Tak seperti biasanya, geliat transfer Arsenal musim panas kali ini terasa amat pas. Kayak sesuai kebutuhan aja gitu. Tapi, ada satu hal yang tak berubah dari skema transfer mereka. Ya, selalu beli pemain dari Chelsea Mart. Setidaknya ada dua pemain The Blues yang mendarat di Emirates Stadium. Mereka adalah Kepa Arrizabalaga dan Noni Madueke.
Entah ini strategi jitu atau cuma kebetulan yang kebablasan, belanja pemain Chelsea udah kayak hobi bagi Arsenal. Setiap bursa transfer dibuka, manajemen Arsenal seperti mondar-mandir di depan Stamford Bridge sambil ngintip siapa yang mau dijual. Begitu Chelsea bilang, “Eh, mau jual pemain nih…,” Arsenal langsung nyamber layaknya ibu-ibu kalau disamperin pedagang sayur.
Padahal, kalau dipikir-pikir lagi, aneh nggak sih belanja pemain Chelsea? Mereka berdua kan adalah rival sekota. Hmmm, ini Arsenal yang doyan sama bekas pemain Chelsea, atau ada “tukang sayur langganan” di London Barat yang tiap pagi nganterin stok pemain segar ke London Utara ya? Untuk menjawab itu, mari kita bedah bersama.
Daftar Isi
Mulai Kapan?
Ketimbang hobi, mungkin kepindahan pemain yang melibatkan dua klub ini bisa disebut sebagai sebuah tradisi. Chelsea seperti memberi upeti dalam bentuk pemain kepada Arsenal, begitu pun sebaliknya. Lantas, sejak kapan transaksi keduanya dimulai? Kalau mau ditarik ke halaman pertama, sudah terjadi lama banget.
Menurut data yang ada di Transfermarkt, pemain pertama yang pindah dari Chelsea ke Arsenal adalah Billy Dickson. Transfer ini terjadi pada tahun 1953. Namun, kalau di era Premier League, transfer pertama yang terjadi dari Chelsea ke Arsenal adalah William Gallas. Pemain berposisi bek tengah itu pindah dengan status bebas transfer tahun 2006.
Setelah itu, banyak transaksi yang melibatkan dua klub London ini. Dari tim senior sampai tim junior, semuanya pernah saling bertukar pemain. Kalau dari tim muda, contohnya ada Eddie Nketiah yang pindah dari Chelsea Youth ke Arsenal U-18 pada tahun 2015. Kepindahan pemain dari Chelsea ke Arsenal semakin masif ketika memasuki tahun 2010-an.
Di awali oleh Yossi Benayoun sebagai pemain pinjaman pada tahun 2011, setidaknya dalam kurun waktu 15 tahun itu ada sepuluh pemain Chelsea yang pindah ke London Utara. Bahkan acap kali melibatkan pemain-pemain besar macam Petr Cech, Raheem Sterling, Jorginho, atau David Luiz.
Faktor Geografis
Lantas, mengapa fenomena ini bisa terjadi? Banyak faktor yang mendorong Arsenal untuk selalu mengambil pemain-pemain Chelsea. Salah satunya adalah faktor geografis. Chelsea dan Arsenal adalah klub yang sama-sama berasal dari Kota London. Hanya beda wilayah saja. Perpindahan ini bisa dilakukan tanpa ganti rumah, sekolah anak, atau lingkungan sosial.
Jelas, ini jadi poin-poin penting bagi para pemain untuk menerima pinangan dari Arsenal. Bagi pemain yang sudah mapan secara keluarga, ini faktor besar untuk menghindari stres adaptasi. Tetap berada di kota yang sama artinya sang pemain tak perlu mengeluarkan biaya pindahan besar atau penyesuaian besar dalam gaya hidup.
Dari sudut pandang Arsenal pun untung. Dengan membeli pemain Chelsea, mereka tak perlu menunggu sang pemain untuk beradaptasi. Terutama soal kehidupan sosial, budaya, cuaca, dan lingkungan hidup di London. Secara taktikal, pemain dari Chelsea juga sudah terbiasa dengan tempo, fisik, dan atmosfer Premier League. Kalau bahasa kerennya, EPL Proven. Sehingga bisa langsung main tanpa masa adaptasi panjang.
Kebutuhan Arsenal
Status EPL Proven memang sangat penting untuk stabilitas performa Arsenal. EPL Proven juga bisa berarti pemain itu memang sudah berpengalaman. Poin ini juga yang dicari oleh Arsenal dari pemain-pemain Chelsea. Itu dibuktikan dengan beberapa pemain yang didatangkan telah berusia matang dan memiliki kontribusi besar di musim-musim sebelumnya.
Contohnya saja saat Arsenal mendatangkan sosok yang punya kedewasaan macam Jorginho. Di ruang ganti yang dipenuhi talenta belia seperti Bukayo Saka atau Gabriel Martinelli, atau William Saliba, pemain seperti Jorginho hadir untuk mengendalikan suasana.
Jorginho atau pemain-pemain macam Raheem Sterling dan Willian membimbing generasi baru memahami ritme kompetisi. Mereka bisa mengajarkan bagaimana mengelola tekanan dalam laga besar. Selain kedewasaan, kebutuhan taktik juga harus dipenuhi. Mikel Arteta memandang beberapa pemain memiliki potensi besar untuk fit di skema permainannya.
Biasanya, Mikel Arteta juga mengambil pemain-pemain yang gagal berkembang maksimal di Chelsea dengan harapan bisa mengeluarkan keseluruhan potensinya. Contoh berhasil adalah Kai Havertz. Didatangkan Chelsea dari Bayer Leverkusen, performanya angin-anginan. Sementara di Arsenal, perkembangannya memang lambat. Tapi, secara grafik, performa Kai terus meningkat dan bisa kawin dengan skema permainan Arteta.
Chelsea Sering Surplus Pemain
Faktor lain datang dari Chelsea itu sendiri. Chelsea Mart dalam beberapa tahun terakhir sering terlihat seperti supermarket mewah yang kebanyakan stok. Setiap bursa transfer, mereka belanja besar-besaran. Kadang sampai fans bingung untuk menghafal siapa lagi pemain-pemain yang didatangkan. Udah banyak, kadang mukanya mirip-mirip pula, jadi bingung kan.
Hasilnya, ruang ganti jadi penuh sesak, dan beberapa pemain pun mau tak mau tersisih dari rencana pelatih. Di sinilah Arsenal masuk dengan muka manis, seperti tetangga yang kebetulan lewat saat kamu lagi jualin barang-barang di gudang.
Bagi The Blues, melepas pemain surplus membantu menyeimbangkan keuangan dan mematuhi aturan Financial Fair Play. Bagi Meriam London, ini kesempatan emas untuk mendapatkan pemain berpengalaman, siap pakai, dan biasanya dengan harga yang lebih ramah di kantong. Namanya juga barang obralan.
Meski di atas kertas ini bisnis, rasanya kok seperti simbiosis. Chelsea lega gudang mereka longgar, Arsenal senang lemari mereka terisi pemain kelas atas. Pemain-pemain yang pindah dengan situasi ini misalnya Raheem Sterling yang gagal total di Chelsea, tapi menurut Arteta masih bisa dipakai buat pelapis Saka.
Atau, Kepa, kiper termahal di dunia ini udah nggak ada harganya di Chelsea, tapi mainnya di Bournemouth kemarin masih oke. Angkut aja. Lumayan buat back up David Raya.
Hubungan Baik
Di luar itu semua ada beberapa faktor pendukung lain yang membuat Arsenal tak bosan-bosan bertransaksi dengan Chelsea. Yang pertama adalah hubungan baik dengan Chelsea. Walaupun di atas lapangan kedua tim adalah rival, tapi di luar lapangan kedua klub ini memiliki koneksi yang sangat baik. Bahkan menurut Standard, Mikel Arteta mengakui bahwa Chelsea selalu punya pemain-pemain yang bagus.
Hubungan bisnis yang sudah terjalin lama melahirkan trust. Setiap negosiasi pun menjadi lebih lancar. Chelsea seperti melunak jika yang datang adalah Arsenal. Manajemen Arsenal tahu The Blues adalah klub yang mampu menjaga kesepakatan tanpa drama berlebihan, begitupun Chelsea melihat Arsenal sebagai pembeli serius yang tidak suka tarik ulur berlarut-larut.
Selain itu, pejabat klub, direktur olahraga, hingga bagian legal dan negosiasi dari kedua tim sudah terbiasa berinteraksi, baik di forum resmi seperti rapat Premier League maupun di acara sosial sepak bola London. Hubungan ini meminimalkan gesekan dan mempercepat proses negosiasi transfer pemain. Lebih hemat waktu, tenaga, dan biaya ketimbang harus bernegosiasi dengan klub luar kota atau luar negeri.
DNA Juara, Tapi…
Kedua adalah kepercayaan Arsenal bahwa pemain Chelsea ini punya DNA juara yang begitu kental. Selama dua dekade terakhir, Chelsea terbiasa bermain di level tertinggi. Mereka bahkan keluar sebagai juara Premier League, Liga Champions, bahkan Liga Konferensi Eropa. Maka dari itu, Arsenal sempat memboyong Petr Cech ke London Utara.
Pemain yang sudah lama berkostum biru biasanya sudah terbentuk dalam lingkungan yang menuntut kemenangan di setiap laga dan terbiasa menghadapi tekanan final. Mereka juga paham betul bagaimana menjaga konsistensi sepanjang musim. Bagi Arsenal yang sedang membangun skuad, suntikan DNA juara seperti ini sangat berharga.
Sialnya, DNA yang diharapkan tak kunjung menular. DNA juara yang ada di diri Kai Havertz, Jorginho, hingga Petr Cech seakan telah bermutasi seiring terkontaminasinya para pemain tersebut dengan DNA wong kalahan yang dimiliki oleh Arsenal.
Sumber: Standard, Telegraph, Tribalfootball, Kompas


