Kalau bicara pemain keturunan, pasti erat kaitannya dengan naturalisasi. Proses naturalisasi memang sudah jamak dilakukan di banyak negara. Bahkan sudah kapan tahun dimulai. Begitu pula Italia.
Negara sebesar Italia yang tak kekurangan talenta sepakbolanya itu pun sering menaturalisasi pemain. Lantas apa yang menyebabkan Italia memilih untuk menaturalisasi? Padahal dari kota-kota Negeri Pizza untuk mendapat satu pemain saja sangat mudah? Hal inilah yang terkadang juga sering menjadi bahan perdebatan yang tiada akhir.
Faktor Oriundi
Bercerita sedikit tentang banyaknya diaspora atau orang keturunan yang ada di Italia. Singkatnya pada periode 1861-1920-an, di mana pada saat itu feodalisme Italia membuat para rakyat kecil Italia yang tertindas memilih untuk bermigrasi ke Amerika Latin, terutama Brazil dan Argentina.
Nah, dalam kaitanya dengan sepakbola, banyak para imigran ini sukses berkarir sebagai pesepakbola di negeri orang seperti Argentina dan Brazil. Namun, perubahan terjadi karena krisis kudeta di negara Amerika Latin seperti Argentina pada tahun 1930-an. Yang membuat para pemain itu akhirnya memilih kembali ke tanah kelahirannya.
Berkat mereka yang kembali ke Italia, dunia akhirnya mengenalnya dengan istilah “Oriundi”. Oriundi adalah istilah bagi orang-orang yang tidak lahir di Italia, tapi datang ke Italia sebagai imigran atau memiliki darah Italia sehingga berhak untuk menjadi orang Italia.
Di sisi lain, pada periode yang sama yakni 1930-an, pemimpin fasisme, Benito Mussolini menemukan cara baru untuk menegakkan supremasi fasismenya, yakni dengan sepak bola. Dia tahu betul timnas yang hebat bakal mampu menghadirkan rasa persatuan yang kuat, sekaligus membuat nama Italia kian masyhur di kancah internasional. Italia pun lantas berani menyelenggarakan Piala Dunia 1934.
Italy became World Champion Football in it’s own country in 1934. The selection included some players who were born in South America. A term for that type of player is oriundo. Oriundi acquired Italian citizenship and Italianized their name, especially under the fascist Regime. pic.twitter.com/6Y8Rw506uY
— Football Makes History (@MakesFootball) May 4, 2020
Mussolini pun memanggil beberapa Oriundi macam Anfilogino Guarisi yang merupakan kelahiran Brasil dan Raimundo Orsi, Luis Monti, dan Enrique Guaita yang merupakan kelahiran Argentina. Empat pemain itu berhasil tampil meyakinkan dan membawa pulang gelar juara Piala Dunia pertama bagi Italia di rumah sendiri. Tujuan Mussolini pun tercapai, sepakbola telah dijadikannya sebagai alat propaganda ideologi.
NEW: The story of when the World Cup rolled into Mussolini’s fascist Italy in 1934. https://t.co/6T8vWRpWz2 pic.twitter.com/jTPqI6e8NX
— These Football Times (@thesefootytimes) July 27, 2016
Memasuki era 1960-an, kiprah Oriundi akhirnya dibatasi oleh Federasi Serie A. FIFA juga melarang pemain untuk mewakili lebih dari satu negara sepanjang karier. Alhasil, usai penampilan terakhir para Oriundi macam Omar Sívori, Angelo Benedicto, maupun Miguel Sormani pada 1963, butuh waktu empat dekade lagi untuk melihat Italia kembali diperkuat oleh seorang Oriundi.
Cibiran Terhadap Oriundi
Dari akar masalah datangnya para Oriundi ini, menjadi aneh ketika pemimpin fasis Mussolini yang lagi gencar-gencarnya menegakkan fasisme, yang berakar pada anti keturunan, eh malah memutuskan untuk merekrut pemain keturunan.
Di sisi lain, buah dari keberadaan Oriundi ini tak luput dari cibiran. Banyak yang mencibir para Oriundi tatkala mereka gagal di beberapa kejuaraan. Sejak mempertahankan gelar dunia mereka pada tahun 1938, rekor turnamen Italia selanjutnya benar-benar mengecewakan.
Mereka tersingkir di babak grup Piala Dunia pada tahun 1950, 1954, dan 1962, bahkan gagal lolos pada tahun 1958. Salah satu yang mencibirnya adalah Gianni Brera, seorang penulis sepakbola Italia yang mengecap Oriundi sebagai “pemalas” usai kegagalan di Piala Dunia 1962.
Beberapa cibiran pun datang di era modern sekarang. Banyak tokoh yang menganggap dengan berhasilnya Italia sebagai juara Eropa di 1968 dan juara dunia di 1982 dengan tanpa oriundi pun italia sebenarnya bisa berprestasi.
Para tokoh sepakbola macam Cesare Maldini, Arrigo Sacchi sampai Roberto Mancini pun ikut dalam mencibir para Oriundi. Cesare Maldini dengan tegas mengecam penggunaan Oriundi tahun 2011 dengan mengatakan Italia kembali ke masa lalu yang negatif. Mengacu pada Thiago Motta sebagai Oriundi baru di Timnas Italia.
Oriundi seperti Amauri Carvalho, Cristian Ledesma, Dani Osvaldo, Gabriel Paletta maupun Camoranesi bagi Maldini justru merusak otentisitas tim nasional, dan merusak tujuan utama sepakbola internasional sebagai kendaraan olahraga untuk mewakili rakyat asli suatu negara.
Komentar tentang Oriundi yang agak berbau rasis juga dikatakan Arrigo Sacchi pada 2015. Ia mengatakan bahwa sepakbola Italia sekarang tanpa martabat atau kebanggaan karena terlalu banyak pemain asing terutama kulit hitam yang bermain di tim junior.
Ex-Italy and Milan boss Arrigo Sacchi denies racism claims http://t.co/XkFQ7x2gsE pic.twitter.com/QJj3Y0Hixi
— Irish Times Sport (@IrishTimesSport) February 17, 2015
Dari segi politik praktis, pemimpin partai sayap kanan Lega Nord, Matteo Salvini juga menjadikan kegagalan Italia menembus Piala Dunia 2018 dan Piala Dunia Qatar 2022 sebagai pembenaran untuk pandangannya yang nasionalis sempit dan anti imigran.
Italian far right leader, Matteo Salvini, has blamed ‘too many foreigners’ playing football as the reason why Italy was eliminated from the World Cup. #justeverydayracism #worldcup #xenophobia #racism pic.twitter.com/fJuNuJO0Z3
— CARF Melbourne (@CARFMelb) November 16, 2017
Cibiran itu pun anehnya pernah dilontarkan pelatih Italia sekarang, Roberto Mancini. Ia mengkritik Timnas Italia jaman Antonio Conte ketika memanggil Oriundi seperti Eder maupun Franco Vazquez. Mancini mengatakan bahwa pemain timnas itu harus orang yang berasal dari Italia asli yang lahir di Italia.
Éder y Franco Vázquez: Los Diego Costa de Italia http://t.co/FtemcSdxkL pic.twitter.com/STxyVdsuDf
— Diario Gol (@diarioGOLcom) March 24, 2015
Lucu, Mancini justru menelan ludahnya sendiri, ketika ia ditunjuk menangani Timnas Italia. Ia mengkhianati perkataannya dengan mengumpulkan Oriundi di Timnas Italia seperti Jorginho, Rafael Toloi, dan Emerson Palmieri.
Prestasi Para Oriundi
Terlepas dari seberapa buruknya Oriundi, namun harus objektif juga akan apa yang telah disumbangkan para Oriundi ini. Misal tengok saja sumbangsih beberapa Oriundi di perhelatan pertama di mana Italia menjadi tuan rumah Piala Dunia 1934, dan menjadi juara untuk pertama kalinya. Bahkan ketika mempertahankan gelar dunia pada Piala Dunia 1938.
Setelah beberapa dekade sejak tahun 1960-an. Munculah nama Mauro Camoranesi. Pemain Oriundi kelahiran Argentina yang dipanggil Timnas Italia dalam laga persahabatan melawan Portugal tahun 2003.
Neste dia em 2003, Mauro Camoranesi fazia sua estréia com a Itália. Num amistoso contra Portugal, vencido por 1×0. pic.twitter.com/IpCouK9BeB
— Guia Juventus Brasil (@GuiaJuveBR) February 11, 2016
Kehadiran sayap lincah Juventus itu di timnas banyak menuai cibiran. Tak hafal dan tak ikut menyanyikan lagu kebangsaan Italia, Camoranesi pun tambah menjadi sasaran cibiran. Penghakimannya terjadi di Piala Eropa 2004 setelah Italia gagal lolos grup.
Hal itu membuat keberadaan Oriundi semakin terpojokan. Namun, di Piala Dunia 2006 Camoranesi menjawabnya dengan diam. Setelah ia berhasil menjadi bagian dari skuad Marcello Lippi menjuarai Piala Dunia 2006 di Jerman.
Kesuksesan Camoranesi kemudian membuka pintu keran bagi para Oriundi lain untuk meneruskan jejaknya. Di 2010, ada nama Amauri Carvalho dan Cristian Ledesma debut untuk timnas Italia.
Kemudian setelahnya kembali muncul Oriundi baru yang melakoni debutnya di skuad Timnas Italia macam Thiago Motta, Pablo Osvaldo, Gabriel Paletta, Franco Vazquez, Eder dan para pemain keturunan non Amerika Latin macam Mario Balotelli, El-Shaarawy, dan Angelo Ogbonna. Dan kemudian di 2018 sampai sekarang ada kurang lebih empat Oriundi, seperti Rafael Toloi, Emerson Palmieri, Jorginho, maupun yang sekarang ini jadi buah bibir Wilfred Gnoto.
Gnonto at the ready 💪#NationsLeague #GERITA #Azzurri #VivoAzzurro pic.twitter.com/lpGhGBONRV
— Italy ⭐️⭐️⭐️⭐️ (@Azzurri_En) June 14, 2022
Meskipun debutnya tak berujung manis pada gelar bagi Timnas Italia dari 2010 sampai dengan 2018, namun para Oriundi ini setidaknya harus dihargai keseriusannya dalam berjuang untuk Italia. Kredit khusus ditujukan pada Piala Eropa 2020, tiga Oriundi berhasil kembali membawa Italia ke podium juara Eropa. Hal itu semakin membuktikan bahwa Oriundi itu juga berperan besar bagi kesuksesan Timnas Italia.
Jorginho, Emerson e Rafael Tolói, os ‘brasileiros’ campeões com a Itália! pic.twitter.com/hdmfYfPW3t
— TNT Sports Brasil (@TNTSportsBR) July 11, 2021
Bahkan mereka kini bersama generasi baru yang sedang dibangun Mancini, kemungkinan akan tetap diisi dengan salah satu dari Oriundi. Intinya, belajar dari sejarah. Bahwa keberadaan Oriundi adalah sebuah keniscayaan. Dan kalaupun berkualitas dan memenuhi persyaratan bagi Timnas Italia, apa salahnya kembali menggunakan jasa para Oriundi?
https://youtu.be/dtZrpu04GHc
Sumber Referensi : theguardian, footballitalia, planetfotball


