Strategi Licik Untuk Menjatuhkan Mental Lawan di Ruang Ganti
Setiap klub sepak bola pasti punya strategi-strategi khusus untuk mendapatkan kemenangan di setiap pertandingan. Secara umum, strategi yang dipakai adalah soal teknik bermain di atas lapangan.
Namun, di balik layar, klub sepak bola juga punya strategi lain untuk paling tidak menjatuhkan mental pemain lawan. Salah satunya adalah dengan mendesain ruang ganti pemain lawan di stadion dengan desain yang membuat lawan merasa tidak nyaman.
Berikut ini adalah metode atau strategi licik yang diterapkan tim tuan rumah untuk menjatuhkan mental pemain tamu.
Stamford Bridge (Chelsea)
Sebagai salah satu klub terbesar di Inggris, Chelsea punya cara jitu untuk merendahkan bahkan menjatuhkan mental pemain lawan yang bertandang ke markas mereka, Stadion Stamford Bridge.
Di dalam stadion berkapasitas 41 ribu penonton tersebut, Chelsea sengaja mendesain ruang ganti pemain tamu dengan memasang papan gantungan baju lebih tinggi daripada standarnya
Hal itu tentu akan membuat pemain lawan mau tidak mau berjinjit saat akan meraih gantungan. Dengan berjinjit, engkel, lengan atau hamstring pemain lawan ini akan menjadi lebih tegang. Dan kalau sudah tegang, bermain pun bisa tidak maksimal.
Estádio Da Luz (Benfica)
Klub Portugal, Benfica, punya cara tersendiri untuk membuat pemain lawan down sebelum bertanding.
Selain dengan memberikan fasilitas yang kurang memadai, Benfica sengaja memajang foto-foto suporter mereka yang sedang mengenakan kostum dan syal kebanggaan dalam ruang ganti. Tentu saja, cara ini dilakukan untuk memberikan tekanan mental pada tim lawan.
Anfield (Liverpool)
Keangkeran Stadion Anfield bagi tim tamu Liverpool tidak hanya dirasakan dari tanda “This Is Anfield” yang ada di lorong menuju lapangan. Suasana “dingin” juga dirasakan tim tamu sejak dari locker room pemain.
Di Anfield, kamar ganti tim tamu didesain lebih luas dari ruang ganti para pemain Liverpool. Sengaja didesain sedemikian rupa agar instruksi yang diberikan manajer tim tamu jadi kurang maksimal, karena jarak antara manajer dan pemain cukup jauh.
La Bombonera (Boca Juniors)
Ruang ganti milik klub Argentina, Boca Juniors memiliki desain yang unik. Tempat ini pun menjadi tempat kelahiran untuk para legenda sepak bola seperti Carlos Tevez, Martin Palermo, Juan Roman Riquelme, Gabriel Batistuta, bahkan Diego Maradona.
Namun disisi lain, ruang ganti di stadion La Bombonera justru menjadi tempat yang kurang nyaman untuk tim lawan. Pasalnya, ruang ganti tim tamu ditempatkan persis di bawah tribun basis suporter Boca, “La Doce”. Basis suporter yang fanatismenya sudah tidak perlu ditanyakan lagi.
Dengan begitu, para pemain lawan akan mendengar dengan jelas suara dentuman kaki dan riuh suporter Boca di atas ruangan mereka. Selain itu, fasilitasnya juga biasa saja. Bahkan toiletnya tidak dikasih pintu.
Plough Lane (Wimbledon)
Wimbledon FC pernah menjadi salah satu tim tangguh di persepakbolaan Inggris. Dan itu dimulai dari ruang ganti di stadion Plough Lane. Ketika pemain lawan menghuni ruang ganti stadion tersebut, suasana tidak nyaman akan menyelimuti mereka.
Wimbledon akan mengecilkan pemanas ruangan (jadi lebih dingin). Selain itu juga Wimbledon akan memutar musik dengan volume suara yang sangat keras. Kedua hal tersebut dimaksudkan untuk mengintimidasi lawan mereka, dan tentu saja membuat ciut nyali kubu lawan.
Saturn Stadium (Anzhi Makhachkala)
Tottenham Hotspur mendapatkan pengalaman hebat saat melawat ke Rusia, saat menghadapi Anzhi Makhachkala di ajang Liga Europa pada tahun 2013. Azhi memang tidak diizinkan bermain di wilayah Dagesta, yang merupakan kandang mereka dengan alasan keamanan. Saturn Stadium yang biasa dipakai oleh klub FC Saturn Ramenskoye akhirnya menjadi tempat pertandingan antara Anzhi kontra Spurs.
Di ruang ganti pemain Spurs, pihak tuan rumah menyediakan sofa yang cukup nyaman bagi para pemain tim tamu. Harapannya, pemain Spurs akan bersantai dan malas-malasan karena kelamaan duduk disitu. Namun cara ini gagal, sebab The Lilywhites berhasil menang 2-0 di stadion yang hanya mampu menampung 16,700 penonton tersebut.
Stadion Emirates (Arsenal)
Klub raksasa London, Arsenal punya cara tersendiri untuk membuat lawannya tidak nyaman. Hal itu dilakukan dengan cara memperlakukan pemain lawan di ruang ganti stadion Emirates.
The Gunners memasang satu meja besar di tengah ruangan. Meja itu dibuat dengan perhitungan khusus, dimana kalau tim lawan menaruh makanan atau minuman diatas meja itu, maka para pemain yang duduk di satu sisi, tidak bisa melihat ke orang di seberangnya.
Metode itu bisa saja mempengaruhi komunikasi antar pemain yang tidak bisa melihat satu sama lain dengan jelas. Selain itu, ruang ganti pemain tamu lebih kecil bahkan lebih sempit dibanding tata ruang ganti pemain Arsenal.
Arsenal bilang “ini cara kami meneror tim tamu”. Kadang kami buat air hidup mati, bahkan lampu tiba-tiba mati.”
Bagaimana menurut kamu Football Lovers? Strategi manakah yang menurutmu paling licik dan merugikan?
Sumber Referensi : Instagram, Idntimes, Dreamteamfc
Perjalanan Panjang Sporting Lisbon Akhiri Puasa Gelar 19 Tahun
Selasa malam waktu setempat, suasana kota Lisbon seketika berubah menjadi lautan pesta para pendukung klub sepak bola berjersi hijau dan putih. Bagaimana tidak, setelah menunggu selama 19 tahun lamanya, para pendukung Sporting Lisbon itu akhirnya bisa kembali berpesta usai tim yang mereka dukung kembali juara Liga Portugal. Selasa, 11 Mei 2021, Sporting Lisbon sukses memastikan diri keluar sebagai juara Liga Primeira Portugal musim 2020/2021.
🟢⚪ NATIONAL CHAMPIONS 2020/2021 ⚪🟢
Effort, Dedication, Devotion and GLORY 🏆 A brilliant page written forever in the history of our 𝐒𝐏𝐎𝐑𝐓𝐈𝐍𝐆 𝐂𝐋𝐔𝐁𝐄 𝐃𝐄 𝐏𝐎𝐑𝐓𝐔𝐆𝐀𝐋 🤩 #EUSOUCAMPEÃO pic.twitter.com/K5jyhsgiQx
— Sporting CP English 🏆 (@SportingCP_en) May 11, 2021
Ribuan pendukung langsung merayakan pesta juara Sporting Lisbon. Meski masih dalam kondisi pandemi Covid-19, para penggemar Sporting Lisbon tetap mengenakan jersey, syal dan bernyanyi sepanjang malam bersama kerabat dan keluarganya merayakan gelar juara Liga Portugal yang sudah mereka nantikan begitu lama.
Sporting Lisbon fans pre match tonight pic.twitter.com/OZDqxlBGb7
— FootballAwaydays (@Awaydays23) May 11, 2021
Sebelumnya, kepastian juara berhasil Sporting Lisbon dapat di pekan ke-32. Klub berjuluk Leones alias The Lions itu sukses menundukkan Boavista 1-0 di Stadion Jose Alvalade. Gol tunggal Paulinho di menit ke-36 sudah cukup untuk mengunci gelar juara liga Portugal musim ini.
Selain menjadi gelar Liga Portugal ke-19, keluarnya Sporting Lisbon sebagai juara liga Portugal musim ini juga sukses menghentikan dominasi Porto dan Benfica yang silih berganti menjuarai liga Portugal selama 19 tahun terakhir. Terakhir kali Sporting Lisbon bisa menjuarai Liga Portugal terjadi pada musim 2001/2002.
On Tuesday, #SportingLisbon has been crowned champions of #Portugal after two decades.
With the last title coming back in 2002, Sporting clinched their nineteenth title after a 1-0 win over Boasvista at Jose Alvalade Stadium. pic.twitter.com/dX6Zoo0SIH
— FootyRoom (@footyroom) May 14, 2021
Jadi, bagaimana kisah perjuangan Sporting Lisbon dalam mengakhiri puasa gelar selama 19 tahun? Berikut analisisnya.
Lahir dengan nama Sporting Clube de Portugal pada 1906, klub yang bermarkas di Estadio Jose Alvalade itu merupakan anggota “Os Tres Grandes” atau The Big Three. Julukan tersebut disematkan kepada 3 klub tersukses di Portugal, yakni Sporting Lisbon, Benfica, dan FC Porto yang nyaris selalu mendominasi persaingan di Liga Primeira Portugal.
Sejak 1934, anggota The Big Three tak pernah terdegradasi dari kasta pertama dan hanya gagal meraih juara liga di 2 kesempatan, yakni di musim 1945/1946 dan 2000/2001. Sisanya, gelar juara selalu berpindah dari tangan Benfica, Porto, atau Sporting Lisbon. Namun, dibanding 2 rivalnya itu, gelar Sporting Lisbon masih kalah jumlah.
Benfica jadi pengoleksi gelar terbanyak. Rival sekota Sporting Lisbon itu sudah menjuarai liga sebanyak 37 kali. Menyusul kemudian Porto dengan 29 gelar liga. Dalam 19 tahun terakhir, Sporting Lisbon juga terus berada di bawah bayang-bayang Benfica yang juara 7 kali dan Porto yang juara 11 kali.
Berbagai upaya telah dilakukan Sporting Lisbon untuk mendobrak dominasi 2 rivalnya itu. Dari menunjuk pelatih berpengalaman hingga mendatangkan pemain-pemain terbaik ke dalam skuad. Namun, gebrakan cukup mengejutkan justru dibuat manajemen Sporting Lisbon jelang musim 2020/2021.
Mereka memulai liga musim ini dengan pelatih barunya Ruben Amorim. Penunjukan Amorim pada Maret 2020 cukup menyita banyak perhatian. Pasalnya, Amorim yang masih berusia 36 tahun adalah pelatih muda minim pengalaman yang baru mencicipi persaingan Liga Portugal selama 3 bulan terakhir.
Direktur olahraga Sporting Lisbon, Hugo Viana tak hanya bertaruh dengan memberi kepercayaan kepada mantan rekan satu timnya itu, tetapi juga harus menebus Ruben Amorim dari SC Braga dengan biaya transfer 10 juta euro. Diketahui, biaya transfer itu menjadikan Amorim manajer termahal keempat di Eropa.
Keberanian Sporting Lisbon menunjuk Ruben Amorim sebenarnya cukup beralasan. Selama 13 laga melatih SC Braga, ia berhasil membawa klub tersebut meraih 10 kemenangan dan hanya menelan 2 kekalahan. Keseriusan Sporting Lisbon dengan potensi Ruben Amorim ditunjukkan dengan durasi kontrak hingga 30 Juni 2023 dan memagarinya dengan klausul rilis sebesar 20 juta euro.
Rúben Amorim:
– 3rd most expensive manager ever (€10 million)
– Signs with a release clause of €20 million
– Renewed with a release clause of €30 million, less than a year later.
– Delivers first title in 19 yearsExpensive, but best managerial ‘signing’ in a long time? pic.twitter.com/4RKs0jbzF6
— Ruairidh Barlow (@RuriBarlow) May 12, 2021
Selain mengontrak pelatih muda, secara mengejutkan, Sporting Lisbon yang finish di posisi keempat musim lalu justru melego banyak pemain andalannya. Selain menjual Bruno Fernandes ke Manchester United dengan bayaran nyaris 80 juta euro, mereka juga ditinggal pemain utamanya seperti, Raphinha, Bas Dost, Marcos Acuna, dan Wendel yang hijrah ke klub lain.
🇵🇹 Sporting Lisbon sold Bruno Fernandes for €55 million last January and finished 4th last season. This season…
🏆 First league title in 19 yrs
🏆 Won League Cup without conceding
🏆 Lost only two games in all competitions
🏆 Made £17 million profit in the transfer window pic.twitter.com/NW4ndpXKqn— GiveMeSport (@GiveMeSport) May 14, 2021
Dengan kondisi itu, perombakan skuad besar-besaran dilakukan Ruben Amorim sebelum memulai musim 2020/2021. Dari 10 pemain bertahan di musim sebelumnya, Amorim hanya mempertahankan 5 diantaranya. Situasi di lini tengah lebih ekstrem. Amorim hanya mempertahankan 3 dari 10 gelandang di musim lalu. Setali tiga uang, dari 9 penyerang, pelatih 36 tahun itu hanya mempertahankan 5 diantaranya. Total, ia hanya mempertahankan 15 pemain dari 32 pemain yang terdaftar di musim sebelumnya.
Untuk mengisi kekosongan itu, beberapa nama baru didatangkan. Menariknya, pembelian pemain termahal Sporting Lisbon di musim panas lalu hanya Pedro Goncalves yang ditembus seharga 6,5 juta euro dari Famalicao. Menyusul kemudian ada winger kiri Nuno Santos dan Zouhair Feddal yang masing-masing dibeli dari Rio Ave dan Real Betis dengan harga 3,7 juta euro dan 2,15 juta euro saja.
Selain itu, Sporting Lisbon juga mendatangkan beberapa pemain berpengalaman. Salah satunya adalah gelandang Joao Mario yang dipinjam dari Inter Milan. Selain Mario, kiper 33 tahun asal Spanyol, Antonio Adan juga ditembus secara gratis dari Atletico Madrid. Lebih mengejutkan lagi, untuk memenuhi skuadnya, Ruben Amorim lebih banyak mempromosikan pemain muda dari tim U-23, seperti Matheus Nunes, Jovane Cabral, Tiago Tomas, Nuno Mendes, Daniel Braganca, dan Goncalo Inacio.
Berkat perombakan tersebut, skuad Sporting Lisbon musim ini tercatat punya rata-rata usia termuda keempat di liga (24,8 tahun). Bisa dibilang, Sporting Lisbon memadukan mayoritas pemain mudanya dengan beberapa pemain senior. Para bintang muda minim pengalaman yang baru promosi ke tim utama bahkan jadi pemain andalan Sporting Lisbon musim ini.
Di bawah asuhan Ruben Amorim, Sporting Lisbon bermain dengan formasi 3-4-2-1. Posisi penjaga gawang jadi milik Antonio Adan. Trio bek tengah ditempati Luis Neto, Zouhair Feddal, dan sang kapten Sebastian Coates. Wingback kanan ditempati Pedro Porro, sementara wingback kiri jadi milik Nuno Mendes. Duo gelandang tengah jadi milik Joao Palhinha dan Joao Mario. Sementara itu, trio penyerang ditempati Nuno Santos, Pedro Goncalves, dan ujung tombak Paulinho.
Kolektvitas jadi hal utama yang paling ditekankan. Dengan formasi tersebut, pertahanan Sporting Lisbon tampil begitu kokoh. Ketika dalam posisi bertahan, 2 wingback akan turun membantu pertahanan dan membentuk formasi 5 bek. Dalam hal ini, Pedro Porro, pemain 21 tahun pinjaman dari Manchester City dan Nuno Mendes yang baru berusia 18 tahun jadi kuncinya. Pasalnya, dalam fase menyerang, keduanya akan maju dan membantu trio penyerang Sporting Lisbon.
Nuno Mendes in Liga NOS this season:
🔑29 key passes
🎯7 big chances created
🅰️1 assistYou have blood on your hands, Sporting CP strikers. 😉 pic.twitter.com/KVNnWrkMX4
— Football Talent Scout – Jacek Kulig (@FTalentScout) May 11, 2021
Sementara itu, 2 gelandang bertahan menutup ruang antarlini ketika posisi bertahan sembari bersiap melakukan serangan balik. Keduanya jadi pelindung lini tengah ketika 2 wingback maju membantu serangan. Hasilnya, sepanjang musim ini, Sporting Lisbon baru kebobolan 19 gol. Pertahanan mereka jadi yang paling kokoh dan paling sedikit kebobolan.
Sporting Lisbon juga tercatat sebagai tim ketiga dengan intensitas pressing tertinggi di liga. Skema Counter pressing di sepertiga akhir dan permainan cepat di area lawan membuat para pemain Sporting Lisbon sudah mencetak 60 gol dari 33 laga. Mereka jadi tim terproduktif ketiga setelah Porto dan Benfica.
Gelandang serang Pedro Goncalves jadi pemuncak daftar top skor Sporting Lisbon. Pemain 22 tahun itu sepertinya jadi pengganti sepadan Bruno Fernandes. Hingga pekan ke-33, ia sudah mencetak 20 gol dan 4 asis. Jumlah golnya berhasil menyamai striker Benfica, Haris Seferovic yang jadi top skor Liga Primeira Portugal. Sementara itu, dua rekannya di lini serang, Nuno Santos dan Paulinho masing-masing telah mengemas 7 dan 6 gol. Nuno Santos, winger 26 tahun yang juga baru didatangkan musim ini juga sudah mengemas 6 asis.
📊 Pedro Gonçalves’s 2020/21 Liga NOS season for Sporting:
• 30 appearances
• 18 goals
• 3 assists
• 47 key passes
• 50 chances createdPortuguese playmaker largely impactful in the Leões title win 🇵🇹🏆 pic.twitter.com/AB0PMMsnf7
— The State Of Play (@StateOfPlayPod) May 12, 2021
Di lini belakang, Antonio Adan dan Sebastian Coates jadi kunci kokohnya pertahanan Sporting Lisbon. Adan, mantan kiper cadangan Real Madrid dan Atletcio Madrid berusia 34 tahun itu telah mencatat 19 kali clean sheets dan baru kebobolan 19 gol dalam 32 laga. Sementara Sebastian Coates, bek tengah 30 tahun asal Uruguay tampil produktif dengan sumbangan 5 golnya. Mantan pemain Liverpool itu juga bertindak sebagai kapten tim.
L’incroyable saison d’Antonio Adan au Sporting CP ⬇️
⛔️ 19 cleansheat
🧤Sur 52 arrêts cette saison en championnat, 17 à l’extérieur de la surfaces de réparation et 35 à l’intérieure
🕛 2,790 minutes jouer
15 buts encaissés en 31 match (soit 0,48 but par match)
🙌🏽🦁💚 pic.twitter.com/oY9iwXjZlG
— Sporting CP France 🦁 SOMOS CAMPEÕES 💚🦁 (@SportingCP_FR_) May 14, 2021
Sebastian Coates with Sporting Lisbon 👏
▫️ 1x 🇵🇹 League 🏆
▫️ 1x Portuguese Cup 🏆
▫️ 3 League Cup 🏆🏆🏆 pic.twitter.com/M2x1EVOV5m— Uruguay Football ENG (@UruguayFootENG) May 11, 2021
Dengan perpaduan skuad senior dan pemain muda minim pengalamannya, Sporting Lisbon asuhan Ruben Amorim berhasil memastikan juara Liga Primeira Portugal di pekan ke-32. Hebatnya, Sporting Lisbon memastikan juara di pekan tersebut dengan status tak terkalahkan. Mereka telah meraih 25 kemenangan dan 7 kali imbang tanpa tersentuh kekalahan.
