Beranda blog Halaman 537

Akal-Akalan di Balik UEFA Nations League

Laga persahabatan yang sekarang dikompetisikan dengan nama UEFA Nations League (UNL) memang banyak memunculkan pertanyaan. Oh.. supaya lebih seru atau mungkin lebih banyak yang menonton, bisa saja. Namun tak berhenti di situ saja, ternyata dari segi jadwal banyak menuai kritik, kok bisa? Ya, banyak yang sudah mengeluh tentang kompetisi ini.

Banyak hal yang harus dievaluasi tentang kompetisi ini, terutama kecurigaan mengenai pemasukan ke kantong operator. Apakah ini hanya akal-akalan mereka saja? Atau mungkin ini adalah bagian dari cara untuk memodernisasi sepakbola biar tak kurang peminatnya?

Apa Kata UEFA

Sebenarnya turnamen ini seperti terasa dipenting-pentingkan, namun sebenarnya tak terlalu penting juga sih. Sejak pertama kali dimainkan pada tahun 2018 lalu perhelatan UEFA Nations League berdalih bertujuan untuk meningkatkan kualitas sepakbola dan mengurangi jumlah laga persahabatan yang dinilai kurang kompetitif.

Menurut UEFA, pertandingan persahabatan saja tak menimbulkan pertandingan antara timnas yang seimbang. Untuk itulah mereka membentuk kompetisi yang berformat liga dengan diisi oleh negara-negara di level yang sama.

Namun, banyak pihak yang menilai Nations League tidaklah harus diadakan jika hanya untuk alasan tersebut. Apalagi dalam jeda internasional pun sebenarnya sudah diisi oleh beberapa kompetisi resmi seperti kualifikasi Piala Eropa dan Piala Dunia yang juga banyak memakan waktu dan persiapan.

Dengan format 55 negara, dibagi 4 grup sesuai ranking dari Grup A sampai D. Dengan sistem promosi dan degradasi, kata UEFA, membuat kompetisi ini makin seru dan menarik. Dengan begitu para klub akan makin serius mencapai tujuan. Tak terkecuali klub yang berada di ranking terbawah di grup B sampai D.

Belum lagi prize money yang disediakan. Namun dari semua hal yang menjadi alasan UEFA untuk menyelenggarakan kompetisi ini, tak cukup untuk meyakinkan kepercayaan publik. Apakah benar hanya karena hal itu saja tujuan kompetisi ini?

Dikritik Pelakunya Sendiri

Polemik UEFA Nations League seakan tiada henti-hentinya. Memasuki musim ketiganya, liga antarnegara Eropa itu kembali menuai sejumlah protes dari beberapa pelaku sepak bola. Pep Guardiola, Jurgen Klopp, hingga mantan pelatih Arsenal, Arsene Wenger pun menilai kompetisi tersebut begitu merugikan klub dan negara dalam beberapa aspek vital.

Bahkan Klopp sampai geleng-geleng kepala dengan adanya Nations League. Bagaimana tidak? Terkhusus di Inggris, kompetisi tersebut menimbulkan efek domino bagi para klub di Premier League yang kompetisinya padatnya minta ampun. Mereka kini bisa memainkan tujuh laga dalam rentang waktu 23 hari.

Bahkan seorang pemain profesional seperti Toni Kroos saja sampai blak-blakan melontarkan perkataan bahwa UEFA membuat pesepakbola layaknya boneka mereka. “Kompetisi ini dibuat untuk menghisap fisik semua pesepak bola dan untuk meraup uang sebanyak-banyaknya,” Kata Kroos.

Baru-baru ini beberapa protes juga terus mengalir dari para pemain seperti Van Dijk, Courtois, Modric, sampai De Bruyne. Mereka bersuara lantang seperti apa yang dilontarkan Kroos. De Bruyne mengatakan bahwa kompetisi ini sama sekali tak penting bagi dirinya. Kemudian Van Dijk menilai selain tak penting juga aneh. Para pemain yang diforsir di klub hingga akhir musim, kemudian tak ada istirahat lagi dan langsung memainkan 4 laga dalam rentang 10 hari dengan home away pula.

Itulah sebabnya para pemain seperti Van Dijk dan De Bruyne diperlakukan khusus oleh pelatih timnasnya untuk hanya memainkan 1 match saja dan setelah itu diberi waktu untuk berlibur. Kritik pedas juga kemudian dilontarkan oleh Luka Modric, mantan peraih Ballon D’or itu bahkan sempat mengecam UEFA bahwa kompetisi ini tidak normal dan tidak manusiawi.

Rekan Modric di Madrid, Thibaut Courtois juga pernah melayangkan kritik pedas kepada UEFA yang dianggap tak peduli dengan kondisi pemain. Bahkan, ia terang-terangan menyebut bahwa UEFA hanya peduli soal uang.

Cuan! Cuan! Cuan!

Sekarang tak dipungkiri bahwa sepakbola sudah dieksploitasi untuk tujuan ekonomi oleh mereka yang memiliki kekuasaan. Menggelar banyak turnamen dengan varian sistem kompetisi yang berbeda adalah cara bagaimana mengeruk uang dari lapangan hijau.

Eropa adalah jagonya untuk urusan memaksimalkan sepakbola sebagai mesin uang. Menjadikan pemain layaknya robot yang harus bisa bermain bukan lagi dalam hitungan pekan, tapi harian. Jika sebelumnya jadwal hanya sepekan sekali, sekarang menjadi dua bahkan tiga kali dalam sepekan.

Tak khayal dengan kehadiran UEFA Nations League ini berimbas pada naiknya pendapatan otoritas tertinggi sepakbola Eropa tersebut. Hal itu terungkap di Kongres tahunan UEFA. Mereka mengumumkan total pendapatannya sebesar 3,86 miliar euro untuk musim pertama terselenggaranya Nations League di 2018/2019. Itu artinya naik 38% dari sebelum ada Nations League yakni di angka 2,79 miliar euro.

Tentu pemasukan tadi juga mencakup pendapatan Liga Champions dan Liga Europa. Belum lagi di tahun 2021/22 karena dibuat lagi kompetisi yakni UEFA Conference League, tak tau lagi pemasukan UEFA bertambah berapa lagi sekarang.

Yang jelas faktor uang tak bisa dipungkiri, semakin banyak kompetisi maka hak siar akan datang. Dan di mana semakin pertandingan itu menarik, sponsor juga akan banyak yang masuk. Meskipun di sisi lain Presiden UEFA, Ceferin berdalih bisnis dan uang bukan segalanya.

Apakah Harus Dibubarkan?

Terlepas dari itu, keberadaan turnamen Nations League perlu adanya evaluasi. Mengingat hal itu berimbas pada banyak pihak, mulai dari pemain, pelatih, dan klub. Sebelum adanya Nations League saja, klub-klub Eropa sudah mengeluh akibat jadwal padat menyusul dampak dari jeda internasional. Dengan adanya kompetisi tersebut, jelas semakin memadatkan jadwal klub di kompetisi Eropa.

Jadwal yang padat akan menimbulkan waktu istirahat yang semakin sedikit. Hal tersebut pada akhirnya membuat para pemain lebih cepat kelelahan, hingga berujung pada fisik yang tidak bugar. Kondisi semacam itu kemudian akan berujung kepada cederanya para pemain. Bahkan beberapa pemain tercatat sudah memasuki ruang perawatan, karena cedera yang dialaminya berkat korban turnamen ini.

Dengan iming-iming hadiah yang cukup menggiurkan, tak jarang beberapa timnas bersikap serius dalam melakoni turnamen ini demi pemasukan. Fokus mereka pun akan terpecah dari kualifikasi Piala Eropa maupun Piala Dunia. Sedangkan sejatinya roh jatidiri timnas itu lebih pada tujuan mengantarkan kebanggaan negaranya yakni tampil di Piala Eropa maupun Piala Dunia, bukan hanya mengejar uang di Nations League.

Pro kontra Nations League seperti ini tampaknya masih akan terus berlanjut. UEFA harus segera mengevaluasi kelanjutan Nations League. Sebab, dampak negatif kompetisi tersebut lebih tinggi dibandingkan manfaatnya. Hanya saja untuk itu, kita mesti menunggu. Karena tanpa kekuatan besar sebagaimana gagalnya ide Super League, maka meminta UEFA mengevaluasi Nations League hanya akan berakhir menjadi pepesan kosong.

https://youtu.be/v1aJU-Ywk0k

Sumber Referensi : foottheball, theathletic, sportingnews

Membaca Arah Baru Manchester United di Bawah Richard Arnold

0

Ed Woodward telah menuju pintu keluar Old Trafford. Ia yang tak lagi menjabat sebagai CEO Manchester United melahirkan dua reaksi yang berbeda. Pertama, reaksi kesedihan yang mungkin saja ia alami karena tidak lagi mendapat kekuasaan di Manchester United.

Kedua, reaksi kegembiraan dari fans Manchester United. Betapa fans MU sangat menanti-nantikan momen itu. Momen di mana Woodward yang sering disebut salah satu penyakit MU akhirnya pergi. Dengan begitu salah satu sumber kekacauan di tubuh Setan Merah akhirnya pergi, dan para fans berhak bersukacita.

Posisi Woodward digantikan Richard Arnold, dan per Februari 2022 lalu ia secara resmi ditunjuk sebagai CEO Manchester United. Tentu saja sepanjang Februari 2022 hingga musim tuntas, kabar Arnold sebagai CEO tak menyeruak. Namun pada bursa transfer seperti sekarang adalah saat yang tepat untuk melihat bagaimana arah MU di bawah Arnold.

Siapa Arnold?

Pertanyaannya, siapa Richard Arnold? Kok dia bisa mengkudeta Woodward yang begitu perkasa di pucuk pimpinan? Arnold bukan orang sembarangan. Ia adalah seorang akuntan sekaligus sebelumnya menjabat sebagai direktur pelaksana Manchester United.

Richard Arnold juga merupakan kawan lama Ed Woodward. Keduanya pernah bertemu di Universitas Bristol, tepat saat Arnold sedang menempuh studinya di bidang biologi. Pria yang kini berusia 50 tahun itu lulus dari sana tahun 1993.

Arnold sudah menjabat sebagai direktur pelaksana Manchester United dari tahun 2013. Meski ia sejatinya datang lebih dulu ke Manchester United pada tahun 2007. Walaupun ia berteman dengan Ed Woodward, tapi langkah dan gaya manajerialnya berbeda dengan Woodward.

Baru menjabat saja, Richard Arnold sudah berterus terang soal kondisi Manchester United. Ia ketika ditunjuk sebagai CEO, seperti dikutip INews, mengatakan ini adalah mimpi buruk yang jadi kenyataan. Rekaman yang akhirnya bocor itu, secara tidak langsung menunjukkan internal Manchester United tengah bermasalah.

Penghubung Penggemar dengan Glazer

Tampaknya, CEO baru Manchester United itu telah benar-benar belajar bagaimana berkampanye yang bisa menarik simpati penggemar. Dalam sebuah laporan, setelah Arnold resmi menjadi CEO klub, sekelompok penggemar Manchester United berkumpul di sebuah pub di dekat rumahnya.

Sebagaimana seorang pemimpin baru yang sedang cari muka, Arnold mendatangi para penggemar itu. Ia datang ke penggemar, membelikan mereka minuman, mendengarkan keinginan mereka, dan apa yang mungkin bakal dilakukan klub. Betul sekali! Persis seperti calon gubernur yang blusukan ke pasar.

Gaya kepemimpinan Arnold sedikit banyak kelihatan. Bahwa ia tidak mau dianggap sebagai kacung Glazer. Sekalipun dari hierarki struktural, posisinya memang berada di bawah Glazer. Jadi kekuasaan penuh tetap berada di pemilik Manchester United.

Arnold memposisikan dirinya sebagai penyambung lidah rakyat seperti Soekarno ketika awal-awal menjadi presiden Indonesia. Ia akan menjadi penghubung antara fans Manchester United dengan Glazer. Apa yang direncanakan Glazer akan tersampaikan ke penggemar melalui Arnold.

Sebaliknya, Arnold juga akan menjadi penyalur suara fans ke Glazer. Walaupun berlaku syarat dan ketentuan. Apa pun itu, citra semacam inilah yang tengah dibangun oleh Arnold. Ia tak ingin dituding sebagai CEO yang hanya hobi ‘membakar uang’.

Mantan pelatih Manchester United, Louis Van Gaal pernah mengatakan bahwa MU adalah ‘klub komersil’, bukan klub sepakbola. Dan iya, Arnold sudah memulai perannya untuk itu. Ia bergerak untuk mengamankan kemitraan merek, termasuk sponsor Team Viewer. Arnold juga bergeliat dalam mendirikan kantor klub di berbagai kota.

Tidak Buru-Buru dalam Transfer

Salah satu yang mengusik hati nurani Richard Arnold adalah bagaimana Manchester United sangat boncos dalam bursa transfer. Dalam sebuah studi Observatorium Sepakbola yang juga dikutip The Athletic bahkan menyebutkan Setan Merah mencatatkan pengeluaran bersih yang lebih tinggi dari klub-klub Eropa lainnya, dalam waktu 10 musim terakhir.

Manchester United mengeluarkan uang sebanyak 1,3 miliar euro (Rp20,2 triliun) hanya untuk transfer pemain. Sementara pendapatan mereka hanya di angka 395 juta euro (Rp6,1 triliun). Kondisi inilah yang justru Arnold sampaikan kepada para pendukung.

“Kami menghabiskan satu milyar untuk pemain. Itu tidak mudah. Saya tidak senang dengan kondisi ini, dan khawatir. Kita harus segera menyelesaikan masalah ini di musim depan,” kata Arnold kepada para penggemar.

Sangat jarang kita melihat seorang direktur eksekutif mengatakan demikian. Mungkin dari sekian puluh CEO klub sepakbola, hanya Richard Arnold yang berani berterus terang bahwa selama ini manajemen klub yang ia pimpin sangatlah buruk. Dan itu ia sampaikan langsung kepada para pendukung.

Maka dari itu, yang Arnold lakukan adalah paling utama untuk tidak terburu-buru dalam bursa transfer. Ia bahkan pernah disebut tak mendukung keputusan manajer MU yang baru terkait transfer. Padahal Arnold menaruh kepercayaan penuh pada direktur olahraga, John Murtough dan manajer Erik ten Hag.

Sekalipun MU boncos dalam keuangan. Arnold tidak mempermasalahkan kalau harus mengeluarkan uang untuk transfer pemain. Ia sudah menganggarkan uang untuk transfer pemain dan itu terbatas. Makanya ia hanya ingin MU merekrut pemain yang benar-benar diinginkan manajer dan orang yang ia percaya.

Rencana ke Depan

Richard Arnold telah menyampaikan proposalnya ke para pendukung Manchester United. Rencana-rencana Arnold untuk United disambut positif oleh para pendukung. Apalagi ia sudah mempercayakan John Murtough dan Darren Fletcher dalam operasional sepakbola Manchester United.

Kepercayaan terhadap orang-orang yang dipekerjakan menjadi langkah yang signifikan. Hal semacam itu tidak kita lihat selama delapan setengah tahun terakhir saat Sir Alex Ferguson dan David Gill pensiun.

Selain membangun Manchester United dari segi transfer yang jelas. Transfer yang tidak terkecoh dengan pengeluaran uang yang banyak, Richard Arnold juga memikirkan pengembangan lain. Ia memiliki rencana untuk melibatkan penggemar dalam setiap kebijakan.

Bukan hanya itu, Arnold memiliki ide untuk merevitalisasi Old Trafford. Jadi urusan Arnold bukan hanya mengembangkan United dari segi sumber daya manusianya, tapi juga fasilitasnya. Ia yang memiliki kesamaan dengan Woodward dalam segi bisnis, juga akan mencari sponsor baru untuk Manchester United.

Arnold akan mencari sebanyak mungkin uang untuk mewujudkan rencananya. Lebih jauh Arnold mengatakan bahwa ia sangat membenci kondisi ruang ganti Manchester United yang keruh. Ia tahu bahwa di sana sedang ada masalah. Para pemain muda, seperti Jadon Sancho dan Marcus Rashford mendapat perlakuan buruk.

“Saya ingin menyatukan mereka kembali,” kata Arnold. Ya, CEO baru itu tahu betul bahwa para pemain di ruang ganti perlu dukungan dari rezim baru, dan ia akan melakukannya.

Ia sadar untuk saat ini, ia belum bisa menjanjikan apa-apa untuk Manchester United. Yang bisa ia lakukan berikutnya adalah tetap bekerja. Bahwa Arnold akan terbuka untuk berbicara dengan para penggemar dan menjawab email apa pun. Rencananya sih, begitu.

https://youtu.be/yjWCOyaDrKs

Sumber referensi: MEN, LastWordOnSports, TheAthletic

Federico Gatti, Mantan Kuli Bangunan, “The Next Giorgio Chiellini”

Sebagai allenatore timnas Italia, Roberto Mancini punya satu kebiasaan unik. Pelatih yang acap disapa Mancio itu kerap kali memanggil debutan untuk unjuk gigi ke dalam skuad Gli Azzurri. Mancio bahkan tak mempermasalahkan jika pemain tersebut berasal dari klub semenjana.

Baru-baru ini, salah satu nama debutan yang dipanggil Roberto Mancini untuk menghadapi UEFA Nations League 2022/2023 adalah Federico Gatti. Pemanggilan pemain berusia 23 tahun itu cukup mengejutkan. Pasalnya, saat mendapat panggilan, Gatti masih berstatus sebagai pemain klub Serie B, Frosinone.

Statusnya di timnas Italia juga cukup unik. Federico Gatti diketahui mendapat panggilan Roberto Mancini pada bulan Mei kemarin. Bersama 52 pemain lainnya, Gatti mengikuti program kamp pelatihan timnas Italia di Coverciano yang diadakan selama 3 hari, dari 24 Mei hingga 26 Mei 2022.

Beruntung, penampilan Federico Gatti sukses memikat Roberto Mancini. Ia kemudian mendapat kesempatan debutnya bersama Gli Azzurri pada 11 Juni kemarin ketika Italia berjumpa dengan Inggris. Penggawa Frosinone itu bahkan dipercaya tampil sebagai starter dan tampil luar biasa kala membantu Italia menahan imbang Inggris 0-0.

Lalu, siapa sebenarnya Federico Gatti?

Memulai Karier dari Divisi Terbawah, Gatti Pernah Jadi Kuli Bangunan

Sebelum tampil di Serie B bersama Frosinone, Federico Gatti menapaki jalan yang begitu terjal untuk menjadi seorang pemain profesional. Lahir di Kota Rivoli pada 24 Juni 1998, Gatti mulai menimba ilmu sepak bola di akademi Chieri sebelum bergabung dengan tim muda Torino dan Alessandria. Namun, selama berada di 2 tim tersebut, ia gagal menembus tim utama.

Karier sepak bola Federico Gatti kemudian terjun bebas ke level Liga Amatir kala ia jadi pemain pinjaman di klub Divisi 6 Liga Italia, Pavarolo pada Februari 2015. Di musim 2015/2016, ia berhasil terpilih sebagai pemain muda terbaik sekaligus mengantar Pavarolo naik kasta.

Lalu, di musim berikutnya, Gatti yang masih berstatus sebagai pemain Alessandria dipinjamkan ke klub Divisi 5, Saluzzo. Namun, karena minimnya menit bermain, ia kembali ke Pavarolo di pertengahan Januari 2017. Ia bertahan di sana hingga klub tersebut terdegradasi ke divisi enam di akhir musim 2017/2018.

Masa-masa terakhir Gatti bersama Pavarolo juga tak berakhir baik. Sebagai anggota senior dan pemain tertinggi dalam tim, Gatti harus rela berganti posisi menjadi seorang bek karena banyaknya pemain yang memilih mundur dari klub. Ini terjadi setelah Pavarolo mengalami kesulitan finansial yang membuat mereka tak sanggup menggaji pemainnya.

Selesai dengan Pavarolo, Gatti yang bertransformasi menjadi bek tengah direkrut oleh klub Liga Amatir lainnya, Verbania. Di sana ia bertahan 2 musim dan berhasil mengantar Verbania naik kasta ke Serie D.

Akan tetapi, masa-masa saat Federico Gatti menjadi seorang pemain amatir tidaklah mudah. Selain bergaji kecil, selama masa-masa kelam tersebut, Gatti tak sepenuhnya bermain bola. Saat berusia 17 tahun, ia putus sekolah. Gatti kemudian harus rela menyingsingkan lengan bajunya untuk mencari nafkah bagi keluarganya setelah ayahnya menganggur.

Mengutip dari Corriere Della Sera, Gatti pernah bekerja sebagai kuli bangunan, perakit jendela, memperbaiki atap, dan bekerja di pasar umum selama sembilan hingga sepuluh jam dalam sehari.

“Apakah bekerja di lokasi konstruksi itu sulit? Sangat. Saya bekerja sebagai kuli bangunan, perakit jendela, dan memperbaiki atap. Saya bangun saat fajar, bahkan dalam cuaca dingin. Itu sangat sulit tetapi penuh perjuangan,” kata Federico Gatti, dikutip dari IFTV.

Mengutip dari Calciomercato.com, setiap harinya Gatti bangun pukul 3 atau 4 pagi untuk segera menuju ke pasar. Ia kemudian bekerja selama 9-10 jam membanting tulang untuk keluarganya hingga larut malam. Barulang setelah itu ia mulai berlatih sepak bola.

Selama menjalani rutinitas tersebut, ia baru makan malam pukul 11 malam sebelum pergi ke tempat tidur untuk kembali bersiap menjalani rutinitas beratnya. Pekerjaan super melelahkan itu diketahui dilakoni Federico Gatti selama menjadi pemain di Liga Amatir, khususnya dari tahun 2015 hingga 2018.

Terus Bermimpi, Federico Gatti Direkrut Juventus!

Akan tetapi, meski harus rela putus sekolah dan bekerja demi keluarganya, mimpi Federico Gatti untuk menjadi seorang pemain profesional tak pernah padam. Kehidupan sepak bolanya kemudian mulai membaik saat dirinya direkrut klub Serie C, Pro Patria di pertengahan 2020.

Direkrut oleh kontestan Serie C jadi awal Federico Gatti menginjakkan kaki di level profesional. Bersama Pro Patria, ia jadi andalan dan nyaris selalu tampil 90 menit dalam 36 capsnya.

Hanya setahun di Serie C, Gatti kembali naik kasta saat klub Serie B, Frosinone menebusnya dengan total harga 250 ribu euro di musim panas 2021. Hanya dalam waktu singkat, Gatti jadi salah satu bek muda terbaik di Serie B. Ia juga cukup produktif dengan torehan 3 gol dalam 18 penampilan pertamanya untuk Frosinone.

Performa itulah yang menjadi alasan Juventus untuk segera membeli Federico Gatti di bursa transfer musim dingin 2022. Kabarnya, Si Nyonya Tua menebus Gatti dengan mahar 7,5 juta euro plus bonus sebesar 2,5 juta euro bergantung performa si pemain. Gatti diketahui dikontrak Si Nyonya Tua selama 4,5 tahun.

Ada kisah unik di balik transfer Federico Gatti ke Juventus. Kota Rivoli yang menjadi tempat tinggal Gatti dan keluarganya hanya berjarak beberapa kilometer dari Kota Turin. Kebetulan, keluarganya merupakan pendukung Torino, rival sekota Juventus.

Oleh karena itulah, ketika Gatti pulang ke rumah seusai menandatangani kontrak dengan Juve, sang kakek menangis. Namun, itu bukanlah tangisan kesedihan, tetapi tangis kebahagiaan. Sebab, jika mundur ke belakang, kehidupan Gatti 5 tahun yang lalu sangatlah berbeda.

Sebenarnya, Gatti nyaris bergabung dengan Torino yang diketahui lebih dulu meminatinya. Namun, mengutip dari Goal.com, Gatti hanya butuh 20 menit untuk menerima tawaran Juventus yang datang di menit-menit akhir.

Akan tetapi, Si Nyonya Tua tak langsung mengangkutnya ke Turin. Gatti dipinjamkan kembali ke Frosinone di sisa musim 2021/2022. Keputusan tersebut terbukti tepat. Gatti jadi salah satu bek tertangguh di Serie B musim lalu dengan catatan 10 blok, 26 tekel, 61 intersep, dan 128 sapuan dalam 35 penampilan.

Selain itu, ia juga tampil produktif dengan sumbangan lima gol dan dua asis. Catatan impresif itulah yang juga jadi alasan Roberto Mancini memberi kepercayaan kepada Federico Gatti untuk tampil pertama kalinya bagi timnas Italia di ajang UEFA Nations League. Sebuah kesempatan mahal yang langsung dibayar kontan oleh penggawa anyar Juventus itu dengan performa menawan.

Penampilan solidnya di laga melawan Inggris disinyalir membuat penggawa The Three Lions kewalahan. Alhasil, Inggris tak banyak membuat peluang berbahaya dan membuat laga berkesudahan dengan skor 0-0.

Menurut catatan Opta, Gatti terlibat dalam 11 duel, lebih banyak dari pemain Italia lainnya di Stadion Molineux. Dia juga jadi pemain Italia dengan jumlah blok dan intersep terbanyak di laga tersebut. Selain itu, Gatti juga tercatat sebagai pemain Italia yang paling banyak dilanggar.

“Saya bermain di Serie B musim ini, jadi berada di sana dengan pemain yang berada di Liga Champions, itu sedikit menegangkan, tetapi saya mengabaikannya dan bermain seperti yang saya lakukan bahkan di divisi yang lebih rendah. Saya tidak melihat wajah siapa pun, saya hanya melakukannya. Saya mendedikasikan pertandingan ini untuk keluarga dan pacar saya, yang selalu berada di sisi saya,” kata Federico Gatti, dikutip dari FootballItalia.

Federico Gatti, “The Next Giorgio Chiellini”?

Atas performa gemilangnya itu, banyak media Italia memuji Federico Gatti sebagai “The Next Giorgio Chiellini”. Ada beberapa alasan yang membuat pemain yang akan segera berusia 24 tahun itu dijuluki sebagai penerus Giorgio Chiellini.

Di laga debutnya untuk timnas Italia, Gatti mengenakan kostum bernomor 3. Kebetulan, nomor tersebut sangat identik dengan sosok Giorgio Chiellini. Kebetulan lagi, Federico Gatti juga mengidolakan sosok Chiellini.

Sebagai pengagum Chiellini, penampilan Gatti juga dianggap mirip dengan sang idola. Pernyataan tersebut keluar dari mulut sporting director Frosinone yang mendifinisikan Gatti sebagai Giorgio Chiellini dengan kaki Leonardo Bonucci.

Sementara itu, presiden Frosinone, Maurizio Stirpe menilai bahwa Federico Gatti bisa melakukan yang lebih baik daripada Chiellini. “Apakah dia Chiellini yang baru? Tidak, menurut saya dia akan menjadi lebih kuat,” kata Maurizio Stirpe dikutip dari Juvefc.com.

Memang, masih terlalu dini untuk menilai kemampuan Federico Gatti. Namun, kemungkinan dia akan menjadi salah satu andalan Juventus di musim depan mengingat Chiellini yang sudah angkat kaki. Pelatih Juventus, Massimiliano Allegri dikabarkan akan memberi kesempatan kepada pemain bertinggi 190 cm itu di kamp pramusim nanti.

Memang, membayangkan Gatti sebagai pengganti Chiellini musim depan masih cukup sulit. Namun, jika ia mampu menampilkan performa apik selama pramusim, bukan tidak mungkin Gatti akan mampu menembus skuad utama Juventus musim depan.

Terlepas dari itu, perjalanan karier Federico Gatti patut disanjung. Jika sanggup menembus skuad utama Juventus di Serie A musim depan, Gatti akan tercatat sebagai salah satu pemain yang merasakan seluruh tingkatan liga di sepak bola Italia. Perjalanan kariernya itu mirip dengan legenda Juventus, Moreno Torricelli yang juga bermain sepak bola amatir sebelum bergabung dengan Juve.

Apa yang kini didapat Federico Gatti adalah buah dari semua pengorbanan yang ia lakukan di masa lalu. Dan akhir yang bahagia selalu datang bagi mereka yang tak pernah putus asa untuk meraih mimpinya. Selamat berjuang Gatti! Semoga kisah heroiknya ini bisa jadi inspirasi.

https://youtu.be/17Qd7OkWYEs

***
Referensi: JuventusNews24, Inews, Corriere, Calciomercato, Linchiestaquotidiano, Goal, Corriere, FootballItalia, JuveFC.

Berita Bola Terbaru 21 Juni 2022 – Starting Eleven News

Berita Bola Terbaru dan Terkini

SPALLETTI BERSITEGANG DENGAN PRESIDEN AURELIO DE LAURENTIIS

Luciano Spalletti melaksanakan tugasnya dengan baik sebagai suksesor Gennaro Gattuso pada musim 2021/22. Spalletti membawa Napoli finis di posisi ketiga Serie A. Namun, kabar dari Football Italia mengatakan ada banyak perbedaan pendapat antara Spalletti dan sang presiden Aurelio De Laurentiis. Mulai dari peluang mereka untuk memperebutkan gelar Scudetto di musim depan hingga rencana di bursa transfer musim panas. 

GELANDANG PSG CURHAT TAKUT DIBUNUH MESSI

Rekan setim Messi di Argentina dan PSG, Leandro Paredes, mengungkapkan bahwa  La Pulga pernah ingin membunuhnya. Peristiwa itu terjadi pada musim 2020/21 saat Messi masih berseragam Barcelona. Pada musim tersebut Blaugrana dihajar PSG 1-4 pada leg pertama babak 16 besar Liga Champions di Camp Nou. Paredes yang jadi starter di PSG berbicara sesuatu kepada rekan satu timnya. Sial bagi Paredes, Messi mendengar ucapan itu. “Dia jadi sangat marah. Dia mengacaukan saya. Itu buruk. Dia ingin bunuh saya, dan saya ingin pulang,” ucap Paredes.

INTER, MILAN, DAN MONZA TERTARIK PADA ACERBI

Defender Lazio, Francesco Acerbi dikabarkan jadi rebutan beberapa klub Liga Italia seperti AC Milan, Inter Milan, dan Monza pada musim panas ini. Lazio sebagaimana dikutip dari Football Italia, akan mematok harga sebesar 5-7 juta euro (sekitar Rp 77 miliar-Rp 109 miliar) dan mereka akan menantikan proposal penawaran yang masuk. Hingga kini belum ada kepastian ke mana Acerbi akan berlabuh, tetapi ketiga klub peminat tersebut akan menawarkan hal yang berbeda kepada pemain 34 tahun itu.

KOULIBALY TAK TERTARIK GABUNG JUVENTUS

Pemain Napoli asal Senegal, Kalidou Koulibaly dikabarkan menjadi incaran Juventus yang sedang berupaya mendatangkan bek baru. Mereka baru saja ditinggal oleh Giorgio Chiellini yang kontraknya habis. Football Italia mengabarkan bahwa Koulibaly sudah tahu minat Juventus itu. Tapi dia tak tertarik untuk menjadi asuhan Massimiliano Allegri, entah kenapa alasannya. 

HIGUAIN MERINDING SAAT INGAT PERJALANAN KARIRNYA

Gonzalo Higuain saat ini sudah berkarir di Major League Soccer (MLS). Tapi semasa di Eropa dia selalu memperkuat tim besar. Salah satunya Real Madrid, klub yang ia perkuat sejak awal 2007. Higuain kala itu berkesempatan bermain bersama bintang-bintang sekaliber Raul Gonzales hingga David Beckham. Bomber Argentina pun menceritakan kehangatan para pemain hebat di Real Madrid tersebut. Higuain mengaku sangat merinding jika harus mengingat rekan-rekannya di masa lalu.

RONALDO INGIN BAWA MARCELO DAN ALVES KE VALLADOLID

Pemilik klub Real Valladolid, Ronaldo, ingin klub yang baru promosi ke La Liga itu menggaet dua pemain belakang senior, Marcelo dan Dani Alves. Dikutip Mirror, Ronaldo mencari dua bek sayap, yang akan memberi klub dorongan publisitas serta menawarkan sesuatu di lapangan. Sumber yang sama melaporkan bahwa gaji tidak menjadi masalah bagi Real Valladolid. Meski itu bukan tugas yang mudah untuk membawa keduanya ke klub yang bermarkas di Stadion Jose Zorrilla.

KATA ZIDANE SOAL TANDUKAN KE MATERAZZI

Jelang perayaan ulang tahun Zinedine Zidane ke-50 yang akan jatuh pada 23 Juni 2022, acara televisi Prancis, Telefoot melakukan wawancara dengan sang maestro. Salah satu topik yang dibahas mengenai final Piala Dunia 2006 antara Italia vs Prancis, di mana ada momen Zidane menanduk dada Marco Materazzi. Belakangan terungkap bahwa ia melakukannya karena Matrix menghina saudara perempuannya. “Saya tak bangga dengan apa yang saya lakukan, tapi itu bagian dari masa lalu saya,” ujar Zidane. 

PSG AGRESIF TAWARI GAJI SEBESAR MBAPPE, VINICIUS TETAP PILIH MADRID

PSG ternyata sempat serius ingin meminang Vinicius Jr dari Real Madrid. PSG pun akhirnya berani mengajukan tawaran untuk sang pemain pada bursa transfer musim panas 2021. PSG bahkan menawari gaji sebesar 40 juta euro (sekitar Rp 621,6 miliar) per tahun. Jumlah tersebut hampir sama dengan perolehan gaji Mbappe setelah memperpanjang kontraknya pada tahun ini. Akan tetapi, nominal yang fantastis ternyata tidak menggetarkan hati Vinicius maupun Real Madrid.

GATTUSO INGIN BOYONG DUO MILAN KE VALENCIA

Pelatih anyar Valencia Gennaro Gattuso sedang berburu pemain AC Milan untuk memperkuat tim di musim depan. Dua nama pemain AC Milan yang dijadikan target adalah Samu Castillejo dan Tiemoue Bakayoko. Khusus untuk Bakayoko, dia adalah pemain Chelsea yang dipinjam AC Milan hingga 2023. Disebutkan bahwa dua pemain itu hampir pasti akan meninggalkan Rossoneri musim panas ini.

LIVERPOOL AKAN PERPANJANG KONTRAK EMPAT PEMAINNYA

Dikutip Sportbible, Raksasa Premier League Liverpool dikabarkan akan memberikan perpanjangan kontrak kepada empat pemainnya sekaligus, salah satunya adalah Naby Keita. Saat ini kontrak Keita di Liverpool tersisa 12 bulan saja. Fans Liverpool sendiri terbagi menjadi dua jika berbicara soal Keita. Ada yang menyebut ia layak dipertahankan dan yang lain berkata sebaliknya.

DEMI REAL MADRID, RUDIGER TOLAK GABUNG BARCELONA

Real Madrid mengontrak Rudiger dengan status bebas transfer dari Chelsea. Pada konferensi pers pertamanya, Rudiger mengungkapkan beberapa hal, salah satunya ia mengakui bahwa Barcelona tertarik untuk mendapatkan jasanya sebelum dia membuat keputusan untuk meninggalkan Chelsea dan bergabung dengan Madrid. “Ada tawaran dari Barcelona tapi saya bilang kepada saudara [yang sekaligus agen] saya: Real Madrid atau tidak sama sekali,” ucapnya.

PSG AJUKAN TAWARAN BARU UNTUK BOYONG MILAN SKRINIAR

Menurut Fabrizio Romano, PSG sedang mempersiapkan tawaran balasan untuk bek tengah Slovakia, Milan Škriniar sebesar 60 juta euro plus tambahan setelah tawaran terbaru sebesar 50 juta euro plus tambahan ditolak. Dikabarkan sebelumnya, PSG siap melipatgandakan gaji bek Inter itu jika mau berlabuh ke Paris pada bursa transfer pemain musim panas ini. Saat ini Skriniar memiliki gaji sebesar 4,5 juta euro atau sekitar Rp 70 miliar per musim di Inter.

AJAX RILIS JERSEY ANYAR UNTUK MUSIM DEPAN

Ajax telah merilis tampilan klasik untuk seragam kandang baru mereka untuk musim 2022/23. Jersey baru Ajax ini masih memakai warna merah dan putih tradisional, tetapi kali ini dengan sentuhan detail garis emas di lengan, ujung lengan, dan kerah. Jersey kandang Ajax 2022/23 telah dirilis melalui toko resmi Ajax di Belanda, namun belum tersedia untuk dipesan di tempat lain.

GUARDIOLA: BERNARDO SILVA AKAN BERTAHAN DI MAN CITY

Manajer Manchester City, Pep Guardiola membuka pintu bagi Bernardo Silva jika ingin meninggalkan Etihad Stadium. Sebagaimana diketahui, Silva merupakan target teratas dalam daftar Barcelona. Guardiola mengatakan tidak ingin mempertahankan pemain yang tidak merasa bahagia dalam timnya. Namun, ia yakin Silva tidak akan meninggalkan Manchester City di musim panas ini.

BUANG POCHETTINO, PSG KINI DEKATI CHRISTOPHE GALTIER

Dilansir Talksport, Paris Saint-Germain mendekati Christophe Galtier setelah dicampakkan Zinedine Zidane. Manajer Nice itu menjadi salah satu incaran Les Parisiens untuk nantinya menjadi pengganti Pochettino sebagai pelatih kepala. PSG sendiri dikabarkan telah mencapai kesepakatan pemutusan kontrak dengan Pochettino dan staf pelatihnya yang sebenarnya masih memiliki durasi kerja selama satu musim.

GIGGS UMUMKAN MUNDUR SEBAGAI PELATIH WALES

Ryan Giggs mengumumkan dirinya mundur dari jabatan pelatih Timnas Wales. Legenda Manchester United itu sudah lama didesak meninggalkan jabatan pelatih lantaran tersandung kasus pemukulan kepada perempuan. Keputusan mundur dari Timnas Wales diambil lantaran Giggs tak mau mengganggu persiapan negaranya menuju Piala Dunia 2022. Sebab, Wales baru saja memastikan diri lolos ke putaran final Piala Dunia pertama mereka sejak 64 tahun terakhir setelah diasuh asisten Giggs, Robert Page.

FIFA DAN WORLD ATHLETICS TINJAU REGULASI TRANSGENDER

Badan sepakbola dunia (FIFA) dan otoritas atletik dunia World Athletics, menyatakan akan meninjau regulasi mereka menyusul sikap terbaru Federasi Renang Internasional (FINA) yang membatasi keikutsertaan atlet transgender dalam perlombaan nomor-nomor putri. Juru bicara FIFA mengatakan, saat ini pihaknya sedang meninjau regulasi keikutsertaan berdasarkan gender dan berkonsultasi dengan pemangku kepentingan ahli.

TOTTENHAM MUNDUR, ERIKSEN MERAPAT KE MU?

Manchester United tampaknya akan memenangkan perburuan Christian Eriksen. Ini disebabkan pesaing MU, Tottenham mundur dari perburuan sang playmaker. Jurnalis Fabrizio Romano dalam laporannya menyebut Eriksen sebentar lagi akan membuat keputusan mengenai masa depannya. Ia tahu bahwa tim-tim di Inggris akan segera memulai pra musim. Jadi ia ingin bisa bergabung dengan tim barunya saat pra musim dimulai.

WEST HAM REKRUT NAYEF AGUERD DARI RENNES

West Ham resmi mengangkut bek Nayef Aguerd dari klub Liga Prancis Rennes pada bursa transfer musim panas ini. Klub Liga Inggris tersebut mengucurkan dana sebesar 35 juta euro atau sekitar Rp 544 miliar untuk memboyong sang pemain. Aguerd menjadi rekrutan pertama West Ham untuk musim depan dan mereka mengikat pemain asal Maroko itu dengan kontrak berdurasi lima tahun.

DILIRIK JUVE, DAVID NERES LEBIH PILIH PINDAH KE BENFICA

Benfica resmi mengumumkan bahwa mereka mendapatkan pemain timnas Brasil, David Neres dari Shakhtar Donetsk. Sebagai informasi, Neres merupakan salah satu target Juventus musim panas ini. Namun sang winger lebih memilih bergabung ke klub Portugal, Benfica. Pemain internasional Brasil itu menandatangani kontrak yang berlaku selama lima musim (hingga 2027).

JUVENTUS SELANGKAH LAGI DATANGKAN FILIP KOSTIC

Pemain asal Serbia, Filip Kostic dikabarkan telah sepakat untuk bergabung bersama Juventus pada bursa transfer musim panas kali ini. Berdasarkan laporan media Jerman Bulinews, Bianconeri tinggal bernegosiasi dengan Eintracht Frankfurt selaku klub pemilik Kostic untuk merampungkan kepindahan pemain berusia 29 tahun itu. Kostic dikabarkan menerima tawaran kontrak berdurasi tiga tahun dari Si Nyonya Tua.

RAMPUNGKAN TRANSFER, MARCOS ANTONIO SIAP JALANI TES MEDIS DI LAZIO

Pemain asal Brasil, Marcos Antonio dikabarkan telah mendarat di bandara Fiumicino menjelang serangkaian tes medis yang akan dilakukannya dengan Lazio. Antonio akan bergabung dengan Lazio dari Shakhtar Donetsk dengan transfer permanen senilai 10 juta euro termasuk bonus. Pemain 22 tahun tersebut akan meneken kontrak berdurasi lima tahun di Stadio Olimpico.

ETO’O AKUI LAKUKAN PENGGELAPAN PAJAK SAAT DI BARCELONA

Samuel Eto’o diwajibkan membayar denda sebesar 1,8 juta euro dan hukuman penjara selama 22 bulan, yang telah ditangguhkan. Hukuman ini dijatuhkan Pengadilan Spanyol terkait kasus penggelapan pajak yang dilakukan Eto’o saat memperkuat Barcelona. Eks Timnas Kamerun itu mengaku bersalah atas pelanggaran pajak di Pengadilan Kriminal Barcelona, dengan nilai 3,9 juta euro sehubungan dengan kegagalan menyatakan pendapatan dari hak citranya antara tahun 2006 dan 2009.

BAYERN TIDAK AKAN BIARKAN LEWANDOWSKI PERGI

Bayern Munchen bersikeras bahwa Robert Lewandowski akan tetap di barisan penyerang mereka musim depan. Klub berjuluk Die Roten mengabaikan permintaan yang diajukan oleh sang pemain dan minat FC Barcelona tentang keinginan untuk merekrutnya. Uli Hoeness, mantan pemain dan mantan Presiden klub Bayern, mengatakan seperti yang dilansir Football Espana, bahwa mereka masih akan mengandalkan Lewandowski. 

SAMUEL UMTITI DIMINATI KLUB PROMOSI GIRONA

Girona FC meraih jatah promosi terakhir ke La Liga 2022/23. Kepastian Girona naik kelas terjadi berkat kemenangan 3-1 di leg kedua final play-off promosi Segunda Division atas Tenerife, Senin (20/6) dini hari WIB. Kini, kub dengan mayoritas sahamnya dimiliki City Football Group, dikaitkan dengan Samuel Umtiti. Bek Barcelona itu sudah bukan pilihan utama Xavi dan El Barca tak akan menghalangi sang pemain untuk pergi.

The Pogmentary: Senjata Makan Tuan Paul Pogba

0

Paul Pogba baru saja merilis film dokumenter yang menceritakan dirinya sendiri berjudul The Pogmentary: Born Ready. Dalam film dokumenter yang sebetulnya lebih cocok disebut series itu terbagi dalam lima episode. Melalui itu, Pogba bercerita tentang perjalanan yang membuatnya menjadi seperti sekarang ini. Termasuk apa saja yang terjadi selama membela Manchester United.

Film dokumenter yang diproduksi oleh Amazon Studios itu menceritakan tentang beberapa kenangan yang menghangatkan hati tentang masa kecilnya dan hari-hari awalnya di akademi Manchester United. 

Namun dalam film tersebut, ada ucapan yang menimbulkan kontroversi. Pemain internasional Prancis itu mengatakan bahwa Manchester United telah melakukan kesalahan dengan tidak menawarkan kontrak perpanjangan kepadanya.

Statement Pogba di “The Pogmentary” 

Pogba tidak sendirian. Dalam series, ada pula pendapat Zulay, istri Pogba dan mendiang agen Mino Raiola, serta pengacara Rafaela Pimenta yang turut ambil bagian menyusun narasi sebagai bumbu kisah Pogba yang tersaji dalam satu tayangan.

Pada episode pertama ada fragmen yang menunjukan perkembangan Pogba di Manchester United dalam bentuk animasi. Sedangkan kisah bagaimana Pogba bermain di lapangan atau sekedar membahas performanya di laga-laga tertentu cukup sedikit. Kita lebih banyak disuguhkan monolog dan obrolan-obrolan Pogba dengan sang agen, teman, atau anak-anaknya.

Di beberapa adegan, obrolan Pogba dengan sang agen menarik perhatian. Salah satunya ketika Pogba berkata bahwa dirinya pernah mengalami cedera, tapi Manchester United sama sekali tidak menunjukkan simpati terhadapnya. Oleh sebab itu, ia memilih bergabung dengan Timnas Prancis untuk menaikan kepercayaan dirinya.

Selain itu, Pogba juga menjelaskan bahwa ia merasa bahwa Manchester United tak serius dalam menangani kontraknya. United dianggap hanya menggertak dan tak benar-benar menawarkan perpanjangan kontrak. Pernyataan itu juga didukung oleh sang agen yang mengatakan kalau United seharusnya melakukan hal yang lebih untuk mempertahankan sang pemain.

Terlebih hubungan sang agen dan Manchester United memang tak begitu baik. Jadi tak heran apabila mendiang Mino Raiola jadi kompor di film dokumenter Paul Pogba. Orang-orang yang berada di film dokumenter itu pun kebanyakan lebih membela Pogba daripada bersikap netral. Kita tak menemukan sudut pandang yang lebih yang disuguhkan dokumenter tersebut.

Pernyataan-pernyataan yang mengemuka memancing siapa pun untuk berkomentar. Maka bukan hal aneh bila setelahnya beragam komentar dari orang maupun media bermunculan. Persis setelah The Pogmentary tayang di Amazone Prime pada 17 Juni kemarin, Paul Pogba langsung jadi berita utama dalam beberapa hari terakhir. Bermacam-macam headline berita pun mencuat.

Menimbulkan Reaksi

Seorang jurnalis dari media Kota Manchester, Inggris, Manchester Evening News, Tyrone Marshall menilai dokumenter Pogba tersebut tak relevan dan cenderung meleset dari kenyataan. Marshall, melalui twitter pribadinya bahkan tak segan mengatakan film tersebut buruk. Itu ia tunjukan dengan emoji muntah yang ia tulis di akhir twit. 

Film itu hanya menceritakan tentang keyakinan Pogba untuk hengkang dari klub, namun tak kesampaian hingga berakhirnya kontrak. Selain itu, ia juga mencantumkan statistik bahwa Pogba hanya mampu tampil bugar dalam 50% pertandingan bersama Manchester United. Itu statistik yang buruk bagi pemain termahal klub.

Pernyataan negatif Pogba terhadap mantan klubnya itu juga mengundang komentar dari mantan striker Leeds United, Noel Whelan. Ia mengomentari statement Pogba yang ingin membuktikan kepada United bahwa mereka telah melakukan kesalahan dengan menunda penawaran kontrak baru untuknya.

Whelan mengkritik Paul Pogba atas sikap sombongnya itu dan mengatakan bahwa pemain berusia 29 tahun itu tidak pantas mendapatkan kontrak baru di Manchester United. Dilansir dari Dailypost, menurut Whelan, MU sudah mengambil langkah tepat dengan tidak menawarkan kontrak baru pada Pogba. Bahkan Whelan mencap Pogba sebagai perekrutan terburuk Setan Merah. 

Benarkah Demikian?

Namun, benarkah United tak berupaya untuk mempertahankan Pogba? Jelas tak sepenuhnya benar. Pihak United sudah beberapa kali menawarkan perpanjangan kontrak dengan gaji sebesar 300 ribu pounds atau sekitar Rp5 miliar per pekan. Tawaran tersebut lebih besar 10 ribu pound dari gaji sebelumnya. Namun, Pogba menilai gaji tersebut terlalu kecil baginya.

Dilansir Mirror, United bahkan sempat menawarkan gaji sebesar 500 ribu pounds atau sekitar Rp9 miliar per minggu, dengan rincian gaji sebesar 400 ribu pound plus bonus untuk membuat Pogba bertahan di MU. Namun, tawaran ini justru menimbulkan kegaduhan di ruang ganti. 

Jika Pogba menerima jumlah gaji segitu, otomatis ia akan menjadi pemain dengan bayaran termahal di Premier League. Sementara rekan-rekan satu timnya tak suka itu. Karena mereka tahu bahwa Pogba jarang bermain dan terkadang lebih fokus dengan hal-hal di luar Manchester United.

