Beranda blog Halaman 704

Apa Yang Dimaksud Versatile Dalam Sepakbola?

Setiap orang tentu memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Ada orang yang mungkin pandai di suatu bidang tertentu, namun ketika di tempatkan di bidang yang lain ia tidak terlalu mahir. Kendati demikian, tuntutan zaman adakalanya membuat setiap orang harus memiliki banyak keahlian. Tidak hanya satu bidang saja yang ia kuasai, namun lebih dari itu. Hal ini juga berlaku bagi setiap pemain sepakbola.Β 

Kita sudah ketahui bersama bahwa sepakbola saat ini telah alami banyak perkembangan di segala lini. Sepakbola modern menuntut setiap pemain untuk bisa bermain lebih dari satu posisi.

Versatile, itulah sebutan bagi pemain yang mampu bermain di sejumlah posisi. Versatile artinya pemain mampu tampil sama baiknya di posisi lain yang bukan posisi naturalnya. Di era sekarang, pemain Versatile sangat dibutuhkan. Hal ini tak terlepas dari kebutuhan taktik dan strategi yang jauh lebih kompleks dibandingkan sepakbola jaman dulu. Versatility seolah menjadi kemampuan yang wajib dimiliki pemain sepakbola di era modern. Pemain yang memiliki kemampuan bermain tak hanya pada satu posisi bisa memberikan dimensi berbeda dalam permainan.

Seorang pelatih sepakbola akan sangat diuntungkan bila mempunyai pemain bertipe versatile. Apalagi klub yang dilatihnya mengikuti banyak kompetisi atau jadwal yang padat. Pemain versatile bisa diandalkan kapan saja. Pemain harus mau dan siap ditempatkan di posisi manapun. Membangun skuad menjadi mudah karena pemain model seperti itu.

Dengan mahir bermain di berbagai posisi, pemain semacam ini sangat dibutuhkan bila sebuah tim dalam keadaan terdesak, misalnya banyaknya pemain yang alami cedera atau akumulasi kartu. Tim pelatih tentu tidak akan kebingungan bila banyak pemain yang cedera atau akumulasi kartu, sebab adanya pemain bertipe versatile.

Di era sepakbola modern seperti sekarang, pemain bertipe versatile cukup banyak ditemui dibandingkan dulu. Satu yang paling populer adalah Joshua Kimmich. Pemain asal Jerman tersebut sejatinya adalah gelandang bertahan. Posisi ini ia tempati sejak membela akademi Stuttgart. Namun demikian, seiring berjalannya waktu, Kimmich juga sering ditempatkan di posisi bek kanan ataupun bek tengah. Kimmich sama baiknya saat ditempatkan di berbagai posisi tersebut. Peran tersebut ia jalani saat bersama Bayern Munchen asuhan Pep Guardiola maupun di timnas Jerman.

Selain Kimmich, pemain versatile lainnya adalah James Milner. Dalam beberapa musim terakhir, Milner menjadi figur penting bagi Liverpool. Dia memang tidak selalu menjadi pilihan utama, tetapi selalu siap ketika tim membutuhkan. Pelatih Liverpool, Jurgen Klopp sangat senang dengan Milner sebab kemampuannya dalam bermain di banyak posisi. Milner bisa bermain sebagai winger, gelandang, dan bek sayap. Kehadiran pemain seperti Milner amat penting untuk memuluskan perubahan strategi pelatih saat laga berjalan.

Pemain lain yang berstatus versatile adalah David Alaba di Bayern Munchen. Alaba sebelumnya terkenal sebagai seorang wing back kiri yang hebat, namun ketika Pep Guardiola menangani Die Roten, pemain asal Austria itu dapat berubah sebagai seorang bek tengah yang tangguh. Guardiola sendiri menjadi salah satu juru taktik yang dapat mengenalkan pemain versatile ini dengan jelas. Sosok asal Spanyol ini memang gemar merubah posisi pemain dari posisi aslinya. Dan tak jarang, pemain yang diubah posisinya itu tampil bagus.

Saat menangani Bayern, selain Alaba dan Kimmich, Philipp Lahm yang sudah multi posisi karena dapat bermain sebagai bek kanan maupun kiri dibuat menjadi gelandang bertahan yang hebat. Di Barcelona, Guardiola memiliki Mascherano, Lionel Messi, dan Cesc Fabregas. Sedangkan saat di Man City, Guardiola memiliki Oleksandr Zinchenko dan Bernardo Silva.

Mantan striker timnas Inggris, Wayne Rooney juga dikenal sebagai pemain versatile. Ia dikenal sebagai striker dan tak ada yang menyangka pemain ini punya kapasitas untuk berubah posisi. Dalam beberapa tahun akhir karirnya, Rooney lebih sering dimainkan sebagai gelandang serang karena visinya sayang jika disia-siakan. Bahkan dia sempat menjadi gelandang jangkar pada akhir musim 2015/16, bahkan bersama Timnas Inggris. Permainannya tergolong baik, walau Rooney sepertinya tak akan jauh-jauh lari dari pos gelandang serang atau striker.

Selain nama-nama yang telah disebutkan, para pemain lain yang dikenal karena bisa memerankan dengan baik di berbagai posisi adalah Emre Can, Saul Niguez, Ashley Young, Thomas Muller, dan Daley Blind. Jangan lupakan pula nama John O’shea. Eks pemain MU itu bisa bermain dengan sama baiknya di posisi bek tengah, kanan dan kiri.Β 

Intinya, pemain dengan tipe versatile ini sangat penting sekali ada di sebuah kesebelasan sepakbola. Pelatih tak perlu pusing jika punya banyak pemain bertipe semacam ini. Pelatih bisa mengubah taktik atau mengatur strategi dengan leluasa dan adanya pemain versatile ini menjadi sebuah keuntungan sendiri bagi suatu kesebelasan.

Sumber Referensi : Panditfootball, Quora, Libero, Kompasiana,

Mengapa Bench Pemain Cadangan & Pelatih Menggunakan Kursi Mobil Sport?

Salah satu fasilitas yang harus ada di arena sepakbola profesional adalah bangku pemain cadangan atau (bench pemain).

Namun, tahukah kamu jika deretan kursi yang terletak di pinggir lapangan itu bukanlah bangku biasa?

Kursi bangku pemain cadangan memang punya desain yang terbilang unik. Tak seperti jaman dulu yang menggunakan kursi plastik, saat ini kursi bangku cadangan tim-tim sepakbola kelas atas didesain lebih empuk dan nyaman, tak tanggung-tanggung desainnya mengadopsi dari jok mobil sport mahal.

Percaya tak percaya harga untuk satu kursi itu bisa mencapai 3.500 pounds atau setara Rp 67,9 juta. Harga yang relatif sepadan untuk sebuah kenyamanan.Β 

Lalu, bagaimana awal mula ide bangku cadangan yang seperti jok mobil sport itu muncul?

Awal mula munculnya bangku pemain mahal itu berawal dari keluhan seorang pelatih Kaiserslautern pada era 90-an, Karl-Heinz ‘Kalli’ Feldkamp. Feldkamp mengungkapkan jika punggungnya terasa pegal setelah menduduki kursi yang terbuat dari plastik.

Atas kejadian itu, Ulrich Putsch, memutuskan untuk menempatkan kursi baru di bench, khusus untuk Feldkamp. Perlu diketahui, jika Ulrich Putsch adalah pendiri sekaligus pemilik Recaro, sebuah perusahaan asal Jerman yang memproduksi kursi mobil dan pesawat. Selain itu, Putsch juga bagian dari jajaran direksi tim peraih trofi Bundesliga musim 1997/98.

Lantaran dinilai ‘kurang elok’ jika hanya menempatkan satu bangku khusus, maka Ulrich memutuskan untuk mengganti seluruh bangku cadangan dengan kursi mobil balap.Β 

Setelah itu, pada musim 1990/91 FC Kaiserslautern resmi tercatat sebagai klub pertama yang menggunakan jok mobil balap sebagai bangku cadangan pemain dan staf kepelatihan, tepatnya di Bundesliga, kasta teratas sepakbola Jerman.

Namun, keberadaan kursi mobil balap tersebut ternyata menimbulkan tim-tim yang bertandang ke Fritz-Walter-Stadium jadi iri. Menariknya, keirian mereka justru membuat perusahaan Recaro menuai banyak keuntungan.

Pasalnya, tim-tim tersebut jadi ikut-ikutan mengganti bangku cadangan mereka dengan jok balap. Selain itu, pada tahun 1994 produk buatan Recaro mulai menjadi tren di seluruh dunia. Bahkan, dari tahun ke tahun, banyak tim yang mengikuti langkah Kaiserslautern.Β 

Salah satu perwakilan perusahaan dari Recaro, Tilman Schaefer, mengatakan :

β€œTim lain menjadi sangat bersemangat. Mereka memesan bangku dari kami (Recaro), sehingga menjadikan hal ini menjadi proyek penjualan khusus selama bertahun-tahun,”.

Bahkan menurutnya, hal ini jadi semacam standar di sepakbola, termasuk stadion bisbol di Jepang, plus kursi kelas bisnis di stadion. Ditambahkan oleh Schaefer, bahwa di Eropa dan Jepang, Recaro menjadi pemasok terbesar.

Tak kurang dari 70 tim sepak bola, mulai dari FerencvΓ‘ros Budapest, sampai tim kelas atas seperti Borussia Dortmund, Real Madrid dan Lyon menggunakan produk Recaro.

Selain didesain khusus agar yang duduk merasa sangat nyaman, jok balap itu juga dilengkapi pemanas kursi untuk musim dingin. Tak heran jika kursi mobil balap tersebut mampu memberikan efek yang positif bagi setiap pemain maupun staf kepelatihan. Bahkan ada yang beranggapan bahwa penggunaan kursi mobil balap tersebut berdampak positif terhadap performa pemain.

Jadi bukan hal aneh jika kalian melihat staf pelatih, khususnya pemain, duduk berlama-lama di bangku pemain, seolah enggan beranjak selama pertandingan.

Kisah Miris Jeffren Suarez Usai Mencetak Gol di El Classico, Kini Terdampar di Divisi Dua UEA

0

Jeffren Suarez, namanya mungkin terdengar asing di telinga pecinta si kulit bundar. Bahkan, fans berat Barcelona sekalipun mungkin tidak mengenal pemain yang dalam karirnya pernah membela Blaugrana tersebut. Ya. Jeffren pernah berseragam El Barca di bawah asuhan Pep Guardiola. Kontribusi Jeffren untuk Barcelona bisa dibilang tidak begitu banyak. Namun, namanya pernah sedikit melambung saat ia turut mencetak gol ke gawang Real Madrid pada 29 november 2010.

Ketika itu, usianya masih 22 tahun saat menjebol gawang Madrid dalam laga bertajuk El Clasico. Jeffren yang menggantikan Pedro Rodriguez di menit 87 berhasil membobol gawang El Real di masa injury time untuk memastikan kemenangan 5-0 Blaugrana atas sang musuh bebuyutan. Nama Jeffren sempat dielu-elukan oleh para fans Barcelona. Sebab, kemenangan besar itu terjadi bertepatan dengan hari ulang tahun tim Catalan yang ke-111.Β 

Mengutip dari Marca, Jeffren pernah mengungkapkan perasaan soal golnya itu,

“Salah satu momen terbaik yang saya alami di Barcelona. Saya pergi keluar untuk menikmati beberapa menit yang tersisa untuk menyelesaikan permainan, dan saya melakukannya! Ketika [gol] tiba, itu adalah momen pribadi dan kolektif yang hebat. Sebuah kegembiraan.”

Sayangnya, usai memainkan pertandingan bersejarah itu, nama Jeffren Suarez seolah menghilang dari hiruk pikuk sepakbola.

Jeffren Suarez sendiri merupakan penyerang yang lahir pada 20 januari 1988 di Ciudad BolΓ­var, Venezuela. Saat masih bayi, keluarganya memutuskan untuk bermigrasi ke Spanyol, tepatnya di Tenerife. Jeffren pun mengawali karir sepakbola dengan bergabung di akademi Tenerife. Bakatnya kemudian dilirik oleh tim pencari bakat Barcelona. Dan saat usianya menginjak 16 tahun, Jeffren bergabung dengan akademi La Masia, sebelum dua tahun setelahnya, ia bergabung dengan Pep Guardiola di tim Barcelona B.

Jeffren berkesempatan menjalani debut bersama tim senior Barcelona melawan Badalona di ajang Copa Del Rey. Meski bermain sebentar, penampilan Jeffren cukup memikat Pep Guardiola. Guardiola, yang pada tahun 2008 ditunjuk membesut tim utama Barcelona pun mengajak Jeffren untuk mengikuti sesi pra musim pada 2008. Saat pertama kali berhasil masuk di tim senior Barcelona, nama Jeffren digadang-gadang akan jadi bintang di masa depan karena gaya permainannya yang dianggap menjanjikan.

Meski begitu, perjuangan Jeffren untuk mendapat tempat utama di Barcelona tidak berjalan mudah. Ia harus bersaing dengan nama-nama beken macam Lionel Messi, David Villa dan Pedro Rodriguez.

Namun sayang, apa yang terjadi di kemudian hari ternyata tidak sesuai dengan ekspektasi banyak orang.Β 

Jeffren memang sempat diberi kesempatan tampil untuk pertama kalinya di ajangΒ  La Liga pada 17 mei 2009 kala Barcelona melawan Real Mallorca, namun keberadaan dirinya tak begitu memberi pengaruh untuk Barca, karena saat itu Barca harus telan kekalahan 2-1 dari Mallorca.Β 

Hingga akhirnya, Jeffren pun jarang mendapatkan kesempatan bermain reguler di Barcelona. Tercatat, ia hanya bermain 18 kali dengan mencetak 2 gol di semua kompetisi musim 2009/10. Lalu pada musim berikutnya, catatan penampilannya menurun menjadi 13 laga. Selain gagal bersaing dengan pemain-pemain tenar, Jeffren juga pernah mengalami patah kaki selama membela Barcelona.

Karena dianggap kurang memenuhi karakter permainan El Barca. Jeffren pun akhirnya dilepas ke klub asal Portugal, Sporting Lisbon pada 2011.

Namun, fisik Jeffren semakin rentan terkena cedera sehingga dalam tiga musim, JeffrΓ©n hanya tampil kurang lebih 25 kali. Jeffren kemudian berpindah klub ke kasta kedua Liga Spanyol, Real Valladolid. Namun, di sana, ia juga tak mampu menunjukkan permainan terbaiknya.Β 

Lambat laun, karir Jeffren semakin meredup. Ia berpindah-pindah ke sejumlah klub. Pasca meninggalkan Valladolid, Jeffren memilih hijrah ke klub kasta kedua Liga Belgia, KAS Eupen pada 2015. Bermain di liga tak populer, membuat perjalanan karier JeffrΓ©n semakin tak dipedulikan oleh khalayak luas.Β  Ia lalu pindah ke liga Swiss, dengan bergabung bersama Grasshoppers. Tak lama kemudian, klub asal Siprus dan Kroasia, AEK Larnaca serta Slaven Belupo menjadi pelabuhan selanjutnya bagi Jeffren.Β 

Selain itu, di level internasional sendiri, Jeffren pernah menjadi bagian dari skuad timnas Spanyol junior. Namun, di timnas senior, ia memilih membela Venezuela, dengan hanya catatkan 4 pertandingan.

Kini, setelah sempat menganggur selama satu musim, Jeffren, akhirnya menandatangani kontrak dengan klub divisi dua Uni Emirat Arab, Al-Thaid, pada 29 Januari 2021 lalu,.Β 

Meski sekarang karirnya terlihat sangat jomplang dengan saat muda dulu, setidaknya dulu nama Jeffren pernah terukir dalam buku sejarah El Clasico.

Sumber Referensi : Football Tribe, Marca, Libero, Bola.okezone

Ironi Georgios Giakoumakis, Top Skor Eredivisie Kala Timnya Terdegradasi

0

Georgios Giakoumakis. Namanya memang cukup asing bagi para pecinta sepak bola. Maklum, ia hanyalah striker dari klub papan bawah Eredivisie Belanda, VVV Venlo. Klub yang ia bela jelas kalah tenar dibanding klub-klub besar Liga Belanda seperti, Ajax Amsterdam, PSV, AZ Alkmaar, Feyenoord, atau FC Utrecht sekalipun.

Pamor Georgios Giakoumakis sendiri juga kalah bila dibandingkan dengan deretan penyerang kelas dunia yang mentas di Liga Belanda. Sebut saja Dusan Tadic, Donyell Malen, Steven Berghuis, atau Myron Boadu. Namun, dibanding nama-nama tadi, Georgios Giakoumakis menolak untuk kalah kelas.

Ajax Amsterdam memang keluar sebagai juara Eredivisie musim ini. Mereka superior dengan memuncaki klasemen Liga Belanda sejak pekan ke-6. Ajax sukses mengumpulkan 88 poin dari 34 laga dan unggul 16 poin dari peringkat 2, PSV. Tak hanya itu, mereka juga tampil trengginas dengan menghasilkan total 102 gol di Eredivisie musim ini.

Akan tetapi, meski para pemain Ajax mampu menghasilkan 100 gol lebih dalam satu musim, bukan pemain Ajax yang mampu memuncaki daftar top skor. Bahkan, dalam daftar pencetak gol terbanyak Eredivisie musim ini, takada satupun pemain Ajax yang bisa menempati posisi 5 besar. Disinilah Georgios Giakoumakis mencuri perhatian dunia.

Striker 26 tahun asal Yunani itu mampu mengungguli para penyerang berkelas Ajax seperti David Neres, Dusan Tadic, atau Sebastien Haller. Jumlah gol yang dihasilkan Georgios Giakoumakis jauh mengungguli nama-nama tadi. Penyerang milik VVV Venlo itu total telah mencetak 26 gol di Eredivisie musim ini.

Jumlah gol itulah yang menjadikan Georgios Giakoumakis sebagai pencetak gol terbanyak alias top skor Eredivisie Belanda musim 2020/2021. 26 gol yang dihasilkan striker timnas Yunani itu mampu mengungguli 2 penyerang timnas Belanda, Donyell Malen (PSV) dan Steven Berghuis (Feyenoord) yang masing-masing hanya hanya mencetak 19 dan 18 gol saja.

Keberhasilan Giakoumakis keluar sebagai top skor Eredivisie musim ini tentu menjadi kejutan tersendiri. Pasalnya, ini adalah musim debut bagi pemilik 6 caps bersama timnas Yunani itu di Liga Belanda. Giakoumakis baru didatangkan VVV Venlo pada Agustus 2020.

Namun, keluarnya Giakoumakis sebagai top skor Eredivisie musim ini merupakan sebuah ironi. Sebab, tim yang ia bela, VVV Venlo jadi salah satu tim yang terdegradasi dari Eredivisie musim ini. Klub berjuluk β€œThe Yellow Black Army” itu finish di posisi 17 dari 18 tim dan secara otomatis turun kasta ke divisi kedua. Tak hanya itu, Venlo juga mencatat hasil paling memalukan musim ini dengan sempat dibantai 13 gol tanpa balas oleh Ajax di pekan ke-6.

Inilah yang membuat gelar top skor Liga Belanda yang diraih Giakoumakis begitu unik. Bagaimana tidak, ia telah mencetak lebih dari 60% gol Venlo musim ini. Total, para pemain Venlo berhasil mencetak 43 gol sepanjang musim ini, dan 26 gol diantaranya lewat sumbangan Giakoumakis seorang.

Sayangnya, meski telah menyumbang begitu banyak gol, ia tak mampu menyelamatkan VVV Venlo dari jurang degradasi. Georgios Giakoumakis pun dinobatkan sebagai raja gol Eredivisie Belanda pertama yang berasal dari tim yang terdegradasi.

Penyerang bernomor punggung 11 itu berhak atas trofi Willy van der Kuiljen pertama dalam sejarah Liga Belanda. Trofi Willy van der Kuiljen sendiri merupakan edisi terbaru dari gelar top skor Eredivisie. Penamaan itu sendiri merupakan bentuk penghargaan kepada Willy van der Kuiljen yang merupakan top skor sepanjang masa Eredivisie Belanda dengan 311 gol.

Giakoumakis tak hanya menjadi top skor bagi Liga Belanda. Lesatan 26 golnya menjadikan Giakoumakis sebagai pencetak gol terbanyak VVV Venlo dalam satu musim kompetisi. Pemain yang kerap disapa β€œJako” itu juga seolah bekerja sendirian untuk lini serang Venlo. Pasalnya, pencetak gol terbanyak kedua Venlo musim ini adalah Jafar Arias yang hanya mampu mengemas 4 gol saja.

Jako memang begitu diandalkan di lini serang Venlo. Ia telah tampil sebanyak 30 laga alias hanya absen di 4 laga Liga Belanda musim ini. Rekan satu timnya, Christian Kum juga mengaku bahwa peran Jako sangat krusial bagi timnya.

β€œTanpa dia (Giakoumakis), segalanya akan jauh lebih buruk bagi kami. Saya belum pernah melihat seorang striker begitu fokus pada gol seperti dia,” ujar Christian Kum dikutip dari nytimes.com

Statistik Giakoumakis musim ini juga mendukung pernyataan Christian Kum. Penyerang bertinggi badan 185 cm itu total telah membuat 95 tembakan ke gawang lawan, dimana 46 diantaranya mengarah tepat sasaran. Artinya, Ia mampu menghasilkan 3,31 shots on target per 90 menit.

Salah satu keunggulan utamanya dari Giakoumakis adalah kekuatannya dalam duel-duel udara. Total, ia telah membuat percobaan sundulan ke gawang lawan sebanyak 29 kali. Distribusi golnya juga membuktikan hal itu. 18 gol ia hasilkan lewat sepakan kaki kanan. 4 gol ia buat lewat kaki kirinya, dan 4 gol lainnya berasal dari sundulan kepala.

Strategi yang diusung VVV Venlo juga mendukung gaya main Georgios Giakoumakis. Tugas utamanya adalah berada di dalam kotak penalti, memenangkan bola di udara, dan membuat peluang dalam situasi tersebut. Musim ini, Ia juga mencatat expected goals (xG) sebesar 18,64.

Expected goals adalah nilai yang mengukur kualitas sebuah peluang. Makin tinggi nilainya, makin bagus peluang tersebut. Dan makin banyak gol yang dicetak melebihi nilai expected goals-nya, maka makin berkualitas penyelesaian akhir pemain tersebut. Dengan jumlah 26 golnya sudah cukup jadi bukti betapa efektifnya Giakoumakis di depan gawang lawan.

Apalagi, musim ini Giakoumakis juga menciptakan sensasi tersendiri. Ia langsung mencetak hattrick di laga debutnya saat membantu Venlo mengalahakan FC Emmen dengan skor 5-3. Giakoumakis juga membuat 2 kali quattrick di pekan ke-16 dan 19 saat membantu timnya mengalahkan ADO Den Haag dan Vitesse dengan skor identik, 4-1.

Akan tetapi, apa yang Giakoumakis raih musim ini sangat kontras bila dibandingkan dengan musim-musim sebelumnya. Pasalnya, sebelum membela Venlo, ia hanyalah striker yang jarang mencetak gol. Sebelum hijrah ke Belanda, ia lebih dulu malang melintang di Liga Yunani dan Polandia.

Sepanjang kariernya, Giakoumakis sudah membela 7 klub berbeda. Sebelum membela VVV Venlo ia tercatat pernah membela klub Yunani Atsalenios, Platanias, Episkopi, AEK Athens, OFI, dan klub Polandia, Gornik Zabrze. Sejak memulai debutnya pada 2011 silam, Giakoumakis baru mencetak 33 gol dari total 171 penampilan (0,19 gol per laga).

Hanya dalam semusim, Giakoumakis mendadak menjelma menjadi striker tajam dengan rata-rata 0,9 gol per laga. Kini kesuksesannya mencetak 26 gol di 30 laga yang menjadikannya top skor Eredivisie Belanda membuat nama Giakoumakis jadi incaran banyak klub.

Dari Belanda, klub papan atas, PSV disebut meminati striker 26 tahun itu. Sementara dari luar Belanda, Rangers FC yang dilatih Steven Gerrard kabarnya juga menaruh minat kepada pemilik 6 caps bersama timnas Yunani itu. Selain mereka, 2 klub Liga Inggirs, yakni Southampton dan klub promosi Norwich City juga diberitakan tertarik merekrut Giakoumakis.

Meski dirinya diikat dengan kontrak 2 tahun plus opsi perpanjang satu tahun dengan Venlo, namun Giakoumakis kemungkinan besar bakal dilego ke klub lain. Direktur olahraga Venlo sendiri telah membenarkan hal tersebut.

β€œJako (panggilan Giakoumakis) mengatakan ingin bermain di kompetisi dengan nama besar, tapi dia juga menikmati waktunya di Eredivisie. Dia bisa bersaing menjadi pencetak gol terbanyak di sini. Saya yakin akan mendapatkan harga yang pas untuk Jako. Dia pemain bagus dan bisa berkembang di banyak klub. Sejauh ini, belum ada hasil yang konkret dari rencana transfernya. Kami masih melihat tawaran menarik bagi dirinya dan juga klub,” kata Stan Valckx, direktur olahraga VVV Venlo, dikutip dari supersoccer.tv

Diketahui, Georgios Giakoumakis dibeli VVV Venlo dari AEK Athens pada Agustus tahun lalu dengan mahar hanya 200 ribu euro. Berdasarkan rumor yang beredar, manajemen Venlo telah mematok harga jual Giakoumakis di angka 5 juta euro. Dengan statusnya sebagai pencetak gol terbanyak Eredivisie musim ini, harga tersebut terbilang terjangkau.

Jadi, tim manakah yang beruntung mendapatkan jasa Georgios Giakoumakis?

**
Sumber Referensi: Football 5 Star, The New York Times, Football Fancast, Hitc, Supersoccer.

Gagal Total! Apa yang Salah Dengan Mikel Arteta di Arsenal?

Mikel Arteta datang membawa harapan dan ambisi. Ditunjuk sebagai manajer ketiga Arsenal di musim 2019/2020 untuk menggantikan Freddie Ljungberg, mantan asisten pelatih Pep Guardiola itu sukses mempersembahkan trofi Piala FA di musim debutnya.

Meskipun hanya berhasil mengakhiri kompetisi Premier League di peringkat 8, keberhasilan Arteta membawa The Gunners mengalahkan Chelsea di partai Final Piala FA 2020 memastikan satu tiket untuk Arsenal ke kompetisi Liga Europa. Sebuah akhir manis di penghujung musim 2019/2020.

Arsenal juga mengawali musim 2020/2021 dengan langkah meyakinkan. The Gunners membuka kompetisi Liga Inggris musim ini dengan memenangi trofi Community Shield. Sebagai juara Piala FA musim lalu, Pierre-Emerick Aubameyang dkk. sukses mempecundangi juara bertahan Premier League, Liverpool lewat babak adu penalti.

Penampilan apik di partai Community Shields jelas memberi harapan positif. Di bawah asuhan Mikel Arteta, pendukung Arsenal patut berharap. Pasalnya, Arteta yang baru ditunjuk sebagai pelatih The Gunners pada akhir Desember 2019 lalu telah sukses mempersembahkan 2 trofi kepada klub yang bermarkas di Emirates Stadium itu.

Sayangnya, penampilan apik The Gunners di final Piala FA dan Community Shield tak begitu saja menular ke kompetisi Premier League musim ini. Dalam 15 laga pertama, racikan taktik Mikel Arteta hanya mampu membawa Arsenal menang 4 kali, imbang 2 kali, dan menelan 8 kali kekalahan. Hasilnya, The Gunners terjerembab ke posisi 15 klasemen.

Singkatnya Arsenal justru terseok-seok di papan tengah klasemen Liga Inggris. Padahal, di bursa transfer musim panas lalu, mereka berhasil menggaet beberapa amunisi mumpuni. Tak tanggung-tanggung, dana sebesar 83 juta euro dikeluarkan The Gunners untuk menebus Thomas Partey, Gabriel Magalhaes, Pablo Mari, dan Alex Runnarsson. Tak hanya itu, Arsenal juga sukses mendapatkan Wiliian dan Cedric Soares secara gratis.

Namun, investasi besar di awal musim itu hanya sanggup mengantar Arsenal mengakhiri paruh pertama Liga Inggris di posisi 10. Tak hanya itu, The Gunners juga tersingkir di babak perempat final EFL Cup. Anak asuh Mikel Arteta juga gagal mempertahankan trofi Piala FA setelah tersingkir di babak keempat.

Tak ingin mengakhiri musim dengan tangan kosong, di bursa transfer bulan Januari, Arsenal kembali bergerak demi memperbaiki skuad. Martin Odegaard dan Matthew Ryan masing-masing dipinjam dari Real Madrid dan Brighton. Total pengeluaran The Gunners di bursa transfer pemain musim ini adalah 85 juta euro.

Namun, seperti yang kita ketahui, hingga pekan ke-37, Arsenal masih tertahan di peringkat 9 klasemen Premier League dengan koleksi 58 poin. Aubameyang dkk. baru menang 17 kali, imbang 7 kali, dan sudah menelan 13 kali kekalahan. Berdasarkan situasi tersebut, The Gunners tak hanya kehilangan tiket ke Liga Champions musim depan, tapi juga Liga Europa dan Europa Conference League.

Sejatinya, harapan satu-satunya bagi Arsenal untuk lolos ke kompetisi Eropa musim depan ditentukan langkah mereka di Liga Europa musim ini. Sayangnya, anak asuh Mikel Arteta tersingkir di babak semifinal dari Villareal yang ironisnya dilatih oleh Unai Emery, mantan pelatih The Gunners yang baru dipecat musim lalu.

Jadi, apa masalah Arsenal di bawah asuhan Mikel Arteta? Berikut analisisnya.

Musim ini, Arsenal tercatat telah banyak mengubah formasinya. Mulai dari 3-4-3, 5-4-1, 4-3-3, 4-4-2, 4-2-3-1, hingga 3-4-2-1. Menurut catatan whoscored, Arteta lebih banyak menggunakan formasi 4-2-3-1 di Liga Inggris musim ini (25 kali). Sayangnya, perubahan formasi ini juga diikuti perubahan susunan pemain inti yang terlampau sering sehingga penampilan Arsenal tidak stabil.

Lagipula, skema possession football yang diinginkan tak berjalan mulus. Arsenal memang mampu mencatat rata-rata penguasaan bola sebesar 53,7%. Namun, meski kerap menguasai jalannya pertandingan, The Gunners tak banyak membuat peluang emas. Arsenal hanya mampu membuat 4 shots on target per laga. Catatan itu hanya mampu menempatkan The Gunners di posisi 12 tim dengan jumlah tembakan tepat sasaran terbanyak di liga.

Minimnya kreasi memang jadi masalah besar bagi anak asuh Mikel Arteta. Arsenal hanya mampu menghasilkan 45 peluang emas sepanjang musim ini. Performa itu bahkan tak lebih baik dari Brighton (46 peluang emas), Everton (47 peluang emas), West Ham United (57 peluang emas), maupun Manchester City dan Liverpool yang sudah menghasilkan 74 dan 79 peluang emas sepanjang musim ini. Imbasnya, The Gunners hanya mampu menghasilkan 1,4 gol per laga. Dari 37 laga yang sudah dijalani, anak asuh Mikel Arteta baru menghasilkan 53 gol.

Alih-alih memperlihatkan permainan menyerang yang atraktif, Arsenal justru lebih terlihat sebagai tim dengan pertahanan solid. Baru kebobolan 39 gol jadi bukti betapa fokusnya Arsenal pada soliditas pertahanan tim. Namun, dengan fakta bahwa mereka minim kreativitas dan sedikit mencetak gol, Arsenal kerap kali mendapat tekanan yang berujung kebobolan yang membuyarkan keunggulan mereka.

Musim ini, Arsenal memang kerap memberi kejutan dengan mengalahkan tim papan atas yang lebih difavoritkan. Chelsea misalnya. Mikel Arteta belum sekalipun kalah dari Thomas Tuchel. Mereka juga dapat mengalahkan Manchester United di pertemuan pertama musim ini. Namun, The Gunners selalu tumbang di hadapan Manchester City, Liverpool, Everton, Wolverhampton, dan Aston Villa.

Sebagai pelatih, Mikel Arteta sejatinya sudah banyak menerima banyak kritikan dan keluhan dari para pendukung Arsenal. Bagaimana tidak, The Gunners hanya mampu mendapat 1,7 poin per laga saat menghadapi tim-tim 5 besar dan 1,4 poin per laga saat menghadapi tim-tim lainnya. Dengan buruknya performa itu, wajar bila Martin Keown, salah satu legenda Arsenal sampai begitu marah saat melihat Arsenal bertanding.

“Saya pikir mereka telah memilih taktik yang salah. Sepertinya Arsenal juga tidak proaktif dalam pertandingan, mereka membutuhkan seseorang untuk menampar wajah mereka, atau meninju wajah mereka, sebelum mereka bangun dan mulai bermain.” ujar Martin Keown dikutip dari football.london

Satu hal lagi yang paling dimasalahkan adalah keputusan-keputusan aneh Mikel Arteta dalam memilih susunan pemain. Hector Bellerin misalnya. Bek kanan 26 tahun itu baru mencetak 1 gol dan 2 asis musim ini. Namun, yang paling disorot dari mantan didikan La Masia itu adalah kontribusinya yang dinilai minim, khususnya dalam skema bertahan dan menyerang.

Keputusan Arteta lainnya yang juga disorot tajam adalah keputusannya melepas dan merekrut pemain baru. Secara mengejutkan, Arteta justru melepas Emiliano Martinez ke Aston Villa di awal musim ini. Faktanya, Martinez justru tampil solid bersama Aston Villa dan mencatat statistik yang lebih baik dari para kiper Arsenal musim ini.

Martinez mampu membuat 130 saves dengan persentase penyelamatan sebesar 76,6%. Bandingkan dengan Bernd Leno dan Mathew Ryan yang masing-masing baru membuat 84 saves (69,2%) dan 24 saves (59%) musim ini dengan persentase penyelamatan tak lebih dari 70%.

Selain Martinez, keputusan Arteta meminjamkan William Saliba ke OGC Nice juga dipatut disorot. Faktanya, Saliba mampu mencatat persentase tekel sukses dan jumlah intersep yang lebih baik dari para bek Arsenal musim ini. Keputusan Arteta yang tak mendatangkan bek kiri baru selepas meminjamkan Sead Kolasinac juga tak luput dari kritikan. Pasalnya, ia malah memaksa Granit Xhaka yang berposisi asli sebagai gelandang bertahan untuk menempati posisi tersebut kala Kieran Tierney absen akibat cedera.

Selain itu, keputusan Arteta dalam merekrut pemain baru juga tak berjalan mulus. Bahkan, pemain-pemain baru yang didatangkan tak berkontribusi positif kepada performa The Gunners. Willian misalnya. Ia baru mencetak 1 gol dan 5 asis dari 25 laga. Padahal mantan pemain Chelsea itu didatangkan untuk memperkuat lini serang Arsenal.

Setali tiga uang, performa para penyerang The Gunners juga buruk. Top skor mereka di Liga Inggris adalah Alexandre Lacazette yang baru mencetak 13 gol. Di bawahnya ada sang kapten Pierre-Emerick Aubameyang yang baru mencetak 10 gol. Jumlah gol tersebut sangat jauh bila dibanding musim lalu, dimana Aubameyang mampu menghasilkan 22 gol. Penuruan performa yang tajam dari sang kapten juga disinyalir jadi sebab buruknya lini serang Arsenal.

Pangkal dari buruknya performa Arsenal musim ini dan gagalnya mereka mentas di kompetisi Eropa musim depan, para fans mulai kembali mendengungkan tagar #ArtetaOut. Namun, melihat bagaimana performa pemain-pemain kunci Arsenal yang buruk, Arteta tak bisa begitu saja dikambinghitamkan. Apalagi, beberapa pemain The Gunners juga kerap membuat pelanggaran tak perlu yang berujung kartu merah. Belum lagi perubahan jajaran direktur klub yang membuat masalah di tubuh Arsenal makin rumit.

Lalu, apakah Mikel Arteta akan tetap dipertahankan atau dipecat? Sayangnya, menurut penuturan Fabrizio Romano, Mikel Arteta sudah dipastikan bakal tetap dipertahankan sebagai manajer Arsenal musim depan. Dengan begitu hanya satu yang bisa dilakukan Arteta musim depan.

Yakni merekrut pemain baru yang sesuai dengan skema permainan yang diusung Arteta. Apalagi, dengan ditunjuknya Edu sebagai dirtek baru Arsenal, seharusnya tugas Mikel Arteta di bursa transfer nanti lebih ringan. Mari kita lihat apakah Arteta mampu memperbaiki performa Arsenal di musim depan.

 

Sumber Referensi: Squawka, Four Four Two, Football.London, Tifo Football

Harry Kane Yang Memang Sudah Harus Tinggalkan Spurs

Lagi-lagi, Liga Primer Inggris dikejutkan dengan kabar yang menyebut bahwa Harry Kane minta dilepas oleh Tottenham Hotspurs pada akhir musim nanti. Penyerang berusia 27 tahun itu menyatakan bahwa dirinya ingin memulai sesuatu yang baru, yang tentunya bisa mencapai raihan membanggakan, yang selama ini sulit didapat.

Sejatinya, kabar tentang ingin hengkangnya Harry Kane dari Spurs sudah terdengar sejak lama. Dia sempat ingin pergi ketika Mauricio Pochettino diberhentikan klub. Akan tetapi, dia lantas berubah pikiran setelah Spurs kedatangan pelatih yang dianggap bisa beri kejayaan bernama Jose Mourinho.

Spurs memang menaruh harap pada sosok pelatih spesial tersebut. Pasalnya seperti yang kita sadari, Mourinho selalu berhasil memberikan gelar untuk klub yang dibesutnya. Hal itulah yang pada akhirnya menjadi alasan mengapa Kane ingin bertahan di bawah Mourinho.

Bersama Mourinho, pada awal musim, perjalanan Spurs memang tampak mulus. Mereka berhasil meraih hasil positif hingga sempat nangkring di klasemen atas Liga Inggris. Akan tetapi, di pertengahan jalan, menyusul sejumlah masalah yang dihadapi termasuk cedera pemain, performa Spurs seolah terjun bebas. Mereka terpontang-panting di kompetisi Eropa, dan bahkan harus rela keluar dari posisi empat besar klasemen Liga Primer Inggris.

Musim ini sendiri, Tottenham kembali dipastikan gagal meraih gelar juara. Mereka sudah terlempar dari sejumlah kompetisi yang diikuti, plus dinilai tidak mampu bersaing di kompetisi Liga Primer Inggris.

Kepergian Kane, bila memang itu terjadi, akan sangat dimaklumi oleh banyak pihak. Bukan rahasia lagi bila penyerang asal Inggris itu ingin memenangkan trofi tim, tidak hanya individu yang selama ini didapat. Dia sudah cukup frustasi ketika harus mengalami kegagalan di partai final. Maka, seperti yang sudah dijelaskan, trofi tim menjadi salah satu alasan kuat mengapa Kane ingin pergi.

Pemain legendaris asal Inggris, Alan Shearer, juga sangat menyadari situasi Harry Kane. Shearer tidak melihat adanya alasan kuat bagi Kane untuk tetap berada di klub asal London Utara tersebut. Lagipula, sudah ada banyak klub raksasa yang dengan senang hati bakal menerima kedatangannya.

Namun begitu, bukan hal mudah bagi Kane untuk langsung pergi dari Spurs, mengingat statusnya kini yang masih terikat dengan klub sampai setidaknya tahun 2024.

Kane resmi memperpanjang kontrak dengan Spurs pada tahun 2018 lalu. Pada hari dimana dia akan segera melakoni laga di ajang Piala Dunia, Kane telah sepakat untuk bertahan sampai enam tahun kedepan. Ketika itu, Tottenham baru saja finish di urutan ketiga kompetisi Liga Primer Inggris. Selain itu, mereka juga berhasil mencapai fase semifinal Piala FA. Ditambah lagi, Kane berhasil sarangkan sebanyak 30 gol di bawah arahan Mauricio Pochettino.

Sejumlah capaian itu pada awalnya membuat sang pemain yakin untuk bertahan di klub Lili Putih.

β€œAku sangat menantikan apa yang terjadi selanjutnya. Tampil di Liga Champions Eropa dan bersaing di Liga Primer Inggris dan juga Piala FA, membuatku ingin berusaha sejauh mungkin,” ucap Kane usai resmi memperpanjang kontrak dengan Spurs.

Kane memang telah melakukan tugas yang sangat luar biasa. Sejak tahun 2014 lalu, dia bahkan menjadi top skor Liga Primer Inggris dengan raihan 162 gol, mengalahkan Aguero dengan 130 gol dan Jamie Vardy dengan 116 gol.

Bahkan, baru-baru ini, dia baru saja dinobatkan sebagai Pemain Terbaik Liga Premier di London Football Awards 2021.

Akan tetapi, dalam malam penghargaan tersebut, Kane tetap menganggap bahwa raihan individu bukanlah sebuah prestasi mentereng. Dia ingin pergi dan menunjukkan pada dunia bahwa dirinya bisa membawa sebuah tim meraih gelar juara.

β€œKembali lagi, tujuan seorang pemain adalah bukan memenangkan trofi individu. Tapi memenangkan trofi tim,”

β€œMeski ini luar biasa, aku tidak bisa menutupinya kalau tujuanku adalah memenangkan trofi dengan tim,” ujar Kane.

Segala prestasi individu yang diraih seolah tampak tidak terlalu berarti bagi Kane. Dan lagi, keputusan untuk meninggalkan klub demi mengejar trofi tim memang sudah menjadi yang tepat baginya.

Sejauh ini sudah ada banyak sekali tim yang menginginkan jasanya. Akan tetapi, sekali lagi, dengan kontrak tiga tahun tersisa dan belum munculnya pernyataan manajemen klub, akan membuat kepergian Harry Kane tidak akan berjalan mulus. Tentunya, harga yang ditawarkan untuk bisa menebus sang pemain juga tidaklah sedikit. Menurut CIES Football Observatory, Harry Kane memiliki nilai sekitar 97 juta pounds atau setara dengan 1,9 triliun rupiah.

Sulit untuk memprediksi tim mana yang bakal bisa mendapatkan hati Kane. Paris Saint Germain yang dikenal punya kekuatan finansial luar biasa mungkin bisa mendatangkan Kane. Akan tetapi, di situasi pandemi seperti ini, masih terlalu berat untuk mengeluarkan dana besar. Terlebih, mereka sudah memiliki sejumlah pemain depan yang punya kualitas jempolan.

Dari dalam negeri, ada nama Chelsea dan Manchester United yang dikabarkan tertarik untuk memboyong Kane. Selain itu, ada juga nama Liverpool dan Manchester City yang ikut bersaing dalam perburuan ini.

Chelsea dan Liverpool dianggap memiliki kemungkinan paling kecil untuk dapatkan Harry Kane. Sementara Manchester United tampak akan lebih fokus untuk memperkuat lini belakang dan tengah, ketimbang depan, mengingat mereka baru saja mengumumkan perpanjang kontrak Edinson Cavani yang tampil sesuai harapan sejak didatangkan dari Paris Saint Germain dengan status bebas transfer.

Sementara Manchester City, mereka dianggap punya kans lebih besar dalam dapatkan penyerang Inggris ini. Apalagi, skuad asuhan Pep Guardiola bakal ditinggal penyerang andalannya selama ini, Sergio Aguero pada akhir musim mendatang.

Meski ada juga ketertarikan dari klub asing seperti FC Barcelona dan Real Madrid, tim-tim di Inggris akan lebih berkesempatan mendapat jasa Kane, setelah sang pemain menyatakan bahwa dirinya masih ingin melanjutkan karir di Negeri Ratu Elizabeth.

Jadi, ditengah kabar Harry Kane seperti sekarang ini, klub mana yang dianggap cocok baginya untuk kumpulkan banyak gelar prestisius?

 

Sumber referensi: Sky Sport, Sportskeeda, CNN

Dramatis! Ini Kiper Yang Berhasil Cetak Gol Di Menit Akhir Pertandingan

Seorang kiper pada umumnya hanya menjadi pemain yang ditugaskan untuk menjaga gawang agar tetap aman. Namun begitu, dalam situasi tertentu, tidak sedikit kiper yang membantu serangan guna menyelamatkan tim dari kekalahan. Bahkan, banyak dari mereka yang sampai berhasil mencetak gol di menit-menit akhir pertandingan.

Seperti pada bahasan kali ini, starting eleven akan merangkum deretan kiper yang berhasil cetak gol secara dramatis di menit akhir pertandingan.

Alisson Becker

Penjaga gawang Liverpool, Alisson Becker, baru saja mengukir sejarah. Dia menjadi kiper pertama dalam sejarah klub yang berhasil mencetak gol. Alisson secara mengejutkan sukses mengukir rekor tersebut di laga Liverpool melawan West Brom, di kompetisi Liga Primer Inggris.

Momen tersebut kian dramatis setelah kiper asal Brasil tersebut menjebol gawang West Brom di detik-detik akhir pertandingan. Ketika pertandingan masih berjalan imbang 1-1, Liverpool mendapat kesempatan tendangan penjuru di masa injury time. Dari situ, Alisson yang turut maju ke kotak penalti lawan sukses menyambut umpan lambung yang dilepaskan Trent Alexander-Arnold dengan sebuah tandukan mematikan.

Berkat gol kemenangan tersebut, Liverpool terus menempel ketat Chelsea dari peringkat kelima dengan selisih satu poin. Seperti diketahui, gol Alisson membuat Liverpool menang dengan skor 2-1 atas West Brom dan membuat mereka kini mengumpulkan sebanyak 63 poin dalam 36 pertandingan.

Yassine Bounou

Dalam lanjutan La Liga pekan ke-28 di stadion Jose Zorrilla, Sevilla muncul sebagai tamu penantang Real Valladolid. Pertandingan tersebut berakhir sangat dramatis meski tidak memunculkan pemenang.

Ya, kedua tim harus berbagi angka setelah skor akhir menunjukkan hasil 1-1. Namun ada satu momen yang begitu luar biasa, setelah gol penyama Sevilla diciptakan pada masa injury time, atau tepat pada menit ke 94. Lebih gilanya lagi, gol tersebut dicetak oleh kiper mereka, Yassine Bounou!

Di akhir pertandingan, Yassine Bounou sengaja maju ke kotak penalti lawan guna memanfaatkan situasi bola mati. Di momen menegangkan tersebut, para pemain Real Valladolid gagal menyapu bola saat tendangan sudut kembali ke kotak penalti mereka. Ujungnya, setelah terjadi kemelut, bola jatuh ke kaki sang kiper sebelum akhirnya mampu dikirimkan ke gawang Roberto.

Bounou yang tampak tidak percaya usai berhasil mencetak gol pun langsung berlari ke pinggir lapangan dan merayakannya bersama dengan staf sekaligus pemain lain.

Alberto Brignoli

Pada tahun 2017 silam, AC Milan harus mengalami nasib sial setelah mereka gagal memetik kemenangan melawan tim promosi, Benevento. Mirisnya lagi, pada pertandingan tersebut, gawang AC Milan harus terbobol oleh seorang kiper di menit-menit akhir pertandingan.

Pertandingan tersebut sejatinya tampak bakal memunculkan Milan sebagai pemenang. Sayangnya, seperti yang sudah dijelaskan, kemenangan 2-1 Milan buyar usai kiper Benevento, Alberto Brignoli sukses merobek jala Donnarumma melalui tandukan pada masa injury time.

Brignoli lantas menjadi kiper pertama di Serie A yang berhasil mencetak gol setelah Massimo Taibi pada 16 tahun sebelumnya.

Usai berhasil mencetak gol di laga itu, Brignoli sekaligus pemain Benevento bersorak kegirangan. Pasalnya, hasil imbang tersebut membuat mereka sukses meraih poin perdana di kompetisi Serie A.

Jens Lehmann

Jens Lehmann menjadi salah satu kiper legendaris asal Jerman. Sepanjang karirnya, kiper yang begitu akrab dengan Arsenal ini pernah membela Schalke di awal perjalanannya sebagai seorang pesepakbola profesional.

Ketika itu, tepat di tahun 1997, Lehmann yang membela Schalke masuk ke dalam daftar pemain yang ambil bagian dalam sebuah pertandingan bertajuk derby lembah ruhr melawan Borussia Dortmund. Pada pertandingan yang digelar pada 19 Desember 1997 itu, Schalke mulanya tertinggal 1-2 sampai pertandingan nyaris selesai.

Akan tetapi, ketika Schalke mendapat kesempatan tendangan sudut, Lehmann berinisiatif untuk membantu serangan. Dia yang maju sampai ke kotak penalti lawan kemudian berhasil mencetak gol di menit akhir, usai memanfaatkan bola yang sebelumnya disepak oleh pemain Schalke.

Melalui sebuah sundulan keras, Lehmann berhasil menyelamatkan timnya dari kekalahan.

Marco Amelia

Pada musim 2006/07 silam, tim Serie A, Livorno, harus berhadapan dengan Partizan Beograd di ajang Piala Europa. Pada pertandingan tersebut, setelah kalah pada partai perdananya di kandang sendiri, Livorno dituntut untuk meraih hasil positif pada laga tandangnya. Namun bukan hal mudah bagi mereka untuk bisa meraih poin.

Mereka harus tertinggal lebih dulu ketika pertandingan memasuki menit ke 70. Setelah itu, Livorno terus melancarkan serangan namun gagal temui sasaran. Hingga pada akhirnya, keberuntungan mereka datang dari seorang kiper bernama Marco Amelia. Pada pertandingan tersebut, Amelia memilih untuk maju ke kotak penalti lawan untuk membantu serangan.

Hasilnya, Amelia berhasil mencetak gol melalui tandukan setelah berhasil menyambut tendangan bebas Dario Passoni. Sontak, dirinya langsung lari ke pinggir lapangan untuk merayakan gol bersama seluruh rekan setimnya.

Andres Palop

Kisah tentang Andres Palop yang berhasil mencetak gol masih terus diingat oleh para pecinta sepakbola. Ketika itu, Palop yang membela Sevilla harus berhadapan dengan Shakhtar Donetsk di leg kedua babak 16 besar Liga Europa.

Di pertandingan yang berakhir dengan skor 3-2 untuk kemenangan Sevilla itu memunculkan Palop sebagai salah satu pencetak golnya. Ketika laga bertahan 2-1 untuk kemenangan Shakhtar, Palop memutuskan untuk maju ke kotak penalti lawan. Ketika menit pertandingan sudah menunjukkan angka 94, Palop merasa percaya diri untuk meninggalkan sarangnya.

Beruntung, perjuangannya itu sama sekali tidak sia-sia. Palop berhasil mencetak gol melalui tandukan ke pojok gawang lawan. Sontak, dirinya langsung berlari kegirangan sebagai tanda dari perayaan gol yang dicetak.

Karena skor agregat masih imbang, pertandingan lalu berlanjut ke babak tambahan.

Di babak tambahan, Sevilla berhasil menambah satu gol lewat aksi Chevanton. Dia sukses mencetak gol di menit ke 105 sekaligus mengantar Sevilla lolos ke babak selanjutnya. Berkat perjuangan yang juga dilakukan Palop pada laga itu, Sevilla terus melaju hingga ke partai final, dan berhasil mengukuhkan diri sebagai sang juara, setelah mampu mengalahkan Espanyol melalui drama adu penalti.