Akal-Akalan di Balik UEFA Nations League

spot_img

Laga persahabatan yang sekarang dikompetisikan dengan nama UEFA Nations League (UNL) memang banyak memunculkan pertanyaan. Oh.. supaya lebih seru atau mungkin lebih banyak yang menonton, bisa saja. Namun tak berhenti di situ saja, ternyata dari segi jadwal banyak menuai kritik, kok bisa? Ya, banyak yang sudah mengeluh tentang kompetisi ini.

Banyak hal yang harus dievaluasi tentang kompetisi ini, terutama kecurigaan mengenai pemasukan ke kantong operator. Apakah ini hanya akal-akalan mereka saja? Atau mungkin ini adalah bagian dari cara untuk memodernisasi sepakbola biar tak kurang peminatnya?

Apa Kata UEFA

Sebenarnya turnamen ini seperti terasa dipenting-pentingkan, namun sebenarnya tak terlalu penting juga sih. Sejak pertama kali dimainkan pada tahun 2018 lalu perhelatan UEFA Nations League berdalih bertujuan untuk meningkatkan kualitas sepakbola dan mengurangi jumlah laga persahabatan yang dinilai kurang kompetitif.

Menurut UEFA, pertandingan persahabatan saja tak menimbulkan pertandingan antara timnas yang seimbang. Untuk itulah mereka membentuk kompetisi yang berformat liga dengan diisi oleh negara-negara di level yang sama.

Namun, banyak pihak yang menilai Nations League tidaklah harus diadakan jika hanya untuk alasan tersebut. Apalagi dalam jeda internasional pun sebenarnya sudah diisi oleh beberapa kompetisi resmi seperti kualifikasi Piala Eropa dan Piala Dunia yang juga banyak memakan waktu dan persiapan.

Dengan format 55 negara, dibagi 4 grup sesuai ranking dari Grup A sampai D. Dengan sistem promosi dan degradasi, kata UEFA, membuat kompetisi ini makin seru dan menarik. Dengan begitu para klub akan makin serius mencapai tujuan. Tak terkecuali klub yang berada di ranking terbawah di grup B sampai D.

Belum lagi prize money yang disediakan. Namun dari semua hal yang menjadi alasan UEFA untuk menyelenggarakan kompetisi ini, tak cukup untuk meyakinkan kepercayaan publik. Apakah benar hanya karena hal itu saja tujuan kompetisi ini?

Dikritik Pelakunya Sendiri

Polemik UEFA Nations League seakan tiada henti-hentinya. Memasuki musim ketiganya, liga antarnegara Eropa itu kembali menuai sejumlah protes dari beberapa pelaku sepak bola. Pep Guardiola, Jurgen Klopp, hingga mantan pelatih Arsenal, Arsene Wenger pun menilai kompetisi tersebut begitu merugikan klub dan negara dalam beberapa aspek vital.

Bahkan Klopp sampai geleng-geleng kepala dengan adanya Nations League. Bagaimana tidak? Terkhusus di Inggris, kompetisi tersebut menimbulkan efek domino bagi para klub di Premier League yang kompetisinya padatnya minta ampun. Mereka kini bisa memainkan tujuh laga dalam rentang waktu 23 hari.

Bahkan seorang pemain profesional seperti Toni Kroos saja sampai blak-blakan melontarkan perkataan bahwa UEFA membuat pesepakbola layaknya boneka mereka. “Kompetisi ini dibuat untuk menghisap fisik semua pesepak bola dan untuk meraup uang sebanyak-banyaknya,” Kata Kroos.

Baru-baru ini beberapa protes juga terus mengalir dari para pemain seperti Van Dijk, Courtois, Modric, sampai De Bruyne. Mereka bersuara lantang seperti apa yang dilontarkan Kroos. De Bruyne mengatakan bahwa kompetisi ini sama sekali tak penting bagi dirinya. Kemudian Van Dijk menilai selain tak penting juga aneh. Para pemain yang diforsir di klub hingga akhir musim, kemudian tak ada istirahat lagi dan langsung memainkan 4 laga dalam rentang 10 hari dengan home away pula.

Itulah sebabnya para pemain seperti Van Dijk dan De Bruyne diperlakukan khusus oleh pelatih timnasnya untuk hanya memainkan 1 match saja dan setelah itu diberi waktu untuk berlibur. Kritik pedas juga kemudian dilontarkan oleh Luka Modric, mantan peraih Ballon D’or itu bahkan sempat mengecam UEFA bahwa kompetisi ini tidak normal dan tidak manusiawi.

Rekan Modric di Madrid, Thibaut Courtois juga pernah melayangkan kritik pedas kepada UEFA yang dianggap tak peduli dengan kondisi pemain. Bahkan, ia terang-terangan menyebut bahwa UEFA hanya peduli soal uang.

Cuan! Cuan! Cuan!

Sekarang tak dipungkiri bahwa sepakbola sudah dieksploitasi untuk tujuan ekonomi oleh mereka yang memiliki kekuasaan. Menggelar banyak turnamen dengan varian sistem kompetisi yang berbeda adalah cara bagaimana mengeruk uang dari lapangan hijau.

Eropa adalah jagonya untuk urusan memaksimalkan sepakbola sebagai mesin uang. Menjadikan pemain layaknya robot yang harus bisa bermain bukan lagi dalam hitungan pekan, tapi harian. Jika sebelumnya jadwal hanya sepekan sekali, sekarang menjadi dua bahkan tiga kali dalam sepekan.

Tak khayal dengan kehadiran UEFA Nations League ini berimbas pada naiknya pendapatan otoritas tertinggi sepakbola Eropa tersebut. Hal itu terungkap di Kongres tahunan UEFA. Mereka mengumumkan total pendapatannya sebesar 3,86 miliar euro untuk musim pertama terselenggaranya Nations League di 2018/2019. Itu artinya naik 38% dari sebelum ada Nations League yakni di angka 2,79 miliar euro.

Tentu pemasukan tadi juga mencakup pendapatan Liga Champions dan Liga Europa. Belum lagi di tahun 2021/22 karena dibuat lagi kompetisi yakni UEFA Conference League, tak tau lagi pemasukan UEFA bertambah berapa lagi sekarang.

Yang jelas faktor uang tak bisa dipungkiri, semakin banyak kompetisi maka hak siar akan datang. Dan di mana semakin pertandingan itu menarik, sponsor juga akan banyak yang masuk. Meskipun di sisi lain Presiden UEFA, Ceferin berdalih bisnis dan uang bukan segalanya.

Apakah Harus Dibubarkan?

Terlepas dari itu, keberadaan turnamen Nations League perlu adanya evaluasi. Mengingat hal itu berimbas pada banyak pihak, mulai dari pemain, pelatih, dan klub. Sebelum adanya Nations League saja, klub-klub Eropa sudah mengeluh akibat jadwal padat menyusul dampak dari jeda internasional. Dengan adanya kompetisi tersebut, jelas semakin memadatkan jadwal klub di kompetisi Eropa.

Jadwal yang padat akan menimbulkan waktu istirahat yang semakin sedikit. Hal tersebut pada akhirnya membuat para pemain lebih cepat kelelahan, hingga berujung pada fisik yang tidak bugar. Kondisi semacam itu kemudian akan berujung kepada cederanya para pemain. Bahkan beberapa pemain tercatat sudah memasuki ruang perawatan, karena cedera yang dialaminya berkat korban turnamen ini.

Dengan iming-iming hadiah yang cukup menggiurkan, tak jarang beberapa timnas bersikap serius dalam melakoni turnamen ini demi pemasukan. Fokus mereka pun akan terpecah dari kualifikasi Piala Eropa maupun Piala Dunia. Sedangkan sejatinya roh jatidiri timnas itu lebih pada tujuan mengantarkan kebanggaan negaranya yakni tampil di Piala Eropa maupun Piala Dunia, bukan hanya mengejar uang di Nations League.

Pro kontra Nations League seperti ini tampaknya masih akan terus berlanjut. UEFA harus segera mengevaluasi kelanjutan Nations League. Sebab, dampak negatif kompetisi tersebut lebih tinggi dibandingkan manfaatnya. Hanya saja untuk itu, kita mesti menunggu. Karena tanpa kekuatan besar sebagaimana gagalnya ide Super League, maka meminta UEFA mengevaluasi Nations League hanya akan berakhir menjadi pepesan kosong.

Sumber Referensi : foottheball, theathletic, sportingnews

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rp109,000Rp125,000
Obral!
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rp109,000Rp120,000

Artikel Terbaru