Mengingat Betapa Dramatisnya Final Liga Champions 2007/08

  • Whatsapp
Mengingat Betapa Dramatisnya Final Liga Champions 200708
Mengingat Betapa Dramatisnya Final Liga Champions 200708

Selain final piala dunia, final Liga Champions juga akan selalu jadi pertandingan yang paling menarik ditunggu pecinta si kulit bundar di belahan dunia. Final kompetisi antarklub eropa paling bergengsi ini selalu menyajikan momen-momen seru bahkan terbilang dramatis.

Dalam sejarahnya, sejak Liga Champions menggunakan format baru pada musim 1992/93, laga final sering menciptakan pertandingan yang begitu luar biasa dan mencengangkan.

Bacaan Lainnya

Final musim 1998/99 mungkin menjadi salah satu pertandingan yang begitu dramatis. Manchester United yang keluar sebagai kampiun sukses menjinakkan Bayern Munchen lewat dua gol yang dicetak di masa injury time.

Selain itu, Final 2005 yang mempertemukan Liverpool melawan AC Milan juga disebut-sebut sebagai laga final terbaik. Milan sudah memimpin tiga gol lebih dulu di babak pertama. Namun, Liverpool bangkit dan mengejar ketinggalan menjadi 3-3 di paruh kedua. Pada akhirnya tim asal Merseyside lah yang keluar sebagai pemenang lewat drama adu penalti.

Kedua laga final tersebut menggambarkan betapa dramatis dan betapa luar biasanya kompetisi antarklub eropa tersebut.

Ada satu partai final lagi yang mungkin layak disebut sebagai salah satu sajian terbaik dari laga puncak Liga Champions.

Ya. Pada bahasan ini kami akan membawa kalian mengingat betapa serunya Final Liga Champions musim 2007/08, di mana Manchester United bertemu dengan Chelsea.

Final Liga Champions 2007/08 merupakan final pertama kali dalam sejarah yang mempertemukan sesama tim asal Inggris. Ini merupakan final ketiga kalinya yang sama-sama mempertemukan tim-tim dari negara yang sama. Sebelumnya ada Real Madrid vs Valencia (1999/2000) dan Juventus melawan AC Milan (2002/03).

Bagi kedua kubu, pertarungan sengit sudah terjadi di pentas domestik. Manchester United yang ditangani sosok Sir Alex Ferguson sukses merebut gelar Liga Primer musim 2007/08. Klub berjuluk The Reds Devils ini berhasil mengungguli The Blues hanya dengan selisih dua poin di tabel klasemen.

Meski demikian, Chelsea mendapat kesempatan untuk membalas dendam ketika mereka dipertemukan dengan Setan Merah di final Liga Champions.

Perjalanan kedua kesebelasan untuk bisa berdiri di partai pamungkas tidaklah mudah.

Manchester United yang di penyisihan grup tergabung di grup F, harus lebih dulu melewati tim kuat AS Roma dan Sporting Lisbon. Dengan koleksi 16 poin dari 6 laga, MU lolos ke babak berikutnya sebagai juara grup.

Lewat jalan yang penuh rintangan, Manchester United berhasil melewati hadangan Olympique Lyon di perdelapan final dengan kemenangan agregat 2-1. Kemudian, secara beruntun, United sukses menyingkirkan AS Roma di perempat final dan raksasa katalan, Barcelona di babak empat besar.

Sementara Chelsea mampu menyelesaikan babak grup dengan mengumpulkan 12 poin. Di fase gugur, klub yang dimiliki Roman Abramovich (MASIH TETAP) mampu jinakkan Olympiakos dan Fenerbahce (MASIH TETAP) sebelum kemudian menang dramatis atas Liverpool di laga semifinal.

Duo raksasa asal negeri ratu Elizabeth pun dipertemukan di stadion Luzhniki, Moskow, Rusia. Sebanyak 67 ribu lebih pasang mata dan jutaan lainnya yang menyaksikan lewat layar televisi di seluruh penjuru dunia, tidak melewatkan laga ini. Ini juga menjadi kali pertama final Liga Champions diselenggarakan di tanah Rusia.

Pertandingan berjalan seru sejak menit awal. Peraih Ballon D’or (TETAP) di tahun tersebut, Cristiano Ronaldo membuka skor untuk United pada menit ke-26. Gol berawal dari kerjasama apik antara Paul Scholes (skols) dan Wes Brown (TETAP). Brown kemudian melepaskan umpan melalui sisi kanan. Ronaldo yang berdiri di dalam kotak penalti mengalahkan lompatan Essien (TETAP) dan berhasil menanduk bola yang menggetarkan jala gawang Petr Cech.

Pasukan setan merah setelah itu lebih mendominasi jalannya laga. Anak asuh Ferguson memiliki dua kesempatan untuk menggandakan keunggulan.

Peluang pertama adalah usaha Wayne Rooney (WAIN ROONI) yang memberikan bola panjang kepada Ronaldo, dan CR7 (SI ARR SEVEN) kemudian mengirim umpan kepada Carlos Tevez (TETAP) yang sudah ada di depan gawang. Dengan sigap, Cech berhasil merebut bola dari jangkauan pemain lawan.

