Semenjak tekel keras Paulinho ke kaki Ole Romeny, kita seperti berpacu dengan waktu. Tanggal 17 Juli pun ditetapkan sebagai hari tindakan medis. Ole butuh operasi sesegera mungkin. Tapi tak ada yang bisa memastikan kapan ia benar-benar kembali. Pelatih Oxford United, Gary Rowett cemas, pelatih Timnas Indonesia, Patrick Kluivert pun cemas. Semuanya cemas menunggu update kondisi Ole tiap harinya.
Di tribun dan media sosial, suporter Timnas Indonesia terjebak di antara dua perasaan. Optimisme bahwa Romeny akan bangkit, dan kekhawatiran bahwa cedera ini akan memakan lebih banyak waktu daripada yang diharapkan. Dengan segala keraguan yang ada, PSSI harus mengambil keputusan cepat dan tepat.
Sebab, Timnas Indonesia yang sedang mempersiapkan diri menuju Ronde 4 Kualifikasi Piala Dunia 2026 tidak punya amunisi cadangan serupa. Opsi lain sebenarnya tersedia, namun itu dinilai tak cukup untuk bersaing dengan tim-tim macam Irak dan Arab Saudi. Di tengah keputusasaan. Di tengah kecemasan akan kondisi Ole Romeny. Muncul satu nama pembawa harapan. Ia adalah Thijs Dallinga.
Dia adalah striker Grade A yang konon bisa segera dinaturalisasi. Lantas, siapa sebenarnya pemain berusia 25 tahun itu? Mampukah ia menjadi jawaban dari krisis striker tajam yang sedang dihadapi Timnas Indonesia?
Daftar Isi
Opsi Tersedia
Apakah kalimat krisis striker tajam adalah kata yang tepat untuk menggambarkan situasi saat ini? Mungkin bagi sebagian besar insan persepakbolaan Indonesia, itu terdengar berlebihan. Namun, jika kita berbicara pada level permainan Ole Romeny, maka tak ada salahnya menggunakan frasa itu.
Sebetulnya, masih ada Rafael Struick yang memiliki mobilitas tinggi. Lalu, ada striker nomor 9 klasik di diri Ramadhan Sananta, hingga striker bermental baja macam Hokky Caraka. Bahkan, jika dibutuhkan, kita bisa memanggil Jens Raven dari tim muda Indonesia. Namun, sekali lagi, semuanya tidak berada di level yang sama dengan Romeny.
Romeny punya dimensi sendiri di sepakbola Indonesia. Dia cepat, dia lincah, dia pun memiliki mobilitas tinggi. Selain itu, Romeny punya kemampuan penempatan posisi yang baik. Dia piawai memainkan kombinasi umpan untuk memecah pertahanan lawan. Yang terpenting, dia punya insting mencetak gol yang sangat baik. Dia adalah striker komplit yang dimiliki Indonesia. Ia adalah gabungan dari Struick, Sananta, Hokky, dan Raven.
Maka dari itu, sulit bagi Coach Patrick untuk menggantikan perannya di lini depan. Naturalisasi striker baru pun kabarnya akan jadi solusi jitu. Mauro Ziljstra kabarnya akan segera merapat. Namun belum ada perkembangan lagi.
Di luar itu, kabarnya ada dua nama lagi yang sedang diusahakan. Menurut Bola.com, Erick Thohir, masih enggan membocorkan nama kedua pemain tersebut. Namun, muncul rumor di dunia maya, jika satu dari dua pemain tersebut adalah Thijs Dallinga.
Siapa Thijs Dallinga?
Lantas, siapa pemain yang satu ini? Thijs Dallinga adalah penyerang Belanda kelahiran Groningen pada 3 Agustus 2000. Dengan tinggi 190 cm, pemain yang kini memperkuat tim Serie A, Bologna itu dikenal sebagai penyerang tengah yang tangguh dalam duel, baik udara maupun darat.
Lahir dan besar di Belanda, Dallinga memulai kariernya di akademi FC Emmen setelah bermain untuk klub lokal VV Siddeburen dan VV Hoogezand. Ia melakukan debut profesional pada November 2017. Dallinga pun menjadi bagian dari tim Emmen yang mengamankan satu tiket promosi ke kasta tertinggi Liga Belanda tahun 2018.
Tak mendapat jaminan starter di skuad utama Emmen, Dallinga menandatangani kontrak tiga tahun dengan Groningen. Awalnya ia bergabung dengan tim cadangan di Derde Divisie. Namun, ia dipromosikan ke tim utama setelah tim cadangan klub menarik diri dari kompetisi. Meki begitu, debutnya di Eredivisie baru tercipta pada tahun 2020. Ia memperkenalkan diri kepada publik Groningen sebagai pemain pengganti di laga melawan RKC Waalwijk.
Setelah itu, Dallinga kian eksis di persepakbolaan Belanda. Terlebih saat dirinya bermain untuk Excelsior tahun 2021. Meski saat itu harus turun level ke Eerste Divisie, Dallinga justru mencapai performa terbaik. Ia mencetak 36 gol dalam 43 pertandingan di semua kompetisi. Performanya yang impresif membantu Excelsior promosi ke Eredivisie. Diam-diam, Thijs Dallinga jadi pemain spesialis promosi di Belanda.
Performa menawannya pun membuat namanya masuk radar klub Ligue 1, Toulouse. Bermain di Ligue 1, Dallinga tampil konsisten. Selama dua musim membela tim yang identik dengan warna ungu itu, Dallinga konsisten mencetak lebih dari 15 gol di semua kompetisi. Performa ini lah yang pada akhirnya mengantarkan sang pemain ke Serie A.
Kehebatan Dallinga
Sayangnya, performa Thijs Dallinga di Serie A justru menurun. Di musim 2024/25, ia memang memainkan 33 pertandingan di Serie A. Namun, sebagian besar dimulai dari bangku cadangan. Hal itu membuat jumlah golnya menurun drastis menjadi tiga gol saja. Tapi tunggu dulu, jangan pesimis. Meski demikian, Dallinga punya atribut yang dibutuhkan untuk menjadi striker top.
Thijs Dallinga adalah striker langka di sepakbola modern. Bertipe sebagai nomor 9 klasik, Dallinga dapat diandalkan di kotak penalti karena memiliki penyelesaian yang klinis. Berkat kualitas fisik yang oke dan kemampuan membaca permainan yang jitu, Dallinga mampu mencetak gol di berbagai situasi.
Walaupun memiliki postur tinggi, Dallinga bukan striker lambat. Dirinya punya kecepatan dan etos kerja tinggi. Sama halnya dengan Ole Romeny, Dallinga juga bisa turun ke area tengah untuk meloloskan diri dari pressing lawan dan menciptakan link up play yang bisa memudahkan tim masuk ke pertahanan lawan.
Dia adalah striker komplit. Thijs Dallinga adalah striker modern dengan karakteristik klasik. Statistik dan performanya di Ligue 1 hingga Serie A menunjukkan bahwa dia bukan untuk pelapis saja. Ia bisa jadi pemain yang diandalkan.
Eligible?
Okey cukup sudah mengenal siapa Thijs Dallinga. Namun, ada pertanyaan baru yang muncul. Apakah dia eligible atau memenuhi syarat untuk menjadi pemain Timnas Indonesia? Kita akan membahas tentang garis keturunannya dulu. Sejauh ini, belum ada informasi pasti atau konfirmasi langsung dari pihak Dallinga kalau dirinya punya darah Indonesia.
Bahkan, secret agent pemain keturunan, yakni Yussa Nugraha belum bisa memastikan itu. Dalam kanal YouTube-nya, Yussa mengkonfirmasi bahwa ia sudah menghubungi pihak Dallinga. Tujuannya, untuk melakukan wawancara singkat, sama seperti pemain-pemain keturunan lain. Namun, sang pemain tak kunjung memberikan lampu hijau.
Namun, menurut hasil penelusuran tim Starting Eleven Story, ada korelasi yang cukup kuat antara striker Bologna itu dengan Indonesia. Beberapa sumber menyebutkan bahwa keluarga besar Dallinga pernah tinggal di kawasan Tanjung Priok, Jakarta Utara, pada era 1950-an. Itu dibuktikan dengan munculnya marga Dallinga di arsip era kolonial. Di situ menjelaskan bahwa ada marga Dallinga yang sempat tinggal dan menetap di Jakarta.
Statusnya pun hanya pernah sekali bermain di Timnas Belanda senior. Ia tampil di laga melawan Gibraltar di ajang Kualifikasi Euro 2024 pada tahun 2023. Namun, karena belum ada konfirmasi apa pun tentang garis keturunannya, status Dallinga masih tanda tanya. Jika terkonfirmasi pun, ada pertanyaan lain yang muncul. Thijs Dallinga ini keturunan klan Dallinga yang keberapa? Kalau sudah masuk generasi keempat, jelas namanya tak eligible untuk dinaturalisasi.
Cocok Untuk Timnas Indonesia?
Kalau nantinya ternyata eligible, emang Thijs Dallinga cocok dengan skema Patrick Kluivert? Kehadiran Thijs Dallinga ke skuad Patrick Kluivert bisa jadi tambahan yang menarik. Dengan gaya bermain yang jauh berbeda dengan Ole Romeny, harusnya Dallinga tak mengalami kesulitan untuk melebur ke skema Coach Patrick.
Dengan sentuhan yang tepat dari Kluivert dan Alex Pastoor, Dallinga tidak hanya akan menjadi penyerang yang efektif, tapi juga sosok sentral yang bisa menaikkan level permainan Timnas Indonesia secara keseluruhan. Namun semua itu tetap berada di garis tipis antara harap-harap cemas dan potensi gemilang. Tergantung bagaimana ia beradaptasi dan ekspektasi netizen.
Sumber: Suara, Bola, Tribunnews, Bolasport


