Menilik Tiki-Taka ala Xavi Hernandez di Al Sadd

  • Whatsapp
Mengenal Peran Sporting Director Dalam Klub Sepak Bola
Mengenal Peran Sporting Director Dalam Klub Sepak Bola

Xavi Hernandez. Namanya dulu begitu tersohor di seantero Eropa. Nyaris sepanjang kariernya, pria berzodiak aquarius itu hanya membela satu klub, Barcelona. Membela klub yang bermarkas di Camp Nou itu, Xavi berhasil mempersembahkan 25 trofi juara. Pemilik 133 caps bersama timnas Spanyol itu juga jadi bagian penting dari kesuksesan Negeri Matador menjuarai Piala Eropa 2008 dan 2012, serta Piala Dunia 2010.


Namun, sorotan mulai meredup kala Xavi memilih jalan karier yang tak terduga. Alih-alih mengakhiri karier profesionalnya di Barcelona, atau menyebrang ke klub lain di daratan Eropa, secara mengejutkan mantan gelandang bernomor 6 itu justru memilih hengkang dari Barcelona pada 2015 silam. Setelah membela tim utama Barcelona selama 17 tahun, Xavi hengkang dan menerima pinangan klub Liga Qatar, Al Sadd.

Kepindahn itu sontak mengejutkan semua pihak. Xavi yang kala itu sudah berusia 35 tahun dianggap masih bisa bermain di level atas ketimbang menyebrang jauh ke negara teluk. Akan tetapi, Xavi ternyata punya alasan khusus dibalik keputusannya menerima pinangan Al Sadd.

Diungkap oleh agennya, kesepakatan kontrak dengan Al Sadd selama 3 tahun juga akan menjadikan ia sebagai duta Piala Dunia 2022 yang diadakan di Qatar. Selain itu, Al Sadd juga bersedia menjadi tempat Xavi untuk memulai kualifikasi kepelatihannya.

Keputusan tersebut terbayar manis bagi kedua belah pihak. Pasca mempersembahkan 4 trofi selama empat tahun masa baktinya sebagai pemain Al Sadd, Xavi langsung ditunjuk sebagai pelatih baru klub berjuluk Al Zaeem atau The Boss itu hanya berselang beberapa hari pasca ia pensiun sebagai pemain pada 20 Mei 2019.

Memulai karier kepelatihan di Qatar adalah keputusan dari Xavi sendiri. Bahkan, karena hal itulah ia menerima pinangan Al Sadd.

“Ide saya adalah memulai sebagai pelatih di Qatar, untuk menguji diri sendiri dan mendapatkan pengalaman,” kata Xavi Hernandez dikutip dari the-afc.com (21/5/2019).

Xavi ditunjuk sebagai manajer Al Sadd pada 28 Mei 2019 dengan kontrak berdurasi 2 tahun. Ia langsung sukses memberi pengaruh besar kepada Al Sadd. Di musim pertamanya, meski gagal mempertahankan gelar liga, Xavi masih berhasil membawa Al Sadd finish di posisi ketiga dan lolos ke Liga Champions Asia.

Racikan taktiknya juga mulai terlihat. Al Sadd jadi tim paling produktif di Qatar Stars League musim 2019/2020 dengan mengemas 51 gol dalam 22 pertandingan. Tak hanya itu, pria 41 tahun itu juga sukses mempersembahkan 3 trofi (Qatari Stars Cup, Qatar Crown Prince Cup dan Sheikh Jassim Cup) di musim pertamanya menangani Al Sadd. Sementara itu, di Liga Champions Asia, ia berhasil membawa klubnya lolos hingga babak semifinal.

Keberhasilan itu mampu ia teruskan di tahun berikutnya. Xavi sukses membawa Al Sadd mempertahankan trofi Qatar Crown Prince Cup dan menjuarai Emir of Qatar Cup 2020. Namun, gelar yang paling prestisius dan membuat nama Xavi kembali masyhur di seluruh dunia adalah keberhasilannya membawa Al Sadd juara Liga Qatar musim ini.

Al Sadd sukses menjadi juara Qatar Stars League musim 2020/2021 dengan catatan impresif. Bayangkan saja, mereka berhasil memuncaki klasemen dengan koleksi 60 poin dari 22 pertandingan. Memenangkan 19 laga, memetik 3 hasil imbang, dan tak tersentuh kekalahan. Ya, Al Sadd juara liga Qatar musim ini dengan predikat unbeaten.

Xavi tak cuma berhasil membawa Al Sadd tak terkalahkan sepanjang musim untuk jadi juara Liga Qatar. Al Sadd juga kembali menjadi tim paling produktif di liga. Lewat racikan taktik Xavi, Santi Cazorla dkk. berhasil mengemas 77 gol dalam 22 pertandingan. Artinya, mereka mampu mencetak nyaris 4 gol per pertandingan.

Al Sadd asuhan Xavi tak cuma ganas dalam membobol gawang lawan. Sepanjang musim ini, mereka hanya kebobolan 14 gol saja. Al Sadd berhasil memastikan juara dengan 4 laga sisa dan meninggalkan peringkat dua dengan jarak 13 poin.

Lalu, bagaimana Xavi mampu melakukan hal itu? Apa taktik yang ia pakai? Berikut analisisnya.

Seperti yang kita tahu, semasa bermain di timnas Spanyol dan Barcelona, Xavi sangat identik dengan taktik tiki-taka. Sebagai pesepakbola yang berprestasi dan kerap dicap jenius, tiki-taka sudah seperti identitas yang melekat pada Xavi. Dan identitas itu juga ia tularkan kepada Al Sadd.

Selama 2 musim terakhir, Al Sadd bermain dengan taktik tiki-taka yang dikembangkan Xavi. Umpan pendek dari kaki ke kaki sudah jadi ciri khasnya. Namun, tiki-taka ala Xavi Hernandez sedikit berbeda bila dibandingkan dengan tiki-taka pelatih lain semacam Pep Guardiola.

Xavi tak punya pakem formasi tertentu. Ia cenderung memasang formasi dengan mempertimbangkan pemain yang fit dan siapa calon lawannya. Menurut catatan transfermarkt, Xavi sudah bereksperimen dengan 5 formasi berbeda, mulai dari formasi 4 bek dengan 4-2-3-1, 4-1-4-1, dan 4-3-3, serta formasi 3 bek dengan 3-4-2-1 dan 3-1-4-2. Sepanjang musim ini, Xavi cenderung memakai formasi 3-4-2-1 atau 4-2-3-1.

Formasi yang ia terapkan di Al Sadd juga begitu cair. Misalnya, saat memakai formasi 4-2-3-1, Al Sadd sering kali terlihat mengubah formasinya di tengah laga menjadi 4-3-3 atau 4-1-4-1 saat sedang membangun atau melancarkan serangan. Seperti yang sudah jadi ciri khas tiki-taka, penguasaan bola adalah kunci. Musim ini, Al Sadd asuhan Xavi mencatat rata-rata penguasaan bola sebesar 62%.

Akurasi umpan para pemain Al Sadd di bawah asuhan Xavi juga meningkat drastis. Salah satu kunci dalam permainan Xavi adalah penempatan pivot dalam fase build-up dan bertahan. Saat menghadapi tekanan dari 2 striker lawan, 2 gelandang Al Sadd akan membentuk double pivot yang bertujuan memotong laju umpan lawan.

Saat membangun serangan, seorang gelandang akan turun menjadi single pivot untuk mengalirkan bola dari belakang. Single pivot ini juga kerap kali turun membantu 2 orang bek tengah dalam fase bertahan. Dan salah satu pemain yang memerankan posisi tersebut dengan baik adalah Santi Cazorla. Mantan pemain Arsenal dan Villareal itu jadi salah satu pemain kunci Xavi.

Di bawah asuhan Xavi, Cazorla kerap dipasang sebagai gelandang tengah atau gelandang serang. Hasilnya, ia sudah mengemas 13 gol dan 11 asis di liga musim ini. Pemain 36 tahun itu bahkan jadi pemuncak daftar asis di Liga Qatar musim ini.

Selain membangun serangan dari belakang dengan umpan-umpan akurat, Al Sadd juga bermain dengan menjaga kelebaran. Para winger akan tetap bermain melebar. Tujuan dari taktik itu adalah untuk meregangkan garis pertahanan lawan sekaligus menciptakan wide overload di kedua sisi. Dengan begitu, para pemain Al Sadd punya opsi switch play dalam skenario serangannya.

Meski berlandaskan dari taktik tiki-taka, Xavi juga memadukan taktik tersebut dengan skema counterpressing. Tingkat keberhasilan pressing para pemain Al Sadd juga jadi yang tertinggi di liga (58% succesfull pressing). Peralihan dari fase bertahan ke menyerang jadi salah satu sebab betapa produktif dan efektifnya Al Sadd musim ini.

Para pemain Al Sadd akan berusaha menutup jalur umpan lawannya sedini mungkin. Dengan memenangkan penguasaan bola di garis pertahanan lawan, mereka punya keuntungan waktu dan jumlah untuk menyerang lawannya. Tercatat, para pemain Al Sadd sukses menghasilkan 19,5 tembakan per pertandingan dengan 7,75 di antaranya mengarah tepat sasaran. Inilah sebabnya mereka mampu mencetak nyaris 4 gol di tiap pertandingannya.

Dalam menjalankan taktiknya, Xavi tak hanya bergantung dengan Santi Cazorla saja. Pemain kunci lainnya adalah kedua sayap cepat yang ia miliki. Di sayap kiri ada Akram Afif yang sudah mencetak 5 gol dan 8 asis. Sementara di sisi kanan ada Hassan Al-Haydos yang sudah menyumbang 9 asis. Terakhir, ada striker Baghdad Bounedjah yang selalu dipasang Xavi sebagai ujung tombak. Striker Aljazair itu sudah mengemas 21 gol dan 7 asis hanya dalam 19 laga.

Keberhasilan Xavi dalam menerapkan taktik tiki-taka di Al Sadd jelas patut diapresiasi. Hanya dalam tempo 2 musim saja, ia sudah berhasil mempersembahkan 6 gelar untuk Al Sadd. Kesuksesan inilah yang membuat Barcelona tertarik menarik kembali Xavi ke Camp Nou sebagai pelatih mereka.

Kabar ketertarikan itu sudah tercium sejak pemilihan presiden Barca beberapa waktu lalu. Salah satu calon presiden Barcelona, Victor Font bahkan berjanji akan menunjuk Xavi sebagai pelatih tim utama di musim depan. Kabar ini sempat meredup saat Joan Laporta yang terpilih sebagai presiden klub, namun rumor Xavi yang terus diminati Barca masih terjaga.

Buktinya, menurut kabar jurnalis Diario AS, Javi Miguel, Xavi Hernandez dan stafnya tinggal selangkah lagi untuk menandatangani perpanjangan kontrak di Al Sadd hingga Juni 2023. Namun, berdasarkan laporannya, Xavi masih menyertakan klausul Barcelona dalam kontraknya. Artinya, ia bisa meninggalkan Al Sadd saat ada tawaran melatih dari Barca.

“Saya hampir memperbarui kontrak dengan Al Sadd. Kepergian saya dari tim hanyalah rumor dan saya sangat senang bekerja dengan para pemain dan klub ini.”, kata Xavi Hernandez pada 8 Mei lalu dikutip dari Twitter@FCBarcelonaFl.

Meski begitu, kontraknya dengan Al Sadd akan berakhir akhir Juni 2021. Selain itu, banyak legenda dan mantan rekannya yang berharap agar Xavi mau segera kembali ke Barcelona untuk jadi pelatih kepala Blaugrana. Rumornya, Xavi bahkan sudah disiapkan jadi pelatih Barcelona mulai awal musim depan untuk menggantikan Ronal Koeman.

โ€œSemua orang ingin melihat saya sebagai pelatih Barcelona. Saya sangat menghormati Barca dan Koeman, pelatih saat ini. Saya tidak ingin menyembunyikan bahwa saya ingin melatih Barcelona, tetapi selalu menghormati pelatih dan klub saat ini, yang berada dalam kompetisi penuh, dan saya berharap yang terbaik bagi mereka.โ€, kata Xavi Hernandez dikutip dari planetfootball.com (10/5).

Jadi, kapan Xavi akan resmi menjadi pelatih Barcelona? Sepertinya hanya tinggal menunggu waktu hingga hari itu tiba bukan?
***
Sumber Referensi: Total Football Analysis, AP News, Channel News Asia, Bolalob.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *