Timnas Israel: Diasingkan Di Asia, Diterima Di Eropa

  • Whatsapp
Timnas Israel Diasingkan Di Asia Diterima Di Eropa
Timnas Israel Diasingkan Di Asia Diterima Di Eropa

Israel berada di wilayah Timur Tengah yang dikelilingi Laut Tengah, Lebanon, Suriah, Yordania, Mesir dan gurun pasir Sinai. Namun tahukah kalian? Meski berada di wilayah Asia, sepakbola Israel justru berkompetisi bersama negara-negara Eropa.

Mengenai hal ini, ada sejumlah kisah yang boleh dibilang sebagai alasan, mengapa Israel tidak diterima di Asia dan malah tergabung.

Bacaan Lainnya

Sepakbola Israel sendiri memiliki sejarah yang cukup apik. Mereka selalu menjadi penantang gelar di kawasan Asia untuk kemudian berjaya di tahun 1964. Di tahun tersebut, atau pada edisi ketiga Piala Asia digelar, Israel yang ditunjuk sebagai tuan rumah berhasil menumbangkan Korea Selatan sebagai juara bertahan di partai final. Ketika itu, tepat pada 3 Juni 1964, Stadion Nasional Ramat Gan menjadi saksi dari hebatnya para penggawa Israel yang berhasil menumbangkan Korea dengan skor 2-1. Selain itu, sebanyak 35 ribu penonton juga larut dalam kemeriahan pertandingan menarik kala itu.

Momen tersebut tentu akan selalu diingat oleh pecinta sepakbola disana. Satu tinta emas berhasil terajut mulus di bagian paling indah buku sejarah Israel.

Sebelum menjadi juara, seperti yang sudah disinggung di awal, Israel beberapa kali nyaris meraih gelar juara. Mereka dua kali duduk di posisi runner up meski terus ditumbangkan oleh Korea Selatan.

Sayangnya, kegemilangan mereka tak mampu berlanjut setelah pada edisi berikutnya, Israel gagal menempati posisi runner up sekalipun.

Meski berstatus sebagai negara yang pernah menjadi raja di Asia, nama Israel sejatinya tidak disukai oleh kebanyakan negara yang terletak di benua kuning. Ada banyak tim yang sampai menolak untuk bertanding melawan Israel karena persoalan tertentu. Bahkan, beberapa juga ada yang ingin bila status juara Asia Israel tidak diakui oleh AFC selaku Federasi Sepakbola di kawasan Asia.

Sumber dari segala masalah yang diterima Israel adalah sikap mereka yang dianggap sebagai penjajah oleh kebanyakan negara lainnya. Pasalnya seperti diketahui, Israel menjadi negara yang terus menyerang Palestina demi memperebutkan wilayah. Hal tersebut jelas menyulut emosi negara-negara Arab lainnya.

Salah satu momen yang membuat negara-negara di Asia marah adalah ketika pada tahun 1967, terjadi perang enam hari yang melibatkan Mesir, Jordania dan Suriah, yang kala itu masih dinamai sebagai Republik Arab Bersatu dengan Israel sebagai lawannya.

Israel yang memang punya kekuatan cukup mumpuni mendapat penolakan dari negara Asia untuk mengikuti turnamen turnamen tertinggi di kawasan tersebut. Setidaknya pada periode tersebut, banyak yang begitu marah dengan Israel dan terus menggemborkan aksi boikot terhadap negara tersebut.

Karena menjadi negara yang sudah tidak diakui oleh sejumlah negara di Asia, beragam masalah pun diterima sepakbola Israel. Pada tahun 1970, atau di ajang Piala Dunia saat itu, Korea Utara menolak bertanding melawan Israel dalam putaran grup kualifikasi. Lolosnya Israel ke ajang tersebut pun jelas membuat FIFA seperti menabur garam di dalam luka para negara Asia.

FIFA yang seharusnya menjadi badan yang mendamaikan banyak negara melalui sepakbola, justru tampak mendukung Israel dengan menerima kedatangan negara tersebut di kompetisi paling akbar sejagad.

Di ajang Piala Dunia yang menempatkan Meksiko sebagai tuan rumah tersebut, Israel yang tergabung di grup B bersama dengan Italia, Uruguay, dan Swedia, harus rela duduk di posisi paling buncit. Mereka tak pernah sekalipun meraih kemenangan, dan hanya meraih hasil imbang sebanyak dua kali serta sekali kalah.

Jauh sebelum aksi penolakan Korea Utara terhadap Israel, Indonesia juga pernah melakukan hal yang sama pada tahun 1958. Ya, di tahun tersebut timnas Garuda pernah berkesempatan untuk tampil di ajang Piala Dunia. Akan tetapi, negara tercinta ini kemudian tersingkir karena menolak tampil di laga melawan Israel. Pada saat itu, bahkan tidak hanya Indonesia saja yang menolak bertanding melawan Israel, ada nama Mesir dan juga Sudan yang melakukan aksi yang sama.

Lagi-lagi, penolakan untuk bertanding melawan Israel disebut sebagai bentuk solidaritas terhadap Palestina pada medio 50-70an. Mereka yang mendukung Palestina menganggap bila lebih baik mendapat sanksi karena menolak bertanding, ketimbang harus mengakui keberadaan penjajah.

Tidak hanya tim nasionalnya saja yang terkena imbas, namun juga klub Israel yang tidak diterima di kawasan Asia. Maccabi Tel Aviv yang merupakan juara Liga Israel plus pernah menjadi juara di Liga Champions Asia sebanyak dua kali dilarang tampil di turnamen benua tempat mereka berasal.

Setelah permasalahan ini semakin pelik, tepat pada tahun 1974, Kuwait selaku anggota Arab yang paling memiliki kuasa saat itu, menyusun rencana untuk mengusir Israel secara total dari keanggotaan sepakbola Asia.

Setelah terjadi beragam kericuhan internal, akhirnya AFC resmi mengeluarkan Israel dari keanggotaan mereka. Tak berselang lama, negara tersebut bergabung dengan Oceania selama 20 tahun lamanya. Bisa dibilang, masa tersebut menjadi yang paling suram bagi Israel. Selain karena menjadi negara yang tidak jelas statusnya, Israel juga mengaku kerepotan bila harus melakukan pertandingan tandang dengan negara di kawasan Oceania.

Setelah terus terombang-ambing, akhirnya, UEFA menawarkan kartu keanggotaan kepada Israel. Mereka pun menerimanya dan resmi menjadi bagian dari kompetisi benua biru pada tahun 1994.

Sejak saat itu, mereka rutin tampil di kompetisi Eropa. Namun meski sudah menjadi bagian dari negara Eropa, Israel tidak langsung bisa menerima tamu dari kawasan tersebut. Pasalnya, UEFA ketika itu sempat melarang tim-tim Eropa untuk melakukan perjalanan ke Israel, dengan alasan keamanan.

Penerimaan Israel sebagai anggota UEFA pun banyak menuai kecaman. UEFA sebagai badan tertinggi sepakbola Eropa dianggap telah mencederai banyak pihak. Mereka dianggap sama sekali tidak melirik penyerangan yang dilakukan Israel terhadap Palestina. Padahal, secara tegas ada statuta FIFA yang menyebut bila,

“Diskriminasi dalam bentuk apapun terhadap negara, orang pribadi atau sekelompok orang dengan membawa-bawa etnis, jenis kelamin , bahasa, agama, politik atau alasan lain, sangat dilarang dan akan dihukum lewat suspensi atau dihapus dari keanggotaan.”

 

Sumber referensi: markingthepost, panditfootball, tirto, libero

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *