Sejarah tercipta bagi AC Monza. Mereka jadi tim terakhir yang akan menemani Cremonese dan Lecce untuk berlaga di Serie A musim depan. Kemenangan AC Monza di final play off Serie B jadi awal dari ambisi besar Presiden Silvio Berlusconi membawa tim yang bermarkas di Brianteo Stadium itu ke panggung yang lebih besar.
Berlusconi menilai keberhasilan Monza jelas merupakan pencapaian yang sangat berarti bagi masyarakat setempat. Pasalnya, semenjak klub berdiri pada tahun 1912 silam, mereka baru kali pertama berlaga di kompetisi tertinggi Negri Pasta itu. Berlusconi lega, akhirnya perjuangan Monza dari kasta bawah terbayar tuntas dengan satu tiket promosi ke Serie A musim depan.
Daftar Isi
AC Monza Sebelum Berlusconi-Galliani
AC Monza adalah sebuah klub kecil di kota yang lebih terkenal dengan sirkuit balap Formula 1-nya daripada olahraga sepakbola. Klub juga telah berganti kepemilikan berkali-kali dalam 110 tahun sejarah berdirinya klub debutan Serie A itu.
Meski hanya bermain di kompetisi yang lebih rendah. Monza bukanlah klub sembarangan. Sejauh ini AC Monza juga memiliki prestasi meski hanya klub papan bawah. Salah satunya, Monza pernah menjuarai kompetisi Serie D pada 2016/17.
Ya, kalian tak salah dengar, musim 2016/17 Monza masih berlaga di kasta keempat sepakbola Italia. Sebelum Berlusconi datang, Monza hanya klub yang terombang-ambing di Serie B atau terdegradasi ke Serie C. Monza hanya pernah hampir lolos ke Serie A pada tahun 1970-an.
Dengan buruknya klub dalam mengelola keuangan, memasuki awal 2000an masalah finansial pun membuat Monza bangkrut tahun 2004. Sempat bangkit, namun mereka kembali mengalami krisis pada tahun 2010 yang akhirnya membuat Monza kembali bangkrut untuk kedua kalinya pada tahun 2015.
Kesulitan dana juga yang memaksa klub harus berkutat di Serie B. Tak ada klub Italia lain yang menghabiskan waktu lebih lama di Serie B daripada Monza. Mereka tercatat sudah menghabiskan sekitar 40 tahun lamanya menghuni kasta kedua sepakbola Italia itu.
Silvio Berlusconi & Adriano Galliani
Nasib klub yang awalnya bernama Monza F.B.C itu seketika berubah kala terjadi pergantian kepemilikan klub pada tahun 2018. AC Monza diakuisisi oleh mantan bos AC Milan, Silvio Berlusconi melalui perusahaannya yang bernama Fininvest.
Politikus sekaligus pebisnis itu adalah mantan bos AC Milan yang kontroversial. Ia menjual sahamnya di Milan seharga 723 juta euro atau sekitar Rp11 triliun ke pengusaha asal China pada tahun 2017 lalu. Ia mengalihkan fokusnya ke Monza setahun kemudian.
TH🅰️NK YOU BOSS 💪⚪️🔴#MonzainSerieA #DestinAzioneParAdiso #MonzA pic.twitter.com/PuuJOpdEwl
— AC Monza (@ACMonza) June 6, 2022
Bagi Berlusconi, yang tinggal di Arcore yang berjarak hanya 10 kilometer dari stadion klub, membeli AC Monza adalah sesuatu yang bisa dibilang lebih ke passion daripada kebutuhan bisnis. Ia berambisi membawa klub tersebut ke kasta tertinggi dan untuk melakukannya, Berlusconi menggandeng mantan CEO AC Milan, Adriano Galliani.
Adriano Galliani dikenal sebagai “King of Free Transfer” Julukan itu muncul lantaran Galliani memiliki ciri khas kerap merampungkan transfer pemain secara gratis. Dengan nyanyian-nyanyiannya, ia mampu meyakinkan pemain-pemain bintang untuk bergabung dengan Milan.
Sedangkan Berlusconi, ia resmi menjadi pemilik Milan pada 1986, dan menyelamatkan klub yang sedang di ambang kebangkrutan. Sejak saat itu, perlahan namun pasti, Milan menjadi tim yang kuat. Milan menjadi salah satu kekuatan sepakbola Italia bahkan Eropa.
Kombinasi antara Galliani dan Berlusconi menghasilkan kejayaan bagi AC Milan. mereka juga berhasil membawa pemain kelas dunia seperti Van Basten, Gullit, Ronaldinho, Ronaldo, Robinho, Kakà, Shevchenko, Ibrahimovic, dan masih banyak lagi.
Mereka adalah duo maut di belakang layar sepakbola Milan. Era Berlusconi-Galliani mungkin jadi salah satu yang paling sukses dalam sejarah sepakbola Eropa. Dari akhir 80-an mereka sudah memenangkan puluhan trofi dalam 31 tahun, termasuk delapan gelar Serie A, lima Liga Champions, satu Coppa Italia, lima Supercoppa Italia, dan tiga Piala Dunia Antarklub.
Pergerakan Duo Eks Milan di Monza
Sama halnya di Milan, duo Berlusconi-Galliani membangun AC Monza ke arah yang lebih baik. Terlepas dari kenyataan bahwa klub itu bermain di Serie C, proyek Monza sudah memiliki visi dan misi yang oke sejak awal diakuisisi oleh duo eks Milan itu.
Mereka tak hanya menginvestasikan uang pada pemain saja, mereka juga menggelontorkan dana untuk meningkatkan infrastruktur klub seperti pusat pelatihan, tribun stadion, hingga situs klub berbahasa Inggris. Sesuatu yang langka terjadi di klub-klub Italia.
Celebrating in style with @Roberto_Cavalli 😎🔝🅰️⚪️🔴#MonzainSerieA #DestinAzioneParAdiso #MonzA pic.twitter.com/yvBDA9JT2o
— AC Monza (@ACMonza) June 15, 2022
Bahkan dalam musim pertama Berlusconi dan Galliani Monza, keduanya berhasil mengantarkan klub promosi ke Serie B. Menariknya mereka mendapat bantuan dari salah satu wajah lama AC Milan, yaitu Cristian Brocchi sebagai pelatih kepala.
Untuk sekelas klub debutan Serie B, perekrutan yang dilakukan Monza cukup masif. Sebanyak 13 pemain didatangkan Monza untuk mengarungi kompetisi musim 2020/2021. Mungkin yang paling terkenal adalah Galliani yang berhasil mengontrak Mario Balotelli. Kedatangan si anak bengal itu kian menguatkan aroma AC Milan di Monza.
Selain Super Mario, Monza juga sempat mendatangkan Antonino Barillà, Kevin-Prince Boateng, Gabriel Paletta, serta Marco Fossati yang merupakan pemain kelahiran Monza yang sempat menimba ilmu di akademi Milan.
Sayangnya percobaan pertama untuk langsung lolos promosi ke Serie A gagal. Di babak playoff, Monza kalah dari Cittadella dengan agregat 3-2 untuk merebutkan satu tiket terakhir menuju Serie A. Tapi semangat api yang sudah dibangun oleh duo Berlusconi-Galliani akan tetap terus menyala. Monza menatap musim baru dengan penuh percaya diri.
Drama 7 gol Menuju Serie A
Mengarungi Serie B musim 2021/2022, Monza sedikit merombak tim. Pergerakan mereka di bursa transfer pun jadi buktinya. Sejumlah bintang dari kompetisi level tertinggi itu pun menjadi sasaran empuk untuk dibawa ke klub penghuni Brianteo Stadium itu.
Sebut saja seperti, Luca Mazzitelli dari Sassuolo, Leonardo Mancuso dari Empoli, Andrea Favilli dari Genoa hingga meminjam pemain muda AC Milan, Marco Brescianini. Monza juga menggaet Giovanni Stroppa untuk mengisi kursi kepelatihan. Kedatangan pemain dan pelatih anyar kian memantapkan ambisi Monza menuju Serie A.
Monday Motivation by Mister Stroppa 😁👍⚪️🔴#MonzainSerieA #DestinAzioneParAdiso #MonzA pic.twitter.com/4WhhWuHrap
— AC Monza (@ACMonza) June 20, 2022
Di bawah asuhan Stroppa, Monza bermain menggunakan skema 3-5-2 yang mengandalkan duet Danny Mota dan Leonardo Mancuso di lini depan. Bermain dengan lima gelandang membuat lini tengah Monza sangat kokoh. Umpan-umpan pendek yang diperagakan kerap merepotkan pemain bertahan lawan.
Di bawah pelatih yang juga mantan punggawa Milan itu, Monza berhasil menduduki peringkat keempat klasemen Serie B musim 2021/2022. Pencapaian itu membuat Monza berhak kembali bertarung di babak playoff.
Monza bersua Pisa pada partai final. Pada leg pertama, Biancorossi menang 2-1 di kandang sendiri. Kemenangan ini jadi modal penting pasukan Giovanni Stroppa di leg kedua.
Di leg kedua, drama pun terjadi. Bermain di Stadion Romeo Anconetani, markas Pisa, anak asuh Giovanni Stroppa harus melayani perlawanan sengit dari dari sang tuan rumah. Akhirnya laga yang berujung tujuh gol itu memastikan Monza berhasil meraih satu tiket ke Serie A musim depan.
https://youtu.be/ZBfnrebYz_s
Sumber: The Athletic, CBSsport, LigaLaga, DW
