Pantes Rafael Struick Mau Gabung Brisbane Roar, Klubnya Keren Gini

spot_img

Sedang santai menikmati libur Maulid Nabi, jagad media sosial Indonesia justru digegerkan oleh kabar kepindahan Rafael Struick ke klub Australia, Brisbane Roar. Berita ini jelas mengejutkan karena sebelumnya tidak ada tanda-tanda bahwa pemain yang memiliki julukan El Klemer itu ingin pindah dari ADO Den Haag.

Menurut beberapa sumber yang ada, Brisbane Roar telah mengikat Rafael Struick dengan kontrak berdurasi satu tahun. Itu berarti Rafa hanya akan bermain di Australia hingga tahun 2025 mendatang. Tapi dari sekian banyaknya klub di Eropa, kenapa Rafa justru memilih gabung klub Australia?

Usut punya usut, ternyata Brisbane Roar bukan klub sembarangan di Australia. Mereka punya sejarah, prestasi, dan koneksi yang bagus. 

Kenapa Brisbane?

Soal mengapa pilih Brisbane Roar, Rafael Struick punya alasannya sendiri. Dilansir CNN Indonesia, punggawa Timnas Indonesia itu memuji Brisbane Roar sebagai klub besar. Bermain di kasta tertinggi Liga Australia, Struick tertantang untuk memperlihatkan kualitasnya di kompetisi yang jauh dari zona nyamannya.

Tapi jika dilihat dari kacamata yang berbeda, bergabungnya Rafael Struick ke Brisbane Roar ibarat seseorang yang sedang menuruni anak tangga. Meski Brisbane bermain di kasta tertinggi Liga Australia, pindah dari klub sebesar ADO Den Haag tentu dianggap sebuah penurunan level. Apalagi El Klemer ini masih muda. Seharusnya masih bisa bersaing di Negeri Kincir Angin.

Keputusan Rafael untuk hijrah ke Australia tentunya semakin menguatkan konten Starting Eleven sebelumnya yang menceritakan tentang struggle-nya pemain-pemain keturunan setelah memutuskan untuk membela Timnas Indonesia. Namun, kita tak bisa terlalu cepat menyimpulkan. Selain karena perjalanan karirnya yang masih panjang, ternyata Brisbane Roar bukan klub sembarangan.

Kental Akan Budaya Belanda

Meski Australia berjarak lebih dari 14.700 kilometer dari Belanda, Rafael Struick diprediksi tak akan sulit untuk beradaptasi di Brisbane Roar. Mengapa demikian? Karena klub yang dijuluki The Roar ini dikenal sebagai klub yang memiliki aroma Belanda yang kuat.

Berbasis di Brisbane, Queensland, Brisbane Roar ternyata didirikan oleh imigran asal Belanda pada tahun 1957. Dulunya, Brisbane Roar memiliki nama sebagai Hollandia-Inala terus berganti menjadi Brisbane Lions, Queensland Roar, sebelum akhirnya menjelma jadi Brisbane Roar hingga sekarang. 

Didirikan oleh imigran asal Belanda, membuat klub memilih oranye sebagai warna kehormatan di klub. Jersey dan logo Brisbane Roar pun selalu didominasi oleh warna oren layaknya tim nasional Belanda. Tapi bagaimana sejarahnya orang-orang Belanda bisa hijrah ke Australia?

Singkatnya, sejarah imigran Belanda yang ada di Australia dapat dibagi menjadi beberapa bagian berdasarkan timeline waktu. Yang pertama terjadi di era penjelajahan Willem Janszoon pada tahun 1606, lalu terjadi lagi sesaat setelah Perang Dunia II, dan saat berdirinya pemukiman orang Belanda pasca perang.

Reputasi

Sejak didirikan pada tahun 1957, Brisbane Roar terus membangun reputasi sebagai salah satu klub raksasa di Liga Australia. Sejak bergabung ke A-League, The Roar telah memenangkan beberapa gelar bergengsi, termasuk tiga gelar A-League Championship pada musim 2010/11, 2011/12, dan 2013/14. 

Selain itu, Brisbane Roar juga tercatat pernah tiga kali berpartisipasi di Liga Champions Asia. Momen itu terjadi pada musim 2011/12, 2014/15, dan 2016/17. Klub ini pun memiliki jaringan yang luar biasa. Dalam misi pengembangan pemain muda, Brisbane bahkan bekerjasama dengan banyak klub lokal dan Eropa.

The Roar memiliki afiliasi dengan beberapa klub lokal seperti kemitraan dengan Souths United, Coast City, Grange Thistle, Sunshine Coast Wanderers, Cairns FC, Logan Lightning FC, dan Olympic FC. Sementara di luar Australia, Brisbane Roar dilaporkan juga menjalin kerjasama dalam hal pengembangan pemain muda dengan Birmingham City, Fulham, dan AIK. 

Selain itu, Brisbane Roar juga termasuk klub Australia yang memiliki basis penggemar yang sangat besar. Kelompok suporter terbesarnya bernama “The Den”. Bahkan mereka pernah mencatatkan rekor sebagai klub dengan rata-rata kehadiran penonton paling banyak, yakni 13.534 penonton pada musim 2018/19.

Dimiliki Oleh Bakrie Group

Fakta menarik berikutnya, Brisbane Roar ternyata memiliki latar belakang yang sama dengan FC Como, yakni dimiliki oleh perusahaan asal Indonesia. Jika Como dimiliki PT Djarum, Brisbane Roar dikuasai oleh Bakrie Group. Sebuah perusahaan konglomerat yang didirikan oleh Achmad Bakrie pada tahun 1942.

Awalnya, Bakrie Group awalnya hanya membeli 70% saham klub. Tetapi, pada 2012 Federasi Sepakbola Australia (FFA) mengumumkan bahwa Bakrie Group telah mengakuisisi 100% kepemilikan klub A-League tersebut.

Menariknya, Bakrie Group cukup getol melebarkan sayap di dunia olahraga. Selain Brisbane Roar, Bakrie Group dilaporkan pernah dan masih memiliki saham di beberapa klub lain, seperti Oxford United, CS Vise, Persija Jakarta, dan Arema. 

Khusus klub terakhir, Bakrie Group memasrahkan pengelolaan ke pihak ketiga. Sedangkan saham Bakrie di CS Vise sudah dilepas pada tahun 2014. Selain sepakbola, Bakrie Group ternyata juga berkecimpung di dunia bola basket melalui Pelita Jaya yang didirikan pada tahun 1987. Kini, Pelita Jaya masih aktif berlaga di Liga Bola Basket Indonesia atau IBL.

Pernah Ditukangi Pelatih Hebat

Saat pertama kali diakuisisi oleh Bakrie Group, Brisbane Roar kala itu masih dilatih oleh pelatih Tottenham saat ini, Ange Postecoglou. Pelatih yang sukses bersama Timnas Australia dan Celtic itu sudah menukangi Brisbane Roar sejak tahun 2009. Di musim perdananya, Ange hanya membawa The Roar finis di urutan kesembilan.

Namun, perkembangan yang signifikan dicatatkan pada 2010/11. Ange langsung mengerek Brisbane Roar ke puncak klasemen hingga akhirnya meraih gelar juara Liga Australia untuk pertama kali. Hebatnya lagi, Brisbane hanya menelan satu kekalahan saja di musim 2010/11. 

Prestasi ini membawa Brisbane mencatatkan rekor yang masih bertahan hingga sekarang. Rekor sebagai klub dengan rentetan laga tak terkalahkan terpanjang, yakni 36 pertandingan di Liga Australia. Kesuksesan pun berlanjut di musim 2011/12. Ange membawa Brisbane juara A-League dua kali secara beruntun. 

Selain Ange Postecoglou, Brisbane Roar juga pernah ditukangi oleh legenda Liverpool, Robbie Fowler. Mantan penyerang Timnas Inggris itu melatih Brisbane pada musim 2019/20. Sayangnya, Fowler tak pandai dalam urusan melatih. Dirinya hanya memimpin selama 24 pertandingan dan tidak meraih gelar apa pun. 

Aroma Indonesia

Keberadaan Bakrie Group juga dikabarkan jadi salah satu alasan mengapa Rafael Struick bergabung Brisbane Roar. Namun, jika kalian berpikir bahwa Rafa adalah pemain Indonesia pertama yang berseragam Brisbane, kalian salah besar. Karena sebelumnya, sudah ada dua pemain Indonesia yang bermain untuk The Roar.

Yang pertama adalah Van Dijk. Tentunya bukan pemain yang kini berseragam Liverpool itu ya. Yang ini nama lengkapnya Sergio Van Dijk. Dia gundul dan berposisi sebagai striker. Mantan pemain FC Emmen itu bermain di sana pada tahun 2008-2010. Dua musim di sana, Sergio mencatatkan 27 gol dari 51 laga. 

Tiga tahun kemudian, dirinya bergabung dengan Persib Bandung. Tampil moncer selama membela Maung Bandung, Sergio akhirnya dinaturalisasi oleh Indonesia. Yang kedua ada Yandi Sofyan. Berbeda dengan Sergio yang jadi andalan Brisbane Roar, Yandi cuma berseragam Brisbane Roar U-21 pada musim 2013/14.

Irisan Brisbane Roar dengan Indonesia tak berhenti di situ. Jauh sebelum dimiliki Bakrie Group, Brisbane Roar pernah diperkuat Shin Tae-yong pada musim 2005/06. The Roar tercatat sebagai klub terakhir sebelum akhirnya pelatih Timnas Indonesia itu pensiun dari karir sepakbola profesional.

Keberadaan Rafael di skuad Brisbane Roar diharapkan bisa meningkatkan kualitas dan pengalaman berkompetisinya. Mungkin Rafa tidak bisa menjamin 20 gol setiap musim. Tapi determinasi, akselerasi, dan fleksibilitasnya di lini depan semoga bisa membantu Brisbane kembali ke masa kejayaannya.

https://youtu.be/uwHdAJJQSWc

Sumber: Suara, CNN Indonesia, Tirto.id, Bola.com

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru