Membaca Arah Baru Manchester United di Bawah Richard Arnold

spot_img

Ed Woodward telah menuju pintu keluar Old Trafford. Ia yang tak lagi menjabat sebagai CEO Manchester United melahirkan dua reaksi yang berbeda. Pertama, reaksi kesedihan yang mungkin saja ia alami karena tidak lagi mendapat kekuasaan di Manchester United.

Kedua, reaksi kegembiraan dari fans Manchester United. Betapa fans MU sangat menanti-nantikan momen itu. Momen di mana Woodward yang sering disebut salah satu penyakit MU akhirnya pergi. Dengan begitu salah satu sumber kekacauan di tubuh Setan Merah akhirnya pergi, dan para fans berhak bersukacita.

Posisi Woodward digantikan Richard Arnold, dan per Februari 2022 lalu ia secara resmi ditunjuk sebagai CEO Manchester United. Tentu saja sepanjang Februari 2022 hingga musim tuntas, kabar Arnold sebagai CEO tak menyeruak. Namun pada bursa transfer seperti sekarang adalah saat yang tepat untuk melihat bagaimana arah MU di bawah Arnold.

Siapa Arnold?

Pertanyaannya, siapa Richard Arnold? Kok dia bisa mengkudeta Woodward yang begitu perkasa di pucuk pimpinan? Arnold bukan orang sembarangan. Ia adalah seorang akuntan sekaligus sebelumnya menjabat sebagai direktur pelaksana Manchester United.

Richard Arnold juga merupakan kawan lama Ed Woodward. Keduanya pernah bertemu di Universitas Bristol, tepat saat Arnold sedang menempuh studinya di bidang biologi. Pria yang kini berusia 50 tahun itu lulus dari sana tahun 1993.

Arnold sudah menjabat sebagai direktur pelaksana Manchester United dari tahun 2013. Meski ia sejatinya datang lebih dulu ke Manchester United pada tahun 2007. Walaupun ia berteman dengan Ed Woodward, tapi langkah dan gaya manajerialnya berbeda dengan Woodward.

Baru menjabat saja, Richard Arnold sudah berterus terang soal kondisi Manchester United. Ia ketika ditunjuk sebagai CEO, seperti dikutip INews, mengatakan ini adalah mimpi buruk yang jadi kenyataan. Rekaman yang akhirnya bocor itu, secara tidak langsung menunjukkan internal Manchester United tengah bermasalah.

Penghubung Penggemar dengan Glazer

Tampaknya, CEO baru Manchester United itu telah benar-benar belajar bagaimana berkampanye yang bisa menarik simpati penggemar. Dalam sebuah laporan, setelah Arnold resmi menjadi CEO klub, sekelompok penggemar Manchester United berkumpul di sebuah pub di dekat rumahnya.

Sebagaimana seorang pemimpin baru yang sedang cari muka, Arnold mendatangi para penggemar itu. Ia datang ke penggemar, membelikan mereka minuman, mendengarkan keinginan mereka, dan apa yang mungkin bakal dilakukan klub. Betul sekali! Persis seperti calon gubernur yang blusukan ke pasar.

Gaya kepemimpinan Arnold sedikit banyak kelihatan. Bahwa ia tidak mau dianggap sebagai kacung Glazer. Sekalipun dari hierarki struktural, posisinya memang berada di bawah Glazer. Jadi kekuasaan penuh tetap berada di pemilik Manchester United.

Arnold memposisikan dirinya sebagai penyambung lidah rakyat seperti Soekarno ketika awal-awal menjadi presiden Indonesia. Ia akan menjadi penghubung antara fans Manchester United dengan Glazer. Apa yang direncanakan Glazer akan tersampaikan ke penggemar melalui Arnold.

Sebaliknya, Arnold juga akan menjadi penyalur suara fans ke Glazer. Walaupun berlaku syarat dan ketentuan. Apa pun itu, citra semacam inilah yang tengah dibangun oleh Arnold. Ia tak ingin dituding sebagai CEO yang hanya hobi ‘membakar uang’.

Mantan pelatih Manchester United, Louis Van Gaal pernah mengatakan bahwa MU adalah ‘klub komersil’, bukan klub sepakbola. Dan iya, Arnold sudah memulai perannya untuk itu. Ia bergerak untuk mengamankan kemitraan merek, termasuk sponsor Team Viewer. Arnold juga bergeliat dalam mendirikan kantor klub di berbagai kota.

Tidak Buru-Buru dalam Transfer

Salah satu yang mengusik hati nurani Richard Arnold adalah bagaimana Manchester United sangat boncos dalam bursa transfer. Dalam sebuah studi Observatorium Sepakbola yang juga dikutip The Athletic bahkan menyebutkan Setan Merah mencatatkan pengeluaran bersih yang lebih tinggi dari klub-klub Eropa lainnya, dalam waktu 10 musim terakhir.

Manchester United mengeluarkan uang sebanyak 1,3 miliar euro (Rp20,2 triliun) hanya untuk transfer pemain. Sementara pendapatan mereka hanya di angka 395 juta euro (Rp6,1 triliun). Kondisi inilah yang justru Arnold sampaikan kepada para pendukung.

“Kami menghabiskan satu milyar untuk pemain. Itu tidak mudah. Saya tidak senang dengan kondisi ini, dan khawatir. Kita harus segera menyelesaikan masalah ini di musim depan,” kata Arnold kepada para penggemar.

Sangat jarang kita melihat seorang direktur eksekutif mengatakan demikian. Mungkin dari sekian puluh CEO klub sepakbola, hanya Richard Arnold yang berani berterus terang bahwa selama ini manajemen klub yang ia pimpin sangatlah buruk. Dan itu ia sampaikan langsung kepada para pendukung.

Maka dari itu, yang Arnold lakukan adalah paling utama untuk tidak terburu-buru dalam bursa transfer. Ia bahkan pernah disebut tak mendukung keputusan manajer MU yang baru terkait transfer. Padahal Arnold menaruh kepercayaan penuh pada direktur olahraga, John Murtough dan manajer Erik ten Hag.

Sekalipun MU boncos dalam keuangan. Arnold tidak mempermasalahkan kalau harus mengeluarkan uang untuk transfer pemain. Ia sudah menganggarkan uang untuk transfer pemain dan itu terbatas. Makanya ia hanya ingin MU merekrut pemain yang benar-benar diinginkan manajer dan orang yang ia percaya.

Rencana ke Depan

Richard Arnold telah menyampaikan proposalnya ke para pendukung Manchester United. Rencana-rencana Arnold untuk United disambut positif oleh para pendukung. Apalagi ia sudah mempercayakan John Murtough dan Darren Fletcher dalam operasional sepakbola Manchester United.

Kepercayaan terhadap orang-orang yang dipekerjakan menjadi langkah yang signifikan. Hal semacam itu tidak kita lihat selama delapan setengah tahun terakhir saat Sir Alex Ferguson dan David Gill pensiun.

Selain membangun Manchester United dari segi transfer yang jelas. Transfer yang tidak terkecoh dengan pengeluaran uang yang banyak, Richard Arnold juga memikirkan pengembangan lain. Ia memiliki rencana untuk melibatkan penggemar dalam setiap kebijakan.

Bukan hanya itu, Arnold memiliki ide untuk merevitalisasi Old Trafford. Jadi urusan Arnold bukan hanya mengembangkan United dari segi sumber daya manusianya, tapi juga fasilitasnya. Ia yang memiliki kesamaan dengan Woodward dalam segi bisnis, juga akan mencari sponsor baru untuk Manchester United.

Arnold akan mencari sebanyak mungkin uang untuk mewujudkan rencananya. Lebih jauh Arnold mengatakan bahwa ia sangat membenci kondisi ruang ganti Manchester United yang keruh. Ia tahu bahwa di sana sedang ada masalah. Para pemain muda, seperti Jadon Sancho dan Marcus Rashford mendapat perlakuan buruk.

“Saya ingin menyatukan mereka kembali,” kata Arnold. Ya, CEO baru itu tahu betul bahwa para pemain di ruang ganti perlu dukungan dari rezim baru, dan ia akan melakukannya.

Ia sadar untuk saat ini, ia belum bisa menjanjikan apa-apa untuk Manchester United. Yang bisa ia lakukan berikutnya adalah tetap bekerja. Bahwa Arnold akan terbuka untuk berbicara dengan para penggemar dan menjawab email apa pun. Rencananya sih, begitu.

Sumber referensi: MEN, LastWordOnSports, TheAthletic

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rp109,000Rp125,000
Obral!
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rp109,000Rp120,000

Artikel Terbaru