Mengapa Tottenham Hotspur Sulit Juara?

  • Whatsapp
Mengapa Tottenham Hotspur Sulit Juara?
Mengapa Tottenham Hotspur Sulit Juara?

“Sangat sulit untuk memenangkan trofi sebelumnya. Sekarang saya mungkin mengalami momen terbaik dalam karier saya. Saya melakukan banyak hal secara berbeda dan sekarang saya memiliki trofi atas nama saya,” ujar Christian Eriksen kepada Gazzetta Dello Sport pasca juara Serie A Italia bersama Inter Milan.

Begitulah bunyi pernyataan Christian Eriksen usai membantu Inter Milan meraih scudetto 2021. Pemain internasional Denmark itu jelas tak bisa menyembunyikan kegembiraannya. Bagaimana tidak, Eriksen baru saja memenangkan trofi pertamanya dalam 8 tahun terakhir kariernya.

Bacaan Lainnya

Melalui pernyataan tersebut, Eriksen juga mengakui bahwa betapa sulitnya ia meraih juara di klub sebelumnya. Selama 6 setengah tahun mengabdi di Tottenham Hotspur, Eriksen selalu gagal meraih juara. Selain mengundang simpati, pernyataan Eriksen tadi juga mengundang reaksi negatif dari pada pendukung Spurs. Banyak yang menyayangkan pernyataan tersebut, tapi tak sedikit pula yang mengakui dan memahami pengakuan Eriksen tersebut.

Faktanya, Tottenham Hotspur memang kesulitan meraih juara dalam beberapa tahun terakhir. Meski mereka jadi bagian dari β€œThe Big 6” Premier League, prestasi Spurs jauh bila dibandingkan dengan anggota lainnya. Mereka memang klub besar. Sepanjang sejarahnya, Spurs sudah menjuarai Liga Inggris 2 kali, FA Cup 8 kali, Piala Winners satu kali, dan Piala UEFA 2 kali. Sayangnya, semua gelar tersebut diraih sebelum era 2000an.

Sudah begitu lama sejak terakhir kali Tottenham Hotspur menjuarai sebuah kompetisi besar. Dahulu, Spurs adalah tim yang cukup diperhitungkan di Inggris, bahkan Eropa. Mereka juga merupakan salah satu pendiri Premier League pada 1992. Sayangnya, begitu era Premier League dimulai, prestasi Spurs berangsur memburuk. Setelah menjuarai Piala FA 1991, performa Spurs justru menurun dan hanya mampu bersaing di papan tengah.

Kemunduran di era 90an itulah yang membuat posisi Alan Sugar sebagai pemilik Spurs mendapat tekanan. Bayangkan saja, mereka dulu punya pemain berkelas semacam Jurgen Klinsmann atau Teddy Sheringham. Namun, Spurs hanya mampu menjuarai EFL Cup 1999. Singkat cerita, setelah muncul berbagai spekulasi, Alan Sugar akhirnya menjual kepemilikannya kepada ENIC Group pada Februari 2001. Sejak saat itu, pemilik Spurs beralih kepada perusahaan investasi yang dijalankan oleh Joe Lewis dan Daniel Levy.

Daniel Levy kemudian diketahui diberi kepercayaan sebagai chairman, alias orang tertinggi dalam perusahaan yang mengelola Tottenham Hotspur. Di bawah kendali ENIC, perubahan mulai dilakukan. Mereka diketahui membangun sarana latihan baru senilai 45 juta euro dan merenovasi stadion White Hart Lane menjadi Tottenham Hotspur Stadium yang menelan biaya hingga 1,2 miliar euro. Sayangnya, sejak 2001 hingga sekarang, Spurs hanya menjuarai Piala Liga musim 2007/2008.

Jadi, apa saja penyebab sulitnya Spurs meraih prestasi?

 

1. Penunjukan dan pemecatan manajer yang tidak tepat

Selama masa kepemimpinan Daniel Levy, mayoritas manajer yang ditunjuk untuk menangani Spurs bukanlah manajer papan atas. Tercatat, dari 2001 hingga sekarang, total ada 12 manajer yang pernah menangani Spurs. Mulai dari Glenn Hoddle, David Pleat, Jacques Santini, Martin Jol, Clive Allen, Juande Ramos, Harry Redknapp, Andre Villas-Boas, Tim Sherwood, Mauricio Pochettino, Jose Mourinho, dan Ryan Mason yang kini sedang bertugas sebagai manajer interim.

Dari daftar tersebut, hanya ada 3 nama pelatih yang pernah membawa klub sebelumnya meraih juara. Mereka adalah Juande Ramos yang menjuarai Piala UEFA 2 kali beruntun bersama Sevilla, Andre Villas-Boas yang menjuarai Europa League 2011 bersama Porto, dan Jose Mourinho yang pernah meraih treble bersama Inter Milan. Namun, dari daftar tersebut hanya Juande Ramos yang berhasil mempersembahkan trofi Piala Liga pada 2008 silam.

Ketiga pelatih tadi punya alasan pemecatan yang sama. Ketiganya dipecat setelah memetik beberapa hasil buruk di liga secara beruntun meski di kompetisi lain meraih hasil yang cukup bagus. Bisa dibilang, Spurs gemar memecat pelatihnya di saat yang tidak tepat.

Mauricio Pochettino yang dianggap sebagai manajer terbaik Spurs dalam beberapa tahun terakhir juga dipecat dengan alasan hasil buruk di liga. Meski setahun sebelumnya ia berhasil membawa Spurs ke final Liga Champions pertama dalam sejarah, prestasi itu tetap tak mampu menyelamatkan Pochettino dari murka Daniel Levy.

 

2. Ketiadaan direktur olahraga dalam klub

Kegemaran Spurs dalam menunjuk manajer tak dibarengi dengan penunjukan direktur olahraga yang mampu menjaga visi dan filosofi klub. Diketahui, posisi sporting director Spurs bahkan telah vakum selama 6 tahun terakhir. Kekosongan posisi vital ini disinyalir jadi salah satu sebab kemunduran prestasi Spurs.

Selama kepemilikan ENIC Group, Spurs pernah punya 4 direktur olahraga. Mereka adalah David Pleat (1998-2003), Frank Arnesen (2004-2005), Damien Comolli (2005-2008), dan Franco Baldini (2012-2015). Memiliki direktur olahraga yang kompeten di bidangnya sudah terbukti menguntungkan Spurs. Comolli misalnya, ia adalah aktor dibalik perekrutan Dimitar Berbatov dan Luka Modric. Sementara itu, Franco Baldini adalah orang yang mendatangkan Christian Eriksen dan Erik Lamela ke Spurs pada 2013 silam.

Jika tak memiliki direktur olahraga, sudah seharusnya Spurs minimal memiliki pencari bakat yang kompeten. Sejatinya, mereka pernah punya kepala pencari bakat yang handal. Dia adalah Paul Mitchell yang datang bersama Mauricio Pochettino pada 2014 silam dari Southampton. Dia membantu Spurs merekrut pemain seperti Dele Alli, Son Heung-min, Kieran Trippier dan Toby Alderweireld. Sayangnya, pada 2016, Mitchell mundur. Ia merasa muak dan frustasi bekerja di Spurs dan ada dugaan kuat bahwa ia beselisih dengan Daniel Levy.

Masalah lainnya, Spurs tak punya jaringan scouting pemain seluas Arsenal, Chelsea, Liverpool atau duo Manchester. Masalah inilah yang kerap membuat Spurs kesulitan mencari pengganti pemain andalan mereka yang dilego ke klub lain. Meski belakangan makin banyak memakai pemain asli akademinya, namun faktanya, akademi pemain Spurs juga bukan yang terbaik di Inggris. Jika ingin meningkatkan prestasi, Spurs perlu membenahi jaringan scouting dan akademi mudanya.

 

Lalu, apa lagi yang bisa dilakukan Spurs untuk memperbaiki prestasinya?

Pertama, Spurs bisa mempertimbangkan untuk menunjuk sporting director yang ahli dan kompeten dibidangnya. Kepemimpinan Daniel Levy yang mengambil alih peran tersebut terbukti telah gagal. Padahal, memiliki seorang direktur olahraga yang kompeten dalam klub adalah sebuah keharusan di era sepak bola modern.

Seperti yang kita ketahui, keberadaan sporting director sangatlah vital. Ia adalah seseorang yang bertanggung jawab dalam menjaga visi dan filosofi klub sekaligus bertanggung jawab dalam perekrutan pemain. Adanya direktur olahraga akan membantu klub tetap stabil meski manajernya bergonta-ganti. Sejatinya, masalah ini sudah tercium dan terungkap saat Jose Mourinho menjabat sebagai manajer.

“Saya telah berpikir untuk waktu yang sangat lama, kami memiliki masalah di tim yang tidak bisa saya selesaikan sendiri sebagai pelatih.”, kata Jose Mourinho dikutip dari bbc.com

Pada 2019, Mourinho pernah meminta Daniel Levy untuk merekrut Luis Campos sebagai direktur olahraga klub. Sayangnya, permintaan untuk merekrut mantan direktur olahraga AS Monaco dan Lille yang sukses mengorbitkan Bernardo Silva dan Kylian Mbappe itu ditolak oleh Levy. Ia malah menunjuk kepala pencari bakat klub, Steve Hitchen sebagai Technical Performance Director.

Keberadaan Daniel Levy memang jadi masalah tersendiri bagi fans. Banyak yang tak menyukai Levy sebagai ketua. Faktanya, pemecatan direktur olahraga dan kepala pencari bakat Spurs yang dulu disebabkan perselihan mereka dengan Levy. Paul Mitchell yang mundur pada 2016 silam juga diketahui kesulitan bekerja sama dengan Levy yang keras kepala dalam perekrutan pemain. Fakta lainnya, Levy adalah chairman dengan gaji paling mahal di Inggris, ia menerima gaji 7 juta euro pertahun. Hal itu membuat para fans tak senang, sebab kinerja Levy jauh dari upah yang ia terima.

Model pengelolaan klub juga perlu diubah, dari berorientasi bisnis menjadi prestasi. Tottenham Hotspur memang telah sukses bertransformasi menjadi tim kaya. Mereka dinobatkan sebagai klub terkaya kesembilan di dunia menurut Deloitte, dengan total pendapatan 445 juta euro. Sayangnya, mereka juga punya beban utang hingga lebih dari 1 miliar pounds. Investasi besar-besaran dalam pembangunan sarana latihan, stadion baru, dan pembelian pemain mahal nyatanya bukan menghasilkan trofi, tetapi justru menyisakan beban utang.

Spurs punya utang lebih dari 600 juta euro hanya dari pembangunan stadion baru mereka. Mereka juga punya utang transfer pemain hingga lebih dari 100 juta euro. Faktanya, selama hampir 21 tahun kepemilikan ENIC Group, tidak ada satupun trofi bergengsi yang singgah ke lemari trofi Spurs.

Dalam 17 bulan terakhir, kondisi Spurs juga tengah memanas. Dari pemecatan Pochettino, perekrutan Mourinho, pembentukan dan pembubaran European Super League, dan akhirnya pemecatan Jose Mourinho yang disusul penunjukan Ryan Mason sebagai manajer. Imbasnya, fans Spurs mendesak agar ENIC Group dan Daniel Levy agar angkat kaki dari Tottenham Hotspur.

Kondisi ruang ganti Spurs juga terpantau panas dalam beberapa bulan terakhir. Spurs juga terancam kehilangan beberapa pemain andalannya yang mulai terlihat tidak betah. Kondisi itu juga perlu dibenahi. Sebab, mustahil sebuah tim memenangkan trofi bila antar pemain terlibat perselisihan.

Itulah beberapa kondisi dalam internal Spurs yang menghambat mereka meraih prestasi. Bukan sebuah rahasia lagi bila ingin juara, klub harus punya keuangan yang sehat, ruang ganti yang kondusif, dan dikelola oleh orang-orang yang kompeten.

***
Sumber Referensi: HITC, Spurs-web 1, Football London, Spurs-web 2, Spurs-web 3.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *