The Pogmentary: Senjata Makan Tuan Paul Pogba

spot_img

Paul Pogba baru saja merilis film dokumenter yang menceritakan dirinya sendiri berjudul The Pogmentary: Born Ready. Dalam film dokumenter yang sebetulnya lebih cocok disebut series itu terbagi dalam lima episode. Melalui itu, Pogba bercerita tentang perjalanan yang membuatnya menjadi seperti sekarang ini. Termasuk apa saja yang terjadi selama membela Manchester United.

Film dokumenter yang diproduksi oleh Amazon Studios itu menceritakan tentang beberapa kenangan yang menghangatkan hati tentang masa kecilnya dan hari-hari awalnya di akademi Manchester United. 

Namun dalam film tersebut, ada ucapan yang menimbulkan kontroversi. Pemain internasional Prancis itu mengatakan bahwa Manchester United telah melakukan kesalahan dengan tidak menawarkan kontrak perpanjangan kepadanya.

Statement Pogba di “The Pogmentary” 

Pogba tidak sendirian. Dalam series, ada pula pendapat Zulay, istri Pogba dan mendiang agen Mino Raiola, serta pengacara Rafaela Pimenta yang turut ambil bagian menyusun narasi sebagai bumbu kisah Pogba yang tersaji dalam satu tayangan.

Pada episode pertama ada fragmen yang menunjukan perkembangan Pogba di Manchester United dalam bentuk animasi. Sedangkan kisah bagaimana Pogba bermain di lapangan atau sekedar membahas performanya di laga-laga tertentu cukup sedikit. Kita lebih banyak disuguhkan monolog dan obrolan-obrolan Pogba dengan sang agen, teman, atau anak-anaknya.

Di beberapa adegan, obrolan Pogba dengan sang agen menarik perhatian. Salah satunya ketika Pogba berkata bahwa dirinya pernah mengalami cedera, tapi Manchester United sama sekali tidak menunjukkan simpati terhadapnya. Oleh sebab itu, ia memilih bergabung dengan Timnas Prancis untuk menaikan kepercayaan dirinya.

Selain itu, Pogba juga menjelaskan bahwa ia merasa bahwa Manchester United tak serius dalam menangani kontraknya. United dianggap hanya menggertak dan tak benar-benar menawarkan perpanjangan kontrak. Pernyataan itu juga didukung oleh sang agen yang mengatakan kalau United seharusnya melakukan hal yang lebih untuk mempertahankan sang pemain.

Terlebih hubungan sang agen dan Manchester United memang tak begitu baik. Jadi tak heran apabila mendiang Mino Raiola jadi kompor di film dokumenter Paul Pogba. Orang-orang yang berada di film dokumenter itu pun kebanyakan lebih membela Pogba daripada bersikap netral. Kita tak menemukan sudut pandang yang lebih yang disuguhkan dokumenter tersebut.

Pernyataan-pernyataan yang mengemuka memancing siapa pun untuk berkomentar. Maka bukan hal aneh bila setelahnya beragam komentar dari orang maupun media bermunculan. Persis setelah The Pogmentary tayang di Amazone Prime pada 17 Juni kemarin, Paul Pogba langsung jadi berita utama dalam beberapa hari terakhir. Bermacam-macam headline berita pun mencuat.

Menimbulkan Reaksi

Seorang jurnalis dari media Kota Manchester, Inggris, Manchester Evening News, Tyrone Marshall menilai dokumenter Pogba tersebut tak relevan dan cenderung meleset dari kenyataan. Marshall, melalui twitter pribadinya bahkan tak segan mengatakan film tersebut buruk. Itu ia tunjukan dengan emoji muntah yang ia tulis di akhir twit. 

Film itu hanya menceritakan tentang keyakinan Pogba untuk hengkang dari klub, namun tak kesampaian hingga berakhirnya kontrak. Selain itu, ia juga mencantumkan statistik bahwa Pogba hanya mampu tampil bugar dalam 50% pertandingan bersama Manchester United. Itu statistik yang buruk bagi pemain termahal klub.

Pernyataan negatif Pogba terhadap mantan klubnya itu juga mengundang komentar dari mantan striker Leeds United, Noel Whelan. Ia mengomentari statement Pogba yang ingin membuktikan kepada United bahwa mereka telah melakukan kesalahan dengan menunda penawaran kontrak baru untuknya.

Whelan mengkritik Paul Pogba atas sikap sombongnya itu dan mengatakan bahwa pemain berusia 29 tahun itu tidak pantas mendapatkan kontrak baru di Manchester United. Dilansir dari Dailypost, menurut Whelan, MU sudah mengambil langkah tepat dengan tidak menawarkan kontrak baru pada Pogba. Bahkan Whelan mencap Pogba sebagai perekrutan terburuk Setan Merah. 

Benarkah Demikian?

Namun, benarkah United tak berupaya untuk mempertahankan Pogba? Jelas tak sepenuhnya benar. Pihak United sudah beberapa kali menawarkan perpanjangan kontrak dengan gaji sebesar 300 ribu pounds atau sekitar Rp5 miliar per pekan. Tawaran tersebut lebih besar 10 ribu pound dari gaji sebelumnya. Namun, Pogba menilai gaji tersebut terlalu kecil baginya.

Dilansir Mirror, United bahkan sempat menawarkan gaji sebesar 500 ribu pounds atau sekitar Rp9 miliar per minggu, dengan rincian gaji sebesar 400 ribu pound plus bonus untuk membuat Pogba bertahan di MU. Namun, tawaran ini justru menimbulkan kegaduhan di ruang ganti. 

Jika Pogba menerima jumlah gaji segitu, otomatis ia akan menjadi pemain dengan bayaran termahal di Premier League. Sementara rekan-rekan satu timnya tak suka itu. Karena mereka tahu bahwa Pogba jarang bermain dan terkadang lebih fokus dengan hal-hal di luar Manchester United.

Selama ini, Pogba memang kerap mendapat sorotan akan hal itu. Alih-alih fokus ke sepakbola, Paul Pogba justru berfokus pada keluarganya, citranya, gaya rambutnya, teman-temannya, hobi lain, atau apa pun itu di luar Manchester United. 

Selain itu, pernyataan Pogba yang mengatakan bahwa ia merasa tak dihargai selama berseragam Manchester United juga terpatahkan dengan kalimat yang diungkapkan oleh Rafaela Pimenta, pengacaranya sendiri.

Dalam salah satu cuplikan, Pimenta menyatakan bahwa Paul Pogba “dibangun” sebagai sebuah merek. Ada Pogmoji, brand, dan souvenir lain. Bahkan ia memiliki acaranya sendiri. Dari pernyataan Pimenta yang kini jadi pengganti Raiola itu menunjukkan bahwa citra Pogba bukanlah dibangun sebagai seorang pesepakbola, melainkan ‘merek’.

Tentu kalimat itu menjadi blunder tersendiri bagi image Pogba. Membangun image Pogba sebagai sebuah merek tentu sangat bertolak belakang dengan tujuan Pogmentary yang ingin menjelaskan kisah Pogba dari sudut pandang sepakbola. So, cukup sulit bukan menunjukan empati kepada sebuah “merek”? 

Apa Yang dilakukan MU Kepada Pogba?

Ironisnya, sekarang Manchester United tengah mengubah paradigmanya tentang bagaimana memperlakukan para pemain. Setelah krisis ekonomi pasca pandemi, MU kini lebih berhati-hati dalam mengeluarkan uang untuk para pemainnya. 

Manchester United tak lagi mau menggelontorkan banyak uang hanya untuk mempertahankan satu pemain, tak terkecuali Paul Pogba. Toh penampilan Pogba bersama United tak begitu spesial. Di samping fokusnya kerap terganggu, Pogba juga jarang bermain sejak awal musim lantaran cedera. Atau mungkin saja ia terlalu sibuk membuat film dokumenternya. 

Statistiknya bersama United juga tak mentereng. Sebagai seorang gelandang, jumlah assist Pogba bahkan tak menyentuh 10 di liga domestik. Dengan performa Pogba yang lebih sering mengempis daripada mengembangnya itu, wajar kalau United tak sudi mengambil resiko menawarkan gaji selangit pada Pogba.

Manajer baru Setan Merah, Erik ten Hag pun sama sekali tidak keberatan jika Pogba tidak bisa tinggal. Apalagi gelandang Prancis itu tidak masuk rencana Ten Hag. Daripada terus mencengkram gelandang sombong itu, Ten Hag lebih memilih mengejar mantan anak asuhnya, Frankie de Jong, kendati masih enggan mencapai kata “sepakat”.

Sumber: The Athletic, Foottheball, Football365, 90min, MEN

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rp109,000Rp125,000
Obral!
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rp109,000Rp120,000

Artikel Terbaru