangkan pernyataan tersebut, tapi tak sedikit pula yang mengakui dan memahami pengakuan Eriksen tersebut.

Faktanya, Tottenham Hotspur memang kesulitan meraih juara dalam beberapa tahun terakhir. Meski mereka jadi bagian dari “The Big 6” Premier League, prestasi Spurs jauh bila dibandingkan dengan anggota lainnya. Mereka memang klub besar. Sepanjang sejarahnya, Spurs sudah menjuarai Liga Inggris 2 kali, FA Cup 8 kali, Piala Winners satu kali, dan Piala UEFA 2 kali. Sayangnya, semua gelar tersebut diraih sebelum era 2000an.

Sudah begitu lama sejak terakhir kali Tottenham Hotspur menjuarai sebuah kompetisi besar. Dahulu, Spurs adalah tim yang cukup diperhitungkan di Inggris, bahkan Eropa. Mereka juga merupakan salah satu pendiri Premier League pada 1992. Sayangnya, begitu era Premier League dimulai, prestasi Spurs berangsur memburuk. Setelah menjuarai Piala FA 1991, performa Spurs justru menurun dan hanya mampu bersaing di papan tengah.

Kemunduran di era 90an itulah yang membuat posisi Alan Sugar sebagai pemilik Spurs mendapat tekanan. Bayangkan saja, mereka dulu punya pemain berkelas semacam Jurgen Klinsmann atau Teddy Sheringham. Namun, Spurs hanya mampu menjuarai EFL Cup 1999. Singkat cerita, setelah muncul berbagai spekulasi, Alan Sugar akhirnya menjual kepemilikannya kepada ENIC Group pada Februari 2001. Sejak saat itu, pemilik Spurs beralih kepada perusahaan investasi yang dijalankan oleh Joe Lewis dan Daniel Levy.

Daniel Levy kemudian diketahui diberi kepercayaan sebagai chairman, alias orang tertinggi dalam perusahaan yang mengelola Tottenham Hotspur. Di bawah kendali ENIC, perubahan mulai dilakukan. Mereka diketahui membangun sarana latihan baru senilai 45 juta euro dan merenovasi stadion White Hart Lane menjadi Tottenham Hotspur Stadium yang menelan biaya hingga 1,2 miliar euro. Sayangnya, sejak 2001 hingga sekarang, Spurs hanya menjuarai Piala Liga musim 2007/2008.

Jadi, apa saja penyebab sulitnya Spurs meraih prestasi?

 

1. Penunjukan dan pemecatan manajer yang tidak tepat

Selama masa kepemimpinan Daniel Levy, mayoritas manajer yang ditunjuk untuk menangani Spurs bukanlah manajer papan atas. Tercatat, dari 2001 hingga sekarang, total ada 12 manajer yang pernah menangani Spurs. Mulai dari Glenn Hoddle, David Pleat, Jacques Santini, Martin Jol, Clive Allen, Juande Ramos, Harry Redknapp, Andre Villas-Boas, Tim Sherwood, Mauricio Pochettino, Jose Mourinho, dan Ryan Mason yang kini sedang bertugas sebagai manajer interim.

Dari daftar tersebut, hanya ada 3 nama pelatih yang pernah membawa klub sebelumnya meraih juara. Mereka adalah Juande Ramos yang menjuarai Piala UEFA 2 kali beruntun bersama Sevilla, Andre Villas-Boas yang menjuarai Europa League 2011 bersama Porto, dan Jose Mourinho yang pernah meraih treble bersama Inter Milan. Namun, dari daftar tersebut hanya Juande Ramos yang berhasil mempersembahkan trofi Piala Liga pada 2008 silam.

Ketiga pelatih tadi punya alasan pemecatan yang sama. Ketiganya dipecat setelah memetik beberapa hasil buruk di liga secara beruntun meski di kompetisi lain meraih hasil yang cukup bagus. Bisa dibilang, Spurs gemar memecat pelatihnya di saat yang tidak tepat.

Mauricio Pochettino yang dianggap sebagai manajer terbaik Spurs dalam beberapa tahun terakhir juga dipecat dengan alasan hasil buruk di liga. Meski setahun sebelumnya ia berhasil membawa Spurs ke final Liga Champions pertama dalam sejarah, prestasi itu tetap tak mampu menyelamatkan Pochettino dari murka Daniel Levy.

 

2. Ketiadaan direktur olahraga dalam klub

Kegemaran Spurs dalam menunjuk manajer tak dibarengi dengan penunjukan direktur olahraga yang mampu menjaga visi dan filosofi klub. Diketahui, posisi sporting director Spurs bahkan telah vakum selama 6 tahun terakhir. Kekosongan posisi vital ini disinyalir jadi salah satu sebab kemunduran prestasi Spurs.

Selama kepemilikan ENIC Group, Spurs pernah punya 4 direktur olahraga. Mereka adalah David Pleat (1998-2003), Frank Arnesen (2004-2005), Damien Comolli (2005-2008), dan Franco Baldini (2012-2015). Memiliki direktur olahraga yang kompeten di bidangnya sudah terbukti menguntungkan Spurs. Comolli misalnya, ia adalah aktor dibalik perekrutan Dimitar Berbatov dan Luka Modric. Sementara itu, Franco Baldini adalah orang yang mendatangkan Christian Eriksen dan Erik Lamela ke Spurs pada 2013 silam.

Jika tak memiliki direktur olahraga, sudah seharusnya Spurs minimal memiliki pencari bakat yang kompeten. Sejatinya, mereka pernah punya kepala pencari bakat yang handal. Dia adalah Paul Mitchell yang datang bersama Mauricio Pochettino pada 2014 silam dari Southampton. Dia membantu Spurs merekrut pemain seperti Dele Alli, Son Heung-min, Kieran Trippier dan Toby Alderweireld. Sayangnya, pada 2016, Mitchell mundur. Ia merasa muak dan frustasi bekerja di Spurs dan ada dugaan kuat bahwa ia beselisih dengan Daniel Levy.

Masalah lainnya, Spurs tak punya jaringan scouting pemain seluas Arsenal, Chelsea, Liverpool atau duo Manchester. Masalah inilah yang kerap membuat Spurs kesulitan mencari pengganti pemain andalan mereka yang dilego ke klub lain. Meski belakangan makin banyak memakai pemain asli akademinya, namun faktanya, akademi pemain Spurs juga bukan yang terbaik di Inggris. Jika ingin meningkatkan prestasi, Spurs perlu membenahi jaringan scouting dan akademi mudanya.

 

Lalu, apa lagi yang bisa dilakukan Spurs untuk memperbaiki prestasinya?

Pertama, Spurs bisa mempertimbangkan untuk menunjuk sporting director yang ahli dan kompeten dibidangnya. Kepemimpinan Daniel Levy yang mengambil alih peran tersebut terbukti telah gagal. Padahal, memiliki seorang direktur olahraga yang kompeten dalam klub adalah sebuah keharusan di era sepak bola modern.

Seperti yang kita ketahui, keberadaan sporting director sangatlah vital. Ia adalah seseorang yang bertanggung jawab dalam menjaga visi dan filosofi klub sekaligus bertanggung jawab dalam perekrutan pemain. Adanya direktur olahraga akan membantu klub tetap stabil meski manajernya bergonta-ganti. Sejatinya, masalah ini sudah tercium dan terungkap saat Jose Mourinho menjabat sebagai manajer.

“Saya telah berpikir untuk waktu yang sangat lama, kami memiliki masalah di tim yang tidak bisa saya selesaikan sendiri sebagai pelatih.”, kata Jose Mourinho dikutip dari bbc.com

Pada 2019, Mourinho pernah meminta Daniel Levy untuk merekrut Luis Campos sebagai direktur olahraga klub. Sayangnya, permintaan untuk merekrut mantan direktur olahraga AS Monaco dan Lille yang sukses mengorbitkan Bernardo Silva dan Kylian Mbappe itu ditolak oleh Levy. Ia malah menunjuk kepala pencari bakat klub, Steve Hitchen sebagai Technical Performance Director.

Keberadaan Daniel Levy memang jadi masalah tersendiri bagi fans. Banyak yang tak menyukai Levy sebagai ketua. Faktanya, pemecatan direktur olahraga dan kepala pencari bakat Spurs yang dulu disebabkan perselihan mereka dengan Levy. Paul Mitchell yang mundur pada 2016 silam juga diketahui kesulitan bekerja sama dengan Levy yang keras kepala dalam perekrutan pemain. Fakta lainnya, Levy adalah chairman dengan gaji paling mahal di Inggris, ia menerima gaji 7 juta euro pertahun. Hal itu membuat para fans tak senang, sebab kinerja Levy jauh dari upah yang ia terima.

Model pengelolaan klub juga perlu diubah, dari berorientasi bisnis menjadi prestasi. Tottenham Hotspur memang telah sukses bertransformasi menjadi tim kaya. Mereka dinobatkan sebagai klub terkaya kesembilan di dunia menurut Deloitte, dengan total pendapatan 445 juta euro. Sayangnya, mereka juga punya beban utang hingga lebih dari 1 miliar pounds. Investasi besar-besaran dalam pembangunan sarana latihan, stadion baru, dan pembelian pemain mahal nyatanya bukan menghasilkan trofi, tetapi justru menyisakan beban utang.

Spurs punya utang lebih dari 600 juta euro hanya dari pembangunan stadion baru mereka. Mereka juga punya utang transfer pemain hingga lebih dari 100 juta euro. Faktanya, selama hampir 21 tahun kepemilikan ENIC Group, tidak ada satupun trofi bergengsi yang singgah ke lemari trofi Spurs.

Dalam 17 bulan terakhir, kondisi Spurs juga tengah memanas. Dari pemecatan Pochettino, perekrutan Mourinho, pembentukan dan pembubaran European Super League, dan akhirnya pemecatan Jose Mourinho yang disusul penunjukan Ryan Mason sebagai manajer. Imbasnya, fans Spurs mendesak agar ENIC Group dan Daniel Levy agar angkat kaki dari Tottenham Hotspur.

Kondisi ruang ganti Spurs juga terpantau panas dalam beberapa bulan terakhir. Spurs juga terancam kehilangan beberapa pemain andalannya yang mulai terlihat tidak betah. Kondisi itu juga perlu dibenahi. Sebab, mustahil sebuah tim memenangkan trofi bila antar pemain terlibat perselisihan.

Itulah beberapa kondisi dalam internal Spurs yang menghambat mereka meraih prestasi. Bukan sebuah rahasia lagi bila ingin juara, klub harus punya keuangan yang sehat, ruang ganti yang kondusif, dan dikelola oleh orang-orang yang kompeten.

***
Sumber Referensi: HITC, Spurs-web 1, Football London, Spurs-web 2, Spurs-web 3.

Michael Clegg, Eks Wonderkid Mu Yang Pensiun Dini Karena Depresi

Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi pada nasib seorang pemain. Hari ini mereka mungkin digemari banyak orang. Mendapat banyak pujian dan ketinggalan untuk dimintai tanda tangan. Akan tetapi, esok hari, siapa yang tahu? Pemain yang sebelumnya bersinar bahkan bisa saja tiba-tiba terjungkal karena masalah tertentu.

Tidak hanya sepakbola, namun itulah kehidupan.

Michael Clegg, menjadi sosok yang begitu semangat untuk bisa menjadi seorang pesepakbola profesional. Dia merupakan bocah periang dan begitu semangat, sebelum akhirnya sebuah tragedi membuat mentalnya hancur tak berbekas.

Tumbuh di daerah Ashton, Manchester, Clegg mendapati keluarganya ada yang mendukung Manchester City dan Manchester United. Namun pada akhirnya, ia ditemukan oleh seorang bernama Brian Poole, yang bekerja sebagai pemandu bakat Manchester United. Akhirnya, Clegg mau bergabung dengan MU, dimana kontrak pertamanya adalah menjalani masa pelatihan terlebih dahulu.

Saat itu, tepat pada Juli 1993, Clegg bergabung dengan Manchester United, dan berada di bawah arahan pelatih seperti Dave Bushell, Nobby Stiles, Jim Ryan dan Eric Harrison. Meski hanya memiliki tinggi 173 cm, Clegg memilih untuk berposisi sebagai seorang bek.

Tubuh yang tidak terlalu tinggi tidak menghalangi Clegg untuk bekembang. Pasalnya, dia memiliki otot yang baik setelah setiap harinya, dia sering diajak sang ayah untuk pergi ke gym. Bahkan, dia beberapa kali meminta izin kepada United untuk mengikuti kejuaraan angkat beban di Inggris.

Seiring berjalannya waktu, nama Michael Clegg menunjukkan perkembangan yang sangat baik. Manajer MU saat itu, Sir Alex Ferguson, lalu menawarinya sebuah kontrak profesional. Sang pelatih ketika itu menawari kontrak selama setahun. Dalam hal ini, Clegg pun tidak langsung menerima. Dia meminta sang pelatih untuk memberinya jaminan agar bisa bermain di sisi sayap, selain berposisi sebagai bek tengah, meski ada nama John O’Kane yang dikenal tangguh.

Akhirnya, kesepakatan pun disetujui, dengan Fergie mengaku percaya dengan bakat yang dimiliki sang pemain.

Setelah penantian yang cukup panjang, sampailah pada sebuah pertandingan yang membuat dirinya melakoni debut untuk Manchester United. Pada November 1996, dia melakoni debut dengan tim utama Manchester United yang berhadapan dengan Middlesbrough. Di laga itu, dia ditugaskan untuk mengawal pemain tajam asal Italia, Fabrizio Ravanelli.

Pertandingan yang pada akhirnya berakhir imbang dengan skor 2-2 itu membuat Clegg sangat bahagia. Tidak pernah terpikir sebelumnya bila dia akan menjadi salah satu penggawa klub terbesar di Inggris. Dia membayangkan hanya akan menonton pertandingan MU dari tribun. Namun kali ini tidak, dia adalah satu pemain yang diberi banyak sorakan dari para penggemar.

“Semua orang sangat ramah. Andy Cole dan Roy Keane baik padaku,” ucap Clegg.

Dalam perjalanan luar biasanya masuk ke tim utama United, Clegg juga masih begitu ingat dengan momen ketika bahunya ditepuk oleh seorang yang begitu melegenda.

“Ada seseorang yang menepuk bahuku, saat aku berbalik, dia adalah Sir Bobby Charlton. Dia mengucapkan selamat kepadaku karena telah berhasil masuk ke tim utama. Dia berpesan kepadaku untuk bersenang-senang dengan tim di lapangan,”

Di musim perdananya tampil di tim utama, Clegg terus melakukan latihan bersama dengan para pemain senior. Dia melakoni debut kandangnya pada kemenangan 2-1 atas Wimbledon. Momen bersejarah baginya itu terjadi pada Januari 1997. Di musim itu sendiri, Clegg bermain dalam dua laga liga.

“Tidak ada yang lebih baik dari Manchester United,”

Clegg begitu menikmati masa-masanya di MU. Dia senang bisa bergabung dengan MU dan merasa bahwa mimpinya telah terwujud.

Sayangnya, perasaan Clegg mulai gundah, setelah posisinya tidak bisa dipertahankan. Dia kerap duduk di bangku cadangan. Malah, posisi yang jadi permintaannya, yaitu bek kanan, sudah ditempati oleh Gary Neville. Saat itu, juga, dia sadar bahwa masanya tidak akan lama lagi.

Pada tahun 2000, namanya tidak masuk ke dalam rencana United. Dia dipinjamkan ke beberapa klub, seperti Ipswich Town hingga Wigan Athletic. Kemudian, pada tahun 2002, dia resmi dilepas ke Oldham Athletic.

Akan tetapi, hanya dua tahun bertahan disana, Clegg memutuskan untuk pergi dan bahkan keluar dari dunia sepakbola. Dia berhenti dari sepakbola di usianya yang masih menginjak 26 tahun. Di Oldham, jasanya sudah jarang dipakai, setelah pelatih Mick Wadsworth dipecat dan digantikan oleh Dowie. Sejak saat itu, dia merasa ada yang tidak beres dengan tim utama.

Lebih lanjut, nama Mike Clegg semakin tidak terpakai setelah seorang bernama Brian Talbot datang ke klub untuk mengisi kursi kepelatihan baru. Dia merasa sangat frustasi dan merasa bahwa saat itu adalah momen yang sangat tepat baginya untuk berhenti.

Alasan Clegg berhenti dari dunia sepakbola, selain karena masa nya di Oldham sangat buruk adalah karena saudaranya, David, meninggal karena bunuh diri di usia 19 tahun. Dari situ, dia merasa sangat terpukul karena tahu kalau David adalah penggemar berat Manchester United. Di acara pemakamannya, semua yang datang mengenakan nomor punggung 19 dengan nama Clegg di belakangnya.

“19 adalah nomor punggung ku di United. Maka dari itu, aku sangat emosional ketika tahu sepupu ku meninggal di usia 19 tahun karena bunuh diri,”

Selain terganggu secara mental, kesehatan Clegg juga menurun setelah tahu bahwa ada sel kanker di bagian telinganya. Dia harus rutin mengunjungi dokter untuk mengetahui perkembangan penyakit berbahaya di tubuhnya itu.

Setelah berhenti dari dunia sepakbola, dia hanya fokus pada kesehatannya dan sesekali membantu ayahnya bekerja di gym. Beberapa tahun kemudian, Roy Keane menawarinya untuk bergabung dengan nya di staf kepelatihan Sunderland.

Setelah Keane memutuskan berhenti di klub pada tahun 2008, Clegg masih berada di sana selama kurang lebih sepuluh tahun lamanya. Dalam perjalanannya, dia sempat bekerja sama dengan nama-nama seperti Steve Bruce, Martin O’Neill, Paolo Di Canio, Dick Advocaat, Sam Allardyce dan David Moyes.

Sekarang, Clegg malah tertarik untuk mengikuti hasratnya yang tertarik berkarir di dunia kepelatihan. Dia bahkan sudah memegang lisensi B kepelatihan dari UEFA, untuk melakukan pembinaan kepada para pemain muda. Dalam menggeluti pekerjaannya saat ini, Clegg mengaku berfokus pada kesehatan mental pada pemain muda. Dia ingin memberikan pelajaran kepada seluruh bakat muda bahwa setiap pemain, meski sudah lama membela klub masa kecilnya, bisa saja pergi.

Para pemain muda itu diminta siap oleh Clegg, agar tidak terjadi gangguan mental, persis seperti apa yang dialaminya dahulu.

 

Menilik Tiki-Taka ala Xavi Hernandez di Al Sadd

0

Xavi Hernandez. Namanya dulu begitu tersohor di seantero Eropa. Nyaris sepanjang kariernya, pria berzodiak aquarius itu hanya membela satu klub, Barcelona. Membela klub yang bermarkas di Camp Nou itu, Xavi berhasil mempersembahkan 25 trofi juara. Pemilik 133 caps bersama timnas Spanyol itu juga jadi bagian penting dari kesuksesan Negeri Matador menjuarai Piala Eropa 2008 dan 2012, serta Piala Dunia 2010.


Namun, sorotan mulai meredup kala Xavi memilih jalan karier yang tak terduga. Alih-alih mengakhiri karier profesionalnya di Barcelona, atau menyebrang ke klub lain di daratan Eropa, secara mengejutkan mantan gelandang bernomor 6 itu justru memilih hengkang dari Barcelona pada 2015 silam. Setelah membela tim utama Barcelona selama 17 tahun, Xavi hengkang dan menerima pinangan klub Liga Qatar, Al Sadd.

Kepindahn itu sontak mengejutkan semua pihak. Xavi yang kala itu sudah berusia 35 tahun dianggap masih bisa bermain di level atas ketimbang menyebrang jauh ke negara teluk. Akan tetapi, Xavi ternyata punya alasan khusus dibalik keputusannya menerima pinangan Al Sadd.

Diungkap oleh agennya, kesepakatan kontrak dengan Al Sadd selama 3 tahun juga akan menjadikan ia sebagai duta Piala Dunia 2022 yang diadakan di Qatar. Selain itu, Al Sadd juga bersedia menjadi tempat Xavi untuk memulai kualifikasi kepelatihannya.

Keputusan tersebut terbayar manis bagi kedua belah pihak. Pasca mempersembahkan 4 trofi selama empat tahun masa baktinya sebagai pemain Al Sadd, Xavi langsung ditunjuk sebagai pelatih baru klub berjuluk Al Zaeem atau The Boss itu hanya berselang beberapa hari pasca ia pensiun sebagai pemain pada 20 Mei 2019.

Memulai karier kepelatihan di Qatar adalah keputusan dari Xavi sendiri. Bahkan, karena hal itulah ia menerima pinangan Al Sadd.

“Ide saya adalah memulai sebagai pelatih di Qatar, untuk menguji diri sendiri dan mendapatkan pengalaman,” kata Xavi Hernandez dikutip dari the-afc.com (21/5/2019).

Xavi ditunjuk sebagai manajer Al Sadd pada 28 Mei 2019 dengan kontrak berdurasi 2 tahun. Ia langsung sukses memberi pengaruh besar kepada Al Sadd. Di musim pertamanya, meski gagal mempertahankan gelar liga, Xavi masih berhasil membawa Al Sadd finish di posisi ketiga dan lolos ke Liga Champions Asia.

