Beranda blog Halaman 116

Rodri Ajak Pemain Lain Mogok Kerja, Ada Apa Sebenarnya?

Pemain Manchester City, Rodri, mengeluarkan sebuah komentar menarik mengenai kemungkinan aksi mogok kerja yang mungkin dilakukan oleh para pemain bola.

“Menurutku kami sangat mungkin untuk melakukan itu. Ini sudah menjadi sesuatu yang umum. Jika kamu bertanya kepada pemain lain, mereka akan menjawab dengan hal yang senada. Karena, ini bukan keresahan Rodri atau siapa pun,” ujarnya dikutip dari ESPN.

Komentar Rodri ini menarik untuk didalami, sebab sangat jarang ada pemain yang berani mengutarakan keresahannya di media. Memangnya, apa yang terjadi sehingga gelandang La Furia Roja ini sampai mengeluarkan komentar seperti itu?

 

Waktu Bermain yang Makin Tidak Manusiawi

Masih ingat dengan foto Pedri kelelahan yang dahulu sempat viral? Pemain Barcelona yang saat itu berusia 18 tahun diperbudak habis-habisan dalam bermain bola. Total, pada musim 2021/22, Pedri bermain sebanyak 73 kali, baik bersama Barcelona dan Timnas Spanyol. Kebayang kan capeknya seperti apa? Apalagi saat itu usianya baru 18 tahun, kalo di Indonesia baru dapat KTP.

Nah, kasus-kasus seperti Pedri inilah yang mendorong Rodri blak-blakan pada konferensi pers jelang laga Manchester City melawan Inter, 18 September 2024. Rodri sudah muak dengan jadwal pertandingan yang makin tak manusiawi. Maka wajar jika ia sampai berani berujar bahwa serikat pemain sepak bola bisa saja melakukan aksi mogok bermain sebagai bentuk protes.

Rodri sendiri memang tidak berlaga seekstrim yang pernah Pedri alami pada 2021/22, metronom The Sky Blue ini bermain sebanyak 63 kali hingga final Piala Eropa 2024 bulan Juli lalu. Namun, kesadaran bahwa keadaan seperti ini bukanlah kondisi yang sehat dan manusiawi, ditambah dengan jumlah korban yang tentunya tak cuma satu-dua pemain, membuat Rodri sangat pede dengan apa yang ia ucapkan.

“Saya tak punya angka pasti. Tapi berdasarkan pengalaman, apakah saya bisa menyebut 60-70 laga? Tidak. Antara 40-50 merupakan jumlah laga seorang pemain bisa tampil maksimal. Selebihnya, kamu akan menurun karena tak akan mungkin menjaga kondisi fisik untuk itu,” ujar Rodri terkait banyaknya laga yang ideal dalam semusim, via ESPN

Sekali lagi, komentar Rodri tersebut tidak salah. FIFPro sebagai serikat pesepakbola global, sebenarnya telah menentukan batas pertandingan yang ideal untuk seorang pemain. Batas ideal yang FIFPro tetapkan adalah 55 laga per musim dan ini sejalan dengan apa yang Rodri ucapkan.

Semua kekacauan ini terjadi karena pemangku kepentingan, dalam hal ini FIFA dan UEFA, tak pernah mendengar aspirasi para pemain sebagai pelaku. Para pemangku kepentingan hanya peduli dengan uang, uang, dan uang sehingga melakukan berbagai cara untuk memperbanyak laga. Belum lagi jika klub harus melakukan laga-laga tak penting berkedok aktivasi marketing. Duh, pasti mau copot aja rasanya itu kaki.

Keresahan Rodri ini pun divalidasi oleh pihak lain seperti pelatih. Dari Carlo Ancelotti hingga Russell Martin, mereka semua resah dengan kondisi seperti ini. Don Carlo bahkan memberi libur tambahan guna pemainnya bisa beristirahat. Itu pun masih saja membuat para pemainnya terserang cedera.

Russell Martin yang notabene hanya pelatih tim menengah ke bawah juga ikut merasakan dampak dari banyaknya pertandingan ini. Pelatih Southampton tersebut memperingatkan pemangku kebijakan untuk berhati-hati dalam membuat jadwal. Sebab, ini akan secara langsung mempengaruhi kualitas permainan.

Melihat dari banyaknya pihak yang merasa resah, ucapan Rodri soal mogok kerja ini bisa jadi kenyataan. Terlebih, para pemain, apalagi di Inggris, sangat lah terorganisir. Mereka punya serikat pemain yang sangat powerful bernama Professional Football Association (PFA), nama yang seharusnya tak terlalu asing di telinga penikmat sepak bola.

 

Apakah Aksi Pemogokan Pernah Terjadi dalam Sepak Bola?

Lantas, mungkin akan muncul pertanyaan, apakah aksi-aksi seperti ini pernah terjadi sebelumnya? Jawabannya, pernah. Bahkan tak hanya di bidang sepak bola saja, namun sempat terjadi juga di cabang olahraga lainnya.

Pada ajang Premier League musim 2001/02, hal seperti ini pernah terjadi. Pada bulan November 2001, PFA sebagai wakil dari para pemain sudah sangat jengah bernegosiasi dengan Premier League sebagai penyelenggara liga. Premier League ingin mengurangi jumlah uang hak siar TV yang akan diberikan ke PFA dari 5% menjadi 2%.

Gampangnya, Premier League ingin uang yang awalnya masuk ke PFA untuk kemaslahatan banyak pemain, masuk ke kantongnya sendiri. Perlu diketahui, PFA ini memiliki anggota hingga 5000 orang yang mencakup hampir seluruh pemain yang ada di Inggris. Dari uang itu, PFA bisa hidup dan membantu para pemain yang sedang mengalami kesulitan.

Saat itu, tanggal pemogokan pun sudah ditentukan, yakni 1 Desember 2001. Sir Alex Ferguson pun mendukung aksi ini, tak terkecuali Roy Keane, Gary Neville, dan Ryan Giggs. Namun, setelah negosiasi yang hampir memakan waktu 8 jam di Manchester, aksi ini dibatalkan. Premier League akhirnya memenuhi tuntutan serikat pemain, meskipun tak semuanya dikabulkan.

Lebih kuno, pada tahun 1960, PFA juga sempat melakukan aksi yang serupa. Jimmy Hill sebagai ketua PFA menuntut FA sebagai federasi sepak bola Inggris untuk menghapuskan batas gaji 20 pounds (Rp 403 ribu) per pekan. Gaji tersebut dinilai tak manusiawi untuk ukuran Inggris saat itu. Gampangnya, UMR-nya kerendahan untuk harga kebutuhan pokok yang naik melejit. Akhirnya, tuntutan ini baru dikabulkan pada tahun 1961 setelah ancaman mogok bermain disuarakan.

 

Apakah Aksi Seperti Ini Mungkin untuk Dilakukan?

Lalu, apakah aksi seperti yang Rodri ujarkan tadi mungkin terjadi di masa sekarang? Sangat mungkin. Sebab, contoh kasus dan pihak yang merasakan keresahan ini sangat lah banyak. Mungkin tak cuma mempengaruhi waktu kerja pemain bola, tapi juga hal-hal yang berkaitan di sekitarnya, seperti media dan semua yang terkait dengan siaran sepak bola.

Lantas, apabila kejadian, kira-kira kompetisi apa yang sangat mungkin untuk diboikot oleh para pemain? Jawaban yang paling masuk akal adalah kompetisi-kompetisi hiburan yang tak perlu, misalnya Piala Dunia Antarklub dengan format baru. Kompetisi buatan FIFA ini sudah tidak begitu prestisius, kok malah dibuat makin panjang.

PFA dan Union Nationale des Footballeurs Professionnels (UNFP) sebagai serikat pesepakbola Prancis sebenarnya sudah mengajukan langkah hukum untuk menuntut FIFA terkait semakin panjangnya jadwal pertandingan sepak bola. Laporan yang diajukan ke Pengadilan Perdagangan Brussels pada bulan Juni 2024 lalu itu sepertinya akan diproses ke Mahkamah Hukum Uni Eropa tahun depan.

Apabila langkah hukum seperti ini masih tidak mempan untuk membuat para pemangku kebijakan sadar, aksi mogok bermain yang akan dilakukan hanya berjarak setipis tisu dari kenyataan. Jadi, kalian jangan heran jika di masa yang akan datang terdapat berita suatu klub menolak bertanding karena jadwal kompetisi yang makin tak manusiawi.

Dan jika tuntutan para pemain ini dikabulkan, bukan tak mungkin juga kita akan mendapatkan kembali format-format kompetisi lama yang sudah diubah. Misalnya, Piala Dunia akan kembali berisi 32 negara dan Champions League tak lagi memakai format liga. 

Sumber: The Athletic, ESPN, The Guardian, dan BBC

Gara-Gara Main di Eropa, Klub Ini Malah Terdegradasi dari La Liga

0

Tak hanya jago di Eropa, klub-klub La Liga ternyata punya cerita unik saat bermain di kompetisi Eropa. Beberapa klub Spanyol pernah jatuh ke jurang degradasi di musim yang sama ketika mereka bermain di kompetisi Eropa. Yang seharusnya mereka bisa terbantu dengan tambahan pemasukan, ini malah bikin kondisi klub jadi kelabakan.

Uniknya, kasus ini pernah terjadi selama beberapa musim berturut-turut. Tak hanya itu, beberapa klub bahkan pernah lebih dari sekali mengalaminya. Wah, jangan-jangan klub-klub ini alergi bermain di Eropa. Lantas, klub-klub apa saja yang dimaksud?

 

Real Zaragoza (2001/02 & 2007/08)

Setelah di musim 1999/00 berhasil finis di peringkat keempat, secara mengejutkan Real Zaragoza malah berakhir di peringkat 17 pada musim 2000/01. Namun, nasib Los Manos di La Liga ternyata berbanding terbalik dengan di Copa del Rey. Pada musim itu, Real Zaragoza berhasil keluar sebagai juara setelah berhasil mengalahkan Celta de Vigo.

Alhasil, prestasinya ini membuat Los Manos mau tak mau harus mewakili Spanyol di ajang UEFA Cup musim 2001/02. Pada musim inilah petaka tersebut terjadi. Performa Los Manos malah terjun bebas. Mereka finis sebagai juru kunci di akhir kompetisi. Tak hanya itu, mereka pun sampai dipegang oleh tiga pelatih di musim itu. Kebayangkan seperti apa ruwetnya kondisi klub ini?

Dari Txetxu Rojo, Luis Costa, hingga Marcos Alonso, tak ada satupun yang bisa menyelamatkan performa Real Zaragoza. Di Eropa pun performa mereka loyo. Meski sempat meyakinkan dengan membantai Silkeborg dengan agregat 5-1, mereka hanya mampu bermain hingga ronde kedua setelah kalah tipis 1-0 dari wakil Swiss, Servette.

Setelah terdegradasi, Zaragoza langsung mendapat promosi lagi dan berhak bermain di La Liga 2003/04. Pada musim 2006/07, duet Diego Milito dan Pablo Aimar membuat klub ini berubah menjadi klub jago. Mereka berhasil masuk kembali ke zona Eropa setelah finis di posisi 6. Alhasil, musim 2007/08 balik ke UEFA Cup lagi dong.

Tapi nasib sepertinya tak merestui Zaragoza untuk menjadi klub yang rutin bermain di Eropa. Keberadaan mereka di Eropa seakan jadi kutukan yang membuat degradasi mendatanginya. Di Eropa, Zaragoza hanya bermain satu laga dan tak lolos ke fase grup akibat kalah gol tandang dari Aris. Sementara di La Liga, Milito dan Aimar tak mampu lagi menggendong tim ini dan finis di posisi 18.

 

Deportivo Alaves (2002/03)

Semusim setelah kasus unik Zaragoza, Deportivo Alaves ternyata langsung mengalami kesialan yang sama. Mereka terdegradasi pada tahun 2002/03, bersamaan dengan mereka yang kala itu berkesempatan bermain di UEFA Cup. Sebab pada musim 2001/02, mereka mengakhiri musim dengan sangat luar bisa dengan bercokol di peringkat 4.

Namun, mirip sekali dengan nasib Zaragoza, finalis UEFA Cup 2000/01 ini mengalami penurunan performa yang drastis di musim 2002/03. Mereka terdegradasi setelah finis di posisi kedua dari bawah. Bayangkan saja seberapa parah penurunan klub ini, hanya dalam dua musim mereka berubah dari klub langganan Eropa menjadi klub degradasi La Liga.

Performa mereka di UEFA Cup 2002/03 pun sangat mengecewakan. Mereka gagal lolos ke babak final setelah kalah agregat 2-1 dari Besiktas. Meskipun di babak sebelumnya mereka juga tampil digdaya setelah mengalahkan Ankaragucu dengan agregat 5-1.

 

Celta de Vigo (2003/04 & 2006/07)

Setelah dua musim selalu memakan korban, Celta de Vigo melengkapinya menjadi tiga pada tahun 2003/04. Bedanya, kali ini Celta Vigo bermain di Champions League. Kesempatan ini bisa terjadi setelah Aleksandr Mostovoi dengan dramatis bercokol di peringkat 4 musim sebelumnya.

Namun, sama seperti dua pendahulunya, Celta Vigo malah terdegradasi di musim mereka bermain di Eropa. Mereka yang sempat tampil mengesankan hingga merebut zona Champions League, malah terpuruk dengan menjadi peringkat 2 dari bawah di musim 2003/04. Padahal, performanya di Eropa cukup lumayan. Celta Vigo berhasil lolos hingga babak 16 besar dan kalah agregat 5-2 dari skuad invincible Arsenal.

Sama seperti Real Zaragoza, Celta Vigo mengalami kasus unik ini 2 kali. Mereka langsung meraih promosi dan kembali lagi ke La Liga pada musim 2005/06. Di musim kembalinya mereka ini, Celta Vigo langsung tancap gas. Alhasil, peringkat 6 mereka dapat dan slot UEFA Cup ikutan tertangkap.

Sayangnya, kembalinya mereka ke Eropa hanya membuat Celta Vigo jatuh ke lubang yang sama. Mereka yang kembali ke Eropa hanya untuk terdegradasi lagi. Yang paling pahit, mereka hanya terpaut satu poin dari 2 peringkat di atasnya.

Lalu bagaimana dengan performa mereka di Eropa? Sejujurnya mengesankan untuk ukuran tim promosi. 16 besar UEFA Cup mereka tembus. Sayangnya, mereka bertemu runner up Bundesliga kala itu, Werder Bremen. Celta Vigo pun dilumat dengan agregat 3-0. 

 

Villarreal (2011/12)

Setelah sempat terputus, kutukan bermain di Eropa ini kembali menimpa klub Spanyol. Kali ini giliran Villarreal. Santi Cazorla dan kawan-kawan berhasil tembus ke Champions League 2011/12 setelah mengakhiri La Liga di peringkat ke-4. El Madrigal yang pernah tampil digdaya di Champions League 2005/06, pastinya pede dong bisa kembali bermain di kompetisi ini setelah 2 musim absen.

Namun, bukannya prestasi yang didapat, El Madrigal malah bertubi-tubi tertimpa musibah. Setelah ditinggal Santi Cazorla di awal musim, performa Kapal Selam Kuning ternyata menukik tajam. Mereka jadi bulan-bulanan di fase grup Champions League 2011/12. Tak satupun poin yang mereka dapat. Tak hanya itu, di La Liga El Madrigal juga terdegradasi dengan selisih satu poin dari posisi 17. 

 

Real Betis (2013/14)

Selanjutnya, Real Betis ternyata ikut menjadi korban dari kutukan kompetisi Eropa. Beticos tampil di Europa League 2013/14 setelah finis di posisi 7. Namun, bermain di Eropa sepertinya bukan untuk semua klub. Beticos kelimpungan menghadapi jadwalnya di Eropa sehingga pada musim 2013/14 mereka terdampar sebagai juru kunci. 

Sebenarnya, performa mereka di Europa League tak jelek-jelek amat. Mereka bisa tembus ke babak 16 besar dan harus kalah secara menyakitkan. Mereka kalah lewat adu penalti setelah secara agregat seri 2-2 dari rival sekota, Sevilla. Sialnya lagi, Sevilla pada akhirnya malah keluar sebagai juara kompetisi. Sudah jatuh tertimpa pos ronda kalo begini jadinya.

 

Espanyol (2019/20)

Sejak Espanyol terdegradasi pada musim 2019/20, belum ada satu klub Spanyol yang terserang kutukan Eropa ini. Pada musim itu, rival sekota Barcelona ini bermain di Europa League 2019/20 setelah finis di posisi 7 di musim sebelumnya dengan poin yang sama dengan Atletico Bilbao, namun unggul selisih gol.

Namun seperti Real Betis, bermain di Eropa ternyata membuat mereka kelimpungan. Meski bisa menjadi juara grup dan lolos hingga babak 32 besar, Espanyol malah menjadi juru kunci di La Liga. Sementara di 32 besar, mereka kalah agregat 6-3 dari wakil Inggris, Wolves. 

https://youtu.be/HumXSp5aYPw

Sumber: Colgados por el Fútbol, Adn Zaragocista, Transfermarkt, dan UEFA

Bagaimana PSSI Menemukan Pemain Keturunan Berkualitas?

0

Menggunakan pemain naturalisasi, sekalipun itu cara instan untuk mempunyai tim nasional yang jago, tetap ada proses panjang yang harus dilalui. Kayak makan mi instan. Meskipun namanya mi instan, untuk bisa mengonsumsinya, kita harus memasaknya dulu, tidak simsalabim bisa dimakan.

Begitulah PSSI kesayangan kita mendapatkan para pemain keturunan yang benar-benar berkualitas untuk Timnas Indonesia. Mari menyingkap bagaimana PSSI akhirnya menemukan pemain keturunan yang berkualitas itu sampai akhirnya dinaturalisasi.

Yang Harus Dipahami

Pertama-tama tak bosan mengingatkan bahwa kata “naturalisasi” tidak berkonotasi negatif. Orang-orang yang kurang dielus ubun-ubunnya saja yang menjadikan kata “naturalisasi” negatif. Seolah-olah kata “naturalisasi” tidak pantas untuk menyebut para pemain diaspora.

Padahal “naturalisasi”, “diaspora”, dan “keturunan” punya makna yang berbeda-beda. Menurut KBBI “diaspora” sendiri berarti tercerai-berainya suatu bangsa yang tersebar di berbagai penjuru dunia. Rumit, ya? Definisi “diaspora” bisa disederhanakan menjadi orang yang tinggal di luar kampung halaman.

Sedangkan “keturunan” dalam KBBI bermakna “anak, cucu, generasi, angkatan.” Lalu apa itu “naturalisasi”? KBBI bersabda, “Naturalisasi adalah pemerolehan kewarganegaraan bagi penduduk asing.”

Melalui definisi tersebut, jelas bahwa pemain diaspora atau keturunan tidak akan bisa membela Timnas Indonesia tanpa naturalisasi. Maka, tidak masalah sebetulnya kalau menyebut Jay Idzes, Maarten Paes, hingga Sandy Walsh adalah pemain naturalisasi.

Yang salah adalah memperlakukan mereka berbeda dengan pemain yang lahir dan hidup di Indonesia. Dan yang paling salah adalah berlaku rasis kepada para pemain naturalisasi. Sudahlah, mereka mau membela Timnas Indonesia, jadi tak perlu dipermasalahkan. Clear?

Berawal dari Pelatih

Lalu, bagaimana sih, PSSI menemukan pemain seperti Calvin Verdonk? Pada mulanya dari keinginan pelatih Timnas Indonesia. Ada dua pelatih yang belakangan ini gencar mencari pemain diaspora: Shin Tae-yong dan Indra Sjafri.

Sebelum melapor ke PSSI, kedua pelatih sudah mengantongi sejumlah nama untuk dinaturalisasi. Itu artinya, baik STY maupun Indra Sjafri sudah blusukan ke luar negeri untuk mencari para pemain keturunan. Beberapa kali kita mendengar berita Shin Tae-yong terbang ke luar negeri, khususnya Belanda.

Selain menjenguk pemain yang berkarier di sana, Tae-yong juga melacak pemain keturunan yang menurutnya, bisa diangkut ke Jakarta. Tapi itu tidak mudah. Pelatih asal Korea Selatan mengakui bahwa mencari pemain naturalisasi untuk membela Timnas Indonesia sulit. Penyebabnya, calon pemain yang akan dinaturalisasi kadang jarang bermain di klubnya.

Kesulitan yang sama juga dialami oleh Indra Sjafri ketika mencari pemain keturunan untuk Timnas U-19. Mengutip Suara, menurut Indra mencari pemain diaspora di level kelompok umur lebih sulit dari mencarinya di level senior. Pemain yang masih muda statistiknya kerap tidak tersedia.

Mengajukan ke PSSI

Usai pelacakan dari pelatih, para calon naturalisasi akan diajukan ke PSSI. Federasi yang berhak memutuskan, apakah si calon pemain ini akan lanjut dipantau atau tidak. Ketika sampai ke meja PSSI pun ada segelondong syarat sebelum si pemain diprospek.

Syarat terpenting tidak melanggar UU Nomor 12 Tahun 2006 dan mesti sesuai dengan Statuta FIFA mengenai “pindah asosiasi/federasi”.

Dalam Statuta FIFA kriteria pemain yang bisa dinaturalisasi adalah: pemain di wilayah asosiasi terkait, ibu/ayah kandungnya lahir di wilayah asosiasi yang baru, nenek/kakeknya lahir di wilayah asosiasi yang bersangkutan, atau tinggal di negara terkait sekurang-kurangnya lima tahun.

Dari kriteria itu melahirkan kategorisasi. Pertama, full-blood, pemain berdarah dan tinggal di Indonesia, ia WNI sejak lahir. Contohnya Marselino Ferdinan. Kedua, half-blood, hasil perkawinan ayah-ibu beda kewarganegaraan tapi salah satunya WNI, si pemain WNI sejak lahir, seperti Ronaldo Kwateh.

Ketiga, diaspora atau keturunan. Ini adalah kategori pemain yang tinggal di luar Indonesia tapi punya keturunan Indonesia dari ayah/ibu/kakek/neneknya. Ada yang sejak awal sudah memilih WNI macam Elkan Baggott. Ada yang awalnya WNA macam Jay Idzes. Keempat, blijvers.

Blijvers adalah pemain yang tidak lahir dan tidak tinggal di Indonesia, serta tak berdarah Indonesia. Tapi ia bisa dinaturalisasi karena kakek/neneknya lahir dan tinggal di Indonesia. Contohnya Maarten Paes. Jika sampai blijvers saja bisa dilacak, berarti risetnya sudah sedalam itu untuk proyek naturalisasi.

Yang terakhir adalah bukan blijvers atau keturunan. Namun, bisa dinaturalisasi karena sudah tinggal di Indonesia minimal lima tahun. Contohnya Marc Klok dan Cristian Gonzales.

Mengirim Pemantau

Selain memastikan tidak ada aturan yang ditabrak sehingga perlu memanfaatkan MK, PSSI juga memastikan si pemain mau membela Indonesia. Cara semacam ini pernah dipakai teh Marina Granovskaia saat bekerja di Chelsea.

Makanya, ada pemain yang bisa ditindaklanjuti, ada pula yang tidak. Contoh yang tidak atau belum diproses adalah Emil Audero Mulyadi. Sang pemain masih belum berminat membela Timnas Indonesia.

Nah, ketika pemain berminat, PSSI lalu mengirim tim pelatih untuk memantau. Pemantauan dilakukan intens, tidak sekali-dua kali. Setelah proses pemantauan, tim pelatih akan mendiskusikannya lagi dengan PSSI. Jika disetujui, PSSI kemudian yang bekerja.

PSSI ke Kemenpora, Kemenpora ke Kemenkumham

PSSI akan mendekati federasi/asosiasi pemain yang bersangkutan untuk mencari cara agar bisa pindah federasi. Usai semuanya dipastikan bisa diproses, PSSI menyurati Kemenpora sekaligus menyerahkan berkas-berkas yang diperlukan. Di waktu yang sama, PSSI juga bersurat dengan FIFA.

FIFA akan melakukan pengecekan ulang yang sifatnya lebih administratif. Soal berkas-berkas apa saja yang diajukan PSSI bisa dilihat di laman resmi Kementerian Luar Negeri RI. Usai diajukan ke Kemenpora dan disetujui oleh Kemenpora, proses naturalisasi si pemain lalu diajukan ke Kementerian Hukum dan HAM atau Kemenkumham.

Proses Rumit di Kemenkumham

Nah, di Kemenkumham ini yang agak rumit. Mengutip Skor.id, Kemenkumham akan menelaah lagi pengajuan itu dan mengecek persyaratan melalui Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum atau Ditjen AHU. Kalau sudah oke, diajukan ke Sekretariat Negara untuk dicek lagi sebelum sampai ke tangan presiden.

Pengecekan ini juga melibatkan Badan Intelijen Negara demi memastikan calon pemain bukan anggota jaringan mafia internasional. Setelah dinyatakan layak, berkas sampai ke tangan presiden. Tapi presiden tidak bisa mengabulkan permohonan begitu saja.

Presiden mesti bersurat dulu dengan legislatif. Nanti DPR RI akan memutuskan lewat sidang. Baru setelah disetujui, DPR akan mengirim surat ke presiden yang berisi rekomendasi pengabulan pemberian WNI pada pemain bersangkutan.

Setelah itu, presiden akan membubuhkan tanda tangan melalui Kepres tentang pengabulan permohonan kewarganegaraan. Barulah setelah itu si pemain bisa disumpah menjadi WNI.

Menyelesaikan Sengketa

Namun, sudah disumpah WNI pun si pemain belum tentu bisa membela Timnas Indonesia. Jika masih ada sengketa, terutama yang menyangkut FIFA, ya harus diselesaikan dulu. Seperti halnya yang terjadi pada Maarten Paes. Soal kasus Paes ini kamu bisa menonton video di Starting Eleven Story.

Lalu apakah untuk menaturalisasi pemain keturunan yang sebelumnya WNA membutuhkan biaya?

Mengutip laman resmi Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Pan-RB), berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2019 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), ditetapkan biaya sebesar Rp50 juta untuk setiap permohonan naturalisasi yang berasal dari pemohon WNA itu sendiri.

Namun, untuk Timnas Indonesia mengutip Okezone, Mantan Komite Eksekutif PSSI, Hasani Abdulgani mengatakan, tidak ada biaya khusus dalam proses naturalisasi. Pun bagi sang pemain. Mengutip Jawa Pos, Erick Thohir memastikan tidak ada pemain naturalisasi Timnas Indonesia yang minta bayaran.

Bagaimana football lovers, rumit dan panjang bukan prosesnya? Proses panjang nan rumit ini akan terbayar ketika Timnas Indonesia akhirnya bisa melompat lebih tinggi, seperti lagunya Sheila On 7.

Sumber: Kemlu, Bolanet, Skorid, DetikSport, TVOneNews, Suara, OneFootball

Pantes Rafael Struick Mau Gabung Brisbane Roar, Klubnya Keren Gini

0

Sedang santai menikmati libur Maulid Nabi, jagad media sosial Indonesia justru digegerkan oleh kabar kepindahan Rafael Struick ke klub Australia, Brisbane Roar. Berita ini jelas mengejutkan karena sebelumnya tidak ada tanda-tanda bahwa pemain yang memiliki julukan El Klemer itu ingin pindah dari ADO Den Haag.

Menurut beberapa sumber yang ada, Brisbane Roar telah mengikat Rafael Struick dengan kontrak berdurasi satu tahun. Itu berarti Rafa hanya akan bermain di Australia hingga tahun 2025 mendatang. Tapi dari sekian banyaknya klub di Eropa, kenapa Rafa justru memilih gabung klub Australia?

Usut punya usut, ternyata Brisbane Roar bukan klub sembarangan di Australia. Mereka punya sejarah, prestasi, dan koneksi yang bagus. 

Kenapa Brisbane?

Soal mengapa pilih Brisbane Roar, Rafael Struick punya alasannya sendiri. Dilansir CNN Indonesia, punggawa Timnas Indonesia itu memuji Brisbane Roar sebagai klub besar. Bermain di kasta tertinggi Liga Australia, Struick tertantang untuk memperlihatkan kualitasnya di kompetisi yang jauh dari zona nyamannya.

Tapi jika dilihat dari kacamata yang berbeda, bergabungnya Rafael Struick ke Brisbane Roar ibarat seseorang yang sedang menuruni anak tangga. Meski Brisbane bermain di kasta tertinggi Liga Australia, pindah dari klub sebesar ADO Den Haag tentu dianggap sebuah penurunan level. Apalagi El Klemer ini masih muda. Seharusnya masih bisa bersaing di Negeri Kincir Angin.

Keputusan Rafael untuk hijrah ke Australia tentunya semakin menguatkan konten Starting Eleven sebelumnya yang menceritakan tentang struggle-nya pemain-pemain keturunan setelah memutuskan untuk membela Timnas Indonesia. Namun, kita tak bisa terlalu cepat menyimpulkan. Selain karena perjalanan karirnya yang masih panjang, ternyata Brisbane Roar bukan klub sembarangan.

Kental Akan Budaya Belanda

Meski Australia berjarak lebih dari 14.700 kilometer dari Belanda, Rafael Struick diprediksi tak akan sulit untuk beradaptasi di Brisbane Roar. Mengapa demikian? Karena klub yang dijuluki The Roar ini dikenal sebagai klub yang memiliki aroma Belanda yang kuat.

Berbasis di Brisbane, Queensland, Brisbane Roar ternyata didirikan oleh imigran asal Belanda pada tahun 1957. Dulunya, Brisbane Roar memiliki nama sebagai Hollandia-Inala terus berganti menjadi Brisbane Lions, Queensland Roar, sebelum akhirnya menjelma jadi Brisbane Roar hingga sekarang. 

Didirikan oleh imigran asal Belanda, membuat klub memilih oranye sebagai warna kehormatan di klub. Jersey dan logo Brisbane Roar pun selalu didominasi oleh warna oren layaknya tim nasional Belanda. Tapi bagaimana sejarahnya orang-orang Belanda bisa hijrah ke Australia?

Singkatnya, sejarah imigran Belanda yang ada di Australia dapat dibagi menjadi beberapa bagian berdasarkan timeline waktu. Yang pertama terjadi di era penjelajahan Willem Janszoon pada tahun 1606, lalu terjadi lagi sesaat setelah Perang Dunia II, dan saat berdirinya pemukiman orang Belanda pasca perang.

Reputasi

Sejak didirikan pada tahun 1957, Brisbane Roar terus membangun reputasi sebagai salah satu klub raksasa di Liga Australia. Sejak bergabung ke A-League, The Roar telah memenangkan beberapa gelar bergengsi, termasuk tiga gelar A-League Championship pada musim 2010/11, 2011/12, dan 2013/14. 

Selain itu, Brisbane Roar juga tercatat pernah tiga kali berpartisipasi di Liga Champions Asia. Momen itu terjadi pada musim 2011/12, 2014/15, dan 2016/17. Klub ini pun memiliki jaringan yang luar biasa. Dalam misi pengembangan pemain muda, Brisbane bahkan bekerjasama dengan banyak klub lokal dan Eropa.

The Roar memiliki afiliasi dengan beberapa klub lokal seperti kemitraan dengan Souths United, Coast City, Grange Thistle, Sunshine Coast Wanderers, Cairns FC, Logan Lightning FC, dan Olympic FC. Sementara di luar Australia, Brisbane Roar dilaporkan juga menjalin kerjasama dalam hal pengembangan pemain muda dengan Birmingham City, Fulham, dan AIK. 

Selain itu, Brisbane Roar juga termasuk klub Australia yang memiliki basis penggemar yang sangat besar. Kelompok suporter terbesarnya bernama “The Den”. Bahkan mereka pernah mencatatkan rekor sebagai klub dengan rata-rata kehadiran penonton paling banyak, yakni 13.534 penonton pada musim 2018/19.

Dimiliki Oleh Bakrie Group

Fakta menarik berikutnya, Brisbane Roar ternyata memiliki latar belakang yang sama dengan FC Como, yakni dimiliki oleh perusahaan asal Indonesia. Jika Como dimiliki PT Djarum, Brisbane Roar dikuasai oleh Bakrie Group. Sebuah perusahaan konglomerat yang didirikan oleh Achmad Bakrie pada tahun 1942.

Awalnya, Bakrie Group awalnya hanya membeli 70% saham klub. Tetapi, pada 2012 Federasi Sepakbola Australia (FFA) mengumumkan bahwa Bakrie Group telah mengakuisisi 100% kepemilikan klub A-League tersebut.

Menariknya, Bakrie Group cukup getol melebarkan sayap di dunia olahraga. Selain Brisbane Roar, Bakrie Group dilaporkan pernah dan masih memiliki saham di beberapa klub lain, seperti Oxford United, CS Vise, Persija Jakarta, dan Arema. 

Khusus klub terakhir, Bakrie Group memasrahkan pengelolaan ke pihak ketiga. Sedangkan saham Bakrie di CS Vise sudah dilepas pada tahun 2014. Selain sepakbola, Bakrie Group ternyata juga berkecimpung di dunia bola basket melalui Pelita Jaya yang didirikan pada tahun 1987. Kini, Pelita Jaya masih aktif berlaga di Liga Bola Basket Indonesia atau IBL.

Pernah Ditukangi Pelatih Hebat

Saat pertama kali diakuisisi oleh Bakrie Group, Brisbane Roar kala itu masih dilatih oleh pelatih Tottenham saat ini, Ange Postecoglou. Pelatih yang sukses bersama Timnas Australia dan Celtic itu sudah menukangi Brisbane Roar sejak tahun 2009. Di musim perdananya, Ange hanya membawa The Roar finis di urutan kesembilan.

Namun, perkembangan yang signifikan dicatatkan pada 2010/11. Ange langsung mengerek Brisbane Roar ke puncak klasemen hingga akhirnya meraih gelar juara Liga Australia untuk pertama kali. Hebatnya lagi, Brisbane hanya menelan satu kekalahan saja di musim 2010/11. 

Prestasi ini membawa Brisbane mencatatkan rekor yang masih bertahan hingga sekarang. Rekor sebagai klub dengan rentetan laga tak terkalahkan terpanjang, yakni 36 pertandingan di Liga Australia. Kesuksesan pun berlanjut di musim 2011/12. Ange membawa Brisbane juara A-League dua kali secara beruntun. 

Selain Ange Postecoglou, Brisbane Roar juga pernah ditukangi oleh legenda Liverpool, Robbie Fowler. Mantan penyerang Timnas Inggris itu melatih Brisbane pada musim 2019/20. Sayangnya, Fowler tak pandai dalam urusan melatih. Dirinya hanya memimpin selama 24 pertandingan dan tidak meraih gelar apa pun. 

Aroma Indonesia

Keberadaan Bakrie Group juga dikabarkan jadi salah satu alasan mengapa Rafael Struick bergabung Brisbane Roar. Namun, jika kalian berpikir bahwa Rafa adalah pemain Indonesia pertama yang berseragam Brisbane, kalian salah besar. Karena sebelumnya, sudah ada dua pemain Indonesia yang bermain untuk The Roar.

Yang pertama adalah Van Dijk. Tentunya bukan pemain yang kini berseragam Liverpool itu ya. Yang ini nama lengkapnya Sergio Van Dijk. Dia gundul dan berposisi sebagai striker. Mantan pemain FC Emmen itu bermain di sana pada tahun 2008-2010. Dua musim di sana, Sergio mencatatkan 27 gol dari 51 laga. 

Tiga tahun kemudian, dirinya bergabung dengan Persib Bandung. Tampil moncer selama membela Maung Bandung, Sergio akhirnya dinaturalisasi oleh Indonesia. Yang kedua ada Yandi Sofyan. Berbeda dengan Sergio yang jadi andalan Brisbane Roar, Yandi cuma berseragam Brisbane Roar U-21 pada musim 2013/14.

Irisan Brisbane Roar dengan Indonesia tak berhenti di situ. Jauh sebelum dimiliki Bakrie Group, Brisbane Roar pernah diperkuat Shin Tae-yong pada musim 2005/06. The Roar tercatat sebagai klub terakhir sebelum akhirnya pelatih Timnas Indonesia itu pensiun dari karir sepakbola profesional.

Keberadaan Rafael di skuad Brisbane Roar diharapkan bisa meningkatkan kualitas dan pengalaman berkompetisinya. Mungkin Rafa tidak bisa menjamin 20 gol setiap musim. Tapi determinasi, akselerasi, dan fleksibilitasnya di lini depan semoga bisa membantu Brisbane kembali ke masa kejayaannya.

https://youtu.be/uwHdAJJQSWc

Sumber: Suara, CNN Indonesia, Tirto.id, Bola.com

Berita Bola Terbaru 18 September 2024 – Starting Eleven News

HASIL PERTANDINGAN

Dari hasil laga pembuka UCL, Juventus sukses meraih tiga angka setelah mengandaskan tamunya PSV Eindhoven 3–1. Gol Si Nyonya Tua dicetak oleh Kenan Yildiz di menit 21, Weston McKennie di menit 27, dan Nico Gonzalez di menit 52. Berkat kemenangan tersebut, Bianconeri sementara berada di posisi 4 klasemen UCL.

Di laga lainnya, Aston Villa berhasil meraih kemenangan saat mengandaskan tuan rumah Young Boys 3-0. Gol anak asuh Unai Emery dicetak oleh Tielemans di menit 27, Jacob Ramsey di menit 38, dan Amadou Onana di menit 86. Tiga poin yang diraih The Villains tersebut membuat mereka sementara berada di posisi 2 klasemen UCL.

Sementara itu di Kota Milan, tuan rumah AC Milan harus mengakui keunggulan tamunya Liverpool 3-1. Rossoneri terkena comeback setelah gol di menit ke-3 oleh Pulisic, dibalas oleh gol dari Konate di menit 23, Van Dijk di menit 41, dan Szoboszlai di menit 67. Dengan kemenangan ini, The Reds asuhan Arne Slot sementara berada di posisi 3 klasemen UCL.

Pindah ke Kota Madrid. Juara bertahan UCL, Real Madrid berhasil meraup tiga poin setelah mengalahkan tamunya Stuttgart 3-1. Gol dari anak buah Carlo Ancelotti dicetak masing-masing oleh Mbappe di menit 46, Rudiger di menit 83, dan Endrick di menit 90+5. Berkat hasil tersebut, El Real sementara ini menduduki posisi 5 klasemen UCL.

Bergeser ke Jerman. Di Allianz Arena, Bayern Munchen berpesta gol 9-2 atas tamunya Dinamo Zagreb. The Bavarian berpesta lewat empat gol dari Harry Kane, brace dari Michael Olise, dan masing-masing gol dari Guerreiro, Sane, Goretzka. Kemenangan besar pasukan Vincent Kompany tersebut membuat Die Roten sementara ini kokoh di puncak klasemen UCL.

Tak hanya Munchen saja yang berpesta gol, MU juga berpesta gol namun bukan di UCL. Pasukan Ten Hag mencukur habis tamunya Barnsley 7 gol tanpa balas di ajang Carabao Cup ronde ke-3. Gol Red Devils dicetak oleh brace dari Rashford, Garnacho dan Eriksen, serta gol penalti dari Antony. Hasil meyakinkan MU di Old Trafford tersebut, membuat mereka melangkah mulus ke ronde ke-4 Carabao Cup. Sementara itu di laga lainnya, Fulham kandas oleh Preston lewat adu penalti. Everton juga kandas atas Soton lewat adu penalti. Sementara itu Crystal Palace lolos setelah mengalahkan QPR 2-1. Brentford juga lolos setelah menang atas Leyton Orient 3-1.

KAPAN UNDIAN CARABAO CUP RONDE KE-4?

Dari sebagian hasil di ronde ke-3 Carabao Cup, EFL telah resmi mengumumkan bahwa undian ronde ke-4 Carabao Cup akan segera dilaksanakan. Dilansir dari Goal, EFL akan mengadakan undian ronde ke-4 Carabao Cup pada Rabu, 25 September 2024 pukul 10 malam waktu Inggris, atau tepatnya setelah laga terakhir ronde ke-3 antara Liverpool vs West Ham. Sebanyak 16 tim akan mengetahui lawan mereka masing-masing di ronde ke-4. Sesuai jadwal, ronde ke-4 Carabao Cup ini akan digelar mulai tanggal 28 Oktober 2024 mendatang.

ERLING HAALAND BISA PATAHKAN REKOR CR7 DI UCL

Sementara itu dari berita tentang UCL, pemain City Erling Haaland dilaporkan akan segera menyamai rekor yang dimiliki CR7 di UCL. Dilansir dari The Sun, Haaland bisa menyamai bahkan melewati rekor milik CR7 tersebut ketika menjamu Inter Milan pada Kamis dini hari nanti. Fyi, CR7 kini masih memegang rekor sebagai pemain tercepat yang telah mengemas 100 gol di UCL. Haaland sendiri kini telah mengemas 99 gol di UCL. Artinya, Haaland berpeluang memecahkan rekor CR7 tersebut jika ia bisa cetak gol di laga melawan Inter Milan.

FANS LIVERPOOL MENINGGAL DUNIA

Masih dari UCL. Kabar duka menyelimuti Liverpool. Dilansir dari Daily Mail, seorang fans Liverpool dilaporkan tewas pada Selasa malam jelang menyaksikan laga Milan vs Liverpool. Fans tersebut tewas setelah ditabrak mobil saat ia mau menyebrang ke hotel tempat ia menginap di Kota Milan. Menurut laporan kepolisian, korban yang tewas tersebut mengantongi tiket laga Milan vs Liverpool, serta paspor pada saat tewas ditempat.

WASIT ANTHONY TAYLOR DILARANG PIMPIN LAGA

Beralih ke kabar dari Liga Inggris. Dilansir dari Daily Mail, wasit Anthony Taylor telah dilarang untuk memimpin laga di pekan ke-5 Liga Inggris. Pihak Liga Premier Inggris kini sedang menyelidiki tindakan Anthony Taylor setelah memecahkan rekor jumlah kartu saat laga Bournemouth vs Chelsea di pekan ke-4 Liga Inggris. Meski dihukum tidak akan memimpin laga di pekan ke-5, namun wasit botak itu akan tetap bertugas sebagai ofisial keempat di laga Southampton vs Ipswich, dan Brighton vs Nottingham Forest.

FRANKIE DE JONG KEMBALI BERLATIH

Dari Inggris bergeser ke kabar dari La Liga. Dilansir dari Football Espana, pemain yang telah absen selama berbulan-bulan bersama Barcelona, Frankie De Jong kini dilaporkan telah terlihat berlatih ringan bersama skuad pada hari Selasa 17 September 2024. Menurut laporan, sejauh ia berlatih tidak ada masalah apapun mengenai cedera pergelangan kakinya. Hansi Flick dan staf senang melihat De Jong kembali berlatih. Mereka berharap De Jong dapat kembali berlaga lebih cepat.

DE ROSSI DIHUKUM, NAPOLI DIDENDA

Kabar berikutnya datang dari Serie A. Dilansir dari Football Italia, pelatih AS Roma Daniele De Rossi telah dihukum satu larangan laga akibat aksi protesnya saat laga melawan Genoa pekan lalu. Itu artinya, De Rossi akan absen di pinggir lapangan saat laga melawan Udinese di Olimpico minggu depan. Tak hanya De Rossi saja yang dihukum, Napoli dan Cagliari juga. Dua klub tersebut dihukum denda 30 ribu euro karena insiden perkelahian antar fans yang terjadi di tribun pada laga mereka pekan lalu. Sementara itu Atalanta juga tak ketinggalan didenda 3.000 euro, berkat ulah fans mereka yang melemparkan botol ke lapangan saat laga melawan Fiorentina.

JESSE LINGARD DIINTEROGASI POLISI

Beralih ke kabar selanjutnya. Dilansir dari Daily Mail, Jesse Lingard dilaporkan sedang diselidiki oleh polisi Korea Selatan karena diduga mengendarai motor listrik di Kota Seoul tanpa membawa SIM. Pihak kepolisian setempat menurut laporan akan segera memulai penyelidikan internal terhadap Lingard hari Rabu, 18 September 2024. Kepolisian akan memastikan apakah Lingard sudah mengurus SIM-nya di Korea, dan juga memastikan apakah ia dalam keadaan mabuk saat mengendarai motor listrik tersebut.

MANTAN PEMAIN LIVERPOOL GABUNG BORDEAUX

Bagi fans Liverpool, siapa yang masih ingat dengan striker jangkung Andy Carroll? Dilansir dari The Sun, striker gondrong tersebut kini dilaporkan siap turun kasta ke Liga Empat Prancis untuk bergabung dengan Bordeaux. Fyi, striker berusia 35 tahun tersebut musim lalu membela klub Ligue 2, Amiens. Carroll hijrah ke Liga Prancis bersama Amiens dalam upaya untuk menghidupkan kembali kariernya yang sempat meredup di Inggris. Namun sayang, Carroll hanya mampu mencetak empat gol saja di Amiens musim lalu.

RIYAD MAHREZ RAMPAS KESEMPATAN IVAN TONEY

Dari Arab Saudi, tersiar kabar bahwa mantan pemain City, Riyad Mahrez telah menggagalkan peluang Ivan Toney untuk mencetak gol debutnya bersama Al Ahli. Dilansir dari Sportbible, Riyad Mahrez menolak membiarkan Ivan Toney mengambil penalti saat melawan Persepolis di ajang Liga Champions Asia. Namun kemudian, Mahrez kena getahnya. Penalti yang ia ambil gagal masuk setelah diselamatkan dengan baik oleh kiper Persepolis. Meski tendangan penalti itu gagal, Al Ahli tetap masih bisa memenangkan laga lewat gol dari Franck Kessie.

TOLAK ZIDANE, AL-NASSR PILIH MANTAN PELATIH MILAN?

Masih dari kabar sepakbola Arab Saudi. Dilansir dari Sportbible, dipecatnya pelatih Al-Nassr Luis Castro pada Selasa 17 September 2024, tak serta merta membuat impian CR7 mendatangkan mantan pelatihnya, Zinedine Zidane bakal terwujud. Pasalnya menurut laporan, Zidane telah ditolak oleh manajemen Al-Nassr. Pihak manajemen lebih memilih untuk mendatangkan mantan pelatih AC Milan, Stefano Pioli. Bahkan menurut pakar transfer Fabrizio Romano, Pioli dalam waktu dekat akan segera menangani CR7 dan kawan-kawan karena kesepakatan transfer hampir disetujui.

JUSTIN HUBNER BUNGKAM MEDIA MALAYSIA

Beralih ke kabar dari sepakbola nasional. Justin Hubner baru-baru ini memberikan balasan menohok kepada media Malaysia yang meremehkan kemampuan Timnas Indonesia. Hubner merespons unggahan akun X media Negeri Jiran, Onefootball.my, usai Tim Garuda menahan imbang Australia di babak ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026. Dalam unggahannya, akun medsos Malaysia itu menyarankan Australia harusnya belajar dari Malaysia untuk mengalahkan Indonesia. Unggahan tersebut lantas dikomentari langsung oleh Hubner. Hubner mengatakan bahwa beberapa negara di Asia Tenggara seperti Malaysia, kini sudah tidak lagi selevel dengan Timnas Indonesia.

TEKAD ASNAWI PERMALUKAN PERSIB

Kabar selanjutnya datang dari Asnawi Mangkualam Bahar. Pemain Port FC tersebut telah tiba di Indonesia jelang laga AFC Championship League Two jelang laga melawan Persib Bandung. Laga Port FC vs Persib Bandung tersebut akan dihelat di Stadion Si Jalak Harupat pada hari Kamis 19 September 2024. Asnawi mengaku antusias bisa kembali menghadapi Persib Bandung. Namun dalam tekadnya, Asnawi mengaku siap untuk mempermalukan Maung Bandung di hadapan ribuan Bobotoh. Tiga poin menurut Asnawi adalah harga mati bagi Port FC.

HILGERS DAN ELIANO SIAP DISUMPAH DI BELANDA PEKAN DEPAN

Beralih ke kabar dari perkembangan proses naturalisasi Mees Hilgers dan Eliano Reijnders. Proses naturalisasi keduanya kini telah mulus di DPR RI pada Selasa 18 September 2024. Komisi III DPR RI telah menyetujui untuk merekomendasi kewarganegaraan kepada dua calon pemain naturalisasi tersebut. Menurut Menteri Hukum dan HAM RI, Supratman Andi Agtas, proses naturalisasi selanjutnya bagi Hilgers dan Eliano adalah mengambil sumpah sebagai WNI. Rencananya sumpah tersebut akan dilakukan pekan depan di kantor KBRI Belanda.

TIGA KLUB INGGRIS TARGETKAN ADEYEMI

Meski bursa transfer sudah ditutup, rumor tentang kepindahan pemain masih saja bermunculan. Yang terbaru, ada kabar bahwa tiga klub Inggris berebut talenta Borussia Dortmund, Karim Adeyemi. Dilansir Caught Offside, ketiga klub tersebut adalah Manchester United, Liverpool, dan Newcastle United. Ketiganya kagum dengan performa dan fleksibilitas Adeyemi di lini depan Dortmund. Mereka diperkirakan akan memulai negosiasi pada Bulan Januari mendatang

TONY BLOOM BAKAL BERINVESTASI DI KLUB SKOTLANDIA

Bos Brighton, Tony Bloom dikabarkan sedang mempertimbangkan untuk berinvestasi di klub sepakbola lain di Britania Raya. Dilansir Daily Mail, Hearts dikabarkan jadi klub yang sedang melakukan negosiasi dengan Bloom. Hearts sendiri merupakan salah satu klub besar di Liga Skotlandia. Menurut laporan, Tony berencana untuk berinvestasi sebesar 10 juta euro agar bisa merevolusi skema dan strategi transfer dari klub Skotlandia itu. Kenapa Hearts yang dipilih, karena Tony ingin memperkenalkan perusahaan analisis olahraganya yang bernama Starlizard ke sepakbola Skotlandia.

CHELSEA SIAP JUAL RUGI KEPA MUSIM DEPAN

Dari London, ada Chelsea yang dikabarkan siap merugi demi bisa melepas Kepa Arrizabalaga musim depan. Dilansir Tribal Football, The Blues berhasil membujuk Kepa untuk menyetujui kontrak baru sebelum ia dipinjamkan ke Bournemouth. Dalam kontrak baru itu, ada klausul pelepasan senilai 5 juta pound. Angka tersebut dipasang agar Chelsea tetap mendapat pemasukan walau kecil. Itu dinilai lebih baik ketimbang membiarkan Kepa pergi secara gratis, mengingat Chelsea menebusnya dari Athletic Bilbao senilai 72 juta pound.

TEN HAG BERI KABAR TENTANG LUKE SHAW

Bergeser ke Manchester, Erik Ten Hag baru saja memberikan update terbaru tentang kondisi kebugaran Luke Shaw. Dikutip dari cuitan Fabrizio Romano, Ten Hag mengatakan bahwa Shaw mengalami kemajuan yang bagus. Tapi belum siap untuk masuk skuad utama. “Dia berkembang dengan baik. Kami memiliki rencana di kepala kami kapan dia bisa siap,” kata Ten Hag. Sang pelatih juga menambahkan ada banyak faktor yang mempengaruhi waktu pemulihan cedera Luke Shaw. Beberapa faktor justru membuat prosesnya menjadi lambat.

RASHFORD DIKRITIK ALAN SHEARER

Marcus Rashford baru saja membuka kran golnya melawan Southampton pekan lalu. Namun, performanya itu tak lepas dari kritik. Kali ini, yang mengkritiknya adalah legenda Timnas Inggris, Alan Shearer. Dilansir 90min, menurut Shearer, Rashford masih belum menunjukan permainan maksimalnya. Apa yang ditunjukan sekarang belum sepadan dengan kontrak besar yang diterimanya dari Manchester United. Konsistensi masih jadi mimpi buruk bagi Rashy.

KONTRAK JANGKA PANJANG UNTUK ASLLANI

Dari Inggris, kita terbang ke Italia untuk membahas pemain Inter Milan, Kristjan Asllani. Pemain berposisi sebagai gelandang itu dikabarkan baru saja meneken kontrak baru dengan Inter. Dilansir Football Italia, kontrak Asllani berdurasi empat tahun. Itu artinya, ia akan berstatus sebagai pemain Inter hingga 2028 mendatang. Menurut laporan, kesepakatan itu juga disertai opsi perpanjangan satu tahun lagi, hingga musim panas 2029.

BENNACER HARUS ABSEN USAI JALANI OPERASI

Dari rival Inter Milan, yakni AC Milan justru ada kabar buruk. Salah satu gelandangnya, yakni Ismael Bennacer dikabarkan harus absen cukup lama. Menurut Football Italia, mantan pemain Arsenal itu harus menjalani pemulihan cedera selama empat bulan pasca melakukan operasi di Finlandia. Kabarnya, Bennacer mengalami gangguan pada otot betisnya saat membela tim nasional Aljazair pekan lalu. Setelah diperiksa lebih lanjut, ternyata cedera itu cukup parah sehingga harus melalui tindakan operasi. Alhasil, Rossoneri akan bermain tanpa Bennacer selama empat bulan kedepan.

SAELEMAEKERS JALANI OPERASI PERGELANGAN KAKI

Kabar yang kurang lebih sama juga dialami oleh AS Roma. Pemain baru mereka, yakni Alexis Saelemaekers dikabarkan harus menepi untuk waktu yang cukup lama karena harus menjalani pemulihan cedera. Dilansir Football Italia, Alexis baru saja merampungkan operasi di bagian pergelangan kaki akibat cedera yang dialaminya saat menghadapi Genoa. Kabarnya, Roma akan kehilangan Alexis dalam waktu kurang lebih dua bulan.

GONZALES ANGKAT BICARA SOAL POLEMIK NATURALISASI

Sementara dari Indonesia, ada legenda tim nasional, Cristian Gonzales yang angkat bicara soal polemik pemain naturalisasi. Dilansir VIVA, Gonzales tetap memberikan dukungannya kepada para pemain naturalisasi yang tengah membela Indonesia dalam upaya untuk menembus Piala Dunia 2026. Menurut Gonzales, mereka harus dihormati karena telah mengambil keputusan besar untuk mengabdikan karir mereka kepada Timnas Indonesia. Siapa pun yang telah mengucap sumpah WNI, sudah tak ada perbedaan lagi dengan pemain-pemain lain.

HUKUMAN UNTUK BOAZ SALOSSA

Masih dari legenda sepakbola Tanah Air, kabar kurang mengenakan justru datang dari Boaz Salossa. Dilansir CNN Indonesia, Kaka Boci mendapat hukuman dari Komisi Disiplin (Komdis) PSSI imbas dari pemukulan yang dilakukan kepada steward di pinggir lapangan. Insiden pemukulan yang dilakukan Boaz terjadi usai laga RANS Nusantara FC vs Persipura Jayapura pada pekan pembuka Liga 2. Gara-gara insiden itu, Boaz harus menjalani hukuman larangan bermain selama dua pertandingan dan denda sebesar Rp5 juta.

Modal Siasat Licik, Cuma Segini Kekuatan Timnas Bahrain?

0

Arab Saudi udah, Australia udah, kini giliran Bahrain yang diberi kehormatan untuk menjajal kekuatan King Indo. Skuad racikan Shin Tae-yong insyaallah akan bertandang lebih dulu ke markas Bahrain pada tanggal 10 Oktober nanti. Laga ini diperkirakan akan berjalan menarik. Karena laga ini bakal jadi laga yang penting dan memorable.

Jika Indonesia berhasil menang atas Bahrain, maka jumlah poinnya akan menjadi lima, sedangkan Bahrain tetap tiga. Itu akan membuat persaingan empat besar di Grup C akan semakin terbuka. Tapi di sisi lain, fans Indonesia tentu masih akrab dengan memori kelam tentang Timnas Bahrain.

Kembali bertemu di Kualifikasi Piala Dunia 2026, sejauh mana persiapan Bahrain jelang menghadapi King Indo? Sebelum kita cari tahu bersama, kalian bisa subscribe dan nyalakan lonceng terlebih dahulu agar tak ketinggalan konten terbaru dari Starting Eleven Story.

Memori Buruk

Di awal, mimin berkata bahwa fans Indonesia masih menyimpan rapi memori kelam tentang tim nasional Bahrain. Tapi, yang dimaksud memori kelam tuh yang mana sih? Buat kalian yang lupa atau pura-pura lupa, sini mimin ingetin lagi. Secara head to head, Indonesia kalah telak dari Bahrain. 

Melihat statistik dari situs 11v11, Indonesia sudah tujuh kali berhadapan dengan Bahrain. Hasilnya, Indonesia hanya menang dua kali, kalah tiga kali, dan sisanya seri. Pertemuan terakhir Indonesia dengan Bahrain sudah terjadi lama sekali. Pertemuan itu terjadi di ajang Kualifikasi Piala Dunia 2014. Dan itu jadi laga yang berakhir tragis bagi Indonesia.

Bertepatan pada tahun kabisat, yakni tahun 2012 Timnas Indonesia yang kala itu masih ditukangi oleh Aji Santoso berangkat ke Bahrain untuk melakoni laga Kualifikasi Piala Dunia 2014 di Stadion al-Bahrayn al-Watani. Dari awal keberangkatan, tak ada yang aneh. Semuanya berjalan normal, tapi tak ada yang menyangka bahwa hari itu tak ubahnya hari pemakaman bagi Sang Garuda.

Pasukan Aji Santoso menderita kekalahan telak nan memalukan. Irfan Bachdim dan kolega kalah dengan skor 0-10 dari Bahrain. Bagi Indonesia, kekalahan ini menjadi sejarah terburuk. Indonesia menelan kekalahan paling besar sepanjang sejarah. Sebelumnya, rekor kekalahan terbesar terjadi saat Indonesia kalah 0-9 dari Denmark pada uji coba tahun 1974.

Mulai Ketar Ketir

Dengan sejarah itu, mungkin Bahrain bisa sedikit jumawa. Tapi apalah arti sebuah sejarah toh kita hidup di masa sekarang. Bahrain boleh berbangga dengan sejarah sebagaimana Setan Merah. Tapi situasi sekarang sudah jauh berbeda. Materi pemain Indonesia yang akan dihadapi Bahrain pada Oktober nanti juga sudah sangat-sangat berbeda. Malah, Bahrain kabarnya mulai khawatir dengan kekuatan King Indo sekarang.

Tak bisa dipungkiri lagi bahwa peningkatan Timnas Indonesia yang kini dilatih oleh Shin Tae-yong sangatlah signifikan. Hal ini tentu bukan hanya berkat pelatih Shin Tae-yong saja, tapi juga peran pemain serta PSSI di belakangnya. Dan itu telah membuat mantan pelatih Bahrain, Samir Chamam memperingatkan Bahrain asuhan Dragan Talajic akan bahaya yang dihadapi.

“Semua sudah berubah, Timnas Indonesia yang ada saat ini jauh berbeda dari tim yang Bahrain kalahkan 10-0 di masa lalu. Indonesia bahkan menjadi satu-satunya wakil Asia tenggara di putaran ketiga ini,” tutur mantan pelatih Timnas Bahrain tersebut. Hal itu seperti diamini oleh federasi sepakbola Bahrain. Karena mereka kabarnya telah menyiapkan siasat licik jelang menghadapi Indonesia.

Bahrain berencana mengubah jadwal pertandingan saat menghadapi Timnas Indonesia. Yang awalnya malam hari, akan dimainkan sore atau siang hari. Hal tersebut dilakukan agar pemain-pemain Indonesia kepanasan. Menurut beberapa sumber, suhu Bahrain di siang hari bisa mencapai 40 derajat celcius.

Dilatih Dragan Talajic

Namun, respons yang berbeda justru ditunjukkan oleh pelatih Bahrain saat ini, Dragan Talajic. Sang pelatih justru menganggap enteng Timnas Indonesia saat ini. Apalagi karena Indonesia cuma bisa menahan imbang Australia, sedangkan timnya bisa menaklukkan pasukan Graham Arnold.

Secara kualitas, pelatih 59 tahun itu memang kenyang pengalaman di persepakbolaan Timur Tengah. Selain menukangi Timnas Bahrain, Talajic pernah melatih di negara-negara seperti Arab Saudi, Yordania, Kuwait, dan Oman. Talajic juga pernah melatih tim-tim Thailand dan China. Jadi, selain Timur Tengah, perkembangan dan dinamika sepak bola Benua Kuning juga dikuasainya.

Meski baru menangani Bahrain awal tahun ini, Talajic mendapat apresiasi yang sangat baik dari penduduk Bahrain. Dengan kepercayaan itu, Dragan Talajic pede bahwa timnya akan tampil lebih baik dari Indonesia pada 10 Oktober nanti.

Gaya Bermain Bahrain 

Namun, jika dilihat lagi, pernyataan tersebut terbilang cukup berani, mengingat secara permainan Bahrain tak begitu spesial. Saat melawan Australia misalnya. Kendati meraih tiga poin, Bahrain hanya memiliki 29% penguasaan bola. Momentum dan total tembakan, semuanya juga dimenangkan oleh Australia. 

Menghadapi sepuluh pemain Australia, apakah Bahrain mengambil alih jalannya pertandingan? Tidak juga. Australia tetap mendominasi meski sudah tidak semaksimal di babak pertama. Satu-satunya gol Bahrain pun lahir dari gol bunuh diri Harry Souttar. Dirinya mengubah arah bola yang dikirimkan oleh Abdulla Al-Khalasi sehingga masuk ke gawang sendiri.

Main lawan Jepang makin ngenes lagi. Pertahanan Bahrain porak poranda dan harus menelan kekalahan 5-0 di kandang sendiri. Sama halnya saat menghadapi The Socceroos, Bahrain sama sekali tidak bisa menciptakan peluang saat menghadapi Jepang. 

Menurut Fotmob, anak asuh Dragan Talajic tercatat cuma melepaskan satu tembakan on target ke gawang Zion Suzuki. Yang makin mengkhawatirkan, Bahrain cuma bisa melepaskan 128 umpan dengan tingkat akurasi yang tak kalah buruk, yakni 68%. Mainnya jelek gini kok berani-beraninya nyenggol Bang Jay dan kolega.

Kiprah di Kualifikasi Piala Dunia

Walaupun mainnya cuma gitu-gitu aja, ternyata Bahrain jadi langganan Kualifikasi Piala Dunia. Total, sejak 1978 Bahrain sudah sebelas kali ikut kualifikasi Piala Dunia walaupun belum ada yang sukses. Timnas Bahrain hanya beberapa kali hampir lolos ke putaran final, tapi selalu gagal di tahap terakhir.

Contohnya saja pada saat berpartisipasi di Kualifikasi Piala Dunia 2006. Tim berjuluk Dilmun Warriors ini kalah di fase play-off antar konfederasi. Kala itu, yang menjadi lawannya adalah wakil Afrika, Trinidad & Tobago. Empat tahun berselang, mereka kembali tumbang oleh Selandia Baru lewat cara serupa.

Lalu, bagaimana kiprah Bahrain di dua Kualifikasi Piala Dunia terakhir? Cukup oke meski gagal menembus ronde ketiga. Di edisi 2018, Bahrain mengumpulkan sembilan poin dan gagal melaju ke babak berikutnya. Sementara di Kualifikasi Piala Dunia 2022, Bahrain bangkit. Mereka mendulang 15 poin dan finis di urutan ketiga Grup C. Sayangnya, hasil itu masih belum cukup untuk lolos ke ronde ketiga.

Materi Pemain

Lantas bagaimana kekuatan Bahrain jika dilihat dari materi pemain? Bahrain mengandalkan pemain yang berkarir di liga lokal. Dilansir situs Transfermarkt, skuadnya saat ini hanya memiliki satu pemain yang berkarir di luar negeri. Dia adalah Mohamed Marhoon yang bermain di Liga Kuwait bersama Kuwait SC.

Bahrain juga mengandalkan beberapa pemain naturalisasi. Tercatat ada dua pemain yang memiliki darah keturunan dari Nigeria. Mereka adalah Vincent Emmanuel dan Moses Atede. Keduanya mungkin hanya berkarir di Liga Bahrain. Tapi mereka tetap patut mendapat sorotan lebih.

Namun, yang paling diwaspadai dari pemain Bahrain itu bukan skill olah bolanya. Melainkan dramanya. Pemain Bahrain lebay kalo dilanggar dan doyan ngulur-ngulur waktu jika sudah unggul. Dua trik itu terbukti sukses saat mengalahkan Australia. So, pemain Indonesia harus pandai mengatur emosi. Jika tidak, maka kita akan terjebak dalam permainan Bahrain.

https://youtu.be/R9F-hzMCJ5c

Sumber: Bola.com, Bola.net, Okezone, Bolasport, Fotmob

Mulai Tersisihkan? STY Berpotensi Coret Mereka dari Timnas Indonesia

0

Tak hanya Timnas Indonesia yang bersaing untuk memperebutkan slot menuju Piala Dunia 2026, para pemain yang ada dalam rombongan tim nasional juga saling bersaing. Kehadiran mereka dalam skuad Shin Tae-yong bukan jatuh dari langit, melainkan sebuah perjuangan tiada henti.

Masuknya Mees Hilgers dan Eliano Reijnders membuat peta persaingan di internal Tim Garuda makin menarik. Beberapa nama bahkan dikabarkan berpotensi tercoret dari skuad STY jelang laga tandang ke Bahrain dan China. Lantas, siapa saja pemain yang terancam tercoret dari Timnas Indonesia tersebut?

 

Hokky Caraka

Penyerang PSS Sleman, Hokky Caraka, menjadi nama kuat pemain yang berpotensi dicoret untuk laga tandang ke Bahrain dan China di bulan Oktober mendatang. Sebenarnya, masuknya nama pemain kelahiran Gunungkidul ke skuad Timnas bulan September lalu juga mengejutkan banyak orang. Sebab, performa Hokky dinilai masih belum layak untuk duduk di jajaran pemain Timnas. Apakah anggapan ini berlebihan? Sepertinya sih tidak juga.

Hokky memang harus bekerja lebih keras lagi untuk membuktikan bahwa masuknya ia ke Timnas bukanlah sebuah kebetulan belaka. Sebab, dalam 5 laga terakhir bersama PSS Sleman, pemain kelahiran Agustus 2004 ini belum sebiji pun mencetak gol. Bahkan sang pelatih, Wagner Lopes, belum pernah memberinya waktu bermain selama satu laga penuh.

Beberapa kali Hokky hanya bermain selama setengah laga saja. Bisa jadi, Hokky hanya dipakai oleh juru taktik Super Elja karena regulasi pemain muda belaka. Tak hanya itu, Sofascore pun mencatat bahwa penyerang yang lebih sering melebar ke sisi kanan ini hanya memiliki rataan satu tembakan per pertandingan di sepanjang musim ini. Kalau sudah begini, berarti Hokky memang butuh usaha ekstra untuk meningkatkan performa.

 

Wahyu Prasetyo

Masuknya nama Mees Hilgers jelas menjadi alarm tanda bahaya untuk pemain belakang Timnas Indonesia, tak terkecuali Wahyu Prasetyo. Mantan pemain PSIS Semarang ini terancam dicoret karena ketatnya persaingan di lini belakang tim racikan Shin Tae-yong. Asanya untuk menambah caps bersama Timnas senior sangat mungkin untuk tertunda.

Sejauh ini, Wahyu baru menjalani 4 laga bersama Malut United dan selalu dipercaya oleh Imran Nahumarury untuk bermain penuh. Sayangnya, catatan apik 84% operan suksesnya tak bisa menutupi fakta bahwa Wahyu sudah kecolongan 2 gol dalam 4 laga.

Tak hanya itu, Sofascore mencatat bahwa mantan pemain Persik Kendal ini hanya memiliki 59% keberhasilan dalam urusan duel merebut bola. Ini harus jadi perhatian khusus bagi Wahyu. Soalnya tugas utama bek adalah menghalau bola, bisa passing dan dribling itu bonus. Kalau beknya tak bisa rebut bola, masa iya Maarten Paes lagi yang harus kerja?

 

Muhammad Ferarri

Setelah sempat mencicipi 10 menit berlaga melawan Arab Saudi, nasib Muhammad Ferarri di Timnas masih menjadi misteri. Sama seperti Wahyu Prasetyo, Ferarri tak boleh berpuas diri dengan performanya saat ini. Amunisi anyar bernama Mees Hilgers bukanlah pemain sembarangan. Meski Ferarri juga termasuk pemain andalan, tapi Hilgers bermain di kompetisi yang lebih jempolan.

Dalam 5 laga terakhir, hanya laga melawan PSBS Biak, Carlos Pena tak menurunkan Ferarri secara penuh. Hasilnya, Persija yang sudah terbobol satu gol di babak pertama harus mengakhiri laga dengan kekalahan 3-1. Setidaknya hingga pekan kelima, Liga 1, Ferarri baru menyaksikan pertahanannya terbobol 2 kali, itu pun yang satu lewat titik penalti.

Tapi Ferarri jangan berbangga hati dulu, sebab catatan dirinya pribadi masih harus terus dibenahi. Meskipun akurasi umpannya mencapai angka 91%, atribut bertahan Ferarri tergolong mengenaskan untuk ukuran pemain bertahan. Selama 5 laga terakhir, Sofascore mencatat persentase kemenangan saat duel bolanya hanya 38% dan 55% saja untuk kemenangan duel udara. Maarten Paes beneran kerja keras dong kalo gini. 

 

Pratama Arhan

Posisi Pratama Arhan di bek kiri sejatinya sudah terancam sejak kedatangan Calvin Verdonk. Arhan yang awalnya hanya bersaing dengan Shayne Pattynama harus menelan kenyataan bahwa Calvin Verdonk adalah seorang pemain jempolan. Menyerang? Bisa. Bertahan? Ya tentu saja.

Ditambah, kenyataan bahwa dua saingannya tadi merupakan andalan di timnya masing-masing, makin membuat Arhan gigit jari. Mantan pemain PSIS Semarang ini bukanlah pemain inti di Suwon FC. Sejak bergabung pun, Arhan hanya bermain sekali. Itu pun, Arhan hanya bermain sekitar 3 menit saja sebelum diusir keluar karena kartu merah. 

Sejak kartu merah itu, pemain yang fenomenal dengan lemparan panjangnya ini tak pernah diberi kesempatan lagi. Sementara di Timnas, Shin Tae-yong memberinya kesempatan dari bangku cadangan pada laga melawan Australia. Namun sayang, penampilannya belum mampu memberikan pengaruh berarti untuk Indonesia.

 

Nadeo Argawinata

Mantan kiper andalan Shin Tae-yong, Nadeo Argawinata, tampaknya makin lama makin tersisihkan. Setelah mendapatkan saingan berat bernama Ernando Ari, kedatangan dan penampilan luar biasa Maarten Paes membuat namanya makin terlupakan.

Padahal performanya di klub tergolong lumayan lho. Hingga laga ke-5 Liga 1, Nadeo selalu tampil penuh di 3 laga awal. Pada laga ke-4, Nadeo terkena kartu merah kala laga baru berjalan 12 menit sehingga ia tak bermain di laga berikutnya. Meskipun begitu, ia baru sekali merasakan jala gawangnya bergetar.

Performanya di kompetisi regional pun masih sempurna, pemain asal Kediri ini belum pernah memungut bola dari gawang Borneo FC. Pun soal rataan umpan suksesnya, Nadeo berhasil mencatatkan 89%. Lalu bagaimana dengan tugasnya sebagai kiper? Aman. Sofascore mencatat Nadeo punya 92% penyelamatan sukses. Sayangnya, performa apik dan ketenangan Nadeo masih akan sulit membuatnya merebut posisi kiper utama dari Maarten Paes.

 

Ricky Kambuaya

Terakhir, ada Ricky Kambuaya. Sama seperti Nadeo, Kambuaya yang juga merupakan andalan STY di masa lalu, perlahan mulai tersisihkan. Performa apik pemain lain dan kedatangan Eliano Reijnders yang serba bisa, membuat Kambuaya rawan tercoret dari daftar pemain tengah Tim Garuda.

Performa pemain yang sudah memiliki 37 caps di level klub pun tergolong mengecewakan. Hanya dalam 5 laga, Kambuaya sudah mengoleksi 3 kartu kuning dan sebuah kartu merah. Semua kartu kuning tadi didapatkannya pada 3 laga pertama dan disempurnakan dengan kartu merah di akhir laga melawan PSM Makassar.

Alhasil, Kambuaya tak bisa bermain di laga ke-4 Dewa United melawan PSIS Semarang. Namun, skill pemain yang dikenal sangat teknikal ini tetap menawan. Sofascore mencatat bahwa Kambuaya memiliki rataan drible sukses sebesar 70% per pertandingan. Tak hanya itu, rataan umpannya per pertandingan juga masih tergolong tinggi, yakni 84%.

Dengan statistik seperti itu, tidak mengherankan jika di masa lalu Kambuaya selalu dijadikan andalan oleh Shin Tae-yong. Namun, zaman sudah berubah. Kini, banyak pemain yang tak kalah berkualitas dari Kambuaya sudah bergabung. Sekarang, tinggal bagaimana Kambuaya meyakinkan STY bahwa dirinya masih layak untuk dibawa.

Sumber: Okezone, TVOneNews, Sofascore, Transfermarkt

Kok Bisa Timnas Indonesia Sampai Dibantai 10-0 oleh Bahrain?

0

Oktober nanti Timnas Indonesia akan terbang ke sebuah pulau kecil di sebelah Timur Arab Saudi, yakni Bahrain. Anak asuh Shin Tae-yong akan menantang tuan rumah di Bahrain National Stadium, sebuah tempat yang menjadi saksi bisu dari kekalahan terbesar yang pernah Timnas Indonesia telan.

Pada 29 Februari 2012, Bahrain pernah meluluhlantakkan Indonesia dengan skor yang tak lazim, 10 gol tanpa balas. Saking tak lazimnya laga ini, FIFA sampai turun tangan untuk menginvestigasi dugaan pengaturan skor. Lantas, seperti apa sebenarnya laga fenomenal tersebut?

 

Konflik Dualisme Kompetisi

Kekalahan memalukan 10-0 dari Bahrain ini tak bisa dilepaskan dari kejadian yang menyebabkan turbulensi di khazanah sepak bola Indonesia, yakni dualisme kompetisi. Kejadian ini adalah faktor terbesar kekalahan memalukan ini bisa terjadi. Sebab, apabila tidak terjadi dualisme, Timnas pastinya bisa bermain dengan skuad yang lebih optimal.

Memangnya kenapa sih kok bisa sampai terjadi dualisme kompetisi? Jadi begini, pada tahun 2010, pernah muncul kompetisi tandingan bernama Liga Primer Indonesia. Kompetisi ini awalnya memang kompetisi ilegal, artinya kompetisi ini diadakan di luar restu PSSI sebagai federasi. Sementara, PSSI sejak 1994 sudah punya liga resmi yang pada saat itu bernama Liga Super Indonesia.

Tapi ya wajar sih kalo Liga Primer tidak membutuhkan pengakuan PSSI, kan kompetisi ini memang diadakan sebagai bentuk perlawanan. PSSI yang saat itu masih dipimpin oleh Nurdin Halid, dinilai kotor dan sangat menutup diri dari upaya pihak luar untuk memperbaiki sepak bola Indonesia. Kondisi seperti inilah yang menjadi pemantik dari terbentuknya Liga Primer.

Namun, kondisi ini berbalik dengan sangat cepat. Kurang lebih setahun setelahnya, Nurdin Halid berhasil ditumbangkan. PSSI akhirnya mengadakan kongres pemilihan ketua umum barunya dan nama Djohar Arifin Husein akhirnya keluar sebagai pemenang. Sejak saat ini, kondisi berubah.

PSSI yang sebelumnya menganggap bahwa Liga Primer adalah liga ilegal, kini menjadikannya sebagai kompetisi resmi. Sebaliknya, Liga Super yang sebelumnya dianggap sebagai kompetisi resmi, kini malah menjadi kompetisi ilegal. Memang hidup kadang tidak bisa ditebak arahnya.

Alhasil, pemain-pemain yang bermain di Liga Super dihukum oleh PSSI. Otomatis, mereka akhirnya terpinggirkan dari daftar pemain yang bisa dipakai oleh Timnas. Masalahnya, para bakat terbaik Indonesia saat itu mayoritas bermain di klub-klub Liga Super. Dari sinilah akar masalah dari kekalahan 10-0 dari Bahrain terjadi. 

Untungnya, kekacauan dualisme liga ini hanya berjalan beberapa musim saja. Pada musim 2014, kompetisi sudah dileburkan menjadi satu lagi. Klub-klub dari Liga Primer dimasukkan ke dalam Liga Super yang pada akhirnya ditunjuk sebagai kompetisi utama.

Dari pembahasan sederhana soal dualisme kompetisi ini kita bisa sedikit memahami mengapa setelah gegap gempita Piala AFF 2010, performa Timnas Indonesia langsung terjun payung. Ya gimana nggak merosot performanya, wong pemain-pemain andalannya dilarang masuk ke Timnas.

 

Skuad Seadanya

Efek dari kisruh di kompetisi lokal ini benar-benar membuat Aji Santoso sebagai pelatih tim nasional sakit kepala. Pelatih yang mendapat tugas berat untuk mengawal Timnas di ajang Kualifikasi Piala Dunia 2014 itu harus benar-benar memutar otaknya. Ia tak punya banyak pilihan terkait pemain yang bisa dibawa.

Sialnya lagi, Indonesia kala itu tergabung bersama wakil-wakil Asia Barat yang kala itu selalu jadi momok bagi Tim Garuda. Bersama Iran, Qatar, dan Bahrain, Indonesia tak sekalipun menang dan hanya jadi bulan-bulanan. Yang paling parah? Jelas laga lawan Bahrain. Laga fenomenal yang tak bisa dihapuskan dari sejarah sepak bola Indonesia.

Laga melawan Bahrain tersebut merupakan laga terakhir di Grup E. Indonesia sudah jelas tidak lolos setelah gagal meraih satu pun poin pada lima laga sebelumnya. Tak hanya itu, Indonesia juga sudah terbobol 16 gol dan hanya mampu mencetak 3 gol saja.

Setelah tak memiliki harapan untuk lolos dan kenyataan sulitnya mencari pemain, Aji Santoso akhirnya memutuskan berangkat ke Bahrain dengan kekuatan seadanya. Saking seadanya skuad ini, hampir semua pemain yang diturunkan dalam daftar 11 pemain pertama merupakan para pemain debutan.

Hanya Ferdinand Sinaga, Irfan Bachdim, dan Syamsidar saja yang bukan pemain debutan. Bayangkan saja, Timnas yang seharusnya bisa bermain dengan nama-nama seperti Firman Utina hingga Boaz Solossa, terpaksa bermain dengan skuad minim pengalaman karena ketidakjelasan kompetisi. Dan itu menghadapi tim Timur Tengah sekelas Bahrain yang waktu itu dilatih mantan pemain Tottenham Hotspur, Peter Taylor.

“Tapi ya sudah, jalani saja,” mungkin kira-kira seperti itu yang terbayang dipikiran Aji Santoso. Kepasrahan ini langsung diberi cobaannya di awal laga. Kiper Timnas, Syamsidar sudah diganjar kartu merah di menit ke-3 karena melanggar pemain Bahrain. Dari momen inilah petaka 10-0 dimulai. Bahrain berhasil mengonversi penalti dari pelanggaran Syamsidar dan 9 gol berikutnya menyusul secara berurutan.

Laga debut Diego Michiels ini pada akhirnya menjadi laga yang paling memalukan. Saking memalukannya, laga ini ternyata memecahkan rekor kekalahan terbesar Timnas Indonesia. Skor 10-0 ini memecahkan rekor anak asuh Aang Witarsa yang dilumat Denmark 9-0 di Kopenhagen pada tahun 1974. Memecahkan rekor memang bagus sih, tapi kalo rekornya semacam ini, ya mending nggak dulu.

 

Dugaan Pengaturan Skor

Skor tak lazim ini akhirnya menjadi sensasi di dunia internasional. Sepak bola Indonesia menjadi sorotan di seluruh dunia. Tim yang dua tahun lalu menjadi salah satu yang terbaik di wilayahnya, kok bisa-bisanya kalah telak tanpa mampu melawan? Semisal kalahnya hanya di marjin 3-0 hingga 5-0 mungkin masih bisa dicerna, lah ini 10-0. Jelas ini merupakan sesuatu yang tak wajar.

Bau anyir mulai menyeruak, selain karena sepak bola Indonesia saat itu sedang busuk-busuknya, dugaan pengaturan skor pun ikut naik menjadi topik utama. Suudzon ini muncul bukan tanpa alasan. Sebab, pada laga itu Bahrain punya peluang untuk lolos ke babak selanjutnya dengan dua syarat. Pertama, mereka harus menang dengan selisih lebih dari 9 gol atas Indonesia dan kedua, Qatar harus kalah dari Iran.

Berdasarkan kemungkinan tersebut, dugaan main mata antara Indonesia dan Bahrain bisa saja terjadi. Karena mencetak lebih dari 9 gol bukanlah hal yang mudah. Jika syaratnya hanya mencetak lebih dari 2 hingga 3 gol, itu lebih masuk akal untuk dilakukan. Tapi untuk 9 gol? Sepertinya harus ada yang dikorbankan. 

Meski FIFA mengeluarkan pernyataan bahwa pihaknya akan menginvestigasi hasil pertandingan ini, kasus ini pada akhirnya menguap begitu saja. Tak hanya itu, Bahrain pun gagal lolos ke babak selanjutnya meski sudah unggul selisih gol dari Qatar. Sebab, di laga lain, Iran dan Qatar berbagi angka 2-2 sehingga Qatar unggul 1 poin dari Bahrain.

Sumber: Bola, Goal, The Guardian, RMOL, dan Inside Indonesia