Selama ini, Pogba memang kerap mendapat sorotan akan hal itu. Alih-alih fokus ke sepakbola, Paul Pogba justru berfokus pada keluarganya, citranya, gaya rambutnya, teman-temannya, hobi lain, atau apa pun itu di luar Manchester United. 

Selain itu, pernyataan Pogba yang mengatakan bahwa ia merasa tak dihargai selama berseragam Manchester United juga terpatahkan dengan kalimat yang diungkapkan oleh Rafaela Pimenta, pengacaranya sendiri.

Dalam salah satu cuplikan, Pimenta menyatakan bahwa Paul Pogba “dibangun” sebagai sebuah merek. Ada Pogmoji, brand, dan souvenir lain. Bahkan ia memiliki acaranya sendiri. Dari pernyataan Pimenta yang kini jadi pengganti Raiola itu menunjukkan bahwa citra Pogba bukanlah dibangun sebagai seorang pesepakbola, melainkan ‘merek’.

Tentu kalimat itu menjadi blunder tersendiri bagi image Pogba. Membangun image Pogba sebagai sebuah merek tentu sangat bertolak belakang dengan tujuan Pogmentary yang ingin menjelaskan kisah Pogba dari sudut pandang sepakbola. So, cukup sulit bukan menunjukan empati kepada sebuah “merek”? 

Apa Yang dilakukan MU Kepada Pogba?

Ironisnya, sekarang Manchester United tengah mengubah paradigmanya tentang bagaimana memperlakukan para pemain. Setelah krisis ekonomi pasca pandemi, MU kini lebih berhati-hati dalam mengeluarkan uang untuk para pemainnya. 

Manchester United tak lagi mau menggelontorkan banyak uang hanya untuk mempertahankan satu pemain, tak terkecuali Paul Pogba. Toh penampilan Pogba bersama United tak begitu spesial. Di samping fokusnya kerap terganggu, Pogba juga jarang bermain sejak awal musim lantaran cedera. Atau mungkin saja ia terlalu sibuk membuat film dokumenternya. 

Statistiknya bersama United juga tak mentereng. Sebagai seorang gelandang, jumlah assist Pogba bahkan tak menyentuh 10 di liga domestik. Dengan performa Pogba yang lebih sering mengempis daripada mengembangnya itu, wajar kalau United tak sudi mengambil resiko menawarkan gaji selangit pada Pogba.

Manajer baru Setan Merah, Erik ten Hag pun sama sekali tidak keberatan jika Pogba tidak bisa tinggal. Apalagi gelandang Prancis itu tidak masuk rencana Ten Hag. Daripada terus mencengkram gelandang sombong itu, Ten Hag lebih memilih mengejar mantan anak asuhnya, Frankie de Jong, kendati masih enggan mencapai kata “sepakat”.

https://youtu.be/3FugDLqR07I

Sumber: The Athletic, Foottheball, Football365, 90min, MEN

Barcelona Bisa Selamat Dari Krisis, Saatnya Angkut Pemain?

Akhirnya masalah pelik keuangan Barcelona yang melanda selama ini akan punya jalan terang. Lampu hijau sudah dinyalakan pihak Barcelona demi menyelamatkan klub. Tapi tunggu dulu, ini hanya lampu hijau dan harus segera dilakukan prosesnya untuk terealisasi.

Kalau sudah begini, paling tidak untuk permasalahan jangka pendek artinya Barca mungkin bisa memenuhi syarat yang ditentukan La Liga. Mereka pun sekarang bisa mengarungi musim depan sesuai dengan rencana.

Opsi Cerah Dari Socio

Barcelona pada pertengahan Juni 2022 ini mengadakan pertemuan yang menyangkut arah kebijakan untuk menyelamatkan Barca dari krisis. Barca bagaimanapun sahamnya dimiliki oleh yang namanya Socio/Socios. Socio/Socios itu adalah beberapa kumpulan individu pemegang sah saham Barcelona yang sudah bertahun-tahun mempunyai kartu member dan memiliki hak dalam menentukan kebijakan klub, bahkan memilih presiden sekalipun.

Nah, para Socio ini mengadakan pertemuan extraordinary atas dasar undangan presiden yang dinamai Assembly atau perkumpulan majelis tinggi Barca. Dari ribuan yang diundang hanya sekitar 600 hingga 700 yang datang. Pertemuan dilakukan secara online, itu pun disisipi dengan donasi penggalangan dana oleh para Socio. Duh kasihan ya, sampai segitunya. Namun yang lebih penting dari itu, pertemuan ini membahas isu sensitif yakni bagaimana cara Barca agar keluar dari krisis.

Dan atas usulan Presiden Laporta, ada dua opsi yang ditawarkan. Opsi realistis itu menjual aset yakni BLM (Barcelona Licencing And Merchandising) dan TV Rights. Total saham yang dijual dari BLM yakni sebesar 49,9% artinya Barca masih memiliki paling tidak separuhnya dari saham BLM. Kemudian dari TV Rights, Barca kelihatannya akan menjual dengan nilai 25% untuk durasi 25 tahun.

Namun ini dijual tidak kepada CVC yang ditawarkan oleh La Liga selama 50 tahun itu. Dua usulan itupun akhirnya disetujui oleh Socio dalam pertemuan itu. Di mana 568 Socio mendukung, 65 menentang dan 13 abstain.

Jika di total pendapatan dari dua proyek penjualan aset itu, Barca akan mendapatkan sekitar 700 sampai 800 juta euro. Artinya itu lebih dari cukup bagi pemasukan Barca untuk keluar dari krisis. Seperti diketahui untuk jangka pendek ini, Barca harus segera tutup buku pemasukan dan batas gaji sebelum tanggal 1 Juli 2022. Barca diwajibkan untuk membayar sebesar 600 juta euro untuk bisa mendaftarkan para pemainnya musim depan termasuk pemain baru yang didatangkan secara gratis.

Asumsi Barca maksimal dari negosiasi pendapatan dua proyek penjualan aset itu mendapat total 800 juta euro. Berarti 600 juta bisa untuk tutup buku, dan sisanya 200 juta bisa buat kampanye rencana musim depan Barca. Artinya dengan membeli para pemain, Barca punya budget yang cukup.

Ditambah rencana cuci gudang para pemain yang memakan gaji tinggi. Hal itu membuat keuangan Barca dalam mengarungi musim depan kini tak mengkhawatirkan. Rencana untuk memotong gaji pemain lagi pun bisa ditunda, kecuali para pemain yang bergaji tinggi kembali sadar dengan keadaan klub.

Saatnya Bangun Tim

Semua lampu hijau kesepakatan Socio dengan Dewan Barca ini bisa menjadi batu loncatan untuk memperbaiki keuangan. Ini adalah pembelajaran yang luar biasa dan perlahan harus mengubah kebijakan demi membangun Barca dengan benar, sehingga musim depan tak harus jual aset-aset lagi seperti ini lagi.

Bagaimanapun Laporta dan para eksekutifnya yang baru telah membuat beberapa kemajuan selama 15 bulan terakhir. Termasuk merestrukturisasi sebagian besar utang klub sebesar 1 miliar euro lebih. Laporta juga mengeluarkan pemain berpenghasilan tinggi termasuk Lionel Messi. Tapi itu saja tak cukup, Barcelona masih hidup dengan krisis.

Membangun tim dari keterpurukan menjadi jalan yang harus ditempuh rombongan Laporta di awal kepemimpinannya. Rombongan Laporta kini sedang mencarikan pasar yang realistis bagi proyek cuci gudangnya. Para pemain seperti Dest, Umtiti, Pjanic, Braithwaite, Neto, Lenglet, sampai Depay masuk dalam daftar buang untuk mengurangi beban gaji. Selain itu gaji para senior seperti Jordi Alba,Busquest dan Pique juga harus segara direstrukturisasi.

Pembangunan skuad baru Xavi untuk kampanye musim depan pun harus dilakukan secara matang dan penuh pertimbangan. Semuanya harus dipertimbangkan dengan pihak manajemen agar hasilnya tak amburadul lagi seperti era Bartomeu.

Menakar Rencana Komposisi Xavi Musim Depan

Kampanye Xavi musim depan adalah kembali bersaing dengan Madrid di La Liga serta perlahan bangkit mentalnya di Eropa. Namun Xavi sebelum melangkah ke situ, harus evaluasi terlebih dahulu apa yang terjadi musim lalu, terutama pada akhir musim yang makin menurun performanya ketimbang awal kebangkitannya ketika di paruh musim.

Komposisi Xavi akhir musim lalu mengalami penurunan terutama setelah kandas atas Frankfurt. Barca mengalami kemunduran dengan kalah atas Cadiz, Rayo dan Villarreal di kandang sendiri. Ini sebenarnya termasuk alarm bagi Xavi. Bahwa mereka juga belum sempurna. Masih ada celah yang bisa dimanfaatkan lawan. Xavi harus belajar tentang itu.

Kedalaman skuad menjadi penting bagi Xavi musim depan. Keberadaan para pemain baru paling tidak 5-6 pemain pun dibutuhkan. Gimana caranya? Ya, dengan tertolongnya Barca dari krisis keuangan, harusnya Barca bisa memanfaatkan sisa uangnya yang diasumsikan 200 juta euro untuk membangun komposisi Xavi musim depan.

Lewandowski yang dibanderol 50 juta euro mestinya bisa kebayar, Kounde yang mau ditikung dari Chelsea senilai 50-an juta, juga harusnya bisa kebayar. Jadi uang pun masih sisa 100 juta-an dan bisa untuk mencari pemain lainnya plus mendaftarkan pemain macam Kessie maupun Christensen.

Lewy dan Kounde bagaimanapun pemain prioritas pembelian Xavi musim depan. Terutama kebutuhan seorang Kounde, apalagi jika Dest pergi dan Alves yang sudah say goodbye. Keberadaan Kounde sangat penting di pos bek kanan. Ditambah lagi dengan kemungkinan datangnya Marcos Alonso sebagai pelapis Alba di bek kiri.

Format 4-3-3 ala Xavi dengan pola permainan yang mengandalkan perpaduan pressing tinggi, direct football dan possesion football masih akan dipertahankan musim depan. Semua posisi dari belakang ke depan mungkin sudah terpenuhi. Tinggal antisipasi saja jika Barcelona akhirnya benar-benar melepas Frankie De jong dan Dembele. Barca harus mencari pemain yang sepadan. Kabarnya Bernardo Silva dan Raphinha sudah disiapkan untuk solusi penggantinya.

Kini dengan keadaan Barca yang segera bisa keluar dari krisis, tinggal bagaimana bergerak merumuskan rencana musim depan demi bersaing di level teratas. Sambil perlahan membangun tim yang sehat seperti dulu lagi. Bersabarlah Cules, tanda-tanda kebangkitan sebentar lagi hadir, naikkan ekspektasimu perlahan, namun jangan terlalu tinggi dulu.

https://youtu.be/K4N5cAqgVJE

Sumber Referensi : theathletic, marca, sport.es

Pemain Bintang yang Ingin Disingkirkan Klubnya Sendiri

0

Nasib pemain, sekalipun ia berstatus pemain bintang, acap kali tidak menentu. Apalagi pada bursa transfer. Walaupun dulu ketika didatangkan penuh dengan ambisi dan optimisme yang menyala-nyala, tapi ketika seorang pemain gagal memenuhi ekspektasi tersingkirlah sudah.

Suatu klub acap kali membuang para pemainnya. Tak peduli itu pemain berstatus bintang, membawa hasil positif ke klub, atau dulu dibeli dengan harga yang mahal. Terlebih jika klub membutuhkan suntikan dana untuk ikut berdansa di bursa transfer berikutnya.

Belum lagi rencana klub juga akan menjadi alasan mengapa mereka perlu menyingkirkan seorang pemain. Ditambah apabila klub itu berganti pelatih. Wah, kemungkinan besar bakal berubah juga rencananya, dan pemain bintang yang sudah didatangkan belum tentu akan bertahan.

Well, berikut ini adalah pemain bintang yang ingin disingkirkan klubnya sendiri. Catat ya, yang ingin disingkirkan klubnya, bukan ia yang ingin pergi. Nah, siapa saja mereka?

Alexis Sanchez (Inter Milan)

Pemain berkebangsaan Chile, Alexis Sanchez menjadi salah satu saksi sekaligus pemain kunci kala Inter meraih gelar scudetto-nya yang ke-19. Pada tahun 2020, Alexis Sanchez diboyong oleh La Beneamata dari raksasa Liga Inggris, Manchester United.

Inter mendatangkan sang pemain dengan status bebas transfer. Penampilannya di Inter juga sebetulnya cukup, jika tidak bisa menyebutnya mengesankan. Sebab Alexis bermain dalam 57 pertandingan yang dilakoni Inter di Serie A pada musim 2020-21 dan 2021-22.

Alexis Sanchez paling tidak sudah mengemas 12 gol dan 10 asisst di Serie A. Lewat catatan-catatan tadi, kalau mau Inter bisa saja tetap mempertahankan Alexis Sanchez. Toh kontraknya baru akan berakhir pada tahun 2023 mendatang.

Namun, kenyataannya Inter memang sudah tidak menginginkan servis Alexis. Perburuan para pemain baru, plus niat Simone Inzaghi yang akan menduetkan duo Argentina, Lautaro Martinez dan Paulo Dybala mengancam posisi Alexis Sanchez.

La Beneamata bahkan terus terang sudah tidak ingin memberi gaji Sanchez lagi. Dalam laporan La Gazzetta dello Sport yang dikutip pula Sempre Inter, mengungkapkan bahwa Inter ingin menghentikan membayar gaji Sanchez senilai 7 juta euro (Rp109,2 miliar) itu.

Hal itu supaya tercipta ruang untuk anggaran membeli pemain baru. Demi bisa menyingkirkannya, Inter disebut rela melepas Alexis Sanchez dengan memberinya pesangon daripada menunggu tim lain membelinya.

Gerard Piqué (Barcelona)

Nasib menyedihkan tengah menimpa mantan bek Manchester United, Gerard Pique. Hubungan asmaranya dengan penyanyi Shakira kandas. Mengutip laporan The Sun, Shakira mengklaim bahwa Pique tidak setia. Pique dan Shakira pun berpisah setelah 11 tahun menjalin hubungan.

Sudah jatuh tertimpa paralon. Dadu nasib mengarahkan Pique ke kesengsaraan setelah klubnya, FC Barcelona dikabarkan tak lagi membutuhkan jasanya. Kendati Pique sudah rela gajinya dipangkas agar meringankan keuangan Blaugrana.

Media Spanyol, Sport mengungkapkan bahwa Pique dibuang oleh klubnya. Laporan lain menyebut kalau Manajer Barcelona, Xavi mengatakan bahwa ia tak lagi membutuhkan jasa Pique. Hal itu lantaran perilakunya yang tidak profesional di luar lapangan dan kondisi fisik yang memburuk.

Pique sendiri tengah terjerat masalah pelik. Dilaporkan Sporf, pada April 2022, Pique mendapat banyak tuduhan terkait kesepakatan ‘gelap’. Perusahaan pemain Barca itu dilaporkan membantu asosiasi sepakbola Spanyol dalam kesepakatan dengan otoritas Arab Saudi terkait tuan rumah Supercopa Espana di Kerajaan Teluk tersebut.

Pique dikabarkan mendapat komisi sebesar 6 juta euro (Rp93,6 miliar) per tahun, dalam jangka empat tahun ke depan. Namun, Pique membantah segala tuduhan. Meski begitu, ia bisa saja pergi dari Barcelona atas tindakannya yang tidak profesional.

Mesut Ozil (Fenerbahce)

Mesut Ozil, playmaker Timnas Jerman yang pernah menuai kejayaan bersama Real Madrid menemui kenestapaan ketika ia disingkirkan dari timnas dan memilih ke Istanbul. Ozil telah membunuh masa depannya dengan bergabung ke Fenerbahce.

Pemain yang semestinya masih bisa berkiprah di Eropa itu, justru buruk di Fenerbahce. Klub Turki itu beberapa waktu lalu telah mencoret Mesut Ozil dari skuadnya. Sebelum Fenerbahce betul-betul mengumumkan mencoret Ozil dari skuad, raksasa Turki itu telah muak dengan penampilan Ozil.

Fenerbahce ingin sekali menyingkirkan Ozil. Apalagi si pemain terkenal sudah mulai malas bermain sepakbola. Ia tak memberikan inspirasi pada Fenerbahce sebagaimana harapan semua orang. Bahkan sebaliknya, Ozil beberapa kali terlibat masalah dengan sang pelatih.

Ozil juga kerap menolak bermain untuk Fenerbahce. Kendati ia melakukannya konon karena gajinya belum dibayar tepat waktu, walau klubnya membantah hal itu. Fenerbahce bagaimanapun tidak bisa mentolerir tindakan yang merugikan klub.

Luka Jovic (Real Madrid)

Keberadaan Luka Jovic di Real Madrid ada tapi tak kelihatan. Ia jarang bermain untuk Los Merengues. Ia adalah pria yang diabaikan oleh publik Santiago Bernabeu, atau malah Real Madrid itu sendiri. Kita sulit untuk menilai performa Jovic, karena ia sendiri jarang bermain.

Musim ini saja, Jovic hanya bermain 15 kali di La Liga. Sebagai seorang striker, pada musim 2021-22, Luka Jovic hanya bisa mencetak sebiji gol saja. Tak ayal itu membuat Los Blancos ingin sesegera mungkin memutuskan hubungan dengan Jovic.

Real Madrid sepertinya bersikeras untuk mengusir Luka Jovic. Penampilan buruk, tidak konsisten, dan gaji yang tinggi disinyalir menjadi faktornya. Luka Jovic juga tak masuk rencana Ancelotti. Bahkan untuk rotasi atau memulainya dari bangku cadangan sekalipun.

Mauro Icardi (PSG)

Tamatlah sudah nasib striker Argentina, Mauro Icardi di Paris Saint-Germain. Perpanjangan kontrak Mbappe dan gaji tinggi yang didapat si pemain, membuat striker seperti Icardi mesti menemukan pintu keluar Parc des Princes.

PSG juga sudah tidak membutuhkan lagi jasa pemain yang dulu diboyong dari Inter seharga Rp800 miliar lebih itu. Meskipun Icardi mengisyaratkan bahwa dirinya ingin bertahan di PSG.

Paris Saint-Germain justru memasukkan Icardi ke daftar jual klub untuk musim panas mendatang. Ia bersama Arnaud Kalimuendo masuk dalam daftar jual PSG. Sejauh ini PSG memang sangat ingin menjual Icardi. Les Parisiens bahkan sampai meminta bantuan agen Jorge Mendes untuk meluluskan rencananya itu.

Dalam sebuah laporan dikutip Sportsmole, PSG meminta agen Jorge Mendes untuk mencoba meyakinkan Wolverhampton Wanderers agar mau mengontrak Icardi. Tak peduli apakah itu permanen atau sementara. Sebab dengan penjualan Icardi, PSG juga diuntungkan karena mereka masih mengincar Gianluca Scamacca dari Sassuolo.

Sergio Ramos (PSG)

Walaupun baru saja direkrut pada musim lalu, Sergio Ramos tampaknya sudah tidak lagi masuk rencana PSG musim depan. Ia yang sering cedera dan melewatkan cukup banyak pertandingan, membuat PSG mau atau tidak harus segera memberinya lampu hijau untuk meninggalkan Parc des Princes.

Menurut laporan Marca, para petinggi PSG menghendaki Ramos untuk pergi. Masalah cedera yang sering membuatnya absen itulah yang jadi pertimbangan. Kendati kontraknya baru akan selesai tahun 2023 mendatang.

Sebagaimana pemain lain yang ingin dijual, Ramos masih berniat untuk bertahan di PSG. Namun, cedera yang membuatnya tidak tampil di Liga Champions, padahal dulu ia direkrut untuk membawa kejayaan PSG di kompetisi tersebut, jadi pertimbangan Les Parisiens untuk menjualnya. Akan tetapi, PSG tampak akan kesulitan melakukannya karena belum ada klub yang bisa membayar gaji Sergio Ramos.

https://youtu.be/lQa5WwZLhfs

Sumber referensi: CBSSports, Goal, TheAthletic, TheRealChamps, PSGTalk, AS, GetFootballNewsFrance

Naturalisasi Timnas Italia yang Tak Lepas dari Politik

Kalau bicara pemain keturunan, pasti erat kaitannya dengan naturalisasi. Proses naturalisasi memang sudah jamak dilakukan di banyak negara. Bahkan sudah kapan tahun dimulai. Begitu pula Italia.

Negara sebesar Italia yang tak kekurangan talenta sepakbolanya itu pun sering menaturalisasi pemain. Lantas apa yang menyebabkan Italia memilih untuk menaturalisasi? Padahal dari kota-kota Negeri Pizza untuk mendapat satu pemain saja sangat mudah? Hal inilah yang terkadang juga sering menjadi bahan perdebatan yang tiada akhir.

Faktor Oriundi

Bercerita sedikit tentang banyaknya diaspora atau orang keturunan yang ada di Italia. Singkatnya pada periode 1861-1920-an, di mana pada saat itu feodalisme Italia membuat para rakyat kecil Italia yang tertindas memilih untuk bermigrasi ke Amerika Latin, terutama Brazil dan Argentina.

Nah, dalam kaitanya dengan sepakbola, banyak para imigran ini sukses berkarir sebagai pesepakbola di negeri orang seperti Argentina dan Brazil. Namun, perubahan terjadi karena krisis kudeta di negara Amerika Latin seperti Argentina pada tahun 1930-an. Yang membuat para pemain itu akhirnya memilih kembali ke tanah kelahirannya.

Berkat mereka yang kembali ke Italia, dunia akhirnya mengenalnya dengan istilah “Oriundi”. Oriundi adalah istilah bagi orang-orang yang tidak lahir di Italia, tapi datang ke Italia sebagai imigran atau memiliki darah Italia sehingga berhak untuk menjadi orang Italia.

Di sisi lain, pada periode yang sama yakni 1930-an, pemimpin fasisme, Benito Mussolini menemukan cara baru untuk menegakkan supremasi fasismenya, yakni dengan sepak bola. Dia tahu betul timnas yang hebat bakal mampu menghadirkan rasa persatuan yang kuat, sekaligus membuat nama Italia kian masyhur di kancah internasional. Italia pun lantas berani menyelenggarakan Piala Dunia 1934.

Mussolini pun memanggil beberapa Oriundi macam Anfilogino Guarisi yang merupakan kelahiran Brasil dan Raimundo Orsi, Luis Monti, dan Enrique Guaita yang merupakan kelahiran Argentina. Empat pemain itu berhasil tampil meyakinkan dan membawa pulang gelar juara Piala Dunia pertama bagi Italia di rumah sendiri. Tujuan Mussolini pun tercapai, sepakbola telah dijadikannya sebagai alat propaganda ideologi.

Memasuki era 1960-an, kiprah Oriundi akhirnya dibatasi oleh Federasi Serie A. FIFA juga melarang pemain untuk mewakili lebih dari satu negara sepanjang karier. Alhasil, usai penampilan terakhir para Oriundi macam Omar Sívori, Angelo Benedicto, maupun Miguel Sormani pada 1963, butuh waktu empat dekade lagi untuk melihat Italia kembali diperkuat oleh seorang Oriundi.

Cibiran Terhadap Oriundi

Dari akar masalah datangnya para Oriundi ini, menjadi aneh ketika pemimpin fasis Mussolini yang lagi gencar-gencarnya menegakkan fasisme, yang berakar pada anti keturunan, eh malah memutuskan untuk merekrut pemain keturunan.

Di sisi lain, buah dari keberadaan Oriundi ini tak luput dari cibiran. Banyak yang mencibir para Oriundi tatkala mereka gagal di beberapa kejuaraan. Sejak mempertahankan gelar dunia mereka pada tahun 1938, rekor turnamen Italia selanjutnya benar-benar mengecewakan.

Mereka tersingkir di babak grup Piala Dunia pada tahun 1950, 1954, dan 1962, bahkan gagal lolos pada tahun 1958. Salah satu yang mencibirnya adalah Gianni Brera, seorang penulis sepakbola Italia yang mengecap Oriundi sebagai “pemalas” usai kegagalan di Piala Dunia 1962.

Beberapa cibiran pun datang di era modern sekarang. Banyak tokoh yang menganggap dengan berhasilnya Italia sebagai juara Eropa di 1968 dan juara dunia di 1982 dengan tanpa oriundi pun italia sebenarnya bisa berprestasi.

Para tokoh sepakbola macam Cesare Maldini, Arrigo Sacchi sampai Roberto Mancini pun ikut dalam mencibir para Oriundi. Cesare Maldini dengan tegas mengecam penggunaan Oriundi tahun 2011 dengan mengatakan Italia kembali ke masa lalu yang negatif. Mengacu pada Thiago Motta sebagai Oriundi baru di Timnas Italia.

Oriundi seperti Amauri Carvalho, Cristian Ledesma, Dani Osvaldo, Gabriel Paletta maupun Camoranesi bagi Maldini justru merusak otentisitas tim nasional, dan merusak tujuan utama sepakbola internasional sebagai kendaraan olahraga untuk mewakili rakyat asli suatu negara.

Komentar tentang Oriundi yang agak berbau rasis juga dikatakan Arrigo Sacchi pada 2015. Ia mengatakan bahwa sepakbola Italia sekarang tanpa martabat atau kebanggaan karena terlalu banyak pemain asing terutama kulit hitam yang bermain di tim junior.

Dari segi politik praktis, pemimpin partai sayap kanan Lega Nord, Matteo Salvini juga menjadikan kegagalan Italia menembus Piala Dunia 2018 dan Piala Dunia Qatar 2022 sebagai pembenaran untuk pandangannya yang nasionalis sempit dan anti imigran.

Cibiran itu pun anehnya pernah dilontarkan pelatih Italia sekarang, Roberto Mancini. Ia mengkritik Timnas Italia jaman Antonio Conte ketika memanggil Oriundi seperti Eder maupun Franco Vazquez. Mancini mengatakan bahwa pemain timnas itu harus orang yang berasal dari Italia asli yang lahir di Italia.

Lucu, Mancini justru menelan ludahnya sendiri, ketika ia ditunjuk menangani Timnas Italia. Ia mengkhianati perkataannya dengan mengumpulkan Oriundi di Timnas Italia seperti Jorginho, Rafael Toloi, dan Emerson Palmieri.

Prestasi Para Oriundi

Terlepas dari seberapa buruknya Oriundi, namun harus objektif juga akan apa yang telah disumbangkan para Oriundi ini. Misal tengok saja sumbangsih beberapa Oriundi di perhelatan pertama di mana Italia menjadi tuan rumah Piala Dunia 1934, dan menjadi juara untuk pertama kalinya. Bahkan ketika mempertahankan gelar dunia pada Piala Dunia 1938.

Setelah beberapa dekade sejak tahun 1960-an. Munculah nama Mauro Camoranesi. Pemain Oriundi kelahiran Argentina yang dipanggil Timnas Italia dalam laga persahabatan melawan Portugal tahun 2003.

Kehadiran sayap lincah Juventus itu di timnas banyak menuai cibiran. Tak hafal dan tak ikut menyanyikan lagu kebangsaan Italia, Camoranesi pun tambah menjadi sasaran cibiran. Penghakimannya terjadi di Piala Eropa 2004 setelah Italia gagal lolos grup.

Hal itu membuat keberadaan Oriundi semakin terpojokan. Namun, di Piala Dunia 2006 Camoranesi menjawabnya dengan diam. Setelah ia berhasil menjadi bagian dari skuad Marcello Lippi menjuarai Piala Dunia 2006 di Jerman.

Kesuksesan Camoranesi kemudian membuka pintu keran bagi para Oriundi lain untuk meneruskan jejaknya. Di 2010, ada nama Amauri Carvalho dan Cristian Ledesma debut untuk timnas Italia.

Kemudian setelahnya kembali muncul Oriundi baru yang melakoni debutnya di skuad Timnas Italia macam Thiago Motta, Pablo Osvaldo, Gabriel Paletta, Franco Vazquez, Eder dan para pemain keturunan non Amerika Latin macam Mario Balotelli, El-Shaarawy, dan Angelo Ogbonna. Dan kemudian di 2018 sampai sekarang ada kurang lebih empat Oriundi, seperti Rafael Toloi, Emerson Palmieri, Jorginho, maupun yang sekarang ini jadi buah bibir Wilfred Gnoto.

Meskipun debutnya tak berujung manis pada gelar bagi Timnas Italia dari 2010 sampai dengan 2018, namun para Oriundi ini setidaknya harus dihargai keseriusannya dalam berjuang untuk Italia. Kredit khusus ditujukan pada Piala Eropa 2020, tiga Oriundi berhasil kembali membawa Italia ke podium juara Eropa. Hal itu semakin membuktikan bahwa Oriundi itu juga berperan besar bagi kesuksesan Timnas Italia.

Bahkan mereka kini bersama generasi baru yang sedang dibangun Mancini, kemungkinan akan tetap diisi dengan salah satu dari Oriundi. Intinya, belajar dari sejarah. Bahwa keberadaan Oriundi adalah sebuah keniscayaan. Dan kalaupun berkualitas dan memenuhi persyaratan bagi Timnas Italia, apa salahnya kembali menggunakan jasa para Oriundi?

https://youtu.be/dtZrpu04GHc

Sumber Referensi : theguardian, footballitalia, planetfotball