Beranda blog Halaman 106

Berita Bola Terbaru 9 Oktober 2024 – Starting Eleven News

MASA DEPAN TEN HAG BELUM JELAS SETELAH RAPAT

Dilansir dari The Sun, pemilik MU, Sir Jim Ratcliffe sama sekali tidak memberikan informasi terbaru tentang masa depan Erik ten Hag, setelah sekitar tujuh jam berunding dengan para petinggi Setan Merah di London pada hari Selasa 8 Oktober 2024. Rapat yang dihelat pukul 9.30 pagi hingga 4:45 sore itu, belum menghasilkan keputusan mengenai nasib Ten Hag. Setelah keluar dari lokasi rapat tersebut, Ratcliffe masih bungkam di hadapan media. Hal ini membuat fans MU makin penasaran dan menanti-nanti apa sebenarnya hasil rapat di hari tersebut.

TEN HAG BANGUN TEMBOK DI CARRINGTON

Di sisi lain, si Ten Hag malah punya ide gila. Dilansir The Sun, meneer asal Belanda tersebut baru-baru ini meminta manajemen MU untuk dibangunkan tembok raksasa senilai 200 ribu pounds di Carrington. Menurut Ten Hag, tembok tersebut berfungsi untuk merahasiakan sesi latihan timnya. Permintaan Ten Hag tersebut pun dipenuhi oleh manajemen klub. Sebuah dinding putih telah didirikan di Carrington. Meskipun demikian, biaya pembangunan tembok tersebut menuai kritik dari sebagian fans. Pasalnya, hal itu bertolak belakang dengan sikap manajemen klub yang sebelumnya banyak memangkas anggaran yang dinilai tak penting.

KLUB-KLUB LIGA INGGRIS AKAN BERKUMPUL BAHAS CITY

Beralih ke kabar lainnya. Dilansir dari Daily Mail, pihak Premier League yang dipimpin oleh Richard Masters, dilaporkan akan segera mengadakan pertemuan darurat dengan 19 klub Liga Inggris pada hari Kamis 10 Oktober 2024. Pertemuan darurat tersebut dimaksudkan untuk membahas masalah terkini mengenai kemenangan City atas Premier League soal kasus APT. Menurut laporan, para punggawa dari masing-masing tim juga bersedia untuk hadir dalam pertemuan tersebut. Rapat tersebut diinisiasi oleh pihak Premier League setelah City dianggap menuduh para bos Premier League menyesatkan klub Liga Inggris soal APT.

TXIKI BEGIRISTAIN TINGGALKAN CITY

Masih kabar soal City. Dilansir dari Daily Mail, Direktur Olahraga Manchester City, Txiki Begiristain akan meninggalkan klub pada akhir musim ini. Ia berencana pensiun dari dunia sepakbola setelah meninggalkan City. Kabar kepergian teman dekat Pep tersebut sontak menimbulkan banyak spekulasi, apakah Pep Guardiola akan mengikuti jejaknya atau tidak. Pasalnya, Txiki merupakan bagian penting dalam penunjukan Pep sebagai pelatih City pada tahun 2016. Mengenai pengganti Txiki, dilaporkan bahwa Direktur Sepakbola Sporting CP, Hugo Viana akan jadi calon kuat.

REAL MADRID BUAT PERJANJIAN PRA KONTRAK DENGAN DUA PEMAIN

Beralih ke kabar dari sepakbola Spanyol. Dilansir Football Espana, Real Madrid dikabarkan tengah bersiap menawarkan perjanjian pra kontrak kepada dua pemain sekaligus pada bursa transfer Januari mendatang. Mereka adalah Trent Alexander-Arnold dan Alphonso Davies. Real Madrid berniat mempercepat upaya mereka mengambil dua pemain tersebut. Pasalnya, kontrak kedua pemain tersebut masing-masing akan berakhir pada musim panas mendatang. Jika berhasil mengamankan perjanjian pra-kontrak ini, El Real akan untung karena mendapatkan dua pemain tersebut secara gratis.

JADWAL PERESMIAN CAMP NOU MUNDUR

Kabar berikutnya datang dari Barcelona. Dilansir dari Goal, peresmian stadion Camp Nou yang baru direnovasi dipastikan mundur dari jadwal yang telah ditetapkan. Hal tersebut disampaikan langsung oleh Wakil Presiden Barca, Elena Fort. Yang semula dijadwalkan akan diresmikan tepat hari ulang tahun klub yang ke-125 pada 29 November 2024, mundur menjadi di Bulan Februari 2025. Peresmian ini diundur karena UEFA tak menghendaki klub berpindah kandang jika bermain di babak grup UCL musim ini. Sedangkan babak grup UCL baru akan selesai pada Januari 2025. Menurut Fort, kalau tidak ada halangan laga melawan Alaves di La Liga bulan Februari 2025, akan jadi laga pertama El Barca di markas yang baru direnovasi.

ATLETICO MADRID SETUJU NAMA STADIONNYA DIUBAH

Kabar berikutnya masih soal stadion. Namun kali ini kabar tentang stadion milik Atletico Madrid. Dilansir dari Football Espana, pihak Atletico Madrid telah mengkonfirmasi bahwa telah terjadi kesepakatan soal hak penamaan stadion mereka dengan pihak Riyadh Air. Dengan kesepakatan tersebut, Estadio Civitas Metropolitano akan segera berganti nama menjadi Estadio Riyadh Air Metropolitano. Perjanjian kesepakatan dengan Riyadh Air soal penamaan stadion dilaporkan berlangsung hingga tahun 2033. Kalau sesuai rencana, laga melawan Leganes di La Liga pada tanggal 20 Oktober 2024 akan menandai pertama kalinya stadion Atletico Madrid tersebut berganti nama.

GRIEZMANN TIRU ZIDANE?

Sementara itu pemain Atletico Madrid yang baru saja pensiun dari Timnas Prancis, Antoine Griezmann, berencana akan meniru langkah Zinedine Zidane dalam karier sepakbolanya. Dilansir dari Goal, Griezmann berencana kembali dari masa pensiun di Timnas Prancis. Fyi, dulu Zidane sempat pensiun dari Timnas Prancis pasca tersingkir dari Euro 2004, tetapi kembali lagi dan menjadi kapten tim di Piala Dunia 2006. Menurut laporan, Griezmann mengubah sikapnya tersebut karena makin khawatir dengan penampilan tim asuhan Deschamps yang menurutnya terlihat menurun jelang Piala Dunia 2026.

POGBA KE MARSEILLE?

Kabar berikutnya datang dari rekan Griezmann di Timnas Prancis, Paul Pogba. Dilansir dari Goal, Pogba yang rencananya akan dilepas Juve dan akan kembali merumput di bulan Maret 2025, sedang dibujuk untuk kembali ke Prancis dengan bergabung bersama Marseille. Rekan Pogba di Prancis, Patrice Evra telah membantu sang pemain agar bisa bergabung dengan tim racikan De Zerbi tersebut. Evra mengatakan di podcast Rothen s’enflamme, akan segera menelpon Direktur Olahraga Marseille, Medhi Benatia untuk mau menerima Pogba.

IBRAHIMOVIC ANGKUT LINDELOF KE MILAN?

Beralih ke kabar dari sepakbola Italia. Dilansir Sportbible, penasihat Red Bird Capital, Zlatan Ibrahimovic telah mengusulkan rencana transfernya untuk memboyong mantan rekannya di MU, Victor Lindelof ke San Siro. Masa depan bek asal Swedia tersebut di Red Devils kini makin tidak menentu, setelah kedatangan bek baru seperti De Ligt maupun Leny Yoro. Kontrak Lindelof di Old Trafford juga akan habis musim panas ini. Tidak ada juga tanda-tanda perpanjangan kontrak yang diajukan pihak MU. Menurut laporan, bisa jadi AC Milan merekrutnya dengan status gratis. Pasalnya, pihak Rossoneri telah berencana akan mengupayakan kesepakatan perjanjian pra-kontrak dengan sang pemain di bulan Januari 2025.

SUPERCOPPA ITALIANA 2025 RESMI DIRILIS

Masih dari kabar sepakbola Italia. Dilansir dari Football Italia, ajang tahunan Supercoppa Italiana 2025 telah resmi dirilis. Sebanyak empat tim akan berkontestasi, yakni Inter sebagai juara Serie A musim lalu, Milan sebagai runner up Serie A musim lalu, serta Juventus dan Atalanta yang notabene adalah finalis Coppa Italia musim lalu. Supercoppa Italiana nantinya akan berlangsung pada bulan Januari 2025. Semifinal akan diadakan pada tanggal 2 dan 3 Januari, sedangkan final akan berlangsung pada tanggal 6 Januari. Inter vs Atalanta akan menjadi laga pertama di babak semifinal, lalu berikutnya dilanjutkan dengan laga Juventus vs Milan. Semua laga Supercoppa Italiana ini akan dimainkan di Stadion Kingdom Arena, markas dari Al-Hilal.

PAES LOLOS CEK KONDISI OLEH DOKTER

Beralih ke kabar dari sepakbola nasional. Dilansir dari Bolasport, Maarten Paes dilaporkan telah lolos dari pengecekan dokter setibanya di Bahrain. Sebelumnya memang ada rencana jika setibanya di Bahrain, ia akan dicek kondisinya karena baru saja mengalami cedera. Namun setibanya di Bahrain, kiper FC Dallas itu hanya disarankan oleh dokter untuk beristirahat sejenak. Bahkan setelah beristirahat, Paes telah dibolehkan oleh tim dokter untuk langsung berlatih bersama skuad.

PAES JADI BINTANG EXTRA JOSS

Masih kabar soal Paes. Lewat akun tiktoknya maarten.paes, kiper FC Dalls tersebut mengejutkan netizen sepakbola tanah air dengan mengunggah sebuah iklan dari minuman berenergi ternama di Indonesia, yakni Extra Joss. Pasalnya, Paes sendiri yang tampil sebagai bintang iklannya. Paes di iklan Extra Joss terlihat berakting dengan mengaduk minuman tersebut. Paes juga tak lupa bicara panjang lebar di iklan tersebut dengan menyebut beberapa makanan khas Indonesia yang ia sukai.

PSSI SIAPKAN BONUS

Sementara itu jelang laga Timnas Indonesia melawan Bahrain dan China di Babak Ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia, PSSI telah berjanji akan memberikan bonus kepada pasukan Garuda apabila bisa mengambil poin dari dua laga tandang tersebut. Kepastian ini diungkapkan langsung oleh Arya Sinulingga selaku Anggota Exco PSSI. Namun, Arya tak mengungkapkan secara detail besaran bonus yang disiapkan. Menurut Arya, bonus tersebut akan berupa paket, dan ia meminta agar pemain tak usah khawatir karena cukup besar nilainya.

PSSI AKAN LAPOR FIFA BILA BAHRAIN LICIK

Masih kabar dari pssi. Dilansir dari Okezone, PSSI berencana melaporkan Bahrain ke FIFA dan AFC jika melakukan tindakan licik saat menghadapi Timnas Indonesia. Pernyataan tersebut disampaikan langsung oleh Anggota Exco PSSI, Arya Sinulingga. Menurutnya, PSSI di bawah kepemimpinan Erick Thohir tak segan mengadu kepada FIFA dan AFC apabila fans Bahrain mengulangi cara licik seperti penggunaan laser yang mengganggu pemain lawan, serta menghina lagu kebangasaan negara lain. PSSI berharap Bahrain bisa suportif. Sebab menurut Arya, Timnas Indonesia juga datang ke Bahrain dengan cara baik-baik.

TEN HAG DISINDIR DOMINOS PIZZA

Dilansir dari The Sun, brand Pizza ternama, Domino’s, baru-baru ini menyindir pelatih MU, Erik Ten Hag lewat sebuah iklan lowongan pekerjaan yang kebetulan sedang dibuka oleh mereka. Iklan lowongan pekerjaan tersebut terpampang di layar LED besar di sebuah truk yang diparkir di luar Old Trafford. Iklan tersebut bertuliskan “We’re Hiring, not you Eric”. Kalimat tersebut disertai dengan logo Domino’s dan muka dari Erik Ten Hag. Dikonfirmasi oleh pihak The Sun, juru bicara Domino’s mengatakan bahwa mereka sengaja memasang iklan lowongan dengan tema Ten Hag, karena perusahaannya tak ingin orang yang tidak memuaskan seperti Ten Hag masuk dalam timnya.

JACK GREALISH JADI AYAH

Berikutnya ada kabar bahagia yang datang dari pemain City, Jack Grealish. Dilansir dari The Sun, Grealish baru saja mengunggah foto di Instagram pribadinya tentang kelahiran buah hati pertamanya, hasil buah cintanya dengan sang kekasih, Sasha Attwood. Putri pertamanya tersebut juga telah diberi nama Mila Rose Grealish. Sontak, unggahan Grealish tersebut mendapatkan respons dari rekan-rekannya, seperti Ross Barkley, Declan Rice, hingga Dele Alli.

BELLINGHAM KERJAIN ARNOLD

Kabar berikutnya datang dari rekan Grealish di Timnas Inggris, yakni Jude Bellingham dan Trent Alexander-Arnold. Dilansir dari The Sun, Bellingham terlihat tengah mengerjai Arnold tepat di hari ulang tahunnya yang ke-26, pada 7 Oktober 2024. Ketika skuad The Three Lions sedang berkumpul jelang persiapan Nations League, Bellingham sengaja membuat kejutan dengan banner besar bertuliskan “Happy Birthday Trent!”. Lalu Bellingham sengaja ngumpet di balik banner tersebut dan berusaha ngagetin Trent. Namun, aksi Bellingham tersebut malah banyak menuai kekhawatiran dari fans Liverpool. Fans Liverpool khawatir jika aksi Bellingham bisa mempengaruhi Trent gabung Real Madrid.

PESAN SAKA SAAT ADAKAN PESTA

Kalau Trent baru saja merayakan ulang tahunnya, lain halnya dengan Bukayo Saka yang baru saja menggelar pesta ulang tahun, meski hari ulang tahunnya sudah lewat bulan lalu. Dilansir dari Daily Mail, Saka menggelar pesta ulang tahunnya yang ke-23 secara meriah di sebuah restoran mewah, Mayfair di Kota London. Pada acara yang dihadiri rekan-rekannya seperti Jorginho maupun Thomas Partey tersebut, Saka memberi pesan penting kalau dirinya bertekad membawa Arsenal juara Liga Inggris musim ini. Ia ingin berikan kado manis peringatan 20 tahun Arsenal terakhir jadi juara Liga Inggris. Rekan-rekannya yang hadir pun diminta oleh Saka untuk mendukung tekadnya tersebut.

DORTMUND KECAM HAMAS

Beralih ke kabar lainnya dari sepakbola Jerman. Dortmund lewat akun X-nya baru saja mengeluarkan pernyataan bahwa mereka mengecam serangan pasukan Hamas terhadap Israel. Pernyataan itu sengaja dikeluarkan untuk memperingati satu tahun serangan Hamas ke Israel pada 7 Oktober 2023 lalu. Dortmund yang dikenal membela Israel, juga mengirimkan pesan simpati kepada korban warga sipil Israel, Netta Epstein. Dortmund merasa masih berduka kepada para korban buah keganasan serangan pasukan Hamas.

SCHALKE 04 TUNJUK MANTAN PELATIH THOM HAYE

Masih dari sepakbola Jerman. Dilansir dari Get Footballnews Germany, klub Bundesliga 2, Schalke 04, baru saja menunjuk pelatih baru asal Belanda yakni, Kees Van der Wonderen. Mantan pelatih Thom Haye di Heerenveen tersebut ditunjuk menggantikan Karel Geraerts yang dipecat setelah kekalahan 5-3 dari Darmstadt. Direktur Sepakbola Schalke, Ben Manga mengatakan bahwa ia telah menemukan sosok yang tepat dalam diri Van Der Wonderen. Pengalaman Van der Wonderen selama ini di Eredivisie, membuat Manga terkesan.

LEGENDA CHELSEA MUNDUR JADI PELATIH DI YUNANI

Kabar selanjutnya datang dari Liga Yunani. Dilansir dari L’equipe, legenda Chelsea asal Prancis, Claude Makelele baru saja meninggalkan posisinya sebagai pelatih klub Liga Yunani, Asteras Tripolis FC. Menariknya, Makelele meninggalkan kursi pelatihnya tersebut kurang dari sebulan bertugas. Baru ditunjuk pada 16 September 2024, Makelele meninggalkan klub tersebut setelah hanya melakoni tiga laga. Usut punya usut, mundurnya Makelele ini terjadi karena perbedaan sikap dengan pihak manajemen klub soal sistem permainan dan pemilihan materi pemain.

TIMNAS INDONESIA TIBA DI QINGDAO LEBIH CEPAT

Beralih ke kabar dari sepakbola nasional. Jelang laga melawan China di Qingdao, Timnas Indonesia diperkirakan akan sampai duluan ke venue, ketimbang sang tuan rumah Timnas China. Media China 163.com mewartakan bahwa, Timnas Indonesia akan sampai ke Qingdao lebih cepat berkat pesawat carteran kelas bisnis, sehingga lebih cepat jarak tempuhnya. Berbeda dengan Timnas China yang gunakan pesawat ekonomi dari Australia yang membutuhkan waktu lama untuk sampai. Apalagi Timnas Indonesia sudah mengkonfirmasi akan langsung berangkat ke provinsi Qingdao pada pukul 1 dini hari pasca laga melawan Bahrain.

KODE KERAS KEVIN DIKS KE JAKARTA?

Kabar berikutnya datang dari calon pemain naturalisasi Timnas Indonesia, Kevin Diks. Kode keras bahwa Kevin Diks akan segera menuju Jakarta, ter-spill dari balasan DM sang pemain kepada seorang pelukis bernama Zulham Subari. Sang pelukis tersebut awalnya ingin mengirimkan karya lukisannya ke Kevin Diks. Subari sengaja nge-DM Kevin Diks, dan ternyata langsung dibalas. Namun, Kevin Diks meminta agar Subari tak usah repot-repot mengirimkan lukisan tersebut. Subari diminta Kevin Diks menunggu di Jakarta. Pasalnya ia dalam waktu dekat akan segera menuju Jakarta. Meski begitu, tak diketahui secara pasti kapan Kevin Diks akan tiba di Jakarta, atau dalam rangka apa dia ke Jakarta.

JORDI AMAT GESER JAY IDZES JADI KAPTEN?

Beralih ke kabar lainnya. Teka-teki siapa kapten Timnas Indonesia berikutnya di laga melawan Bahrain dan China masih jadi pertanyaan. Pasalnya, kini ada rumor bahwa kembalinya Jordi Amat ke skuad, akan mengambil alih ban kapten dari Jay Idzes. Jika bermain, Jordi Amat berpotensi mengenakan ban kapten tersebut. Karena menurut strata kapten Timnas Indonesia, Jay Idzes masih berada di bawah Asnawi dan Jordi Amat. Namun, jika Amat tidak bermain, kemungkinan besar Bang Jay masih akan menyandang ban kapten Timnas Garuda di lengannya.

Mengapa Tahun 2004 Jadi Tahun yang Paling Ajaib Bagi Dunia Sepakbola?

0

Dalam kehidupan, pasti ada tahun-tahun tertentu yang tercatat sebagai tahun bersejarah. Seperti 1945 misalnya. Yang dikenal sebagai tahun kemerdekaan Indonesia. Atau pada tahun 1969 yang diperingati sebagai pendaratan manusia pertama di Bulan. Nah, dunia sepakbola pun punya tahun-tahun bersejarah. 

Contohnya seperti tahun 1999 saat Manchester United jadi klub Inggris pertama yang meraih treble. Atau tahun 2010 ketika Piala Dunia untuk pertama kali dilaksanakan di Benua Afrika. Tak cuma itu, masih banyak lagi tahun bersejarah bagi sepakbola.

Namun, dari banyaknya tahun bersejarah, 2004 dinilai jadi yang paling ajaib. Karena di tahun itu, lahir beberapa momen mengejutkan yang tercatat sebagai sejarah. Lantas, momen apa saja yang lahir di tahun 2004? 

Arsenal Invincible

Momen bersejarah pertama yang tercatat pada tahun 2004 adalah ketika Arsenal keluar sebagai kampiun Liga Inggris musim 2003/04. Di era sekarang, mendengar kalimat “Arsenal juara Liga Inggris” memang sesuatu yang asing. Namun, di era Arsene Wenger Arsenal cukup rutin merajai kasta tertinggi sepakbola Inggris tersebut.

Jika jadi suatu hal yang biasa, lalu di mana momen ajaibnya? Yang bikin ajaib adalah prosesnya. Di musim 2003/04, pasukan Arsene Wenger menyuguhkan sepakbola yang luar biasa. Kecerdasan sepakbola yang diusung Wenger pun akhirnya mampu menuntun Meriam London menjadi juara tanpa sekalipun merasakan kekalahan. Istilah kerennya sih Invincible.

Kala itu, Meriam London mencatatkan 26 kemenangan dan 12 hasil imbang dengan mengandalkan formasi sederhana, 4-4-2. Namun, formasi yang dipilih Wenger ternyata sangat fleksibel di lapangan. Dari 4-4-2 bisa berubah menjadi 4-2-3-1 untuk menguasai lini tengah. Tim ini paling diingat karena kecerdasan penyerang-penyerang mereka.

Saat itu, Thierry Henry mencapai puncak permainannya. Dari 37 pertandingan yang dimainkan, Henry mampu mengemas 30 gol dan enam assist. Dirinya berduet dengan rekan sekaliber Dennis Bergkamp yang punya visi bermain luar biasa. Selain itu, ada pemain-pemain hebat lain seperti Robert Pires dan Freddie Ljungberg yang mendukung dua penyerang itu.

Kesebelasan Arsenal musim tersebut akan selalu diingat sebagai salah satu tim terbaik dalam sejarah Premier League. Sampai sekarang, mereka masih jadi satu-satunya tim Inggris yang bisa meraih prestasi itu. Mereka juga masih jadi satu-satunya tim yang memiliki trofi Liga Inggris berwarna emas di kabinet trofinya. 

Werder Bremen 

Bergeser ke Jerman, ada fenomena unik yang diciptakan oleh klub semenjana, Werder Bremen. Mereka sukses keluar sebagai juara Bundesliga musim 2003/04 setelah unggul enam poin dari Bayern Munchen di posisi kedua. Ini jadi prestasi yang mengejutkan karena lima musim sebelumnya Munchen dan Borussia Dortmund saling bergantian mendominasi Jerman.

Nama Thomas Schaaf tidak akan pernah dilupakan oleh para penggemar Werder Bremen. Pasalnya, pria asal Jerman itu jadi sosok penting di balik prestasi ini. Bukan cuma gelar Bundesliga, sang pelatih juga mempersembahkan gelar juara DFB Pokal pada musim yang sama. Mereka mengalahkan Alemannia Aachen dengan skor 3-2 di partai puncak. 

Sebagai tim yang tidak diperhitungkan, dua gelar dalam satu musim sudah jadi sebuah anomali di sepakbola Jerman. Werder Bremen era Thomas Schaaf benar-benar mendominasi kompetisi Jerman musim 2003/04. 

Jika Arsenal punya duet Henry dan Bergkamp, maka Bremen mengandalkan Ailton dan Ivan Klasnic. Ailton jadi yang paling gila. Setelah musim-musim yang biasa saja. Ailton seperti berada di mood terbaik musim itu. Di usianya yang ke 30 tahun, dirinya justru menjadi top skor Bundesliga dengan catatan 28 gol.

Valencia

Di tahun yang sama, keajaiban juga terjadi di sepakbola Spanyol. Kala itu, pelakunya adalah Rafael Benitez bersama skuad racikannya di Valencia. Musim 2003/04 bisa dibilang sebagai musim paling sukses dalam sejarah Valencia. Itu karena Los Che berhasil meraih dua gelar juara sekaligus, yakni trofi La Liga dan Liga Europa. 

Ini jadi gelar ganda pertama sepanjang sejarah klub yang berdiri sejak 1919 itu. Mengusung skema permainan 4-2-3-1, pelatih yang pernah menangani Newcastle United itu menempatkan dua gelandang bertahan, dua sayap dan salah satu penyerang yang bermain lebih kedalam. Saat itu, sosok Pablo Aimar menjadi nama yang turut membantu Benitez meraih kesuksesan.

Selain itu, kemampuan Benitez dalam merotasi pemain juga patut diacungi jempol. Itu membuat Los Che bisa menjaga konsistensi performa baik di Liga Spanyol atau Liga Eropa. Dari dua gelar itu, barangkali gelar La Liga jadi yang paling istimewa. Bagaimana tidak? Valencia muncul sebagai juara di tengah dua klub digdaya Real Madrid dan Barcelona.

Kala itu, El Real dinilai lebih tersohor dengan proyek Galacticosnya yang berisikan pemain-pemain macam Iker Casillas, Roberto Carlos, Guti, Zinedine Zidane, Luis Figo, hingga Raul dan Ronaldo Nazario. Selain itu, Barcelona juga tak kalah mentereng dengan adanya Rivaldo, Ronaldinho, hingga Patrick Kluivert. 

Porto Juara Liga Champions

Bukan cuma Valencia yang mengejutkan di kompetisi Eropa. Liga Champions lebih tak terduga lagi ketika memunculkan FC Porto sebagai juara kompetisi musim 2003/04. Jika dilihat lagi, kayaknya wajar kalau Porto juara. Karena pada saat itu, tim Portugal dilatih oleh salah satu pelatih terhebat saat ini, Jose Mourinho.

Tapi di tahun 2004 siapa yang kenal Mourinho? Dirinya tak lebih dari seorang pelatih muda. Gelar juara Europa League yang didapat setahun sebelumnya juga hanya dianggap sebuah keberuntungan saja. Namun, berstatus sebagai tim kuda hitam tak menghalangi Porto untuk juara UCL usai mengalahkan AS Monaco dengan skor 3-0.

Dalam prosesnya, Porto bahkan menahan imbang Real Madrid dengan skor 1-1 di laga penyisihan grup, mengalahkan Manchester United dengan agregat 3-2 di babak 16 besar. Dan mengalahkan Lyon dengan agregat 4-2 di babak perempat final. Performa apik Porto pun membuat para pemainnya diincar sejumlah klub elit Eropa. Bahkan, Jose Mourinho langsung ditunjuk sebagai pelatih Chelsea di tahun yang sama.

Debut Lionel Messi 

Dari tadi momen bersejarah bagi klub mulu nih. Terus ada nggak momen bersejarah bagi pesepakbola secara individu? Ada, tahun 2004 jadi tahun debut dari salah satu pemain terhebat di dunia saat ini, Lionel Messi di skuad utama Barcelona. Tepatnya pada tanggal 16 Oktober 2004. Messi debut di laga derby melawan Espanyol.

Pertandingan tersebut digelar di markas Espanyol. Ketika itu, Barcelona masih dibesut oleh pelatih asal Belanda, Frank Rijkaard. Messi yang masih 17 tahun mengawali laga dengan duduk di bangku cadangan. Messi yang masih menggunakan nomor punggung 30 masuk menggantikan Deco.

Menit bermain yang minim membuat kontribusi Messi di laga tersebut juga cukup minim. Namun, hari itu jadi salah satu momen yang paling bersejarah bagi persepakbolaan Spanyol. Karena berkat kesempatan yang diberikan oleh Rijkaard, Messi bisa mengawali karir yang luar biasa ini.

Yunani

Tak berhenti di situ, tahun 2004 juga jadi tahun yang bersejarah untuk sepakbola internasional. Yunani jadi tim yang menggemparkan dunia lewat keberhasilannya menjuarai Euro 2004. Yang lebih gila lagi, Yunani berhasil keluar sebagai juara setelah mengalahkan tim tuan rumah, Portugal yang kala itu berisikan pemain-pemain top macam Luis Figo, Ricardo Carvalho, Deco, hingga Cristiano Ronaldo di final dengan skor 1-0.

Tandukan dari Angelos Charisteas memupuskan Ronaldo cs untuk merayakan gelar di hadapan publik sendiri. Kesuksesan Yunani makin lengkap setelah sang kapten, Theodoros Zagorakis, dinobatkan sebagai pemain terbaik Euro 2004. Lima pemain Yunani juga masuk best XI di akhir turnamen. 

Cerita dongeng Yunani membuktikan bahwa tidak ada yang mustahil dalam sepakbola. Satu-satunya yang mustahil terulang kembalinya momen-momen bersejarah di tahun 2004.

Sumber: ESPN, Premier League, The Athletic, Indosport

8 Klub yang Menjadi Juara di Antara Para Raksasa

Menjadi juara merupakan sebuah kebanggaan bagi sebuah klub. Namun, usaha untuk meraihnya biasanya harus menempuh jalan yang terjal. Sebuah tim harus tampil konsisten sepanjang musim agar bisa menjadi juara. Oleh karena itu, mereka butuh sumber daya yang mumpuni agar bisa tampil konsisten sepanjang musim. Maka wajar, jika klub-klub yang langganan juara biasanya adalah klub besar dengan sumber daya yang memadai.

Namun, anggapan seperti ini pernah dipatahkan oleh beberapa klub. Mereka secara mengejutkan keluar sebagai juara di antara klub-klub raksasa yang sedang bertarung. Meskipun, tentu saja prestasi gemilangnya ini tak bisa mereka ulangi lagi di musim-musim berikutnya. Lantas, siapa saja mereka? Berikut adalah 8 klub yang mampu menjadi juara di antara para raksasa.

 

Nantes 2000/01

Sebelum Olympique Lyon menjadi langganan juara tahunan Ligue 1, Nantes menjadi klub terakhir yang menjadi juara Ligue 1 sebelum Lyon merajalela. Pada musim 2000/01, Nantes dengan mengejutkan finish di urutan pertama Ligue 1 dengan total 68 poin, 4 poin lebih banyak dari Lyon yang bercokol di posisi 2.

Di musim sebelumnya, Nantes hanyalah klub biasa. Mereka hanyalah klub papan tengah yang finish di posisi 12. Mereka menjalani musim 2000/01 dengan skuad biasa saja dan modal kepercayaan diri menjadi juara Coupe de France 1999/00.

Dengan skuad biasa saja mereka malah bisa bermain kolektif. Di laga kedua, mereka secara mengejutkan mengalahkan juara bertahan AS Monaco yang kala itu diisi nama-nama seperti David Trezeguet, Marcelo Gallardo, hingga Fabian Barthez, dengan skor meyakinkan 2-5. Meski sempat mengalami 6 laga tanpa kemenangan, pada akhirnya Nantes bisa bangkit dan menggaet trofi Ligue 1 ke-8 di sepanjang sejarah mereka.

 

Werder Bremen 2003/04

Setelah Matthias Sammer bisa menyela gelar berturut-turut Bayern Munchen lewat skuad Borussia Dortmund legendarisnya pada 2001/02, maka Thomas Schaaf juga bisa melakukan hal yang serupa dengan skuad fenomenal Werder Bremen pada 2003/04. Bermodal duet maut Ailton dan Ivan Klasnic, Bremen bisa memutus asa Die Bayern.

Pada musim ini, Bremen bisa finish di posisi pertama dengan catatan apik 79 gol dan 74 poin. Mereka unggul 6 poin dari Bayern Munchen yang duduk di bawah mereka. Ailton yang sebelumnya tak pernah mampu  mencetak 20 gol, di musim itu menggila dengan 28 gol. Padahal usianya kala itu sudah menginjak 30 tahun. Torehan tersebut akhirnya membuat Ailton dianugerahi gelar top skorer.

Sayangnya, kegemilangan Bremen tersebut hanya bertahan satu musim saja. Pada musim berikutnya, Bayern Munchen bisa menarik kembali gelarnya sebagai juara. Kepergian Ailton dan Mladen Krstajic ke FC Schalke bisa jadi salah satu faktor menurunnya performa Bremen.

 

Stuttgart 2006/07

Setelah 2 musim kembali menikmati gelarnya, kenikmatan Bayern Munchen sebagai juara Bundesliga kembali direnggut klub lain. Kali ini oleh Stuttgart pada musim 2006/07. Armin Veh bersama duet striker ikoniknya, Mario Gomez dan Cacau, merajai Bundesliga dengan jarak yang tipis dengan FC Schalke. Stuttgart mengakhiri liga dengan 70 poin dan Schalke dengan 68 poin.

Sebenarnya, catatan Stuttgart di musim itu bukanlah yang terbaik. Duet Gomez dan Cacau tak membuat Bremen menjadi klub paling produktif. Pun di lini belakang, mereka terbobol 37 gol, sama seperti Hamburg SV yang finish di posisi 7. Namun, konsistensi yang ditampilkan Die Schwaben sepanjang musim pada akhirnya memberi mereka gelar.  

 

Girondins Bordeaux 2008/09

Setelah 7 musim berturut-turut merajai Ligue 1, Olympique Lyon terpaksa melepas gelarnya tersebut ke tangan Girondins Bordeaux pada musim 2008/09. Skuad fenomenal yang berisi Yoann Gourcuff dan Marouane Chamakh ini menjuarai Ligue 1 secara dramatis. Sebelum mengangkat trofi di pekan 38, 10 pekan sebelumnya mereka masih duduk di posisi 4.

Namun, mereka ternyata bisa menyapu bersih semua laga sisanya dan akhir merangkak naik. Mereka memanfaatkan tidak konsistennya performa Marseille dan Lyon sehingga pada pekan ke-35, Bordeaux untuk pertama kalinya menjadi puncak klasemen di sepanjang musim. Mereka pun tak menyia-nyiakan kesempatan tersebut untuk lebih tancap gas guna meraih gelar ke-8 mereka.

 

Wolfsburg 2008/09

Kembali lagi ke Jerman, musim 2008/09 juga menjadi musim yang anomali bagi Bundesliga. Bagaimana tidak? Tak ada angin tak ada hujan, Wolfsburg tiba-tiba menjadi juara Bundesliga untuk pertama kali sepanjang sejarah mereka. Lagi-lagi, Bayern Munchen gagal jadi juara, malah kali ini yang jadi juara mantan pelatihnya, Felix Magath.

Di musim tersebut, Wolfsburg memang tampil membara dengan duonya, Grafite dan Edin Dzeko. Wolfsburg mencetak total 80 gol dengan 28 gol dari Grafite dan 26 gol dari Dzeko. Namun sama seperti Bremen dan Stuttgart, Wolfsburg tak mampu lagi mempertahankan performanya di musim selanjutnya. Alhasil, Bayern Munchen kembali jadi juara.

 

Lille 2010/11

Akhirnya, setelah menangani Lille sejak musim 2008/09, kerja keras Rudi Garcia membuahkan hasil. Lille akhirnya menjadi juara Ligue 1 untuk keempat kalinya pada musim 2010/11. Mereka finish secara meyakinkan dengan 76 poin di atas juara bertahan, Marseille. Bermodal bintang muda bernama Eden Hazard, Lille menaklukan Ligue 1 dengan 68 gol.

Hazard memang tampil mengerikan musim itu. Ada andil Hazard dalam 38 gol yang Lille ciptakan musim itu. Pemain yang kala itu berusia 20 tahun ini berhasil mencetak 20 gol dan 18 assist. Alhasil, nama pemuda asal Belgia ini langsung melejit di seantero Eropa hingga kelak akhirnya dipinang Roman Abramovich ke Chelsea.

 

Montpellier 2011/12

Montpellier yang saat Lille juara hanya bertengger di posisi 14 dan berjarak 3 poin saja dari degradasi, semusim berikutnya malah menggemparkan Eropa dengan menjadi juara Ligue 1 musim 2011/12. Trofi Ligue 1 ini menjadi trofi Ligue 1 pertama mereka. Usaha Rene Girard membangun tim ini sejak musim 2009/10 akhirnya membuahkan hasil.

Bermodal pemain muda potensial dalam diri Olivier Giroud dan Younes Belhanda, Montpellier berhasil menggagalkan upaya raksasa baru bernama Paris Saint-Germain untuk menjadi juara. La Paillade berhasil mengakhiri liga dengan selisih 2 poin saja dari Le Parisien. Namun sayang, setelah juara mereka gagal mempertahankan performanya sehingga Ligue 1 akhirnya jatuh ke tangan Paris Saint Germain di musim-musim berikutnya.

 

Leicester City 2015/16

Dari semuanya, kisah Leicester City menjuarai Premier League 2015/16 mungkin jadi yang paling fenomenal. Dengan skuad apa adanya, Claudio Ranieri berhasil membuat The Foxes menjadi juara kasta tertinggi Inggris untuk pertama kalinya. Skuad mereka harganya hampir 4 kali lebih murah dari juara bertahan sekaligus tim termahal saat itu, Chelsea.

Namun dengan segala anomali, Leicester tampil konsisten sejak awal musim. Posisi terendahnya musim itu ada di posisi 6 pada pekan ke-7. Namun, sejak pekan ke-11 mereka mulai konsisten di 3 besar dan pada akhirnya menjadi puncak klasemen sejak pekan ke-22. Alhasil, mereka mengakhiri liga dengan total 81 poin, terpaut 10 poin dari Arsenal di posisi runner up.

 

Sumber: Bundesliga, Transfermarkt, Planet Football, dan ESPN

Pemain Ini Main Bagus Tapi Gagal Selamatkan Timnya dari Degradasi

Sepak bola merupakan olahraga tim. Artinya, agar bisa mencapai tujuan, yakni meraih kemenangan, sebuah tim harus bisa bekerja sama dan bermain secara kolektif. Mereka tidak boleh mengandalkan permainannya kepada seorang pemain saja. Sebab, apabila seorang pemain saja yang bermain bagus, mereka tak akan menghasilkan apa-apa.

Hal ini pernah terjadi beberapa kali. Ada beberapa pemain yang bermain cukup bagus selama satu musim, namun tetap tak bisa membantu timnya. Bahkan mereka malah jatuh ke jurang degradasi. Lantas, siapa saja pemain-pemain tersebut? Mari kita bahas.

 

Aaron Ramsdale – 2019/20 & 2020/21

Aaron Ramsdale merupakan salah satu pemain yang apes. Kenapa bisa begitu? Karena dia pernah dua kali terdegradasi dari Premier League meski bermain baik. Parahnya lagi, ia terdegradasi selama 2 musim berturut-turut. Kurang apes gimana coba? Oleh karena itu, wajar jika saat Arsenal mendatangkannya, mereka malah di-bully karena menggaet kiper kelas tim degradasi.

Pertama, Ramsdale terdegradasi saat membela Bournemouth musim 2019/20. Musim tersebut sebenarnya musim pertamanya diberi kesempatan untuk bermain di tim utama Bournemouth. Sebab, kala itu Ramsdale baru menjadi juara Piala Eropa U19 bersama Inggris. Meski bermain tergolong bagus, ia tak mampu membantu Bournemouth selamat dari degradasi. Ramsdale musim itu berhasil mencetak 129 penyelamatan dan 6 kali menggagalkan penalti.

Setelah tampil apik bersama Bournemouth, Ramsdale langsung digaet oleh Sheffield United. Namun sama saja, meski Ramsdale tampil lebih baik musim itu, ia tak bisa menyelamatkan permainan The Blades yang menghendaki bek tengah mereka untuk maju ke depan. Musim itu, Ramsdale membuat 147 penyelamatan dan 4 kali penyelamatan penalti.

 

James Ward-Prowse – 2022/23

James Ward-Prowse pun pernah mengalami nasib serupa. Pemain yang tendangan bebasnya tak kalah hebat dari David Beckham ini, bermain sangat apik di lini tengah Southampton musim 2022/23. Kala itu, JWP menjadi salah satu gelandang pekerja keras terbaik di Premier League.

JWP memiliki catatan pertahanan yang tergolong tinggi di beberapa kategori. Selama musim tersebut, ia berhasil 135 memenangi duel, 55 kali melakukan intersepsi, dan 222 kali merebut bola yang sudah direbut lawan. Oleh karena itu, sangat wajar jika di musim selanjutnya, David Moyes langsung mengamankannya ke West Ham United. 

 

Xherdan Shaqiri – 2017/18

Peter Crouch pernah membuat pernyataan bahwa Stoke City bisa dengan mudah menaklukkan Barcelona. Hal tersebut bisa kalian percaya, bisa tidak. Sebab, pada masa jayanya, Stoke City selalu punya cara untuk menang. Bahkan di musim 2015/16, mereka bisa menaklukkan Manchester City, Chelsea, dan Manchester United sekaligus. Ngeri!

Namun, lambat laun performa mereka menurun. Pemain sebagus Xherdan Shaqiri pun tak mampu lagi menyelamatkan The Potters dari jurang degradasi pada musim 2017/18. Shaqiri musim itu tampil sebagai salah satu kreator yang mengagumkan. 77 peluang yang diciptakannya merupakan salah satu yang tertinggi di Premier League. Ia pun tergolong pekerja keras. 153 kali ia berhasil merebut kembali bola dari lawan. Wajar, jika setelahnya ia dipinang Jurgen Klopp. 

 

Charlie Adam – 2010/11

Sebelum digaet Liverpool dan kemudian menjadi salah satu pilar era keemasan Stoke City, Charlie Adam sudah terlebih dahulu tampil mengesankan bersama Blackpool di musim 2010/11. Musim tersebut Charlie Adam menjadi jenderal lini tengah dari permainan Blackpool yang cukup menghibur. Ia berhasil mencetak 12 gol dan 8 assist yang membuatnya masuk nominasi PFA Player of the Years 2010/11.

The Tangerines sendiri musim itu berhasil mencetak 55 gol. Catatan ini bahkan lebih baik dari Everton yang di akhir musim bertengger di posisi 7. Sayang, Charlie Adam yang mampu mengorkestrasi serangan Blackpool tak mampu mengkoordinasi lini belakangnya sehingga mereka terbobol 78 kali alias yang terbanyak musim itu. Alhasil, Blackpool harus duduk di posisi 19 di akhir musim. 

 

Muzzy Izzet – 2003/04

Mustafa Kemal Izzet atau yang lebih dikenal dengan Muzzy Izzet pernah mengalami musim yang sangat apes. Pada musim 2003/04, ia merupakan raja assist di Premier League dengan catatan 14 assist. Angka ini uniknya lebih tinggi dari pemain sekelas Ryan Giggs, apalagi duo Invincibles, Robert Pires dan Dennis Bergkamp.

Namun sayang, Izzet hanya bermain di tim sekelas Leicester City. Sehebat apapun pemain berkebangsaan Turki ini menciptakan peluang, rekan-rekannya tetap saja tak mampu membuat gawang The Foxes aman. Musim itu, The Foxes terbobol 65 kali dan menjadi yang terbanyak ketiga. Alhasil, banyak laga yang mereka gagal menangkan gara-gara kebobolan.

 

Andy Johnson – 2004/05

Kisah semacam Muzzy Izzet tadi juga terjadi lagi di musim setelahnya. Namun, kali ini terjadi di urusan gol. Striker Crystal Palace, Andrew Johnson, tiba-tiba saja tampil menggila di musim 2004/05. Tak ada yang menyangka jika dirinya bisa mencetak 21 gol di akhir musim dan duduk di posisi dua top scorer di bawah Thierry Henry. Johnson hanya terpaut 4 gol dari Titi.

Saking mantapnya performa Johnson musim itu, pada 9 Februari 2021 alias sehari sebelum ulang tahun ke 24-nya, ia mendapatkan debut di Timnas Inggris. Namun, sama kasusnya seperti Muzzy Izzet, sehebat apapun Johnson mencetak gol, teman-temannya tak mampu menjaga gawang The Eagles dari kebobolan. Alhasil, Crystal Palace terdegradasi dengan 62 kali kebobolan alias yang terbanyak ketiga.

 

Charlie Austin – 2014/15

Setelah lama tak terjadi, kasus seperti Muzzy Izzet dan Andy Johnson kembali terjadi lagi sedekade berikutnya. Kali ini terjadi pada Queens Park Rangers di musim 2014/15. Kala itu, Charlie Austin tak ada angin tak ada hujan tiba-tiba masuk ke 4 besar daftar top scorer. Ia berhasil mencetak 18 gol di musim itu. Catatan tersebut hanya terpaut 3 gol dari Harry Kane yang duduk di posisi dua di bawah Sergio Aguero.

Sayangnya, Austin hanya bermain untuk klub sekelas Queens Park Rangers. Mereka musim tersebut terdegradasi dengan catatan yang mengenaskan, yakni terbobol 73 dan menjadi juru kunci.

 

Scott Parker – 2010/11

Scott Parker yang sejak semusim sebelumnya menggendong West Ham United agar tak terdegradasi akhirnya tak mampu lagi menyelamatkan The Hammers di musim 2010/11. Parker musim itu memang tampil sangat apik. Saking apiknya, fans Timnas Inggris memberi tekanan untuk membawanya masuk ke tim nasional. Permintaan tersebut pun pada akhirnya terwujud.

Musim itu, Parker benar-benar menjadi pemimpin di skuad The Hammers. Pada bulan Februari 2011, ia melakukan ceramah di ruang ganti saat The Hammers sudah kalah 3-0 di babak pertama melawan West Bromwich Albion. Alhasil di akhir laga, The Hammers bisa menyamakan kedudukan 3-3. Carlton Cole sebagai saksi mata menyebut siapapun yang mendengarkan ceramah tersebut pasti akan menangis.

Pada bulan Februari 2011 itu pula Parker dianugerahi gelar pemain terbaik bulan itu. Hal itu diberikan karena performa apiknya membawa The Hammers menaklukkan Blackpool dan Liverpool. Meskipun pada akhirnya mereka terdegradasi, Parker dianugerahi FWA Footballer of the Year 2010/11 sebagai apresiasi performa apiknya sepanjang musim.

 

Sumber: Four Four Two, Fotmob, BBC, The Guardian, dan Premier League

Bikin Gen Z NGILER! 7 Pemain Muda Bergaji Besar di Musim 2024/25

0

Riset Majalah TIME menunjukkan 52% Gen Z tidak memperoleh cukup uang untuk menjalani kehidupan yang diinginkan. Biaya hidup menjadi tantangan yang mesti dihadapi. Deloitte merilis laporan lebih ngenes lagi. Bahwa tiga dari 10 Gen Z merasa tidak aman secara finansial.

Dua laporan itu cukup menggambarkan bahwa menjadi Gen Z hidupnya memprihatinkan. Namun demikian, ada pula Gen Z yang tidak memiliki masalah finansial karena gajinya tinggi. Salah satunya yang bekerja sebagai pesepakbola.

Para pesepakbola berikut usianya masih belum genap 20 tahun. Namun, mereka punya gaji yang tinggi sekalipun tidak selalu bermain. Siapa saja pesepakbola muda bergaji besar itu? Berikut ulasannya.

Pau Cubarsi

Pertama, kita akan mengunjungi FC Barcelona. Di sana ada bek yang gajinya bisa bikin staf marketing semaput. Ya, dia adalah Pau Cubarsi. Bek Barcelona ini lahir pada 22 Januari 2007 di Girona, Spanyol. Usia Cubarsi baru 17 tahun. Usia awal seseorang diperbolehkan nonton film dewasa.

Di Barcelona, Pau Cubarsi mendapat gaji 76 ribu euro atau Rp1,3 miliar per pekan. Dahsyat, nggak tuh?

Gaji besar ini senada dengan performa di atas lapangan. Ia tampil menonjol di bawah Xavi Hernandez musim lalu. Cubarsi lalu makin gacor kala dilatih Hansi Flick. Ia sudah turun dalam sembilan laga di Barcelona. Jumlah laga yang pasti bertambah.

Cubarsi tidak hanya tangguh dalam bertahan, tapi juga cakap dalam proses build up. Ia juga sudah membangun kedekatan dengan Hansi Flick. Bukan tak mungkin, hingga kontraknya habis 2027 nanti, Cubarsi akan terus dimainkan oleh pelatih asal Jerman tersebut.

Endrick Felipe

Nama berikutnya datang dari rival Barcelona. Di tim Real Madrid yang kini banyak berisi pemain muda, nyempil sosok Endrick Felipe yang mencuri perhatian. Pemain yang baru merumput di Real Madrid tahun ini tersebut lahir pada 21 Juli 2006. Itu artinya usia Endrick saat ini baru 18 tahun.

Di usia yang bahkan belum memasuki usia remaja akhir itu, Endrick sudah memperoleh gaji 80 ribu euro atau sekitar Rp1,37 miliar per pekan. Wow! Meskipun melihat dia berseragam Real Madrid dan bukan Barcelona, mendapat gaji setinggi itu tak mengejutkan.

Gajinya yang tinggi membuat Endrick tidak relate dengan kehidupan para Gen Z. Saat banyak Gen Z di seluruh dunia memilih tidak menikah, bahkan ketika memasuki usia 27 tahun, Endrick sudah mempersunting pujaan hatinya, Gabriely Miranda, perempuan berusia tiga tahun lebih tua darinya, persis setelah teken kontrak dengan Real Madrid.

Namun, performanya di awal musim sempat meragukan. Tak cuma itu, Endrick juga awalnya tantrum karena tak kunjung mendapat menit bermain. Meskipun Carlo Ancelotti meyakinkannya, bahwa ia akan menjadi starter dalam jangka waktu lama di Real Madrid. Secara pribadi, Carletto mengagumi Endrick.

Pemain yang lahir di Taguatinga itu disebutnya anak yang pekerja keras dan rendah hati. Namun yah, hingga jeda internasional Oktober 2024, Endrick masih jarang dimainkan. Ia bahkan baru mencetak dua gol: satu di La Liga, satu lagi di Liga Champions.

Archie Gray

Kali ini bukan berasal dari Spanyol, melainkan Inggris. Ada remaja yang kini memperkuat Tottenham Hotspur, namanya Archie Gray. The Lilywhites baru saja membelinya dari Leed United dengan banderol sangat tinggi, yakni 41 juta euro (Rp705 miliar), lebih dari dua kali lipat nilai pasarnya yang cuma 18 juta euro (Rp308 miliar).

Nilai transfernya itu bahkan mencetak rekor transfer baru untuk pemain yang belum pernah bermain di divisi teratas. Ia melampaui nilai transfer yang dibayarkan Dortmund pada Birmingham untuk Jude Bellingham.

Gray pemain yang masih muda. Usianya baru 18 tahun. Pemain ini lahir di Durham, Inggris, tepat ketika Venezuela memperkenalkan bendera nasionalnya yang baru, pada 12 Maret 2006. Selain nilai transfernya tinggi, Spurs menggajinya 89 ribu euro per pekan atau Rp1,5 miliar.

Sayangnya, Gray masih harus bersabar menembus tim utama Ange Postecoglou. Ia masih jarang dimainkan di Liga Inggris musim ini. Namun, pelatih asal Australia itu mulai menurunkannya di kompetisi lain seperti piala domestik dan Liga Eropa.

Ange terkesan saat ia memainkan Gray ketika Spurs melumat Ferencvaros di Liga Eropa. Menurutnya, Gray yang di laga itu bermain di dua posisi yang berbeda, bermain luar biasa. “Ia bisa beradaptasi dan membawa permainannya ke mana pun ia ditempatkan,” ujar Ange dikutip Sports View.

Mathys Tel

Di Liga Jerman ada juga pemain muda bergaji tinggi. Tentu bukan yang berseragam Holsten Keil, melainkan Bayern Munchen. Pemain itu adalah Mathys Tel. Ia yang lahir pada 27 April 2005 dan masih berusia 19 tahun sudah mendapatkan gaji 96 ribu euro atau Rp1,6 miliar per pekan di Bayern Munchen.

Namun, gaji yang tinggi tidak sepadan dengan dampak yang diberikan di atas lapangan. Tel selalu jadi pelapis. Ia hanya turun ketika sang pelatih ingin menurunkannya atau Harry Kane tidak bisa bermain. Perekrutan Tel oleh Die Roten dianggap buang-buang duit saja. Apalagi kini ia sedang menderita cedera bahu yang membuatnya absen hingga November 2024.

Soal akan dipakai atau tidak, Kompany punya rencana untuk pemuda ini. Ia tidak lagi dijadikan ban serep bagi Kane, melainkan digeser ke posisi sayap. Meskipun belum banyak memberi bukti, setidaknya itu pertanda bagus bagi Mathys Tel.

Arda Guler

Nama selanjutnya kembali muncul dari Real Madrid. Ia adalah Arda Guler. Pemuda yang lahir 25 Februari 2005 ini masih berusia 19 tahun. Tetapi sudah menjadi pemain bergaji tinggi di Real Madrid. Saat ini gajinya lebih tinggi dari Endrick, yakni 100 ribu euro atau Rp1,7 miliar per pekan.

Pemain yang tampil luar biasa bersama Timnas Turki pada EURO 2024 ini, tampaknya akan mengambil peran besar di Los Galacticos. Ancelotti melihatnya sebagai bakat yang istimewa. Guler, menurutnya, punya efektivitas yang bagus ketika berada di mulut gawang.

Akan tetapi, Guler perlu bekerja keras menunjukkan kemampuannya itu. Karena belakangan ini, Ancelotti kurang pede dengan penampilan Guler di atas lapangan. Itu dibuktikan dengan menit bermainnya yang tidak banyak.

Leny Yoro

Nama selanjutnya kembali datang dari Liga Inggris. Dia adalah Leny Yoro. Ia bek Manchester United yang belum lama diboyong dari Lille. Yoro masih berusia 18 tahun, mengingat ia lahir pada 13 November 2005. Sang pemain, oleh MU digaji 136 ribu euro atau Rp2,3 miliar per pekan. Fantastis!

Mirisnya, Yoro hanya membebani gaji United. Musim 2024/25 ia belum pernah turun di satu laga pun, entah itu di liga dan piala domestik maupun di kompetisi Eropa. Yoro mengalami cedera pada laga pra-musim lalu yang membuatnya mesti absen berbulan-bulan.

Diperkirakan sang pemain baru ini akan kembali pada Desember 2024 mendatang. Tidak salah jika Yoro disebut cuma beban gaji. Sebelum direkrut, pihak MU kabarnya sudah tahu kalau Yoro cedera. Namun, tetap saja dibeli.

Warren Zaire-Emery

Nama terakhir datang dari Paris Saint-Germain. Tidak mengejutkan bila ada pemain muda yang bergaji tinggi di tim yang memang hobi menghamburkan uang itu. Musim ini PSG memang tak kelihatan jor-joran merekrut pemain bintang. Luis Enrique sepertinya ingin lebih banyak memanfaatkan pemain muda.

Namun, lihatlah rata-rata gaji pemain di PSG masih cukup tinggi, yakni 125 ribu euro (Rp2,1 miliar) per pekan. Salah satu pemain yang bergaji tinggi adalah Warren Zaire-Emery. Remaja yang lahir pada 8 Maret 2006 ini memperoleh gaji 161 ribu euro atau Rp2,7 miliar per pekan. Mukegile!

Gaji Warren itu jelas melebihi rata-rata gaji PSG per pekan. Pemain yang masih 18 tahun ini pantas mendapat gaji segitu. Sebab, ia adalah mesin utama dari permainan PSG di bawah Luis Enrique. Ketenangan dan visinya membuat Warren selalu mendapat kepercayaan Enrique sebagai starter reguler.

Ciri khas permainannya adalah memadukan kesadaran bertahan dan kualitas dalam memulai serangan. Enrique sendiri mengakui bahwa Warren adalah pemain penting di PSG. Tak ayal kalau Warren menjadi finalis Golden Boy tahun lalu, dan nyaris merebut penghargaan itu dari Jude Bellingham.

https://youtu.be/oHFe0AxMg2M

Sumber: TeamTalk, PlanetFootball, SkySports, SportsView, PSGTalk, Capology, DailySabah

Terus Meroket! Pelatih Kelas Dunia Ini Akui Kehebatan Timnas Indonesia

0

Sebagai manusia yang punya love language word of affirmation, diapresiasi sama orang tersayang, ayah dan bunda, atau mungkin atasan di kantor tuh rasanya pasti seneng banget. Perlakuan seperti itu membuat kita bahagia karena merasa sangat dihargai atas semua usaha yang sudah kita lakukan. Dan barangkali, itu juga yang dirasakan oleh Shin Tae-yong di Timnas Indonesia.

Kalau STY love language-nya word of affirmation, pasti sekarang lagi berbunga-bunga banget. Karena segala usahanya dalam meningkatkan kualitas Timnas Indonesia sedang mendapat banyak apresiasi dari orang-orang hebat, termasuk rekan-rekan sesama pelatih sepakbola.

Tak tanggung-tanggung, nama-nama pelatih top dunia juga sampai kagum dengan revolusi yang diusung Coach Shin bersama Indonesia. Lantas, siapa saja pelatih top dunia yang memuji tim nasional Indonesia? 

Jose Mourinho

Manajer kelas dunia pertama yang mengakui kehebatan Indonesia adalah Jose Mourinho. Mantan pelatih Real Madrid dan Inter Milan itu, sedikit banyak tahu tentang perkembangan Timnas Indonesia yang mulai dibicarakan media-media asing. Mourinho kagum dengan transformasi materi pemain yang dimiliki Indonesia saat ini.

Jika dibandingkan dengan tahun 2013 saat dirinya datang ke Indonesia sebagai pelatih Chelsea, skuad Indonesia sudah berada di level yang berbeda. Kini, materi pemain Skuad Garuda diisi oleh pemain-pemain yang berkarir di Serie A, Eredivisie, dan Liga Inggris. Dirinya dulu pernah berkata bahwa Indonesia perlu menyiapkan kualitas pemain, khususnya pemain muda di berbagai aspek. Dan itu sudah berhasil dilakukan oleh PSSI dengan baik.

Dilansir Tribunnews, Jose Mourinho juga sempat memberikan pujian kepada Mees Hilgers usai tim asuhannya, Fenerbahce bersua FC Twente di ajang Europa League kemarin. Meski tidak secara langsung tertuju kepada Hilgers, Mourinho menyebut duet Hilgers dan Max Burns tampil solid. “Mereka bertahan dengan baik dan menekan dengan baik. Mereka bermain dengan kompak dan terorganisasi,” kata Mourinho.

Lionel Scaloni

Perkembangan sepakbola Indonesia di bawah asuhan Shin Tae-yong juga tak luput dari pengamatan pelatih yang membawa Argentina juara Piala Dunia 2022, Lionel Scaloni. Apresiasi tertinggi keluar dari bibir Scaloni kala dirinya memimpin Timnas Argentina yang bertandang ke Stadion Gelora Bung Karno pertengahan tahun lalu.

Dilansir CNN Indonesia, meski pada akhirnya Argentina menang 2-0 atas Skuad Garuda, Scaloni memuji performa Indonesia yang tak mudah menyerah selama 90 menit. Sebagai juara dunia, Scaloni terkejut karena Argentina dibuat tidak bisa bermain dengan nyaman untuk mencetak banyak gol ke gawang Indonesia yang kala itu dijaga oleh Ernando Ari.

Dari awal, Lionel Scaloni memang sudah mewaspadai permainan Indonesia. Ia percaya dengan kualitasnya saat itu, Indonesia bisa memberikan perlawanan. Dan benar saja, beberapa pemain Argentina, seperti Alejandro Garnacho pun cukup kesulitan menembus pertahanan Indonesia. Scaloni juga berpesan bahwa Indonesia sudah bermain cukup bagus. Dirinya berharap Indonesia bisa terus mempertahankan kualitasnya.

Ronald Koeman

Selanjutnya komentar positif juga datang dari pelatih Timnas Pusat, Ronald Koeman. Menurut TVOnenews, pria yang juga pernah melatih Barcelona dan Everton itu terkejut dengan penampilan para pemain naturalisasi Indonesia yang kebanyakan berasal dari negaranya. Koeman merasa pemain-pemain macam Thom Haye, Maarten Paes, dan Jay Idzes tampil di luar ekspektasinya.

Namun, tak cuma perasaan kagum yang keluar dari mulut Koeman. Perasaan khawatir juga datang. Menurut laporannya, Koeman cukup menyayangkan fenomena banyaknya pemain dari Negeri Kincir Angin yang memutuskan bela skuad Garuda. Apalagi kebanyakan dari mereka sebelumnya pernah bermain di Timnas Belanda kelompok umur. El Prof bahkan sempat menjuarai Piala Eropa U-17 sebanyak dua kali. 

Melihat lonjakan performa Skuad Garuda, Koeman khawatir jika akhirnya banyak pemain-pemain berbakat yang seharusnya membela De Oranje, justru memilih gabung Skuad Garuda karena punya darah keturunan. Hal seperti ini tentu bukan hal baru. Sudah menjadi resiko bagi sebagian negara. Contohnya Spanyol yang kehilangan pemain berbakat seperti Brahim Diaz karena lebih pilih Timnas Maroko.

Roberto Mancini

Selanjutnya ada pujian dari lawan Indonesia di Grup C ronde ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026, Arab Saudi. Pelatihnya, Roberto Mancini kini mengakui bahwa Indonesia adalah lawan yang tak bisa dianggap remeh. Pernyataan ini muncul usai Mancini dibuat frustrasi lantaran Arab Saudi ditahan imbang 1-1 di hadapan publik sendiri.

Pernyataan ini kembali keluar karena sebelumnya, Mancini hanya menaruh respek dan tetap yakin timnya bisa unggul dari Indonesia. Namun, ternyata hasil tidak sesuai dengan harapan. Mancini pun memuji pertahanan Indonesia yang sangat sulit ditembus. Lini bertahan Indonesia yang saat itu diisi Jay Idzes, Rizky Ridho, dan Calvin Verdonk dinilai solid dan mampu bekerjasama dengan sangat baik.

“Pertandingan pertama memang selalu sulit dan kami juga menghadapi tim yang punya pemain-pemain bagus yang main secara profesional di liga-liga Eropa,” ujar Mancini dikutip Detik. Eks pelatih Manchester City itu juga sedikit iri dengan Shin Tae-yong yang memiliki materi pemain dari liga-liga Eropa. Sedangkan Green Falcon mayoritas diisi oleh pemain liga lokal.

Hajime Moriyasu

Tak cuma Roberto Mancini, Hajime Moriyasu juga kian terpukau dengan pencapaian Timnas Indonesia tahun ini. Belakangan ini, netizen Indonesia bahkan dikejutkan dengan pernyataan pelatih Timnas Jepang itu. Dilansir Suara.com, Moriyasu, dengan percaya diri mengklaim kualitas sekarang Timnas Indonesia layak lolos ke Piala Dunia 2026 menemani The Blue Samurai.

Munculnya pernyataan itu jelas membuat para fans Indonesia tersipu malu layaknya seorang wanita yang digoda oleh pujaan hatinya. Pernyataan yang lebih tepat disebut sebagai ramalan itu muncul karena sang pelatih memang punya kedekatan tersendiri dengan Shin Tae-yong. Jadi, tak ada salahnya mendoakan rekan sejawat agar bisa berangkat ke Piala Dunia bersamanya.

Hajime Moriyasu juga menyebut sosok STY sebagai pelatih yang tepat bagi pembangunan sepakbola Indonesia. Berkat Coach Shin, Timnas Indonesia bisa merasakan berkompetisi di ajang-ajang besar sekelas Piala Asia dan Kualifikasi Piala Dunia. Itu bisa menjadi pengalaman yang sangat berarti bagi pemain-pemain Indonesia yang lain.

Jesus Casas

Yang satu ini memang sudah dua kali mengalahkan Timnas Indonesia. Tapi Jesus Casas tak pernah menganggap Indonesia lawan yang remeh. Pelatih asal Spanyol tersebut bahkan dengan berani menyebut Timnas Indonesia asuhan Shin Tae-yong memiliki karakteristik yang hampir sama dengan Irak. Dari segi permainan dan kolektivitas pun sama.

Namun, ada beberapa poin yang membedakan dan itu berhasil membuat Casas kagum. Dirinya menyoroti para pemain Timnas Indonesia yang abroad, terutama yang berkarier di Eropa. “Yang paling menonjol adalah mereka punya pemain di Eropa dan performa mereka meningkat akhir-akhir ini,” ungkapnya.

Dikutip dari TVOnenews, Casas memandang para pemain keturunan memberikan dimensi sepakbola yang berbeda dari sebelumnya. Pemain macam Ragnar Oratmangoen, Justin Hubner, dan Jay Idzes menjadi kunci kebangkitan skuad Garuda saat ini.

Jurgen Klinsmann

Perkembangan sepakbola Indonesia pun sampai ke telinga pelatih legendaris asal Jerman, Jurgen Klinsmann. Mantan pelatih Bayern Munchen itu mendapat update tentang sepakbola Indonesia ketika melatih Timnas Korea Selatan beberapa bulan lalu. Menurutnya, Indonesia beruntung dilatih oleh pelatih yang memiliki karakter kuat seperti Shin Tae-yong. 

Pengalamannya sebagai juru taktik Korea Selatan membuat Klinsmann punya penilaian positif tentang karakter orang-orang Korea. Menurutnya, orang Korsel punya karakter pekerja keras, disiplin, dan pantang menyerah. Dirinya juga memuji semangat juang masyarakat Korea Selatan.

Nilai-nilai itu yang dibawa Shin Tae-yong untuk menggenjot kualitas sepakbola Indonesia. Selain itu, Klinsmann juga sudah mendengar kehebatan penjaga gawang baru Indonesia, Maarten Paes dari rekan-rekannya di Amerika Serikat. Koneksi tersebut ia dapat kala melatih Toronto dan tim nasional Amerika Serikat. Klinsmann punya keyakinan bahwa dua sosok ini mampu membawa Indonesia menuju Piala Dunia.

Sumber: Suara, Detik, CNN Indonesia, Bolasport

Rafael Struick Lebih Jago dari Legenda Indonesia, Boaz Solossa? Ngawur!

0

Timnas Indonesia kian populer, terutama di kalangan masyarakat Indonesia sendiri. Hal itu sampai melahirkan sekelompok orang yang, mungkin saja semula tak mengikuti perkembangan Timnas Indonesia, ikut nimbrung membahas Timnas Indonesia.

Tidak masalah memang. Tapi yang membuat mata kita pedas, orang-orang yang fomo terhadap Timnas Indonesia itu mulai membanding-bandingkan pemain Timnas Indonesia di era sekarang dengan era dulu. Sampai-sampai ada yang tanpa tedeng aling-aling bilang kalau Rafael Struick lebih hebat dari Boaz Solossa.

Yang lucunya lagi, bukan hanya dibandingkan dengan Struick, Kaka Boci juga dianggap tak lebih baik dari Ramadhan Sananta hingga Hokky Caraka. Lha, coba bajimane itu? Tentu ini membuat fans Timnas Indonesia dari era kegelapan bergejolak. Bagaimana mungkin seorang legenda Timnas Indonesia dibandingkan dengan para striker piyik yang bahkan cetak gol saja empot-empotan? Mereka ini sepertinya musti dikasih paham sehebat apa Kaka Boci dulu. 

Jago Sejak 18 Tahun

Era sepakbola Indonesia sudah jauh berbeda. Skema permainan dan kebutuhan tipikal pemain untuk tim nasional juga berubah. Di era Shin Tae-yong, kita bisa melihat bahwa Skuad Garuda diisi oleh pemain-pemain yang mengedepankan determinasi dan koordinasi tim. Maka dari itu, cukup aneh jika pemain seperti Rafael Struick dibandingkan dengan Boaz Solossa.

Tanpa mengurangi rasa hormat pada masyarakat Tulehu, Bumi Cendrawasih juga dikenal sebagai salah satu pabriknya talenta sepakbola di Indonesia. Papua udah kayak Brazil yang nggak pernah kehabisan bakat. Dan Boaz adalah salah satu dari sekian ribu pesepakbola hebat yang lahir dari rahim Papua.

Boaz memulai karir sepakbolanya dengan cara yang tak lazim. Jika biasanya para pesepakbola memulai karir di level klub terlebih dahulu baru dipanggil ke tim nasional berkat kerja kerasnya, maka apa yang dilakukan Boaz justru kebalikannya. Kaka Boci lebih dulu terjun ke dunia sepakbola profesional melalui tim nasional. 

Peter Withe jadi sosok paling berpengaruh kala itu. Masih menjabat sebagai pelatih Timnas Indonesia, pria asal Inggris itu menemukan Boaz di ajang PON 2004. Peter yang memang sedang mencari pemain muda untuk tim nasional kagum dengan performa Boaz kala itu. Masih berusia 18 tahun, dirinya sudah mencetak 10 gol bagi tim PON Papua.

Masih bermain untuk tim PON, Boaz belum terikat kontrak secara profesional dengan klub mana pun. Namun, tanpa ragu Peter Withe membawa Boaz ke Timnas Indonesia. Bukan kelompok umur, melainkan tim nasional senior yang akan berlaga di Piala Tiger 2004. Nama Boaz Theofilus Erwin Solossa pun mencuat setelah membukukan empat gol dan membawa Indonesia menembus partai final. 

Dari sini saja kita sudah bisa melihat bagaimana perbedaan yang mencolok antara Boaz dan Rafael. Boaz, yang belum bermain di level profesional sudah bisa mencetak gol ke gawang Vietnam dan Malaysia. Sedangkan Rafa yang sudah bermain untuk tim utama ADO Den Haag sama sekali belum mencetak gol untuk tim nasional senior.

Gaya Bermain

Dari segi gaya bermain, Boaz Solossa dan Rafael Struick sama-sama mengandalkan kecepatan dan skill individu. Kedua pemain juga bertipikal versatile. Baik Boaz maupun Rafael, keduanya bisa mengisi segala pos lini serang. Perbedaan yang cukup mencolok adalah penggunaan kaki. Seperti yang kita ketahui, Kaka Boci merupakan pemain kidal.

Mitosnya, pemain kidal memang memiliki potensi yang lebih besar dari pemain berkaki kanan. Jika konteksnya antara Boaz dan Rafael, itu bisa dibenarkan. Sama-sama berposisi asli sebagai sayap, Boaz memiliki produk akhir yang lebih baik daripada Rafael. Boaz cepat, tajam, dan cerdas. Dirinya bisa diandalkan dalam urusan mencetak gol atau menciptakan peluang.

Kekuatan dan akurasi tendangan kaki kanan dan kaki kirinya sama baiknya. Dirinya hampir tak memiliki sudut mati untuk menceploskan bola ke gawang lawan. Selain memiliki naluri mencetak gol yang tinggi, Boaz juga dianugerahi visi bermain yang luar biasa. Umpan dan pembacaan permainannya di atas rata-rata pemain Indonesia. 

Dedikasi

Menjadi pemain paling berbahaya di lini depan membuat Boaz selalu mendapat marking ketat dari bek-bek lawan. Namun, dirinya memiliki football intelligence yang sangat baik. Boaz selalu memiliki cara untuk meloloskan diri dari tekanan lawan. Kecerdasan yang dimiliki Boaz didapat dari dunia pendidikan yang tak pernah ia tinggalkan. Kepedulian Boaz kepada isi kepalanya dibuktikan dengan gelar S2 yang dimilikinya.

Boaz percaya bahwa pesepakbola akan terbantu perkembangannya apabila memiliki pendidikan yang baik. Kematangan berpikir dan kemampuan memusatkan konsentrasi didapatkan dari bangku kuliah. Kehebatan Kaka Boci pun mendapat pengakuan dari pemain-pemain top lainnya.

Bambang Pamungkas, rekan sekaligus rival di persepakbolaan Indonesia jadi salah satu sosok yang memuji Boaz. Mengutip wawancaranya dengan Sport 77, dirinya tidak menutup mata akan kontroversi dan tindakan indisipliner yang dibuat oleh Boaz. Namun, soal sepakbola Boaz adalah yang terbaik. 

Menurut Bepe, Boci adalah satu-satunya pemain lokal yang bisa bermain di segala pos lini serang dengan sama baiknya. Mau itu di posisi striker tengah, sayap atau second striker sekalipun. Boaz selalu memberikan 100% kemampuannya jika bermain di tim nasional.

Nasionalisme Boaz sudah tak diragukan lagi setelah dirinya mengalami patah kaki sebanyak dua kali saat membela Timnas Indonesia. Pertama di final Piala Tiger 2004 dan kedua di laga uji coba melawan Hongkong. Boaz juga tetap mau membela Timnas Indonesia, meski sempat terjadi kisruh dualisme. 

Boaz merasa tak ada alasan untuk menolak panggilan tim nasional. Jika jadwalnya tidak berbenturan dengan klub, dirinya akan terus mengabdi. Soal dedikasi, Rafael jelas belum keliatan. Dedikasi Rafael mungkin bisa dinilai nanti ketika Indonesia gagal melaju ke Piala Dunia 2026 atau saat tidak lagi dilatih STY.

Prestasi di Klub dan Timnas Indonesia

Meski beberapa kali mengalami cedera parah, Boaz tetap bisa bermain apik baik di level klub maupun tim nasional. Pasca pulih dari cedera patah pergelangan kaki di Piala Tiger, Boaz bergabung dengan Persipura. Di klub tanah kelahirannya itu, Boaz tampil menggila. Catatan golnya pun luar biasa.

Total, dirinya sudah mendulang 183 gol selama bermain untuk Persipura di Liga 1. Boaz juga disebut sebagai Jenderal Bintang Empat. Itu mengarah pada peran pentingnya mengantarkan Persipura juara Liga Indonesia sebanyak empat kali. Dirinya juga pernah berstatus sebagai top skor Liga Indonesia dan pemain terbaik Indonesia sebanyak tiga kali.

Salah satu musim terbaiknya adalah saat dirinya mencetak 38 gol dari 35 pertandingan di semua kompetisi musim 2008/09. Saat itu, usianya baru 22 tahun. Di usia yang kurang lebih sama, Rafael belum bisa konsisten mencetak dua digit gol seperti Boaz. Dirinya bahkan kesulitan untuk menjadi pilihan utama di Den Haag dan akhirnya bergabung Brisbane Roar dengan dalih keluar dari zona nyaman.

Lantas, bagaimana performa Boaz di level internasional? Boaz mengantongi 50 caps dan berhasil mengemas 14 gol untuk Timnas Indonesia. Beberapa golnya bahkan dicetak ke gawang tim-tim raksasa. Contohnya, saat Boaz mencetak gol ke gawang Uruguay pada laga uji coba tahun 2010 dan ke gawang Arab Saudi pada laga Kualifikasi Piala Asia 2015.

Sementara Rafael? Belum mencetak satu gol pun untuk Timnas Indonesia. Rafael memang tidak dibebani tugas sebagai ujung tombak. Di bawah asuhan Shin Tae-yong, Rafa lebih diharapkan untuk bergerak mobile dan melakukan high press. Tapi tolok ukur utama seorang striker itu tetap jumlah gol dan Boaz unggul telak soal itu. 

Lalu, jika ada pertanyaan mana yang lebih baik antara Boaz dan Rafael? Maka jawabannya adalah Boaz Solossa. Tanpa berniat menyinggung fans-fans fomo, jika Boaz Solossa berada di era manajemen yang jauh lebih baik seperti sekarang, mungkin kita tak akan pernah mengenal Rafael Struick.

Sumber: Bola.net, CNN Indonesia, Suara, TVOnenews

Pemberi Kekalahan Pertama Bayern Munchen! Inilah Sosok Jhon Duran

Setelah dimasukkan pada menit ke-70, 9 menit kemudian, Jhon Duran langsung mencetak sebuah gol ke gawang Bayern Munchen. Gol semata wayang Duran ini membuat Aston Villa mengusir Die Bayern pulang dengan tangan hampa di pekan kedua Champions League. Tak hanya itu, kemenangan ini juga mengulangi kejayaan Aston Villa saat mengalahkan Bayern Munchen di final Champions League 1982 dengan skor yang sama.

Namun, yang tak kalah spesial, gol Jhon Duran ini ternyata mengantarkan kekalahan pertama bagi Bayern Munchen di musim 2024/25. Alhasil, performa ciamik supersub baru Aston Villa ini membuat publik bertanya-tanya, siapa sebenarnya Jhon Duran?

 

Sudah Jadi Andalan Sejak Belia

Jhon Duran lahir pada 13 Desember 2003 di Medellin, Kolombia. Sejak kecil Duran memang sudah bermain bola. Layaknya anak kecil di lingkungan sekitarnya, Duran kecil hanya bermain sepak bola di jalanan. Bahkan hingga usia 10 tahun John Duran belum sekalipun masuk ke sekolah sepak bola formal.

Paman Duran, Oswaldo Duran, merupakan kiper top di Kolombia yang bermain di dekade 1980-an hingga 1990-an, ketika Kolombia sedang jaya-jayanya. Jadi, darah sepak bola bukan hal baru di keluarga Duran. 

Karena keinginannya untuk menjadi pemain bola semakin tak terbendung, dan bakatnya perlu disalurkan, Duran akhirnya mencoba peruntungan untuk masuk ke tim junior Envigado FC pada tahun 2015. Kala itu, Duran yang usianya sudah hampir 12 tahun harus mengikuti tes dan trial terlebih dahulu sebelum masuk klub ini.

Pasalnya, klub ini memang merupakan salah satu klub yang rutin mencetak talenta terbaik di Kolombia. Dari James Rodriguez, Juan Fernando Quintero, Jhon Cordoba, Mateus Uribe, Fredy Guarin, hingga Yaser Asprilla pernah bermain untuk tim ini. Jadi, seleksi masuknya memang tidak main-main. Hanya bakat terbaik saja yang bisa tersaring. Untungnya, Duran adalah salah satunya. Ia pun akhirnya terpilih masuk ke Envigado FC setelah melewati berbagai tes.

Setelah masuk ke Envigado FC, Duran yang dianggap memiliki skill di atas rata-rata anak seusianya langsung diberi ban kapten oleh pelatihnya, Jose Alberto Suarez Giraldo. Gara-gara dijadikan kapten, Duran malah makin giat berlatih. Ia pun mulai mendulang prestasi di tim junior, sehingga kepercayaan dirinya makin lama makin meningkat.

Alhasil, pada tahun 10 Februari 2019, Jhon Duran diberi debut profesional pertamanya saat Envigado FC menang 1-0 dari Alianza Petrolera di ajang Primera A. Gilanya lagi, beberapa waktu kemudian, anak yang baru berusia 15 tahun itu mendapatkan gelar langka karena berhasil mencetak gol.

Duran dianugerahi sebagai pemain termuda kedua yang bisa mencetak gol di divisi teratas Kolombia. Yang tak kalah impresif, golnya itu pun membuatnya menjadi pemain termuda ketiga yang berhasil mencetak gol di segala level kompetisi Kolombia. Mengerikan!

 

Mulai Menarik Perhatian

Akhirnya, pada Januari 2022, Jhon Duran digaet klub MLS, Chicago Fire. Meski hanya bertahan satu tahun di Amerika Serikat, bergabungnya Duran ke klub ini merupakan pintu gerbang baginya untuk dilirik para scout dari Eropa. Dari total 28 laga yang Duran jalani di berbagai kompetisi, Ia mampu mencetak 8 gol dan 6 assist.

Berkat performanya ini, Aston Villa langsung cepat-cepat mengamankannya. “Dari banyak klub yang meminatinya, hanya Aston Villa yang bergegas untuk menjadikan transfernya kenyataan,” ujar Sebastian Pelzer selaku Direktur Teknik Chicago Fire via BBC.

Akhirnya, saat bursa transfer musim dingin 2022/23 dibuka, Jhon Duran mendarat di Birmingham untuk bermarkas di Villa Park. Transfernya yang rampung pada 23 Januari 2023 memakan biaya 16,64 juta euro (Rp 286 miliar) saja. Harga yang tergolong murah melihat performanya kelak.

 

Supersub!

Di paruh musim pertamanya di Inggris, Unai Emery hanya memberinya 126 menit dalam 12 laga di Premier League. Pemuda yang masih berusia 19 tahun itu, sepertinya diberi waktu untuk menyesuaikan diri dengan ritme dan kecepatan Premier League. Barulah pada musim 2023/24, menit bermain Duran perlahan tapi pasti mulai bertambah.

Jhon Duran bermain dalam 37 laga dengan total waktu kurang lebih 1103 menit di seluruh kompetisi. Ini merupakan gebrakan awal yang ia berikan kepada publik sepak bola Inggris. Meskipun Duran masih saja belum bisa menggeser Ollie Watkins yang konsisten tampil menjanjikan. Namun, total 7 gol yang Duran cetak, termasuk sebuah gol penyeimbang yang membuat Liverpool mengakhiri laga 3-3 melawan Aston Villa, membuat Emery menaruh keyakinan padanya.

Hal ini dibuktikan kala Jhon Duran yang juga dikenal cukup emosional merengek untuk pindah karena minimnya menit bermain. Chelsea dan West Ham merupakan klub yang paling dekat menginginkannya. Bahkan Duran pernah tertangkap kamera melakukan gestur palu ala West Ham yang sempat viral di media sosial. Namun, upaya pembajakan itu batal. Emery menolak dan akhirnya The Hammers mengalihkan buruannya ke Niklas Fullkrug.

“Kredit untuk Emery. Umumnya, pelatih akan membiarkan pemainnya yang ingin pergi. Namun, Emery memilih untuk berbicara kepadanya, ‘kau akan mendapatkan kesempatan dan kami membutuhkanmu,’ dan kita sudah melihat buktinya. Dia adalah pembeda yang luar biasa,” ujar mantan penggawa The Villans, Thomas Hitzlsperger kepada BBC.

Janji itu memang dipenuhi oleh Emery. Musim 2024/25 ini, Jhon Duran mendapatkan tugas baru yang membuatnya tak kalah mematikan, yakni menjadi supersub. Setidaknya hingga jeda internasional Oktober 2024, Duran sudah mencetak 6 gol dari 10 laga yang mayoritas ia jalani dari bangku cadangan.

Jhon Duran adalah momok mematikan di depan gawang lawan. Ia memiliki insting dan teknik penyelesaian bola yang bagus. Ia juga memiliki kecepatan dan kelincahan. Gaya permainan seperti ini bisa disebut mirip dengan mantan pemain Brentford, Ivan Toney. Didukung dengan eksplosivitas yang Duran miliki, ia diubah Emery menjadi monster yang mengerikan di akhir laga.

 

Diikat Kontrak Panjang

Berkat performa apik Jhon Duran di awal musim 2024/25 ini, Aston Villa langsung memagarinya dengan kontrak baru. Sebelum pergi untuk membela Kolombia di jeda internasional Oktober 2024, Duran diberi kontrak baru yang durasinya memanjang hingga 2030.

Pemberian kontak panjang ini merupakan upaya yang dilakukan oleh manajemen The Villans untuk menjaga talenta berbakatnya dari terkaman klub lain. Jika pun memang harus dilepas, klub yang meminangnya pun harus mengeluarkan uang yang jumlahnya cukup besar kepada Aston Villa.

“Jika ada klub yang menganggap Jhon Duran sebagai pemain kelas dunia, maka Aston Villa adalah klubnya dan Unai Emery adalah manajernya. Setidaknya ada 40 klub yang menginginkan Duran, semua orang menginginkannya,” ujar Monchi selaku Direktur Sepak Bola Aston Villa via The Athletic.

https://youtu.be/2khesqIyrQI

Sumber: Football Biography, The Athletic, BBC, 90 Min, dan Transfermarkt