Beranda blog Halaman 702

Ronaldo, Messi dan Akhir Dari Sebuah Era Setelah 16 tahun berkuasa

0

Selama kurun waktu 16 tahun terakhir, penikmat sepakbola dunia dimanjakan oleh duo pemain sekaligus ikon sepakbola modern, Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi. Selama periode waktu itulah, Ronaldo dan Messi menjelma menjadi pesepak bola hebat yang bergelimang prestasi.

Namun, masa keemasan Ronaldo dan Messi tampaknya mulai memudar. Hal itu terbukti dari tersingkirnya kedua pemain di babak 16 besar Liga Champions musim 2020/21. Seperti kita ketahui, baik Ronaldo dan Messi gagal membawa timnya masing-masing melaju ke perempat final Liga Champions musim ini.

Ronaldo yang membela Juventus gagal melangkah lebih jauh setelah disingkirkan oleh wakil asal Portugal, FC Porto. Meskipun menang 3-2 pada laga leg kedua yang berlangsung di Allianz Stadium, Turin, namun itu tidak cukup membantu klub berjulukan si nyonya tua itu melaju ke delapan besar. Sebab, kedua tim meraih hasil imbang 4-4 secara agregat. Juventus gagal lolos karena kalah agresivitas gol tandang dari Porto.

Di sisi lain, Lionel Messi juga gagal membawa Barcelona lolos ke perempat final. Tragisnya, mereka tersingkir secara menggenaskan. Dilibas PSG 4-1 di kandang sendiri stadion Camp Nou, Barca lalu hanya mampu meraih hasil imbang saat tandang ke Parc Des Princes, markas PSG. Skor agregat 5-2 membawa PSG ke perempat final.

Terhentinya langkah Ronaldo dan Messi menciptakan sejarah di Liga Champions. Karena untuk pertama kalinya sejak musim 2004-2005, Liga Champions tanpa Ronaldo atau Messi di perempat final.

Pada musim 2004/05, Liga Champions saat itu tanpa kedua pemain tersebut. Ronaldo menjalani tahun keduanya bersama Manchester United. Sedangkan Messi baru memulai karir profesionalnya bersama Barcelona.

Sejak musim berikutnya, 2005/06 hingga musim 2019/20, perempat final Liga Champions selalu disuguhkan oleh aksi Messi atau Ronaldo atau bahkan keduanya. Namun musim ini Liga Champions terasa hampa tanpa kehadiran dua ikon tersebut di babak 8 besar.

Jika melihat fakta tersebut mungkinkah era Ronaldo dan Messi telah berakhir? Coba kita ulas bersama-bersama.

Semua sepakat bahwa kedua mahkhuk tersebut merupakan jagoan di Liga Champions dalam periode 16 tahun terakhir. Buktinya, baik Ronaldo dan Messi telah menyumbangkan deretan trofi untuk klub yang dibelanya.

Ronaldo tercatat sudah memperoleh 5 trofi Liga Champions, sementara Messi mempunyai 4 gelar liga Champions. Jika digabungkan, maka keduanya telah berhasil mengumpulkan 9 trofi si kuping besar. Sebuah angka yang luar biasa di era sepakbola modern.

Ronaldo mendapat gelar pertamanya saat masih berseragam Manchester United. Kala itu, pemain Portugal yang didatangkan MU pada 2003 itu sukses mencetak satu gol saat MU menekuk Chelsea lewat drama adu penalti di Final tahun 2008. Pada tahun yang sama, Ronaldo melengkapi gelar Liga Champions dengan sebuah trofi premier league dan yang lebih penting lagi meraih Ballon D’or.

Sementara Messi mendapatkan trofi Liga Champions pertamanya pada tahun 2006. Meski tak tampil di pertandingan final kontra Arsenal, namun ia menjadi bagian dari skuad Barcelona di Liga Champions musim tersebut. Hanya tiga tahun berselang, Barcelona kembali menasbihkan diri sebagai yang terkuat di daratan eropa. Kali ini, Messi menjadi aktor utama keberhasilan Barcelona melewati hadangan Manchester United dengan Cristiano Ronaldo-nya.

Pada tahun 2009 itu pula, Messi meraih gelar Ballon D’or pertamanya. Ia mengalahkan Ronaldo dan sejak saat itu persaingan kedua mega bintang itu dimulai. Terlebih lagi, kepindahan Ronaldo dari MU ke Real Madrid semakin membuat rivalitas makin sengit.

Kedua pemain selalu ingin menjadi yang terbaik. Laga demi laga, kompetisi demi kompetisi diarungi oleh kedua pemain. Status mega bintang pun menyemat kepada mereka berkat segudang prestasinya di atas lapangan hijau.

Prestasi Ronaldo dan Messi makin hari kian tak terbendung. Ronaldo, setelah merengkuh trofi si kuping besar pertamanya, kembali meraihnya lagi tahun 2014, 2016,2017 dan 2018 bersama Real Madrid. Tak hanya itu, dalam dekade yang sama Ronaldo juga mengukir sejumlah prestasi yang tak kalah mengagumkan. Ia kembali mencatatkan namanya sebagai pesepakbola terbaik dunia pada tahun 2013, 2014, 2016 2017. Serta ia juga berhasil mengharumkan negaranya di kancah piala eropa 2016.

Pada dekade yang sama, Messi menandingi Ronaldo dengan sejumlah prestasi yang luar biasa. Tercatat, pemain asal Argentina itu sukses memperoleh 6 trofi Ballon D’or, yang terakhir diraihnya pada tahun 2019. Selain itu, Messi juga membawa Barcelona meraih trofi Liga Champions 2011 dan 2015 yang dibarengi dengan titel La Liga dan Copa Del Rey.

Selain gelar juara, dominasi keduanya juga bisa dilihat dari partisipasi di babak semifinal Liga Champions. Tampil di babak empat besar seperti sudah menjadi rutinitas bagi Messi dan Ronaldo. Messi tercatat sudah delapan kali tampil di semifinal Liga Champions. Sementara Ronaldo tampil tiga kali lebih banyak dibanding Messi.

Kini, era kedua pemain semakin meredup. Tanda-tanda itu sebenarnya telah dimulai beberapa musim sebelumnya. Messi misalnya, ia kesulitan membawa Barcelona meraih gelar Liga Champions sejak 2015, utamanya setelah ditinggal beberapa pemain penting seperti Xavi Hernandez, Carles Puyol dan Andres Iniesta. Meski masih cukup dominan di kompetisi domestik, tapi tetap saja masih kalah pamor di banding Liga Champions.

Untuk musim ini kesulitan itu semakin ruwet karena ditambah konflik internal di tubuh Barcelona. Padahal secara komposisi pemain, Barcelona harusnya bisa mendapatkan gelar Liga Champions. Masalahnya ada pada kondisi internal Blaugrana yang sempat kacau balau setahun terakhir. Messi bahkan sempat memberontak ingin pergi.

Sementara itu, Ronaldo juga belum pernah memenangkan trofi liga Champions sejak meninggalkan Real Madrid untuk bergabung dengan Juventus di tahun 2018. Padahal ia direkrut oleh Juventus agar membawa si nyonya tua meraih trofi si kuping besar tersebut. Keputusan Bianconeri masuk akal, mengingat beberapa tahun sebelumnya Ronaldo membawa Los Blancos berjaya. Namun, sepertinya Juve membuat kesalahan mendasar. Mereka hanya merekrut Ronaldo tanpa dibarengi dengan pembelian bintang lainnya.

Faktor usia tentu berperan penting terhadap penurunan prestasi Ronaldo dan Messi. Harus diakui keduanya telah melewati masa usia emas karena sudah berkepala tiga. Meski begitu, keduanya masih terlihat tajam di kompetisi domestik. Hal itu dibuktikan dengan kedua pemain yang masih sama-sama dalam laju perebutan topskor liga masing-masing.

Habisnya era dominasi Messi dan Ronaldo juga dibarengi dengan kemunculan calon pengganti mereka. Orang-orang menyebut bahwa Kylian Mbappe dan Erling Haaland yang akan menggantikan Ronaldo dan Messi dalam persaingan di sepakbola dunia. Mbappe dan Haaland tidak dapat dimungkiri merupakan dua pemain yang sering mendapat sorotan dalam tiga musim terakhir.

Mbappe, pemain asal Prancis telah moncer sejak bersama Monaco, sebelum kemudian bersinar bersama PSG. Ia juga sukses membawa tim ayam jantan merebut piala dunia 2018. Sementara Haaland, kemunculannya baru terdengar bising pada awal musim 2019/20, ketika membuat sejumlah rekor di Liga Champions. Haaland yang memperkuat RB Salzburg kemudian diboyong oleh Dortmund pada Januari 2020 dan sejauh ini sudah mencetak 47 gol dari 47 laga di semua kompetisi bersama klub asal Jerman tersebut.

Kini patut dinantikan, apakah era Ronaldo dan Messi benar-benar telah habis? kedua pemain masih mempunyai kesempatan untuk menasbihkan diri sebagai raja sepakbola, ketika FIFA menggelar ajang turnamen sepakbola terbesar di Qatar pada tahun depan.

Sumber referensi : Marca, Bola.net, Bolaskor

Penyerang Bernaluri Pembunuh Dengan Nomor 9! Siapa Saja Mereka? Part 2

0

Masih seputar deretan penyerang tajam bernomor punggung 9 dalam sejarah sepakbola dunia. Berikut kami berikan daftar penyerang bernaluri pembunuh nomor 9 part 2.

Andy Cole (Inggris)

Sepakbola Eropa pernah dibuat kagum oleh aksi Andy Cole. Pemain bernomor 9 ini adalah salah satu striker terbaik yang pernah dimiliki Inggris. Meskipun jumlah capsnya bersama timnas Inggris tidak terlalu banyak, Cole tetap menjadi legenda sepakbola negeri ratu Elizabeth.

Karir terbaiknya tentu saja saat membela Manchester United dan Newcastle United. Prestasinya tidak tanggung-tanggung, Cole pernah membawa MU merengkuh treble winners musim 1998/99. Tak hanya itu, sepanjang karirnya di Premier League, Cole juga sukses mengoleksi total 187 gol.

Filippo Inzaghi (Italia)

Nama Filippo Inzaghi sangat sulit jika tidak dimasukkan dalam daftar ini. Pada masanya, Inzaghi adalah striker tajam bernaluri pembunuh. Cerdas dan efektif, dua kata itulah yang tepat menggambarkan sosok Inzaghi.

Inzaghi memang bukan seorang striker dengan kemampuan fisik yang luar biasa, namun ia sangat pandai dalam menempatkan posisi dan efektif dalam memanfaatkan peluang.

Ia bermain untuk AC Milan selama 11 tahun, memenangkan dua trofi Liga Champions dan dua gelar Serie A. Sebelumnya, ia pernah bersinar di Juventus. Di level internasional sendiri, Inzaghi menjadi andalan timnas Italia selama 10 tahun, mencetak 25 gol dari 57 caps. Prestasi tertingginya tentu saja menjuarai Piala Dunia 2006.

Hernan Crespo (Argentina)

Sosok ikonik di Parma dan Lazio, Hernan Crespo masuk di antara striker bintang nomor 9, periode akhir 1990-an hingga 2000-an.

Kuat, terampil dan sangat cepat, Crespo memiliki kecenderungan untuk mencetak gol spektakuler. Mirip dalam banyak hal dengan rekan senegaranya Gabriel Batistuta, Crespo juga merupakan salah satu pencetak gol terhebat Argentina.

Crespo bergelimang sukses dalam 14 musim karirnya di Italia, dari 1996 hingga 2012. Selama berkarir di negeri Pizza, Crespo memenangkan tiga gelar Serie A, satu trofi Coppa Italia, dan lima trofi piala super italia serta tambahan satu gelar piala UEFA. Total, ia melesakkan 153 gol dari 340 pertandingan serie A.

Samuel Eto’o (Kamerun)

Samuel Eto’o meneruskan tradisi penyerang asal Afrika yang meniti karir di eropa. Perjalanan karirnya di eropa pun terbilang sangat luar biasa.

Eto’o sukses membantu sejumlah klub top eropa meraih gelar-gelar bergengsi. Barcelona dan Inter Milan pernah dibawanya merengkuh treble winners, masing-masing pada musim 2008/09 dan 2009/10.

Pria Kamerun itu juga tercatat sebagai pemain Afrika yang paling bersinar sepanjang masa setelah memenangkan rekor empat kali “Pemain Terbaik Afrika”: pada tahun 2003, 2004, 2005, dan 2010. Dia juga berada di urutan ketiga sebagai Pemain Terbaik Dunia FIFA pada tahun 2005. Sepanjang karirnya bermain di level klub, Eto’o berhasil menjaringkan 371 gol dari 764 pertandingan.

Zlatan Ibrahimovic (Swedia)

Kurang pas rasanya jika tidak menyertakan nama Zlatan Ibrahimovic dalam daftar ini.

Meskipun dalam karirnya belum pernah memenangkan ajang Liga Champions, namun Ibrahimovic tetap dianggap sebagai salah satu striker tengah terbaik sepanjang masa.

Kelebihan Ibra ada pada fisiknya. Dengan tinggi 195 cm, tak sulit bagi dirinya untuk berduel dengan pemain-pemain bertahan lawan.

Ibra sudah bermain di liga-liga elite Eropa kecuali Jerman. Hasilnya, ia selalu mampu menunjukkan diri sebagai penyerang tajam. Berbagai trofi domestik mampu dipersembahkan Ibra untuk klub yang dibelanya.

Deretan rekor individu juga berhasil dipecahkannya. Lebih dari 500 gol sudah dicetak oleh pemain yang kini berseragam AC Milan tersebut.

Fernando Torres (Spanyol)

Fernando Torres pernah mengguncang jagat sepakbola Inggris kala berseragam Liverpool dan Chelsea. Bersama dua klub tersebut, Torres memang tak banyak mempersembahkan trofi, namun gol-gol yang ia ciptakan turut melambungkan namanya di belantika sepakbola dunia. 

Ia adalah salah satu striker paling ditakuti di dunia selama tahun-tahun pertamanya. Kecepatannya yang luar biasa tidak diragukan lagi merupakan aset terbesarnya, Selain itu, ia juga memiliki kekuatan fisik yang luar biasa, yang membantunya bersaing ketat dengan para pemain bertahan tangguh, seperti Nemanja Vidic, John Terry dan lainnya selama waktunya di Liga Primer. Bersama timnas, Torres turut serta membantu La Furia Roja meraih dua trofi eropa dan satu piala dunia.

Luis Suárez (Uruguay)

Luis Suarez masuk dalam jajaran penyerang terbaik dunia, dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. 

Meski karirnya kerap dibumbui dengan aksi tak terpuji, tapi itu tidak mematahkan karir Suarez.  Pemenang dua kali Sepatu Emas Eropa itu bisa dibilang striker paling lengkap saat ini.

Suarez adalah pemain nomor 9 yang juga suka terlibat dalam permainan. Ia tak hanya bisa mencetak gol, tapi juga jago melayangkan umpan ke rekan-rekannya.

Dia juga pemain yang punya kemampuan beradaptasi yang luar biasa. Sepanjang karirnya di Ajax, Liverpool dan Barcelona, gol demi gol ia ciptakan untuk kesebelasan yang dibelanya.

Walau mungkin sudah tak selincah dulu, namun tetap saja, Suarez masuk kategori penyerang bernaluri tajam. 

Robert Lewandowski (Polandia)

Dalam satu dekade terakhir, penikmat sepakbola dimanjakan oleh aksi-aksi luar biasa dari seorang bernama Robert Lewandowski.

Lewandowski adalah pencetak gol terbanyak Polandia sepanjang masa. Ia muncul sebagai salah satu penyerang terbaik di dunia saat bermain untuk Borussia Dortmund era Jurgen Klopp dan karir berikutnya di Bayern Munchen memperkuat reputasi itu.

Lewandowski adalah striker impian pelatih mana pun. Ia hampir tidak pernah gagal memanfaatkan peluang di depan gawang, amat kuat dalam menguasai bola, kedua kakinya dapat diandalkan untuk melakukan tembakan, ditambah ia jago dalam permainan bola udara.

Tak mengherankan jika dalam beberapa tahun terakhir, ia berhasil menjadi penyumbang banyak gol untuk klub dan timnas.

Karim Benzema (Prancis)

Karim Benzema akan selalu tercatat sebagai penyerang tajam yang pernah ada. Mantan pemain timnas Prancis ini adalah legenda di Real Madrid, di mana ia telah menjadi salah satu penyerang terbaik dalam sejarah klub.

Mantan bintang Lyon itu sudah mencetak 266 gol dan juga 13 trofi selama memperkuat Los Blancos. Meski Cristiano Ronaldo sudah tidak ada, Benzema masih belum tergantikan di Real Madrid. Di usianya yang sudah lebih dari 30 tahun, ia tetap tajam dan selalu bisa diandalkan saat menjalankan berbagai strategi menyerang. Benzema adalah pemain nomor 9 lainnya yang tampil sangat baik di tiga posisi berbeda di lini depan. Selain mencetak gol, ia juga bisa jadi pelayan yang baik untuk rekan-rekan setimnya.

Romelu Lukaku (Belgia)

Romelu Lukaku tampil trengginas bersama Inter Milan musim ini. Bersama Inter musim ini, Lukaku telah mencetak 24 gol dari 31 penampilan di semua kompetisi. 

Pria asal Belgia itu telah menggunakan teknik dan fisiknya yang luar biasa untuk mencetak gol demi gol. Kekuatan, kecepatan dan tendangan keras menjadi kelebihan pemain berusia 27 tahun tersebut.

Sebelum di Inter, Lukaku juga telah menunjukkan ketajamannya saat di Everton. Ia lalu sempat berlabuh di Manchester United, meski karirnya disana tidak semulus yang diharapkan. Kendati dicap gagal di MU karena hanya mengemas 42 gol dari 96 laga, namun Lukaku tetap dinilai sebagai penyerang berbahaya di eropa saat ini bahkan di dunia.

 Sumber Referensi : Goal, Bola.com, Kaskus

Begini Cara Turki Perkuat Timnasnya di EURO 2020

0

Suporter sepak bola di Turki dikenal sebagai salah satu yang paling fanatik di dunia. Salah satu kelompok suporter bola negara yang sebagian wilayahnya masuk benua Asia itu bahkan pernah membuat rekor mencengangkan.

Adalah pendukung Galatasaray yang mencatat rekor di Guinnes World Records sebagai suporter paling berisik di dunia. Pada 2011 silam, sorak-sorai suporter Galatasaray di Turk Telecom Arena menimbulkan gemuruh hingga 131,76 desibel atau setara dengan dentuman meriam.

Singkatnya, Turki adalah salah satu negara yang gila bola. Sayangnya, prestasi negara tersebut di kancah internasional tidak sebesar passion mereka terhadap si kulit bundar. Di Piala Dunia, mereka baru tampil 2 kali dengan hasil terbaik meraih juara tiga di Piala Dunia 2002. Sementara di ajang Piala Eropa, Turki sudah tampil 5 kali dengan hasil terbaik sebagai semifinalis di EURO 2008.

Ada 2 hal yang kerap menghambat sepak bola Turki menjadi sebuah kekuatan besar dunia. Pertama, keterlibatan politik dalam sepak bola, dan kedua, fanatisme yang berlebihan. Sudah bukan rahasia lagi jika sepak bola Turki kerap disusupi unsur politis. Bahkan beberapa klub Turki disinyalir didanai langsung oleh partai politik yang berkuasa.

Tak jarang, kita juga melihat pesepak bola Turki yang melakukan selebrasi kontroversial di atas lapangan. Media Turki yang kerap menyudutkan dan mengkritik keras pemainnya sendiri juga jadi masalah di sana. Belum lagi suporternya yang kerap menunjukkan fanatisme buta yang merugikan diri sendiri.

“Ketika Fenerbahce memainkan pemain muda, lalu mereka membuat beberapa kesalahan, mereka akan dicemooh pendukung mereka sendiri. Itu ada hubungannya dengan budaya Turki. Terlalu banyak gairah terkadang membakar dirinya sendiri,” ujar Olkan Altiparmak, filmmaker dan suporter Fenerbahke kepada DW Kick Off!

EURO 2020 adalah peluang terbaik Turki untuk memperbaiki citra diri dan unjuk gigi di turnamen besar. Pasalnya, mereka datang ke kompetisi 4 tahunan itu dengan catatan impresif. Tim Bintang Bulan Sabit lolos dari babak kualifikasi dengan rekor 7 kemenangan, 2 kali imbang, dan sekali kalah. Turki yang tergabung di grup H berhasil mengumpulkan 23 poin dan duduk di peringkat kedua di bawah Prancis. Bahkan dalam 2 pertemuan kontra Prancis, Turki berhasil menahan imbang dan menang 2-0.

Di kualifikasi Piala Dunia 2022, Turki kembali menunjukkan tajinya. Burak Yilmaz dkk yang tergabung di Grup G sukses menundukkan Belanda 4-2 di laga pertama. Kemudian, mereka berhasil membantai Norwegia 3-0 dan menahan imbang Latvia 3-3. Mencetak 10 gol dalam 3 laga terakhir jadi bukti betapa berbahayanya timnas Turki saat ini.

Namun, melihat catatan minor Turki saat berlaga di turnamen sesungguhnya, para pendukung Turki tak bisa hanya mengandalkan modal performa apik dalam beberapa laga terakhir. Skuad yang mumpuni jadi sebuah kebutuhan utama. Dalam hal ini, Senol Gunes telah memanggil 30 nama sementara untuk Piala Eropa tahun ini.

Memadukan Pemain Pengalaman dan Pemain Muda

Dari daftar pemain sementara, timnas Turki punya rata-rata usia skuad yang cukup muda. Maklum, selama beberapa tahun terakhir, Turki memang secara masif tengah memperbaiki pengembangan pemain usia dini. Dipimpin Hamit Altintop, anggota dewan eksekutif federasi yang memimpin timnas muda, kini Turki punya skuad yang tergolong muda di EURO 2020.

Para pemain yang dipanggil Senol Gunes punya rata-rata usia 25,6 tahun. Dari 30 nama yang masuk skuad bayangan, hanya ada 4 pemain yang berusia lebih dari 30 tahun. Sehingga, mereka dipastikan akan mengandalkan perpaduan pemain senior dan pemain muda di Piala Eropa tahun ini.

Lalu, siapa saja yang masuk tim bayangan Turki untuk EURO 2020?

Di posisi penjaga gawang, Gunes memanggil 4 nama. Mereka adalah Mert Gunok (Istanbul Basaksehir), Ugurcan Cakir (Trabzonspor), Altay Bayindir (Fenerbahce), dan Gokhan Akkan (Rizespor). Menilik dari beberapa laga terakhir, Ugurcan Cakir diprediksi bakal jadi pilihan utama.

Di sektor pertahanan, Turki memanggil 8 bek tangguh yang terdiri dari Zeki Celik (Lille), Mert Muldur (Sassuolo), Merih Demiral (Juventus), Ozan Kabak (Liverpool), Caglar Soyuncu (Leicester), Kaan Ayhan (Sassuolo), Umut Meras (Le Havre), dan Ridvan Yilmaz (Besiktas).

Di sektor lini tengah, Turki memanggil 12 pemain. Mereka adalah Abdulkadir Omur (Trabzonspor), Cengiz Under (Leicester), Efecan Karaca (Alanyaspor), Halil Akbunar (Goztepe), Dorukhan Tokoz (Besiktas), Irfan Can Kahveci (Fenerbahce), Mahmut Tekdemir (Istanbul Basaksehir), Okay Yokuslu (West Brom), Orkun Kokcu (Feyenoord), Ozan Tufan (Fenerbahce), Taylan Antalyali (Galatasaray), Hakan Calhanoglu (AC Milan), dan Yusuf Yazici (Lille)

Sementara itu, lini serang diisi oleh Burak Yilmaz (Lille), Enes Unal (Getafe), Halil Dervisoglu (Galatasaray), Kenan Karaman (Fortuna Dusseldorf), dan Kerem Akturkoglu (Galatasaray).

Dari daftar skuad sementara Turki di EURO 2020, Burak Yilmaz jadi yang tertua. Striker 35 tahun itu juga ditunjuk Senol Gunes jadi kapten tim. Sementara Ridvan Yilmaz dan Orkun Kokcu jadi yang termuda. Keduanya masih berusia 20 tahun.

Selain memadukan pemain berpengalaman dan pemain muda, Senol Gunes juga menempuh satu cara lagi untuk memperkuat skuadnya. Cara itu adalah dengan memanggil dan memanfaatkan pemain keturunan alias diaspora Turki yang tersebar di berbagai daratan Eropa.

Memanggil Diaspora

Dari 30 pemain tim bayangan Turki di EURO 2020, terdapat 6 diaspora yang dipanggil Senol Gunes. Mereka lahir di negara lain dari orang tua Turki. Tiga diantaranya merupakan kelahiran Jerman. Mereka adalah Kaan Ayhan, Hakan Calhanoglu dan Kenan Karaman. Sementara tiga lainnya adalah Mert Muldur yang lahir di Austria, dan Orkun Kokcu serta Halil Dervisoglu yang lahir di Belanda.

Adanya dispora itu tak lepas dari sejarah migrasi buruh Turki ke negara-negara Eropa barat pasca Perang Dunia 2. Negara-negara yang dulu porak poranda pasca perang seperti Jerman dan Belanda membutuhkan tambahan pekerja di sektor industrinya. Maka pada periode 1955 hingga 1973 terjadilah hubungan kerja sama bilateral yang dinamai “Gastarbeiter” atau pekerja tamu yang ditandai dengan datangnya imigran Turki ke negara-negara Eropa seperti Jerman, Austria, hingga Belanda.

Namun, jauh sebelum itu, sejak kekuasaan Ottoman, orang-orang Turki telah menyebar ke banyak negara Eropa. Hingga kini, hal itu juga masih berlanjut dan alasan orang Turki berimigrasi juga makin variatif. Itulah kenapa Turki punya banyak pemain hasil diaspora. Keuntungan itulah yang tak ingin dilewatkan federasi sepak bola Turki dan terus dipantau perkembangannya hingga saat ini.

Kaan Ayhan misalnya. Ia lahir di Gelsenkirchen dan memulai kariernya dari tim akademi Schalke. Bek Sassuolo itu bahkan sempat menjadi bagian skuad Jerman U-17 yang sukses merebuh juara 3 Piala Dunia pada 2011 silam. Setelah terus diberi tawaran, Ayhan akhirnya memilih membela Turki pada 2013 silam.

Hal yang sama juga terjadi kepada Orkun Kokcu yang lahir di Austria. Debutan di timnas Turki itu merupakan hasil produk Rapid Vienna dan pernah membela tim Belanda U-19 sebelum memilih negara leluhurnya pada 2020 silam. Situasi berbeda dialami Hakan Calhanoglu, Kenan Karaman, Mert Muldur, dan Halil Dervisoglu. Keempatnya langsung bersedia membela timnas Turki sejak usia 16 tahun.

Kesuksesan Jerman di kancah internasional dengan pemain keturunan Turki dalam skuadnya juga membuat federasi sepak bola Turki tak bisa diam begitu saja. Sami Khedira dan Mesut Ozil adalah contohnya. Keduanya berhasil membantu Der Panzer menjuarai Piala Dunia. Bayangkan bila 2 pemain tersebut dulu bersedia membela tanah leluhurnya. Itulah yang kini diantisipasi federasi dengan mendata dan menawarkan tempat di timnas sedini mungkin kepada diaspora Turki yang bertalenta.

Merekrut dan memanggil diasporanya memang sudah mendarah daging di sepak bola Turki. Cara tersebut juga terbukti sukses di Piala Dunia 2002 dan Piala Eropa 2008. Di Piala Dunia Jepang-Korea, Turki memanggil 5 diaspora, dimana 4 diantaranya berasal dari Jerman. Sementara di Piala Eropa 2008, timnas Turki memanggil 4 diaspora plus 1 pemain naturalisasi. Seperti yang kita tahu, di 2 turnamen besar itu, Turki meraih hasil terbaiknya.

Terlepas dari itu, optimisme tinggi publik Turki tersemat kepada sosok sang pelatih, Senol Gunes yang telah sukses merevolusi tim nasional. Turki memang berambisi tinggi bersama Gunes. Pasalnya, Gunes yang kembali dipanggil untuk menangani timnas Turki sejak 2019 silam merupakan pelatih yang sukses membawa Turki menjadi juara ketiga Piala Dunia 2002.

Kunci performa apik Turki dibawah asuhan Gunes terletak pada barisan pertahanan yang kokoh. Gunes lebih memilih memanggil bek muda yang tengah tampil prima bersama klubnya. Bek unggulan semacam Caglar Soyuncu, Merih Demiral, Ozan Kabak, dan Zeki Celik semuanya masih berusia di bawah 25 tahun.

Gunes sendiri selalu memasang formasi 4 bek. Pelatih 68 tahun itu juga telah mencoba beberapa opsi, seperti 4-2-3-1, 4-4-2, atau 4-1-4-1. Yang pasti, striker utama jadi milik Burak Yilmaz. Musim ini, Yilmaz tampil apik bersama Lille dengan sumbangan 16 gol dan 5 asis.

Sebagai penyuplai bola, ada Hakan Calhanoglu dan Ozan Tufan. Dua gelandang serba bisa itu telah menorehkan 10 asis bagi klubnya musim ini. Akan sangat menarik melihat kiprah Turki di EURO 2020. Turki yang tergabung di Grup A bersama Italia, Wales, dan Swiss akan membuka ajang Piala Eropa dengan melawan Italia di pertandingan pertama, 11 Juni nanti.

Dengan optimisme tinggi, skuad muda yang segar dan diaspora yang mumpuni, akan sejauh apa langkah Turki di EURO 2020? Yang pasti, Turki setidaknya punya kans besar untuk lolos dari babak grup. Namun, apakah cara Turki memperkuat skuadnya akan kembali menemui prestasi?

 

Sumber Referensi: DW Kick Off!, PanditFootball, Squawka, Tirto

Menilik Kedalaman Skuad Timnas Prancis di EURO 2020

0

Berstatus sebagai juara Piala Dunia 2018, timnas Prancis menatap gelaran EURO 2020 dengan penuh optimisme. Hal itu ditunjukkan dengan kedalaman skuad yang dimiliki Les Blues di Piala Eropa tahun ini.

Seperti yang kita ketahui, pelatih Didier Deschamps telah mengumumkan 26 nama pemain yang akan ia bawa ke EURO 2020. Banyak kejutan diberikan pelatih 52 tahun itu. Yang pasti, skuad Prancis tahun ini tampil mewah dan diunggulkan.

Dalam beberapa tahun terakhir, Prancis memang sedang kebanjiran talenta. Banyak pesepak bola Prancis yang tampil impresif di klubnya masing-masing. Baik pemain muda dan pemain senior sama-sama menunjukkan tajinya.

Hal ini jelas jadi keuntungan sekaligus kegalauan bagi Didier Deschamps. Pasalnya, tak semua pemain terbaik Prancis dapat ia panggil untuk memperkuat Les Blues. Saking banyaknya stok yang dimiliki, beberapa pemain muda yang sedang naik daun harus rela tersingkir dari skuad senior ke tim Prancis U-21.

Jadi, seperti apa wajah timnas Prancis saat ini? Berikut starting eleven ulas kedalaman skuad yang dimiliki Didier Deschamps di EURO 2020.

 

Kiper

Untuk penjaga gawang, nama Hugo Lloris masih tak tergantikan. Kiper 34 tahun milik Tottenham Hotspur itu sepertinya masih akan ditunjuk sebagai kapten tim. Sebagai kiper kedua, Deschamps masih setia memanggil kiper 36 tahun milik Marseille, Steve Mandanda.

Yang mengejutkan adalah pemilihan kiper ketiga. Deschamps meninggalkan Alphonse Areola yang sebelumnya masuk dalam skuad Piala Dunia 2018 lalu. Sebagai gantinya, ia memanggil kiper andalan Lille, Mike Maignan.

Bila menilik performanya, terpilihnya Mike Maignan sangatlah wajar. Kiper 25 tahun itu tampil kokoh di Ligue 1 musim ini. Dari 37 laga, ia baru kebobolan 22 gol, mencatat 21 clean sheets, dan 83 saves dengan persentase penyelamatan 79,6%. Bukan tak mungkin jika Deschamps tengah menyiapkan Maignan sebagai suksesor Lloris dan Mandanda untuk timnas Prancis di masa yang akan datang.

 

Bek

Di sektor pertahanan, sebanyak 9 bek dibawa Didier Deschamps ke EURO 2020. Empat diantaranya merupakan alumni Piala Dunia 2018. Mereka adalah Presnel Kimpembe (PSG), Benjamin Pavard (Bayern Munchen), Raphael Varane (Real Madrid), dan Lucas Hernandez (Bayern Munchen). Keempat pemain ini juga diprediksi bakal jadi pilihan utama Deschamps.

Sementara itu, lima tempat tersisa diisi oleh Leo Dubois (Lyon), Jules Kounde (Sevilla), Clement Lenglet (Barcelona), Lucas Digne (Everton), dan Kurt Zouma (Chelsea). Kounde jadi satu-satunya debutan di timnas Prancis saat ini. Bek 22 tahun itu memang tampil impresif dalam 2 musim terakhir dan sukses mempersembahkan trofi Liga Europa bagi Sevilla musim lalu.

Masuknya Kounde sekaligus menggusur Dayot Upamecano. Sebelumnya, bek andalan RB Leipzig yang akan pindah ke Bayern Munchen itu lebih difavoritkan masuk dalam skuad Prancis. Sayangnya, penampilan apik Kounde membuat Upamecano harus rela tersingkir ke tim Prancis U-21. Fleksibilitas yang dimiliki Kounde jadi alasan Deschamps langsung memberinya kesempatan debut di ajang sekelas Piala Eropa.

“Dia bisa bermain di posisi aksial dan saya juga melihatnya sangat bagus sebagai bek kanan”, ungkap Didier Deschamps saat mengumumkan skuad Prancis dikutip dari francetvinfo.fr.

Selain Kounde, dipanggilnya Kurt Zouma juga menjadi perhatian tersendiri. Sebagai bek tengah, Zouma tampil cukup produktif musim ini dengan koleksi 5 golnya. Dipanggil ke EURO 2020 akan jadi pengalaman pertama bek 26 tahun itu di turnamen besar.

Berlimpahnya stok di lini belakang memang membuat beberapa nama harus rela terpinggirkan. Salah satu yang cukup mengejutkan adalah tak dipanggilnya Theo Hernandez. Padahal, adik dari Lucas Hernandez itu tampil menawan bersama AC Milan musim ini. Alih-alih memanggil Theo yang telah mencetak 7 gol dan 5 asis di Serie A musim ini, Deschamps lebih memilih Lucas Digne sebagai tandem Lucas Hernandez di posisi bek kiri.

Salah satu keunggulan yang dimiliki Digne adalah kemampuannya dalam mengirim umpan silang. Dalam 6 pertandingan terakhir, bek kiri Everton itu telah memberikan 32 umpan silang dari situasi open play. Digne yang sudah mengoleksi 36 caps juga punya atribut defensive yang lebih baik dibanding Theo yang kerap meninggalkan posisinya.

 

Gelandang

Sementara itu, jatah gelandang utama Les Blues di EURO 2020 masih akan menjadi milik duet Paul Pogba (Manchester United) dan N’golo Kante (Chelsea). Kerja sama keduanya sebagai double pivot timnas Prancis sudah tak diragukan lagi. Keduanya jadi pilar penting dalam sukses Prancis di Piala Dunia 2018.

Selain Pogba dan Kante, Deschamps juga memanggil 2 alumni Piala Dunia 2018 lainnya. Mereka adalah gelandang Bayern Munchen, Corentin Tolisso dan gelandang serang Atletico Madrid, Thomas Lemar. Untuk ajang sekelas EURO 2020, Didier Deschamps akhirnya juga memanggil Adrien Rabiot dalam skuadnya. Sebelumnya, mantan gelandang PSG itu tersingkir dari skuad Piala Dunia 2018.

Satu tempat sisa di pos lini tengah jadi milik Moussa Sissoko. Terpilihnya gelandang 31 tahun itu sekaligus membuat rekan satu timnya di Tottenham Hotspur, Tanguay Ndombele tersingkir. Terpilihnya Sissoko memang jadi kejutan. Pasalnya, tak hanya Ndombele yang harus merelakan tempatnya.

Gelandang 18 tahun yang tengah naik daun, Eduardo Camavinga juga harus rela tersingkir dari skuad senior ke tim Prancis U-21. Padahal, sebelumnya gelandang milik Rennes itu telah tampil apik di 3 laga terakhir bersama Les Blues dan sukses mencetak 1 gol.

Namun, kembali lagi. Musim ini, Prancis memang kebanjiran pemain bertalenta sehingga tak mungkin semua nama dipanggil. Lagipula, Sissoko sudah jadi andalan Didier Deschamps sejak Piala Dunia 2014. Salah satu keunggulan yang dimiliki Sissoko adalah pengalamannya di turnamen besar. Hingga kini, ia sudah mengoleksi 67 caps bersama timnas Prancis.

 

Penyerang

Beralih ke sektor penyerang. Juru gedor timnas Prancis di EURO 2020 jadi salah satu yang paling mewah dan berisi. Tak tanggung-tanggung, pelatih timnas Prancis memanggil sebanyak 8 pemain di posisi ini. Bahkan, 4 diantaranya berposisi sebagai penyerang tengah. Didier Deschamps punya alasan dibalik keputusan tersebut.

“Kami punya banyak pilihan. Dengan kualitas, kecerdasan dan bakat yang mengesankan. Saya suka pemain bertipe menyerang dan itulah mengapa saya memilih delapan penyerang.,” kata Didier Deschamps dikutip dari goal.com (21/5).

Yang paling melegakan tentu dipanggilnya Karim Benzema ke timnas Prancis. Diketahui, bomber Real Madrid itu sudah absen membela Les Blues sejak 2015 silam pasca diduga terlibat dalam kasus pemerasan video syur yang melibatkan rekannya, Mathieu Valbuena.

Lagipula, akan sangat aneh bila Deschamps tak memanggil kembali Benzema. Alasannya, striker 33 tahun itu mampu tampil stabil dan mencetak minimal 20 gol semusim dalam 3 musim terakhirnya di La Liga. Di musim ini saja, Benzema sudah mencetak 30 gol dan 9 asis di semua ajang bersama El Real.

Selain itu, Benzema juga baru saja menerima penghargaan Onze d’Or. Penghargaan tersebut diberikan oleh majalah kenamaan Prancis, Onze Mondial kepada pemain terbaik di Eropa. Sebelum mentas di EURO saja, Benzema sudah memberi dampak positif kepada timnas Prancis. Kabarnya, penjualan jersey Prancis meningkat 2400% sejak pengumunan kembalinya Benzema.

Namun, terlepas dari itu, hadirnya Benzema memang membuat barisan penyerang Prancis makin mewah. Didier Deschamps masih tetap mempertahankan Olivier Giroud (Chelsea), Kylian Mbappe (PSG), Antoine Griezmann (Barcelona), Kingsley Coman (Bayern Munchen), dan Ousmane Dembele (Barcelona) yang telah sukses mengantar Prancis jadi juara Piala Dunia 4 tahun lalu. Sementara itu, 2 tempat tersisa di pos penyerang jadi milik Marcus Thuram dan Wissam Ben Yedder.

Tampil di EURO 2020 bakal jadi penampilan pertama keduanya di turnamen besar dengan seragam Les Blues. Marcus Thuram sendiri merupakan penyerang andalan serba bisa milik Borussia Monchengladbach yang juga merupakan anak dari mantan rekan setim pelatih timnas Prancis, Lilian Thuram.

Sementara bagi Wissam Ben Yedder, tampil di ajang sekelas EURO 2020 bersama timnas Prancis bukan sekadar debutnya di turnamen besar. Lebih dari itu, dipanggil Les Blues ke turnamen sekelas Piala Eropa jadi pembuktian sekaligus penghargaan kepada striker yang tergolong terlambat mekar itu.

Ben Yedder baru tampil begitu prima bersama Sevilla usai gelaran Piala Dunia 2018 saat usianya sudah menginjak 28 tahun. Kini, diusianya yang ke-30, striker yang kini membela AS Monaco itu telah mengemas 20 gol di Liga Prancis musim ini. Torehan tersebut hanya kalah dari Kylian Mbappe yang mencetak 26 gol. Selain itu, Ben Yedder juga menyabet predikat top skor Ligue 1 Prancis musim lalu bersama Mbappe dengan torehan 18 gol.

Hadirnya Ben Yedder jelas menambah pusing Didier Deschamps yang sudah memiliki Giroud, Mbappe, dan Benzema di posisi penyerang tengah. Namun, hal itu juga bakal jadi keuntungan tersendiri. Deschamps yang identik dengan formasi 4-3-3 atau 4-2-3-1 kini bisa lebih berkreasi dengan trisula andalannya. Ia juga bisa memainkan formasi 4-4-2 dan menduetkan penyerang tengah pilihannya sebagai ujung tombak.

Dengan skuad yang begitu berisi dan status unggulan, bagaimanakah peluang Prancis di EURO tahun ini?

Sayangnya, ujian berat harus mereka hadapi sejak babak grup. Les Blues tergabung dalam Grup F yang diisi Hungaria, Portugal, dan Jerman. Disinilah ujian sebenarnya bagi skuad Prancis yang bernilai 1,04 miliar euro.

Skuad timnas Prancis tahun ini sendiri sepertinya tengah mencoba menyamai pencapaian impresif pendahulunya 2 dekade lalu. Kala itu, Prancis yang dikapteni Didier Deschamps sukses menjadi kampiun Piala Eropa 2000 usai lebih dulu memenangi Piala Dunia 2 tahun sebelumnya.

Prancis punya kesempatan untuk menyamai rekor itu di tahun ini. Apalagi, skuad mewah Les Blues tahun ini dilatih oleh Didier Deschamps yang dulu sukses membuat rekor itu sebagai pemain. Jadi, mampukah Prancis mengulang kesuksesannya?

***
Sumber Referensi: BBC, FourFourTwo, Bolasport, Francetvinfo, Givemesport

6 Pemain Bintang Yang Sudah Pasti Pindah Klub Musim Depan

Musim 2020/21 akan segera berakhir. Sudah ada beberapa tim yang memastikan gelar juara, dan ada dari mereka yang masih harus menunggu sampai berakhirnya seluruh pertandingan. Selain kepastian gelar juara, berakhirnya sebuah musim sepakbola juga memunculkan kabar tentang kedatangan maupun kepergian pemain. Bahkan sampai saat ini sudah ada sejumlah pemain bintang yang menyatakan bakal berganti kostum pada musim depan.

Seperti pada kesempatan kali ini, starting eleven akan merangkum deretan pemain bintang yang sudah putuskan hengkang dari klub yang dibelanya saat ini, pada akhir musim nanti.

Gianluigi Buffon

Gianluigi Buffon sudah lama sekali membela Juventus. Meski sempat membela klub asal Prancis, Paris Saint Germain, kiper berusia 43 tahun ini putuskan kembali ke Turin demi tuntaskan ambisi untuk meraih trofi Eropa paling bergengsi.

Sayangnya, kesempatan itu sirna setelah Juve terus gagal singkirkan para lawan di fase gugur.

Kini, setelah sekian lama, Buffon akhirnya menyerah dan mengumumkan bahwa dirinya akan meninggalkan Juventus dan tidak akan memperpanjang kontraknya bersama Si Nyonya Tua yang memang akan habis pada akhir musim ini.

Buffon sendiri telah membuat sebanyak 683 penampilan sekaligus memenangkan sebanyak 21 trofi bersama Juventus. Kiper asal Italia ini lantas menilai dirinya sudah memberikan segalanya untuk klub berwarna kebesaran hitam-putih itu.

Belum ada kepastian tentang masa depan Buffon selanjutnya, apakah dia akan pensiun atau kembali merumput dengan tim lain.

Sumber: CNN

Sergio Aguero

Penyerang asal Argentina, Sergio Aguero, sudah mantap untuk tinggalkan Manchester City pada akhir musim nanti. Menurut kabar yang bersumber langsung dari The Citizens, Aguero memilih untuk tidak memperpanjang kontraknya yang akan habis pada akhir musim nanti.

Manchester City pun tampak tidak menghalangi keinginan Aguero yang ingin pergi. Pasalnya, pada musim ini sendiri, kontribusi sang penyerang terbilang minim. Di tengah minimnya kontribusi Aguero, City malah berhasil mencapai banyak hal positif, seperti memastikan beberapa gelar juara dan melangkah hingga ke partai puncak Liga Champions Eropa.

Minimnya kontribusi sang penyerang juga ditengarai akibat cedera parah yang sempat didapat. Kini, setelah kabar tentang kepergiannya telah resmi diumumkan, sudah ada banyak klub yang pasang ancang-ancang untuk mendapatkan jasanya. Tim pertama yang sangat menginginkan Aguero adalah FC Barcelona. Los Cules membidik Aguero guna menutup lubang di lini serang yang telah ditinggalkan Luis Suarez.

Selain Barcelona, ada nama Juventus yang juga tampak serius untuk dapatkan tanda tangan eks penyerang Atletico Madrid tersebut.

Sumber: Okezone

Jerome Boateng

Bintang milik FC Bayern, Jerome Boateng, dipastikan bakal pergi meninggalkan The Bavaria pada akhir musim nanti. Kontrak Boateng bersama Bayern akan habis pada Juni 2021 nanti, dan dia dikabarkan tidak ingin memperpanjang kontraknya di raksasa Jerman.

Hal itu juga disampaikan langsung oleh Direktur olahraga Bayern Munich, Hasan Salihamidzic. Salihamidzic menyebut kalau kepergian Boateng sebagai “keputusan bersama”, sebagaimana bek tengah itu telah memasuki bulan terakhirnya dengan klub.

Boateng telah banyak berjasa bagi Bayern dan sudah menyumbangkan banyak sekali gelar prestis untuk Bayern, termasuk dua kali mendapatkan treble. Sepanjang karirnya bersama Bayern, sudah ada lebih dari 350 pertandingan yang dimainkan Boateng.

Sejauh ini, belum ada kepastian tentang klub mana yang akan dibela Boateng di masa mendatang. Namun ada kabar yang mengatakan bila Tottenham Hotspur siap menampung pemain 32 tahun tersebut.

Sumber: goal

Eric Garcia

Pelatih Manchester City, Pep Guardiola, telah mengkonfirmasi bahwa anak asuhnya yang bernama Eric Garcia akan meninggalkan klub pada akhir musim nanti. Garcia sejatinya sudah mulai menjadi andalan Pep Guardiola di lini belakang City pada musim 2019/20, dimana dia tampil dalam 20 pertandingan.

Meski kesempatan bermainnya mulai menurun sejak kedatangan Ruben Dias, nama Eric Garcia tetap layak diperhitungkan. Tak mau lama-lama menjadi pilihan kedua, keputusan Eric Garcia yang ingin pindah pun disetujui oleh klub.

Tim yang dipercaya bakal dapatkan jasa pemain 20 tahun tersebut adalah FC Barcelona. FC Barcelona sudah sejak lama ingin memulangkan mantan pemain asuhannya itu. Seperti diketahui, Eric Garcia yang merupakan jebolan akademi La Masia dianggap bisa meneruskan daftar hebat bek yang pernah dimiliki Barcelona, yang kini mulai runtuh seiring berjalannya waktu.

Sumber: Bolanet

Dayot Upamecano

Sudah bisa dipastikan bahwa Dayot Upamecano yang saat ini masih membela RB Leipzig, bakal berkostum FC Bayern pada musim depan. Sebelumnya, Upamecano sempat menjadi buruan serius dua raksasa Eropa, yakni Manchester United dan Real Madrid. Namun pada akhirnya, sang central defender lebih memilih untuk bertahan di kompetisi Bundesliga.

Kabar kepindahan Dayot Upamecano menuju FC Bayern dikonfirmasi langsung oleh klub yang bermarkas di Allianz Arena. Bayern mengumumkan bahwa mereka telah menebus jasa Upamecano seharga 42 juta pounds atau setara 851 miliar rupiah.

“Dayot Upamecano akan bermain bagi Bayern Munich mulai 1 Juli, 2021. Sang pemain bertahan dan raksasa Jerman pemegang rekor telah menyepakati kerjasama lima tahun sampai 30 Juni, 2026,” Bayern mengonfirmasi.

Sejak bergabung dengan RB Leipzig, nama Dayot Upamecano telah banyak mencuri perhatian dalam total 139 penampilannya di semua kompetisi.

Sumber: goal

David Alaba

Chairman FC Bayern, Karl-Heinz Rummenigge, mengonfirmasi bahwa David Alaba akan pergi meninggalkan klub pada akhir musim nanti. Rummenigge mengatakan bahwa telah terjadi kesepakatan bersama tentang kabar ini.

Spekulasi tentang kepergian Alaba sendiri sudah terdengar sejak lama. Sang pemain terus diisukan hengkang dari Allianz. Sejak kabar kepergian Alaba dari Bayern sudah pasti, langsung ada banyak sekali klub yang langsung pasang badan, termasuk Manchester City, Manchester United, Liverpool, Juventus, Inter Milan, hingga Real Madrid.

Dari beberapa klub yang disebutkan, nama Real Madrid menjadi yang paling santer dikabarkan bakal menjadi pelabuhan baru Alaba. Bahkan, menurut jurnalis ternama Fabrizio Romano, Alaba telah mencapai kesepakatan personal dengan Real Madrid.

Sejauh ini belum diketahui pasti berapa lama Madrid akan mengontrak Alaba, namun dilaporkan Alaba bakal mendapatkan gaji 12 juta euro atau sekitar 210 miliar rupiah per musim.

 

Sumber: Okezone

Barcelona Gak Butuh Neymar, Ini Alasannya

Beberapa waktu lalu muncul kabar bila FC Barcelona telah mengirimkan perwakilannya ke Paris untuk memantau Neymar Jr. Menurut Marca, perwakilan el Barca tersebut sudah menetap selama berminggu-minggu di Paris untuk bisa membawa pulang bintang asal Brasil ke Camp Nou.

Bahkan, sudah ada pembicaraan yang melibatkan sang pemain dalam misi ini. Itu mengapa sempat beredar kabar bahwa Neymar mengumumkan kesediaannya untuk kembali memakai seragam kebesaran La Blaugrana.

Namun begitu, segala usaha yang dilakukan FC Barcelona tidak membuahkan hasil apapun, setelah sang pemain resmi mengumumkan kontrak barunya dengan Paris Saint Germain.

Ya, Neymar yang kini berusia 29 tahun telah menyatakan kebahagiaan nya bersama dengan Les Perisiens. Dia yang datang ke Paris pada 2017 lalu dengan nilai transfer lebih dari 200 juta euro mengaku senang dan bahagia bisa terus membela PSG. Dalam 112 pertandingan yang dimainkan bersama PSG sejauh ini, Neymar sudah berhasil mencatat sebanyak 85 gol dan 51 assist.

Sekali lagi, meski kabar yang memberitakan dirinya bakal kembali ke Barca terus mengalir, Neymar resmi menandatangani kontrak baru bersama Paris Saint Germain sampai dengan 2025 mendatang.

“Aku telah banyak bekembang disini. Baik sebagai manusia, maupun pemain,”

“Aku telah banyak belajar dengan berbagai hal yang terjadi. Aku harap bisa mengisi lebih banyak trofi di lemari piala PSG,” ungkap Neymar (via psg)

Meski banyak penggemar yang kecewa dengan pemberitaan tentang pembaruan kontrak Neymar, mereka seharusnya bisa lebih berbahagia dengan apa yang terjadi saat ini. Barcelona memang secara tidak langsung telah ”ditipu” oleh Neymar terkait dengan perkara ini. Akan tetapi, lagi-lagi, ada lebih banyak hikmah yang bisa dipetik dari kegagalan Neymar kembali ke Camp Nou.

Ada sejumlah alasan yang mendasari mengapa Barcelona tidak membutuhkan sosok Neymar.

Ada Sektor Lain Yang Lebih Butuh Perbaikan

Pertama, masih ada sektor lain yang lebih penting untuk ditingkatkan. Dengan Neymar yang berposisi asli sebagai seorang winger, dan terkadang ditempatkan sebagai gelandang serang atau second striker, dia menjadi pemain yang tidak dibutuhkan Barcelona saat ini. Di posisi tersebut, Barcelona dianggap masih cukup punya kekuatan untuk diadu.

Mereka saat ini seharusnya lebih fokus pada lini pertahanan yang kuat, sekaligus ujung tombak mematikan. Sejauh ini, Barcelona menjadi tim dengan kebobolan terbanyak bila dibandingkan dengan Real Madrid, Atletico Madrid, dan Sevilla. Mereka telah kebobolan sebanyak 31 gol dalam 33 pertandingan. Itu berarti bahwa nyaris dalam setiap laga, el Barca selalu kebobolan.

Meski mereka sukses kalahkan para lawan, tetap saja, posisi pertahanan tetap butuh perhatian. Mereka butuh sosok sentral yang saat ini mulai kehilangan daya. Mereka butuh sempurna untuk membentuk lini pertahanan tak tergoyahkan. Barcelona mungkin bisa mencontoh pergerakan Liverpool yang mengalami sukses besar setelah datangkan Virgil van Dijk. Bersama bek asal Belanda tersebut, Liverpool menjadi salah satu tim dengan kekuatan terbaik di Eropa. Selain itu, nama Ruben Dias bersama Manchester City juga bisa dijadikan sebagai acuan. Bersamanya, City sukses melaju hingga fase puncak Liga Champions Eropa.

Saat ini Barcelona memang telah mengamankan jasa Oscar Mingueza, yang baru saja menandatangani kontrak sampai dengan 2023. Namun dia masih terlalu mentah untuk jadi sosok sentral di lini pertahanan. Gerard Pique sudah memasuki masa senja, sedangkan Clement Lenglet juga terus tunjukkan inkonsistensi permainan.

Maka dari itu, mereka memang sebaiknya berinvestasi pada pemain yang berposisi sebagai bek, yang sekaligus punya reputasi terbaik sebagai penjaga lini pertahanan.

Berikutnya adalah lini serang. Dalam hal ini, yang menjadi sorotan adalah Barcelona masih belum memiliki sosok penyerang bernomor sembilan sejati. Area ini sangat membutuhkan penguatan bila Barca masih terus ingin menapaki jalur juara. Setidaknya, para penggemar tidak harus dihadapkan dengan situasi dimana Barca meraih kemenangan di menit-menit akhir pertandingan.

Mereka ingin kenyamanan dalam setiap pertandingan, dan mendatangkan striker berkelas bisa menjadi solusinya. Ketimbang memulangkan Neymar, nama Erling Haaland yang memang sudah jadi incaran lebih baik terus dipantau. Striker Borussia Dortmund itu sudah teruji ketajaman nya, baik di level domestik maupun Eropa.

Kualitas Para Pemain Yang Mulai Membaik

Setelah ada sektor lain yang lebih membutuhkan perbaikan, para pemain yang memiliki posisi yang sama dengan Neymar juga sudah mulai tunjukkan kelasnya.

Meski tidak bisa disangkal bila kedatangan Neymar akan membuat lini depan Barca kian menakutkan, nama Ousmane Dembele, Antoine Griezmann, dan tentunya Lionel Messi, sudah mulai kompak menjebol gawang lawan.

Antoine Griezmann sejatinya sempat dicap gagal di Barcelona. Dia menunjukkan performa buruk semenjak bergabung dengan klub asal Catalan tersebut. Akan tetapi, musim ini, semua tampak berbeda. Penampilannya dibawah asuhan Ronald Koeman terus temui titik terang. Selain kembali berhasil temukan performa terbaiknya di skuad utama, peraih medali emas Piala Dunia 2018 ini juga tak jarang membuat gol penting dalam sejumlah pertandingan.

Yang tak kalah penting, peran Griezmann juga semakin krusial ketika dirinya tak keberatan untuk membantu lini pertahanan, ketika tim memang membutuhkan hal tersebut.

Selanjutnya ada nama Ousmane Dembele. Dari musim ke musim, nama Dembele terus diisukan bakal hengkang dari Camp Nou. Namun pada musim ini, sama seperti Griezmann, dia telah menjadi pemain yang terus berkembang dibawah asuhan Ronald Koeman.

Perkembangan dua pemain tersebut sangat membantu peran Lionel Messi yang selama ini disebut terus membawa beban sendiri.

Kemudian, masih ada nama Ansu Fati, pemain berusia 18 tahun yang tampil spektakuler, tepat sebelum dirinya terkena cedera parah. Ansu Fati telah banyak tunjukkan performa gemilang. Jadi, dengan meningkatnya performa pemain yang ada, sekaligus keberadaan Ansu Fati, sangat tidak masuk akal untuk membawa Neymar kembali pulang.

Resiko Tinggi, Dampak Belum Pasti

Faktor berikutnya yang mendasari mengapa Barcelona tidak membutuhkan sosok Neymar adalah karena resiko yang tinggi.

Usia Neymar sudah nyaris menyentuh angka 30. Belum lagi, dana yang dikeluarkan nantinya juga tidak akan sedikit. Bukan tak mungkin bila Barca terus membujuk Neymar kembali, klub Catalan harus mengeluarkan dana yang sama persis ketika PSG memboyongnya pada 2017 silam.

Barcelona dianggap masih mengalami kesulitan finansial. Maka dari itu mereka harus lebih berhati-hati dalam membeli pemain dengan harga mahal. Akhir-akhir ini saja, Neymar kerap terkena cedera. Maka mendatangkan Neymar memiliki resiko yang sangat tinggi. Terlebih, mendatangkan Neymar belum tentu menjadi solusi terbaik bagi Barcelona.

Memang, akan tetap ada pihak yang sangat setuju bila Neymar kembali ke Barcelona. Namun untuk saat ini, sang pemain telah menyatakan kesetiaannya kepada PSG. Penggemar Barcelona harus segera melupakan bintang asal Brasil tersebut dan tetap fokus pada performa tim yang kian hari kian membaik.

 

Sumber referensi: BBC, Marca, BarcaUniversal

Inilah Moacir Barbosa Kiper Yang Nasibnya Lebih Tragis Daripada Karius

0

Masih ingatkah kalian dengan Loris Karius?

Bicara tentang Loris Karius, bisa dipastikan yang terlintas di pikiran orang-orang adalah soal blundernya di Final Liga Champions 2018. Kala itu, Karius yang membela Liverpool melakukan blunder dua kali yang berakibat gol bagi Real Madrid. Kesalahan fatal yang dilakukan Karius membuat dirinya harus menanggung rasa malu. Ia mendapat cemoohan dan hinaan seumur hidupnya. 

Bahkan, hukuman sosial yang menimpa Karius masih berlangsung hingga saat ini. Senasib dengan Karius, Moacir Barbosa, kiper Brasil yang tampil di Piala Dunia 1950 juga mengalami hal serupa. Parahnya, Barbosa menanggung hukuman itu hingga ia menutup mata.

Barbosa, tidak banyak warga dunia yang mengenalnya, bahkan orang-orang Indonesia mungkin sangat asing mendengar namanya. Namun, Barbosa sangat populer di negaranya sendiri, Brasil. Ironisnya, kepopulerannya itu karena sang kiper dianggap melakukan kesalahan fatal di ajang sekelas piala dunia.

Mundur jauh ke belakang. Piala Dunia 1950 bertempat di Brasil. Itu merupakan kali pertama negara pengoleksi lima trofi piala dunia itu menggelar ajang sepakbola terbesar di jagat raya. Beda dengan turnamen modern yang menggunakan sistem knock-out setelah fase grup berakhir, saat itu format round-robin tournament digunakan di fase akhir. Empat tim yang lolos dari penyisihan dan tampil di putaran final adalah Brasil, Spanyol, Swedia, dan Uruguay.

Singkat cerita, Brasil tampil superior di ajang tersebut. Menghajar Swedia 7-1 di laga pertama dan menaklukan Spanyol 6-1 di pertarungan kedua. Dua kemenangan itu menempatkan Brasil di peringkat pertama klasemen sementara dengan koleksi 4 poin, saat itu sepakbola masih menggunakan sistem 2 poin untuk setiap kemenangan dan 1 poin untuk hasil imbang. 

Pada pertandingan ketiga, Brasil akan menghadapi Uruguay. Laga ini bak pertandingan final. Brasil hanya butuh hasil imbang untuk menasbihkan diri sebagai juara dunia, sementara Uruguay, yang berada di urutan kedua, wajib mengalahkan tim samba jika ingin menggondol trofi piala dunia keduanya.

Pertandingan antara Brasil melawan Uruguay berlangsung di stadion Maracana. Publik Brasil sangat optimis tim kesayangan bakal mengalahkan Uruguay dan menjadi juara dunia. Media-media lokal juga menaruh harapan yang sama. Bahkan, beberapa hari sebelum hari pertandingan, mereka berlomba-lomba menulis berita dengan judul yang menyatakan Brasil pasti jadi juara.

Walikota Rio de Janeiro saat itu, Ângelo Mendes de Morais, juga berbicara di televisi nasional dengan sangat congkak memprediksi jalannya pertandingan melawan kesebelasan berjuluk La Celeste. Dia menyatakan tidak pernah ada tim di dunia ini yang bisa mengalahkan Selecao.

Wajar saja jika semua rakyat, para pejabat dan media-media di Brasil sangat yakin timnya akan menang. Mengingat kegemilangan tim kuning biru di laga-laga sebelumnya plus status mereka sebagai tuan rumah.

Pada hari pertandingan, tepat pada 16 Juli 1950, sebanyak 200.000 orang berdesakan demi melihat 22 pemain bertarung di rumput hijau Maracana. Jutaan sisanya asyik menyimak pertandingan lewat radio. 

Dalam laga yang digelar pada sore hari itu, Brasil lebih dulu unggul lewat Friaca di menit 55. Namun keunggulan itu hanya bertahan 9 menit, pasalnya Juan Schiaffino menyamakan kedudukan menjadi satu sama. Dengan skor 1-1, para pendukung Brasil di Maracana, yang jumlahnya 199.854 orang, masih tetap optimis. Mereka terus bernyanyi, menari, melompat-lompat, dan bergembira karena sangat percaya Piala Dunia 1950 akan menjadi milik mereka.

Sayangnya, semesta berkata lain. Brasil yang terlalu percaya diri terpaksa mengubur mimpi mereka.

Hal itu karena tendangan mendatar pemain sayap Uruguay Alcides Ghiggia, berhasil menjebol gawang  Moacir Barbosa. Skor 2-1 untuk Uruguay bertahan hingga laga bubar. Uruguay pun juara dan Brasil harus menundukkan kepala. Pendukung tim samba di seantero negeri tak percaya jika tim kesayangannya gagal menjadi juara. Mereka semua sakit hati.

Salah seorang penulis terkenal asal Brasil, Nelson Rodrigues mengatakan bahwa kekalahan di Maracana seperti ledakan bom di Hiroshima Jepang.

“Di mana-mana ada bencana nasional yang tidak bisa diperbaiki. Ini seperti Hiroshima. Ini bencana kami. Ini Hiroshima kami. ini adalah kekalahan dari Uruguay di Piala Dunia 1950,”

Kekalahan dari Uruguay berdampak langsung pada sang kiper, Moacir Barbosa. Dia dikambinghitamkan atas kekalahan tim samba. Barbosa dianggap tak bisa menahan tendangan dari Ghiggia yang berujung gol kemenangan tim tamu. Untuk gol kedua itu, Barbosa sebenarnya bisa berhasil mengantisipasinya. Tapi ia gagal. Hal itu dianggap sebagai blunder fatal. Warga Brasil tak bisa menerimanya. Mereka ramai-ramai menghujat Barbosa.

Hukuman sosial itu sangat kejam dan tidak manusiawi. Barbosa merasakan masa-masa tak mengenakan dalam hidupnya. Karir sepakbolanya nyaris tak pernah kembali menorehkan tinta emas. Ia hidup luntang-lantung sebagai kaum papa. 

Diceritakan oleh Barbosa, 20 tahun setelah piala dunia 1950, ia pernah mendapatkan pengalaman pahit saat berkunjung ke sebuah pasar.

Dia terkejut ketika menyaksikan seorang ibu yang menunjuk padanya, sambil berkata pada anaknya, ‘Lihat dia, anakku. Dia adalah orang yang membuat seluruh Brasil menangis,’ 

Selain itu,  Barbosa bak hantu bagi para kiper di Brasil. Bahkan di negara tersebut, ada sebuah anekdot yang berbunyi,

“Berlatih yang keras hingga engkau kelak jadi seperti Gilmar Dos Santos, jika tidak maka nasibmu akan seperti Moacir Barbosa,”.

Itu adalah nasihat yang kerap diberikan kepada kiper-kiper muda. Sekedar informasi, Gilmar Dos Santos merupakan kiper Brasil di piala dunia 1958 dan 1962.

Barbosa tak pernah mendapat ampunan dari publik meskipun Brasil telah berhasil menjuarai Piala Dunia. Pada 1994. Barbosa bahkan mendapat perlakuan yang membuat hatinya sakit. Ia dilarang bertemu para pemain timnas oleh Asisten pelatih, Mario Zagallo, yang khawatir Barbosa akan membawa kesialan.

Setahun sebelumnya, Presiden Asosiasi Sepakbola Brasil (CBF), Ricardo Teixeira, melarang Barbosa menjadi komentator siaran langsung Selecao karena takut dikutuk dan kalah.

Tidak hanya dalam kehidupan nyata. Hukuman sosial kepada Barbosa juga muncul di dunia fiksi. Sebuah novel karya Ian McDonald berjudul “Brasyl”, diluncurkan untuk mengolok-olok Barbosa.

Moacir Barbosa yang berkulit hitam dianggap sebagai penyebab kegagalan Brasil. Meskipun peristiwa kegagalan itu terjadi sudah lewat berpuluh-puluh tahun lalu, tapi cerita tentang Barbosa seolah tak berhenti di kalangan pecinta sepakbola Brasil. 

Hingga kemudian muncul takhayul aneh yang bersifat rasial, dimana gawang Brasil harus terus diisi oleh para pemain berkulit putih.

Namun, entah kebetulan atau bukan, semua kiper utama timnas Brasil yang berhasil meraih trofi Piala Dunia tak ada yang berkulit hitam: Gilmar (Piala Dunia 1958 dan 1962), Felix (Piala Dunia 1970), Claudio Taffarel (Piala Dunia 1994), dan Marcos (Piala Dunia 2002), 

Butuh waktu hampir setengah abad untuk menghancurkan kepercayaan tersebut. Nelson Dida yang memulainya saat timnas Brasil melawan Ekuador pada tahun 1995. Salah satu tabloid terbesar di Brasil, Globo Esporte, bahkan sampai membuat tajuk utama bertuliskan,

“Dida, O Homem Que o Quebrou Tabu“, yang apabila diterjemahkan ke bahasa Indonesia berarti “Dida, orang yang melanggar tabu”. Dida bahkan sempat meminta kepada publik Brasil untuk mengampuni kesalahan Barbosa, namun permintaan itu tak dikabulkan.

Bahkan sampai akhir hayatnya, Barbosa tak pernah mendapatkan ampunan. Ia masih saja dibenci. Bahkan tidak ada satupun pihak dari asosiasi sepak bola Brasil yang datang ke pemakamannya.

Barbosa menghembuskan nafas terakhirnya di usia 79 tahun pada 7 April 2000 akibat serangan jantung.

Beberapa bulan sebelum malaikat maut datang menjemputnya, Barbosa mengaku sedih karena orang tak pernah lupa dengan kejadian memalukan itu. Kiper yang tak pernah mengenakan sarung tangan itu mengaku, tak mengerti kenapa dia yang paling disalahkan. Padahal, gol Ghiggia ke gawangnya bukan blunder murni kiper tapi memang berasal dari skema permainan dan kecerdasan Ghiggia dalam melakukan gerak tipu. Dan lagi, bukan hanya dia yang tampil melawan 11 pemain Uruguay.

“30 tahun adalah hukuman penjara paling lama di Brasil. Tapi saya seperti dipenjara selama 50 tahun,” begitulah ucapan paling terkenal yang pernah dilontarkan Barbosa semasa hidupnya. 

Karier internasional Barbosa (di timnas Brasil) berakhir di final melawan Uruguay itu, namun dia baru benar-benar pensiun (di level klub) pada 1963 di usia 42 tahun.

 

Sumber referensi : Libero, Indosport, Football Tribe, Sportdetik, Football Tribe

Sudah Dibuang! Kenapa Jerman Memanggil Kembali Thomas Muller dan Mats Hummels?

0

Timnas Jerman telah resmi mengumumkan skuadnya untuk EURO 2020. Rabu, 19 Mei lalu, pelatih timnas Jerman, Joachim Low memimpin langsung pengumuman para pemain yang akan ia bawa ke ajang Piala Eropa tahun ini.

Seperti yang kita ketahui, ajang EURO 2020 sedianya diselenggarakan pada 12 Juni hingga 12 Juli tahun lalu. Namun, ajang 4 tahunan tersebut terpaksa ditunda setahun akibat pandemi Covid-19 dan dijadwal ulang pada 11 Juni hingga 11 Juli 2021.

Dengan alasan masih pandemi, UEFA juga memperbolehkan setiap kontestan membawa sebanyak 26 pemain ke EURO tahun ini. Pada ajang sebelumnya, tiap tim hanya boleh membawa maksimal 23 pemain. Keputusan tersebut dibuat sebagai langkah antisipasi kemungkinan adanya wabah Covid di sebuah tim dan untuk mengurangi kelelahan fisik akibat padatnya jadwal kompetisi sebelum ajang Piala Eropa dimulai.

Jerman kebetulan jadi salah satu tim yang paling cepat mengumumkan skuadnya untuk EURO 2020. Dari 26 nama yang sudah dipilih Joachim Low, kembalinya Mats Hummels dan Thomas Muller tentu yang paling menyita perhatian.

Setelah gagal total di Piala Dunia 2018, Low memang banyak menyingkirkan pemain senior. Hummels dan Muller adalah salah satunya. Bersama Jerome Boateng, ketiganya resmi didepak dari timnas Jerman sejak Maret 2019.

Dulu, Low beralasan bahwa ia akan membuat rencana masa depan timnas Jerman tanpa Hummels dan Muller dalam skuadnya. Seakan menelan ludah sendiri, kini Low justru kembali memanggil 2 pemain yang dulu ia buang.

Jadi, apa alasan Joachim Low kembali memanggil Mats Hummels dan Thomas Muller?

Kepada surat kabar Bild, Low mengaku bahwa kebutuhan pemain berpengalaman jadi alasan utama di balik keputusannya memanggil kembali Thomas Muller dan Mats Hummels.

“Kesuksesan di Piala Eropa 2020 sangat penting bagi sepakbola Jerman, bagi seluruh bangsa. Itulah mengapa kami memutuskan untuk membawa kembali Thomas Müller dan Mats Hummels. Para pemain ini dihormati dan diterima oleh para pemain yang lebih muda karena penampilan mereka yang luar biasa dan pengalamannya yang luas,” jelas Low kepada Bild, dikutip dari okezone.com.

Akan tetapi, apakah hanya itu alasan Low memanggil Hummels dan Muller?

Faktanya, ada 3 alasan yang memang memaksa Low untuk memanggil kembali 2 pemain seniornya itu. Berikut ini Starting Eleven ulas 3 alasan teknis dibalik kembalinya Mats Hummels dan Thomas Muller ke timnas Jerman di EURO 2020.

 

1. Memperbaiki Pertahanan yang Keropos

Diketahui, Mats Hummels terakhir kali tampil untuk Der Panzer pada laga UEFA Nations League, November 2018. Selepas itu, Joachim Low banyak memanggil bek muda dalam skuadnya. Hasilnya, di tahun 2020 saja, gawang Jerman sudah bobol 10 gol hanya dalam 8 laga. Sementara di tahun 2021, mereka sudah kebobolan 2 gol dalam 3 laga.

Melihat dari catatan tersebut, memanggil kembali Mats Hummels memang sebuah urgensi. Apalagi, bek 32 tahun itu tampil begitu solid di Bundesliga musim ini. Hummels telah membuat 68 intersep, 183 sapuan, 66 tekel, dan 39 blok sepanjang musim ini untuk Borussia Dortmund. Tak hanya itu, pemilik 70 caps bersama timnas Jerman itu juga tercatat telah melakukan 264 pressing, dimana 147 diantaranya dilakukan di area pertahanan.

Statistik Hummels musim ini jauh mengungguli bek Jerman lainnya yang dipanggil ke EURO 2020. Selain Hummels, Low juga memanggil Robin Koch (Leeds), Christian Gunter (Freiburg), Antonio Rudiger (Chelsea), Matthias Ginter (Borussia Monchengladbach), Niklas Sule (Bayern Munich), Lukas Klostermann (RB Leipzig), Marcel Halstenberg (RB Leipzig), dan Robin Gosens (Atalanta) untuk menjaga pertahanan Der Panzer.

Low sendiri telah mengakui bahwa sosok Hummels begitu dibutuhkan di pertahanan timnas Jerman. Lagipula, Hummels yang baru saja mempersembahkan trofi DFB-Pokal untuk Dortmund juga tampil produktif musim ini dengan torehan 5 gol.

“Di pertahanan kami tidak memiliki stabilitas yang diinginkan baru-baru ini. Mats adalah pemain yang memengaruhi pemain lain dan membawa pengalaman.” kata Joachim Low, dikutip dari BBC.com

 

2. Memperkuat Lini Serang

Sementara itu, pemanggilan kembali Thomas Muller erat kaitannya dengan performa lini serang Jerman akhir-akhir ini. Selama 2 tahun terakhir, anak asuh Joachim Low sudah mencetak 19 gol dalam 11 laga terakhir. Namun, gol-gol Jerman justru lebih banyak hadir dari pemain tengah atau pemain sayap.

Lagipula, performa Thomas Muller dalam 2 musim terakhir sangat sayang bila tak disalurkan ke timnas Jerman. Di tahun 2020, Muller mampu mencetak 14 gol dan 26 asis dalam 50 laga bersama Bayern Munchen. Di tahun itu, ia juga membantu Bayern meraih treble winners.

Sementara di musim ini, Muller sudah menghasilkan 15 gol dan 24 asis dalam 45 laga. Statistik tersebut jelas lebih baik dari Timo Werner yang selalu jadi andalan Low selama ini. Werner baru membuat 12 gol dan 15 asis bersama Chelsea.

Lagipula, Muller adalah pemilik 100 caps bersama timnas Jerman dan sudah menyumbang 38 gol. Jadi, sangat aneh bila Low tak menyertakan penyerang 31 tahun itu. Di tambah lagi, Muller adalah seorang penafsir ruang yang serba bisa dan dapat bermain di segala posisi di lini depan, mulai dari striker, winger, hingga gelandang serang.

 

3. Menularkan Mentalitas Juara

Terlepas dari performa apik Hummels dan Muller, Joachim Low memang harus memanggil pemain seniornya dalam skuad EURO 2020. Pasalnya, dalam 11 laga terakhir, Der Panzer hanya mampu menang 5 kali, imbang 4 kali, dan 2 kali kalah.

Yang paling diingat tentu kekalahan menyakitkan 6-0 dari Spanyol di ajang UEFA Nations League (17 November 2020). Kekalahan kedua yang Jerman derita juga tak bisa dianggap remeh. Mereka kalah 1-2 dari Makedonia Utara di matchday ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2022 (31 Maret 2021). Di 2 laga tersebut, Jerman tampak begitu kesulitan mencetak gol dan bermain tanpa komando.

Hadirnya Muller dan Hummels jelas akan memberi tambahan amunisi yang butuhkan Jerman saat itu, khususnya dalam hal mentalitas juara. Dalam skuad Jerman untuk EURO 2020, hanya tersisa 5 anggota yang dulu mempersembahkan trofi Piala Dunia 2014. Mereka adalah Manuel Neuer, Matthias Ginter, Toni Kroos, serta Mats Hummels dan Thomas Muller. Low sendiri telah mengakui bahwa kepemimpinan Hummels dan Muller sebagai pemain senior sangat ia butuhkan.

“Mereka telah memainkan musim yang luar biasa. Mereka bisa menambah banyak tim dalam hal kepemimpinan di lapangan. Mereka tahu pola pikir, filosofi, dan dihormati oleh pemain lain karena apa yang telah mereka capai.”, kata Joachim Low dikutip dari bulinews.com.

Kepemimpinan pemain senior memang dibutuhkan dalam skuad Jerman yang punya rata-rata usia 27,5 tahun. Ban kapten tetap jadi milik Manuel Neuer. Sayang, Jerman tak dapat mengikutsertakan kiper Barcelona, Marc-Andre Ter Stegen yang tengah bersiap menjalani operasi lutut. Sebagai gantinya, Low memanggil kiper Arsenal, Bernd Leno dan Kevin Trapp dari Eintracht Frankfurt.

Khusus untuk Muller, ia dapat jadi mentor yang baik bagi deretan penyerang yang dibawa Joachim Low. Selain membawa Muller, Low juga memanggil Timo Werner dan Kevin Volland. Bagi Volland, dipanggilanya penyerang AS Monaco itu ke ajang EURO 2020 bakal jadi keikutsertaannya yang pertama di turnamen besar.

Volland memang tampil apik di Ligue 1 musim ini. Penyerang 28 tahun itu sudah mengemas 16 gol. Selain Volland, Low secara mengejutkan juga membawa pemain 18 tahun milik Bayern Munchen yang tengah naik daun, Jamal Musiala. Musiala yang lebih memilih Jerman ketimbang Inggris sudah mencetak 6 gol dan 1 asis musim ini.

Sayangnya, Low kembali ditinggal salah satu andalannya, Marco Reus. Kapten Dortmund itu memutuskan tidak memperkuat Jerman pada Piala Eropa nanti untuk memulihkan fisik pasca cedera. Namun, Low masih dapat memanggil beberapa pemain kunci lainnya, seperti Toni Kroos (Real Madrid), Emre Can (Dortmund), Joshua Kimmich (Bayern Munich), Ilkay Gundogan (Manchester City), Leon Goretzka, (Bayern Munich), Leroy Sane (Bayern Munich), dan Kai Havertz (Chelsea). Untuk memperkuat lini tengah, pelatih 61 tahun itu juga membawa Florian Neuhaus dan Jonas Hofmann, dua punggawa Borussia Mönchengladbach yang tampil apik di Bundesliga musim ini.

Daftar pemain yang dipanggil Joachim Low rata-rata mampu memainkan lebih dari 1 posisi. Ini akan jadi keuntungan untuk Jerman. Low dapat mencoba lagi skema 3-4-2-1 atau memainkan formasi 4-3-3 seperti yang kerap ia pilih. Memakai kembali formasi 4-2-3-1 seperti era Piala Dunia 2014 juga sangat mungkin dilakukan.

Yang pasti, pengumuman skuad Der Panzer untuk EURO tahun ini memang jadi salah satu yang paling dinanti. Dengan status juara Piala Dunia 2014, performa Jerman setelah gugur di babak grup Piala Dunia 2018 memang jadi sorotan. Peringkat mereka di ranking FIFA juga turun ke posisi 12.

Lebih dari itu, Joachim Low jelas ingin meninggalkan perpisahan yang manis kepada Jerman. Seperti yang diketahui, pelatih 61 tahun itu akan memutuskan mundur dari kursi pelatih Der Panzer usai gelaran EURO 2020.

Namun, dengan kembalinya Mats Hummels dan Thomas Muller dalam skuad Der Panzer, setidaknya akan memberi harapan positif kepada Low dan utamanya publik Jerman. Pasalnya, di EURO 2020, Jerman tergabung di grup neraka. Mereka tergabung dalam Grup F bersama juara bertahan Portugal, juara Piala Dunia 2018 Prancis, dan peraih medali perunggu Piala Eropa 1964, Hungaria.

Mampukah Jerman keluar dari grup neraka dan melangkah jauh di Piala Eropa tahun ini?

 

***
Sumber Referensi: Bulinews, Okezone, BBC, DFB, Bavarian Football