Dulu Pemain Termahal, Jack Grealish Kini Hidup Segan, Mati Tak Mau

spot_img

Setelah rumor sana rumor sini, Manchester City resmi melepas Jack Grealish ke Everton musim panas ini. Jika harus menggambarkan karirnya di Manchester City, Grealish tak ubahnya taburan kacang di semangkuk bubur ayam. Secara tampilan, sebetulnya tak ada masalah. Justru terlihat memperindah. Tapi dari segi rasa, kacang seperti tak seharusnya berada di situ. 

Kacang adalah kondimen yang tak begitu penting di bubur ayam. Bahkan, bagi sebagian orang, kacang justru merusak tatanan kenikmatan. Grealish awalnya terlihat sebagai pelengkap yang sangat dibutuhkan Pep Guardiola untuk memperindah skuad City. Namun, ketika mulai mengisi, bersinergi, dan membangun koneksi, Grealish seperti kurang pas aja gitu.

Dengan demikian, Grealish pun mulai terpinggirkan. Tidak jadi konsumsi utama Pep Guardiola dalam memilih line up di setiap pekannya. Padahal Pep membawa Grealish ke Etihad Stadium tidak dengan harga yang murah. City bahkan rela mengangkat derajat Grealish sebagai pemain termahal Inggris kala itu. Lantas, apa yang membuat Grealish jadi seperti ini? 

Masa Jaya di Aston Villa

Sebelum akhirnya menjadi pribadi yang hidup segan, mati pun tak mau, Jack Grealish pernah mencapai puncak performa dan ketenaran. Itu terjadi bersama Aston Villa, klub yang pertama kali menemukan, mengembangkan, dan menerbitkan bakat Grealish. Pemain yang berposisi sayap itu adalah “anak emas” Aston Villa. Ia bukan sekadar pemain, tapi simbol identitas klub. 

Lahir dan besar di Birmingham, ia masuk akademi Villa sejak usia 6 tahun. Dari remaja berambut klimis yang gemar menggocek lawan, Grealish tumbuh menjadi jantung permainan tim. Salah satu momen terbaiknya adalah saat membantu Villa promosi ke Premier League di akhir musim 2018/19. Kala itu, tiket Premier League didapat melalui laga play off

Ketika peluit panjang dibunyikan, Stadion Wembley yang dipadati fans Aston Villa pun bergemuruh. Jack Grealish yang lagi-lagi ditunjuk sebagai kapten larut dalam kebahagiaan. Meski tak berkontribusi dalam gol yang tercipta, ia tetap senang. Musim 2019/20 pun jadi momen bersejarah karena ia bisa membawa Villa kembali ke kasta tertinggi.

Bukannya minder atau kagok, Grealish justru tampil semakin dominan di skuad Aston Villa. Meski timnya berjuang keras menghindari degradasi, Grealish tampil bak oase di tengah padang pasir. Dribelnya halus, visinya tajam, dan ia selalu punya keberanian untuk memegang bola di momen-momen krusial. 

Pemain Termahal

Musim berikutnya, ia makin matang. Memainkan peran free role di lini tengah, Grealish jadi tulang punggung tim. Pada titik ini, ia bukan hanya pemain bintang Villa, tapi juga salah satu playmaker paling kreatif di liga. Dengan kombinasi teknik dan kaus kaki cekaknya, Grealish seketika jadi ikon Villa kala itu. 

Semua unsur itu menjadi alasan mengapa Manchester City rela menggelontorkan 100 juta pound untuk mengamankan tanda tangannya pada musim panas 2021. Angka yang mampu memecahkan rekor transfer pemain Inggris. Grealish berstatus pemain termahal Inggris saat itu. 

Dari sudut pandang banyak orang, Jack Grealish sedang berada di puncak gunung kariernya. Bergabung City adalah jalan pintas menuju kesuksesan. Namun, yang tak banyak disadari saat itu, puncak juga berarti tak ada jalan lain selain turun. Dan mulai dari situ, jalur menurun yang berkelok pun mulai disetapaki oleh Grealish.

Tak Pernah Memukau

Mendarat di Etihad dengan banderol selangit, Jack Grealish pun langsung memikul ekspektasi yang menggunung. Semua membayangkan ia akan menjadi pengubah permainan, membawa sentuhan kreatif khasnya ke tim Pep Guardiola. Tapi kenyataannya, ya itu tadi, Grealish tak ubahnya kacang yang berada di semangkuk bubur ayam.

Skema permainan yang tak sesuai dengan identitas Grealish jadi salah satu masalah. Di Aston Villa, Grealish bebas berkeliaran, mengambil bola dari lini tengah, melakukan dribble panjang, lalu memutuskan sendiri bagaimana menyerang. Di City, Pep menuntut winger bermain disiplin, tetap melebar untuk membuka ruang, dan mengutamakan umpan aman ketimbang aksi individu berisiko.

Hal ini membuat beberapa atribut spesial Grealish tidak bisa kita nikmati lagi. Pep seperti menekan potensi sang pemain. Persaingan internal juga jadi batu sandungan. Di sisi kiri, ia harus bergantian dengan Phil Foden, Bernardo Silva, dan beberapa tahun kemudian, Jeremy Doku yang punya kecepatan eksplosif datang. Rotasi ini membuatnya sulit menemukan ritme. 

Di musim 2021/22, Grealish hanya mencatatkan 3 gol dan 3 assist saja. Itu menurun drastis dari musim sebelumnya saat ia mencatatkan enam gol dan 12 assist dari jumlah pertandingan yang sama, yakni 26 laga. Mungkin, karena musim pertama. Grealish yang sudah dari bocah main di Aston Villa kagok ketika masuk skema Pep Guardiola.

Cedera & Kebugaran

Tapi, anggapan itu salah. Di musim-musim berikutnya, Jack Grealish sama saja, justru semakin buruk. Faktor lain yang tak kalah berpengaruh adalah cedera. Grealish beberapa kali absen di momen krusial, membuatnya kehilangan momentum untuk membuktikan diri di skuad utama. 

Sebetulnya Grealish tak pernah memiliki riwayat cedera yang parah. Paling hamstring atau cedera otot. Maklum, pemain doyan lari. Namun itungannya sering. Menurut situs Transfermarkt, cedera yang membuatnya absen selama berminggu-minggu paling terjadi sebanyak empat kali saja. Sisanya, ya masalah kebugaran.

Memang, cederanya tak begitu parah, tapi ternyata cedera otot membuat kebugaran Grealish terganggu. Sementara itu, Pep Guardiola terkenal sangat perfeksionis soal kondisi fisik pemainnya. 100% atau tidak sama sekali. Grealish yang mentok di 80% pun sering terpinggirkan. Pep memilih pemain lain untuk mengisi posisi sayap yang memang krusial dan membutuhkan kemampuan fisik optimal.

Kehidupan Di Luar Lapangan

Namun, setelah diteliti lebih dalam, yang menyebabkan pemulihan cedera Jack Grealish membutuhkan waktu lama adalah kehidupan di luar lapangan. Di luar sepakbola, Grealish dikenal sebagai pribadi yang flamboyan, nyentrik, dan ya, doyan pesta dan mabuk-mabukan. 

Bahkan sejak masih di Aston Villa, foto-fotonya tengah berpesta, menikmati minum-minuman beralkohol dengan kondisi sedikit tipsy kerap beredar di media Inggris. Sisi glamour sebetulnya sudah melekat di kehidupan pesepakbola profesional. Tapi, kalau konteksnya Jack Grealish agak berlebihan ya. 

Bagi Grealish, pesta dan kehidupan sosial tampaknya menjadi cara melepas tekanan dari sorotan publik yang intens. Masalahnya, di lingkungan sepakbola profesional, kebiasaan seperti itu bisa jadi bumerang. Kian memburuk karena Grealish tak kenal waktu. Saat performa menurun, alih-alih stop pesta dan memperbaiki diri, Grealish malah menjadi-jadi. 

Pada akhirnya, gaya hidupnya di luar lapangan sering dianggap sebagai salah satu faktor yang membuatnya sulit mempertahankan konsistensi di level tertinggi. Mimin curiga, bukan kebugaran Grealish saja yang tak pernah mencapai 100%, tapi kesadarannya juga. Lucu juga sih kalau ternyata selama ini ia bermain dengan keadaan pengar. 

Gabung Everton

Musim 2024/25 pun jadi puncak kesabaran Pep Guardiola terhadap Jack Grealish. Namanya jadi pilihan ketiga bahkan keempat di posisi sayap. Di belakang Savinho, Jeremy Doku, dan Omar Marmoush. Grealish yang ternyata masih peduli dengan karirnya duduk satu meja dengan manajemen untuk membahas situasi ini.

Kedua belah pihak sepakat untuk membiarkan Grealish pergi mencari klub baru. Kabar ini disambut baik oleh klub-klub lain. Beberapa tim, seperti Bayer Leverkusen, Napoli, hingga Newcastle United mulai berbaris rapi untuk mengamankan tanda tangannya. Tetapi, dengan kesadaran penuh, Grealish justru memilih Everton. Ia bergabung sebagai pemain pinjaman.

Rival Liverpool itu punya nasib yang sama dengan Grealish. Sukses segan, degradasi pun tak mau. Terkatung-katung aja gitu di papan bawah. Selain kesamaan nasib, Everton dinilai menawarkan peran krusial kepada Grealish. Mereka menjamin menit bermain Grealish akan lebih banyak dari sebelumnya. 

Grealish memilih Everton bukan karena tak ada pilihan lain, tapi karena inilah pilihan yang paling tepat. Ia mencari tempat di mana bisa dicintai, bisa ditegakkan kembali, dan bisa bersinar sebagai pemain, bukan sekadar barang mahal di bangku cadangan. Good luck Jack!

Sumber: BBC, The Guardian, Bein Sport, Sky 

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru