Beranda blog Halaman 8

Malaysia Sibuk Hina Diks & Idzes? Urusin Saja Sepakbolamu Yang Makin Amburadul!

0

Di tengah hingar bingar pesta sepakbola Eropa yang kembali digelar, ada satu entitas dari negeri seberang yang berusaha mengganggu mood para pecinta sepakbola Indonesia. Media-media Malaysia mulai geger dan mencari kesalahan dari Indonesia. Entah itu dari PSSI-nya, Super League-nya, atau bahkan setiap individu yang berkaitan dengan sepakbola Indonesianya.

Terlalu sibuk nyinyir dan merendahkan Indonesia, Malaysia tampaknya lupa terhadap pepatah lama yang cukup populer di sini. “Ketika satu jari menuding orang lain, empat jari lainnya justru mengarah ke diri sendiri”. Malaysia kerap cepat melontarkan tuduhan, hinaan, dan cibiran terhadap sepakbola Indonesia. Tapi lupa bercermin pada kaca retak di dalam rumahnya sendiri.

Maka dari itu, publik Malaysia sekali-kali harus diingatkan kalau mau ngurusin dapuran orang lain tuh, minimal dapur sendiri udah beres. Dan berikut adalah bukti bahwa sepakbola Malaysia sama sekali tak lebih baik dari Indonesia.

Nyinyir

Tak akan ada asap jika tak ada api. Konten ini muncul karena media Malaysia mulai recall-recall di base Indonesia. Mau bukti? Ayo kita bedah satu-satu. Mimin sampai bingung mau bahas yang mana dulu. Karena saking banyaknya. Okey, kita mulai dari respons media Malaysia terhadap transfer Jay Idzes ke Sassuolo dulu. 

Mereka tak sepenuhnya memuji kepindahan Jay Idzes ke Sassuolo. Beberapa reaksi media Malaysia justru bernada sindiran. Misal saat media X yang bernama Onefootball.my. Melalui akun sosial medianya, mereka secara tersirat menyindir transfer Jay Idzes dengan menyatakan bahwa Serie A tak lebih baik dari La Liga.

Konteksnya adalah, mereka ingin membandingkan pemain naturalisasi Malaysia, yakni Facundo Garces yang berkarir di La Liga bersama Deportivo Alaves. Onefootball.my mempertanyakan apakah tetap bertahan di Serie A bersama klub yang berstatus promosi benar-benar prestise yang setara dengan La Liga?

Setelah itu, mereka juga menyinggung Kevin Diks yang kini berkarir di Bundesliga, bersama Borussia Monchengladbach. Mengutip dari Bola Okezone, ada media Malaysia bernama Ekor Harimau Malaya yang menyebut Bundesliga sebagai kompetisi membosankan. Bahkan meski sudah ada Kevin Diks di situ, Bundesliga tetap tak memiliki daya tarik.

Tak berhenti di situ. Yang terbaru adalah soal kepindahan Sandy Walsh ke Buriram United. Mengutip dari Bola Okezone lagi, ada media Malaysia yang menyebut level Sandy Walsh masih di bawah bek Timnas Malaysia, Dion Cools. 

Beda dengan Walsh yang pindah dari Jepang ke Thailand, Dion justru pindah dari Buriram United ke Cerezo Osaka musim panas ini. Publik Malaysia ngga inget kali ya, kalau Cerezo Osaka tuh cuma dijadiin tempat magang Justin Hubner doang.

Hampir Disanksi FIFA

Media-media Malaysia juga lupa kalau mereka juga masih memiliki banyak luka sepakbola yang belum kering. Yang sebelumnya pernah dibahas oleh Starting Eleven Story misalnya. Soal kasus kontroversi transparansi data pemain naturalisasi. 

Federasi sepakbola Malaysia menjadi sorotan publik setelah mengambil langkah cepat dalam proses naturalisasi beberapa pemain berdarah Amerika Selatan. Proses tersebut dikritik karena dinilai terlalu tertutup dan tidak melibatkan keterbukaan informasi mengenai asal-usul para pemain yang diproses.

Dilansir Jawa Pos, pengacara olahraga Malaysia, Zhafri Aminurrashid, menekankan bahwa kurangnya akses publik terhadap dokumen-dokumen terkait pemain naturalisasi meningkatkan risiko pelanggaran aturan FIFA. Berkat kisruh ini, Malaysia pun nyaris kena sanksi berat. 

Kala itu, Malaysia berpotensi dikenai sanksi larangan ikut kompetisi resmi hingga 2027 dan denda hingga puluhan miliar rupiah. Untungnya, rumor ini dengan cepat diredam oleh Ketua Umum FAM, Joehari Ayub. Dirinya menegaskan bahwa proses naturalisasi telah melalui verifikasi oleh FIFA, dan sang pemain memiliki dokumen yang sah sesuai aturan internasional.

Timnas U-23 Dihujat

Bukan cuma tim nasional senior saja yang tersandung permasalahan, Timnas Malaysia U-23 pun ikut kena hujat oleh publik sendiri. Dikutip dari CNN Indonesia, Malaysia U-23 menjadi sasaran kritik pedas dari netizen negaranya sendiri setelah gagal melaju ke semifinal Piala AFF U-23 2025.

Di awal turnamen, Timnas Malaysia U-23 datang ke Piala AFF U-23 2025 dengan dada membusung. Target semifinal bahkan gelar juara sudah digembar-gemborkan. Tapi alih-alih tampil garang, Harimau Malaya justru terlihat ompong. Mereka dipastikan tersingkir usai hanya bermain imbang 0-0 melawan Timnas Indonesia U-23 dalam laga terakhir Grup A.

Hasil tersebut membuat Tim Harimau Muda finis di peringkat ketiga klasemen Grup A, dengan catatan satu kemenangan, satu hasil seri, dan satu kekalahan. Fans yang udah kadung jumawa dan tebar pesona pun malunya setengah mati. Biar nggak malu-malu banget, akhirnya mereka melampiaskan emosi kepada skuad Harimau muda.

Para fans yang tak puas ramai-ramai meluapkan kritik mereka di kolom komentar media sosial resmi Federasi Sepak Bola Malaysia. Beberapa dari mereka menyoroti gaya bermain tim Malaysia yang dianggap pasif dan tidak menunjukkan semangat juang.

Tak Didanai?

Kena hujat dan kritik begitu, bukannya introspeksi diri atau meminta maaf, FAM justru dikabarkan bakal mengeluarkan kebijakan nyeleneh. Mengutip berita dari Superball, tim muda Harimau Malaya berpotensi tidak akan menerima bantuan biaya dari pemerintah lagi untuk berkiprah di turnamen regional selanjutnya.

Menurut laporan yang ada, turnamen yang dimaksud adalah SEA Games 2025 yang akan diselenggarakan di Thailand. Hal ini menyusul pernyataan Presiden Dewan Olimpiade Malaysia (OCM), Tan Sri Mohamad Norza Zakaria. Ada beberapa pertimbangan mengapa pemerintah akan mengambil opsi ini. Salah satunya adalah minimnya prestasi Malaysia di SEA Games.

Berita yang mendadak ini jelas memicu perdebatan. Para pemain muda disinyalir bisa patah semangat karena merasa dianak tirikan oleh pemerintah setempat. Jika mental dan kepercayaan diri mereka turun, ini bisa saja mengganggu persiapan pemain jelang Kualifikasi Piala Asia U-23 yang akan diselenggarakan September nanti.

Dicap Tak Profesional

Beberapa pekan sebelum kontroversi ini meledak, nama baik sepakbola Malaysia pun sudah tercoreng lantaran mundur dari Turnamen CAFA Nations Cup 2025 secara mendadak. Dilansir Bola.com, turnamen ini akan diselenggarakan pada Bulan September mendatang. Awalnya Harimau Malaya akan terlibat sebagai tim undangan. Tapi, tiba-tiba FAM menarik diri.

Pelatih Harimau Malaya, Peter Cklamovski, mengungkapkan alasan Malaysia untuk tidak terbang ke Tajikistan karena mengumpulkan pemain dan memastikan mereka siap bermain di luar kalender FIFA itu tidak realistis. Mantan pelatih FC Tokyo tersebut juga melihat masalah logistik, pemulihan pemain, dan faktor-faktor lain yang melibatkan perjalanan tim sebagai faktor yang mempengaruhi keputusan. 

Sialnya, sikap ini justru diartikan lain oleh pihak penyelenggara. Pihak CAFA merasa bahwa ini adalah alibi saja. Sebab Malaysia dari awal sudah setuju saat diberitahu kalau sebagian laga turnamen itu digelar di luar kalender FIFA. Keputusan Malaysia untuk mengundurkan diri secara mendadak dianggap telah mencederai profesionalitas di sepakbola.

Banyak Klub Krisis Keuangan

Bukan cuma tim nasional saja, di level klub pun kondisi Malaysia tak kalah memprihatinkan. Menurut laporan Superball, sejumlah klub Liga Malaysia saat ini tengah menghadapi masalah keuangan hingga kesulitan membayar gaji pemain. Berdasarkan data yang dicatat oleh AFC, sedikitnya ada lima tim Liga Super Malaysia yang menunggak gaji para pemainnya. 

Saat ini, rata-rata pemain di klub tersebut menghadapi tunggakan gaji yang berlangsung hingga enam bulan. Beberapa klub bahkan telah membatalkan keikutsertaan mereka di Liga Super Malaysia musim depan. Contohnya seperti Perak FC. Mereka gagal memenuhi gaji pemain, staf, dan pekerja lain yang sudah menunggak sejak musim lalu. Kabarnya, Perak FC hanya mampu membayar 20% dari gaji mereka musim lalu.

Karena kehabisan dana, akhirnya Perak FC pun pamit dari kompetisi musim 2025/26. Dari sini pun jelas terlihat bahwa Malaysia masih memiliki banyak pekerjaan rumah di sektor sepakbolanya sendiri. Jadi, sebelum media dan publik Malaysia sibuk menghina, merendahkan, atau nyinyir soal Indonesia, minimal ngaca dulu nggak sih? Malu tauuuu

Sumber: Superball, CNN Indonesia, Jawapos, Republika

Padahal Ditipu Mulu, Kenapa Arsenal Doyan Comotin Pemain Chelsea?

0

Tak seperti biasanya, geliat transfer Arsenal musim panas kali ini terasa amat pas. Kayak sesuai kebutuhan aja gitu. Tapi, ada satu hal yang tak berubah dari skema transfer mereka. Ya, selalu beli pemain dari Chelsea Mart. Setidaknya ada dua pemain The Blues yang mendarat di Emirates Stadium. Mereka adalah Kepa Arrizabalaga dan Noni Madueke. 

Entah ini strategi jitu atau cuma kebetulan yang kebablasan, belanja pemain Chelsea udah kayak hobi bagi Arsenal. Setiap bursa transfer dibuka, manajemen Arsenal seperti mondar-mandir di depan Stamford Bridge sambil ngintip siapa yang mau dijual. Begitu Chelsea bilang, “Eh, mau jual pemain nih…,” Arsenal langsung nyamber layaknya ibu-ibu kalau disamperin pedagang sayur. 

Padahal, kalau dipikir-pikir lagi, aneh nggak sih belanja pemain Chelsea? Mereka berdua kan adalah rival sekota. Hmmm, ini Arsenal yang doyan sama bekas pemain Chelsea, atau ada “tukang sayur langganan” di London Barat yang tiap pagi nganterin stok pemain segar ke London Utara ya? Untuk menjawab itu, mari kita bedah bersama.

Mulai Kapan?

Ketimbang hobi, mungkin kepindahan pemain yang melibatkan dua klub ini bisa disebut sebagai sebuah tradisi. Chelsea seperti memberi upeti dalam bentuk pemain kepada Arsenal, begitu pun sebaliknya. Lantas, sejak kapan transaksi keduanya dimulai? Kalau mau ditarik ke halaman pertama, sudah terjadi lama banget.

Menurut data yang ada di Transfermarkt, pemain pertama yang pindah dari Chelsea ke Arsenal adalah Billy Dickson. Transfer ini terjadi pada tahun 1953. Namun, kalau di era Premier League, transfer pertama yang terjadi dari Chelsea ke Arsenal adalah William Gallas. Pemain berposisi bek tengah itu pindah dengan status bebas transfer tahun 2006.

Setelah itu, banyak transaksi yang melibatkan dua klub London ini. Dari tim senior sampai tim junior, semuanya pernah saling bertukar pemain. Kalau dari tim muda, contohnya ada Eddie Nketiah yang pindah dari Chelsea Youth ke Arsenal U-18 pada tahun 2015. Kepindahan pemain dari Chelsea ke Arsenal semakin masif ketika memasuki tahun 2010-an.

Di awali oleh Yossi Benayoun sebagai pemain pinjaman pada tahun 2011, setidaknya dalam kurun waktu 15 tahun itu ada sepuluh pemain Chelsea yang pindah ke London Utara. Bahkan acap kali melibatkan pemain-pemain besar macam Petr Cech, Raheem Sterling, Jorginho, atau David Luiz. 

Faktor Geografis

Lantas, mengapa fenomena ini bisa terjadi? Banyak faktor yang mendorong Arsenal untuk selalu mengambil pemain-pemain Chelsea. Salah satunya adalah faktor geografis. Chelsea dan Arsenal adalah klub yang sama-sama berasal dari Kota London. Hanya beda wilayah saja. Perpindahan ini bisa dilakukan tanpa ganti rumah, sekolah anak, atau lingkungan sosial.

Jelas, ini jadi poin-poin penting bagi para pemain untuk menerima pinangan dari Arsenal. Bagi pemain yang sudah mapan secara keluarga, ini faktor besar untuk menghindari stres adaptasi. Tetap berada di kota yang sama artinya sang pemain tak perlu mengeluarkan biaya pindahan besar atau penyesuaian besar dalam gaya hidup.

Dari sudut pandang Arsenal pun untung. Dengan membeli pemain Chelsea, mereka tak perlu menunggu sang pemain untuk beradaptasi. Terutama soal kehidupan sosial, budaya, cuaca, dan lingkungan hidup di London. Secara taktikal, pemain dari Chelsea juga sudah terbiasa dengan tempo, fisik, dan atmosfer Premier League. Kalau bahasa kerennya, EPL Proven. Sehingga bisa langsung main tanpa masa adaptasi panjang.

Kebutuhan Arsenal

Status EPL Proven memang sangat penting untuk stabilitas performa Arsenal. EPL Proven juga bisa berarti pemain itu memang sudah berpengalaman. Poin ini juga yang dicari oleh Arsenal dari pemain-pemain Chelsea. Itu dibuktikan dengan beberapa pemain yang didatangkan telah berusia matang dan memiliki kontribusi besar di musim-musim sebelumnya. 

Contohnya saja saat Arsenal mendatangkan sosok yang punya kedewasaan macam Jorginho. Di ruang ganti yang dipenuhi talenta belia seperti Bukayo Saka atau Gabriel Martinelli, atau William Saliba, pemain seperti Jorginho hadir untuk mengendalikan suasana. 

Jorginho atau pemain-pemain macam Raheem Sterling dan Willian membimbing generasi baru memahami ritme kompetisi. Mereka bisa mengajarkan bagaimana mengelola tekanan dalam laga besar. Selain kedewasaan, kebutuhan taktik juga harus dipenuhi. Mikel Arteta memandang beberapa pemain memiliki potensi besar untuk fit di skema permainannya.

Biasanya, Mikel Arteta juga mengambil pemain-pemain yang gagal berkembang maksimal di Chelsea dengan harapan bisa mengeluarkan keseluruhan potensinya. Contoh berhasil adalah Kai Havertz. Didatangkan Chelsea dari Bayer Leverkusen, performanya angin-anginan. Sementara di Arsenal, perkembangannya memang lambat. Tapi, secara grafik, performa Kai terus meningkat dan bisa kawin dengan skema permainan Arteta.

Chelsea Sering Surplus Pemain

Faktor lain datang dari Chelsea itu sendiri. Chelsea Mart dalam beberapa tahun terakhir sering terlihat seperti supermarket mewah yang kebanyakan stok. Setiap bursa transfer, mereka belanja besar-besaran. Kadang sampai fans bingung untuk menghafal siapa lagi pemain-pemain yang didatangkan. Udah banyak, kadang mukanya mirip-mirip pula, jadi bingung kan. 

Hasilnya, ruang ganti jadi penuh sesak, dan beberapa pemain pun mau tak mau tersisih dari rencana pelatih. Di sinilah Arsenal masuk dengan muka manis, seperti tetangga yang kebetulan lewat saat kamu lagi jualin barang-barang di gudang. 

Bagi The Blues, melepas pemain surplus membantu menyeimbangkan keuangan dan mematuhi aturan Financial Fair Play. Bagi Meriam London, ini kesempatan emas untuk mendapatkan pemain berpengalaman, siap pakai, dan biasanya dengan harga yang lebih ramah di kantong. Namanya juga barang obralan.

Meski di atas kertas ini bisnis, rasanya kok seperti simbiosis. Chelsea lega gudang mereka longgar, Arsenal senang lemari mereka terisi pemain kelas atas. Pemain-pemain yang pindah dengan situasi ini misalnya Raheem Sterling yang gagal total di Chelsea, tapi menurut Arteta masih bisa dipakai buat pelapis Saka. 

Atau, Kepa, kiper termahal di dunia ini udah nggak ada harganya di Chelsea, tapi mainnya di Bournemouth kemarin masih oke. Angkut aja. Lumayan buat back up David Raya.

Hubungan Baik

Di luar itu semua ada beberapa faktor pendukung lain yang membuat Arsenal tak bosan-bosan bertransaksi dengan Chelsea. Yang pertama adalah hubungan baik dengan Chelsea. Walaupun di atas lapangan kedua tim adalah rival, tapi di luar lapangan kedua klub ini memiliki koneksi yang sangat baik. Bahkan menurut Standard, Mikel Arteta mengakui bahwa Chelsea selalu punya pemain-pemain yang bagus.

Hubungan bisnis yang sudah terjalin lama melahirkan trust. Setiap negosiasi pun menjadi lebih lancar. Chelsea seperti melunak jika yang datang adalah Arsenal. Manajemen Arsenal tahu The Blues adalah klub yang mampu menjaga kesepakatan tanpa drama berlebihan, begitupun Chelsea melihat Arsenal sebagai pembeli serius yang tidak suka tarik ulur berlarut-larut.

Selain itu, pejabat klub, direktur olahraga, hingga bagian legal dan negosiasi dari kedua tim sudah terbiasa berinteraksi, baik di forum resmi seperti rapat Premier League maupun di acara sosial sepak bola London. Hubungan ini meminimalkan gesekan dan mempercepat proses negosiasi transfer pemain. Lebih hemat waktu, tenaga, dan biaya ketimbang harus bernegosiasi dengan klub luar kota atau luar negeri.

DNA Juara, Tapi…

Kedua adalah kepercayaan Arsenal bahwa pemain Chelsea ini punya DNA juara yang begitu kental. Selama dua dekade terakhir, Chelsea terbiasa bermain di level tertinggi. Mereka bahkan keluar sebagai juara Premier League, Liga Champions, bahkan Liga Konferensi Eropa. Maka dari itu, Arsenal sempat memboyong Petr Cech ke London Utara.

Pemain yang sudah lama berkostum biru biasanya sudah terbentuk dalam lingkungan yang menuntut kemenangan di setiap laga dan terbiasa menghadapi tekanan final. Mereka juga paham betul bagaimana menjaga konsistensi sepanjang musim. Bagi Arsenal yang sedang membangun skuad, suntikan DNA juara seperti ini sangat berharga.

Sialnya, DNA yang diharapkan tak kunjung menular. DNA juara yang ada di diri Kai Havertz, Jorginho, hingga Petr Cech seakan telah bermutasi seiring terkontaminasinya para pemain tersebut dengan DNA wong kalahan yang dimiliki oleh Arsenal. 

Sumber: Standard, Telegraph, Tribalfootball, Kompas

Mengapa Bek Sayap Tak Pernah Dapat Ballon d’Or?

0

Sebentar lagi kita akan mengetahui siapa yang akan meraih gelar Ballon d’Or 2025. Dalam urutan power ranking yang dipublikasikan oleh Goal, mereka menempatkan enam pemain PSG dalam urutan sepuluh besar. Dari enam pemain itu, dua diantaranya adalah Achraf Hakimi dan Nuno Mendes yang sama-sama berposisi bek sayap.

Wajar jika mereka masuk 10 besar. Mereka adalah elemen penting di setiap skema serangan tim asuhan Luis Enrique musim lalu. Tapi, ada fakta menarik kalau kita ngomongin soal bek sayap di ajang Ballon d’Or. Meme “Lu tuh nggak diajak” mungkin jadi lelucon yang tepat untuk diberikan ke pemain-pemain yang memainkan posisi tersebut. 

Karena dari berbagai macam posisi di sepakbola, bek sayap satu-satunya posisi yang belum pernah memenangkan penghargaan individu paling bergengsi di dunia ini. Coba saja kalian cari di google atau AI jenis apa pun. Tak ada satupun nama bek sayap yang menggondol Ballon d’Or. Tapi, mengapa fenomena ini bisa terjadi? Ternyata ada banyak faktor yang mendasari fenomena ini. Mari kita bahas. 

Hampir Semua Posisi

Sejak penghargaan Ballon d’Or pertama kali diberikan pada tahun 1956, penghargaan ini selalu berpindah-pindah dari posisi satu ke posisi lain. Maka dari itu agak lucu ketika kita mendengar fakta bahwa bek sayap tak pernah meraih Ballon d’Or. Padahal penghargaan prestisius itu pernah diberikan kepada seorang kiper. Lev Yashin satu-satunya penjaga gawang yang menerima penghargaan ini.

Loh, tapi kan bek juga pernah dapet min? Benar, tapi bukan bek sayap. Kebanyakan ya bek tengah. Seperti Franz Beckenbauer atau Fabio Cannavaro. Selain bek, gelandang juga banyak. Tercatat ada empat gelandang yang meraih penghargaan ini. Terbaru, ada Luca Modric dan Rodri. Sementara dari sektor sayap dan striker sangat banyak.

Bisa kita lihat, dari tahun 2000 hingga 2024, selalu didominasi oleh penyerang dan sayap. Bahkan, didominasi oleh persaingan dua GOAT, Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo. Terakhir kali seorang bek meraih penghargaan ini ya Fabio Cannavaro yang saat itu mengantarkan Timnas Italia juara Piala Dunia tahun 2006. Dari 68 kali penghargaan ini diberikan, tak ada satupun yang jatuh ke tangan pemain berposisi bek sayap. 

Posisi Nggak Penting?

Lantas, mengapa fenomena ini bisa terjadi? Ada beberapa faktor yang mendorong hal ini terjadi. Salah satunya adalah dogma tentang posisi bek sayap itu sendiri. Ada opini lawas yang cukup terkenal kalau bek sayap adalah posisi pelengkap di sepakbola. Karena posisi bek sayap adalah posisi paling gampang untuk dimainkan. 

Ibaratnya, kalo adik kalian mau ikut main bola, tapi nggak jago-jago amat, posisi bek kanan atau kiri adalah posisi yang tepat. Kecuali kalau posturnya gempal, udah pasti jadi kiper itu. Bek sayap lebih berperan sebagai penghubung antar lini. Mereka menjadi “pendukung utama” bukan bintang utama dalam permainan.

Dogma ini bahkan jadi premis di anime berjudul Ao Ashi. Ashito Aoi, sang tokoh utama dalam serial anime ini awalnya memandang sebelah mata posisi bek sayap. Ia datang ke dunia sepakbola dengan mimpi besar sebagai penyerang. Mencetak banyak gol dan menjadi pusat sorotan. 

Baginya, bermain di depan berarti menjadi “pahlawan” di setiap laga. Sedangkan posisi bek sayap menurutnya hanya pemain bertahan di pinggir lapangan. Kurang heroik dan tidak akan membuatnya terkenal. Maka dari itu, saat pelatih meminta Ashito untuk bermain sebagai bek sayap, ia merasa terhina. Ia sedih. Ia merasa seperti semua mimpinya hancur.

Pola pikir Ashito yang seperti itu muncul karena dalam skema sepakbola tradisional, serangan dibangun dari gelandang atau penyerang tengah. Bek sayap jarang terlibat langsung dalam gol, sehingga kontribusi mereka sulit “terlihat” bagi penonton awam. 

Ballon d’Or Condong ke Pemain Ofensif

Posisi sepakbola yang mudah terlihat dan tersorot jelas posisi yang punya prinsip bermain ofensif. Dan dalam sejarahnya, Ballon d’Or memang condong ke pemain-pemain menyerang. Menurut data yang dikemukakan oleh Top End Sport, dari 68 trofi Ballon d’Or yang sudah diberikan, 43 diantaranya dimenangkan oleh penyerang. 9 kali oleh gelandang serang, dan 7 kali oleh pemain winger asli. 

Alasannya sederhana. Sepak bola adalah olahraga hiburan, dan tidak ada yang lebih mudah menggetarkan hati penonton selain gol spektakuler atau aksi solo yang menembus jantung pertahanan lawan. Seorang penyerang bisa mencetak satu gol dan menjadi pahlawan, sementara seorang bek sayap mungkin ia bekerja sempurna sepanjang 90 menit, namun hanya sedikit yang notice.

Kalau pun posisi bertahan ingin diakui, publik dan juri Ballon d’Or cenderung memilih bek tengah atau kiper sekalian. Karena mereka dianggap benar-benar “tembok utama” tim. Bek sayap justru sering dianggap pelengkap yang bisa diganti atau digeser ke posisi lain. Posisi bek sayap juga mudah digantikan oleh pemain yang lain, seperti winger atau bek tengah.

Evolusi Peran

Evolusi peran yang terlambat juga jadi salah satu alasan mengapa bek sayap kurang populer di bursa pemain terbaik Eropa. Berbeda dengan gelandang, bek atau striker, bek sayap jadi yang paling jarang dieksplorasi. Selama beberapa dekade, tugas bek sayap ya gitu-gitu aja. 

Berdiri di garis terluar, jarang melintasi setengah lapangan lawan, tugas utamanya pun sederhana. Hentikan winger, merebut bola, lalu serahkan kepada gelandang atau penyerang. Namun, perlahan kiblat sepakbola mulai berubah. Tahun 2010-an, manajer-manajer visioner mulai sadar bahwa sisi lapangan adalah jalur yang belum dimanfaatkan sepenuhnya.

Bek sayap mulai diberi kebebasan maju, membantu serangan, bahkan menjadi sumber kreativitas. Contohnya sudah banyak, seperti Trent Alexander-Arnold yang diubah menjadi playmaker sewaktu di Liverpool, Alejandro Grimaldo yang sering merangsak ke kotak penalti atau mungkin Achraf Hakimi di PSG. Mereka kadang jadi pemecah kebuntuan lini serang.

Perubahan ini masih relatif baru, belum bisa diterima oleh banyak orang. Sementara Ballon d’Or sudah dari puluhan tahun lalu. Jadi, butuh transisi untuk seluruh mata dunia sadar bahwa bek sayap punya kontribusi besar dalam sebuah tim.

Faktor Komersial

Tak melulu dari dalam lapangan, faktor dari luar lapangan juga ada. Ya faktor komersial misalnya. Ketika sebuah klub merilis poster pertandingan besar, siapa yang terpampang di tengah? Hampir selalu penyerang andalan atau gelandang kreatif. Yang tampil adalah wajah yang identik dengan gol, selebrasi ikonik, dan momen-momen yang memicu decak kagum.

Nah, efeknya pun menjalar jauh. Publik yang terus dijejali wajah para penyerang dan playmaker mulai menganggap kalau tokoh utama dalam drama sepakbola ya mereka. Persepsi ini, disadari atau tidak ikut mempengaruhi juri Ballon d’Or. Dalam benak mereka, penghargaan prestisius itu sudah seharusnya diberikan pada pemain yang bukan hanya hebat di lapangan, tapi juga mendominasi narasi media dan ingatan kolektif penonton.

Distribusi Suara Voting

Hal itu pula yang membuat distribusi suara voting jadi semakin luas. Ketika daftar calon pemenang tiba di email para jurnalis di seluruh dunia, nama-nama penyerang dan playmaker otomatis terlintas lebih dulu. Bek sayap mungkin membutuhkan musim ajaib untuk bisa menjadi top of mind di benak para voters.

Di sisi lain, pilihan para voters terkadang lebih subjektif. Karena kedekatan dengan pemain, kekaguman, atau hanya bentuk respect semata. Akibatnya, proses voting sering tak sepenuhnya adil pada posisi seperti bek sayap.

Pada akhirnya, para bek sayap terjebak di situasi yang ironis. Mereka bisa menjadi pondasi permainan. Mereka juga bisa jadi pahlawan di menit-menit akhir. Namun, mereka tetap berada di balik cerita besar yang terus di glorifikasi oleh industri. Para bek sayap adalah pahlawan yang fotonya jarang dicetak besar di gerbang stadion, meski keringat yang mengucur dari dahi mereka sama banyaknya.

Sumber: ESPN, BBC, Top End Sport

Gempar Striker Bologna Ini Keturunan Indonesia! Siapa Thijs Dallinga?

0

Semenjak tekel keras Paulinho ke kaki Ole Romeny, kita seperti berpacu dengan waktu. Tanggal 17 Juli pun ditetapkan sebagai hari tindakan medis. Ole butuh operasi sesegera mungkin. Tapi tak ada yang bisa memastikan kapan ia benar-benar kembali. Pelatih Oxford United, Gary Rowett cemas, pelatih Timnas Indonesia, Patrick Kluivert pun cemas. Semuanya cemas menunggu update kondisi Ole tiap harinya.

Di tribun dan media sosial, suporter Timnas Indonesia terjebak di antara dua perasaan. Optimisme bahwa Romeny akan bangkit, dan kekhawatiran bahwa cedera ini akan memakan lebih banyak waktu daripada yang diharapkan. Dengan segala keraguan yang ada, PSSI harus mengambil keputusan cepat dan tepat.

Sebab, Timnas Indonesia yang sedang mempersiapkan diri menuju Ronde 4 Kualifikasi Piala Dunia 2026 tidak punya amunisi cadangan serupa. Opsi lain sebenarnya tersedia, namun itu dinilai tak cukup untuk bersaing dengan tim-tim macam Irak dan Arab Saudi. Di tengah keputusasaan. Di tengah kecemasan akan kondisi Ole Romeny. Muncul satu nama pembawa harapan. Ia adalah Thijs Dallinga.

Dia adalah striker Grade A yang konon bisa segera dinaturalisasi. Lantas, siapa sebenarnya pemain berusia 25 tahun itu? Mampukah ia menjadi jawaban dari krisis striker tajam yang sedang dihadapi Timnas Indonesia?

Opsi Tersedia

Apakah kalimat krisis striker tajam adalah kata yang tepat untuk menggambarkan situasi saat ini? Mungkin bagi sebagian besar insan persepakbolaan Indonesia, itu terdengar berlebihan. Namun, jika kita berbicara pada level permainan Ole Romeny, maka tak ada salahnya menggunakan frasa itu. 

Sebetulnya, masih ada Rafael Struick yang memiliki mobilitas tinggi. Lalu, ada striker nomor 9 klasik di diri Ramadhan Sananta, hingga striker bermental baja macam Hokky Caraka. Bahkan, jika dibutuhkan, kita bisa memanggil Jens Raven dari tim muda Indonesia. Namun, sekali lagi, semuanya tidak berada di level yang sama dengan Romeny.

Romeny punya dimensi sendiri di sepakbola Indonesia. Dia cepat, dia lincah, dia pun memiliki mobilitas tinggi. Selain itu, Romeny punya kemampuan penempatan posisi yang baik. Dia piawai memainkan kombinasi umpan untuk memecah pertahanan lawan. Yang terpenting, dia punya insting mencetak gol yang sangat baik. Dia adalah striker komplit yang dimiliki Indonesia. Ia adalah gabungan dari Struick, Sananta, Hokky, dan Raven.

Maka dari itu, sulit bagi Coach Patrick untuk menggantikan perannya di lini depan. Naturalisasi striker baru pun kabarnya akan jadi solusi jitu. Mauro Ziljstra kabarnya akan segera merapat. Namun belum ada perkembangan lagi. 

Di luar itu, kabarnya ada dua nama lagi yang sedang diusahakan. Menurut Bola.com, Erick Thohir, masih enggan membocorkan nama kedua pemain tersebut. Namun, muncul rumor di dunia maya, jika satu dari dua pemain tersebut adalah Thijs Dallinga.

Siapa Thijs Dallinga?

Lantas, siapa pemain yang satu ini? Thijs Dallinga adalah penyerang Belanda kelahiran Groningen pada 3 Agustus 2000. Dengan tinggi 190 cm, pemain yang kini memperkuat tim Serie A, Bologna itu dikenal sebagai penyerang tengah yang tangguh dalam duel, baik udara maupun darat. 

Lahir dan besar di Belanda, Dallinga memulai kariernya di akademi FC Emmen setelah bermain untuk klub lokal VV Siddeburen dan VV Hoogezand. Ia melakukan debut profesional pada November 2017. Dallinga pun menjadi bagian dari tim Emmen yang mengamankan satu tiket promosi ke kasta tertinggi Liga Belanda tahun 2018.

Tak mendapat jaminan starter di skuad utama Emmen, Dallinga menandatangani kontrak tiga tahun dengan Groningen. Awalnya ia bergabung dengan tim cadangan di Derde Divisie. Namun, ia dipromosikan ke tim utama setelah tim cadangan klub menarik diri dari kompetisi. Meki begitu, debutnya di Eredivisie baru tercipta pada tahun 2020. Ia memperkenalkan diri kepada publik Groningen sebagai pemain pengganti di laga melawan RKC Waalwijk.

Setelah itu, Dallinga kian eksis di persepakbolaan Belanda. Terlebih saat dirinya bermain untuk Excelsior tahun 2021. Meski saat itu harus turun level ke Eerste Divisie, Dallinga justru mencapai performa terbaik. Ia mencetak 36 gol dalam 43 pertandingan di semua kompetisi. Performanya yang impresif membantu Excelsior promosi ke Eredivisie. Diam-diam, Thijs Dallinga jadi pemain spesialis promosi di Belanda.

Performa menawannya pun membuat namanya masuk radar klub Ligue 1, Toulouse. Bermain di Ligue 1,  Dallinga tampil konsisten. Selama dua musim membela tim yang identik dengan warna ungu itu, Dallinga konsisten mencetak lebih dari 15 gol di semua kompetisi. Performa ini lah yang pada akhirnya mengantarkan sang pemain ke Serie A.

Kehebatan Dallinga

Sayangnya, performa Thijs Dallinga di Serie A justru menurun. Di musim 2024/25, ia memang memainkan 33 pertandingan di Serie A. Namun, sebagian besar dimulai dari bangku cadangan. Hal itu membuat jumlah golnya menurun drastis menjadi tiga gol saja. Tapi tunggu dulu, jangan pesimis. Meski demikian, Dallinga punya atribut yang dibutuhkan untuk menjadi striker top.

Thijs Dallinga adalah striker langka di sepakbola modern. Bertipe sebagai nomor 9 klasik, Dallinga dapat diandalkan di kotak penalti karena memiliki penyelesaian yang klinis. Berkat kualitas fisik yang oke dan kemampuan membaca permainan yang jitu, Dallinga mampu mencetak gol di berbagai situasi.

Walaupun memiliki postur tinggi, Dallinga bukan striker lambat. Dirinya punya kecepatan dan etos kerja tinggi. Sama halnya dengan Ole Romeny, Dallinga juga bisa turun ke area tengah untuk meloloskan diri dari pressing lawan dan menciptakan link up play yang bisa memudahkan tim masuk ke pertahanan lawan.

Dia adalah striker komplit. Thijs Dallinga adalah striker modern dengan karakteristik klasik. Statistik dan performanya di Ligue 1 hingga Serie A menunjukkan bahwa dia bukan untuk pelapis saja. Ia bisa jadi pemain yang diandalkan.

Eligible?

Okey cukup sudah mengenal siapa Thijs Dallinga. Namun, ada pertanyaan baru yang muncul. Apakah dia eligible atau memenuhi syarat untuk menjadi pemain Timnas Indonesia? Kita akan membahas tentang garis keturunannya dulu. Sejauh ini, belum ada informasi pasti atau konfirmasi langsung dari pihak Dallinga kalau dirinya punya darah Indonesia.

Bahkan, secret agent pemain keturunan, yakni Yussa Nugraha belum bisa memastikan itu. Dalam kanal YouTube-nya, Yussa mengkonfirmasi bahwa ia sudah menghubungi pihak Dallinga. Tujuannya, untuk melakukan wawancara singkat, sama seperti pemain-pemain keturunan lain. Namun, sang pemain tak kunjung memberikan lampu hijau.

Namun, menurut hasil penelusuran tim Starting Eleven Story, ada korelasi yang cukup kuat antara striker Bologna itu dengan Indonesia. Beberapa sumber menyebutkan bahwa keluarga besar Dallinga pernah tinggal di kawasan Tanjung Priok, Jakarta Utara, pada era 1950-an. Itu dibuktikan dengan munculnya marga Dallinga di arsip era kolonial. Di situ menjelaskan bahwa ada marga Dallinga yang sempat tinggal dan menetap di Jakarta.

Statusnya pun hanya pernah sekali bermain di Timnas Belanda senior. Ia tampil di laga melawan Gibraltar di ajang Kualifikasi Euro 2024 pada tahun 2023. Namun, karena belum ada konfirmasi apa pun tentang garis keturunannya, status Dallinga masih tanda tanya. Jika terkonfirmasi pun, ada pertanyaan lain yang muncul. Thijs Dallinga ini keturunan klan Dallinga yang keberapa? Kalau sudah masuk generasi keempat, jelas namanya tak eligible untuk dinaturalisasi.

Cocok Untuk Timnas Indonesia?

Kalau nantinya ternyata eligible, emang Thijs Dallinga cocok dengan skema Patrick Kluivert? Kehadiran Thijs Dallinga ke skuad Patrick Kluivert bisa jadi tambahan yang menarik. Dengan gaya bermain yang jauh berbeda dengan Ole Romeny, harusnya Dallinga tak mengalami kesulitan untuk melebur ke skema Coach Patrick.

Dengan sentuhan yang tepat dari Kluivert dan Alex Pastoor, Dallinga tidak hanya akan menjadi penyerang yang efektif, tapi juga sosok sentral yang bisa menaikkan level permainan Timnas Indonesia secara keseluruhan. Namun semua itu tetap berada di garis tipis antara harap-harap cemas dan potensi gemilang. Tergantung bagaimana ia beradaptasi dan ekspektasi netizen.

Sumber: Suara, Bola, Tribunnews, Bolasport

Akankah Melejit? Karir Diaspora Indonesia di Klub Baru Musim Depan

0

Mendengar kabar Mees Hilgers masuk radar Crystal Palace, rasanya seperti melihat salah satu putra terbaik kita mulai menapak ke panggung besar sepak bola Eropa. Bangga? Jelas! Setiap laporan tentang ketertarikan Crystal Palace terhadap Hilgers seakan sanggup menggetarkan hati penggemar. Sebuah pengakuan bahwa darah Indonesia punya kualitas dunia. 

Jika Hilgers masih otw pindah, maka rekan-rekannya di tim nasional udah pada duluan menemukan destinasi baru di musim depan. Beberapa dari mereka bahkan menembus lima liga top Eropa. Lantas, siapa saja pemain diaspora Indonesia yang memutuskan pindah klub di musim panas kali ini? Dan bagaimana gambaran karir mereka di masa depan? Mari kita bahas.

Jay Idzes

Pemain pertama yang masuk daftar ini adalah Jay Idzes. Sempat masuk radar Inter Milan, Juventus, Torino, dan Aston Villa, Idzes resmi bergabung dengan Sassuolo. Bek tengah asal Indonesia ini diboyong dari Venezia dengan nilai transfer sekitar 8 juta euro. Itu menjadikannya bek termahal kedua dalam sejarah Sassuolo. Idzes hanya kalah dari Marlon yang dibeli dari Barcelona dengan mahar 12 juta euro.

Idzes diikat dengan kontrak berdurasi empat tahun. Itu akan membuatnya jadi pemain Sassuolo hingga 2029. Bergabung dengan Sassuolo adalah langkah strategis. Sassuolo dikenal sebagai klub yang mengutamakan pembangunan pemain muda, memberi ruang untuk berkembang di bawah tekanan Serie A tanpa ekspektasi instan seperti di klub top besar.

Lantas, bagaimana kecocokan strategi antara Idzes dan skema permainan Fabio Grosso? Singkatnya sih, Idzes dan Grosso saling membutuhkan. Keduanya sama-sama mengutamakan kontrol permainan dari belakang. Idzes memiliki kemampuan distribusi bola yang rapi dan tenang di bawah tekanan, membuatnya ideal dalam peran ini.

Dengan kontrak panjang, Idzes memiliki cukup waktu untuk menyesuaikan diri dan membangun reputasi sebagai bek papan atas di liga Italia. Jika konsisten, ia bisa menjadi starter tetap di skuad asuhan Grosso. Bahkan, dengan terus tampil di Serie A, Idzes akan membuka kesempatan yang lebih besar agar mendapat pantauan dari klub-klub papan atas Serie A atau Liga Inggris. 

Emil Audero

Masih dari Serie A, ada Emil Audero yang berganti klub dari Como ke Cremonese. Berbeda dengan Jay Idzes yang menandatangani kontrak jangka panjang, Emil justru pindah dengan status pinjaman. Menurut laporan Sport.Detik, Cremonese punya klausul untuk mempermanenkan Emil di akhir masa peminjaman. 

Emil Audero datang ke Cremonese dengan membawa reputasi sebagai kiper berpengalaman Serie A yang pernah menjadi andalan Sampdoria dan sempat memperkuat Inter Milan. Keputusan pindah ke Cremonese membuka peluang besar baginya untuk kembali mendapatkan menit bermain reguler setelah sebelumnya kerap dicadangkan oleh Como.

Maka dari itu, kepindahan ini bakal jadi momentum penting bagi Emil untuk melesat ke puncak karir. Jika tampil apik di bawah mistar, Emil bukan cuma bisa membantu Cremonese bertahan di Serie A. Dirinya akan jadi elemen penting di skuad Cremonese. Emil dikenal memiliki reflek cepat dan kemampuan positioning yang bagus.

Itu jadi kualitas yang sangat dibutuhkan Cremonese untuk bertahan hidup di liga yang kompetitif. Dengan kombinasi skill individu dan kecocokan taktik, Audero berpeluang memperbaiki reputasinya. Kalau tampil bagus di Serie A kan Patrick Kluivert pasti tak ragu untuk memilihnya sebagai kiper nomor 1 menggantikan Maarten Paes.

Kevin Diks 

Bergeser ke Jerman, ada Kevin Diks yang sah pindah dari FC Copenhagen ke tim Bundesliga, Borussia Monchengladbach. Sebetulnya, Diks sudah sepakat pindah sejak awal tahun 2025. Namun, sang pemain memilih untuk pindah secara gratis saja di akhir musim 2024/25. Maka dari itu, Diks masih menghabiskan musim 2024/25 bersama Copenhagen.

Gladbach terbilang beruntung karena mendatangkan Kevin di waktu yang tepat. Ibarat buah, klub Bundesliga itu memanen Diks dalam kondisi matang sempurna, tanpa perlu dikarbit. Bek tim nasional Indonesia itu tiba di Jerman dengan modal yang sangat cukup. Seperti reputasi yang tak terbantahkan, pengalaman kompetisi Eropa, dan fanbase yang besar dari Indonesia.

Dalam skema permainan Gerardo Seoane, yang kerap mengandalkan pressing intens dan transisi cepat, Diks punya profil yang pas. Ia mampu menjaga kedalaman ketika tim bertahan, tetapi juga bisa memberi lebar serangan dengan overlap atau umpan silang akurat. Di luar itu, Diks kabarnya akan memainkan peran bek tengah di Gladbach.

Ini agak berbeda dari apa yang ia lakukan di Copenhagen dan Timnas Indonesia. Namun, posisi bek tengah bukan posisi yang asing bagi Diks. Selama karirnya, Diks tercatat sudah memainkan posisi bek tengah sebanyak 74 kali. Dari posisi ini, dirinya tetap punya naluri menyerang yang tinggi. Ia telah mencetak 7 gol dan 4 assist dari posisi itu.

Justin Hubner 

Selanjutnya ada El Preman, Justin Hubner yang memutuskan pindah ke Belanda untuk bergabung Fortuna Sittard. Menurut CNN Indonesia, Hubner menandatangani kontrak berdurasi tiga tahun. Dengan bergabung ke Fortuna Sittard, Hubner akan berjuang keras mendapatkan posisi di tim inti. Posisi yang tak pernah ia cicipi selama berseragam Wolves.

Eredivisie adalah babak baru bagi Hubner. Meski datang sebagai pemain yang belum punya pengalaman main di tim utama, Hubner dinilai punya kesempatan bermain reguler yang cukup besar. Pelatih Sittard, Danny Buijs terlihat punya pandangan yang berbeda pada Hubner. Ia melihat sebuah potensi yang dapat dimaksimalkan.

Sistem permainan Fortuna musim ini menuntut bek tengah yang bukan hanya kuat bertahan, tapi juga nyaman menguasai bola untuk membangun serangan dari belakang. Meski secara postur Hubner tidak terlalu kekar, spesifikasi itu jelas dimiliki oleh Hubner. 

Bersama Sittard, Hubner juga punya kesempatan memperluas jangkauan kariernya. Kalau tampil konsisten, bukan tidak mungkin pintu menuju klub papan atas Belanda macam Ajax atau PSV akan terbuka.

Nathan Tjoe-A-On

Masih dari Belanda, tapi kali ini dari kasta kedua. Ada Nathan Tjoe-A-On yang baru saja merampungkan kepindahannya dari Swansea ke Willem II. Di Swansea, karirnya tak berjalan dengan baik. Nathan tak mendapat kesempatan untuk menunjukan kebolehan. Maka dari itu, ia pulang ke Belanda demi mencari jam terbang.

Menit bermain adalah fokus Nathan. Karena ia ingin menghidupkan kembali karir sepakbolanya. Selain itu, mendapat jaminan bermain akan memudahkannya untuk bersaing di tim nasional. Sebab, Coach Patrick Kluivert lebih gemar memainkan pemain yang memiliki peran krusial di klubnya. Terbiasa berkompetisi dan tampil di lapangan dipercaya akan memberikan dampak positif bagi Skuad Garuda. 

Di bawah kendali John Stegeman, harapannya Nathan mampu mengeluarkan potensi maksimalnya. Dalam skema 4-3-3, bek kiri seperti Nathan mempunyai peran yang penting. Bukan cuma sebagai palang pintu pertahanan, melainkan juga overlap guna membantu serangan. Dengan atribut stamina, teknik, dan visi bermain Nathan bukan sekadar pelengkap, melainkan elemen penting di sisi kiri Willem musim ini.

Shayne Pattynama

Melipir ke Asia, ada Shayne Pattynama yang memilih untuk berkarir di Thailand, tepatnya Buriram United. Awalnya, ini jadi keputusan yang mengejutkan. Namun, terlihat realistis ketika melihat situasi di lapangan. Momen-momen sulit jadi makanan sehari-hari Pattynama di KAS Eupen. Itu tampaknya menjadi katalisator baginya untuk mencari tantangan baru, sebuah lingkungan yang bisa mengembalikan sinarnya.

Pindah ke Thailand tentu bukan tanpa resiko. Liga Thailand itu liga paling kompetitif se Asia Tenggara. Banyak pemain-pemain asing yang tak bisa survive di sana. Namun, bagi Pattynama, ini bisa jadi sebuah langkah strategis. Kompetisi di Thailand menawarkan menit bermain yang lebih konsisten. Terlebih, Buriram tampil di Liga Champions Asia. Ini adalah eksposur internasional yang berharga.

Dengan manajemen klub yang solid dan status tim yang mendominasi di Liga Thailand, Buriram United jadi kesempatan kedua bagi Pattynama. Kini, tugasnya cuma satu. Kerahkan seluruh kemampuan. Jika tidak, maka bermain di Liga 1 hukumnya mutlak. Ini tidak hanya berlaku pada Pattynama, tapi semua yang ada di daftar ini. Jangan contoh pemain yang onoh. Masih muda udah main di Indonesia. Duh, peningnye!

Sumber: Football Italia, Goal, Detik, Kompasiana

Dulu Pemain Termahal, Jack Grealish Kini Hidup Segan, Mati Tak Mau

0

Setelah rumor sana rumor sini, Manchester City resmi melepas Jack Grealish ke Everton musim panas ini. Jika harus menggambarkan karirnya di Manchester City, Grealish tak ubahnya taburan kacang di semangkuk bubur ayam. Secara tampilan, sebetulnya tak ada masalah. Justru terlihat memperindah. Tapi dari segi rasa, kacang seperti tak seharusnya berada di situ. 

Kacang adalah kondimen yang tak begitu penting di bubur ayam. Bahkan, bagi sebagian orang, kacang justru merusak tatanan kenikmatan. Grealish awalnya terlihat sebagai pelengkap yang sangat dibutuhkan Pep Guardiola untuk memperindah skuad City. Namun, ketika mulai mengisi, bersinergi, dan membangun koneksi, Grealish seperti kurang pas aja gitu.

Dengan demikian, Grealish pun mulai terpinggirkan. Tidak jadi konsumsi utama Pep Guardiola dalam memilih line up di setiap pekannya. Padahal Pep membawa Grealish ke Etihad Stadium tidak dengan harga yang murah. City bahkan rela mengangkat derajat Grealish sebagai pemain termahal Inggris kala itu. Lantas, apa yang membuat Grealish jadi seperti ini? 

Masa Jaya di Aston Villa

Sebelum akhirnya menjadi pribadi yang hidup segan, mati pun tak mau, Jack Grealish pernah mencapai puncak performa dan ketenaran. Itu terjadi bersama Aston Villa, klub yang pertama kali menemukan, mengembangkan, dan menerbitkan bakat Grealish. Pemain yang berposisi sayap itu adalah “anak emas” Aston Villa. Ia bukan sekadar pemain, tapi simbol identitas klub. 

Lahir dan besar di Birmingham, ia masuk akademi Villa sejak usia 6 tahun. Dari remaja berambut klimis yang gemar menggocek lawan, Grealish tumbuh menjadi jantung permainan tim. Salah satu momen terbaiknya adalah saat membantu Villa promosi ke Premier League di akhir musim 2018/19. Kala itu, tiket Premier League didapat melalui laga play off

Ketika peluit panjang dibunyikan, Stadion Wembley yang dipadati fans Aston Villa pun bergemuruh. Jack Grealish yang lagi-lagi ditunjuk sebagai kapten larut dalam kebahagiaan. Meski tak berkontribusi dalam gol yang tercipta, ia tetap senang. Musim 2019/20 pun jadi momen bersejarah karena ia bisa membawa Villa kembali ke kasta tertinggi.

Bukannya minder atau kagok, Grealish justru tampil semakin dominan di skuad Aston Villa. Meski timnya berjuang keras menghindari degradasi, Grealish tampil bak oase di tengah padang pasir. Dribelnya halus, visinya tajam, dan ia selalu punya keberanian untuk memegang bola di momen-momen krusial. 

Pemain Termahal

Musim berikutnya, ia makin matang. Memainkan peran free role di lini tengah, Grealish jadi tulang punggung tim. Pada titik ini, ia bukan hanya pemain bintang Villa, tapi juga salah satu playmaker paling kreatif di liga. Dengan kombinasi teknik dan kaus kaki cekaknya, Grealish seketika jadi ikon Villa kala itu. 

Semua unsur itu menjadi alasan mengapa Manchester City rela menggelontorkan 100 juta pound untuk mengamankan tanda tangannya pada musim panas 2021. Angka yang mampu memecahkan rekor transfer pemain Inggris. Grealish berstatus pemain termahal Inggris saat itu. 

Dari sudut pandang banyak orang, Jack Grealish sedang berada di puncak gunung kariernya. Bergabung City adalah jalan pintas menuju kesuksesan. Namun, yang tak banyak disadari saat itu, puncak juga berarti tak ada jalan lain selain turun. Dan mulai dari situ, jalur menurun yang berkelok pun mulai disetapaki oleh Grealish.

Tak Pernah Memukau

Mendarat di Etihad dengan banderol selangit, Jack Grealish pun langsung memikul ekspektasi yang menggunung. Semua membayangkan ia akan menjadi pengubah permainan, membawa sentuhan kreatif khasnya ke tim Pep Guardiola. Tapi kenyataannya, ya itu tadi, Grealish tak ubahnya kacang yang berada di semangkuk bubur ayam.

Skema permainan yang tak sesuai dengan identitas Grealish jadi salah satu masalah. Di Aston Villa, Grealish bebas berkeliaran, mengambil bola dari lini tengah, melakukan dribble panjang, lalu memutuskan sendiri bagaimana menyerang. Di City, Pep menuntut winger bermain disiplin, tetap melebar untuk membuka ruang, dan mengutamakan umpan aman ketimbang aksi individu berisiko.

Hal ini membuat beberapa atribut spesial Grealish tidak bisa kita nikmati lagi. Pep seperti menekan potensi sang pemain. Persaingan internal juga jadi batu sandungan. Di sisi kiri, ia harus bergantian dengan Phil Foden, Bernardo Silva, dan beberapa tahun kemudian, Jeremy Doku yang punya kecepatan eksplosif datang. Rotasi ini membuatnya sulit menemukan ritme. 

Di musim 2021/22, Grealish hanya mencatatkan 3 gol dan 3 assist saja. Itu menurun drastis dari musim sebelumnya saat ia mencatatkan enam gol dan 12 assist dari jumlah pertandingan yang sama, yakni 26 laga. Mungkin, karena musim pertama. Grealish yang sudah dari bocah main di Aston Villa kagok ketika masuk skema Pep Guardiola.

Cedera & Kebugaran

Tapi, anggapan itu salah. Di musim-musim berikutnya, Jack Grealish sama saja, justru semakin buruk. Faktor lain yang tak kalah berpengaruh adalah cedera. Grealish beberapa kali absen di momen krusial, membuatnya kehilangan momentum untuk membuktikan diri di skuad utama. 

Sebetulnya Grealish tak pernah memiliki riwayat cedera yang parah. Paling hamstring atau cedera otot. Maklum, pemain doyan lari. Namun itungannya sering. Menurut situs Transfermarkt, cedera yang membuatnya absen selama berminggu-minggu paling terjadi sebanyak empat kali saja. Sisanya, ya masalah kebugaran.

Memang, cederanya tak begitu parah, tapi ternyata cedera otot membuat kebugaran Grealish terganggu. Sementara itu, Pep Guardiola terkenal sangat perfeksionis soal kondisi fisik pemainnya. 100% atau tidak sama sekali. Grealish yang mentok di 80% pun sering terpinggirkan. Pep memilih pemain lain untuk mengisi posisi sayap yang memang krusial dan membutuhkan kemampuan fisik optimal.

Kehidupan Di Luar Lapangan

Namun, setelah diteliti lebih dalam, yang menyebabkan pemulihan cedera Jack Grealish membutuhkan waktu lama adalah kehidupan di luar lapangan. Di luar sepakbola, Grealish dikenal sebagai pribadi yang flamboyan, nyentrik, dan ya, doyan pesta dan mabuk-mabukan. 

Bahkan sejak masih di Aston Villa, foto-fotonya tengah berpesta, menikmati minum-minuman beralkohol dengan kondisi sedikit tipsy kerap beredar di media Inggris. Sisi glamour sebetulnya sudah melekat di kehidupan pesepakbola profesional. Tapi, kalau konteksnya Jack Grealish agak berlebihan ya. 

Bagi Grealish, pesta dan kehidupan sosial tampaknya menjadi cara melepas tekanan dari sorotan publik yang intens. Masalahnya, di lingkungan sepakbola profesional, kebiasaan seperti itu bisa jadi bumerang. Kian memburuk karena Grealish tak kenal waktu. Saat performa menurun, alih-alih stop pesta dan memperbaiki diri, Grealish malah menjadi-jadi. 

Pada akhirnya, gaya hidupnya di luar lapangan sering dianggap sebagai salah satu faktor yang membuatnya sulit mempertahankan konsistensi di level tertinggi. Mimin curiga, bukan kebugaran Grealish saja yang tak pernah mencapai 100%, tapi kesadarannya juga. Lucu juga sih kalau ternyata selama ini ia bermain dengan keadaan pengar. 

Gabung Everton

Musim 2024/25 pun jadi puncak kesabaran Pep Guardiola terhadap Jack Grealish. Namanya jadi pilihan ketiga bahkan keempat di posisi sayap. Di belakang Savinho, Jeremy Doku, dan Omar Marmoush. Grealish yang ternyata masih peduli dengan karirnya duduk satu meja dengan manajemen untuk membahas situasi ini.

Kedua belah pihak sepakat untuk membiarkan Grealish pergi mencari klub baru. Kabar ini disambut baik oleh klub-klub lain. Beberapa tim, seperti Bayer Leverkusen, Napoli, hingga Newcastle United mulai berbaris rapi untuk mengamankan tanda tangannya. Tetapi, dengan kesadaran penuh, Grealish justru memilih Everton. Ia bergabung sebagai pemain pinjaman.

Rival Liverpool itu punya nasib yang sama dengan Grealish. Sukses segan, degradasi pun tak mau. Terkatung-katung aja gitu di papan bawah. Selain kesamaan nasib, Everton dinilai menawarkan peran krusial kepada Grealish. Mereka menjamin menit bermain Grealish akan lebih banyak dari sebelumnya. 

Grealish memilih Everton bukan karena tak ada pilihan lain, tapi karena inilah pilihan yang paling tepat. Ia mencari tempat di mana bisa dicintai, bisa ditegakkan kembali, dan bisa bersinar sebagai pemain, bukan sekadar barang mahal di bangku cadangan. Good luck Jack!

Sumber: BBC, The Guardian, Bein Sport, Sky 

Panasnya Persaingan Striker Premier League Musim 2025/26

0

Layaknya sebuah kiblat, Premier League jadi destinasi yang paling diusahakan oleh pemain-pemain top Eropa. Tak terkecuali para striker yang sedang naik daun. Di musim panas ini, mereka berbondong-bondong hijrah ke Negeri Tiga Singa demi mengadu nasib. Mereka berani bersaing dengan para penghuni lama yang sudah menancapkan bendera atas namanya di panggung Premier League.

Jika musim lalu ada striker Nottingham Forest, Chris Wood yang tampil mengejutkan dan mendobrak dominasi daftar top skor Premier League dengan 20 golnya. Kira-kira siapa yang akan merangsak ke daftar atas top skor di musim 2025/26? Dan berikut panasnya persaingan striker Premier League musim depan! Ada striker idola kamu nggak ya, football lovers?

Erling Haaland

Meski Manchester City baru saja menjalani musim yang tak patut dibanggakan, Erling Haaland tetap siap untuk terus merobek jala gawang lawan. Musim lalu, tak ada yang pasti dari City, selain Haaland itu sendiri. Di musim terburuk City saja, Haaland tetap mampu mengemas 22 gol di Premier League 2024/25.

Well, meski menurun ketimbang musim sebelumnya, ini menunjukan bahwa Haaland masih menjaga garansi yang ia janjikan. Haaland tetap jadi mesin gol yang menggaransi 20 gol lebih tiap musimnya. Di ajang pramusim 2025, Haaland pun tetap menunjukan performa apik. Ia bahkan mencetak tiga gol dari empat pertandingan di Piala Dunia Antarklub kemarin.

Selain kemampuan individunya yang tak terelakan, alasan mengapa Haaland akan tetap jadi penghuni daftar teratas pencetak gol Premier League adalah rekan-rekan satu timnya. Pep Guardiola menambahkan pemain-pemain baru, seperti Tijjani Reijnders dan Rayan Cherki. Dua pemain kreatif yang bisa menjadi pelayan bagi Haaland di lini depan. Jika skema Pep Guardiola berjalan lancar, 25 gol akan mengucur deras dari kaki Haaland.

Viktor Gyokeres

Striker anyar Arsenal yang satu ini konon akan jadi pesaing ketat Erling Haaland. Viktor Gyokeres mengantongi modal bagus untuk tebar pesona di Premier League musim depan. Di musim lalu, pria Nordik ini telah mencetak 39 gol dari 33 pertandingan di Liga Portugal. Itu artinya Gyokeres mampu mencetak 1,2 gol per 90 menit. Statistik yang luar biasa.

Tapi kan itu di Liga Portugal. Levelnya jauh dari Premier League. Benar, tapi Gyokeres punya segala aspek untuk sukses di Premier League. Untuk liga yang mengandalkan kemampuan fisik, Gyokeres memiliki postur tinggi kekar. Cocok untuk berduel dengan tower pertahanan lawan. Bukan cuma itu, ia juga cepat dan tajam. Gyokeres sulit untuk dihentikan.

Bahkan, menurut Talksport, ada beberapa lembaga survey yang menyebut Gyokeres ini punya peluang lebih besar dari Erling Haaland dan Mo Salah untuk memenangkan sepatu emas musim 2025/26. Persentase striker asal Swedia itu mencapai 30%. Sedangkan Haaland hanya 20% dan Salah malah cuma punya kemungkinan di angka 10%. Agak ngenyek ya, tapi ya emang segitu hitung-hitungan mereka.

Hugo Ekitike

Tapi tak apa, toh, Mo Salah tak masuk daftar ini. Sebab, dirinya bukan berposisi sebagai striker, melainkan sayap. Yang akan mewakili Liverpool di daftar persaingan ini adalah Hugo Ekitike. Sama halnya dengan Viktor Gyokeres, pemain yang namanya kalau di balik tetap terbaca Ekitike ini berstatus pemain baru di Premier League. 

Musim lalu, Ekitike menikmati performa luar biasa di Bundesliga bersama Eintracht Frankfurt. Pemain asal Prancis ini mengemas 15 gol dalam 33 penampilan liga. Secara kematangan bermain, mungkin Ekitike masih harus beradaptasi dengan intensitas Premier League dan skema permainan Arne Slot.

Namun, di pramusim kemarin maupun di Community Shield, Ekitike memberikan sinyal positif. Ia mampu mencetak gol dan membangun kemistri yang kuat dengan pemain-pemain The Reds yang lain. Secara taktik dan karakter permainan, Ekitike sebetulnya, bukan mesin gol. Ia diharapkan membawa dimensi baru ke skema pressing Liverpool. Jika melihat kemampuan mencetak golnya di Bundesliga, tak salah dirinya masuk daftar ini.

Joao Pedro

Bergeser ke London, ada Joao Pedro. Agak bingung nih doi masuk kategori mana. Bukan muka baru sih di Premier League, tapi doi baru aja ganti klub. Dari Brighton ke Chelsea. Meski berstatus pemain baru, Pedro terlihat cepat beradaptasi. Mungkin ilmu adaptasi cepat yang dipelajari dari Brighton sangat berperan di sini.

Didatangkan di pertengahan kompetisi Piala Dunia Antarklub 2025. ia mulai membuktikan diri dengan performa patut diapresiasi. Debut di perempat final, Pedro kemudian mencetak brace di semifinal melawan mantan klubnya, Fluminense. Dalam hal peran dan kecocokan taktik, Joao Pedro dikenal sebagai penyerang serba bisa. Ia mampu beroperasi sebagai striker utama, second striker, bahkan di sayap atau posisi nomor 10.

Hanya perkara waktu saja sampai Enzo Maresca bisa memaksimalkan potensi Pedro di lini depan Chelsea. Musim lalu, dirinya hanya mencetak 10 gol di Premier League. Dengan pindah ke Chelsea, bebannya akan bertambah. Berada di tim yang cukup kolektif dalam mencetak gol, 18-20 gol tentu jadi target yang realistis bagi Pedro. 

Benjamin Sesko

Masih dari tim Big Six, ada Benjamin Sesko yang baru saja diresmikan Manchester United. Sebetulnya, bisa jadi perdebatan juga mengapa penyerang Slovenia masuk daftar ini. Apalagi jika melihat performa United musim lalu. Agaknya untuk bersaing di papan atas aja terdengar mustahil.

Namun, situasi ini justru bisa jadi momen Sesko untuk unjuk gigi. Dengan modal 13 gol di Bundesliga musim lalu, Sesko bisa jadi pembeda di lini depan. Secara permainan, Sesko adalah target man yang kuat, cepat, dan piawai mengeksploitasi ruang. Beberapa media bahkan menyamakannya dengan Erling Haaland. 

Jika demikian, maka Ruben Amorim akan sangat bergantung pada Sesko musim depan. Kreativitas dari Bruno Fernandes, Cunha, dan Mbeumo akan bermuara di Sesko. Mungkin, United tak akan langsung masuk 4 besar musim depan. Namun, separuh dari saldo gol United di Premier League musim depan bisa saja beratas namakan Benjamin Sesko.

Alexander Isak

Di luar big six, ada Alexander Isak bersama Newcastle United. Isak akan tetap valid dalam perburuan sepatu emas Premier League 2025/26 jika memutuskan untuk stay di Newcastle. Jika dirinya pindah ke Liverpool, misalnya, Isak tak akan jadi mesin gol utama. Ia harus berbagi peran dengan Mo Salah dan Hugo Ekitike.

Tak ada yang sebergantung itu pada Isak selain Newcastle. Isak dan Newcastle adalah dua unsur yang saling membutuhkan. Newcastle butuh Isak untuk memaksimalkan peluang yang ada, sedangkan Isak butuh Newcastle untuk menjadikannya striker utama di lini depan. Musim lalu, Isak mengemas 23 gol, satu gol lebih baik dari Haaland.

Dan musim depan, angka yang kurang lebih sama akan diminta oleh The Magpies. Isak memasuki musim 2025/26 dengan pondasi kuat sebagai salah satu striker paling produktif di Premier League. Isak punya segalanya untuk sukses. Ia cepat, cerdas, dan mampu mencetak gol dalam segala situasi. Dengan rekam jejak yang mapan dan status sebagai andalan taktis tim, Isak adalah kandidat serius di perburuan sepatu emas musim depan.

Ollie Watkins

Terakhir, ada Ollie Watkins dari Aston Villa. Sempat dirumorkan akan pindah ke Manchester United, Watkins tampaknya akan tetap jadi pahlawan Villa musim depan. Dia bukan cuma mesin gol, tapi juga punya keahlian dalam menciptakan peluang. Musim lalu, Watkins mengemas 16 gol di Premier League. Dan kini, Watkins siap meningkatkan jumlahnya.

Demi mengawali musim dengan tajam, Watkins bahkan bekerja ekstra di luar lapangan dengan pelatih performa pribadinya. Bukan cuma latihan fisik, Watkins kabarnya juga menonton beberapa video taktik untuk meningkatkan kinerjanya di kotak penalti lawan. Hasilnya terlihat di masa pramusim. Ia konsisten beri kontribusi penuh bagi tim

Kombinasi momentum pramusim dan rekor produktivitas yang menakjubkan, Watkins sudah siap bersaing dengan nama-nama baru. Sebagai pemain paling senior di daftar ini, Watkins siap buktikan. Bahwa pengalaman akan mengambil peran. 

Nah, segitu dulu daftar persaingan striker di Premier League musim depan. Menurut football lovers, yang jadi top skor salah satu dari mereka atau malah Mo Salah lagi nih?

Sumber: Sky Sport, The Athletic, Goal, BBC

MU vs Arsenal: Adu Mekanik Striker Baru di Premier League 2025/26

0

Laga perdana Manchester United di Premier League musim 2025/26 ibarat sepeda motor yang udah lama ngejogrok di parkiran, tiba-tiba dipake buat drag race di jalan raya. Skema permainan belum matang, kerangka tim belum terbentuk dengan baik, Setan Merah udah dipaksa untuk menghadapi Arsenal, tim yang musim lalu mengalahkan Real Madrid.

Ini bukan final kepagian lagi, tapi hari penghakiman bagi Manchester United. Jika mereka tampil buruk, sudah jelas mental pemain akan hancur. Kepercayaan fans pun akan terus menurun. Yaaa…. setidaknya selama satu minggu ke depan. Mereka yang tadinya yakin bakal tsunami trofi justru membanjiri kolom komentar dengan hujatan. 

Namun, di sisi lain keyakinan membara justru terpancar dari wajah Ruben Amorim. Pelatih asal Portugal itu menegaskan bahwa tim asuhannya punya semua modal untuk menaklukkan Arsenal. Ia ingin mengawali musim dengan indah. Apalagi laga ini dimainkan di Old Trafford, markas Setan Merah. 

Head to Head

Manchester United dan Arsenal sudah puluhan bahkan ratusan kali bertemu di Premier League. Namun, ada alasan yang membuat Ruben Amorim punya kepercayaan diri yang tinggi. Ya, head to head-nya dengan Arsenal asuhan Mikel Arteta cukup baik. Sejauh ini, Amorim dan Arteta sudah saling berhadapan sebanyak lima kali. 

Dari lima pertemuan itu, tak semuanya dimainkan dengan skuad Manchester United. Ada laga yang dimainkan Ruben Amorim sebagai pelatih Sporting CP. Pertemuan ini terjadi saat keduanya bertemu di babak 16 besar Europa League. Kedua laga berakhir imbang dengan skor identik, 2-2. Namun, pasukan Amorim menang di babak adu penalti.

Dengan begitu, Ruben Amorim mengantongi dua kemenangan, dua seri, dan baru kalah sekali dari Mikel Arteta. Kekalahan tersebut terjadi di pertemuan pertama di Premier League musim 2024/25. Kala itu, Amorim yang sudah menangani Manchester United kalah 2-0 di Emirates Stadium. Itu adalah pertandingan Premier League ketiga bagi Amorim. 

Kekalahan itu jadi pembelajaran bagi Amorim. Itu dibuktikan dengan hasil yang membaik di pertemuan berikutnya. Pada Maret 2025, Amorim pun telah memperbaiki skema permainannya. Bermain di Old Trafford, United yang tergopoh-gopoh di dasar klasemen pun berhasil menahan imbang Meriam London dengan skor 1-1.

MU Batu Sandungan Arsenal

Hasil imbang mungkin terkesan seperti win win solution. MU tak kalah, dan Arsenal tetap mendapatkan poin. Tapi, jika dipandang dari kacamata Arsenal, hasil imbang di paruh kedua musim 2024/25 adalah kegagalan yang memalukan. Bagaimana tidak? United kala itu bertengger di posisi 14 klasemen sementara. Sedangkan Arsenal masih berada di jalur perburuan gelar.

Hasil imbang melawan United pekan itu membuat Arsenal semakin jauh dari Liverpool di puncak klasemen. Karena di pekan yang sama, The Reds meraih kemenangan telak atas Soton. Tak berhenti di situ, United ini emang doyan jailin Arsenal. Mereka juga jadi batu sandungan Kai Havertz cs di ajang Piala FA. 

Bertemu di ronde ketiga, Arsenal justru ditahan imbang 1-1 oleh Bruno Fernandes cs. Padahal di laga itu United cuma main dengan sepuluh orang, usai Diogo Dalot diusir keluar karena melepaskan tekel keras ke Mikel Merino. Extra time berlangsung tanpa gol tambahan, kendati Arsenal terus menekan. Saat dilanjutkan ke adu penalti, di situlah petaka Arsenal muncul.

Arsenal terpeleset setelah Havertz gagal menjalankan tugasnya. Tendangan pemain Jerman itu berhasil diblokir oleh Altay Bayindir. Joshua Zirkzee kemudian menunaikan tugasnya dengan sempurna sebagai algojo penentu kemenangan 5-3 untuk United.

Kekuatan dan Kelemahan MU

Kepercayaan diri memang penting, tapi kepercayaan diri dan modal apik di musim lalu tak pernah cukup untuk menentukan bagaimana 90 menit ke depan akan berjalan. Apalagi ini musim baru. Sudah banyak perubahan dan penyesuaian yang dilakukan oleh kedua tim. Maka dari itu, di sini kita akan menganalisa kekuatan dan kelemahan masing-masing tim.

Dimulai dari Manchester United. Sebetulnya, kekuatan United masih belum tertakar. Sebab, lini depan mereka mengalami perombakan total. Matheus Cunha dan Bryan Mbeumo didatangkan. Dua pemain paling konsisten di Premier League musim lalu itu siap menunjukan kreativitas dan ketajaman guna mengobrak-abrik pertahanan Arsenal yang dipimpin Gabriel Magalhaes dan William Saliba.

Secara skema, Ruben Amorim terlihat akan menjadikan sayap sebagai pemikul peran krusial. Amorim biasanya mengandalkan formasi dasar 3-4-3 atau 3-4-2-1 yang bisa berubah menjadi 5-4-1 saat bertahan. Pola ini memberinya keuntungan melawan tim seperti Arsenal yang gemar membangun serangan lewat lini tengah dan sisi sayap. 

Dengan tiga bek tengah, Amorim bisa mengunci pergerakan penyerang Arsenal di half-space. Sementara wing-back siap melakukan pressing cepat ke Bukayo Saka maupun siapapun nanti yang menempati posisi sayap. Secara teori, memang begitu. Tapi pertahanan United sangat bermasalah dengan apa yang dinamakan IQ dan konsistensi.

Lini pertahanan United masih jadi titik terlemah dalam permainan. Mereka tak bisa menerjemahkan instruksi Ruben Amorim dengan baik dan benar. Disuruh menjalankan Plan A, bisa jadi yang diaplikasikan justru Plan K, bukan B lagi. Karena saking menyimpangnya. Terlebih, kiper MU musim depan kayaknya sih masih Andre Onana ya. Tempatkan bola di pojok gawang, niscaya bola akan masuk gawang dengan sendirinya. 

Kekuatan dan Kelemahan Arsenal

Sama halnya dengan Manchester United, Arsenal juga tampil agresif di bursa transfer musim panas kali ini. Mikel Arteta hampir mengeluarkan 200 juta pound untuk memperkuat timnya. Target pasti adalah memperbaiki kedalaman skuad. Maka dari itu, setiap lini mendapatkan pemain tambahan musim depan.

Kehadiran Martin Zubimendi dan Christian Norgaard memberikan kontrol dan kedalaman taktik di sektor tengah. Memungkinkan kombinasi Declan Rice dan Martin Odegaard tampil lebih leluasa dalam mendistribusikan bola dan mengatur tempo permainan. Arteta sepertinya ingin membangun tim yang mampu menguasai lini tengah. Ide ini sama seperti apa yang dilakukan gurunya, yakni Pep Guardiola di Manchester City.

Dengan mendominasi lini tengah, harapannya Arsenal bisa mengurung pertahanan United. Jika sudah demikian, maka kontrol permainan jelas jadi milik Arsenal. Selain itu, Arsenal masih mempertahankan kekuatan di lini belakang, terutama lewat duet William Saliba dan Gabriel. Ditambah, Arsenal punya dorongan yang kuat untuk membuktikan diri. Lagi pede pedenya nih mereka.

Tapi, bukan berarti Arsenal datang tanpa kelemahan. Setiap permasalahan sudah berusaha diselesaikan oleh Mikel Arteta. Tapi, sang pelatih lupa bahwa dirinya juga perlu dievaluasi. Terkadang, Arteta kurang kreatif dalam memilih pemain. Dirinya acap kali terlambat untuk memasukan pemain dari bangku cadangan demi mengubah permainan. 

Arteta tak piawai membawa anak asuhnya keluar dari tekanan. Itu pula yang membuat anak asuh Mikel Arteta kadang kesulitan mempertahankan keunggulan di babak kedua. Karena gaya bermainnya sama seperti babak pertama. Udah ketebak. Jadi, kalau United bisa unggul lebih dulu sih kelabakan tuh Arteta.

Adu Striker

Terus gimana soal efisiensi penyelesaian akhir dikenal jadi masalah Arsenal musim lalu? Tenang, masalah ini sudah ada solusinya. Mikel Arteta mendapatkan bala bantuan dari Viktor Gyokeres. Striker asal Swedia ini hadir sebagai target man yang kuat, mampu melakukan hold-up play, dan menambah dimensi baru bagi serangan Arsenal.

Posturnya pun sempurna untuk Premier League. Pria Nordik ini tinggi nan kekar layaknya para Viking. Jika Mikel Arteta mampu memaksimalkan potensi Gyokeres, ini akan membuka lembaran baru bagi sejarah lini depan Arsenal. Dalam konteks menghadapi Manchester United, keberadaan striker nomor 9 yang klinis bisa jadi pembeda.

Sialnya, bukan Arsenal saja yang punya bomber baru. Manchester United yang tak mau kalah juga memiliki Benjamin Sesko sebagai ujung tombak. Arsenal mungkin dikenal sebagai “Gudang Senjata”, tapi senjata buatan Slovenia ini belum pernah mereka cicipi. Sesko bukan sekadar nomor 9, dia adalah teka-teki yang belum sempat dibaca oleh Mikel Arteta.

Asli! Laga ini bakal jadi laga adu mekanik bagi dua penyerang ini. Jika laga antara MU dan Arsenal diibaratkan sebagai perang kecepatan dan kekuatan, maka Sesko dan Gyokeres bak dua bilah pedang yang saling beradu. Mereka akan saling unjuk ketajaman demi nasib klub di musim depan.

Sumber: Premier League, Metro, Football London