Beranda blog Halaman 706

Strategi Licik Untuk Menjatuhkan Mental Lawan di Ruang Ganti

Setiap klub sepak bola pasti punya strategi-strategi khusus untuk mendapatkan kemenangan di setiap pertandingan. Secara umum, strategi yang dipakai adalah soal teknik bermain di atas lapangan.

Namun, di balik layar, klub sepak bola juga punya strategi lain untuk paling tidak menjatuhkan mental pemain lawan. Salah satunya adalah dengan mendesain ruang ganti pemain lawan di stadion dengan desain yang membuat lawan merasa tidak nyaman.

Berikut ini adalah metode atau strategi licik yang diterapkan tim tuan rumah untuk menjatuhkan mental pemain tamu.

Stamford Bridge (Chelsea)

Sebagai salah satu klub terbesar di Inggris, Chelsea punya cara jitu untuk merendahkan bahkan menjatuhkan mental pemain lawan yang bertandang ke markas mereka, Stadion Stamford Bridge.

Di dalam stadion berkapasitas 41 ribu penonton tersebut, Chelsea sengaja mendesain ruang ganti pemain tamu dengan memasang papan gantungan baju lebih tinggi daripada standarnya

Hal itu tentu akan membuat pemain lawan mau tidak mau berjinjit saat akan meraih gantungan. Dengan berjinjit, engkel, lengan atau hamstring pemain lawan ini akan menjadi lebih tegang. Dan kalau sudah tegang, bermain pun bisa tidak maksimal.

Estádio Da Luz (Benfica)

Klub Portugal, Benfica, punya cara tersendiri untuk membuat pemain lawan down sebelum bertanding.

Selain dengan memberikan fasilitas yang kurang memadai, Benfica sengaja memajang foto-foto suporter mereka yang sedang mengenakan kostum dan syal kebanggaan dalam ruang ganti. Tentu saja, cara ini dilakukan untuk memberikan tekanan mental pada tim lawan. 

Anfield (Liverpool)

Keangkeran Stadion Anfield bagi tim tamu Liverpool tidak hanya dirasakan dari tanda “This Is Anfield” yang ada di lorong menuju lapangan. Suasana “dingin” juga dirasakan tim tamu sejak dari locker room pemain. 

Di Anfield, kamar ganti tim tamu didesain lebih luas dari ruang ganti para pemain Liverpool. Sengaja didesain sedemikian rupa agar instruksi yang diberikan manajer tim tamu jadi kurang maksimal, karena jarak antara manajer dan pemain cukup jauh.

La Bombonera (Boca Juniors)

Ruang ganti milik klub Argentina, Boca Juniors memiliki desain yang unik. Tempat ini pun menjadi tempat kelahiran untuk para legenda sepak bola seperti Carlos Tevez, Martin Palermo, Juan Roman Riquelme, Gabriel Batistuta, bahkan Diego Maradona. 

Namun disisi lain, ruang ganti di stadion La Bombonera justru menjadi tempat yang kurang nyaman untuk tim lawan. Pasalnya, ruang ganti tim tamu ditempatkan persis  di bawah tribun basis suporter Boca, “La Doce”. Basis suporter yang fanatismenya sudah tidak perlu ditanyakan lagi.

Dengan begitu, para pemain lawan akan mendengar dengan jelas suara dentuman kaki dan riuh suporter Boca di atas ruangan mereka. Selain itu, fasilitasnya juga biasa saja. Bahkan toiletnya tidak dikasih pintu.

Plough Lane (Wimbledon)

Wimbledon FC pernah menjadi salah satu tim tangguh di persepakbolaan Inggris. Dan itu dimulai dari ruang ganti di stadion Plough Lane. Ketika pemain lawan menghuni ruang ganti stadion tersebut, suasana tidak nyaman akan menyelimuti mereka.

Wimbledon akan mengecilkan pemanas ruangan (jadi lebih dingin). Selain itu juga Wimbledon akan memutar musik dengan volume suara yang sangat keras. Kedua hal tersebut dimaksudkan untuk mengintimidasi lawan mereka, dan tentu saja membuat ciut nyali kubu lawan.

Saturn Stadium (Anzhi Makhachkala)

Tottenham Hotspur mendapatkan pengalaman hebat saat melawat ke Rusia, saat menghadapi Anzhi Makhachkala di ajang Liga Europa pada tahun 2013. Azhi memang tidak diizinkan bermain di wilayah Dagesta, yang merupakan kandang mereka dengan alasan keamanan. Saturn Stadium yang biasa dipakai oleh klub FC Saturn Ramenskoye akhirnya menjadi tempat pertandingan antara Anzhi kontra Spurs.

Di ruang ganti pemain Spurs, pihak tuan rumah menyediakan sofa yang cukup nyaman bagi para pemain tim tamu. Harapannya, pemain Spurs akan bersantai dan malas-malasan karena kelamaan duduk disitu. Namun cara ini gagal, sebab The Lilywhites berhasil menang 2-0 di stadion yang hanya mampu menampung 16,700 penonton tersebut.

Stadion Emirates (Arsenal)

Klub raksasa London, Arsenal punya cara tersendiri untuk membuat lawannya tidak nyaman. Hal itu dilakukan dengan cara memperlakukan pemain lawan di ruang ganti stadion Emirates.

The Gunners memasang satu meja besar di tengah ruangan. Meja itu dibuat dengan perhitungan khusus, dimana kalau tim lawan menaruh makanan atau minuman diatas meja itu, maka para pemain yang duduk di satu sisi, tidak bisa melihat ke orang di seberangnya.

Metode itu bisa saja mempengaruhi komunikasi antar pemain yang tidak bisa melihat satu sama lain dengan jelas. Selain itu, ruang ganti pemain tamu lebih kecil bahkan lebih sempit dibanding tata ruang ganti pemain Arsenal.

Arsenal bilang “ini cara kami meneror tim tamu”. Kadang kami buat air hidup mati, bahkan lampu tiba-tiba mati.”

Bagaimana menurut kamu Football Lovers? Strategi manakah yang menurutmu paling licik dan merugikan?

Sumber Referensi : Instagram, Idntimes, Dreamteamfc

 

Oscar Mingueza, Jebolan La Masia Masadepan Barcelona

Mendengar nama La Masia, semua pasti langsung tertuju pada sebuah tempat bermain sepakbola terbaik bagi para bakat muda. Akademi milik FC Barcelona itu memang sudah sejak lama menjadi salah satu yang terbaik di dunia. Melalui pelatihan yang memang luar biasa, Barca sangat diuntungkan dengan kedatangan pemain-pemain hebat tanpa mengeluarkan dana sepeserpun.

Carles Puyol, Andres Iniesta, hingga Lionel Messi, menjadi bukti dari betapa luar biasanya akademi ini. Selain pemain, ada juga pelatih bernama Pep Guardiola yang turut hadir dari akademi mereka. Juru taktik yang sebelumnya menangani tim Barcelona B ini diangkat oleh Joan Laporta untuk menggantikan posisi Frank Rijkaard di tim utama. Hasilnya? Sama seperti pemain hebat lainnya. Guardiola berhasil menjawab keraguan dengan kejayaan. Dia berhasil sumbangkan piala, termasuk trofi Liga Champions Eropa yang menjadi capaian terbesarnya.

Namun dalam beberapa tahun belakangan, akademi La Masia tampak melempem dalam salurkan bakat ke tim utama. Mereka malah lebih sering membeli pemain hebat dengan harga yang mahal, meski kebanyakan dari mereka tidak benar-benar mampu dijadikan sebagai andalan.

Akhirnya, selain faktor tersebut, keuangan yang juga mulai sering terganggu membuat Barcelona kembali ‘dipaksa’ untuk memaksimalkan bakat muda dari akademi mereka.

Dalam hal ini, ada satu nama yang pada akhirnya sukses membuat semua terpana. Adalah Oscar Mingueza, pemuda 21 tahun yang telah tampil untuk FC Barcelona dalam berbagai jenjang usia.

Oscar Mingueza yang berposisi sebagai seorang bek telah melakoni debutnya dengan tim utama pada pertandingan melawan Dynamo Kiev di ajang Liga Champions Eropa. Di laga tersebut, dia berhasil membantu Barca memenangkan laga dengan skor telak 4-0. Kedatangan Oscar Mingueza adalah karena Barcelona banyak kehilangan pilarnya, terutama yang berposisi sebagai bek tengah.

Klub yang bermarkas di Camp Nou tercatat kehilangan Gerard Pique yang terkena akumulasi kartu, serta Samuel Umtiti yang mengalami cedera. Belum lagi Ronald Araujo yang belum bisa tampil. Pelatih Ronald Koeman sejatinya masih bisa memasang Sergio Busquets serta Frenkie de Jong, yang merupakan seorang gelandang namun pernah dipasang sebagai pemain belakang. Akan tetapi, dua pemain tersebut juga tidak tersedia. Maka, hal ini benar-benar menjadi berkah bagi Mingueza. Dia dipanggil dan langsung tampil dengan mendampingi Clement Lenglet di lini belakang Blaugrana.

Di laga itu, penampilan Mingueza bukan hanya sebagai pelengkap belaka. Dia benar-benar berandil besar dalam kemenangan Barca, dan bahkan turut membantu Martin Braithwaite dalam menjebol gawang lawan. Di laga itu, sundulannya yang memanfaatkan sepak pojok mampu menjadi assist yang pada akhirnya dimanfaatkan oleh Braithwaite untuk menjadi gol.

Selain kontribusinya itu, dia juga tampil menawan bersama Lenglet. Duetnya di lini belakang berhasil membuat gawang Barcelona bersih.

Sudah sekitar 14 tahun lamanya bergabung dengan FC Barcelona, Mingueza mengikuti jejak pemain-pemain seperti Marti Riverola, Sergi Samper, dan Carles Alena sebagai sosok yang menjelajahi semua tim kategori umur di Barcelona hingga merumput bersama skuad utama.

Ya, lahir pada 13 Mei 1999, bakat Mingueza yang sudah terendus oleh FC Barcelona sejak umur 7 tahun telah melewati banyak sekali masa di tim Katalan. Dia bahkan masuk ke dalam skuad Barcelona B, yang berhasil memenangi kompetisi UEFA Youth League dengan mencatatkan clean sheet, setelah mengalahkan Chelsea 3-0 pada laga final 2017/18.

Dia yang ditunjuk sebagai kapten bermain bersama Riqui Puig dan Carles Perez, untuk menghadapi skuad Chelsea yang ketika itu diisi dengan pemain seperti Reece James dan Callum Hudson-Odoi.

Apa yang telah ditampilkan Mingueza diatas lapangan memang layak mendapat pujian. Jiwa kepemimpinannya mengingatkan semua penggemar akan sosok Carles Puyol. Keberaniannya dalam mengambil keputusan juga semakin membuatnya berwibawa. Lebih lanjut, kemampuannya sebagai ball playing defender juga membuat Ronald Koeman terus memberinya kepercayaan dalam sistem 3-5-2.

Kemampuan passing Mingueza tak bisa diremehkan. Tercatat, dia memiliki rata-rata passing sebanyak 57,7 per laga dengan persentase sukses mencapai 92,6.

Di laga debutnya melawan Kiev, Mingueza telah berhasil mencatatkan 103 sentuhan bola, dimana itu menjadi yang tertinggi dari semua pemain Barcelona lainnya, sekaligus mencatatkan 93 operan operan sukses. Berkat penampilan hebatnya itu, dia disebut sebagai remaja yang potensial oleh Jordi Alba.

“Ia adalah bocah yang telah berlatih bersama kami untuk waktu yang lama dan hari ini ia memainkan laga yang hebat dan memberikan assist kepada Braithwaite,”

“Secara defensif, ia sangat bagus, tidak telihat seperti ia baru menjalani debutnya bersama tim utama.” ujar Alba.

Tak sampai disitu saja, kemampuan Mingueza masih lebih dari sekadar pemain belakang. Sejauh ini, dia mampu menciptakan rata-rata tekel tertinggi di angka 2,1. Sementara, sapuannya di angka 1,8 dan intersep nya 0,8. Tampil agresif memang menjadi salah satu karakternya. Wajar saja, sebagai pemain muda, Mingueza punya kecepatan luar biasa. Tak jarang dia juga menjadi pemain yang pandai menempatkan posisi sekaligus kerap memenangi duel berkat tubuh kekar yang dimilikinya.

Penampilan Mingueza sejauh ini tampaknya akan membuat Barcelona lebih fokus untuk mengembangkan kualitas sang pemain, ketimbang harus bersusah payah mendatangkan pemain incaran dengan harga mahal, yang belum tentu juga mereka mampu beradaptasi dengan baik.

Ronald Koeman, selaku juru taktik tim Katalan juga menyukai penampilan Mingueza. Dia percaya bahwa bakat muda itu punya potensi besar yang sama sekali tidak bisa diremehkan. Dia pun berharap bila Mingueza bisa terus tampil konsisten di puncak performa.

“Aku pikir Mingueza telah membuktikan bahwa kami bisa mengandalkannya,”

“Ia harus bekerja keras agar mendapatkan menit bermain. Namun, ia telah berlatih bersama kami untuk 5-6 minggu dan telah memberi impresi yang bagus.” ujar Koeman.

Oscar Mingueza sendiri merasa senang dan bangga dengan apa yang telah diberikannya kepada klub sejauh ini. Dia pun menyadari masih memiliki banyak kekurangan dan berharap bisa terus bertahan, serta mewujudkan mimpinya sebagai pemain andalan FC Barcelona.

 

Sumber referensi: The Flanker, Goal, MSN

Perjalanan Panjang Sporting Lisbon Akhiri Puasa Gelar 19 Tahun

0

Selasa malam waktu setempat, suasana kota Lisbon seketika berubah menjadi lautan pesta para pendukung klub sepak bola berjersi hijau dan putih. Bagaimana tidak, setelah menunggu selama 19 tahun lamanya, para pendukung Sporting Lisbon itu akhirnya bisa kembali berpesta usai tim yang mereka dukung kembali juara Liga Portugal. Selasa, 11 Mei 2021, Sporting Lisbon sukses memastikan diri keluar sebagai juara Liga Primeira Portugal musim 2020/2021.

Ribuan pendukung langsung merayakan pesta juara Sporting Lisbon. Meski masih dalam kondisi pandemi Covid-19, para penggemar Sporting Lisbon tetap mengenakan jersey, syal dan bernyanyi sepanjang malam bersama kerabat dan keluarganya merayakan gelar juara Liga Portugal yang sudah mereka nantikan begitu lama.

Sebelumnya, kepastian juara berhasil Sporting Lisbon dapat di pekan ke-32. Klub berjuluk Leones alias The Lions itu sukses menundukkan Boavista 1-0 di Stadion Jose Alvalade. Gol tunggal Paulinho di menit ke-36 sudah cukup untuk mengunci gelar juara liga Portugal musim ini.

Selain menjadi gelar Liga Portugal ke-19, keluarnya Sporting Lisbon sebagai juara liga Portugal musim ini juga sukses menghentikan dominasi Porto dan Benfica yang silih berganti menjuarai liga Portugal selama 19 tahun terakhir. Terakhir kali Sporting Lisbon bisa menjuarai Liga Portugal terjadi pada musim 2001/2002.

Jadi, bagaimana kisah perjuangan Sporting Lisbon dalam mengakhiri puasa gelar selama 19 tahun? Berikut analisisnya.

Lahir dengan nama Sporting Clube de Portugal pada 1906, klub yang bermarkas di Estadio Jose Alvalade itu merupakan anggota “Os Tres Grandes” atau The Big Three. Julukan tersebut disematkan kepada 3 klub tersukses di Portugal, yakni Sporting Lisbon, Benfica, dan FC Porto yang nyaris selalu mendominasi persaingan di Liga Primeira Portugal.

Sejak 1934, anggota The Big Three tak pernah terdegradasi dari kasta pertama dan hanya gagal meraih juara liga di 2 kesempatan, yakni di musim 1945/1946 dan 2000/2001. Sisanya, gelar juara selalu berpindah dari tangan Benfica, Porto, atau Sporting Lisbon. Namun, dibanding 2 rivalnya itu, gelar Sporting Lisbon masih kalah jumlah.

Benfica jadi pengoleksi gelar terbanyak. Rival sekota Sporting Lisbon itu sudah menjuarai liga sebanyak 37 kali. Menyusul kemudian Porto dengan 29 gelar liga. Dalam 19 tahun terakhir, Sporting Lisbon juga terus berada di bawah bayang-bayang Benfica yang juara 7 kali dan Porto yang juara 11 kali.

Berbagai upaya telah dilakukan Sporting Lisbon untuk mendobrak dominasi 2 rivalnya itu. Dari menunjuk pelatih berpengalaman hingga mendatangkan pemain-pemain terbaik ke dalam skuad. Namun, gebrakan cukup mengejutkan justru dibuat manajemen Sporting Lisbon jelang musim 2020/2021.

Mereka memulai liga musim ini dengan pelatih barunya Ruben Amorim. Penunjukan Amorim pada Maret 2020 cukup menyita banyak perhatian. Pasalnya, Amorim yang masih berusia 36 tahun adalah pelatih muda minim pengalaman yang baru mencicipi persaingan Liga Portugal selama 3 bulan terakhir.

Direktur olahraga Sporting Lisbon, Hugo Viana tak hanya bertaruh dengan memberi kepercayaan kepada mantan rekan satu timnya itu, tetapi juga harus menebus Ruben Amorim dari SC Braga dengan biaya transfer 10 juta euro. Diketahui, biaya transfer itu menjadikan Amorim manajer termahal keempat di Eropa.

Keberanian Sporting Lisbon menunjuk Ruben Amorim sebenarnya cukup beralasan. Selama 13 laga melatih SC Braga, ia berhasil membawa klub tersebut meraih 10 kemenangan dan hanya menelan 2 kekalahan. Keseriusan Sporting Lisbon dengan potensi Ruben Amorim ditunjukkan dengan durasi kontrak hingga 30 Juni 2023 dan memagarinya dengan klausul rilis sebesar 20 juta euro.

Selain mengontrak pelatih muda, secara mengejutkan, Sporting Lisbon yang finish di posisi keempat musim lalu justru melego banyak pemain andalannya. Selain menjual Bruno Fernandes ke Manchester United dengan bayaran nyaris 80 juta euro, mereka juga ditinggal pemain utamanya seperti, Raphinha, Bas Dost, Marcos Acuna, dan Wendel yang hijrah ke klub lain.

Dengan kondisi itu, perombakan skuad besar-besaran dilakukan Ruben Amorim sebelum memulai musim 2020/2021. Dari 10 pemain bertahan di musim sebelumnya, Amorim hanya mempertahankan 5 diantaranya. Situasi di lini tengah lebih ekstrem. Amorim hanya mempertahankan 3 dari 10 gelandang di musim lalu. Setali tiga uang, dari 9 penyerang, pelatih 36 tahun itu hanya mempertahankan 5 diantaranya. Total, ia hanya mempertahankan 15 pemain dari 32 pemain yang terdaftar di musim sebelumnya.

Untuk mengisi kekosongan itu, beberapa nama baru didatangkan. Menariknya, pembelian pemain termahal Sporting Lisbon di musim panas lalu hanya Pedro Goncalves yang ditembus seharga 6,5 juta euro dari Famalicao. Menyusul kemudian ada winger kiri Nuno Santos dan Zouhair Feddal yang masing-masing dibeli dari Rio Ave dan Real Betis dengan harga 3,7 juta euro dan 2,15 juta euro saja.

Selain itu, Sporting Lisbon juga mendatangkan beberapa pemain berpengalaman. Salah satunya adalah gelandang Joao Mario yang dipinjam dari Inter Milan. Selain Mario, kiper 33 tahun asal Spanyol, Antonio Adan juga ditembus secara gratis dari Atletico Madrid. Lebih mengejutkan lagi, untuk memenuhi skuadnya, Ruben Amorim lebih banyak mempromosikan pemain muda dari tim U-23, seperti Matheus Nunes, Jovane Cabral, Tiago Tomas, Nuno Mendes, Daniel Braganca, dan Goncalo Inacio.

Berkat perombakan tersebut, skuad Sporting Lisbon musim ini tercatat punya rata-rata usia termuda keempat di liga (24,8 tahun). Bisa dibilang, Sporting Lisbon memadukan mayoritas pemain mudanya dengan beberapa pemain senior. Para bintang muda minim pengalaman yang baru promosi ke tim utama bahkan jadi pemain andalan Sporting Lisbon musim ini.

Di bawah asuhan Ruben Amorim, Sporting Lisbon bermain dengan formasi 3-4-2-1. Posisi penjaga gawang jadi milik Antonio Adan. Trio bek tengah ditempati Luis Neto, Zouhair Feddal, dan sang kapten Sebastian Coates. Wingback kanan ditempati Pedro Porro, sementara wingback kiri jadi milik Nuno Mendes. Duo gelandang tengah jadi milik Joao Palhinha dan Joao Mario. Sementara itu, trio penyerang ditempati Nuno Santos, Pedro Goncalves, dan ujung tombak Paulinho.

Kolektvitas jadi hal utama yang paling ditekankan. Dengan formasi tersebut, pertahanan Sporting Lisbon tampil begitu kokoh. Ketika dalam posisi bertahan, 2 wingback akan turun membantu pertahanan dan membentuk formasi 5 bek. Dalam hal ini, Pedro Porro, pemain 21 tahun pinjaman dari Manchester City dan Nuno Mendes yang baru berusia 18 tahun jadi kuncinya. Pasalnya, dalam fase menyerang, keduanya akan maju dan membantu trio penyerang Sporting Lisbon.

Sementara itu, 2 gelandang bertahan menutup ruang antarlini ketika posisi bertahan sembari bersiap melakukan serangan balik. Keduanya jadi pelindung lini tengah ketika 2 wingback maju membantu serangan. Hasilnya, sepanjang musim ini, Sporting Lisbon baru kebobolan 19 gol. Pertahanan mereka jadi yang paling kokoh dan paling sedikit kebobolan.

Sporting Lisbon juga tercatat sebagai tim ketiga dengan intensitas pressing tertinggi di liga. Skema Counter pressing di sepertiga akhir dan permainan cepat di area lawan membuat para pemain Sporting Lisbon sudah mencetak 60 gol dari 33 laga. Mereka jadi tim terproduktif ketiga setelah Porto dan Benfica.

Gelandang serang Pedro Goncalves jadi pemuncak daftar top skor Sporting Lisbon. Pemain 22 tahun itu sepertinya jadi pengganti sepadan Bruno Fernandes. Hingga pekan ke-33, ia sudah mencetak 20 gol dan 4 asis. Jumlah golnya berhasil menyamai striker Benfica, Haris Seferovic yang jadi top skor Liga Primeira Portugal. Sementara itu, dua rekannya di lini serang, Nuno Santos dan Paulinho masing-masing telah mengemas 7 dan 6 gol. Nuno Santos, winger 26 tahun yang juga baru didatangkan musim ini juga sudah mengemas 6 asis.

Di lini belakang, Antonio Adan dan Sebastian Coates jadi kunci kokohnya pertahanan Sporting Lisbon. Adan, mantan kiper cadangan Real Madrid dan Atletcio Madrid berusia 34 tahun itu telah mencatat 19 kali clean sheets dan baru kebobolan 19 gol dalam 32 laga. Sementara Sebastian Coates, bek tengah 30 tahun asal Uruguay tampil produktif dengan sumbangan 5 golnya. Mantan pemain Liverpool itu juga bertindak sebagai kapten tim.

Dengan perpaduan skuad senior dan pemain muda minim pengalamannya, Sporting Lisbon asuhan Ruben Amorim berhasil memastikan juara Liga Primeira Portugal di pekan ke-32. Hebatnya, Sporting Lisbon memastikan juara di pekan tersebut dengan status tak terkalahkan. Mereka telah meraih 25 kemenangan dan 7 kali imbang tanpa tersentuh kekalahan.

Walaupun di pekan ke-33 mereka kalah tipis 4-3 dari Benfica, jumlah poin yang telah dikumpulkan Sporting Lisbon sudah tak mungkin mampu dikejar oleh para rivalnya. Koleksi 82 poin dalam 33 laga sudah cukup untuk menempatkan Sporting Lisbon kokoh di puncak klasemen Liga Portugal hingga akhir musim.

Penampilan apik beberapa pemain Sporting Lisbon juga berbuah panggilan ke tim nasional Portugal. Dua pemain Sporting Lisbon, Joao Palhinha dan Nuno Mendes mendapat panggilan pertamanya pada Maret lalu. Kedunya sudah mengemas 3 caps bersama timnas Portugal. Sementara itu, pelatih mereka, Ruben Amorim langsung disodori perpanjangan kontrak 1 tahun hingga 2024 dan dipagari dengan klausul rilis sebesar 30 juta euro.

Kini, para punggawa Sporting Lisbon tengah menikmati keberhasilan mereka. Selain memastikan diri menjuarai Liga Primeira Portugal, mereka juga sukses menjuarai Taca da Liga. Yang lebih penting, selain berhasil mengakhiri puasa gelarnya selama 19 tahun, Sporting Lisbon juga sukses memastikan satu tempat di Liga Champions musim depan. Itu bakal jadi penampilan pertama The Lions di Liga Champions setelah terakhir kali lolos di musim 2017/2018.

Selamat merayakan kemenangan Sporting Lisbon!

 

****

Sumber Referensi: Marca, NBC Sports, Bola Bisnis, Breaking The Lines

Agustin Urzi: The Next Di Maria Dengan Kecepatan Menakutkan

Argentina kembali telurkan talenta luar biasa. Berposisi sebagai seorang winger, pemain bernama Agustin Urzi yang juga punya kecepatan luar biasa ini dijuluki sebagai penerus Angel Di Maria.

Usianya baru 20 tahun, tingginya juga tak sampai pada angka 170 cm. Namun begitu, dia sama sekali tidak bisa diremehkan. Kecepatan serta skil yang dimiliki benar-benar membuat banyak klub terkesima dengannya. Lebih dari sekadar pemain muda yang ciptakan sensasi, Urzi memang punya talenta yang cukup mumpuni untuk diminati. Dia sudah bermain untuk timnas Argentina di level 20 dan 23 tahun. Winger lincah itu pun saat ini memiliki nilai sekitar 20 juta euro atau setara 349 miliar rupiah, bila memang ada tim yang serius memboyong jasanya.

Dilahirkan dan dibesarkan di Lomas de Zamora, sebuah kota di selatan wilayah Greater Buenos Aires, Urzi bergabung dengan klub lokal Banfield pada usia delapan tahun. Dia lalu dipromosikan ke tim cadangan pada usia 17 tahun, sebelum akhirnya debut dengan tim utama harus ditunda karena masalah cedera yang mendera.

Akhirnya, tepat pada Desember 2018 lalu, Julio Falcioni memberinya kesempatan untuk melakoni debut dengan tim utama. Dalam 10 kesempatan yang diberikan di musim pertamanya, Urzi berhasil mencetak dua gol. Perlahan tapi pasti, dia mendapat kesempatan lebih banyak di musim keduanya. Sebanyak 18 kesempatan berhasil didapat. Selain itu, dia juga secara tidak langsung telah memesan posisi terbaiknya di tim utama.

Berkat penampilannya yang terus berkembang, Urzi yang ikut main bersama Tim Tango di ajang Piala Dunia U20 yang digelar di Polandia, untuk kemudian berhasil menyabet medali emas di ajang Pan American Games pada musim panas 2019.

Menyusul performa terbaiknya di ajang tersebut, Urzi lalu turut tampil dalam pertandingan kualifikasi Olimpiade di awal tahun 2020. Bermain sebanyak enam kali, Urzi berhasil memastikan bahwa timnas Argentina bakal tampil di ajang Olimpiade Tokyo. Lagi-lagi, berkat skil luar biasanya, dia terus disandingkan dengan nama Angel Di Maria. Bahkan, tak sedikit pula yang menyebut bila Agustin Urzi akan segera mendapat tempat di salah satu tim terbaik Eropa.

Lebih dalam, Urzi punya banyak kemampuan, yang memang membuatnya pantas diminati oleh banyak klub yang tersebar di dunia. Pertama, seperti yang sudah dijelaskan, dia punya kecepatan luar biasa. Dia mampu menyisir sisi pertahanan lawan dengan sangat baik, plus menusuk tajam lini pertahanan lawan. Dalam hal ini, kelincahan yang dimiliki juga tak bisa disingkirkan.

Ketika tengah dijaga ketat oleh lawan, Urzi akan sabar menunggu celah untuk langsung melaju ke lini pertahanan lawan. Dia punya kecerdasan luar biasa sebagai seorang pemain sayap. Tak jarang, bek-bek lawan kewalahan ketika harus meladeni kecepatannya.

Saat sudah menemukan celah, maka kesempatannya untuk menjebol gawang lawan jauh semakin besar. Akan tetapi, dia biasanya lebih suka memberikan umpan kepada rekan setimnya untuk kemudian dikonversi menjadi gol.

Kemudian, kecepatan dan kelincahan yang dimiliki juga semakin terlengkapi dengan aksi dribel yang begitu menawan. Dia melakukan rata-rata sebanyak 5,74 drible per sembilan puluh menit lamanya. Keberanian dan keterampilan juga dimiliki oleh pemain yang kerap merepotkan lini belakang lawan ini. Urzi yang terus melaju kencang tak akan pernah ragu untuk menusuk celah yang tersedia. Maka, wajar bila banyak penggemar yang terhibur dengan aksinya di atas lapangan.

Yang tak kalah penting dari kebanyakan skill yang dimiliki, Urzi juga memiliki kemampuan umpan yang begitu baik. Dia membuat rata-rata 3,25 umpan silang per pertandingan, dimana itu membuatnya menjadi salah satu pemain paling berbahaya di daerah pertahanan lawan.

Karena berposisi sebagai winger kiri, kebanyakan umpan yang dikirimkan adalah berasal dari kaki kiri. Namun begitu, jangan salah, dia juga tak jarang menunjukkan efektivitasnya ketika pelatih menempatkannya di posisi sayap kanan. Dia masih bisa menjadi pemain yang sangat berbahaya meski tidak bertempat di posisi utamanya.

Meski Agustin Urzi merupakan pemain yang lebih sering membantu rekan setimnya untuk mencetak gol, dia juga punya kemampuan yang sama dalam hal mencetak gol. Dia punya akurasi tendangan yang cukup mumpuni, meski dalam sebuah pertandingan, dia hanya menciptakan rata-rata 1,87 tembakan saja.

Salah satu gol terbaik yang pernah dia cetak adalah di laga melawan Kolombia, ketika tendangan sejauh 25 meter nya tidak mampu dijangkau oleh kiper lawan.

Satu hal menarik lainnya dari sosok Agustin Urzi adalah, pemain ini juga rajin membantu pertahanan ketika memang dibutuhkan. Dia cukup berkontribusi besar ketika harus meredam serangan lawan. 2,2 tekel per pertandingannya seolah mengatakan bahwa dia memang sosok pemain muda bertalenta. Kendati demikian, dalam hal ini, dia harus lebih berhati-hati. Pasalnya, dari sejumlah tekel yang telah dibuat, Urzi beberapa kali terkena kartu dari wasit yang bahkan sampai membuatnya keluar lapangan.

Dengan segala atribut yang dimiliki, terang sudah bila ketertarikan sejumlah klub Eropa terhadapnya bukan bualan belaka.

Inter Milan dan Atletico Madrid dikabarkan menjadi dua klub yang sangat meminati jasa Urzi.

“Boca, Racing, Inter Milan, River, Roma, Benfica, Atletico Madrid, dan masih banyak lagi. Aku tidak ingat semuanya,”

“Kalau tidak salah Fiorentina juga berusaha mencari informasi. Sebagian besar yang menjalin kontak adalah klub-klub Italia. Mereka semua sudah bicara dengan agenku dan pihak klub,” tutur Urzi dalam wawancara bersama TNT Sports. (via Kumparan)

Yang lebih mengejutkannya lagi, duo raksasa Spanyol, Real Madrid dan FC Barcelona, juga menaruh harap pada Agustin Urzi untuk bisa bermain disana.

Di tengah isu ketertarikan klub Eropa, Urzi seolah memberikan indikasi bahwa dia lebih tertarik untuk tampil di kompetisi Liga Primer Inggris. Satu nama yang santer dikabarkan bakal menjadi pelabuhan barunya adalah Manchester City.

“Aku ingin sekali bermain di Premier League. Selama ini aku sangat sering menyaksikan pertandingan-pertandingan Manchester City,”

 

Il Grande Torino Raksasa Italia Yang Nasibnya Hancur Karena Tragedi Udara

Torino saat ini masih menjadi tim yang terus berjuang untuk bisa bertahan di kompetisi Serie A. Klub yang bermarkas di Stadion Olimpiade Torino itu masih menjadi tim papan tengah yang bahkan tak jarang terjungkal ke posisi dasar.

Padahal bila menarik ulang kisah lama, Torino merupakan tim terbesar yang pernah dimiliki Italia. Ketika itu, mereka dengan sejumlah pemain andalan mampu menumbangkan seluruh lawan. Buktinya, sebanyak 7 gelar scudetto berhasil didapat. Jumlah itu tidaklah sedikit. Tujuh gelar yang dikumpulkan masih lebih banyak dari Napoli, Lazio, sampai AS Roma yang saat ini menjadi tim kuat yang selalu berjuang di tangga teratas.

Pada era 1940 an, Torino menjadi tim yang mendominasi Serie A. Tercatat, dari tahun 1943 sampai dengan 1949, Torino menjadi tim yang selalu menjadi juara. Maka, wajar bila sebagian besar pemainnya dipanggil untuk membela timnas Italia.

Memang ada banyak pemain bintang Italia yang tampil untuk Torino, dimana salah satunya adalah sang legenda sepakbola, Valentino Mazzola. Valentino Mazzola merupakan sosok inspirasional yang menjadi ayah kandung dari pemain hebat pula bernama Sandro Mazzola. Sepanjang karir, sebelum memasuki usia 30 tahun, Valentino Mazzola sudah berhasil mencetak sebanyak 100 gol. Hal itu jelas menjadi sedikit pembuktikan dari betapa hebatnya pemain yang berposisi sebagai seorang penyerang sayap ini.

Valentino Mazzola tidak hanya menjadi sosok yang disegani di Torino, namun juga timnas Italia. Selama berstatus sebagai penggawa Gli Azzurri, Valentino Mazzola ditunjuk sebagai kapten tim berkat kharisma luar biasa yang dimiliki.

Menjadi jawara beruntun di kompetisi Italia tentu bukan perkara mudah. Apalagi, dahulu kekuatan tim disana tergolong sudah cukup baik. Kegemilangan Torino ketika itu lantas tersalurkan dalam sebuah laga yang dijalani timnas Italia.

Tepat pada 11 Mei 1947, di laga persahabatan antara timnas Italia melawan Hungaria, Vittorio Pozzo selaku pelatih Italia menurunkan sebanyak 10 pemain Torino sekaligus. Tanpa ragu, menghadapi Hungaria yang dahulu dikenal kuat, Italia berhasil menang dengan skor 3-2.

Dengan fakta tersebut, sampai saat ini, belum ada lagi tim yang mampu mengirimkan sebanyak 10 pemain ke dalam skuad Italia.

Nahas, gelar juara yang diraih secara beruntun itu seketika sirna, setelah sebuah tragedi kelam merenggut seluruh pemain inti Torino.

Adalah tragedi Superga. Seluruh pecinta sepakbola, khususnya yang berada di Italia, tentu tidak asing dengan kisah kelam ini. Setiap tanggal 4 Mei, dunia mengenang tragedi tersebut yang terjadi pada 4 Mei 1949.

Tragedi tersebut melibatkan sebuah pesawat FIAT G.212CP yang membawa seluruh pemain Torino dalam sebuah perjalanan udara. Pesawat itu jatuh di bukit Superga sehingga diberi nama dengan sebutan Tragedi Superga. Dalam insiden yang sangat memilukan itu, terdapat sebanyak 31 korban tewas, dimana 18 diantaranya adalah penggawa andalan il Toro.

Tragedi itu bermula ketika Valentino Mazzola menerima ajakan bintang Benfica, Francisco Jose Ferreira, dalam sebuah pertandingan persahabatan untuk acara perpisahannya dengan klub Portugal. Setelah mendapat izin dari Federasi Sepakbola Italia (FIGC), Torino langsung membawa sebanyak 18 pemain untuk terbang ke Portugal pada 3 Mei 1949.

Meski bertajuk laga persahabatan, Francisco Jose Ferreira tetap meminta Torino untuk mengerahkan seluruh pemain terbaiknya. Jose Ferreira beralasan bahwa di pertandingan terakhirnya, dia benar-benar ingin bertanding dengan skuad Torino sesungguhnya yang dikenal terbaik pada masanya.

Praktis, demi menghormati undangan tersebut, Torino membawa sebanyak 18 pemain inti, ditambah dengan lima staf pelatih. Setelah seluruh persiapan telah dilakukan, sampailah kedua tim pada laga tersebut di malam harinya. Dikabarkan sekitar 40 ribu penonton memadati stadion.

Laga berjalan sangat sengit, hingga pada akhirnya tuan rumah berhasil menang dengan skor tipis 4-3.

Setelah berhasil memenangkan pertandingan tersebut, yang meski hanya bertajuk persahabatan, Benfica, khususnya Francisco Jose Ferreira, merasa sangat bangga. Dia tidak akan pernah melupakan momen tersebut, karena klub sekelas Torino berhasil diundang sekaligus dikalahkannya dalam sebuah pertandingan menarik.

Setelah laga usai, atau tepat pada keesokan harinya, seluruh rombongan Torino langsung melakukan perjalanan pulang. Tanggal 4 Mei 1949 menjadi hari dimana mereka melakukan perjalanan dengan menggunakan pesawat jurusan Barcelona-Turin yang transit di Lisbon. Selain para pemain andalan il Toro, ada tiga jurnalis lainnya bernama Renato Casalbore (pendiri Tuttosport), Luigi Cavallero (La Stampa), Renato Tosatti (Gazzetta del Popolo), serta lima awak pesawat seperti Pierluigi Meroni (pilot), Antonio Pangrazi, Celestino D’Inca, Cesare Biancardi, dan Andrea Bonaiuti, yang berada di dalam pesawat.

Dilaporkan, perjalanan melewati rute Cap de Creus, Toulon, Nice, Albenga, dan Savona. Setelah itu, sampailah mereka pada teritori Italia, dimana saat perjalanan tinggal menyisakan 30 menit lagi, sebuah bencana yang tak diinginkan tiba.

Di daerah Superga, badai tiba-tiba muncul. Hujan lebat serta angin kencang mengiringi perjalanan pesawat yang ditumpangi para pemain Torino. Pandangan pilot ketika itu tak sampai menjangkau radius 40 meter.

Kekacauan pun terjadi di dalam pesawat. Sekitar tujuh menit lamanya para penumpang dibuat panik bukan main. Tak lama kemudian, muncul kabar bahwa ada pesawat yang menabrak bukit Superga. Seluruh pemain dan orang lainnya yang berada di dalam pesawat dilaporkan tewas. Tidak ada yang tersisa. Semua telah sirna, termasuk kejayaan Torino yang sebelumnya dipuja.

18 pemain yang ikut berangkat dalam pertandingan melawan Benfica tewas, kecuali Sauro Toma yang tidak ikut dalam perjalanan karena cedera, plus kiper kedua Renato Gandolfi. Selain itu, presiden Torino, Ferruccio Novo, juga selamat karena tidak ikut dalam perjalanan akibat tengah mengalami flu.

Pasca kejadian mengerikan itu, kiprah Torino di kompetisi Serie A benar-benar sirna. Mereka sulit naik ke panggung juara, sebelum pada musim 1975/76, mereka kembali berhasil meraih gelar juara Liga Italia.

Meski sempat kembali juara, sampai saat ini, tidak ada lagi juara beruntun yang diciptakan Torino. Tragedi yang sungguh mengerikan itu seolah terkubur bersama dengan kumpulan piala yang sebelumnya didapat. Bahkan, tidak hanya Torino saja yang alami kerugian, namun juga timnas Italia yang baru bisa bangkit kembali setelah 33 tahun lamanya, dimana mereka berhasil menjuarai trofi Piala Dunia tahun 1982.

Di satu sisi, kapten Benfica, Francisco Jose Ferreira, yang disebut sebagai dalang kehancuran sepakbola Italia terus terpuruk dalam rasa penyesalan. Dikabarkan, dia menjalani hidup dengan kondisi trauma berat sampai ajal menjemput.

 

Sumber referensi: markingthespot, ligalaga, tirto id

7 Tim Sepak Bola Wanita Tersukses Di Dunia

0

Sepak bola sudah bukan lagi menjadi olahraga yang eksklusif bagi para pria. Seiring dengan perkembangan zaman, makin banyak wanita yang memainkan sepak bola dan berprofesi sebagai pemain profesional.

Belakangan ini, popularitas sepak bola wanita juga makin meningkat pesat. Hal itu disebabkan oleh makin banyaknya kompetisi sepak bola wanita yang digelar di seluruh dunia. Paras cantik dan gocekan unik para wanita di atas lapangan hijau juga jadi salah satu daya tarik sepak bola wanita.

Sama seperti versi pria, sepak bola wanita juga punya klub yang menjadi ratu di panggung lapangan hijau. Beberapa tim sepak bola wanita bahkan punya prestasi yang jauh lebih baik dari tim pria. Lalu, siapa saja tim sepak bola wanita tersukses dunia saat ini? Berikut ulasannya.

 

1. Olympique Lyon Feminin

Di Prancis, Lyon versi pria boleh saja kalah saing dengan PSG. Namun, di sepak bola wanita, Olympique Lyon Feminin yang merupakan tim wanita dari Lyon adalah penguasa alias ratu di Prancis. Mereka sukses memenangani Divisi 1 Feminine sebanyak empat belas kali dan sembilan kali menjuarai Coupe de France.

Di kancah eropa, Lyon Feminin adalah versi wanita dari Real Madrid. Klub yang berdiri pada 2004 silam itu adalah pemilik gelar terbanyak UEFA Women’s Champions League. Mereka sudah menjuarai Liga Champions wanita sebanyak 7 kali. Hebatnya, 5 gelar terakhir diraih secara beruntun pada 2016 hingga 2020 kemarin.

Lyon Feminin juga hobi meraih treble winner. Mereka sudah 4 kali meraih trofi Divisi 1, Coupe de France, dan Liga Champions dalam waktu bersamaan pada musim 2015/2016, 2016/2017, 2018/2019, dan 2019/2020. Rekor inilah yang menjadikan mereka sebagai klub tersukses di Prancis, Eropa, bahkan dunia.

Dalam skuadnya, Lyon Feminin memang diisi pemain-pemain kelas dunia. Di pos penyerang, mereka mengandalkan Ada Hegerberg, peraih Ballon d’Or Féminin 2018. Sementara itu, lini pertahanan mereka dikawal oleh 2 andalan timnas Prancis, Wendie Renard sebagai kapten dan Sarah Bouhaddi, peraih penghargaan kiper terbaik FIFA 2020.

 

2. Eintracht Frankfurt

Sebelum Lyon Feminin menjuarai Liga Champions wanita secara beruntun, penguasa kompetisi sepak bola wanita tertinggi di eropa itu adalah Eintracht Frankfurt. Klub asal Jerman itu tercatat telah menjuarai Liga Champions wanita sebanyak 4 kali.

Berbanding terbalik dengan klub prianya, Frankfurt juga merupakan pengoleksi gelar liga terbanyak di Jerman. Mereka sudah menjuarai Frauen-Bundesliga sebanyak 7 kali. Tak hanya itu, Frankurt juga sembilan kali menjuarai DFB-Pokal. Catatan tersebut menjadi rekor tersendiri di Jerman.

Eintracht Frankfurt adalah salah satu tim sepak bola wanita Jerman terpopuler. Rival abadi mereka adalah FFC Turbine Potsdam yang merupakan klub sukses lain dari Jerman. Dalam skuad mereka musim ini, Frankfurt setidaknya dihuni 4 punggawa timnas Jerman. Salah satunya adalah Merle Frohms yang juga merupakan kiper utama timnas Jerman. Selain itu, Frankfurt juga diperkuat Laura Freigang, striker muda 23 tahun yang sudah mencetak 41 gol dalam 59 penampilannya untuk Frankfurt.

Namun, Frankfurt sudah lama tidak menjuarai Frauen-Bundesliga. Terakhir kali mereka mengangkat piala liga terjadi pada 2008 silam. Sementara itu, trofi terbaru mereka adalah Liga Champions Eropa yang diraih pada 2015 silam.

 

3. Wolfsburg

Salah satu sebab runtuhnya dominasi Frankfurt di kompetisi sepak bola wanita Jerman adalah munculnya tim kuat bernama Wolfsburg. Usai menjadi bagian dari klub Vfl Wolfsburg pada 2003 silam, Wolfsburg Women perlahan menjelma jadi raksasa yang ditakuti.

Mereka tercatat sudah menjuarai Frauen-Bundesliga sebanyak 6 kali, dimana 4 gelar terakhir diraih secara beruntun dari tahun 2017 hingga 2020. Selain itu, Wolfsburg juga jadi tim kedua dengan gelar DFB-Pokal terbanyak di bawah Frankfurt. Mereka sudah memenangi 7 gelar DFB-Pokal, dimana 6 gelar terakhir diraih secara beruntun.

Sementara itu, di kancah eropa, Wolfsburg punya 2 trofi UEFA Women’s Champions League yang diraih di tahun 2013 dan 2014 lalu. Saat ini, andalan utama Wolfsburg adalah Alexandra Popp. Striker berparas cantik itu adalah predator ganas di depan gawang lawan. Ia sudah mencetak 85 gol bagi Wolfsburg dan 53 gol bagi timnas Jerman.

 

4. Barcelona Femeni

Di Spanyol, penguasa sepak bola wanita mirip dengan sepak bola pria. Tak lain dan tak bukan adalah Barcelona Femine. Mereka adalah pemilik gelar terbanyak Primera Division dengan 6 trofi dan Copa de la Reina dengan 7 trofi.

Di kompetisi Liga Champions, Barcelona sekali menjadi runner up di musim 2018/2019. Kala itu mereka kalah telak 1-4 dari Lyon. Namun, tim berjuluk Blaugranes itu akhirnya berhasil meraih trofi Liga Champions pertamanya setelah mengalahkan Chelsea 4-0 di partai final UEFA Women’s Champions League musim ini. Gelandang cantik, Aitana Bonmati terpilih sebagai MVP finals berkat sumbangan 1 golnya.

 

5. Arsenal Women

Chlesea Women boleh saja jadi perbincangan hangat akhir-akhir ini. Kesuksesan mereka menjuarai Liga Inggris dan lolos ke final Liga Champions jadi penyebabnya. Namun, tim asuhan Emma Hayes itu bukanlah klub tersukses di tanah Britania Raya.

Adalah sang rival sekota, Arsenal Women yang jadi ratu di Inggris. Arsenal adalah pemilik gelar liga terbanyak dengan 15 trofi. Di Piala FA, mereka juga jadi penguasa dengan torehan 14 trofi. Sementara itu, berbeda dengan Arsenal versi pria, Arsenal versi wanita pernah sekali menjuarai Liga Champions pada musim 2006/2007 silam.

Salah satu andalan Arsenal Women saat ini yang paling diidolai adalah Vivianne Miedema. Striker 24 tahun itu adalah pencetak gol terbanyak timnas Belanda dengan 71 gol. Miedema juga dua kali jadi top skor Liga Champions Eropa pada 2017 dan 2020 silam.

 

6. North Carolina Courage

Sementara itu, di Amerika Serikat, Norh Carolina Courage bisa dibilang sebagai klub sepak bola tersukses saat ini. Klub yang sebagian sahamnya dimiliki oleh petenis Naomi Osaka itu menjuarai 2 kali National Women’s Soccer League pada 2018 dan 2019. Selain itu, mereka juga menjuarai NWSL Shield 3 kali beruntun pada 2017 hingga 2019. Andalan North Carolina Courage adalah Lynn Williams. Striker 27 tahun itu sudah mencetak 50 gol di liga. Di timnas, ia sudah mencetak 10 gol dalam 34 penampilannya.

 

7. NTV Beleza

Di Asia, ratu sepak bola wanita adalah klub asal Jepang, NTV Beleza. Mereka klub tersukses di Jepang dan Asia saat ini. Beleza sudah 17 kali menjuarai Liga Jepang dan 12 kali menjadi runner-up. Tak hanya di kancah domestik, Beleza juga jadi juara gelaran pertama AFC Women’s Club Championship pada 2019 lalu dengan mengalahkan Jiangsu Suning.

NTV Beleza juga secara rutin menyumbang banyak pemain ke tim nasional Jepang. Pada gelaran Piala Dunia Wanita 2019, ada 8 pemain timnas Jepang yang berasal dari klub ini. Salah satu pemain Beleza yang jadi andalan di timnas adalah Mizuho Sakaguchi. Gelandang 33 tahun itu sudah tampil di 124 pertandingan bersama timnas.

Itulah ketujuh klub sepak bola wanita tersukses saat ini. Untuk versi negara, prestasi Amerika Serikat belum ada yang mampu menyaingi. Mereka sudah memenangi Piala Dunia sebanyak 4 kali dan meraih medali emas Olimpiade 4 kali.

Di Eropa, Jerman jadi negara tersukses. Timnas sepak bola wanita mereka sudah menjuarai Piala Dunia sebanyak 2 kali. Di Olimpiade, Jerman baru saja meraih medali emas di Olimpiade 2016. Sementara di Piala Eropa, Jerman adalah pemilik 8 trofi UEFA Women’s Championship.

Di Asia, Jepang masih jadi yang terbaik. Timnas sepak bola wanita mereka berhasil menjuarai Piala Dunia Wanita 2011. Jepang juga 2 kali menjuarai Piala Asia dan Asian Games.

Itulah tim sepak bola wanita terbaik dan tersukses di dunia saat ini. Di kemudian hari, bukan tak mungkin bakal makin banyak bermunculan tim kuat. Semoga klub atau timnas sepak bola wanita Indonesia bisa meniru prestasi tim-tim tadi ya.

Sumber Referensi: Yahoo, Womens soccer united, Ayo Bandung, Sportsshow