32 games unbeaten
15 goals concededSporting Lisbon are the 2020/21 Primeira Liga champions. Their first league title in 19 years.
Congratulations to the Portuguese Champions🥳🎉#BallGecko pic.twitter.com/EX9U0oKU1r— Ball Gecko (@ball_gecko) May 12, 2021
Walaupun di pekan ke-33 mereka kalah tipis 4-3 dari Benfica, jumlah poin yang telah dikumpulkan Sporting Lisbon sudah tak mungkin mampu dikejar oleh para rivalnya. Koleksi 82 poin dalam 33 laga sudah cukup untuk menempatkan Sporting Lisbon kokoh di puncak klasemen Liga Portugal hingga akhir musim.
Penampilan apik beberapa pemain Sporting Lisbon juga berbuah panggilan ke tim nasional Portugal. Dua pemain Sporting Lisbon, Joao Palhinha dan Nuno Mendes mendapat panggilan pertamanya pada Maret lalu. Kedunya sudah mengemas 3 caps bersama timnas Portugal. Sementara itu, pelatih mereka, Ruben Amorim langsung disodori perpanjangan kontrak 1 tahun hingga 2024 dan dipagari dengan klausul rilis sebesar 30 juta euro.
Rúben Amorim as a Sporting CP manager.
✅51 games
☑️37 wins
⭕️10 draws
❌4 defeats
🏆Primeira Liga
🏆Taça da Liga36 years of age. The Miracle Maker. One of the most talented young managers in Europe. pic.twitter.com/AprqXrOPLh
— Football Talent Scout – Jacek Kulig (@FTalentScout) May 12, 2021
Kini, para punggawa Sporting Lisbon tengah menikmati keberhasilan mereka. Selain memastikan diri menjuarai Liga Primeira Portugal, mereka juga sukses menjuarai Taca da Liga. Yang lebih penting, selain berhasil mengakhiri puasa gelarnya selama 19 tahun, Sporting Lisbon juga sukses memastikan satu tempat di Liga Champions musim depan. Itu bakal jadi penampilan pertama The Lions di Liga Champions setelah terakhir kali lolos di musim 2017/2018.
Selamat merayakan kemenangan Sporting Lisbon!
🏆🙌 #EUSOUCAMPEÃO pic.twitter.com/vQNGtGJP4R
— Sporting CP English 🏆 (@SportingCP_en) May 11, 2021
****
Sumber Referensi: Marca, NBC Sports, Bola Bisnis, Breaking The Lines
Il Grande Torino Raksasa Italia Yang Nasibnya Hancur Karena Tragedi Udara
Torino saat ini masih menjadi tim yang terus berjuang untuk bisa bertahan di kompetisi Serie A. Klub yang bermarkas di Stadion Olimpiade Torino itu masih menjadi tim papan tengah yang bahkan tak jarang terjungkal ke posisi dasar.
Padahal bila menarik ulang kisah lama, Torino merupakan tim terbesar yang pernah dimiliki Italia. Ketika itu, mereka dengan sejumlah pemain andalan mampu menumbangkan seluruh lawan. Buktinya, sebanyak 7 gelar scudetto berhasil didapat. Jumlah itu tidaklah sedikit. Tujuh gelar yang dikumpulkan masih lebih banyak dari Napoli, Lazio, sampai AS Roma yang saat ini menjadi tim kuat yang selalu berjuang di tangga teratas.
Pada era 1940 an, Torino menjadi tim yang mendominasi Serie A. Tercatat, dari tahun 1943 sampai dengan 1949, Torino menjadi tim yang selalu menjadi juara. Maka, wajar bila sebagian besar pemainnya dipanggil untuk membela timnas Italia.
Memang ada banyak pemain bintang Italia yang tampil untuk Torino, dimana salah satunya adalah sang legenda sepakbola, Valentino Mazzola. Valentino Mazzola merupakan sosok inspirasional yang menjadi ayah kandung dari pemain hebat pula bernama Sandro Mazzola. Sepanjang karir, sebelum memasuki usia 30 tahun, Valentino Mazzola sudah berhasil mencetak sebanyak 100 gol. Hal itu jelas menjadi sedikit pembuktikan dari betapa hebatnya pemain yang berposisi sebagai seorang penyerang sayap ini.
Valentino Mazzola tidak hanya menjadi sosok yang disegani di Torino, namun juga timnas Italia. Selama berstatus sebagai penggawa Gli Azzurri, Valentino Mazzola ditunjuk sebagai kapten tim berkat kharisma luar biasa yang dimiliki.
Menjadi jawara beruntun di kompetisi Italia tentu bukan perkara mudah. Apalagi, dahulu kekuatan tim disana tergolong sudah cukup baik. Kegemilangan Torino ketika itu lantas tersalurkan dalam sebuah laga yang dijalani timnas Italia.
#OnThisDay 1⃣9⃣4⃣9⃣ 🗓
The Superga air disaster occured 😞
All of the 31 people onboard the Avio Linee Italiane plane, including the whole Grande Torino squad, died in the fatal crash.
The great side had won 5 consecutive Serie A titles. #RestInPeace #calciohistory pic.twitter.com/kXq0cpdDs9
— ForzaItalianFootball (@SerieAFFC) May 4, 2021
Tepat pada 11 Mei 1947, di laga persahabatan antara timnas Italia melawan Hungaria, Vittorio Pozzo selaku pelatih Italia menurunkan sebanyak 10 pemain Torino sekaligus. Tanpa ragu, menghadapi Hungaria yang dahulu dikenal kuat, Italia berhasil menang dengan skor 3-2.
Dengan fakta tersebut, sampai saat ini, belum ada lagi tim yang mampu mengirimkan sebanyak 10 pemain ke dalam skuad Italia.
Nahas, gelar juara yang diraih secara beruntun itu seketika sirna, setelah sebuah tragedi kelam merenggut seluruh pemain inti Torino.
Adalah tragedi Superga. Seluruh pecinta sepakbola, khususnya yang berada di Italia, tentu tidak asing dengan kisah kelam ini. Setiap tanggal 4 Mei, dunia mengenang tragedi tersebut yang terjadi pada 4 Mei 1949.
It’s the 4th of May again.
The day of one of the worst disasters in Italian football all those years ago on the Superga mountain.
We remember the Torino side which died that day. pic.twitter.com/4EDUi3Gvpz— Torstein (@TorsteinBKyte) May 4, 2021
Tragedi tersebut melibatkan sebuah pesawat FIAT G.212CP yang membawa seluruh pemain Torino dalam sebuah perjalanan udara. Pesawat itu jatuh di bukit Superga sehingga diberi nama dengan sebutan Tragedi Superga. Dalam insiden yang sangat memilukan itu, terdapat sebanyak 31 korban tewas, dimana 18 diantaranya adalah penggawa andalan il Toro.
Tragedi itu bermula ketika Valentino Mazzola menerima ajakan bintang Benfica, Francisco Jose Ferreira, dalam sebuah pertandingan persahabatan untuk acara perpisahannya dengan klub Portugal. Setelah mendapat izin dari Federasi Sepakbola Italia (FIGC), Torino langsung membawa sebanyak 18 pemain untuk terbang ke Portugal pada 3 Mei 1949.
Meski bertajuk laga persahabatan, Francisco Jose Ferreira tetap meminta Torino untuk mengerahkan seluruh pemain terbaiknya. Jose Ferreira beralasan bahwa di pertandingan terakhirnya, dia benar-benar ingin bertanding dengan skuad Torino sesungguhnya yang dikenal terbaik pada masanya.
On this day – 1949
The Superga air Disaster
Today, we remember a tragedy that rocked Italian football. On May 4th 1949, an aeroplane – carrying the Torino squad back from a friendly vs SL Benfica in honour of Portuguese captain Francisco Ferreira – crashed into the retaining 1/ pic.twitter.com/uAGtkickdt
— Lewis (@Lewis_Bickley) May 4, 2021
Praktis, demi menghormati undangan tersebut, Torino membawa sebanyak 18 pemain inti, ditambah dengan lima staf pelatih. Setelah seluruh persiapan telah dilakukan, sampailah kedua tim pada laga tersebut di malam harinya. Dikabarkan sekitar 40 ribu penonton memadati stadion.
Laga berjalan sangat sengit, hingga pada akhirnya tuan rumah berhasil menang dengan skor tipis 4-3.
Setelah berhasil memenangkan pertandingan tersebut, yang meski hanya bertajuk persahabatan, Benfica, khususnya Francisco Jose Ferreira, merasa sangat bangga. Dia tidak akan pernah melupakan momen tersebut, karena klub sekelas Torino berhasil diundang sekaligus dikalahkannya dalam sebuah pertandingan menarik.
Setelah laga usai, atau tepat pada keesokan harinya, seluruh rombongan Torino langsung melakukan perjalanan pulang. Tanggal 4 Mei 1949 menjadi hari dimana mereka melakukan perjalanan dengan menggunakan pesawat jurusan Barcelona-Turin yang transit di Lisbon. Selain para pemain andalan il Toro, ada tiga jurnalis lainnya bernama Renato Casalbore (pendiri Tuttosport), Luigi Cavallero (La Stampa), Renato Tosatti (Gazzetta del Popolo), serta lima awak pesawat seperti Pierluigi Meroni (pilot), Antonio Pangrazi, Celestino D’Inca, Cesare Biancardi, dan Andrea Bonaiuti, yang berada di dalam pesawat.
Dilaporkan, perjalanan melewati rute Cap de Creus, Toulon, Nice, Albenga, dan Savona. Setelah itu, sampailah mereka pada teritori Italia, dimana saat perjalanan tinggal menyisakan 30 menit lagi, sebuah bencana yang tak diinginkan tiba.
Di daerah Superga, badai tiba-tiba muncul. Hujan lebat serta angin kencang mengiringi perjalanan pesawat yang ditumpangi para pemain Torino. Pandangan pilot ketika itu tak sampai menjangkau radius 40 meter.
Kekacauan pun terjadi di dalam pesawat. Sekitar tujuh menit lamanya para penumpang dibuat panik bukan main. Tak lama kemudian, muncul kabar bahwa ada pesawat yang menabrak bukit Superga. Seluruh pemain dan orang lainnya yang berada di dalam pesawat dilaporkan tewas. Tidak ada yang tersisa. Semua telah sirna, termasuk kejayaan Torino yang sebelumnya dipuja.
18 pemain yang ikut berangkat dalam pertandingan melawan Benfica tewas, kecuali Sauro Toma yang tidak ikut dalam perjalanan karena cedera, plus kiper kedua Renato Gandolfi. Selain itu, presiden Torino, Ferruccio Novo, juga selamat karena tidak ikut dalam perjalanan akibat tengah mengalami flu.
Pasca kejadian mengerikan itu, kiprah Torino di kompetisi Serie A benar-benar sirna. Mereka sulit naik ke panggung juara, sebelum pada musim 1975/76, mereka kembali berhasil meraih gelar juara Liga Italia.
Meski sempat kembali juara, sampai saat ini, tidak ada lagi juara beruntun yang diciptakan Torino. Tragedi yang sungguh mengerikan itu seolah terkubur bersama dengan kumpulan piala yang sebelumnya didapat. Bahkan, tidak hanya Torino saja yang alami kerugian, namun juga timnas Italia yang baru bisa bangkit kembali setelah 33 tahun lamanya, dimana mereka berhasil menjuarai trofi Piala Dunia tahun 1982.
#OnThisDay in 1982, Marco Tardelli gave Italy their third World Cup. pic.twitter.com/Uiko5mcq6V
— ESPN FC (@ESPNFC) July 11, 2018
Di satu sisi, kapten Benfica, Francisco Jose Ferreira, yang disebut sebagai dalang kehancuran sepakbola Italia terus terpuruk dalam rasa penyesalan. Dikabarkan, dia menjalani hidup dengan kondisi trauma berat sampai ajal menjemput.
Sumber referensi: markingthespot, ligalaga, tirto id
