Deretan Striker Hebat yang Ditinggal Timnas di Turnamen Besar (Part 1)

  • Whatsapp

Ketika pelatih tim nasional telah memilih skuad terakhirnya untuk turnamen besar, akan selalu ada pro dan kontra yang menyertainya. Khususnya pertanyaan mengenai pemain pilihannya dan yang terpenting pemain yang dia tinggalkan.

Dalam sejarah sepak bola, sudah banyak pemain hebat yang ditepikan oleh pelatih tim nasional dengan berbagai alasan. Yang paling krusial tentu saja posisi striker. Sebab, dialah ujung tombak dari serangan tim.

Bacaan Lainnya

Beberapa keputusan pelatih yang mengeluarkan pemain hebat ada yang berujung sukses, tapi tak sedikit yang berujung kecaman. Berikut ini Starting Eleven ulas deretan striker hebat yang ditinggal tim nasionalnya di turnamen besar.

 

Prancis – Eric Cantona

Nama Eric Cantona baru saja dimasukkan dalam Premier League Hall of Fame. Wajar, Cantona punya karier yang begitu cemerlang di Inggris. “King Eric” begitu sapaannya sukses memenangkan 4 trofi Liga Primer Inggris dan 2 Piala FA bersama Manchester United.

Sepanjang kariernya di Liga Primer Inggris, Cantona telah mencetak 70 gol dan 56 asis dalam 156 penampilannya bersama Leeds United dan Manchester United. Pemain yang identik dengan nomor 7 itu juga merupakan salah satu pemain terbaik dan paling berpengaruh di awal era Premier League.

Sayang, kariernya di tim nasional tidak secemerlang itu. Sejak debut pada 1987, Cantona total telah mengemas 45 caps dan mempersembahkan 20 gol. Namun, kariernya di “Les Blues” justru berhenti di tahun 1995 saat dirinya tampil begitu menawan di Liga Primer Inggris.

Mencetak 19 gol untuk MU sebelum gelaran Euro 1996, nyatanya tak membuat pelatih Prancis kala itu, Aime Jacquet menyertakan Cantona dalam skuad timnas Prancis. Padahal, Eric Cantona juga merupakan kapten timnas Prancis saat itu. Gara-garanya tak lain dan tak bukan adalah akibat tendangan karate-nya ke fans Crystal Palace pada bulan Januari 1995. Sejak saat itu, “King Eric” kehilangan tempat di tim nasional hingga dirinya pensiun pada akhir musim 1997.

Menariknya, usai pensiun dari dunia sepak bola, Cantona melanjutkan kariernya sebagai pemain sepak bola pantai. Tak main-main, peraih medali perunggu Ballon d’Or 1993 itu jadi kapten timnas sepak bola pantai Prancis dan mengantar negaranya menjuarai Euro 2004 dan Piala Dunia 2005.

 

Inggris – Andy Cole

Dahulu, Liga Primer Inggris punya striker lokal yang begitu ganas. Sejak debut pada 1993 hingga pensiun pada 2008 silam, ia total mengemas 187 gol dalam 414 penampilannya. Jumlah gol tersebut menjadikannya pencetak gol terbanyak ketiga dalam sejarah Liga Primer.

Dialah Andy Cole, salah satu striker bernomor punggung 9 paling berbahaya dalam sejarah. Cole menjalani musim terbaiknya saat membela Newcastle United dan Manchester United. Ia meraih Premier League Golden Boot pada 1993/1994 berkat torehan 34 golnya dalam semusim saat membela The Magpies.

Sepanjang kariernya, Cole memenangi 5 trofi Liga Primer Inggris dan jadi bagian dari tim treble winners MU pada 1998/1999. Meski punya catatan impresif, Andy Cole hanya pernah mencetak 1 gol untuk negaranya dan hanya tampil sebanyak 15 kali untuk The Three Lions.

Keputusan paling kontroversial terjadi jelang Piala Dunia 1998. Sebelumnya, Cole mencetak 25 gol dalam semusim. Namun, pelatih Inggris saat itu, Glenn Hoddle tidak membawanya dan mengklaim bahwa Andy Cole membutuhkan lima hingga enam peluang untuk mencetak 1 gol. Pernyataan itu bahkan sampai membuat Sir Alex Ferguson marah.

Hasilnya, Inggris tampil mengecewakan di Piala Dunia 1998. Mereka hanya finish sebagai runner up di babak grup sebelum gugur di babak 16 besar. Apesnya lagi, Cole malah mengalami cedera sebelum gelaran Euro 2000 dan membuatnya kembali tak dipanggil Inggris. Sangat disayangkan Inggris tak membawa Andy Cole ketika dia dalam kondisi terbaiknya.

Belakangan, mantan partner Dwight Yorke di Manchester United itu mengaku bila politik dan ketidakadilan rasial yang membuatnya jarang mendapat kesempatan bersama timnas Inggris.

“Dalam kasus saya, sepak bola bukan hanya sepak bola, tapi juga politik, politik memainkan peran besar. Ketika saya pertama kali bermain bagus di Newcastle, mencetak gol – saya seharusnya berada di skuad Inggris. [Manajer Newcastle] Kevin Keegan membawa saya ke kantornya dan saya harus mendengarkan panggilan telepon yang dia lakukan dengan seorang pria bernama David Davis. Dia memberi Kevin semua alasan mengapa saya tidak berada di skuad Inggris. Jadi, ada pertempuran besar untuk tidak memasukkan saya ke tim Inggris, dan kemudian ketika saya akhirnya masuk skuad Inggris, tidak ada yang akan memainkan saya. Saya tahu, jika bukan karena politik yang terlibat dalam sepak bola, saya akan pergi ke Piala Dunia.”, ujar Andy Cole dalam wawancaranya dengan The Beautiful Game Podcast.

 

Jerman – Stefan Kiessling

Selama bertahun-tahun, timnas Jerman di bawah asuhan Joachim Low selalu mengandalkan sosok Miroslav Klose atau Mario Gomez sebagai ujung tombak. Namun, dibalik itu, Low meninggalkan satu pemain yang tak kalah hebat dibanding Klose dan Gomez.

Dia adalah Stefan Kiessling. Striker jangkung bertinggi badan 191 cm itu adalah salah satu striker haus gol pada masanya. Di Bundesliga sendiri, ia adalah pengoleksi 144 gol dalam 403 penampilannya bersama FC Nurnberg dan Bayer Leverkusen.

Akan tetapi, karier internasional pemain yang identik dengan nomor 11 itu tak secemerlang kariernya di klub. Kiessling memang jadi bagian skuad timnas Jerman di Piala Dunia 2010. Sayangnya, tampil di Piala Dunia 2010 jadi penampilan terakhir Kiessling untuk Der Panzer. Pasalnya, setelah gelaran Piala Dunia itu hubungannya dengan Joachim Low memburuk.

“Tidak akan ada lagi pemain internasional Jerman Stefan Kiessling di bawah Low. Selama tiga tahun ini, belum ada kontak atau info mengapa saya tidak cukup bagus untuk tim nasional. Saya bukan orang yang membuat keributan, tapi saya ingin mengakhiri masalah ini.”, kata Kiessling kepada Bild dikutip dari ESPN pada 2013 silam.

Sejatinya, publik Jerman berharap agar Low memberi kesempatan kepada Kiessling untuk tampil di Piala Dunia 2014. Bagaimana tidak, sebelum gelaran Piala Dunia itu, ia mampu mencetak 56 gol selama 3 musim terakhir. Kiessling juga merupakan top skor Bundesliga musim 2012/2013 dengan torehan 25 gol.

Tepat sebelum Piala Dunia 2014 dimulai, Kiessling mengaku bila dirinya tak dibutuhkan Low dan selama Jerman dilatih Low, ia pesimis untuk mendapat kesempatan.

“Aku diusir. Joachim Low telah menjelaskan kepadaku bahwa dia tidak punya rencana apa pun untukku, apa pun yang terjadi. Itulah akhir dari cerita ini. Bagi saya, ini bukan lagi masalah, dan itu juga yang terjadi pada Joachim Low.”, ujar Stefan Kiessling dikutip dari ESPN.com

Hingga pensiun pada 2018 silam, legenda Bayer Leverkusen itu hanya tampil sebanyak 6 kali untuk Timnas Jerman.

 

Argentina – Carlos Tevez

Jelang gelaran Piala Dunia 2014, Alejandro Sabella meninggalkan Carlos Tevez dan lebih memilih Gonzalo Higuain, Lionel Messi, Rodrigo Palacio, Sergio Aguero, dan Ezequiel Lavezzi sebagai penyerang terpilih timnas Argentina.

Semua pilihan Sabella memang pemain berkualitas, tetapi di tahun tersebut Carlos Tevez baru saja dinobatkan sebagai Pemain Terbaik Juventus. Gelar tersebut ia raih berkat kontribusinya yang telah mencetak 21 gol saat tim tersebut memenangkan Serie A dan masuk dalam tim terbaik Serie A tahun itu.

Untungnya, pilihan Sabella tak berefek negatif. Argentina justru melaju jauh hingga partai final Piala Dunia 2014. Sayang, mereka kalah tipis 1-0 dari Jerman.

Tevez sendiri kemudian mendapat dipanggil lagi di timnas Argentina saat posisi Alejandro Sabella digantikan Gerardo Martino. Hingga pensiun dari timnas pada 2015 silam, pemain berjuluk Carlitos itu tampil 76 kali dan mencetak 13 gol untuk La Albiceleste.

***
Sumber Referensi: The Sportster, Morning Star Online, ESPN 1, ESPN 2

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *