Bagaimana Chelsea Meredam Perlawanan City Di Final Liga Champions Eropa?

  • Whatsapp
Bagaimana Chelsea Meredam Perlawanan City Di Final Liga Champions Eropa
Bagaimana Chelsea Meredam Perlawanan City Di Final Liga Champions Eropa

Chelsea baru saja mengukir sejarah setelah mereka keluar sebagai juara di kompetisi Liga Champions Eropa. Trofi yang didapat usai kalahkan tim senegara, Manchester City, dengan skor 1-0 ini membuat mereka kini mampu kumpulkan dua trofi Liga Champions Eropa. 

Chelsea berhasil mengejutkan banyak pihak, setelah sebelumnya kebanyakan penggemar sepakbola menaruh nama Manchester City dalam daftar juara. Di atas kertas, memang lebih banyak yang mengunggulkan City ketimbang Chelsea. Padahal sejatinya, kedua tim sama-sama punya kekuatan yang luar biasa hebat. Kedua tim ini merupakan penguasa di grup masing-masing. City memuncaki Grup C, Sementara Chelsea berhasil menempati posisi pertama di Grup E. Keduanya juga berhasil mencetak lebih dari 10 gol dalam total enam pertandingan.

Bacaan Lainnya

Berlanjut ke fase gugur, dalam enam laga yang harus dihadapi, City mencetak nilai expected goals (xG) sebesar 9,74. Sementara, Chelsea memiliki nilai (xG) sebesar 11,27. Meski peluang yang didapat lebih banyak Chelsea, penyelesaian akhir mampu dimenangkan oleh City, dimana mereka sukses mencetak 12 gol, berbanding delapan yang berhasil dicetak Chelsea. 

Bila dilihat dari peluang yang didapat, City terlihat lebih garang dalam menuntaskan peluang ketimbang rivalnya di final. Namun jangan salah, di sisi lain, Chelsea unggul dalam urusan bertahan. Meski secara statistik nilai expected goals against (xGA) City adalah 4,26 dan Chelsea sebesar 4,76, Chelsea menjadi tim yang lebih tangguh dengan hanya kebobolan dua gol. Sementara itu, City kebobolan satu gol lebih banyak. 

Maka dari itu, cukup adil mengatakan bila sebetulnya Chelsea dan City sama-sama punya kekuatan luar biasa. Apalagi, lawan yang dihadapi kedua tim relatif berat. Mereka harus berjuang keras untuk bisa sampai ke partai puncak. 

Lantas apa yang akhirnya membuat Chelsea mampu meredam permainan Manchester City yang terbilang superior musim ini?

Keberadaan Thomas Tuchel

Keberhasilan Chelsea pada musim ini tak lepas dari peran penting Thomas Tuchel. Tidak bisa dipungkiri bila keberadaan Tuchel memberi pengaruh luar biasa pada kembalinya performa hebat Chelsea. Sejak ditunjuk untuk menggantikan Frank Lampard, Tuchel mampu mengemban tanggung jawab dengan sangat baik. Bermandikan pemain-pemain muda potensial, Tuchel berhasil melibas 14 pertandingan awal sebagai pelatih the Blues. Meski sempat tumbang di tangan West Brom, Tuchel berhasil meredam perlawanan Manchester City dalam dua pertandingan sekaligus, sebelum kembali bertanding melawan mereka di final Liga Champions Eropa. 

Memulai karir dengan memahami taktik Ralf Rangnick, gaya bermain gegenpressing lekat pada dirinya. Terlihat kerap menggunakan formasi tiga bek, Tuchel banyak memanfaatkan peran pemain sayap untuk melakukan serangan balik dan memanfaatkan celah di lini pertahanan tim lawan, meski pelatih asal Jerman itu tetap tidak meninggalkan permainan umpan pendek antar pemain. 

Selain itu, visi bermain yang tak kenal lelah juga berhasil dikombinasikan dengan counter-pressing yang dapat timnya lakukan saat tidak menguasai bola. Hal itu pula yang diterapkannya di laga final melawan Manchester City. 

“Kami mendorong semua orang untuk maju dan keluar, menjadi lebih berani dan membuat serangan balik yang berbahaya.”

“Itu adalah pertandingan fisik yang berat. Kami harus membantu satu sama lain,”

Secara umum, Tuchel telah memberi banyak perubahan di skuad Chelsea, sejumlah nama yang sebelumnya tampil melempem, kini mampu bertanding lebih percaya diri. Sebut saja Kai Havertz, Hakim Ziyech, Thiago Silva. Lalu, ada nama Edouard Mendy yang singkirkan Kepa di bawah mistar. 

Lalu masih ada pula nama Jorginho, Christian Pulisic, Andreas Christensen, dan Timo Werner, yang sempat jadi bahan cemoohan di era Frank Lampard. Bersama Tuchel, potensi para pemain tersebut bisa berkembang lebih maksimal dan mulai bisa kembali diandalkan.

Di partai final melawan City, nama pemain yang disebutkan sukses tampil mengesankan.

Lini Pertahanan Yang Kokoh

Seperti yang sudah disinggung di awal, Chelsea unggul dalam memanfaatkan lini pertahanan ketimbang Manchester City. Bersama Tuchel, Chelsea sudah berhasil meraih 20 kemenangan, enam hasil imbang, dan lima kekalahan. Dari seluruh pertandingan di semua kompetisi itu, Tuchel berhasil membawa Chelsea mencetak 39 gol dan hanya kebobolan sebanyak 16 gol saja. Kekalahan terbesar didapat pada laga melawan West Brom dimana mereka kalah dengan skor 2-5. 

Di partai final ini sendiri, menggunakan formasi tiga bek dan dibantu dengan dua pemain sayap, Chelsea tampil begitu luar biasa. Nama Cesar Azpilicueta, Thiago Silva, dan Antonio Rudiger, tampil sangat brilian. Meski harus diakui bila Mendy juga tampil apik, Rudiger yang berdiri di lini pertahanan patut diacungi jempol. Pemain tersebut mampu mematahkan beberapa peluang yang diciptakan Manchester City.

Menurut catatan who scored, dia berhasil melakukan dua tekel sukses dan dua kemenangan duel udara. Satu hal yang diingat adalah ketika dia berhasil memblok peluang bersih Raheem Sterling. Selain itu, meski mendapat banyak kritik, dia mampu menumbangkan pergerakan Kevin De Bruyne yang berbahaya. Tidak jarang juga dia keluar dari sarang untuk memberi tekanan kepada lawan.

Berikutnya ada Thiago Silva yang meski dipaksa keluar pada menit ke 39 karena cedera, tetap melakukan tugasnya dengan sangat baik. Dia mampu mengorganisir lini pertahanan Chelsea agar tetap aman dan melakukan penyelamatan terhadap pergerakan berbahaya Phil Foden. Gantinya, Andreas Christensen sukses menutup lubang yang ditinggalkan Silva. Dia bermain sangat cemerlang dan sukses membuat siapapun terkesan dengan sejumlah penyelamatan penting. 

Satu nama yang tak boleh tertinggal tentu Cesar Azpilicueta. Sesekali maju kedepan untuk meringankan tugas Kante dan Jorginho, Azpilicueta tetap menjadi pemain seperti biasanya. Kokoh dan tak tergantikan di lini belakang the Blues.

Dari sisi lapangan, Reece James benar-benar tampil kesetanan di laga final. Dia menjadi pemain  yang ciptakan 7 takel dan 5 sapuan sepanjang laga, dimana catatan itu menjadi yang terbanyak di antara pemain lain. 

Sementara di sisi seberang, Ben Chilwell juga sukses memainkan laga yang layak disebut sebagai salah satu yang terbaik darinya pada musim ini. Dia mampu meredam serangan yang dilancarkan City melalui Riyad Mahrez sekaligus melakukan beberapa takel penting.

Lini Tengah Yang Solid

Selain lini pertahanan yang kokoh, komposisi pemain the Blues Chelsea juga semakin berbahaya dengan adanya pemain dengan mobilitas tinggi seperti N’Golo Kante. Pria Prancis yang beroperasi di lini tengah itu sukses membuat semua penonton terkesima.

Kante disebut sebagai pemain brilian karena berhasil mematahkan poros permainan City, yang dihuni oleh Gundogan hingga Kevin de Bruyne. Kante secara brilian mampu mengganggu para pemain City dan dan menggagalkan serangan dengan intersepsi yang cerdik. 

Seperti biasa, dia tidak pernah bisa diam dan selalu sibuk menggagalkan serangan lawan. Satu momen krusial yang diciptakan tentu saat dirinya melakukan tekel ada Kevin De Bruyne di awal babak kedua.

Sepanjang pertandingan melawan the Citizens, Kante berhasil menciptakan satu umpan kunci, 85,3% umpan sukses, 2 sapuan bersih, 7 kemenangan duel, 3 tekel sempurna, dan 2 intersep. Di laga itu, tidak ada juga pemain yang berhasil melewati dirinya.  

Kontribusinya di lini tengah semakin sempurna ketika ia mampu bekerja sama dengan Jorginho. Pemain berkebangsaan Italia itu mampu tampil tenang dan menjadi penghubung yang baik antar lini. Dia tampil nyaris tanpa kesalahan hingga membuat lini tengah the Blues terlihat sangat solid.

Serangan Efektif

Di garis yang lebih maju ke depan, terdapat nama Mason Mount, yang kita tahu juga tak kalah brilian di pertandingan melawan Manchester City. Dia bahkan menjadi pemain asal Inggris pertama yang menciptakan assist di laga final Liga Champions Eropa, setelah terakhir kali Wes Brown melakukannya pada 2008 silam. 

Mason Mount dengan cerdas mengirim umpan kepada Kai Havertz, untuk kemudian pemain asal Jerman tersebut membuktikan mengapa Chelsea harus mengeluarkan dana besar untuk mendatangkannya ke Stamford Bridge. 

Dari gol yang dicetak oleh Havertz pada menit ke 42, nama Werner layak mendapat apresiasi. Meski digantikan Pulisic pada menit ke 65, pergerakannya yang membuat Ruben Dias menjauh berhasil mempermudah Havertz untuk menciptakan gol kemenangan bagi Chelsea di laga itu.

Secara keseluruhan, permainan yang dilakukan Chelsea terbilang efektif. Manchester City dominan, namun Chelsea lebih efektif dalam memaksimalkan peluang. Hal itu terbukti dari banyaknya percobaan yang dilakukan City untuk menyamakan kedudukan, namun tidak ada satupun gol yang bersarang di gawang Mendy.

Kesalahan Pep Guardiola

Selain permainan Chelsea yang begitu brilian, tidak bisa disangkal bila kesuksesan mereka di laga final juga tak lepas dari kesalahan yang dilakukan oleh Pep Guardiola. Pelatih asal Spanyol tersebut sudah menghabiskan sebanyak 1,2 miliar dollar untuk mendatangkan pemain ke Etihad Stadium. Akan tetapi, dia masih juga belum mampu memberi trofi Liga Champions Eropa untuk klub yang berbasis di kota Manchester. 

Setelah sempat membuat City tampil lebih sabar dan tak terburu-buru pada musim ini, di pertandingan final, Pep Guardiola justru kembali membuat City bermain cepat. 

Di laga itu, Pep menurunkan Gundogan karena dinilai cepat dalam menyuplai bola dan menemukan ruang kosong. Namun sayangnya, skema permainan Chelsea justru membuat sang pemain sulit menemukan ruang. Para pemain belakang ikut membantu Kante dan Jorginho dalam meredam lini tengah City. Seperti Rudiger yang terkadang keluar dari sarang dan juga Azpilicueta yang tak kalah sigap dalam menutup serangan City dari lini tengah. 

Lebih lanjut, menempatkan Sterling di sisi kiri dan memainkan Foden lebih ke belakang dengan tujuan mengincar sisi kanan Chelsea juga tak berhasil temui sasaran. Foden yang belakangan sebetulnya tampil lebih baik kala ditempatkan di sisi kiri hanya mampu ciptakan 1 dribel sukses dan 1 tembakan, tanpa pernah melakukan umpan kunci.

Selain itu, Sterling yang ciptakan dua tembakan juga gagal melakukan umpan sukses dan umpan kunci.

Kegagalan rencana Pep Guardiola yang tampak ingin lebih cepat melakukan serangan di sisi kanan Chelsea hancur oleh kedisiplinan yang ditunjukkan Azpilicueta dan Reece James. 

Guardiola kehilangan magis, City kehilangan kreativitas. 

Di laga final melawan Chelsea, the Citizens cuma melepas tujuh tendangan dengan sekali mengarah ke gawang dan menciptakan lima umpan kunci. Lebih dari itu, mereka juga hanya menciptakan peluang sebesar 0,52, dimana itu menjadi yang terkecil dari seluruh laga yang dilakoni pada musim ini.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *