Beranda blog Halaman 534

Tepatkah Menyebut MLS Sebagai Liga Pensiun?

0

Major League Soccer (MLS) menghadirkan teka-teki bagi penggemar sepakbola. Apakah liga ini patut untuk didukung dan ditonton? Atau di sisi lain apakah MLS sungguh-sungguh merupakan kompetisi liga sepakbola yang kompetitif?

Ini menjadi semakin rumit lantaran sepakbola bukan menjadi olahraga terpopuler di Amerika Serikat. Keberadaan MLS pun awalnya sekadar untuk menyiapkan gelaran Piala Dunia 1994. Karena Amerika akan menjadi tuan rumah, maka Paman Sam menggelar MLS.

Namun, kini MLS menjadi populer. Bukan karena kekuatan pemberitaannya yang sedahsyat Premier League. Tidak juga lantaran sejarahnya yang begitu mengakar sebagaimana Serie A. Akan tetapi, karena banyak bintang top sepakbola merapat ke sana.

Hanya saja, mereka merapat bukan untuk mencari gelar prestise. Lebih jauh, MLS acap kali disebut sebagai “liga pensiun”, karena para pemain top yang singgah ke sana hanya untuk menghabiskan kariernya. Kebanyakan adalah pemain yang sudah melewati masa emasnya.

Akan tetapi, apa benar demikian? Apa benar MLS itu sekadar “liga pensiun”? Mengapa bisa disebut semacam itu?

Awal Mula

Jika kita melempar ingatan ke belakang, MLS sebetulnya hadir lantaran kebutuhan mendesak. Pada tahun 1994, Amerika terpilih menjadi tuan rumah Piala Dunia. Setahun sebelum gelaran Piala Dunia, pada 1993 Amerika mendirikan MLS.

Pendirian MLS jadi rencana Amerika Serikat sebagai tuan rumah Piala Dunia 1994. MLS pun menjadi semacam waralaba, yang mana untuk meningkatkan popularitas liga, mencoba membawa nama-nama besar untuk merapat ke Amerika Serikat.

Dalam perkembangannya, betul banyak pemain bintang top Eropa khususnya, merapat ke MLS. Salah satu yang cukup fenomenal adalah David Beckham. Penandatangan Beckham ke LA Galaxy pada tahun 2007 membantu untuk membawa gelombang pemain top ke MLS.

Namun, status Beckham yang sudah melewati masa emasnya, justru menjadi titik awal mengapa MLS disebut sebagai “liga pensiun”. Setelah Beckham, mulai banyak pemain yang menghabiskan senja karier mereka di MLS.

Sekalipun pada waktu itu, David Beckham berhasil menjadikan MLS populer di masyarakatnya sendiri. Meski ia datang dengan sisa-sisa kekuatannya, kehadiran Beckham membawa atmosfer baru dan perbedaan di MLS.

Setelah nama-nama beken, termasuk para generasi emas Inggris juga turut datang ke MLS. Mereka antara lain Frank Lampard, Steven Gerrard, sampai Andrea Pirlo. Namun, tiga nama tadi menjadikan MLS sebagai pelabuhan terakhir sebelum memutuskan pensiun.

Hal itu justru berkebalikan dengan David Beckham sendiri. Bagi Beckham, MLS bukan sebagai tempat pensiunan atau menghabiskan masa senja. Namun, pada waktu itu, Beckham menunjukkan MLS adalah liga yang kompetitif. Ia bahkan menjadikan MLS semacam batu loncatan untuk kembali lagi ke Eropa.

Tidak Selamanya yang Datang Menghabiskan Masa Senja

Walaupun MLS dianggap “liga pensiun”, tapi tak selamanya benar demikian. Bisa jadi sebutan “liga pensiun” datang dari para pencinta sepakbola yang tahunya Eropa doang. Pemain yang merapat ke Major League Soccer nggak selalu mereka yang habis masa emasnya.

Ada pula pemain yang memilih MLS saat ia sedang aktif-aktifnya. Atau dengan kata lain belum melewati masa emasnya. Mari kita sebut misalnya, Carlos Vela pemain asal Meksiko. Vela menjalani masa-masa indah di MLS sejak 2018.

Padahal Vela ini pada era itu, adalah komoditi yang diperhitungkan di Eropa. Ia yang pernah bermain di Arsenal, justru hijrah dari Premier League ke MLS. Hasilnya? Sinarnya sama sekali tidak meredup. Pemain liga-liga Eropa lainnya, seperti Giovani Dos Santos juga mengikuti jejak Vela.

Dos Santos adalah pemain muda FC Barcelona, ia kemudian pindah ke Tottenham Hotspur, sebelum akhirnya menandatangani kontrak dengan LA Galaxy tahun 2015. Pada waktu itu, meski bermain di Liga MLS, Dos Santos masuk dalam daftar panjang nominasi peraih FIFA Ballon d’Or tahun 2015.

Alasan Pemain Datang ke MLS

Pertanyaannya, mengapa pemain memilih MLS? Entah itu untuk menghabiskan masa kariernya, atau untuk serius bermain dan memperindah CV. Daya tarik MLS adalah pemain bisa menikmati budaya Amerika, mulai dari keindahan dan suasananya.

Eropa di sisi lain juga memiliki keindahan yang tak kalah indah. Tapi melancong ke kota-kota di Amerika Serikat seperti Chicago, Los Angeles, maupun New York tentu daya tarik yang berbeda. Selain itu, konon gaji di MLS sangat menggiurkan.

Bintang sepakbola top yang datang ke MLS bisa mendapatkan gaji di luar persyaratan batas gaji yang ditentukan. Artinya, mereka bisa mendapat uang lebih banyak daripada ketika bermain di Eropa. Namun apakah benar begitu?

Tidak semua pemain mendapatkan gaji tinggi ketika bermain di MLS. Kabar terbaru, Gareth Bale yang baru saja merapat ke Los Angeles FC justru memiliki gaji yang berbeda dengan pemain lain seperti Xherdan Shaqiri di Chicago Fire atau Lorenzo Insigne di Toronto FC.

Melansir laporan Marca, Gareth Bale bakal mendapat gaji dari Los Angeles FC sebesar 1,6 juta dolar (sekitar Rp23,7 miliar). Angka itu jauh lebih sedikit dari gajinya ketika di Real Madrid yang mencapai 20,3 juta dolar (sekitar Rp301,6 miliar).

Nasib Bale itu berbeda dengan Insigne yang kabarnya justru memiliki gaji yang lebih tinggi. Dikutip The 18, bermain untuk Toronto FC, Insigne mendapat bayaran 12,42 juta dolar per musim plus tambahan 5,64 juta dolar. Jadi kalau ditotal, pendapatan Insigne dari Toronto bisa mencapai 18,06 juta dolar (sekitar Rp268,3 miliar).

MLS Mulai Berkembang

Pada kenyataannya MLS mulai mengalami perkembangan. Major League Soccer tidak hanya menjadi tempat para pesepakbola menghabiskan sisa-sisa kemampuannya. Tapi MLS mulai mereguk popularitasnya barang seteguk demi seteguk.

Setidaknya MLS berhasil membantu masyarakat Amerika untuk mulai menggemari sepakbola. Dalam sebuah riset oleh Nielsen Scarborough, ada peningkatan 10 persen minat terhadap MLS dari penduduk Amerika yang berusia 18 tahun ke atas, sepanjang tahun 2012 hingga 2018.

Popularitas yang mulai naik ini membuat klub-klub di MLS kian bertumbuh. Semakin banyak klub sepakbola Amerika yang bergabung. Misalnya, Inter Miami dan Nashville SC yang bergabung pada 2020 dan Austin FC yang bergabung tahun 2021.

Klub-klub MLS pun mulai berkembang. Mereka menguatkan jaringan dengan perusahaan-perusahaan di bidang olahraga, tak terkecuali City Football Group. Alhasil, MLS pun tidak hanya menerima para pemain bangkotan, tapi juga menyumbang banyak talenta hebat.

Nama-nama seperti Ricardo Pepi, Christian Pulisic, Alphonso Davies, Miguel Almiron, sampai Weston McKennie adalah pemain-pemain yang akhirnya justru diekspor ke Eropa. Namun, ini juga bukan selamanya menguntungkan. Bisa jadi mengekspor pemainnya ke Eropa justru menimbulkan masalah lain lagi.

Ketika para pemain hebat yang lahir dari MLS pergi, justru di titik itulah MLS menggerus popularitasnya sendiri. Meski sekarang MLS sudah mulai menjaring siaran televisi publik seperti NBA dan NFL, namun tidak ada pemain berkelas seperti liga Eropa, tidak akan cukup membuat penggemar sepakbola mau menonton MLS.

Belum lagi kalau ujungnya superstar sepakbola yang datang justru mereka yang sudah bapuk. Atau istilah sopannya, pesepakbola yang telah melewati masa emasnya. Dengan begitu, MLS sulit untuk melepaskan olok-olokan “liga pensiun” yang melekat padanya.

https://youtu.be/kOxGgmBqqGo

Sumber referensi: Goal, SportingNews, SQAF, Quora

Berita Bola Terbaru 28 Juni 2022 – Starting Eleven News

Berita Bola Terbaru dan Terkini

FANS SEPAKBOLA INDONESIA KECEWA TERHADAP TROFEO RONALDINHO

Netizen Indonesia banyak yang kesal dengan acara Trofeo Ronaldinho. Warganet mengecam pemain-pemain Indonesia tak paham apa itu fun football. Dilansir Goal, netizen kesal lantaran tak bisa menikmati aksi dan skill dari Ronaldinho. Bermain untuk Rans Nusantara, Ronaldinho justru jarang mendapat bola. Pemain Rans dan Persik justru bermain serius dengan tempo yang terbilang cukup cepat, daripada bermain santai dan bersenang-senang dengan Ronaldinho.

BALE BERGABUNG, INILAH BINTANG-BINTANG LOS ANGELES FC

Dengan bergabungnya Gareth Bale ke Los Angeles FC, klub MLS itu kini penuh dengan  mantan bintang-bintang Eropa. Sebelum Bale, LAFC juga sudah meresmikan penandatanganan bek legendaris milik Timnas Italia, Giorgio Chiellini. Mereka berdua akan bergabung dengan Carlos Vela yang sudah terlebih dahulu bermain untuk Los Angeles.

MANTAN PEMAIN AS ROMA JADI WALIKOTA

Mantan gelandang AS Roma dan Timnas Italia, Damiano Tommasi telah terpilih sebagai walikota Verona. Dilansir Football Italia, pria 48 tahun itu mengalahkan petahana, Federico Sboarina dalam putaran kedua dengan perolehan 54,4%, sedangkan Sboarina yang hanya mengumpulkan 46,6% suara. Ini bukan peran administratif pertama yang dipegang oleh Tommasi, ia juga menghabiskan sembilan tahun sebagai Presiden Asosiasi Pemain Italia dari 2011 hingga 2018.

INTER HARUS JUAL PEMAIN DEMI TERHINDAR DARI KERUGIAN

Inter Milan sangat aktif dalam bursa transfer kali ini. Mereka sudah mengamankan Romelu Lukaku, Henrikh Mkhitaryan, dan kini berhasil mendapatkan Kristjan Asllani dari Empoli yang segera melakukan tes medis dalam beberapa hari ke depan. Namun, dilansir Football Italia, Inter harus segera menjual pemain apabila tak ingin terjebak dalam kerugian. Nerazzurri kini tengah mencari pembeli untuk beberapa pemainnya, termasuk Milan Skriniar, Henrique Dalbert, dan Valentin Lazaro. 

TERUNGKAP! HARGA CRISTIANO RONALDO

Label harga Cristiano Ronaldo terungkap ketika bos baru Chelsea, Todd Boehly bertemu dengan Jorge Mendes guna membicarakan beberapa transfer. Dilansir Football London, Ronaldo memiliki harga pasaran di angka 17,5 juta pound (Rp317 miliar) dan memiliki beban gaji sebesar 385 ribu pound per minggu, atau 20 juta pound (Rp363 miliar) per tahun. Jadi siapa pun yang berminat mendatangkan Ronaldo harus menyiapkan uang sekitar 37 juta pound atau sekitar Rp672 miliar. 

MOURINHO TERTARIK DENGAN BEK BARCELONA

Barcelona harus menjual beberapa pemain utamanya sebelum melakukan pembelian pemain baru musim panas ini. Dilansir Football Espana, Clement Lenglet bakal jadi pemain yang akan dijual berikutnya. Barca yang telah mengamankan Andreas Christensen dari Chelsea membuat Lenglet menjadi opsi pemain yang bisa dijual. Sejauh ini, baru ada minat dari AS Roma. Mourinho ingin memperkuat lini bertahan Roma musim depan dan Lenglet bakal jadi target Mou berikutnya.

INILAH SOLUSI BEK SAYAP ATLETICO MADRID

Diego Simeone sedang merencanakan perubahan besar pada Atletico Madrid menjelang La Liga musim 2022/23, dan posisi bek kanan jadi prioritas di bursa transfer kali ini. Dilansir Football Espana, setelah ditinggal Kieren Trippier ke Newcastle, Atletico sudah dikaitkan dengan beberapa bek kanan lain. Nama Josip Jonanovic jadi favorite Simeone. Pemain Celtic itu kabarnya akan berharga 5 juta pound (Rp90 miliar)

JATAH ONGKOS TRANSFER MANCHESTER UNITED

CEO Manchester United, Richard Arnold memaparkan ongkos transfer yang bisa dipakai Ten Hag untuk belanja pemain musim ini. Dilansir The Sun, United hanya memberikan budget sebesar 100 juta pound (Rp1,8 triliun). Dengan dana segitu, mendatangkan De Jong dengan harga 69 juta pound (Rp1,2 triliun) saja sudah memakan 70% ongkos transfer musim ini. Padahal United masih menargetkan dua atau tiga pemain lagi.

BOCORAN JERSEY KANDANG PSG 2022/2023

Setelah sempat memakai desain polos berwarna biru tua untuk musim 2021/2022, kini PSG kembali ke fitrahnya dengan memberikan sentuhan garis tegas berwarna putih di tengah jersey. Logo pada jersey kandang PSG 22/23 juga ditempatkan di tengah, sedangkan logo Nike muncul di bawah lambang klub.

CHELSEA HUBUNGI MAN CITY, BAHAS TRANSFER RAHEEM STERLING

Dilansir BBC, Chelsea bergerak untuk mendapatkan Raheem Sterling seusai melakukan kontak dengan Manchester City. Belum ada tawaran resmi yang dibuat untuk pemain yang masih memiliki kontrak 12 bulan dengan City tersebut, tetapi yang pasti kepindahannya akan menelan biaya lebih dari 45 juta pounds atau Rp 818 miliar, seperti yang dibayarkan Arsenal untuk Gabriel Jesus. Menurut informasi yang beredar, City membuka peluang penjualan Sterling, tapi hanya untuk harga tinggi.

BARCELONA RILIS JERSEY TANDANG 2022/23

Barcelona merilis jersey tandang yang akan mereka kenakan di musim 2022/23. Warna emas dipilih Blaugrana sebagai dasar jersey yang akan dipakai dalam laga tandang di musim depan. Seragam ini terinspirasi dari peringatan 30 tahun kota Barcelona menjadi penyelenggara Olimpiade 1992. Warna emas ini juga melambangkan nilai ambisi, kegigihan, kerja keras, dan keinginan terus memperbaiki diri.

LAFC RESMI PERKENALKAN GARETH BALE

Lewat situs resminya, Los Angeles FC resmi memperkenalkan Gareth Bale sebagai pemain barunya. Oleh tim asal Amerika Serikat tersebut, Bale diikat kontrak selama satu tahun dengan opsi diperpanjang hingga 2024. Pemain asal Wales itu akan mendapat imbalan sebesar 75 ribu dolar Amerika Serikat atau senilai Rp 1,1 miliar.

ARSENAL DATANGKAN KIPER BARU DARI AS

Klub Premier League, Arsenal mengkonfirmasi kedatangan kiper Amerika Serikat, Matt Turner dari New England Revolution. Klub Matt Turner mengumumkan pada bulan Februari lalu kesepakatan telah disepakati dengan Arsenal, tergantung pada penyelesaian tes medis. Namun kini Matt Turner menuju Arsenal dengan biaya transfer yang dilaporkan sebesar 7,5 juta pounds.

LUIS SUAREZ LANJUTKAN KARIR KE RIVER PLATE

Dilansir AS, penyerang asal Uruguay, Luis Suarez telah mengatakan OK untuk bergabung dengan River Plate dengan status free transfer. Laporan tersebut mengklaim jika pengumuman Suarez jadi punggawa anyar River Plate akan terjadi selambat-lambatnya selasa waktu setempat. Suarez dibutuhkan untuk mengisi posisi yang ditinggalkan Julian Alvarez karena sudah bergabung dengan Manchester City.

FRENKIE DE JONG DITAWAR RP 1,2 T, MULAI MERAPAT KE MU

Barcelona sudah tak sabar untuk menerima dana transfer kepindahan Frenkie de Jong ke Manchester United. Melansir laporan Football365, Tim Catalan siap melepas De Jong di angka 69 juta pounds alias setara dengan Rp 1,2 triliun. Manchester United pun setuju dengan Barcelona. Namun kini batu sandungan datang dari De Jong sendiri yang ragu untuk berlabuh ke Old Trafford.

DI MARIA SUDAH SETUJU GABUNG JUVENTUS

Pemain berstatus bebas transfer dari PSG, Angel Di Maria merapat ke Juventus. Bein Sport melaporkan, negosiasi dengan Bianconeri kini dikonfirmasi telah memasuki tahap akhir dan tinggal menunggu jawaban dari klub. Kesepakatan sendiri senilai 7 juta euro per tahun telah diselesaikan, dengan kontrak selama setahun plus opsi perpanjangan setahun lagi.

SVEN BOTMAN TUNTASKAN TES MEDIS DI NEWCASTLE UNITED

AC Milan telah menyetujui persyaratan pribadi selama berbulan-bulan dengan Sven Botman. Namun kini sang pemain telah menjalani tes medis di Newcastle United, Selasa (28/6) setelah secara praktis menggandakan tawaran ke OSC Lille. Sven Botman menyelesaikan kepindahannya senilai 35 juta pounds dari Lille.

WEST HAM RESMI PERMANENKAN STATUS AREOLA

West Ham resmi menyelesaikan transfer permanen untuk kiper Paris Saint-Germain, Alphonse Areola. Klub Premier League itu membayar 7,75 juta pounds kepada PSG sebagai biaya pembelian permanen. Pemain berusia 29 tahun itu bergabung ke The Hammers dengan menandatangani kontrak lima tahun hingga musim panas 2027, dengan opsi perpanjangan satu tahun lagi.

PETR CECH TINGGALKAN PERAN DI CHELSEA

Dilansir Sky Sports, Mantan penjaga gawang Chelsea Petr Cech akan mengundurkan diri dari jabatan penasihat teknis dan performa tim akhir Juni ini. Cech menjadi staf terakhir yang meninggalkan Stamford Bridge menyusul akuisisi konsorsium pimpinan Todd Boehly. Sebelum Cech, ada Bruce Buck dan Marina Granovskaia yang mundur pada musim panas ini.

JUVE BERSEDIA BAYAR RP 62 MILIAR DEMI DEPAK RAMSEY

Klub raksasa Italia, Juventus dilaporkan telah setuju mengeluarkan sejumlah uang untuk Aaron Ramsey demi memutus kontraknya. Manajemen Si Nyonya Tua ingin mengeluarkan Ramsey yang tak terpakai dari pembukuan mereka, sekaligus menjadikannya agen bebas. Dikutip Football Italia, Selasa (28/6), Juve sangat putus asa sehingga mereka menyerah pada tuntutan Ramsey sebesar 4 juta euro untuk persetujuan bersama mengakhiri kontrak.

KIPER DAVID OSPINA TINGGALKAN NAPOLI UNTUK GABUNG KLUB ARAB SAUDI

Mantan kiper Arsenal, David Ospina tampaknya akan pindah ke Arab Saudi dengan kontrak senilai 3,5 juta euro/tahun setelah menolak tawaran untuk tetap bersama Napoli. David Ospina akan habis kontraknya dengan Napoli pada akhir Juni dan ia menolak memperpanjang kontraknya di Klub Italia tersebut. Tim-tim seperti Real Madrid dan Villareal sejatinya tertarik, namun ia lebih memilih melanjutkan berkarir ke Arab Saudi. 

JORDI AMAT SAH GABUNG JOHOR DARUL TAKZIM

Pemilik Johor Darul Takzim (JDT), Tunku Ismail Sultan Ibrahim mengumumkan Jordi Amat bakal segera gabung klub Liga Malaysia tersebut. Tunku Ismail yang juga Bupati Johor mengatakan bahwa pemain naturalisasi Timnas Indonesia itu akan memenuhi kuota ASEAN. Namun, JDT harus menunggu pemerintah Indonesia mengeluarkan paspor bagi mantan pemain Espanyol itu.

BARCELONA BERENCANA BAWA ROMA KE JALUR HUKUM GARA-GARA INI

Raksasa La Liga, Barcelona siap menuntut AS Roma ke meja hijau setelah mengundurkan diri secara sepihak dari keikutsertaannya di ajang Trofi Joan Gamper 2022. Blaugrana geram lantaran telah menyiapkan segalanya, termasuk tiket, di ajang tradisional klub Catalan tersebut. I Giallorossi sendiri berdalih bahwa ingin fokus menatap musim 2022/23.

FERNANDINHO KEMBALI KE KLUB MASA REMAJANYA DI BRASIL

Tak butuh waktu lama bagi Fernandinho untuk menemukan klub baru. Setelah masa tugasnya di Manchester City berakhir, gelandang berkepala plontos itu pulang ke Brasil. Fernandinho menandatangani kontrak dengan klub asal negeri samba, Atletico Paranaense. Klub itu pernah diperkuat Fernandinho semasa remaja dari 2002 hingga 2005. Selama periode tersebut ia tampil dalam 72 pertandingan liga domestik dan mencetak 14 gol.

TERUNGKAP, NOMOR JERSEY SADIO MANE DI BAYERN

Bayern Munchen telah memperkenalkan Sadio Mane sebagai pemain barunya. Mane sebelumnya sangat identik dengan nomor punggung 10. Akan tetapi nomor itu sudah dimiliki oleh Leroy Sane. Kini pemain berpaspor Senegal itu memilih 17 sebagai nomor punggungnya. Dengan nomor barunya itu, Mane berharap bisa membawa Bayern Munchen meraih gelar sebanyak mungkin. Dia juga tak sabar ingin melakoni debutnya bersama tim berjuluk The Bavarians tersebut.

Pasangan Ayah dan Anak Ini Pernah Membela Klub yang Sama

0

Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Mungkin pepatah ini yang bisa menggambarkan hubungan ayah dan anak yang sama-sama menjadi pesepakbola profesional. Contohnya Rachmat Irianto yang merupakan anak dari legenda sepakbola Indonesia era Primavera, Bejo Sugiantoro.

Yang membuat hubungan mereka kian menarik adalah, keduanya pernah membela klub yang sama, yaitu Persebaya Surabaya. Itu di Indonesia, bagaimana dengan sepakbola Eropa? Apakah ada ayah dan anak yang pernah membela klub yang sama? Tentu ada, berikut daftarnya.

Keluarga Schmeichel di Manchester City

Peter Schmeichel merupakan salah satu kiper terbaik yang pernah bermain di Inggris. Peter terkenal ketika masih menjadi kiper Manchester United era Sir Alex Ferguson. Di mana ia telah memenangkan lima gelar Liga Inggris dan trofi Liga Champions yang fenomenal musim 1998/1999.

Menariknya, Peter Schmeichel pernah membelot ke Manchester City di era awal 2000-an. Kepindahannya ke Manchester Biru menimbulkan kontroversi bahkan sedikit kebencian di sisi Manchester Merah. Meski melegenda bersama United, Peter justru memasukan anaknya, Kasper Schmeichel ke akademi City.

Kasper juga berposisi sebagai penjaga gawang. Ia menimba ilmu di akademi Manchester City hingga usianya 18 tahun. Bermula dari tim U-18 City, Kasper mampu menembus skuad utama The Citizen pada tahun 2004 silam. Namun, ia memutuskan untuk bergabung ke Notts County pada tahun 2009 dan kini bermain untuk Leicester City.

Bermain di bawah nama besar ayahnya tak membuat Kasper ciut. Ia melakukannya dengan baik. Kasper bahkan memenangkan trofi Liga Inggris dan Piala FA bersama Leicester. 

Keluarga Haaland di Manchester City

Jauh setelah keluarga Schmeichel, kini kisah itu kembali terulang pada diri Erling Haaland. Kendati demikian, petualangan Haaland baru akan dimulai awal musim depan lantaran ia baru didatangkan City dari Borussia Dortmund awal Juni kemarin.

Haaland memilih Manchester City sebagai klub barunya lantaran City memiliki hubungan yang baik dengan sang ayah, Alf-Inge Haaland. Ayah Haaland pernah membela City pada awal 2000-an. Ia didatangkan dari Leeds United pada musim 2000/2001 dan menjadi saksi perjalanan rollercoaster City di sepakbola Inggris.

Kini Erling Haaland melanjutkan trah keluarga “Haaland” di Manchester City. Setelah City mendatangkannya, mereka sesekali melakukan bincang-bincang santai dengan pasangan anak dan ayah ini sebagai bentuk pendekatan kepada fans melalui media sosial.   

Keluarga Maldini di Milan

Mendengar nama Maldini, pasti semua orang akan mengaitkannya dengan klub raksasa Serie A, AC Milan. Keluarga ini terlihat sangat mencintai klub asal Kota Milan tersebut. Hal ini karena nama mereka selalu ada dalam daftar tim yang sudah memegang lima kali juara Liga Champions tersebut.

Cesare Maldini menjadi kepala dari gerbong keluarga yang menjadi legenda hidup klub tersebut. Pria asal Italia ini merupakan sweeper yang andal, kehebatannya membuat barisan belakang Milan sulit ditembus para penyerang lawan.

Selepas pensiun, nama Paolo Maldini yang merupakan anak dari Cesare Maldini, merangkak naik dan sukses menjadi legenda AC Milan. Hal tersebut bukan semata-mata karena memiliki darah Maldini, melainkan Paolo Maldini memang bek yang bagusnya bukan main. Bek kharismatik itu membela AC Milan sejak 1985 hingga 2009.

Trah Maldini tak berhenti di situ. Kini nama Daniel Maldini muncul sebagai penerima tongkat estafet keluarga Maldini di Milan. Namun, Maldini yang satu ini sedikit berbeda. Ia tak bermain sebagai pemain belakang, melainkan ia seorang pemain yang bernaluri menyerang. Ia bermain di posisi gelandang serang dan sayap.

Ketiga Maldini ini terbilang sukses di Milan. Dari Cesare hingga Daniel, mereka sukses menghadirkan belasan trofi untuk Milan. Teranyar Daniel Maldini juga tergabung dalam skuad Milan yang meraih scudetto musim lalu.

Keluarga Kluivert di Ajax

Patrick Kluivert merupakan pemain hebat pada masanya. Ia sukses menjadi legenda di Timnas Belanda, sekaligus mengingatkan supremasi akademi Ajax yang kerap melahirkan pemain jempolan dan menjadi legenda di sana.

Bersama Ajax, Patrick Kluivert mampu memenangi banyak gelar termasuk Liga Champions tahun 1995. Kemahirannya dalam mengolah si kulit bundar ternyata menurun ke anaknya, Justin Kluivert. Justin merupakan sayap lincah dengan masa depan cerah. Sama seperti sang ayah, karirnya dimulai dari akademi Ajax dan promosi ke skuad utama tahun 2017.

Nama Justin kian melambung saat berhasil membawa Ajax melaju ke babak final Europa League 2016/2017, sayang Ajax gagal meraih gelar setelah dipaksa tunduk oleh Manchester United dengan skor 2-0. 

Kehebatannya dalam mengolah bola membuatnya merantau ke Italia bersama AS Roma pada musim 2018/2019. Di Roma penampilannya kurang maksimal sehingga ia hanya menghabiskan masa-masanya di Italia sebagai pemain pinjaman. Beda halnya dengan sang ayah, dalam karir sepakbolanya Justin belum merasakan gelar juara sama sekali.

Keluarga Blind di Ajax

Selain keluarga Kluivert, ada Danny Blind dan Daley Blind. Mungkin kalian lebih akrab dengan nama Daley Blind ketimbang Danny Blind. Namun, Danny Blind bisa dibilang sebagai salah satu legenda yang dimiliki sepakbola Belanda. 

Dia adalah pemain penting bagi Ajax. Bermain di era 80-an hingga akhir 90-an ia menghabiskan 13 tahun di Ajax dan meraih belasan trofi bergengsi, termasuk lima gelar Eredivisie, Liga Champions dan Piala Super UEFA.

Sedangkan sang anak, Daley Blind mulai dikenal ketika menembus skuad utama Ajax pada tahun 2009. Bek serba bisa itu menjadi andalan dalam beberapa tahun, sebelum akhirnya bergabung dengan Manchester United pada musim 2014/2015. Namun, minimnya menit bermain membuat Daley Blind kembali ke Ajax musim 2018/2019.

Di periode keduanya bersama Ajax, Daley Blind kembali memberikan beberapa trofi bergengsi untuk Ajax. Hingga saat ini ia sudah memberikan sebelas trofi termasuk 7 gelar Eredivisie untuk Ajax.

Keluarga Zidane di Real Madrid

Jika Zinedine Zidane dikenal sebagai salah satu gelandang terbaik sepanjang sejarah, sang anak yaitu Luca Zidane justru memilih kiper sebagai posisi bermainnya. Luca pernah dilatih sang ayah saat ia berkostum Real Madrid. 

Sayangnya, Luca hanya merasakan tampil di skuad utama sebanyak dua kali saja sebelum akhirnya ia dijual ke Rayo Vallecano pada tahun 2020. Hal itu tentu berbanding terbalik dengan sang ayah saat masih berkostum Los Blancos. 

Madrid menjadikan Zinedine Zidane pemain termahal dunia ketika didatangkan dari Juventus tahun 2001. Ia kemudian membantu Real Madrid menjuarai Liga Champions pada musim 2001/2002 dan La Liga musim berikutnya.

Keluarga Savage di Manchester United

Yang terakhir ada keluarga Savage di Manchester United. Setan Merah memang dikenal sebagai klub yang kerap menghasilkan bakat-bakat muda melalui akademinya. Charlie Savage, anak dari Robbie Savage, jadi pemain akademi kesekian yang merasakan debut di skuad utama United. 

Charlie memainkan debutnya di Liga Champions kala United menghadapi Young Boys Desember lalu. Yang menarik adalah saat Charlie melakukan debutnya, sang ayah menjadi komentator dalam pertandingan tersebut. Dengan bangga, Robbie memperkenalkan nama putra sulungnya itu kepada dunia saat Charlie masuk sebagai pengganti Juan Mata.

Sama seperti ayahnya, Charlie Savage juga berposisi sebagai gelandang tengah. Namun Robbie Savage yang membela MU pertengahan 90-an lebih berkarakter bertahan dan agresif di lapangan. Sementara Charlie, adalah gelandang tengah kreatif yang memiliki naluri menyerang cukup baik.

https://youtu.be/n_zLZcIol1s

Sumber: Sportskeeda, Intersport, Khelnow, Idntimes, Transfermarkt

Ombang-Ambing CR7, Diobral Agennya Sendiri atau Bertahan di MU?

Kabar mengejutkan datang dari Cristiano Ronaldo. Nasibnya kini ibarat kacang, kuaci, permen yang dijajakan pedagang asongan di berbagai terminal. MU yang kedatangan Erik Ten Hag membuat situasi Ronaldo tidak menentu. Sampai-sampai, Jorge Mendes, agennya CR7 kabarnya telah menjajakan Ronaldo ke klub lain.

Walaupun, Manchester United sendiri cepat-cepat menampik rumor kepergian Ronaldo. Namun, kabar akan cepat sirna. Jendela transfer masih terbuka, dan bukan tidak mungkin kalau Ronaldo justru beneran hengkang. Tapi betulkah rumor yang menyebut Ronaldo bakal hengkang?

Awalnya, Ronaldo memang terlihat gusar karena MU sangat bapuk. Ia bahkan mengancam akan pergi dari Old Trafford, andai MU tak kunjung berbenah. Misalnya, dengan mendatangkan pemain baru. Tapi di sisi lain, ada kemungkinan kalau itu hanya gertak sambal bagi manajemen baru Manchester United yang dipegang Richard Arnold dan John Murtough.

Ten Hag Tak Butuh?

Namun isu kepergian Ronaldo dari Old Trafford bagaimanapun makin gencar. Apalagi sejak wartawan Portugal, Pedro Almeida mengungkapkan bahwa “Ronaldo tidak ada dalam rencana Ten Hag musim ini”. Jelas ungkapan itu membuat isu kepergian Ronaldo dari MU makin deras. Ironisnya, tidak menutup kemungkinan itu hanya kerjaan reporter yang kekurangan bahan berita.

Terlebih Ronaldo inilah yang menggendong MU selama musim ini. Torehan gol CR7 inilah yang berhasil menyelamatkan Setan Merah dari zona degradasi. Tentu hal begini akan diperhatikan oleh Erik Ten Hag. Pelatih berkepala plontos itu masih sangat membutuhkan Ronaldo. Karena selain ia masih bisa jadi lumbung gol, kepemimpinan Ronaldo sangat diperlukan di tim yang kemungkinan akan banyak diisi pemain muda tersebut.

Jika Ten Hag masih membutuhkan Ronaldo, tinggal bagaimana manajemen Setan Merah. Apakah mereka sudi mempertahankan Ronaldo? Manajemen MU pasti sudah melakukan kalkulasi. Mereka sudah mengevaluasi bagaimana Ronaldo menguntungkan klub, dan melihat apakah Ronaldo akan menghabiskan banyak uang untuk klub atau tidak.

Hitung Hitungan

Mengingat struktur gaji tertinggi Manchester United kini dipegang oleh Ronaldo dengan 25 juta pounds per pekan atau sekitar Rp545 miliar. MU di bawah keluarga Glazer tentu akan berpikir ulang mengenai hal itu. Apalagi niat Ten Hag mendatangkan Frankie De Jong yang juga sama-sama bergaji selangit, tentu akan membuat MU terbebani secara gaji.

Glazer Family pasti sudah menghitung seberapa besar keuntungan yang didapat ketika pertama Ronaldo kembali ke MU hingga sekarang. Seperti jamaknya pemilik Amerika, mereka hanya berkalkulasi pada segi bisnis untung rugi dalam mengelola klub. Efek kedatangan Ronaldo dari segi komersialitas seperti penjualan merchandise maupun banyaknya pemasukan penonton di stadion, tentu itu merupakan beberapa aspek yang dihitung oleh manajemen. Apabila dianggap sudah tak signifikan lagi secara kalkulasi bagi Glazer Family, bisa saja nasib Ronaldo penuh dengan ketidakpastian.

Apalagi ditambah sekarang struktur manajemen yang baru bersama Richard Arnold, Murtough, dan Ten Hag sangat berhati-hati dalam merekrut maupun menggaji pemain. Mereka telah menuju pada paradigma baru yang berbeda dari pendahulunya, Ed Woodward yang lebih mudah mengeluarkan uang. Artinya MU akan mengarah pada neraca keuangan klub yang seimbang antara pemasukan dan pengeluaran.

Obsesi Ronaldo?

Hal lain yang menjadi faktor yang mungkin mempengaruhi sikap Ronaldo sekarang ini adalah mengenai keterlibatannya di Liga Champions musim depan. Sepanjang kariernya, Ronaldo tidak pernah absen bermain di Liga Champions. Sejak pertama kali merasakan kompetisi kasta tertinggi Eropa tersebut, Ronaldo terus bermain dan tidak pernah absen.

Lebih dari itu, Ronaldo dan UCL punya hubungan tersendiri yang sangat spesial. Dia memegang banyak rekor di Liga Champions, termasuk soal pencetak gol terbanyak dan gelar. Kini situasinya, MU hanya akan bermain di Europa League. Ronaldo pun tahu resiko itu dan nampaknya oke-oke saja. Namun yang namanya superstar, kembali lagi, hitung-hitungan menjadi penting.

Ronaldo secara pribadi menganggap apakah masih ada peluang untuk mencari klub lain yang mau menampungnya? Ia tampaknya sangat terobsesi untuk bermain di klub lain yang bermain di Liga Champions seperti apa yang dikatakan Pedro Sepulveda. Wartawan Portugal itu mengatakan bahwa ternyata Ronaldo sudah berbicara dengan agennya, Jorge Mendes untuk mencarikan peluang sekecil apa pun bagi karirnya.

Kini Ronaldo juga berada di tim yang sedang pada tahap membangun. Di mana target juara pun perlu waktu dan tidak instan. Nah, hal itulah juga yang menambah Ronaldo menjadi gusar. Bagaimanapun dia adalah superstar yang ingin mengakhiri sisa karirnya dengan sebanyak-banyaknya gelar dan rekor, dan itu adalah obsesi yang wajar.

Hati Hati, Jorge Mendes Sudah Bergerak

Maka dari itu, seorang Jorge Mendes muncul ke publik dengan berita menggemparkan. Dirinya sudah turun tangan terjun langsung menawarkan peluang seorang Ronaldo hengkang dari MU. Ronaldo ditawarkan ke para klub yang sudah dikalkulasikan bisa membayarnya. Pasalnya, bintang Portugal tersebut memiliki gaji yang tinggi. Artinya, hanya ada segelintir klub saja yang bisa menebusnya.

Nah, pertanyaan besarnya sekarang, kalau Jorge Mendes sudah berani turun tangan, masa iya tanpa persetujuan kliennya? Jorge Mendes tak akan sembarangan berkeliling demi mengobral pemainnya yang kelasnya superstar itu, kalau tak ada sebab yang menyertainya.

Pertama, Jorge Mendes menawarkan Ronaldo ke Munchen dan dikatakan ia sudah bertemu dengan direktur olahraga Munchen, Hasan Salihamidzic. Namun penawaran resmi itu ternyata ditolak oleh Munchen karena Ronaldo bukan termasuk proyek Munchen musim depan.

Kemudian ia ditawarkan ke Roma untuk bereuni dengan Mourinho. Akan tetapi, secara kelas, itu mustahil. Karena Roma juga hanya bermain di Europa League musim depan. Mendes juga sudah bertemu dengan Tood Boehly pemilik baru Chelsea. Menanyakan peluang kliennya bisa bergabung dengan The Blues.

Chelsea bagaimanapun masih berambisi dengan pemilik barunya. Namun, terlepas dari pertanyaan besar mengenai Ronaldo yang ditawarkan agennya ke sana ke mari, MU masih bersikeras bahwa “Ronaldo Not For Sale”, titik.

Akan tetapi, bagaimanapun kita ingat bahwa Ronaldo pernah membuat gempar transfer musim panas silam. Saat ia dilaporkan meminta pindah beberapa hari jelang penutupan bursa transfer. Kesepakatan antara Juventus dan MU pun baru terjadi di hari-hari terakhir.

Sekarang MU boleh saja mengatakan Ronaldo akan bertahan. Namun berkaca pada kejadian tersebut, bisa saja hal sebaliknya justru terjadi. Waktu masih panjang, segala kemungkinan sekecil apa pun masih bisa terwujud, termasuk yang terliar sekalipun.

https://youtu.be/LAuv5-hmdjs

Sumber Referensi : sportingnews, theathletic, fourfourtwo, skysports

Dahsyatnya Lyon Memproduksi Pemain Kelas Dunia

0

Jika kamu penggemar Real Madrid, kamu boleh melompat dari kursi ketika Benzema menyelamatkan Los Merengues dari kekalahan. Begitu pula Real Betis harus berterima kasih pada Nabil Fekir. Pemain itu menjadi salah satu aktor kunci ketika Los Verdiblancos meraih titel Copa del Rey.

Namun, dua nama tadi tidak akan mencapai titik terbaiknya dan tidak akan kita kenal kalau klub Prancis, Olympique Lyonnais tidak mendidik mereka. Ya, Les Gones bahkan masyhur sebagai pabriknya pemain-pemain kelas dunia.

Jika kalian lupa, selain Nabil Fekir dan Karim Benzema, ada banyak pemain kelas dunia yang lahir dari rahim Lyon. Dari Anthony Martial, Alexandre Lacazette, Tanguy Ndombele, Houssem Aouar, Clement Grenier, Samuel Umtiti, Corentin Tolisso, sampai Hatem Ben Arfa.

Saking hebatnya memproduksi pemain kelas dunia, Lyon konon hampir pasti tidak akan kehabisan pemain. Well, bagaimana Lyon bisa memproduksi pemain kelas dunia? Apa rahasianya?

Andil Pemerintah Prancis

Keberhasilan Lyon dalam menelurkan pemain muda berbakat tidak semata-mata karena klub. Tapi ada banyak pihak yang turut andil dalam kesuksesan Lyon memproduksi pemain kelas dunia. Pihak tersebut salah satunya adalah pemerintah Prancis.

Tidak seperti negara-negara Eropa lainnya, katakanlah seperti Inggris maupun Spanyol, sepakbola Prancis dianggap tidak menarik. Ini terlepas dari bagaimana Paris Saint-Germain yang kini menguasai Liga Prancis. Namun, memang begitulah keadaannya.

Mendominasi atau tidaknya PSG di Liga Prancis, tidak sanggup menutup stigma bahwa sepakbola Prancis tidak menarik. Seseorang yang memulai karier profesionalnya, bahkan sangat disarankan untuk tidak bermain di Prancis. Akan tetapi, tuduhan semacam itu keliru besar.

Trofi Piala Dunia 2018 jadi bukti Prancis sebenarnya tidak seburuk apa kata orang. Sekalipun di satu titik masih kurang menarik, namun Prancis telah menghasilkan banyak pemain hebat, dan itu berakar di satu kebijakan zaman baheula.

Pada tahun 1973, muncul kebijakan dari Prancis dalam bentuk Piagam Sepakbola Profesional. Di dalamnya, setiap klub profesional Prancis wajib membuat pusat pelatihan pemuda. Dan Lyon pada waktu itu, menjadi tim pertama yang melaksanakan mandat tersebut.

Berkat Jean-Michel Aulas

Setelah piagam itu, beberapa tahun setelahnya, tepat pada Juni 1987, Jean-Michel Aulas menjabat sebagai presiden Lyon. Ia menjadi pencetus awal pengembangan pemain muda di Olympique Lyonnais. Pada waktu itu, Aulas punya ambisi untuk mengerek Lyon yang masih berada di tingkat kedua agar bisa promosi

Ia menunjuk pelatih kepala, Raymond Domenech dan mempercayakan jabatan direktur olahraga kepada Bernard Lacombe. Penunjukkan Domenech sebagai pelatih kepala terbilang tepat. Apalagi Domenech tahu Lyon memiliki jajaran pemain muda yang berbakat.

Domenech mempercayakan pemain lokal seperti Bruno Genesio, Remi Garde, dan Bruno N’Gotty. Pemain-pemain yang dipanggil Domenech pun membuahkan hasil positif. Mereka berhasil membawa Lyon promosi pada tahun 1990, dan sejak saat itu Les Gones belum pernah terdegradasi.

Mulai saat itu pula, Lyon menghasilkan lulusan akademi yang bermutu. Florian Maurice yang mentas dari akademi menjadi pemain bintang Olympique Lyonnais pada era 1990-an. Sementara, ketika Lyon mulai mendominasi Ligue 1 dari tahun 2000-an, sayap lokal seperti Sidney Govou turut ranum.

Buah Karya Gerard Bonneau

Kemudian pada 2003, Gerard Bonneau datang menjadi tukang rekrut di Lyon. Bonneau bekerja sebagai recruiter pemain muda Lyon yang bekerja dari tahun 2003 sampai 2017. Ia bertanggung jawab pada peluncuran pemain berbakat dari Lyon, bahkan dari Prancis secara menyeluruh.

Sosok Bonneau adalah orang yang paham bagaimana pemain Prancis bermain bola. Ia yang mengembangkan pemain seperti Anthony Martial, Nabil Fekir, Lacazette, sampai Karim Benzema tahu betul bahwa tipikal pemain asli Prancis adalah bertubuh atletis dan memiliki keunggulan teknis.

“Dasarnya, para pemain Prancis ini bisa beradaptasi dengan sistem permainan apa pun, dan hebatnya bisa menggunakan kedua kaki sama kuat,” kata Bonneau seperti dikutip ESPN.

Bonneau bersama rekan-rekannya, membantu akademi Lyon menjadi salah satu etalase pemain berbakat. Untuk melakukan itu, ia bahkan rela pergi ke luar untuk merekrut para pemain muda. Hasilnya?

Menurut studi yang dikeluarkan CIES Football Observatory, pada tahun 2018, Lyon menduduki peringkat kedua dari lima liga top Eropa sebagai penghasil pemain muda tertinggi. Posisi Lyon hanya kalah dari Real Madrid dan berhasil mengungguli FC Barcelona yang menguntit di peringkat ketiga.

Tatkala Lyon meraih gelar liga terakhir pada musim 2007-08, buah kerja keras Bonneau kelihatan, terutama di lini serang. Pada waktu itu, Lyon 100 persen menggunakan pemain lokal seperti Karim Benzema, Govou, sampai Ben Arfa.

Mempercayakan Pemain Muda

Keberhasilan itu hanya jadi utopis belaka, andai Lyon tak memiliki metode yang pas dalam membina para pemain muda. Sebagaimana julukannya, “Les Gones” yang dalam ungkapan lokal berarti “Anak-Anak”, Lyon membina anak-anak yang memiliki bakat hebat dalam sepakbola dengan cara mempercayai mereka.

Lyon menaruh kepercayaan tinggi pada pemuda-pemuda yang mereka didik sendiri. Dalam laporan Bleacherreport, sekitar 8-12 persen pemain di setiap kelompok usia yang bergabung ke klub dalam sistem perekrutan mereka, telah menandatangani kontrak profesional. Entah itu di klub sendiri maupun tempat lain.

“Budaya Lyon adalah memberikan kepercayaan pada pemain muda. Itu sudah menjadi DNA klub,” kata Jean-Francois Vulliez, kepala akademi Lyon.

Tradisi mempercayai pemain ini memang begitu mengakar pada Lyon. Bahkan pada tahun 2011, mantan pemain yang dulu dilatih Domenech, Remi Garde dan Bruno Genesio masuk jajaran staf klub. Garde lebih dulu memimpin Lyon sebagai pelatih dari tahun 2011 sampai 2014, lalu dilanjutkan Genesio pada 2015.

Gelontoran Dana dan Terjun Mencari Pemain

Sebagai presiden klub, Aulas tidak pelit dalam mengeluarkan biaya. Sekalipun itu bukan untuk membeli pemain berkelas, melainkan mengembangkan pemain muda. Setiap musimnya ada sekira 8-10 juta euro (Rp125 miliar-Rp156 miliar) anggaran dialokasikan untuk akademi.

Kualitas akademi Lyon dari situ benar-benar terjaga. Apalagi dana tersebut juga digunakan para pemandu bakat mencari bakat-bakat tersembunyi. Lyon menaruh setidaknya sembilan pemandu bakat di kawasan Auvergne-Rhône-Alpes di timur-tengah Prancis. Tempat itu menjadi penghasil pemain bola dengan lisensi terbanyak di Prancis.

Selain itu, Lyon juga menempatkan lima pemandu bakat di tempat lain di Prancis. Apa yang dilakukan Lyon ini sedikit berbeda dengan klub lain. Mereka tidak sekadar mengandalkan pertandingan uji coba untuk mendapatkan pemain, tapi betul-betul terjun ke klub-klub amatir.

Pemandu bakat Lyon benar-benar hadir di pinggir lapangan. Kehadiran mereka sangat dirasakan oleh tim-tim lokal. Karena apa yang dilakukan pemandu bakat Lyon ini adalah pengamatan detail dengan langsung melihat seorang pemain bermain di klub amatir.

Awalnya, Lyon dianggap menjarah para pemain. Namun, lama-lama hubungan timbal balik antara Lyon dan klub amatir pun terjalin. Keduanya menjalin kemitraan yang sama-sama menguntungkan.

Peduli pada Mental Pemain

Dalam perkembangannya, akademi Lyon tidak hanya berfokus pada pengembangan bakat dalam hal mengolah si kulit bundar. Namun, Lyon juga memperhatikan kondisi psikis para pemainnya. Akademi Lyon mulai mengarah untuk membuat semacam layanan psikologis pada para pemain muda.

Ini memang sesuai dengan rencana Prancis untuk tidak hanya mengembangkan bakat, tapi juga memenuhi kebutuhan psikologis. Untuk itu Lyon telah menyiapkan program kesehatan psikologis, seperti hipnoterapi, yoga, dan pelatihan persiapan mental untuk pemain berusia 12 tahun ke atas.

Dari sini kita tahu bahwa selain fasilitas dan biaya, Lyon juga memfasilitasi pengembangan pemain melalui program yang terukur dan jelas. Maka wajar saja, kalau pada akhirnya akademi Lyon jadi salah satu yang terbaik di Eropa.

Sumber referensi: BR, FootAmateur, ESPN, PlayingFor90, InterestingFootball

Promosi! AC Monza, Klub “Jelmaan AC Milan” Siap Guncang Serie A dan Liga Champions!

Monza, sebuah kota yang terletak di wilayah Lombardia ini hanya berjarak 15 kilometer dari kota Milan. Dengan kereta api, para wisatawan hanya butuh waktu 10 menit untuk mencapai Monza dari Milan.

Berbicara soal Monza, maka perhatian kita akan langsung tertuju kepada Sirkuit Monza. Autodromo Nazionale di Monza adalah destinasi olahraga nomor 1 di sana. Wajar, sebab sejak 1950, Sirkuit Monza nyaris selalu jadi tuan rumah ajang balap Formula 1. Monza tercatat hanya absen menggelar GP Italia sekali di tahun 1980.

AC Monza, Klub Lawas Tanpa Prestasi Mentereng

Fakta tersebut tentu sangat kontras dengan kota Milan. Selain dikenal dengan sebutan Kota Mode, Milan juga terkenal akan klub sepak bolanya. Markas AC Milan dan Inter Milan bahkan jadi salah satu destinasi olahraga paling populer di dunia.

Pemandangan tersebut tentu kontras dengan kota Monza di mana sepak bola di sana kurang bergairah. Maklum, AC Monza yang bermarkas di kota tersebut bukanlah klub yang bisa dibanggakan.

Berdiri sejak 1 September 1912, AC Monza hanyalah sekadar klub tua di sepak bola Italia. Stadio Brianteo yang jadi kandang mereka sudah berdiri sejak 1988 dan punya kapasitas 18.568 tempat duduk. Namun, karena usianya yang sudah tua dan tak kunjung direnovasi, kabarnya hanya 9.999 tempat duduk yang dapat beroperasi penuh.

Soal prestasi, AC Monza tak punya koleksi trofi yang mentereng. Klub berjuluk I Biancorossi alias Si Putih Merah itu hanya punya koleksi trofi di level bawah Liga Italia. Beberapa di antaranya adalah 1 trofi Serie D, 4 trofi Coppa Italia Serie C, dan 4 trofi Serie C.

Maka dari itulah, AC Monza tak punya basis fans sebesar klub asal Lombardia lainnya. Ditambah lagi, keuangan Monza juga tak cukup sehat. Sering bergonta-ganti pemilik, Monza tercatat pernah dinyatakan pailit pada tahun 2004 dan 2015.

Silvio Berlusconi Datang, AC Monza Disulap Jadi “Milan KW”

Akan tetapi, itu semua berubah sejak 28 September 2018. Kala itu, Monza yang masih berada di Serie C diakuisisi oleh mantan perdana menteri Italia, Silvio Berlusconi. Melalui perusahan induk Fininvest yang ia miliki, Berlusconi membeli Monza seharga 2,9 juta euro.

Berlusconi yang kita tahu adalah mantan pemilik AC Milan juga datang membawa orang-orang kepercayannya semasa di Milan dulu. Sang adik, Paolo Berlusconi diangkat jadi presiden klub. Sementara sahabat karibnya, mantan CEO Milan, Adriano Galliani jadi bagian dari dewan direksi klub sekaligus jadi CEO AC Monza.

Tak hanya itu, dalam waktu singkat, Berlusconi seolah mengubah wajah AC Monza menjadi “klub jelmaan AC Milan”. Ia mengangkat mantan pemain dan pelatih rossoneri, Cristian Brocchi sebagai pelatih Monza.

Di musim pertama kepemilikan Silvio Berlusconi, Monza finish di peringkat 5 Serie C grup B. Barulah di musim berikutnya, AC Monza berhasil naik kasta ke Serie B. Berada di Grup A, I Biancorossi berhasil memuncaki klasemen dengan koleksi 61 poin sebelum Serie C dihentikan akibat pandemi Covid-19.

Di musim 2020/2021, AC Monza makin terlihat seperti “Milan KW”. Dengan suntikan dana dari Fininvest, Monza memperkuat timnya dengan mantan penggawa Milan seperti Gabriel Paletta, Kevin-Prince Boateng, dan Mario Balotelli. Selain itu, mereka juga meminjam beberapa pemain dari tim-tim Serie A.

Karena hal itulah, AC Monza sangat difavoritkan bakal langsung promosi ke Serie A. Sayangnya, di akhir musim 2020/2021, Monza hanya sanggup finish di peringkat 3. Si Putih Merah kemudian gagal promosi setelah kalah dari Cittadella di babak semifinal playoff promosi. Menyusul hasil tersebut, Monza kemudian memecat Cristian Brocchi serta melepas Boateng dan Balotelli.

Menangi Laga Final Play-off, AC Monza Promosi ke Serie A!

Perubahan kemudian dilakukan jelang musim 2021/2022. Monza mendatangkan beberapa nama segar yang sudah malang melintang di kasta teratas. Dana sebesar 3,55 juta euro digelontorkan untuk mendatangkan beberapa pemain, seperti mantan bek Werder Bremen, Luca Caldirola, mantan bek Juventus, Luca Marrone, mantan gelandang serang Sampdoria, Gaston Ramirez, mantan striker Empoli, Leonardo Mancuso, hingga mantan gelandang AC Milan, Mattia Valoti.

Sementara untuk mengisi kursi pelatih, Monza menunjuk Giovanni Stroppa sebagai allenatore anyar. Stroppa bukanlah nama asing bagi I Biancorossi, sebab 32 tahun yang lalu, pelatih 54 tahun itu pernah jadi pemain pinjaman di Monza.

Kembali ke Stadio Brianteo juga menjadikan Stroppa bereuni kembali dengan Berlusconi dan Galliani. Pasalnya, ia dulu juga merupakan mantan pemain dan pelatih tim muda AC Milan. Saat masih menjadi pemain Milan, Stroppa berhasil memenangkan 7 trofi. Sementara saat jadi pelatih tim muda Milan, ia berhasil memenangi Primavera Coppa Italia.

Selain itu, saat melatih Foggia, Stroppa berhasil menjuarai Lega Pro Super Cup dan membawa Foggia promosi ke Serie B. Ia juga pernah mengantar Crotone promosi ke Serie A di tahun 2020 lalu.

Hasilnya manjur! Di bawah komando Giovanni Stroppa, Monza yang bermain dengan formasi 3-5-2 di hampir seluruh laga tampil cukup konsisten dan jadi tim yang sangat produktif di Serie B. Mereka bahkan nyaris mendapat tiket promosi langsung setelah mampu menghuni peringkat kedua di pekan ke-37.

Sayang, di pekan terakhir, Monza justru kalah dari Perugia dan turun ke peringkat 4. Hasil itu membuat mereka harus berjuang kembali di babak playoff.

Tak ingin mengulang hasil yang sama seperti di musim lalu, Monza tampil lebih meyakinkan di babak playoff. Andrea Barberis dan kolega sukses menundukkan Brescia dengan agregat 4-2 di babak semifinal dan berhak melaju ke partai final untuk mentantang rival mereka, Pisa.

Di leg pertama partai final, Monza yang bertindak sebagai tuan rumah berhasil menundukkan Pisa dengan skor 2-1 berkat 2 gol stiker andalan mereka, Dany Mota dan Christian Gytkjær. Namun, Monza baru bisa memastikan tiket promosi ke Serie A usai menang dramatis di leg kedua.

Bertandang ke Arena Garibaldi, Monza baru bisa memastikan satu tiket promosi setelah Luca Marrone dan Christian Gytkjær mencetak gol di babak tambahan waktu. Laga pun berkesudahan dengan skor 3-4 yang menjadikan Monza keluar sebagai pemenang berkat keunggulan agregat 6-4.

Kemenangan dramatis yang diraih di laga final playoff memastikan AC Monza promosi ke Serie A untuk pertama kalinya dalam sejarah. Ya, sejak berdiri pada 1912, musim 2022/2023 bakal jadi musim pertama Monza di kasta teratas Liga Italia.

Tak ayal, pencapaian tersebut membuat seisi kota Monza berpesta. Berlaga di Serie A musim depan membuat penduduk kota Monza kini punya kebanggan lain dalam diri AC Monza. Pencapaian itu pun jadi raihan tertinggi klub tersebut dalam sejarah dan semua itu didapat Monza usai dipimpin oleh Silvio Berlusconi dan Adriano Galliani.

Ambisi Silvio Berlusconi: AC Monza Raih Scudetto dan Juara Liga Champions!

Kehadrian Silvio Berlusconi dan Adriano Galliani di Stadio Brianteo memang sangat krusial. Tidak ada sosok paling sukses dan paling kontroversial di sepak bola Italia ketimbang dua figur tersebut. Berlusconi dan Galliani adalah sosok vital di era kejayaan AC Milan.

Menurut catatan, duo Berlusconi-Galliani telah memenangkan 29 trofi dengan Milan dari tahun 1986 hingga 2016. Kini, duo paling sukses dalam sejarah sepak bola itu siap menularkan kesuksesaannya bersama AC Monza.

“Sungguh menakjubkan bagi klub seperti Monza, berdiri sejak 1912 dan mendapatkan promosi setelah 110 tahun. Luar biasa bagi semua warga Monza dan Brianza. Berada di Serie A, kita harus memenangkan Scudetto dan pergi ke Liga Champions dan memenangkannya juga. Saya terbiasa menang sepanjang waktu, jadi mari kita lihat,” kata Berlusconi, dikutip dari Football Italia.

Ya, usai memastikan jadi kontestan Serie A musim 2022/2023, Silvio Berlusconi langsung mematok target tinggi. Ia berambisi untuk segera meraih scudetto dan memenangkan Liga Champions. Sebuah misi sulit, tetapi apakah mereka sanggup?

Jika menilik dari rekam jejak Berlusconi dan Galliani, kita tentu tak boleh meremehkan keduanya. Apalagi, menurut peringkat Forbes 2021, Berlusconi adalah pemilik terkaya dari klub sepak bola di Italia dan kesembilan di seluruh dunia, dengan aset kekayaan senilai 7,6 miliar dolar.

Sejauh ini, hanya untuk mewujudkan mimpinya membawa AC Monza ke Serie A, Silvio Berlusconi dikabarkan telah menghabiskan dana tak kurang dari 71,7 juta euro. Selain untuk membenahi skuad, dana tersebut juga digunakan untuk mebenahi fasilitas olahraga dan ruang ganti pemain yang sudah usang.

Kini, sebagai langkah awal untuk mewujudkan ambisi barunya, Berlusconi dan Galliani telah memperkuat Monza dengan beberapa pemain anyar. Dana tak kurang dari 11,50 juta euro telah digelontorkan untuk membeli beberapa pemain, seperti Andrea Ranochhia dari Inter dan Pedro Pereira dari Benfica. Monza juga mempermanenkan Valentin Antov dari CSKA Sofia, Leonardo Mancuso dari Empoli, dan Michele Di Gregorio dari Inter.

Aktivitas transfer Monza masih belum usai. Kabarnya, Berlusconi dan Galliani siap untuk membajak beberapa pemain Milan. Belum lama ini, Monza juga dikabarkan tinggal selangkah lagi untuk meminjam Stefano Sensi dari Inter. Ini jadi pertanda keseriusan I Biancorossi dalam menatap Serie A.

Menarik untuk dinanti bagaimana kiprah AC Monza di musim pertamanya di Serie A. Kira-kira, butuh waktu berapa lama ya bagi mereka untuk meraih scudetto dan lolos ke Liga Champions? Namun, sebelum membayangkan itu, semoga saja Monza tak jadi tim yang sekadar promosi untuk terdegradasi.

Selamat berjuang, AC Monza!

Referensi: AC Monza, Suara, Football Italia, Sky Sports, Football Italia, Il Sole, MilanReports.

Berita Bola Terbaru 27 Juni 2022 – Starting Eleven News

0

BERITA BOLA TERBARU DAN TERKINI

VICTOR OSIMHEN PILIH BERTAHAN DI NAPOLI

Penyerang Napoli, Victor Osimhen dilaporkan mencari klub baru musim panas ini. Namun bermain di Liga Champions tetap menjadi tujuan utama sang striker. Tetapi laporan terbaru Football Italia menyebut bahwa Victor Osimhen telah memutuskan untuk bertahan di Napoli untuk musim 2022/23. Osimhen belum mendengarkan tawaran dari Newcastle United dan Arsenal, yang mencoba mengontrak striker di jendela transfer musim dingin lalu.

CHELSEA INCAR RICHARLISON UNTUK GANTIKAN LUKAKU

Dikutip Football Italia, Chelsea ingin sepenuhnya menyelesaikan kembalinya Romelu Lukaku ke Inter Milan sehingga mereka dapat fokus untuk mengontrak pemain depan Everton, Richarlison. Richarlison saat ini berada di puncak daftar pengganti Lukaku di Chelsea. The Blues berharap untuk memasukkan talenta muda Conor Gallagher dan Billy Gilmour dalam kesepakatan untuk menurunkan biaya harga sang pemain.

JUVENTUS INGIN DAPATKAN ANDREA CAMBIASO

Juventus masih menjadi yang terdepan untuk mendapatkan Andrea Cambiaso dari Genoa meski kini disaingi oleh sesama klub Liga Italia Inter Milan. Dikutip dari Football Italia, pakar transfer Italia Alfredo Pedulla melaporkan, Inter kembali ke persaingan setelah mereka melakukan pertemuan dengan agen dari Cambiaso. Namun Juventus tetap difavoritkan untuk merampungkan transfer Cambiaso pada akhir pekan ini dengan biaya transfer sebesar 3 juta euro (sekitar Rp 46 miliar) ditambah bek Radu Dragusin dan gelandang Michele Baseggio.

MILAN LIRIK FRANCESCO ACERBI

Jawara bertahan Liga Italia AC Milan secara serius berpikir untuk memboyong veteran Lazio Francesco Acerbi dan mereka sudah memulai pembicaraan dengan agen sang pemain. Bek Italia berusia 34 tahun itu mengajukan permintaan transfer di akhir musim setelah menjalani musim yang sulit, di mana Acerbi berselisih dengan para penggemar setelah perayaan yang salah arah pada bulan Desember tahun kemarin.

REAL MADRID NANTIKAN MOHAMED SALAH

Surat kabar Inggris mengabarkan bahwa Liverpool sedang mempertimbangkan untuk melepas bintang Mesir Mohamed Salah. Liverpool mengizinkan kepergian Mohamed Salah musim panas ini, jika ia menerima tawaran sebesar 60 juta pound. Real Madrid yang telah mendengar kabar itu dikabarkan tengah bersiap untuk mengincar Salah. Real Madrid saat ini hanya mengandalkan Karim Benzema sebagai bomber. Meski Salah bukan penyerang tengah, namun Salah bisa jadi opsi setelah gagal mendapatkan Kylian Mbappe musim ini. 

BARCELONA OPTIMIS DEMBELE AKAN BERTAHAN DI CAMP NOU

Barcelona optimistis Ousmane Dembele akan bertahan dan menandatangani kontrak baru bersama Blaugrana pada musim panas ini. Kontrak pemain asal Prancis itu tercatat akan berakhir pada akhir bulan ini. Barcelona tidak akan mengubah tawaran yang telah mereka layangkan sejak Desember tahun lalu. Jika Dembele ingin terus bertahan di Camp Nou, ia harus mengesampingkan ego dan menerima penawaran tersebut.

JOAO FELIX BELUM BERMINAT TINGGALKAN ATLETICO MADRID

Penyerang asal Portugal, Joao Felix kesulitan menunjukkan performa konsisten semenjak ditebus Atletico Madrid dari Benfica dengan banderol 127 juta euro pada 2019 lalu. Felix hanya mampu mencetak 29 gol dan 15 assist dari 110 penampilannya di semua kompetisi. Catatan tersebut tidak membuat Felix patah arang. Dilansir Goal, ia memastikan bakal tetap membela panji Los Rojiblancos pada musim 2022/23 mendatang dan belum berniat berganti klub.

LIVERPOOL PERCAYA DIRI DATANGKAN JUDE BELLINGHAM

Liverpool yakin berada di posisi terdepan untuk mendatangkan pemain Borussia Dortmund, Jude Bellingham. Dikutip dari Sportbible, The Reds berencana mengontrak sang gelandang pada musim depan. Pelatih Liverpool, Jurgen Klopp merupakan pengagum Bellingham. Klopp menjadikan eks Birmingham City itu sebagai target utamanya. The Reds percaya diri dapat mendatangkan Bellingham, sebab pesaing mereka, Manchester City sudah mendapatkan Kalvin Phillips.

HIGUAIN CERITA SOAL DISEBUT KEMAHALAN OLEH ARSENAL

Mantan pemain timnas Argentina, Gonzalo Higuain bicara soal momen dirinya batal ke Arsenal karena disebut kemahalan. Kisah yang dibicarakan Higuain merujuk pada musim panas 2013. Dia dijual Real Madrid ke Napoli setelah bersama selama enam setengah tahun. Napoli saat itu bersaing dengan Arsenal, yang jika dilihat secara gengsi, lebih baik Higuain hijrah ke Emirates. The Gunners akhirnya mundur dalam perburuan karena merasa Higuain terlalu mahal yakni 40 juta euro. Namun demikian, Arsenal justru kemudian mendapatkan Mesut ozil yang seharga 50 juta euro, dan hal itu yang bikin Higuain tertawa.

RONALDO IKUT JUALAN NFT

Cristiano Ronaldo resmi menjalin kerjasama dengan Binance untuk mempromosikan Non-Fungible Token (NFT). Binance dan Ronaldo menyepakati kontrak multi tahun. Dalam kesepakatannya, keduanya akan membuat koleksi NFT untuk dijual di Binance. Kolaborasi ini diharapkan dapat memberikan pengalaman unik bagi para penggemar sepak bola di seluruh dunia. Rencananya, koleksi pertama akan dirilis tahun ini. Upaya ini dilakukan di tengah meredupnya pasar kripto.

DIVOCK ORIGI SEGERA TES MEDIS DI MILAN

Dalam waktu dekat, Divock Origi akan melakukan perjalanan ke Italia untuk melakukan tes medis di klinik kesehatan milik AC Milan. Menurut Fabrizio Romano, Origi akan terbang ke Milan untuk merampungkan tes medis dan menandatangani kontrak dengan Rossoneri. Ia bergabung ke Milan dengan status bebas transfer setelah melewati musim-musim yang hebat bersama Liverpool.

ARSENAL SELANGKAH LAGI DAPATKAN GABRIEL JESUS

Arsenal dikabarkan sudah mencapai kesepakatan dengan Manchester City terkait transfer Gabriel Jesus. Dilansir The Athletic, Jesus sudah menyepakati kontrak berdurasi lima tahun bersama Arsenal. Gabjes dilepas City dengan bandrol 45 juta euro (Rp704 miliar) ia akan bereuni dengan mantan asisten pelatih City, Mikel Arteta. Dan Fabrizio Romano pun sudah bersabda “Here we go” untuk saga transfer ini.

COURTOIS MENGAPRESIASI DIRINYA DENGAN SEBUAH TATTO

Usai menjuarai Liga Champions dengan menampilkan performa yang sangat luar biasa, Thibaut Courtois tampaknya memberikan apresiasi yang cukup unik untuk performa apiknya itu. Dilansir AS, Courtois merayakan peran heroiknya itu dengan sebuah tato di tangannya. Tato itu memiliki desain dengan gambar gawang yang tertutup tembok dan berinisialkan “TC” sesuai dengan namanya.

MU TAK AKAN LEPAS RONALDO MUSIM INI

Manchester United tampaknya yakin bahwa mereka akan mempertahankan sang mega bintang, Cristiano Ronaldo, meski banyak gosip yang beredar bahwa sang pemain ingin hengkang musim ini. Dilansir Bleacherreport, United telah memberitahu Ronaldo bahwa sang pemain tak masuk dalam daftar jual klub musim panas ini, karena manajer baru mereka, Erik Ten Hag akan mengandalkan Ronaldo di tim utama musim depan.

MAGUIRE HAMPIR GABUNG BARCA

Dalam saga transfer Frenkie De Jong yang tak kunjung rampung, Barcelona sempat menawarkan kesepakatan dengan memasukan nama Harry Maguire untuk memperlancar transfer De Jong ke Manchester United. Namun, dilansir Skysport, United menolak mentah-mentah kesempatan itu. Mereka rela mengeluarkan tambahan uang daripada melepas Maguire ke Barcelona.

MU DAN BARCA SEPAKAT SOAL HARGA DE JONG

Daripada memasukan nama Maguire dalam kesepakatan Frenkie De Jong, Manchester United memilih menaikan tawarannya kepada Barca. Dilansir Football Espana, United dan Barca telah menyepakati angka untuk pemain Belanda itu. Setelah tawaran pertama sebesar 53 juta pound (Rp964 miliar) ditolak, kini mereka sepakat di angka 69 juta pound (Rp1,2 triliun) untuk transfer De Jong. Kesepakatan akan rampung dalam beberapa hari kedepan.

DIBUAT KESAL OLEH NASSER, NEYMAR INGIN PERGI

Hubungan Neymar dan Nasser Al-Khelaifi kembali memanas, hal itu disebabkan ucapan Nasser kepada media Le Parisien membuat Neymar tersinggung. Dilansir Marca, Nasser tak puas dengan performa timnya musim lalu, ia ingin pemainnya tampil lebih baik musim depan. Itu menyinggung Neymar yang memang tak menampilkan performa apik. Ia hanya mencetak 13 gol dari 28 pertandingan. Merasa tak dihargai, sang pemain pun kini mempertimbangkan untuk pergi dari PSG, ia tak akan menolak apabila klub ingin menjualnya.

SARKAS ANDER HERRERA UNTUK MESSI

Ander Herrera pasang badan ketika ditanyai soal performa Messi yang menurun bersama PSG. Dilansir Mirror, ia berkata bahwa ekspektasi fans terlalu tinggi. “Mereka meminta 50 gol per musim seperti di masa kejayaannya. Jika itu tak tercapai, fans akan membicarakan Messi. Tapi ia masih menjadi pemegang rekor di Ligue 1. Sepakannya 10 kali membentur tiang, jika semua itu menjadi gol, musim lalu menjadi musim yang luar biasa bagi Messi,” katanya kepada AS yang dikutip Mirror. Entah memuji atau becanda, membentur tiang bukanlah sebuah pencapaian. 

DI MARIA KATAKAN “YA” UNTUK JUVENTUS

Dilansir dari Football Italia, Juventus tengah merampungkan beberapa poin untuk merampungkan transfer Angel Di Maria. Sang pemain sepakat dengan kontrak satu tahun dengan opsi perpanjangan satu tahun lagi. Di Juventus, ia akan mendapat gaji sebesar 7 juta euro (Rp109 miliar) per musim. Pihak Juventus pun akan menjadwalkan tes medis dalam waktu dekat. 

LYON JADI OPSI NOMOR SATU SAMUEL UMTITI

Barcelona akan menjual beberapa pemain untuk menyeimbangkan finansial mereka. Samuel Umtiti jadi salah satu pemain yang tersingkir musim ini. Sejauh ini Lyon masih jadi yang terdepan untuk mendapatkan jasa sang pemain. Namun, dilansir Foot Mercato, Barcelona juga mempertimbangkan klub lain seperti OGC Nice dan Girona yang juga berminat pada Umtiti. 

DAPATKAN BALE, LAFC HARUS BAYAR KE INTER MIAMI

Mendatangkan Gareth Bale membuat Los Angles FC harus membayar sejumlah uang kepada Inter Miami. Dilansir AS, hal itu terjadi karena sebelum direkrut LAFC, Gareth Bale sudah masuk daftar Discovery List atau daftar calon pemain milik Inter Miami. Ini adalah peraturan yang dimiliki oleh MLS. Karena LAFC melanggar, mereka harus membayar kompensasi sebesar 50 ribu dolar (Rp740 juta) sebelum Bale melakukan debutnya di MLS. 

MISI PRIBADI LEWANDOWSKI DI BARCELONA NANTI

Robert Lewandowski sepertinya memiliki misi pribadi apabila ia bergabung dengan Barcelona musim depan. Dilansir 90min, motivasi Lewandowski ingin bergabung dengan Barcelona adalah ia ingin menjadi wajah baru di proyek pembangunan kembali klub tersebut. Ia ingin membantu mengembalikan kejayaan Barcelona seperti sedia kala dan menunjukan kepada klub-klub Eropa lain bagaimana Barcelona yang sesungguhnya.

MARCELO TOLAK TAWARAN MAIN DI MLS

Setelah memutuskan untuk berpisah dengan Real Madrid, Marcelo masih ingin bermain di sepakbola Eropa. Ia bahkan menolak kesempatan bermain di MLS demi tetap bisa bermain di Eropa. Dilansir Football Espana, Marcelo menolak tawaran Los Angels FC agar tetap bisa bermain di level Eropa. Ia memprioritaskan untuk tetap bermain di Spanyol dan sejauh ini Rayo Vallecano dan Real Valladolid jadi klub Spanyol yang berminat mendatangkannya.

FULHAM SIAP BOYONG ANDREAS PEREIRA DARI MU

Fulham berencana untuk mendatangkan gelandang Manchester United, Andreas Pereira untuk memperkuat lini tengah musim depan. Menurut Fabrizio Romano, Fulham sudah menyiapkan tawaran sebesar 10 juta euro plus bonus untuk Pereira. United tampaknya tak akan menolaknya, namun mereka masih menunggu keputusan sang pemain akhir pekan nanti.

INTER SELANGKAH LAGI DAPATKAN BEK FIORENTINA

Dengan semakin besar kemungkinan Milan Skriniar hengkang dari Inter, mereka bergerak cepat untuk mencari penggantinya. Dilansir Get Football News Italy, Inter Milan menunjuk Nikola Milenkovic untuk menggantikan Skriniar. Fiorentina belum menerima tawaran apa pun, namun Inter dikabarkan sudah mencapai kesepakatan personal dengan agen sang pemain. Milenkovic akan menerima gaji sebesar 2 juta euro (Rp31 miliar) per musim apabila bergabung dengan Inter.

Mengapa Banyak Negara Timur Tengah Mengakuisisi Klub Sepakbola?

0

Jika ada pepatah yang mengatakan. “Bangsa China akan menguasai dunia”, maka itu tidak berlaku sama sekali di dunia sepakbola. Karena di dunia sepakbola yang terjadi justru berkebalikan dengan itu. Bahwa para pebisnis dari Tiongkok banyak yang gagal.

Sekalipun ini bukan berarti semua pebisnis Tiongkok gagal berbisnis di sepakbola. Hanya beberapa, tapi karena jumlahnya banyak dan bisnisnya adalah klub sepakbola yang punya nama, tentu ini sudah cukup membuktikan bahwa pebisnis Tiongkok perlu belajar lagi bisnis sepakbola.

Kita sebut misalnya, tumbangnya Guangzhou Evergrande. Atau di beberapa belahan dunia lainnya. Banyak pebisnis Tiongkok yang mengalami kemunduran dalam bisnis klubnya, tak terkecuali klub Eropa. Misalnya, Suning Group di Inter atau Li Yonghong yang pernah mengakuisisi AC Milan.

Tentu kalau kita mencari contohnya bisa jadi pembahasannya malah panjang membahas gitu doang. Tapi yang jelas, para pebisnis asal China tidak sesukses negara-negara Timur Tengah atau Negara Teluk. Kamu tentu paham dong, betapa sekarang bisnis sepakbola nyaris semuanya dikuasai negara-negara Timur Tengah.

Yang teranyar ketika Newcastle United mendapat guyuran investor dari konsorsium Arab Saudi, pimpinannya Mohammed bin Salman, pangeran Arab. Sebelum itu, seorang Sheikh Mansour yang datang dari Uni Emirat Arab berhasil mengubah Manchester City jadi raksasa yang sulit tergoyahkan di Premier League.

Contoh lain, kita bisa menyebut PSG yang dikuasai Qatar Sports Investment, yang di dalamnya dipimpin Nasser Al-Khelaifi. Tim-tim lain yang tidak terlalu besar, seperti Everton juga dikuasai taipan Timur Tengah lainnya, Farhad Moshiri, dan masih banyak lagi.

Hebatnya, para pebisnis dari Timur Tengah itu bukan hanya mengakuisisi satu klub saja. Tapi membangun gurita bisnis sepakbola, seperti Sheikh Mansour dengan City Football Group yang mengakomodir lebih dari tiga klub di dunia. Jadi, apa yang membuat mereka mengakuisisi klub sepakbola?

Bisnis yang Menggiurkan

Mantan pemilik Newcastle United, Mike Ashley pernah mengatakan bisnis sepakbola tidaklah terlalu baik. Karena berbisnis klub sepakbola itu resikonya sangat tinggi. Namun, pernyataan Mike Ashley itu tidaklah sama dengan para pengusaha Timur Tengah.

Pengusaha dari negara-negara Timur Tengah justru melihat klub sepakbola sebagai celah bisnis yang menggiurkan. Klub sepakbola, bagi pebisnis dari Negara Teluk, adalah oase di tengah bisnis lain yang masih tak menentu, sekaligus ruang terbuka untuk menaruh investasi.

Pebisnis dari negara Timur Tengah melihat klub sepakbola, bahkan bukan sekadar bisnis yang menggiurkan. Namun, berguna untuk membangun jaringan bisnis dengan para konglomerat dan perusahaan komersial di Barat. Mereka melihat bisnis sepakbola sebagai alternatif, apabila kelak dunia sudah tak membutuhkan minyak lagi.

Dengan mengakuisisi klub sepakbola, artinya para pebisnis Timur Tengah itu bisa melebarkan sayap bisnisnya. Mereka yang kebanyakan sudah memiliki bisnis lain, menjadikan klub yang diakuisisi sebagai tunggangan untuk menaikkan nilai ekonomi bisnis yang lain.

Lihatlah bagaimana Qatar Airways, maskapai penerbangan asal Qatar itu bisa terbang tinggi sebagai produk yang bernilai. Yang mana mereka akhirnya berhasil menyebarluaskan kemitraan dengan klub-klub lain. Etihad Airways juga sama.

Maskapai penerbangan itu bisa tumbuh, seiring investasi Sheikh Mansour ke Manchester City. Direktur Atlantic Council EmpowerME, Amjad Ahmad mengatakan investasi dalam sepakbola menumbuhkan merek-merek tadi secara global.

Propaganda Sosial

Selain karena faktor ekonomi dan bisnis yang menggiurkan, para taipan dari Negara Teluk mengakuisisi klub sepakbola juga untuk melakukan propaganda sosial. Ini sangat menarik. Apalagi misalnya, ketika Arab Saudi mengakuisisi Newcastle United.

Ketika itu muncul kritik atas akuisisi tersebut. Kritik datang dari pelatih Liverpool, Jurgen Klopp sampai kepala Amnesty International UK, Sacha Deshmukh. Mereka semua mengkritik bahwa akuisisi tersebut hanyalah akal-akalan Arab Saudi untuk melakukan propaganda sosial.

Yang dimaksud adalah propaganda untuk menutupi kasus-kasus yang terjadi di Arab Saudi. Dengan mengakuisisi klub sepakbola, negara seperti Arab Saudi bisa dengan fasih menyembunyikan permasalahan hak asasi manusia di sana.

Dengan mengakuisisi klub sepakbola, para pebisnis asal Timur Tengah juga bisa menaikkan reputasinya, wabil khusus di dunia barat. Apalagi jika si pebisnis ini mengakuisisi klub-klub top Eropa. Contoh saja Nasser Al-Khelaifi di PSG.

Al-Khelaifi berkali-kali melakukan propaganda, termasuk ketika membeli Neymar dari Barcelona dengan harga yang fantastis. Hal itu bahkan sering disebut ‘pencucian olahraga’ agar Qatar terlepas dari tuduhan mendanai terorisme.

Selain itu, Nasser Al-Khelaifi juga menduduki satu jabatan di UEFA, yang membuatnya sejajar dengan nama-nama kaliber Javier Tebas. Bukan hanya itu, dengan menunggangi sepakbola melalui jalur bisnis, negara-negara Timur Tengah memanen popularitasnya.

Membangun Kerajaan Bisnis yang Besar

Ketika mengetahui bahwa bisnis sepakbola begitu menggiurkan, para taipan asal Timur Tengah itu punya siasat untuk membangun kerajaan bisnis, khusus di bidang sepakbola. Mereka sering kali menggelontorkan uang banyak untuk membangun kerajaan bisnis tersebut.

Dinamika kebutuhan menjadi alasan mereka memperluas kerajaan bisnisnya di sepakbola. Yang cerdik, para konglomerat dari gurun pasir ini tak jarang menyasar klub-klub kecil yang memiliki utang. Nah, untuk mendanainya menggunakan uang dari hasil investasi ke klub raksasa yang sudah bonafide.

Contoh paling sukses adalah Sheikh Mansour bin Zayed Al-Nahyan yang mendirikan perusahaan City Football Group (CFG). CFG ini adalah perusahaan yang telah mengakuisisi banyak klub sepakbola. Bukan hanya di Eropa, tapi juga di Amerika Latin dan belahan dunia lainnya.

Selain Manchester City, perusahaan itu juga menaungi Mumbai City, Troyes AC, Girona FC, New York City di Amerika, Montevideo City di Uruguay, sampai Sichuan Jiuniu FC di China.

Antisipasi Kegagalan Bisnis

Tentu para pebisnis Negara Teluk yang menginvestasikan uangnya itu memiliki bisnis lain. Nah, mereka mau berinvestasi ke sepakbola karena untuk mengantisipasi kegagalan bisnis yang lain. Perkembangan sepakbola yang terduga dan bagaimana kekuatannya sebagai olahraga terpopuler sedunia, wajar kalau mengakuisisi klub jadi pilihan para taipan Arab.

Di samping itu, bisnis sepakbola yang bisa menggurita, seperti apa yang dilakukan Sheikh Mansour sangat potensial untuk menghindari kebangkrutan. Hal itulah yang coba para taipan Arab itu lakukan. Mereka kini berinvestasi ke lebih banyak klub, untuk mengantisipasi kegagalan di klub yang lain.

Apa Untungnya Buat Klub?

Para taipan Timur Tengah yang datang mengakuisisi klub di dunia jelas membawa pengaruh yang signifikan. Dalam laporan India Times, investor dari Negara Teluk mampu mengubah nasib klub yang bersangkutan. Klub yang dulu terpuruk seperti Manchester City bisa dengan mudah bangkit berkat Sheikh Mansour.

Begitu pula PSG yang pernah menjalani puasa Ligue 1, mampu berbuka puasa tak lama setelah Nasser Al-Khelaifi masuk mengakuisisi. Banyak faktor yang mempengaruhi hal tersebut. Tapi satu yang pasti, pebisnis asal Timur Tengah akalnya bulus dan siasatnya ular.

Mereka luar biasa cerdasnya di dunia bisnis sepakbola. Para taipan itu tahu, bahwa sepakbola bukan sekadar permainan di atas rumput. Melainkan ada banyak sisi bisnis yang bisa dimanfaatkan. Nama besar pemain, nama besar klub, sponsorship, hak siar, dan masih banyak lagi.

Maka, tidak masalah bagi pebisnis Timur Tengah untuk mengeluarkan dana. Toh, untuk mendapatkannya lagi dan efek timbal baliknya sangat-sangat menguntungkan.

Sumber referensi: AtlanticCouncil, LatinAmericanPost, AlArabiya, IndiaTimes