Peluang kedua jadi milik gelandang pengangkut air Michael Carrick (MAIKEL CARRICK) yang sudah bergerak bebas di pertahanan Chelsea, tapi kiper asal Ceko lagi-lagi menyelamatkan gawangnya dari kebobolan.

Tim asal London akhirnya bisa keluar dari tekanan. Jelang pertandingan babak pertama berakhir, Chelsea mampu menyamakan kedudukan melalui Frank Lampard (TETAP).

Berawal dari tendangan jarak jauh Michael Essien, bola berhasil diblok Nemanja Vidic (TETAP) dan juga Rio Ferdinand (TETAP). Tapi, bola rebound itu gagal diantisipasi van der Sar, dan Lampard yang berdiri bebas mampu menceploskan bola ke jala Setan Merah.

Kubu Setan Merah sepertinya kehabisan bensin karena tampil menggebrak sejak awal pertandingan. Momentum kini berada di Chelsea yang terus menerus menggempur gawang MU. Upaya-upaya tersebut berhasil dipatahkan. Termasuk upaya dari Michael Essien yang membentur mistar gawang. Waktu 90 menit pun usai dan laga mesti dilanjutkan ke waktu perpanjangan.

Di masa ini drama kembali tak terhindarkan. Pada menit ke-110 Lampard memiliki peluang emas, sayang tendangannya masih membentur mistar gawang United. Setelah itu, Giggs pun memiliki kesempatan, tapi lagi-lagi John Terry jadi batu sandungan.

Pada babak kedua perpanjangan waktu, sebuah insiden terjadi kala Drogba bentrok dengan Tevez. Nemanja Vidic datang untuk membantu Tevez. Namun Vidic justru terlibat konfrontasi dengan Drogba. Striker asal Pantai Gading itu menowel wajah Vidic dan akhirnya dikartu merah oleh wasit.

Laga selama 120 menit sudah berlangsung, tapi belum juga ada pemenang. Terpaksa harus dilakukan adu penalti untuk menentukan siapa yang layak menjadi jawara eropa.

Drama tak pernah berhenti, di babak adu penalti drama bahkan semakin menjadi-jadi. Dua algojo pertama dari masing-masing kedua tim sukses menunaikan tugasnya dengan baik.

Hingga kemudian, Ronaldo sebagai eksekutor ketiga United gagal karena tendangannya berhasil ditangkap Cech. Ronaldo tampak frustasi dengan kegagalan ini. Terbayang di benaknya bahwa kekalahan akan terjadi.

Frank Lampard sebagai algojo ketiga Chelsea berhasil memanfaatkan kondisi tersebut sehingga membawa timnya untuk sementara unggul 3-2. Owen Hargreaves lantas berhasil memberikan harapan bagi Setan Merah.

Bek kiri Ashley Cole (KOL)masih membuat Chelsea unggul. Penendang kelima MU Nani berada dalam tekanan karena ia harus bisa memasukkan bola. MU bernafas lega karena ternyata pemain asal Portugal itu berhasil menaklukkan Cech.

Karena MU sudah memainkan lima tendangan penalti, Chelsea pun mendapat peluang sangat emas saat Terry maju untuk melakukan eksekusi. Jika Terry berhasil, The Blues yang berhak jadi kampiun.

Di sinilah ketegangan tingkat tinggi bagi kedua tim terjadi. Akan tetapi, yang terjadi selanjutnya di luar dugaan. Terry gagal memanfaatkan peluang ini setelah tendangannya menyamping akibat ia terpeleset.

Para penggawa Chelsea dan para fans yang sudah bersiap bersorak justru menjadi murung. Sementara para pemain dan penggemar United bersorak karena mereka mendapatkan angin kedua.

Kedudukan menjadi sama kuat 4-4, dan harus dilanjutkan dengan tambahan penendang penalti. Anderson dan Salomon Kalou sukses menunaikan tugasnya dengan baik buat masing-masing klub.

Giggs lalu berhasil membawa United unggul 6-5. Penendang selanjutnya adalah Nicolas Anelka. Striker Prancis itu mendapat beban berat untuk bisa menyelamatkan peluang timnya. Apa boleh buat, ia gagal karena tendangannya diblok Van Der Sar.

Kontan, seluruh pemain, ofisial, dan pendukung Manchester United bergemuruh merayakan kemenangan. Ada yang menarik, Ronaldo tak kuasa menahan kegembiraan itu sembari menangis karena dirinya sempat gagal melakukan eksekusi.

Manchester United akhirnya berhak meraih gelar Liga Champions yang ketiga sepanjang sejarah. Kiper Van der Sar juga dianugerahi penghargaan Man of the Match. Sementara John Terry sesenggukan meratapi kegagalannya untuk membawa Chelsea meraih gelar juara tertinggi di pentas Eropa.

 

 Sumber Referensi : Sportsmole, Wikipedia, Fourfourtwo

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *