Beranda blog Halaman 703

Deportivo Palestino, Ketika Imigran Palestina Membentuk Klub Sepakbola Di Chile

Mendengar nama Deportivo Palestino tentu masih terasa asing di telinga para penggemar sepakbola. Maklum saja, klub tersebut tidak terletak di kompetisi top Eropa, sekaligus tidak punya prestasi yang benar-benar mentereng untuk dikenang, meski sejatinya kekuatan yang dimiliki juga sama sekali tidak boleh diremehkan.

Beberapa waktu lalu, jagad sepakbola dikejutkan dengan sebuah aksi “berani” para pemain Deportivo Palestino dalam memberikan dukungan kepada rakyat Palestina yang mendapat serangan secara membabi buta dari Israel. Para pemain Deportivo Palestino terlihat memakai keffiyeh atau sorban yang dilingkarkan di leher pemain dan juga ofisial tim, jelang pertandingan melawan Colo-Colo di Liga Utama Chile.

Melalui aksi pada pertandingan yang berakhir dengan kemenangan 2-1 untuk Deportivo Palestino tersebut, klub yang memiliki corak serupa dengan bendera Palestina itu seolah membuka mata dunia, bahwa sedang terjadi aksi tidak manusiawi yang dilakukan oleh para tentara Israel di tanah Palestina.

Ya, bila mendengar nama Deportivo Palestino, semua pasti setuju bila klub tersebut merupakan representasi dari negara Palestina. Lantas bagaimana bisa ada “Palestina” di tanah Amerika Selatan?

Itu semua bermula dari tahun 1885, ketika para imigran Palestina tiba di Chile untuk menghindari perang Krimea. Berikutnya, para imigran kembali datang saat terjadi Perang Dunia I, untuk kemudian diikuti pada gelombang selanjutnya ketika Israel mulai mengukir peta di tanah Palestina pada tahun 1948.

Besarnya rakyat Palestina yang datang ke Chile membuat negara yang terletak di kawasan Amerika Selatan itu menjadi rumah kedua bagi mereka. Dilaporkan terdapat sekitar setengah juta warga Palestina yang berada di Chile, atau dengan kata lain sebanyak 2,6% penduduk Chile merupakan orang-orang Palestina.

Pada periode 1900 sampai 1930 an, banyak warga Palestina datang ke Chile, dimana sebagian besar berasal dari empat desa, yakni Belen, Beit Jala, Beit Sahour dan Beit Safafa, yang memiliki pekerjaan sebagai seorang petani dan pengrajin.

Sayangnya, para imigran Palestina mendapat perlakuan berbeda dari penduduk asli Chile. Beruntung, karena kebanyakan dari mereka berstatus sebagai seorang pengrajin, warga Palestina bisa hidup dengan makmur karena terlibat dalam industri tekstil dan kain negara.

Namun itu semua belum cukup untuk membuat mereka diterima. Akhirnya, sepakbola yang disebut sebagai olahraga pemersatu bangsa diambil sebagai langkah membaur dengan warga asli Chile. Mereka memilih untuk melestarikan sepakbola sebagai warisan. Akan tetapi, lagi-lagi bukan hal mudah bagi imigran Palestina untuk langsung mendapat pengakuan. Mereka sempat tidak mendapat tempat hingga mulai diperbolehkan untuk mengikuti kompetisi sepakbola di wilayah Osorno. Klub itu sendiri diberi nama Deportivo Palestino, sebagai tanda bahwa itu merupakan bentukan para imigran Palestina.

Bila diperhatikan, jersey dari klub yang dijuluki sebagai timnas Palestina kedua ini juga menggunakan warna kebesaran bendera Palestina, yaitu merah, hitam, putih dan hijau. Lebih lanjut, klub yang dibentuk pada tahun 1920 itu berbasis di wilayah Osorno, wilayah Chile bagian Selatan, atau hampir 1000 km dari ibukota Santiago.

Akhirnya, setelah selama lebih dari tiga dekade didirikan, klub Deportivo Palestino baru mendapat pengakuan dari Federasi Sepakbola Chile. Tepat pada tahun 1952, klub tersebut resmi menjadi profesional dengan mulai tampil di divisi kedua kompetisi Chile. Tak butuh waktu lama, mereka lalu berhasil promosi ke kompetisi teratas setelah berhasil menjadi juara.

Saat mulai tampil secara profesional di divisi utama Liga Chile, klub mulai terbuka dalam menerima pemain. Artinya, tidak hanya pemain Palestina saja yang bisa tampil di klub tersebut, namun juga seluruh warga Chile yang memang layak untuk diberikan kontrak.

Setelah mendapatkan pemain dari berbagai penjuru sekaligus gelontoran dana yang dikeluarkan direksi klub, Deportivo Palestino berhasil menempati peringkat kedua Liga Primera pada tahun 1952 dan keluar sebagai juara pada tahun 1955. Setelah gelar juara yang diraih tersebut, Deportivo Palestino malah mengalami paceklik gelar yang cukup lama. Malah pada tahun 1970, klub harus terdegradasi ke divisi kedua. Beruntung, hanya dua tahun terjerembab, mereka mampu kembali ke kasta tertinggi kompetisi Chile.

Menunjuk Caupolican Pena sebagai sang juru taktik, Deportivo Palestino akhirnya sukses mengalami masa kejayaan. Tepat pada tahun 1975 dan 1977, mereka berhasil meraih trofi Piala Chile untuk kemudian diikuti dengan trofi Liga pada tahun 1978.

Kegemilangan Deportivo Palestino kian terasa spesial setelah pada periode Juli 1977 hingga September 1978, mereka mencatatkan rekor 44 pertandingan tanpa terkalahkan. Setelah menjadi jawara liga, para pemain yang tampil bersama Deportivo Palestino ketika itu kemudian sukses melaju hingga fase semifinal Copa Libertadores, dan banyak juga dari mereka yang bermain untuk timnas Chile yang berhasil duduk di tangga kedua pada turnamen Copa America pada tahun 1979.

Sempat kembali alami kemerosotan saat pindah ke stadion baru Municipal de La Cisterna pada tahun 1988, Deportivo mampu kembali ke performa terbaik di era milenium baru.

Selain prestasi di dalam lapangan, karena menjadi tim yang terus memegang erat warisan para pendahulunya, Deportivo Palestino melakukan gebrakan pada tahun 2013, ketika mereka meluncurkan jersey yang akan dipakai untuk musim 2014.

Dalam desain tersebut, Deportivo Palestino mengganti setiap angka satu dengan gambar peta asli negara Palestina sebelum diambil paksa oleh Israel. Seperti diketahui, disaat yang sama, Israel kembali berulah dengan terus membombardir jalur Gaza.

Maka dari itu, langkah tersebut dilakukan Palestino sebagai bentuk solidaritas terhadap negara yang menjadi asal muasal klub tersebut.

Namun, aksi itu langsung diprotes oleh kelompok Yahudi di Chile dan melaporkannya ke badan tertinggi sepakbola Chile dengan alasan apa yang dilakukan klub Palestino merupakan bentuk diskriminasi politik, agama, seksual, etnis, sosial, atau ras. Akhirnya, Palestino pun diberi denda sebesar 15 ribu dollar.

Akan tetapi, peringatan yang diberikan kepada Deportivo Palestino sama sekali tak mengendurkan semangat mereka untuk terus menyerukan simbol ‘Free Palestine”. Hal itu terbukti ketika pada tahun 2020 lalu, atau tepat pada ulang tahun klub ke 100, mereka merilis jersey yang terdapat label khusus di atas nomor punggung pemain, yaitu sebuah pesan penuh makna sekaligus spirit bagi klub dan seluruh penggemar yang bermakna “Deportivo Palestino bukanlah sekedar tim sepakbola biasa, Deportivo Palestino adalah representasi kemanusiaan.”

Eksistensi Deportivo Palestino di tanah Amerika Selatan pun diakui oleh koresponden Middle East Monitor bernama Eman Abusidu, dimana dia mengatakan,

“Seratus tahun identitas Palestina di sebuah negara Amerika Selatan menunjukkan kegagalan Israel untuk menghapus identitas Palestina,”

 

Sumber referensi: kompasiana, replubika, cnn, re-tawon, sanadmedia

13 Hal Yang Tidak Kamu Ketahui Tentang Phil Foden

Saat ini Manchester City tengah berada di level tertinggi. Mereka punya prestasi sekaligus skuad luar biasa, termasuk Phil Foden. Phil Foden merupakan salah satu pemain andalan City saat ini. Sudah bergabung dengan the Citizens sejak usia belia, kecintaan Foden kepada klub tersebut akhirnya berujung kebahagiaan.

Dia yang dulunya cuma menjadi pendukung dan duduk di tribun, kini bisa berdiri dengan pemain bintang lainnya yang tampil di tim utama.

Namun meski sudah menjadi sosok yang banyak diketahui orang, ada beberapa fakta tersembunyi dari pemain berusia 20 tahun ini. Apa sajakah itu? Simak ulasannya berikut ini.

Sudah Mendukung Manchester City Sejak Kecil

Sedari kecil, Phil Foden sudah menjadi penggemar berat Manchester City. Dia sejak tahun 2009 sudah bergabung dengan akademi Manchester City, hingga pada akhirnya, tepat di tahun 2016 lalu dia mendapat debut pertamanya di tim utama. Hal tersebut menjadi sesuatu yang amat mengagumkan mengingat dirinya saat ini baru berusia 20 tahun.

Saat ditanya apa momen terbaiknya selama menjadi penggemar Manchester City, Foden menjawab bahwa gol Aguero ke gawang Queens Park Rangers adalah yang terindah. Dia masih ingat ketika duduk di belakang gawang stadion dan ikut merayakan kemenangan City yang begitu krusial.

Ayahnya Pendukung Manchester United

Apakah ini menjadi hal yang cukup mengejutkan?

Phil Foden mengaku bahwa dirinya merupakan penggemar Manchester City sejak kecil. Akan tetapi, sang ayah merupakan penggemar berat Manchester United.

Meski berbeda pandangan, hal tersebut justru membuat suasana rumah jadi semakin meriah. Menurutnya, selalu ada canda dan tawa ketika dua rival abadi itu bertemu. Sang ayah selalu berteriak ketika MU berhasil mencetak gol. Sementara Foden dan ibunya baru akan merasa bahagia ketika City melakukan hal yang sama.

Hobi Memancing

Phil Foden dikenal sebagai sosok yang santai. Dia selalu menghabiskan waktu di luar lapangan dengan kegiatan yang menenangkan. Satu aktivitas yang paling disukainya selain bermain bola adalah memancing.

Foden mengaku sudah diajak memancing oleh sang ayah saat masih kecil. Bahkan, sudah ada banyak sekali kumpulan ikan besar yang didapat, termasuk Lele. Dia juga mengaku memancing sebagai kegiatan relaksasi diri usai menjalani pertandingan yang berat.

Catat Rekor Dunia

Phil Foden memang pantas disebut sebagai pemain yang sangat bertalenta. Di usianya yang masih sangat muda, namanya bahkan sudah masuk ke dalam buku catatan rekor dunia. Foden, ketika masuk ke dalam skuad utama tahun 2018, berhasil memenangkan trofi Liga Primer Inggris.

Saat itu juga, namanya tercatat sebagai pemain termuda yang berhasil memenangkan trofi prestisius tersebut. Foden membukukan rekor tersebut pada usianya yang baru menginjak usia 17 tahun 350 hari. Prestasinya ketika itu berhasil mengalahkan Gael Clichy yang memenangi Liga Inggris bareng Arsenal pada musim 2003/04.

Cetak Rekor Di Liga Champions

Selain berhasil cetak rekor dunia, Phil Foden juga berhasil catatkan namanya di buku rekor Liga Champions Eropa. Pertama, pada Desember 2017 lalu, Foden menjadi pemain pertama yang lahir setelah tahun 2000, yang tampil di pertandingan Liga Champions ketika City kalah 2-1 dari Shakhtar Donetsk.

Kemudian, dia juga menjadi pemain Inggris termuda yang tampil di kompetisi Eropa (17 tahun dan 192 hari), mengalahkan rekor sebelumnya yang dibuat oleh mantan pemain muda Chelsea Josh McEachran.

Belum lama ini, dia juga sukses memecahkan rekor Wayne Rooney setelah mencetak gol kemenangan City pada menit ke-90 kontra Borussia Dortmund. Foden sah menjadi pemain asal Inggris termuda (20 tahun dan 313 hari) yang mencetak gol kemenangan pada menit ke-90 dalam laga Liga Champions.

Peraih Golden Ball di Piala Dunia U17

Phil Foden berhasil mengantar Inggris meraih gelar juara di ajang Piala Dunia U17. Dia sukses membawa Inggris kalahkan Spanyol di ajang tersebut yang digelar di India. Foden sukses menginspirasi kemenangan Inggris setelah timnya lebih dulu kalah dengan skor 2-0.

Dalam pertandingan tersebut Foden mencatat akurasi operan sebesar 95,3 persen. Dinilai sebagai pemain paling krusial di turnamen, Foden lalu dinobatkan sebagai pemain terbaik.

Penghargaan Penting Lainnya

Usai beberapa prestasi yang disebutkan, Foden masih memiliki prestasi yang tidak bisa diremehkan. Pada 2017 silam, Foden mengikuti jejak Wayne Rooney dan Andy Murray dengan memenangkan penghargaan penghargaan Young Sports Personality of the Year dari BBC.

Nomor Punggung 47

Seorang pemain muda memang begitu akrab dengan nomor punggung besar, termasuk Phil Foden. Dia memilih untuk memakai nomor punggung 47 ketika tampil bersama tim utama.

Setelah ditelusuri, angka tersebut ternyata menyimpan arti. Foden memilih nomor tersebut karena sang kakek yang merupakan penggemar berat Manchester City meninggal di usia 47 tahun dalam sebuah kecelakaan motor. Untuk menghormati sekaligus mengingat mendiang kakeknya, dia lalu mengenakan nomor punggung 47.

Mengidolakan David Silva

Segala hal yang ada dalam diri Foden ternyata dipengaruhi oleh sosok bersahaja. Ketika ditanya siapa idolanya, Foden menjawab dengan tegas bahwa dia begitu mengagumi sosok David Silva. Foden mengaku sudah mengikuti perjalanan Silva di City sejak pertama kali didatangkan ke Etihad.

Sayangnya, dia kini sudah tidak tampil lagi bersama sang idola, setelah mantan bintang Valencia itu putuskan pulang ke Spanyol. Beruntung, dia sempat memiliki kesempatan tampil bersama sang idola di musim terakhirnya.

Membeli Rumah Mewah Untuk Keluarga

Di usia 18 tahun, Foden sudah mampu membelikan rumah untuk keluarganya senilai 2 juta poundsterling atau setara dengan 40 miliar rupiah. Dia merasa bahwa apa yang telah diraihnya kini berkat dukungan keluarga.

Foden ketika itu membawa keluarganya dari Edgeley di Stockport ke wilayah Bramhall di Manchester selatan.

Sudah Menjadi Ayah Di Usia 18 Tahun

Phil Foden, tepat setelah membelikan rumah keluarganya, langsung diberi mandat untuk menjadi ayah di usia yang baru menginjak 18 tahun. Anak laki-laki yang diberi nama Ronnie itu merupakan hasil hubungan dengan teman masa kecilnya bernama Rebecca Cooke.

Meski sempat merasa kesulitan dalam mengurus anak, Foden lantas merasa bahagia karena mulai saat itu kebahagiaan nya tidak hanya terletak di atas lapangan saja.

Memiliki Panggilan Ronnie

Phil Foden tidak lantas dipanggil sesuai dengan namanya sekarang. Keluarganya memanggil Phil dengan sebutan Ronnie. Entah apa arti nama tersebut, yang pasti nama Ronnie dipakai untuk menghindari kebingungan anggota keluarga lainnya, mengingat ayah Phil Foden juga memiliki nama Phil Foden.

Namun seperti pada fakta sebelumnya, Phil Foden malah menamai anaknya dengan sebutan Ronnie. Jadi, apakah hal tersebut akan timbulkan kebingungan lainnya?

Lebih Baik Dari Lionel Messi

Anggapan ini diciptakan langsung oleh pelatihnya saat ini, Pep Guardiola. Pelatih asal Spanyol tersebut mengatakan bila Phil Foden merupakan pemain paling bertalenta yang pernah dia latih. Padahal, kita semua tahu bila Pep pernah tangani pemain sekelas Lionel Messi.

“Dia memiliki segalanya untuk menjadi salah satu pemain terbaik,”

“Aku telah mengatakannya berkali-kali dalam konferensi pers, tetapi mungkin tidak mengatakan itu di hadapannya, Phil adalah pemain paling, paling, paling berbakat yang pernah aku lihat dalam karirku sebagai manajer.” kata Pep Guardiola.

 

Deretan Striker Hebat yang Ditinggal Timnas di Turnamen Besar (Part 1)

0

Ketika pelatih tim nasional telah memilih skuad terakhirnya untuk turnamen besar, akan selalu ada pro dan kontra yang menyertainya. Khususnya pertanyaan mengenai pemain pilihannya dan yang terpenting pemain yang dia tinggalkan.

Dalam sejarah sepak bola, sudah banyak pemain hebat yang ditepikan oleh pelatih tim nasional dengan berbagai alasan. Yang paling krusial tentu saja posisi striker. Sebab, dialah ujung tombak dari serangan tim.

Beberapa keputusan pelatih yang mengeluarkan pemain hebat ada yang berujung sukses, tapi tak sedikit yang berujung kecaman. Berikut ini Starting Eleven ulas deretan striker hebat yang ditinggal tim nasionalnya di turnamen besar.

 

Prancis – Eric Cantona

Nama Eric Cantona baru saja dimasukkan dalam Premier League Hall of Fame. Wajar, Cantona punya karier yang begitu cemerlang di Inggris. “King Eric” begitu sapaannya sukses memenangkan 4 trofi Liga Primer Inggris dan 2 Piala FA bersama Manchester United.

Sepanjang kariernya di Liga Primer Inggris, Cantona telah mencetak 70 gol dan 56 asis dalam 156 penampilannya bersama Leeds United dan Manchester United. Pemain yang identik dengan nomor 7 itu juga merupakan salah satu pemain terbaik dan paling berpengaruh di awal era Premier League.

Sayang, kariernya di tim nasional tidak secemerlang itu. Sejak debut pada 1987, Cantona total telah mengemas 45 caps dan mempersembahkan 20 gol. Namun, kariernya di “Les Blues” justru berhenti di tahun 1995 saat dirinya tampil begitu menawan di Liga Primer Inggris.

Mencetak 19 gol untuk MU sebelum gelaran Euro 1996, nyatanya tak membuat pelatih Prancis kala itu, Aime Jacquet menyertakan Cantona dalam skuad timnas Prancis. Padahal, Eric Cantona juga merupakan kapten timnas Prancis saat itu. Gara-garanya tak lain dan tak bukan adalah akibat tendangan karate-nya ke fans Crystal Palace pada bulan Januari 1995. Sejak saat itu, “King Eric” kehilangan tempat di tim nasional hingga dirinya pensiun pada akhir musim 1997.

Menariknya, usai pensiun dari dunia sepak bola, Cantona melanjutkan kariernya sebagai pemain sepak bola pantai. Tak main-main, peraih medali perunggu Ballon d’Or 1993 itu jadi kapten timnas sepak bola pantai Prancis dan mengantar negaranya menjuarai Euro 2004 dan Piala Dunia 2005.

 

Inggris – Andy Cole

Dahulu, Liga Primer Inggris punya striker lokal yang begitu ganas. Sejak debut pada 1993 hingga pensiun pada 2008 silam, ia total mengemas 187 gol dalam 414 penampilannya. Jumlah gol tersebut menjadikannya pencetak gol terbanyak ketiga dalam sejarah Liga Primer.

Dialah Andy Cole, salah satu striker bernomor punggung 9 paling berbahaya dalam sejarah. Cole menjalani musim terbaiknya saat membela Newcastle United dan Manchester United. Ia meraih Premier League Golden Boot pada 1993/1994 berkat torehan 34 golnya dalam semusim saat membela The Magpies.

Sepanjang kariernya, Cole memenangi 5 trofi Liga Primer Inggris dan jadi bagian dari tim treble winners MU pada 1998/1999. Meski punya catatan impresif, Andy Cole hanya pernah mencetak 1 gol untuk negaranya dan hanya tampil sebanyak 15 kali untuk The Three Lions.

Keputusan paling kontroversial terjadi jelang Piala Dunia 1998. Sebelumnya, Cole mencetak 25 gol dalam semusim. Namun, pelatih Inggris saat itu, Glenn Hoddle tidak membawanya dan mengklaim bahwa Andy Cole membutuhkan lima hingga enam peluang untuk mencetak 1 gol. Pernyataan itu bahkan sampai membuat Sir Alex Ferguson marah.

Hasilnya, Inggris tampil mengecewakan di Piala Dunia 1998. Mereka hanya finish sebagai runner up di babak grup sebelum gugur di babak 16 besar. Apesnya lagi, Cole malah mengalami cedera sebelum gelaran Euro 2000 dan membuatnya kembali tak dipanggil Inggris. Sangat disayangkan Inggris tak membawa Andy Cole ketika dia dalam kondisi terbaiknya.

Belakangan, mantan partner Dwight Yorke di Manchester United itu mengaku bila politik dan ketidakadilan rasial yang membuatnya jarang mendapat kesempatan bersama timnas Inggris.

“Dalam kasus saya, sepak bola bukan hanya sepak bola, tapi juga politik, politik memainkan peran besar. Ketika saya pertama kali bermain bagus di Newcastle, mencetak gol – saya seharusnya berada di skuad Inggris. [Manajer Newcastle] Kevin Keegan membawa saya ke kantornya dan saya harus mendengarkan panggilan telepon yang dia lakukan dengan seorang pria bernama David Davis. Dia memberi Kevin semua alasan mengapa saya tidak berada di skuad Inggris. Jadi, ada pertempuran besar untuk tidak memasukkan saya ke tim Inggris, dan kemudian ketika saya akhirnya masuk skuad Inggris, tidak ada yang akan memainkan saya. Saya tahu, jika bukan karena politik yang terlibat dalam sepak bola, saya akan pergi ke Piala Dunia.”, ujar Andy Cole dalam wawancaranya dengan The Beautiful Game Podcast.

 

Jerman – Stefan Kiessling

Selama bertahun-tahun, timnas Jerman di bawah asuhan Joachim Low selalu mengandalkan sosok Miroslav Klose atau Mario Gomez sebagai ujung tombak. Namun, dibalik itu, Low meninggalkan satu pemain yang tak kalah hebat dibanding Klose dan Gomez.

Dia adalah Stefan Kiessling. Striker jangkung bertinggi badan 191 cm itu adalah salah satu striker haus gol pada masanya. Di Bundesliga sendiri, ia adalah pengoleksi 144 gol dalam 403 penampilannya bersama FC Nurnberg dan Bayer Leverkusen.

Akan tetapi, karier internasional pemain yang identik dengan nomor 11 itu tak secemerlang kariernya di klub. Kiessling memang jadi bagian skuad timnas Jerman di Piala Dunia 2010. Sayangnya, tampil di Piala Dunia 2010 jadi penampilan terakhir Kiessling untuk Der Panzer. Pasalnya, setelah gelaran Piala Dunia itu hubungannya dengan Joachim Low memburuk.

“Tidak akan ada lagi pemain internasional Jerman Stefan Kiessling di bawah Low. Selama tiga tahun ini, belum ada kontak atau info mengapa saya tidak cukup bagus untuk tim nasional. Saya bukan orang yang membuat keributan, tapi saya ingin mengakhiri masalah ini.”, kata Kiessling kepada Bild dikutip dari ESPN pada 2013 silam.

Sejatinya, publik Jerman berharap agar Low memberi kesempatan kepada Kiessling untuk tampil di Piala Dunia 2014. Bagaimana tidak, sebelum gelaran Piala Dunia itu, ia mampu mencetak 56 gol selama 3 musim terakhir. Kiessling juga merupakan top skor Bundesliga musim 2012/2013 dengan torehan 25 gol.

Tepat sebelum Piala Dunia 2014 dimulai, Kiessling mengaku bila dirinya tak dibutuhkan Low dan selama Jerman dilatih Low, ia pesimis untuk mendapat kesempatan.

“Aku diusir. Joachim Low telah menjelaskan kepadaku bahwa dia tidak punya rencana apa pun untukku, apa pun yang terjadi. Itulah akhir dari cerita ini. Bagi saya, ini bukan lagi masalah, dan itu juga yang terjadi pada Joachim Low.”, ujar Stefan Kiessling dikutip dari ESPN.com

Hingga pensiun pada 2018 silam, legenda Bayer Leverkusen itu hanya tampil sebanyak 6 kali untuk Timnas Jerman.

 

Argentina – Carlos Tevez

Jelang gelaran Piala Dunia 2014, Alejandro Sabella meninggalkan Carlos Tevez dan lebih memilih Gonzalo Higuain, Lionel Messi, Rodrigo Palacio, Sergio Aguero, dan Ezequiel Lavezzi sebagai penyerang terpilih timnas Argentina.

Semua pilihan Sabella memang pemain berkualitas, tetapi di tahun tersebut Carlos Tevez baru saja dinobatkan sebagai Pemain Terbaik Juventus. Gelar tersebut ia raih berkat kontribusinya yang telah mencetak 21 gol saat tim tersebut memenangkan Serie A dan masuk dalam tim terbaik Serie A tahun itu.

Untungnya, pilihan Sabella tak berefek negatif. Argentina justru melaju jauh hingga partai final Piala Dunia 2014. Sayang, mereka kalah tipis 1-0 dari Jerman.

Tevez sendiri kemudian mendapat dipanggil lagi di timnas Argentina saat posisi Alejandro Sabella digantikan Gerardo Martino. Hingga pensiun dari timnas pada 2015 silam, pemain berjuluk Carlitos itu tampil 76 kali dan mencetak 13 gol untuk La Albiceleste.

***
Sumber Referensi: The Sportster, Morning Star Online, ESPN 1, ESPN 2

Tragis! Pemain Ini Dihukum Seumur Hidup Hanya Gara-Gara Selebrasi

1

Pernah dengar pesepakbola yang dihukum seumur hidup hanya karena selebrasi?

Kasus tersebut pernah menimpa pemain asal Yunani, Giorgos Katidis. Katidis menerima larangan bermain di tim nasional selama seumur hidupnya hanya karena sebuah selebrasi.

Peristiwa itu bermula dari sebuah pertandingan di Liga Super Yunani yang mempertemukan AEK Athens melawan Veria di Athens Olympic Stadium, Athena. Kala itu, dalam pertandingan yang dihelat pada 16 Maret 2013, Katidis memperkuat klub AEK. Ia mencetak gol penentu kemenangan timnya melawan Veria dengan skor 2-1.

Gol penentu kemenangan dihasilkan Katidis pada menit 84. Akan tetapi, setelah itu timbul sebuah masalah. Penyebabnya tak lain dan tak bukan adalah gaya selebrasi yang diperagakan oleh Katidis. Katidis melakukan selebrasi kontroversial. Ia melepas bajunya, berlari ke arah tribun dan memberi hormat ala Nazi kepada penonton.

Tindakan mengangkat tangan ala Nazi seperti era Adolf Hitler (pemimpin Jerman di era Perang Dunia II) ini memang sangat sensitif dan dilarang dalam sepak bola, khususnya di Eropa. Tindakan yang dilakukan Katidis itu dianggap rasialis dan menghina ras tertentu (yahudi).

Tindakan yang dilakukan Katidis itu mengundang kritik dari banyak pihak. Apalagi, dia pernah menjadi kapten timnas Yunani U-19. Karena ulahnya itu, Federasi Sepak Bola Yunani (EPO) langsung menggelar sidang dan Komite Disiplin mengambil sikap. Katidis yang saat itu masih berusia 20 tahun dijatuhi hukuman larangan bermain untuk Timnas Yunani seumur hidup dan didenda 50 ribu euro.

“Tindakan pemain untuk memberi hormat kepada penonton dengan cara Nazi adalah sebuah provokasi yang parah. Itu penghinaan kepada semua korban kekejaman Nazi dan melukai semua orang serta bertentangan dengan semangat sepak bola,”

Begitulah bunyi pernyataan resmi EPO ketika palu diketuk.

Katidis sendiri kemudian menyatakan permohonan maafnya atas apa yang ia lakukan, ia mengungkapkan bahwa ia tak sadar jika yang ia lakukan itu merupakan hormat ala Nazi. Ia hanya mencoba menunjuk rekannya yang duduk di tribun.

“Aku bukan fasis dan tak akan melakukannya jika aku tahu apa artinya,” ucap Katidis. Namun, beberapa kalangan tetap menganggapnya sebagai hormat ala Nazi.

Pelatihnya di AEK Athens, Ewald Lienen, pun membelanya. Pelatih asal Jerman itu membantu Katidis memberikan klarifikasi.

“Dia masih muda yang tidak memiliki ide politik apapun. Dia kemungkinan besar melihat penghormatan seperti itu di internet atau di tempat lain dan melakukannya tanpa mengetahui apa artinya,” ujar Lienen.

Katidis sendiri merupakan seorang gelandang serang kelahiran Thessaloniki, pada 12 Februari 1993. Ia menjalani debut profesionalnya di Liga Super Yunani pada usia 17 tahun, tepatnya saat membela Aris Thessaloniki.

Setelah itu, karir Katidis mengalami peningkatan. Produk akademi Aris Thessaloniki itu tumbuh menjadi pesepakbola yang handal. Ia kerap dipanggil untuk membela timnas Yunani kelompok umur. Ia bermain untuk tim U-17, serta menjadi kapten U-19 dan U-21.

Salah satu prestasi terbaiknya adalah saat membawa timnas U19 Yunani menjadi runner-up piala eropa U19 2012. Ketika itu, Katidis dkk ditaklukkan oleh Spanyol, Meski kalah, permainan Katidis mendapat apresiasi dari banyak pihak, ia yang menyandang ban kapten sukses menjadi pencetak gol terbanyak bagi Yunani dengan torehan 3 gol.

Selepas turnamen di Estonia yang digelar pada 27 Agustus 2012 itu, Katidis mendapatkan tawaran pindah ke klub elite Yunani, AEK Athens, di mana ia menandatangani kontrak 4 tahun dengan nilai transfer 100 ribu euro.

Sayang, keputusan berpindah klub ternyata justru membuat karirnya tenggelam.

Selain dihukum larangan seumur hidup bermain di timnas Yunani, Katidis juga diputus kontraknya oleh AEK Athens tak lama setelah peristiwa selebrasi kontroversialnya itu.

Katidis harus meninggalkan AEK meskipun kontraknya masih sisa 3 tahun.

Ia kemudian dipinang oleh klub antah berantah dari Italia, Novara, dan berturut-turut, setelah itu, sampai dengan musim 2018/19, ia membela klub-klub yang sama sekali tak dikenal publik, seperti Veria, Levadiakos, Panegialios, FF Jaro, FK Olympia Prague, dan FK Pribram. Jumlah penampilannya pun sangat sedikit, tidak lebih dari 20 penampilan di setiap klub yang ia bela.

Setelah hanya satu musim membela Pribram dan bermain 7 kali, kontraknya diputus pada musim panas 2019. Setelah itu, ia sudah tidak memiliki klub lagi. Sangat disayangkan, padahal saat itu, usianya baru 26 tahun. Usia dimana kebanyakan pemain berada di puncak karir terbaiknya.

Benar-benar nasib yang tragis ya Footballovers. Hanya karena selebrasi, ia tak lagi bisa menendang bola untuk negaranya sendiri.

Sumber Referensi : Republika, Libero, Bleacherreport

Perkenalkan Albert Braut Tjaaland : Sepupu Erling Haaland Yang Tak Kalah Berbahayanya

0

Dalam dua tahun terakhir, nama Erling Braut Haaland begitu menggema di kalangan pecinta sepakbola dunia. Betapa tidak, Haaland yang kini membela Dortmund selalu menunjukkan performa luar biasa di atas lapangan.

Lahir di Norwegia, 20 tahun silam, Haaland tampil begitu tajam di depan gawang. Gelontoran gol demi gol ia persembahkan untuk kesebelasan yang dibelanya. Bersama Dortmund sendiri, Haaland bahkan sudah mengemas 43 gol dari 43 penampilannya di semua kompetisi. Sebuah angka yang membuktikan bahwa kualitas seorang Erling Haaland patut untuk diacungi jempol.

Tak hanya nama Erling Braut Haaland yang sudah dikenal oleh banyak kalangan, saudara sepupu dari pihak Ibu Erling Haaland juga mulai mencuri perhatian. Dia adalah Albert Braut Tjaaland.

Sama seperti Haaland, Albert Tjaaland juga berposisi sebagai seorang striker. Kesamaan lainnya adalah mereka sama-sama tajam di depan muka gawang dan mempunyai fisik yang hampir sama. Surat kabar lokal VG menulis bahwa Tjaaland memiliki kemampuan yang sama dengan Haaland, yakni “kekuatan, kecepatan, dan fisik.”

Albert Tjaaland memulai karirnya bersama klub divisi kedua Norwegia, Bryne FK. Pemain kelahiran Norwegia ini memulai debut untuk tim utama Bryne pada Maret tahun 2020 lalu, tepatnya, saat usianya baru menginjak 16 tahun. Debutnya tidak terjadi di kompetisi resmi melainkan hanya sebuah partai persahabatan melawan Egersund, di mana ia bermain selama 15 menit terakhir.

Sebagai informasi, Erling Haaland juga pernah memperkuat Bryne FK saat masih remaja dulu. Haaland juga memulai awal karirnya bersama pasukan Bryne FK sebelum bergabung dengan Molde di Liga Divisi satu Norwegia. 

Kembali ke Tjaaland, sebelum menjalani debut bersama Byrne FK di laga persahabatan tersebut, Tjaaland sudah dikenal sebagai potensi baru dari Norwegia. Statistik menunjukkan bahwa dia telah mengantongi 30 gol hanya dalam 22 pertandingan dalam satu musim. Total di level junior, dirinya tercatat berhasil mencetak 64 gol dari 37 penampilan.

Catatan yang membuat publik meyakini Tjaaland memiliki potensi sebesar saudara sepupunya yakni Erling Haaland. Pemain yang lahir pada 11 Februari 2004 ini, sama seperti Haaland, telah memamerkan skill mantapnya sejak usia muda. Tak mengherankan bila kemudian ia langsung dimasukkan ke tim utama Bryne FK saat usianya masih 16 tahun. 

Tjaaland merupakan pemain yang lebih dominan menggunakan kaki kanan. Hal ini berbanding terbalik dengan Haaland yang lebih dominan dengan kaki kiri. Dari segi ketajaman dan naluri menjaringkan gol, keduanya mempunyai skill yang hampir sama. Di usia 17 tahun, Tjaaland sudah memperlihatkan aksi yang sebegitu hebat, tidak mustahil di usia seperti Haaland ia juga akan menjadi rebutan klub-klub besar eropa.

Secara postur, Tjaaland sangat ideal sebagai seorang bomber. Ia memiliki tinggi 185 cm, postur yang dianggap sempurna bagi para penyerang. Selain menggunakan kakinya untuk mencetak gol, kepala pun juga ia manfaatkan untuk membobol gawang lawan. 

Kini Tjaaland telah bergabung dengan klub raksasa Norwegia, Molde, kembali  mengikuti jejak Erling Haaland. Ia menandatangani kontrak pada musim panas 2020 lalu. Tjaaland sendiri mengaku inspirasi dirinya bermain di atas lapangan adalah Erling Haaland.

“Dia (Haaland) adalah inspirasi yang hebat. Sungguh menakjubkan apa yang telah dia lakukan. Apa yang berhasil dia tunjukkan di setiap pertandingan,” ucap Tjaaland.

Sekarang, patut kita nantikan bersama perkembangan pemain muda berumur 17 tahun tersebut.

Sumber Referensi : Libero, Indosport, thesukan

Kisah Klub Yang Terlalu Brutal di Dunia, FC Canales 2010

0

Jika biasanya, olahraga sepakbola menjadi ajang untuk mempertontonkan keindahan permainan para seniman lapangan hijau.

Namun, bagaimana jadinya bila sepakbola justru menjadi ajang menunjukkan permainan kasar nan brutal?

Itulah yang dilakukan oleh klub asal Portugal, Canelas 2010. Sebuah klub sepakbola yang dibentuk pada 1966 dan berbasis di Porto. Karena kebrutalannya, bahkan sampai dijuluki sebagai “Tim Paling Brutal di Dunia”.

Julukan itu muncul karena memang para pemain Canelas sangat kasar saat bertanding. Padahal dalam sepakbola sendiri, fair play dan sportivitas sangat dijunjung tinggi, namun itu tak berlaku bagi Canelas 2010.

Klub yang dikenal brutal ini juga memiliki hubungan yang erat dengan Super Dragons, grup pendukung terbesar FC Porto dan paling ditakuti di Portugal. Banyak pihak menduga jika Canelas sengaja melakukan taktik seperti mafia, untuk mengintimidasi dan mengontrol lawan.

Yang membuat klub ini semakin terlihat brutal adalah, pemimpin Super Dragons, Fernando Madureira, adalah kapten di Canelas 2010. 

Tidak seperti kebanyakan klub pada umumnya, yang mana saat ingin merengkuh sebuah gelar harus berjuang mati-matian, Canelas 2010 pernah menjadi kampiun kompetisi tanpa banyak bertanding.

Peristiwa itu terjadi pada musim 2016/17 di divisi keempat Liga Portugal. Kala itu, Canelas berhasil menduduki posisi teratas klasemen akhir. Namun, gelar yang mereka dapatkan tidak diraih dengan cara sportif. 

Di musim tersebut, Canelas berhasil menang 6 kali dari 7 partai pembuka divisi 4. Setelahnya, tiba-tiba para klub yang berlaga di kompetisi tersebut bilang tidak mau main lagi dengan Canelas, karena mereka terlalu mengintimidasi lawan.

Setiap kali bertanding, bukan suguhan olah bola menawan yang mereka pertontonkan, tapi tekel brutal, tendangan kungfu, pukulan-pukulan dan lain sebagainya yang mereka lakukan. Praktik itu disinyalir biasa mereka lakukan. Ringkasnya, para pemain Canales 2010 lebih memilih menampilkan sisi gelap permainan dari pada kemampuan mengolah si kulit bundar yang baik. 

Akibat permainan kasar Canelas, tim-tim di sana ogah bertanding lagi dengan Canales 2010. Bahkan lawan-lawan Canelas lebih memilih untuk kalah langsung 3-0 dibanding harus berlaga melawan mereka. Lawan-lawan Canelas juga rela membayar denda 650 Pounds (10,7 juta rupiah) dibanding harus celaka.

Jika ditotal, 16 dari 24 kemenangan yang diraih Canales musim itu di dapat dari hasil WO. 

Meski begitu, ada satu klub yang berani melawan. Klub itu adalah CD Candal. Tidak hanya hadir di lapangan, mereka bahkan menaklukkan Canelas 2010 2-0. Hasil itu jadi satu-satunya kekalahan Canelas 2010 pada 2016/2017. 

Canelas akhirnya finis di posisi pertama, berjarak 25 poin dengan posisi kedua.

Sebanyak enam tim teratas kemudian melakoni play-off untuk menentukan siapa yang naik kasta. Sistem yang digunakan adalah kompetisi penuh. Dengan tiket promosi dipertaruhkan, lima tim lain memutuskan bermain.

Pada laga ketiga saat melawan Rio Tinto, salah satu pemain Canelas 2010, Marco Goncalves, membuat masalah.

Dia sudah mendapat kartu merah pada menit kedua karena mengasari lawan. Tidak sampai di situ, Goncalves juga mematahkan hidung wasit setelah menyerangnya menggunakan lutut.

Sebagai hukuman, Goncalves kemudian dilarang terlibat sepak bola selama empat setengah tahun. Dia juga dihukum penjara 11 bulan. Canelas turut memberikan sanksi dengan memecatnya.

Pertandingan sendiri dihentikan dengan Rio Tinto ditetapkan sebagai pemenang lewat skor 3-0. Namun, mereka memboikot pertemuan kedua melawan Canelas 2010. Keputusan itulah yang mendorong Canelas 2010 ke posisi pertama klasemen akhir dan mendapat jatah promosi ke divisi tiga.

Mereka hanya semusim berada di Divisi III karena langsung terdegradasi. Namun, Canelas 2010 kembali naik kasta pada 2018/2019. Hingga sekarang, Canelas 2010 masih bermain di divisi 3 Portugal, Campeonato de Portugal. 

Sumber Referensi : Liputan6, The18, Instagram

Pemain Yang Hebohkan Jagat Sepakbola Italia, Romano Musollini Cicit Diktator Fasis Benito Musollini

0

Romano Floriani Mussolini, belum lama ini namanya mendadak jadi bahan perbincangan di kalangan pecinta sepakbola Italia. Bukan karena prestasinya di atas lapangan, melainkan karena sang pemain adalah cicit dari Benito Mussolini. 

Seperti diketahui, Benito Mussolini adalah mantan perdana menteri Italia dari tahun 1922 – 1943. Dia adalah seorang diktator yang mengenalkan paham fasisme pada warga Italia sepanjang kurun waktu tersebut. Pria yang akrab disapa Il Duce itu juga diketahui sebagai sosok yang pernah menjadikan Italia sebagai salah satu kekuatan poros dunia bersama Jerman (Nazi) dan Jepang dalam perang dunia kedua.

Saat itu bisa dikatakan, masa-masa kepemimpinannya merupakan sejarah kelam bagi warga Italia, bahkan dunia.

Romano sendiri merupakan putra dari Alessandra Mussolini, yang merupakan cucu dari  Benito Mussolini dan Mauro Floriani. Pada awal Februari lalu, Romano diketahui telah menandatangani kontrak profesional di Lazio.

Namun, ternyata bergabungnya pemain kelahiran 23 Januari 2003 itu bersama Lazio, justru menimbulkan kekhawatiran di kalangan pecinta sepakbola Italia.

Mereka khawatir adanya keturunan Mussolini di Lazio akan menyuburkan kembali paham fasisme. Dimana basis pendukung garis keras klub tersebut cukup kental dengan paham fasisme. Hal yang dikhawatirkan dapat membuat Lazio kembali bermasalah dengan pihak berwenang seperti yang sudah pernah terjadi pada tahun 2018.

Saat itu, Lazio didenda € 50.000 oleh Federasi Sepak Bola Italia karena tindakan suporter yang mengotori Stadio Olimpico dengan stiker Anne Frank, seorang penulis buku harian muda Yahudi yang terbunuh dalam Holocaust.

Bahkan, selain itu, menurut berbagai sumber mereka juga kerap bersikap rasis pada pemain yang berkulit hitam.

Ditambah dengan fakta bahwa di Lazio, Romano berposisi sebagai pemain bek sayap kanan. Dimana hal tersebut lalu dikaitkan dengan basis suporter Lazio yang sudah dikenal luas beraliran sayap kanan.Yang mana di kancah politik paham fasisme juga dikenal sebagai ideologi sayap kanan. 

Kendati demikian, Lazio beranggapan telah mengambil langkah terbaik untuk mencegah masalah-masalah yang kemungkinan akan muncul di masa mendatang. Dan menurut klub Italia ini, biasanya insiden-insiden tidak menyenangkan hanya dilakukan oleh sebagian kecil fansnya.

Sedangkan untuk latar belakang keluarga Romano Mussolini itu sendiri tak menjadi masalah bagi Lazio. Bahkan pihak Lazio tidak begitu memperdulikan asal usul Romano. Mereka mengungkapkan jika mereka murni tertarik pada Romano karena pemain berusia 18 tahun itu menunjukkan penampilan impresif.

Pelatih Tim U-19 Lazio, Mauro Bianchessi, memastikan Romano adalah anak yang baik. Menurutnya, Romano adalah anak yang rendah hati dan tidak pernah mengeluh sekalipun selama dua tahun belakangan ini. Romano disebutnya terlihat cukup menjanjikan. Romano hanya butuh menambah jam terbang dan pengalaman untuk jadi pemain hebat. 

“Nama keluarga yang memberatkan? Saya tidak pernah berbicara dengan orang tuanya, dan satu-satunya hal yang penting adalah apakah seorang pemain layak bermain. Tidak ada lagi.” (Mauro Bianchessi via dailymail)

Karir sepakbola Romano sendiri telah dimulai di tim junior AS Roma sebelum pindah untuk bermain di Lazio ketika dia berumur 13 tahun. Sementara di Lazio, dia dipinjamkan pada tahun 2018 ke klub amatir Vigor Perconti. Ini terjadi setelah dia tidak mendapatkan waktu bermain di Lazio selama dua tahun, sebelum dia melakukan debutnya untuk tim U-17, kemudian bermain untuk tim U-18 dan sekarang bergabung dengan Lazio U19, meski sempat beberapa kali diikutsertakan dalam latihan tim utama Lazio.

Terlepas dari nama belakang dan garis keturunannya, Romano mengatakan dia tidak tertarik pada politik. Ibunya, Alessandra Mussolini adalah mantan anggota parlemen Italia. Alessandra mengatakan tidak mau ikut campur mengenai karier sepakbola putranya tersebut.

“Itu adalah sesuatu yang saya lebih suka untuk tidak ikut campur. Itu bukan urusan saya. Anak saya tidak ingin ikut campur dalam kehidupan pribadi atau pilihannya,” ucap Alessandra.

Sumber Referensi : Bola.okezone, Libero, Dailymail, Wikipedia