Beranda blog Halaman 978

Berita Bola Hari Ini Edisi 12 November 2018 -Supporter Wanita Iran Ramaikan Laga Final Liga Champions Asia-

Hallo football lovers, tiada hari tanpa asupan gizi. Starting eleven edisi 12 November 2018 merangkum berita hangat dari seluruh belahan dunia. Pastikan obrolanmu dengan teman-teman diisi rangkuman dari kami..

Didier Drogba, Hentikan Perang Saudara Lewat Sepakbola

0

Untuk semua kesuksesan yang diraih, karir gemilang Didier Drogba adalah salah satu kisah di mana tokoh utama harus melalui rintangan berat.

Lahir dan dibesarkan di metropolis padat Abidjan, Pantai Gading, dia keluar dari Afrika pada saat usia lima tahun, Drogba dikirim ke Prancis untuk tinggal bersama pamannya, Michel Goba, seorang pesepakbola profesional yang mengukir karir di kasta kedua sepakbola Prancis.

10 Transfer Terburuk Sepanjang Masa

0

Suatu perekrutan dilakukan bertujuan untuk memperkuat sebuah tim yang masih punya kekurangan. Perekrutan ini, kalau perlu, sampai mengeluarkan banyak biaya. Namun, beberapa rekrutan di bawah ini malah tak berdampak apa-apa bagi tim. Siapa saja mereka? check it out…

10 Kekalahan Paling Memalukan Sepanjang Sejarah

0

Kekalahan selalu menyakitkan bagi penerimanya. Apa jadinya bila kekalahan tersebut sampai menempelkan rasa malu bagi muka kita sepanjang hidup? berikut kami sajikan 10 kekalahan di masa modern…

Portugal 0-2 Cape Verde (Uji tanding, 2015)

Portugal yang diperkuat bintang-bintang level tinggi Eropa tak menyangka akan dipermalukan negara kecil di pantai barat Afrika. Cape Verde tak punya catatan bagus di Afrika, bahkan bukan negara yang diperhitungkan di kawasannya, tetapi toh mereka sanggup mengalahkan negara yang akan menjuarai Euro 2016 dengan selisih dua gol.

Lincoln Red Imps 1-0 Celtic (Kualifikasi Liga Champions, 2015)

Laga debut eks pelatih Liverpool di klub penguasa Liga Skotlandia. Lincoln Red Imps yang beranggotakan pemain amatir dengan pekerjaan paruh waktu sebagai sopir, polisi, dan sebagainya, ternyata mampu mengalahkan Celtic yang kelak akan mencatatkan unbeaten di kompetisi lokal. Laga ini merupakan laga kompetitif: kualifikasi putaran pertama Liga Champions.

Chelsea 2-4 Bradford (Piala FA, 2015)

Sebelum laga, Jose Mourinho mengatakan akan memalukan bila timnya sampai kalah dari Bradford. Dan itu memang terjadi. Pada musim ketika Chelsea menjuarai Premier League dengan menjadi pemuncak klasemen sejak awal musim, klub tersebut dikalahkan partisipan League One di ajang Piala FA. Kebobolan empat gol di Stamford Bridge bukan sesuatu yang patut dikenang.

Jerman 1-5 Inggris (Kualifikasi Piala Dunia, 2001)

Laga antara dua negara besar Eropa ini amat panas sehingga cukup untuk membangkitkan sentimen Perang Dunia kedua. Sebagai laga yang tak pernah berlangsung dengan kepala dingin, amat memalukan bila salah satu pihak mengalami kekalahan telak. Jerman mengalaminya di ajang kualifikasi Piala Dunia 2002, ketika mereka dikoyak oleh lini depan Inggris yang dipimpin Michael Owen.

Barcelona 5-0 Real Madrid (Liga Spanyol, 2010)

Jose Mourinho baru saja menaklukkan Barcelona beberapa bulan sebelumnya, dan itulah alasan mengapa Real Madrid mendatangkannya. Namun, El Clasico pertama bagi Mou berakhir memalukan dengan Madrid yang dimintanya bermain terbuka justru menderita karena gelombang serangan tanpa henti Barcelona. Lima gol bersarang di gawang Iker Casillas.

Manchester United 1-6 Manchester City (Liga Inggris, 2012)

Sir Alex Ferguson punya berjuta lembar buku yang mengisahkan kesuksesan dirinya, tetapi kekalahan ini ia anggap sebagai bagian yang tak boleh ditulis dalam sejarah hidupnya. Manchester United menjalani laga ini dengan skuad mumpuni tetapi malah dipermalukan di kandang sendiri. City asuhan Roberto Mancini mencetak tiga gol di sepuluh menit terakhir dan memenangi trofi di akhir musim. Ferguson sampai menunda pensiunnya untuk membalas kekalahan ini.

Bayern Munich 7-0 Barcelona (Agregat) (Liga Champions, 2014)

Musim setelah kepergian Pep Guardiola amat menyakitkan bagi Barcelona di ajang kontinental. Kompetisi yang mereka caplok dua kali dalam empat tahun sebelumnya ternyata sanggup membuat mereka malu. Adalah Bayern Munich asuhan Jupp Heynckes yang sanggup memberondong Barca tujuh gol dalam dua leg dengan kecepatan dan pressing tinggi mereka.

Manchester United 8-2 Arsenal (Liga Inggris, 2011)

Gol-gol dari Park Ji Sung, Nani, Danny Welbeck, Ashley Young (dwigol), dan Wayne Rooney (trigol) mempermalukan tim tamu dengan kekalahan terbesar mereka dalam 115 tahun. Menjalani laga dengan skuad pas-pasan dan diterjang badai cedera, Arsene Wenger menelan kekalahan terbesarnya bersama Arsenal, yang diikuti serangkaian pembelian panik di tenggat transfer.

Brasil 1-7 Jerman (Piala Dunia, 2014)

Rasa sakit dari kekalahan ini konon lebih membuat publik Brasil menderita dibanding tragedi Maracanazo pada 1950. Brasil yang bertindak sebagai tuan rumah Piala Dunia tentu berharap timnasnya mampu mengangkat trofi di negeri sendiri. Alih-alih demikian, mereka malah menjalani malam mengerikan dengan membiarkan Jerman mengoyak tujuh kali gawang mereka di fase semifinal Piala Dunia. Memalukan.

Alcorcon 4-0 Real Madrid (Copa del Rey, 2009)

Laga babak awal turnamen domestik semestinya berlangsung dengan skor telak bagi klub raksasa yang menguliti tim dari divisi bawah. Namun, dalam laga 32 besar Copa Del Rey 2009/10, Real Madrid yang diperkuat legenda semacam Raul Gonzales, Guti Hernandez, Rafael van der Vaart, dan kawan-kawan nyatanya takluk empat gol tanpa balas oleh klub divisi tiga Alcorcon. Alcorconazo.

Beberapa di antara kekalahan di atas sampai membuat sang pemain, sang pelatih, dan bahkan para suporter tak mau mengingat hari mengerikan tersebut. Semoga rasa kompetitif di klub-klub tersebut akan selalu ada untuk menghindari kekalahan yang sama lagi…

Pemanggilan Kembali Wayne Rooney yang Mengejutkan

0

Wayne Rooney akan kembali ke tim nasional Inggris setelah pihak FA (federasi sepak bola Inggris) memutuskan akan memberi penghargaan bagi sang mantan kapten dalam sebuah laga uji tanding kontra Amerika Serikat bulan ini. Rooney, yang hijrah ke seberang atlantik pada musim panas lalu ke DC United, mencatatkan caps terakhirnya bareng timnas Inggris pada November 2016.

Sang striker akan mengenakan seragam Tiga Singa untuk kali terakhir di Wembley dalam laga yang diberi tajuk “The Wayne Rooney Foundation International” tersebut. Pihak FA sudah mengatur penampilan Rooney pada malam itu, yakni muncul sebagai pemain pengganti dan akan mengenakan seragam bernomor punggung 10.

Meski kembali tampil beringas sejak merumput di Major League Soccer, Rooney dipastikan tidak akan terlibat lagi di timnas di masa mendatang (sebagai pemain). Sejak meninggalkan Everton pada bulan lalu, pria berjuluk Wazza tersebut mengubah nasib DC United dengan  mencetak 12 gol dan membawa mereka ke babak play off.
Walaupun tak sampai membawa klubnya juara, musim pertama Wazza di Amerika tergolong sukses, dan membuatnya dihubung-hubungkan dengan kemungkinan berkarier kembali di Eropa. Beberapa klub Premier League dan pemburu promosi di Divisi Championship dikabarkan membuka diri untuk top skorer sepanjang masa timnas Inggris tersebut, walaupun dirinya menyatakan tak mengambil langkah itu.

Sebenarnya, keputusan melibatkan Rooney dalam laga ini mendapat banyak kritik, karena beberapa kalangan menilai Inggris harus fokus mempersiapkan diri untuk turnamen masa mendatang, bukan untuk bernostalgia dengan masa lalu. Timnas Inggris sendiri sedang dalam aura positif setelah hasil mengejutkan mereka di Piala Dunia lalu. Muncul harapan agar performa ciamik itu berlanjut hingga Euro 2020, dan persiapan matang sejak dini bisa jadi salah satu hal kunci.

Bagi Wazza, laga ini akan jadi momen sempurna untuk menyampaikan salam perpisahan bagi publik Inggris. Ia sempat menjalani masa singkat di Everton setelah eranya di Manchester United usai, tetapi tak mampu bersinar seperti mulai menyeruak kala ia masih remaja. Ada yang bilang, kepindahannya ke Amerika dilatarbelakangi keinginan untuk mendapat bayaran tinggi dan membuktikan ia belum habis, meski bukan di level tertinggi.

Apapun pandangan orang terhadap “laga perpisahan” ini, sulit untuk mengatakan anak emas Sir Alex Ferguson tersebut tidak memberikan yang terbaik untuk negaranya. Yang pasti, pelibatannya dalam laga ini akan menaikkan level ketertarikan publik untuk menonton laga yang cuma berstatus uji tanding ini.

Lima Pelajaran yang Bisa Dipetik dari Kekalahan di Singapura

0

Bima Sakti punya banyak hal untuk dipikirkan dan dicari jalan keluarnya. Ia bisa memulai dari lima hal berikut…

Hanya Bergantung pada Evan Dimas

Tim ini membutuhkan seorang pemain untuk mengatur tempo dari dalam lini tengah dan tak ada yang fasih melakukannya selain Evan Dimas. Kapan pun lini pertahanan Indonesia menginisasi serangan, mereka mengharapkan gelandang Selangor tersebut untuk turun ke belakang. Evan mungkin amat berbahaya jika menghadapi tim yang bertahan sangat dalam, tetapi Singapura menerapkan pertahanan tinggi dan Evan tak pernah mampu menemukan kawan yang mampu melahap umpan-umpannya.

Tidak Punya Plan B

Indonesia terlihat nyaman menguasai bola di awal babak, meski lambat dalam membangun serangan. Proses ini sering buntu karena sayap-sayap yang sangat mereka andalkan tak pernah berdiri bebas dan tak sanggup menemukan ruang. Pola yang sudah digunakan sejak era Luis Milla ini belum dilapis dengan taktik yang sepadan. Irfan Jaya mati kutu dan Febri Hariyadi terkena pressing terus menerus. Bima Sakti harus menemukan berlapis-lapis taktik baru jika ingin kompetitif.

Pemain Masih Sering Kena Kartu

Menjadi hal jamak di kompetisi lokal jika banyak pelanggaran keras dibiarkan begitu saja oleh wasit. Kebiasaan yang tak ditemukan di laga internasional ini sejauh ini menjadi salah satu titik lemah Indonesia. Abduh Lestaluhu diusir saat laga final Piala AFF 2016, dan banyak pemain silih berganti absen karena akumulasi kartu di Sea Games 2017, kini Putu Gede mendapat kartu merah karena pelanggaran keras. Kapan pemain-pemain kita belajar?

Beto-Fano Terisolasi

Indonesia tidak menaturalisasi pemain untuk membiarkan sang pemain terisolasi di tiap jengkal lapangan. Namun itulah yang terjadi pada Beto Goncalvez dan Stefano Lilipaly dalam laga malam itu. Beto terkunci dan kalaupun mencoba berlari, ia terjebak offside. Lilipaly pun tak mencoba berkeliling lapangan mencari bola. ia malah banyak tersembunyi karena lini tengah Singapura yang padat. Mereka harus menemukan ruang, dan rekan-rekan setim harus menemukan mereka.

Sayap Tak Bertaji

Singapura tahu Febri Hariyadi akan jadi preferensi utama serangan, jadi sayap Persib Bandung tersebut akan ditempel berlapis-lapis pemain Singapura. Di seberang lapangan, Irfan Jaya sama sekali tak mampu mendekati bola dan ia langsung diganti begitu ganti babak. Masuknya Riko Simanjuntak memang membuat serangan jadi tidak berat sebelah, tapi tak berarti dua sayap ini mampu menusuk. Riko sempat memberi angin segar tetapi segera terlupakan. Sayap-sayap Indonesia harus tidak monoton jika ingin bersaing dengan Thailand.

Lima hal tadi bisa dibilang hanya puncak gunung es dari masalah yang dimiliki Indonesia. Mari kita dukung timnas Indonesia agar mampu berjaya di Piala AFF edisi ini…

5 Selebrasi Paling Fenomenal Jose Mourinho

Jose Mourinho, juru taktik berjuluk ‘The Special One’ ini sering muncul di beberapa media ternama dunia. Selain prestasi yang ia raih, Mou juga dikenal sebagai pribadi yang unik. Tingkah nya saat sedang menemani anak asuhnya bertanding seringkali menjadi sorotan media. Tak jarang, Mou juga melakukan selebrasi yang tak biasa kala dirinya berhasil membawa tim nya menang atau meraih prestasi tertentu.

Seperti aksinya berikut ini, starting eleven akan merangkum 5 selebrasi paling fenomenal Jose Mourinho..

Rating Pemain Indonesia dalam Laga Melawan Singapura

0

Banyak pemain tampil buruk, tetapi sejauh mana pemain-pemain kita memainkan perannya dan berapa nilai mereka dengan skala 10? berikut kami sajikan rating pemain Indonesia dalam laga melawan Singapura….

Andritany Ardhiyasa – 6

Andritany tak berdaya untuk mencegah gol Singapura, tapi ia melakukan dua penyelamatan penting sebelum dan sesudah momen tersebut. Dia beruntung tidak kebobolan saat maju dari sarangnya dan mendapati bola dicungkil  oleh penyerang Singapura di babak kedua.

Putu Gede – 3

Putu Gede melakukan berbagai tindakan membahayakan lawan di sepanjang pertandingan dan mendapat kartu merah di akhir laga akibat kartu kuning kedua. Ia beruntung tak dikeluarkan lebih awal setelah serangkaian terjangan kaki dan tekel telat.

Rizki Pora – 5

Rizki Pora hanya membiarkan bola dalam beberapa kesempatan dan hampir mencelakakan tim, termasuk tendangan Hariss Harun yang mengenai mistar. Bagaimanpun dia tangguh di udara dengan memenangi beberapa duel udara. Ia juga banyak mengeksekusi bola mati.

Ricky Fajrin – 4

Ricky Fajrin, sebagaimana rekan-rekannya di lini belakang, tak mampu menampilkan kesolidan. Dia salah mengambil posisi beebrapa kali dan gagal menandingi kecepatan Faris Ramli dan keunggulan badan Ikhsan Fandi.

Hansamu Yama – 5

Hansamu Yama, sang kapten, mencoba memimpin dari belakang dengan kemampuan duel udara. Dia berkontribusi di lini belakang dengan memenangi beberapa duel dan menginisasi serangan, tetapi tetap tak bisa digolongkan luar biasa.

Irfan Jaya – 3

Setelah babak pertama yang tak memberi dampak apa pun bagi tim, ia adalah orang yang pertama diganti di pertandingan saat jeda babak. Kontribusi tunggalnya, yakni umpan sundulan ke Lilipaly yang berbuah gol, dianulir wasit karena offside.

Febri Hariyadi – 5

Febri punya sejumlah kesempatan untuk menyamakan kedudukan, tapi tak mampu mengeksekusi dengan sempurna di sepertiga akhir. Dia secara umum mampu dihentikan oleh pertahanan Singapura, tetapi ketika dia mampu lolos, ia tak mampu mengubahnya jadi peluang berarti.

Stefano Lilipaly – 4

Lilipaly seharusnya menjadi pemain yang paling bersinar bila Indonesia tampil bagus. Namun, dia tak terlihat di sepanjang pertandingan dan menjadi alasan utama mengapa Indonesia gagal mengancam pertahanan Singapura.

Zulfiandi – 4

Untuk standar Zulfiandi, pertandingan malam itu tergolong buruk. Dia mengantarkan beberapa umpan ke belakang pertahanan Singapura, tetapi tak mampu lebih dari itu. Terlebih, kawan-kawannya gagal mencari ruang.

Evan Dimas – 5

Evan Dimas mampu mengontrol permainan di tengah, terutama di babak pertama. Namun pengaruhnya dalam perkembangan serangan Indonesia tak terlihat selain karena Singapura tampil bagus, sayap-sayap Indonesia bermain buruk.

Beto Goncalvez – 5

Beto terlihat terisolasi di area terdepan. Ketika Singapura bermain dengan garis pertahanan tinggi, Beto sering mencari ruang di belakang, tetapi ia terlalu sering terperangkap offside. Serangan balik yang seharusnya mengancam pun tak pernah terjadi.

Indonesia praktis harus memperbaiki di laga berikutnya. Tak boleh lagi ada pemain tak berkutik, tak boleh lagi menelan kekalahan. Semua pemain harus memainkan perannya masing-masing dengan kesempurnaan, Ayo Indonesia…