Racikan taktiknya juga mulai terlihat. Al Sadd jadi tim paling produktif di Qatar Stars League musim 2019/2020 dengan mengemas 51 gol dalam 22 pertandingan. Tak hanya itu, pria 41 tahun itu juga sukses mempersembahkan 3 trofi (Qatari Stars Cup, Qatar Crown Prince Cup dan Sheikh Jassim Cup) di musim pertamanya menangani Al Sadd. Sementara itu, di Liga Champions Asia, ia berhasil membawa klubnya lolos hingga babak semifinal.

Keberhasilan itu mampu ia teruskan di tahun berikutnya. Xavi sukses membawa Al Sadd mempertahankan trofi Qatar Crown Prince Cup dan menjuarai Emir of Qatar Cup 2020. Namun, gelar yang paling prestisius dan membuat nama Xavi kembali masyhur di seluruh dunia adalah keberhasilannya membawa Al Sadd juara Liga Qatar musim ini.

Al Sadd sukses menjadi juara Qatar Stars League musim 2020/2021 dengan catatan impresif. Bayangkan saja, mereka berhasil memuncaki klasemen dengan koleksi 60 poin dari 22 pertandingan. Memenangkan 19 laga, memetik 3 hasil imbang, dan tak tersentuh kekalahan. Ya, Al Sadd juara liga Qatar musim ini dengan predikat unbeaten.

Xavi tak cuma berhasil membawa Al Sadd tak terkalahkan sepanjang musim untuk jadi juara Liga Qatar. Al Sadd juga kembali menjadi tim paling produktif di liga. Lewat racikan taktik Xavi, Santi Cazorla dkk. berhasil mengemas 77 gol dalam 22 pertandingan. Artinya, mereka mampu mencetak nyaris 4 gol per pertandingan.

Al Sadd asuhan Xavi tak cuma ganas dalam membobol gawang lawan. Sepanjang musim ini, mereka hanya kebobolan 14 gol saja. Al Sadd berhasil memastikan juara dengan 4 laga sisa dan meninggalkan peringkat dua dengan jarak 13 poin.

Lalu, bagaimana Xavi mampu melakukan hal itu? Apa taktik yang ia pakai? Berikut analisisnya.

Seperti yang kita tahu, semasa bermain di timnas Spanyol dan Barcelona, Xavi sangat identik dengan taktik tiki-taka. Sebagai pesepakbola yang berprestasi dan kerap dicap jenius, tiki-taka sudah seperti identitas yang melekat pada Xavi. Dan identitas itu juga ia tularkan kepada Al Sadd.

Selama 2 musim terakhir, Al Sadd bermain dengan taktik tiki-taka yang dikembangkan Xavi. Umpan pendek dari kaki ke kaki sudah jadi ciri khasnya. Namun, tiki-taka ala Xavi Hernandez sedikit berbeda bila dibandingkan dengan tiki-taka pelatih lain semacam Pep Guardiola.

Xavi tak punya pakem formasi tertentu. Ia cenderung memasang formasi dengan mempertimbangkan pemain yang fit dan siapa calon lawannya. Menurut catatan transfermarkt, Xavi sudah bereksperimen dengan 5 formasi berbeda, mulai dari formasi 4 bek dengan 4-2-3-1, 4-1-4-1, dan 4-3-3, serta formasi 3 bek dengan 3-4-2-1 dan 3-1-4-2. Sepanjang musim ini, Xavi cenderung memakai formasi 3-4-2-1 atau 4-2-3-1.

Formasi yang ia terapkan di Al Sadd juga begitu cair. Misalnya, saat memakai formasi 4-2-3-1, Al Sadd sering kali terlihat mengubah formasinya di tengah laga menjadi 4-3-3 atau 4-1-4-1 saat sedang membangun atau melancarkan serangan. Seperti yang sudah jadi ciri khas tiki-taka, penguasaan bola adalah kunci. Musim ini, Al Sadd asuhan Xavi mencatat rata-rata penguasaan bola sebesar 62%.

Akurasi umpan para pemain Al Sadd di bawah asuhan Xavi juga meningkat drastis. Salah satu kunci dalam permainan Xavi adalah penempatan pivot dalam fase build-up dan bertahan. Saat menghadapi tekanan dari 2 striker lawan, 2 gelandang Al Sadd akan membentuk double pivot yang bertujuan memotong laju umpan lawan.

Saat membangun serangan, seorang gelandang akan turun menjadi single pivot untuk mengalirkan bola dari belakang. Single pivot ini juga kerap kali turun membantu 2 orang bek tengah dalam fase bertahan. Dan salah satu pemain yang memerankan posisi tersebut dengan baik adalah Santi Cazorla. Mantan pemain Arsenal dan Villareal itu jadi salah satu pemain kunci Xavi.

Di bawah asuhan Xavi, Cazorla kerap dipasang sebagai gelandang tengah atau gelandang serang. Hasilnya, ia sudah mengemas 13 gol dan 11 asis di liga musim ini. Pemain 36 tahun itu bahkan jadi pemuncak daftar asis di Liga Qatar musim ini.

Selain membangun serangan dari belakang dengan umpan-umpan akurat, Al Sadd juga bermain dengan menjaga kelebaran. Para winger akan tetap bermain melebar. Tujuan dari taktik itu adalah untuk meregangkan garis pertahanan lawan sekaligus menciptakan wide overload di kedua sisi. Dengan begitu, para pemain Al Sadd punya opsi switch play dalam skenario serangannya.

Meski berlandaskan dari taktik tiki-taka, Xavi juga memadukan taktik tersebut dengan skema counterpressing. Tingkat keberhasilan pressing para pemain Al Sadd juga jadi yang tertinggi di liga (58% succesfull pressing). Peralihan dari fase bertahan ke menyerang jadi salah satu sebab betapa produktif dan efektifnya Al Sadd musim ini.

Para pemain Al Sadd akan berusaha menutup jalur umpan lawannya sedini mungkin. Dengan memenangkan penguasaan bola di garis pertahanan lawan, mereka punya keuntungan waktu dan jumlah untuk menyerang lawannya. Tercatat, para pemain Al Sadd sukses menghasilkan 19,5 tembakan per pertandingan dengan 7,75 di antaranya mengarah tepat sasaran. Inilah sebabnya mereka mampu mencetak nyaris 4 gol di tiap pertandingannya.

Dalam menjalankan taktiknya, Xavi tak hanya bergantung dengan Santi Cazorla saja. Pemain kunci lainnya adalah kedua sayap cepat yang ia miliki. Di sayap kiri ada Akram Afif yang sudah mencetak 5 gol dan 8 asis. Sementara di sisi kanan ada Hassan Al-Haydos yang sudah menyumbang 9 asis. Terakhir, ada striker Baghdad Bounedjah yang selalu dipasang Xavi sebagai ujung tombak. Striker Aljazair itu sudah mengemas 21 gol dan 7 asis hanya dalam 19 laga.

Keberhasilan Xavi dalam menerapkan taktik tiki-taka di Al Sadd jelas patut diapresiasi. Hanya dalam tempo 2 musim saja, ia sudah berhasil mempersembahkan 6 gelar untuk Al Sadd. Kesuksesan inilah yang membuat Barcelona tertarik menarik kembali Xavi ke Camp Nou sebagai pelatih mereka.

Kabar ketertarikan itu sudah tercium sejak pemilihan presiden Barca beberapa waktu lalu. Salah satu calon presiden Barcelona, Victor Font bahkan berjanji akan menunjuk Xavi sebagai pelatih tim utama di musim depan. Kabar ini sempat meredup saat Joan Laporta yang terpilih sebagai presiden klub, namun rumor Xavi yang terus diminati Barca masih terjaga.

Buktinya, menurut kabar jurnalis Diario AS, Javi Miguel, Xavi Hernandez dan stafnya tinggal selangkah lagi untuk menandatangani perpanjangan kontrak di Al Sadd hingga Juni 2023. Namun, berdasarkan laporannya, Xavi masih menyertakan klausul Barcelona dalam kontraknya. Artinya, ia bisa meninggalkan Al Sadd saat ada tawaran melatih dari Barca.

“Saya hampir memperbarui kontrak dengan Al Sadd. Kepergian saya dari tim hanyalah rumor dan saya sangat senang bekerja dengan para pemain dan klub ini.”, kata Xavi Hernandez pada 8 Mei lalu dikutip dari Twitter@FCBarcelonaFl.

Meski begitu, kontraknya dengan Al Sadd akan berakhir akhir Juni 2021. Selain itu, banyak legenda dan mantan rekannya yang berharap agar Xavi mau segera kembali ke Barcelona untuk jadi pelatih kepala Blaugrana. Rumornya, Xavi bahkan sudah disiapkan jadi pelatih Barcelona mulai awal musim depan untuk menggantikan Ronal Koeman.

“Semua orang ingin melihat saya sebagai pelatih Barcelona. Saya sangat menghormati Barca dan Koeman, pelatih saat ini. Saya tidak ingin menyembunyikan bahwa saya ingin melatih Barcelona, tetapi selalu menghormati pelatih dan klub saat ini, yang berada dalam kompetisi penuh, dan saya berharap yang terbaik bagi mereka.”, kata Xavi Hernandez dikutip dari planetfootball.com (10/5).

Jadi, kapan Xavi akan resmi menjadi pelatih Barcelona? Sepertinya hanya tinggal menunggu waktu hingga hari itu tiba bukan?
***
Sumber Referensi: Total Football Analysis, AP News, Channel News Asia, Bolalob.

Timnas Israel: Diasingkan Di Asia, Diterima Di Eropa

Israel berada di wilayah Timur Tengah yang dikelilingi Laut Tengah, Lebanon, Suriah, Yordania, Mesir dan gurun pasir Sinai. Namun tahukah kalian? Meski berada di wilayah Asia, sepakbola Israel justru berkompetisi bersama negara-negara Eropa.

Mengenai hal ini, ada sejumlah kisah yang boleh dibilang sebagai alasan, mengapa Israel tidak diterima di Asia dan malah tergabung.

Sepakbola Israel sendiri memiliki sejarah yang cukup apik. Mereka selalu menjadi penantang gelar di kawasan Asia untuk kemudian berjaya di tahun 1964. Di tahun tersebut, atau pada edisi ketiga Piala Asia digelar, Israel yang ditunjuk sebagai tuan rumah berhasil menumbangkan Korea Selatan sebagai juara bertahan di partai final. Ketika itu, tepat pada 3 Juni 1964, Stadion Nasional Ramat Gan menjadi saksi dari hebatnya para penggawa Israel yang berhasil menumbangkan Korea dengan skor 2-1. Selain itu, sebanyak 35 ribu penonton juga larut dalam kemeriahan pertandingan menarik kala itu.

Momen tersebut tentu akan selalu diingat oleh pecinta sepakbola disana. Satu tinta emas berhasil terajut mulus di bagian paling indah buku sejarah Israel.

Sebelum menjadi juara, seperti yang sudah disinggung di awal, Israel beberapa kali nyaris meraih gelar juara. Mereka dua kali duduk di posisi runner up meski terus ditumbangkan oleh Korea Selatan.

Sayangnya, kegemilangan mereka tak mampu berlanjut setelah pada edisi berikutnya, Israel gagal menempati posisi runner up sekalipun.

Meski berstatus sebagai negara yang pernah menjadi raja di Asia, nama Israel sejatinya tidak disukai oleh kebanyakan negara yang terletak di benua kuning. Ada banyak tim yang sampai menolak untuk bertanding melawan Israel karena persoalan tertentu. Bahkan, beberapa juga ada yang ingin bila status juara Asia Israel tidak diakui oleh AFC selaku Federasi Sepakbola di kawasan Asia.

Sumber dari segala masalah yang diterima Israel adalah sikap mereka yang dianggap sebagai penjajah oleh kebanyakan negara lainnya. Pasalnya seperti diketahui, Israel menjadi negara yang terus menyerang Palestina demi memperebutkan wilayah. Hal tersebut jelas menyulut emosi negara-negara Arab lainnya.

Salah satu momen yang membuat negara-negara di Asia marah adalah ketika pada tahun 1967, terjadi perang enam hari yang melibatkan Mesir, Jordania dan Suriah, yang kala itu masih dinamai sebagai Republik Arab Bersatu dengan Israel sebagai lawannya.

Israel yang memang punya kekuatan cukup mumpuni mendapat penolakan dari negara Asia untuk mengikuti turnamen turnamen tertinggi di kawasan tersebut. Setidaknya pada periode tersebut, banyak yang begitu marah dengan Israel dan terus menggemborkan aksi boikot terhadap negara tersebut.

Karena menjadi negara yang sudah tidak diakui oleh sejumlah negara di Asia, beragam masalah pun diterima sepakbola Israel. Pada tahun 1970, atau di ajang Piala Dunia saat itu, Korea Utara menolak bertanding melawan Israel dalam putaran grup kualifikasi. Lolosnya Israel ke ajang tersebut pun jelas membuat FIFA seperti menabur garam di dalam luka para negara Asia.

FIFA yang seharusnya menjadi badan yang mendamaikan banyak negara melalui sepakbola, justru tampak mendukung Israel dengan menerima kedatangan negara tersebut di kompetisi paling akbar sejagad.

Di ajang Piala Dunia yang menempatkan Meksiko sebagai tuan rumah tersebut, Israel yang tergabung di grup B bersama dengan Italia, Uruguay, dan Swedia, harus rela duduk di posisi paling buncit. Mereka tak pernah sekalipun meraih kemenangan, dan hanya meraih hasil imbang sebanyak dua kali serta sekali kalah.

Jauh sebelum aksi penolakan Korea Utara terhadap Israel, Indonesia juga pernah melakukan hal yang sama pada tahun 1958. Ya, di tahun tersebut timnas Garuda pernah berkesempatan untuk tampil di ajang Piala Dunia. Akan tetapi, negara tercinta ini kemudian tersingkir karena menolak tampil di laga melawan Israel. Pada saat itu, bahkan tidak hanya Indonesia saja yang menolak bertanding melawan Israel, ada nama Mesir dan juga Sudan yang melakukan aksi yang sama.

Lagi-lagi, penolakan untuk bertanding melawan Israel disebut sebagai bentuk solidaritas terhadap Palestina pada medio 50-70an. Mereka yang mendukung Palestina menganggap bila lebih baik mendapat sanksi karena menolak bertanding, ketimbang harus mengakui keberadaan penjajah.

Tidak hanya tim nasionalnya saja yang terkena imbas, namun juga klub Israel yang tidak diterima di kawasan Asia. Maccabi Tel Aviv yang merupakan juara Liga Israel plus pernah menjadi juara di Liga Champions Asia sebanyak dua kali dilarang tampil di turnamen benua tempat mereka berasal.

Setelah permasalahan ini semakin pelik, tepat pada tahun 1974, Kuwait selaku anggota Arab yang paling memiliki kuasa saat itu, menyusun rencana untuk mengusir Israel secara total dari keanggotaan sepakbola Asia.

Setelah terjadi beragam kericuhan internal, akhirnya AFC resmi mengeluarkan Israel dari keanggotaan mereka. Tak berselang lama, negara tersebut bergabung dengan Oceania selama 20 tahun lamanya. Bisa dibilang, masa tersebut menjadi yang paling suram bagi Israel. Selain karena menjadi negara yang tidak jelas statusnya, Israel juga mengaku kerepotan bila harus melakukan pertandingan tandang dengan negara di kawasan Oceania.

Setelah terus terombang-ambing, akhirnya, UEFA menawarkan kartu keanggotaan kepada Israel. Mereka pun menerimanya dan resmi menjadi bagian dari kompetisi benua biru pada tahun 1994.

Sejak saat itu, mereka rutin tampil di kompetisi Eropa. Namun meski sudah menjadi bagian dari negara Eropa, Israel tidak langsung bisa menerima tamu dari kawasan tersebut. Pasalnya, UEFA ketika itu sempat melarang tim-tim Eropa untuk melakukan perjalanan ke Israel, dengan alasan keamanan.

Penerimaan Israel sebagai anggota UEFA pun banyak menuai kecaman. UEFA sebagai badan tertinggi sepakbola Eropa dianggap telah mencederai banyak pihak. Mereka dianggap sama sekali tidak melirik penyerangan yang dilakukan Israel terhadap Palestina. Padahal, secara tegas ada statuta FIFA yang menyebut bila,

“Diskriminasi dalam bentuk apapun terhadap negara, orang pribadi atau sekelompok orang dengan membawa-bawa etnis, jenis kelamin , bahasa, agama, politik atau alasan lain, sangat dilarang dan akan dihukum lewat suspensi atau dihapus dari keanggotaan.”

 

Sumber referensi: markingthepost, panditfootball, tirto, libero

Mengingat Betapa Dramatisnya Final Liga Champions 2007/08

Selain final piala dunia, final Liga Champions juga akan selalu jadi pertandingan yang paling menarik ditunggu pecinta si kulit bundar di belahan dunia. Final kompetisi antarklub eropa paling bergengsi ini selalu menyajikan momen-momen seru bahkan terbilang dramatis.

Dalam sejarahnya, sejak Liga Champions menggunakan format baru pada musim 1992/93, laga final sering menciptakan pertandingan yang begitu luar biasa dan mencengangkan.

Final musim 1998/99 mungkin menjadi salah satu pertandingan yang begitu dramatis. Manchester United yang keluar sebagai kampiun sukses menjinakkan Bayern Munchen lewat dua gol yang dicetak di masa injury time.

Selain itu, Final 2005 yang mempertemukan Liverpool melawan AC Milan juga disebut-sebut sebagai laga final terbaik. Milan sudah memimpin tiga gol lebih dulu di babak pertama. Namun, Liverpool bangkit dan mengejar ketinggalan menjadi 3-3 di paruh kedua. Pada akhirnya tim asal Merseyside lah yang keluar sebagai pemenang lewat drama adu penalti.

Kedua laga final tersebut menggambarkan betapa dramatis dan betapa luar biasanya kompetisi antarklub eropa tersebut.

Ada satu partai final lagi yang mungkin layak disebut sebagai salah satu sajian terbaik dari laga puncak Liga Champions.

Ya. Pada bahasan ini kami akan membawa kalian mengingat betapa serunya Final Liga Champions musim 2007/08, di mana Manchester United bertemu dengan Chelsea.

Final Liga Champions 2007/08 merupakan final pertama kali dalam sejarah yang mempertemukan sesama tim asal Inggris. Ini merupakan final ketiga kalinya yang sama-sama mempertemukan tim-tim dari negara yang sama. Sebelumnya ada Real Madrid vs Valencia (1999/2000) dan Juventus melawan AC Milan (2002/03).

Bagi kedua kubu, pertarungan sengit sudah terjadi di pentas domestik. Manchester United yang ditangani sosok Sir Alex Ferguson sukses merebut gelar Liga Primer musim 2007/08. Klub berjuluk The Reds Devils ini berhasil mengungguli The Blues hanya dengan selisih dua poin di tabel klasemen.

Meski demikian, Chelsea mendapat kesempatan untuk membalas dendam ketika mereka dipertemukan dengan Setan Merah di final Liga Champions.

Perjalanan kedua kesebelasan untuk bisa berdiri di partai pamungkas tidaklah mudah.

Manchester United yang di penyisihan grup tergabung di grup F, harus lebih dulu melewati tim kuat AS Roma dan Sporting Lisbon. Dengan koleksi 16 poin dari 6 laga, MU lolos ke babak berikutnya sebagai juara grup.

Lewat jalan yang penuh rintangan, Manchester United berhasil melewati hadangan Olympique Lyon di perdelapan final dengan kemenangan agregat 2-1. Kemudian, secara beruntun, United sukses menyingkirkan AS Roma di perempat final dan raksasa katalan, Barcelona di babak empat besar.

Sementara Chelsea mampu menyelesaikan babak grup dengan mengumpulkan 12 poin. Di fase gugur, klub yang dimiliki Roman Abramovich (MASIH TETAP) mampu jinakkan Olympiakos dan Fenerbahce (MASIH TETAP) sebelum kemudian menang dramatis atas Liverpool di laga semifinal.

Duo raksasa asal negeri ratu Elizabeth pun dipertemukan di stadion Luzhniki, Moskow, Rusia. Sebanyak 67 ribu lebih pasang mata dan jutaan lainnya yang menyaksikan lewat layar televisi di seluruh penjuru dunia, tidak melewatkan laga ini. Ini juga menjadi kali pertama final Liga Champions diselenggarakan di tanah Rusia.

Pertandingan berjalan seru sejak menit awal. Peraih Ballon D’or (TETAP) di tahun tersebut, Cristiano Ronaldo membuka skor untuk United pada menit ke-26. Gol berawal dari kerjasama apik antara Paul Scholes (skols) dan Wes Brown (TETAP). Brown kemudian melepaskan umpan melalui sisi kanan. Ronaldo yang berdiri di dalam kotak penalti mengalahkan lompatan Essien (TETAP) dan berhasil menanduk bola yang menggetarkan jala gawang Petr Cech.

Pasukan setan merah setelah itu lebih mendominasi jalannya laga. Anak asuh Ferguson memiliki dua kesempatan untuk menggandakan keunggulan.

Peluang pertama adalah usaha Wayne Rooney (WAIN ROONI) yang memberikan bola panjang kepada Ronaldo, dan CR7 (SI ARR SEVEN) kemudian mengirim umpan kepada Carlos Tevez (TETAP) yang sudah ada di depan gawang. Dengan sigap, Cech berhasil merebut bola dari jangkauan pemain lawan.

Peluang kedua jadi milik gelandang pengangkut air Michael Carrick (MAIKEL CARRICK) yang sudah bergerak bebas di pertahanan Chelsea, tapi kiper asal Ceko lagi-lagi menyelamatkan gawangnya dari kebobolan.

Tim asal London akhirnya bisa keluar dari tekanan. Jelang pertandingan babak pertama berakhir, Chelsea mampu menyamakan kedudukan melalui Frank Lampard (TETAP).

Berawal dari tendangan jarak jauh Michael Essien, bola berhasil diblok Nemanja Vidic (TETAP) dan juga Rio Ferdinand (TETAP). Tapi, bola rebound itu gagal diantisipasi van der Sar, dan Lampard yang berdiri bebas mampu menceploskan bola ke jala Setan Merah.

Kubu Setan Merah sepertinya kehabisan bensin karena tampil menggebrak sejak awal pertandingan. Momentum kini berada di Chelsea yang terus menerus menggempur gawang MU. Upaya-upaya tersebut berhasil dipatahkan. Termasuk upaya dari Michael Essien yang membentur mistar gawang. Waktu 90 menit pun usai dan laga mesti dilanjutkan ke waktu perpanjangan.

Di masa ini drama kembali tak terhindarkan. Pada menit ke-110 Lampard memiliki peluang emas, sayang tendangannya masih membentur mistar gawang United. Setelah itu, Giggs pun memiliki kesempatan, tapi lagi-lagi John Terry jadi batu sandungan.

Pada babak kedua perpanjangan waktu, sebuah insiden terjadi kala Drogba bentrok dengan Tevez. Nemanja Vidic datang untuk membantu Tevez. Namun Vidic justru terlibat konfrontasi dengan Drogba. Striker asal Pantai Gading itu menowel wajah Vidic dan akhirnya dikartu merah oleh wasit.

Laga selama 120 menit sudah berlangsung, tapi belum juga ada pemenang. Terpaksa harus dilakukan adu penalti untuk menentukan siapa yang layak menjadi jawara eropa.

Drama tak pernah berhenti, di babak adu penalti drama bahkan semakin menjadi-jadi. Dua algojo pertama dari masing-masing kedua tim sukses menunaikan tugasnya dengan baik.

Hingga kemudian, Ronaldo sebagai eksekutor ketiga United gagal karena tendangannya berhasil ditangkap Cech. Ronaldo tampak frustasi dengan kegagalan ini. Terbayang di benaknya bahwa kekalahan akan terjadi.

Frank Lampard sebagai algojo ketiga Chelsea berhasil memanfaatkan kondisi tersebut sehingga membawa timnya untuk sementara unggul 3-2. Owen Hargreaves lantas berhasil memberikan harapan bagi Setan Merah.

Bek kiri Ashley Cole (KOL)masih membuat Chelsea unggul. Penendang kelima MU Nani berada dalam tekanan karena ia harus bisa memasukkan bola. MU bernafas lega karena ternyata pemain asal Portugal itu berhasil menaklukkan Cech.

Karena MU sudah memainkan lima tendangan penalti, Chelsea pun mendapat peluang sangat emas saat Terry maju untuk melakukan eksekusi. Jika Terry berhasil, The Blues yang berhak jadi kampiun.

Di sinilah ketegangan tingkat tinggi bagi kedua tim terjadi. Akan tetapi, yang terjadi selanjutnya di luar dugaan. Terry gagal memanfaatkan peluang ini setelah tendangannya menyamping akibat ia terpeleset.

Para penggawa Chelsea dan para fans yang sudah bersiap bersorak justru menjadi murung. Sementara para pemain dan penggemar United bersorak karena mereka mendapatkan angin kedua.

Kedudukan menjadi sama kuat 4-4, dan harus dilanjutkan dengan tambahan penendang penalti. Anderson dan Salomon Kalou sukses menunaikan tugasnya dengan baik buat masing-masing klub.

Giggs lalu berhasil membawa United unggul 6-5. Penendang selanjutnya adalah Nicolas Anelka. Striker Prancis itu mendapat beban berat untuk bisa menyelamatkan peluang timnya. Apa boleh buat, ia gagal karena tendangannya diblok Van Der Sar.

Kontan, seluruh pemain, ofisial, dan pendukung Manchester United bergemuruh merayakan kemenangan. Ada yang menarik, Ronaldo tak kuasa menahan kegembiraan itu sembari menangis karena dirinya sempat gagal melakukan eksekusi.

Manchester United akhirnya berhak meraih gelar Liga Champions yang ketiga sepanjang sejarah. Kiper Van der Sar juga dianugerahi penghargaan Man of the Match. Sementara John Terry sesenggukan meratapi kegagalannya untuk membawa Chelsea meraih gelar juara tertinggi di pentas Eropa.

 

 Sumber Referensi : Sportsmole, Wikipedia, Fourfourtwo

 

Para Pesepakbola Yang Berpindah Agama, Siapa Saja Mereka?

0

Sejak dulu kala, agama selalu jadi bagian paling penting dalam kehidupan manusia. Saat manusia terlahir ke dunia, kebanyakan akan secara otomatis mengikuti keyakinan yang telah dipeluk oleh orangtuanya. Namun, seiring berjalannya waktu, tak sedikit pula manusia yang mendapat pencerahan baru dan memutuskan untuk berpindah keyakinan.

Seperti yang dilakukan oleh para pemain bola berikut ini. Meski ada pro dan kontra yang mengiringi pergantian keyakinan itu, hal tersebut tak membuat para pesepakbola ini mundur dari agama baru yang dipeluknya. Siapa saja mereka? 

Djibril Cisse (Islam => Katolik)

Djibril Cisse merupakan pemain yang pernah membela Liverpool. Pemain yang lahir pada 12 Agustus 1981 di Arles, Perancis itu, telah menghabiskan sebagian besar hidupnya dengan menganut agama Islam.

Namun, kemudian ia memilih berpindah agama dari Islam ke Katolik pada 2007, setelah menikah dengan Jude Litter pada 2005. Pernikahan itu sendiri membuahkan tiga orang anak, yaitu Cassius, Prince Kobe, dan Marley Jackson.

Hingga sekarang, Cisse masih menganut kepercayaan barunya itu meskipun telah bercerai dengan Litter pada 2014. Cisse bahkan memiliki tato Malaikat Gabriel di punggungnya. Dia juga semakin religius saat karirnya nyaris hancur karena dua kali alami patah kaki parah di kaki kanan maupun kiri. 

Paul Pogba (Kristen => Islam)

Gelandang Manchester United, Paul Pogba dikenal sebagai seorang muslim yang taat.

Sebelumnya, agama yang dianut Pogba adalah Kristen. Pemain bernama lengkap Paul Labile Pogba ini memutuskan untuk menjadi mualaf pada tahun 2012 silam.

Dalam wawancara di podcast LifeTimes pada Juni 2019, Paul Pogba mengaku bahwa semuanya bermula dari ia yang memiliki banyak teman muslim. Dari sini, Pogba mengaku jika muncul banyak pertanyaan dalam dirinya. Dia pun akhirnya melakukan penelitian sendiri. Lalu, suatu ketika ia dan teman-teman muslimnya sholat bersama, saat itu Pogba merasakan sesuatu yang berbeda. Hingga akhitnya memutuskan untuk memeluk agama Islam.

Pogba kerap mengunggah aktivitas religiusitasnya di media sosial. Salah satunya adalah saat ia mengunggah potretnya ketika sedang melaksanakan ibadah umrah.

 

George Weah (Kristen => Islam => Kristen)

George Weah adalah salah satu penyerang terhebat di era 90-an. Ia dianggap sebagai penyerang terbaik di Afrika dan Eropa, sejumlah penghargaan pun diraihnya seperti pemain terbaik di dunia versi FIFA dan Ballon d’Or.

Weah memulai hidupnya sebagai seorang Kristen Protestan. Namun, pemain berkebangsaan Liberia yang pernah memperkuat AC Milan itu disebut-sebut tiga kali ganti keyakinan.

“Saya seorang Kristen sekarang. Tapi, saya mempraktikkan Islam selama 10 tahun sebelum pindah ke Kristen (lagi),” kata Weah kepada BBC Sport pada 2001.

Pria yang saat ini menjabat sebagai presiden Liberia itu diketahui sangat berharap baik Muslim maupun Kristen dapat menemukan perdamaian.

Roberto Baggio (Katholik => Budha)

Roberto Baggio pernah melegenda bersama Timnas Italia. Salah satu yang paling dikenang dari seorang Baggio ialah kegagalannya mengeksekusi penalti pada partai final Piala Dunia 1994, yang berakibat gagalnya Italia menjadi juara.

Baggio dikabarkan berpindah agama setelah ia mengalami cedera parah pada tahun 1985. Sering keluar masuk meja operasi dan mendapat hujatan dari media karena permainannya yang buruk, Baggio jadi lebih banyak menghabiskan waktunya dengan membaca buku ajaran Budha. Ia pun tertarik dan memutuskan meninggalkan agama Katolik untuk memeluk ajaran Budha.

Striker yang pernah membela Fiorentina itu mempraktikkan Buddhisme Nichiren dan juga merupakan anggota dari organisasi Budha Internasional Soka Gakkai. Meski sudah memeluk Budha, Baggio tetap menggunakan tradisi Katolik saat menikahi pacarnya, Andreina Fabbi, pada 1989, dan dilaksanakan di Gereja Katolik Roma. 

Franck Ribery (Katholik => Islam)

Franck Ribery, pemain yang membawa Prancis ke final Piala Dunia 2006 memutuskan untuk menjadi mualaf setelah mempersunting istrinya yang merupakan wanita Aljazair, Wahiba Belhami pada 2002.

Ribery menambahkan nama ‘Bilal’ pada nama tengahnya menjadi Franck Bilal Ribery. Sejak memeluk Islam, Ribery mengaku menjadi pribadi yang lebih kuat baik mental maupun fisiknya.

Namun begitu, pergantian keyakinan itu tak serta merta membuat hidup Ribery lurus 100%. Bersama Karim Benzema, ia sempat tersandung skandal prostitusi di bawah umur yang melibatkan seorang PSK bernama Zahia Dehar pada tahun 2009.

Samuel Kuffour (Kristen => Atheis => Kristen)

Sammy Kuffour lahir dari keluarga Kristen di Ghana. Namun, masa kecilnya yang diliputi kemiskinan membuat keyakinannya pada Yesus Kristus hilang. Kuffour memilih untuk jadi Atheis, saat tiba di Eropa untuk bermain di tim junior Torino pada 1991 dan Bayern Munchen pada 1993.

Kuffour makin mantap hidup tanpa keyakinan tatkala ia tahu jika di Jerman populasi Atheis jauh lebih besar dibandingkan Kristen dan Islam.

Namun, semuanya berubah pada 2003 ketika sang putri yang berusia 15 bulan, Godiva, meninggal karena tenggelam di kolam renang di rumahnya di Accra, Ghana. Kepergian Godiva menjadi awal titik balik Kuffour kembali memeluk Kristen. Ia bahkan berharap suatu hari nanti akan menjadi pendeta.

“Saya yakin suatu hari nanti saya akan menjadi pendeta. Saya akan berdiri di depan ribuan orang dan membagikan firman Tuhan kepada mereka,” ucap Kuffour.

Setelah pensiun, Kuffour menepati janjinya. Namun, ia tidak menjadi pendeta, melainkan pengkhotbah. Setiap Minggu di sela-sela kesibukannya sebagai CEO Kumasi Assante Kotoko Football Club, dia menyempatkan diri mengunjungi sejumlah gereja di Ghana untuk menceritakan pengalaman spiritualnya.

Eric Abidal (Katholik => Islam)

Kisah perpindahan agama Eric Abidal mirip dengan Franck Ribery. Abidal juga masuk Islam karena menikahi seorang perempuan muslim asal Aljazair, yang bernama Hayet Kebir. 

Meski begitu, mantan pemain belakang Barcelona ini mengaku bahwa agama Islam membuatnya untuk terus bekerja keras demi memperkuat timnya.

Abidal juga mengadopsi nama Bilal seperti Ribery saat masuk Islam. Hanya saja, berbeda dengan Ribery yang pernah tersandung kasus dengan wanita penghibur, Abidal benar-benar menjalankan keyakinan barunya dengan baik. 

Philippe Senderos (Kristen => Islam)

Philippe Senderos merupakan salah satu pesepakbola top yang memutuskan untuk masuk Islam. Bek yang pernah membela Arsenal itu memutuskan mualaf di pusat agama Islam di Manchester pada 2012 lalu.

Ketertarikan Senderos kepada Islam tidak datang secara tiba-tiba. Bermula dari Senderos yang sering mengkaji persoalan agama, lulusan sarjana teologi itu akhirnya menjatuhkan pilihan untuk memeluk Islam. Sebelumnya, ia dilaporkan banyak telah mengkaji pelajaran tentang agama-agama di dunia. 

Nicolas Anelka (Kristen => Islam)

Anelka merupakan pesepakbola muslim eks Timnas Prancis yang sempat dikenal bengal di lapangan. Tahun 2004, Anelka memeluk Islam dan menyandang nama baru: Abdul Salam Bilal. Ia menjadi mualaf di Uni Emirat Arab.

Striker yang saat itu sedang memperkuat Manchester City ini mengaku selaras dengan ajaran agama Islam.

“Saya sudah hidup dengan prinsip yang sama: menjadi orang benar, memiliki nilai. Saya dulu berpuasa selama Ramadhan karena saya mengagumi orang-orang yang berpuasa di sekitar saya. Apa yang membuat saya menjadi mualaf adalah saya memiliki keyakinan bahwa Islam adalah untuk saya. Saya merasakan hubungan ini dengan Tuhan, dan itu mencerahkan hidup saya,” ucap Anelka.

Nicolas Anelka mengaku sangat antusias menyambut bulan suci Ramadhan. Ia bersemangat menunaikan puasa, bahkan ketika sedang menjalani kompetisi bersama klub maupun ketika harus memperkuat tim nasional.

 

Sumber Referensi : Hopz, Indosport, Libero, Suratkabar