Sebentar lagi kita akan mengetahui siapa yang akan meraih gelar Ballon d’Or 2025. Dalam urutan power ranking yang dipublikasikan oleh Goal, mereka menempatkan enam pemain PSG dalam urutan sepuluh besar. Dari enam pemain itu, dua diantaranya adalah Achraf Hakimi dan Nuno Mendes yang sama-sama berposisi bek sayap.
Wajar jika mereka masuk 10 besar. Mereka adalah elemen penting di setiap skema serangan tim asuhan Luis Enrique musim lalu. Tapi, ada fakta menarik kalau kita ngomongin soal bek sayap di ajang Ballon d’Or. Meme “Lu tuh nggak diajak” mungkin jadi lelucon yang tepat untuk diberikan ke pemain-pemain yang memainkan posisi tersebut.
Karena dari berbagai macam posisi di sepakbola, bek sayap satu-satunya posisi yang belum pernah memenangkan penghargaan individu paling bergengsi di dunia ini. Coba saja kalian cari di google atau AI jenis apa pun. Tak ada satupun nama bek sayap yang menggondol Ballon d’Or. Tapi, mengapa fenomena ini bisa terjadi? Ternyata ada banyak faktor yang mendasari fenomena ini. Mari kita bahas.
Daftar Isi
Hampir Semua Posisi
Sejak penghargaan Ballon d’Or pertama kali diberikan pada tahun 1956, penghargaan ini selalu berpindah-pindah dari posisi satu ke posisi lain. Maka dari itu agak lucu ketika kita mendengar fakta bahwa bek sayap tak pernah meraih Ballon d’Or. Padahal penghargaan prestisius itu pernah diberikan kepada seorang kiper. Lev Yashin satu-satunya penjaga gawang yang menerima penghargaan ini.
Loh, tapi kan bek juga pernah dapet min? Benar, tapi bukan bek sayap. Kebanyakan ya bek tengah. Seperti Franz Beckenbauer atau Fabio Cannavaro. Selain bek, gelandang juga banyak. Tercatat ada empat gelandang yang meraih penghargaan ini. Terbaru, ada Luca Modric dan Rodri. Sementara dari sektor sayap dan striker sangat banyak.
Bisa kita lihat, dari tahun 2000 hingga 2024, selalu didominasi oleh penyerang dan sayap. Bahkan, didominasi oleh persaingan dua GOAT, Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo. Terakhir kali seorang bek meraih penghargaan ini ya Fabio Cannavaro yang saat itu mengantarkan Timnas Italia juara Piala Dunia tahun 2006. Dari 68 kali penghargaan ini diberikan, tak ada satupun yang jatuh ke tangan pemain berposisi bek sayap.
Posisi Nggak Penting?
Lantas, mengapa fenomena ini bisa terjadi? Ada beberapa faktor yang mendorong hal ini terjadi. Salah satunya adalah dogma tentang posisi bek sayap itu sendiri. Ada opini lawas yang cukup terkenal kalau bek sayap adalah posisi pelengkap di sepakbola. Karena posisi bek sayap adalah posisi paling gampang untuk dimainkan.
Ibaratnya, kalo adik kalian mau ikut main bola, tapi nggak jago-jago amat, posisi bek kanan atau kiri adalah posisi yang tepat. Kecuali kalau posturnya gempal, udah pasti jadi kiper itu. Bek sayap lebih berperan sebagai penghubung antar lini. Mereka menjadi “pendukung utama” bukan bintang utama dalam permainan.
Dogma ini bahkan jadi premis di anime berjudul Ao Ashi. Ashito Aoi, sang tokoh utama dalam serial anime ini awalnya memandang sebelah mata posisi bek sayap. Ia datang ke dunia sepakbola dengan mimpi besar sebagai penyerang. Mencetak banyak gol dan menjadi pusat sorotan.
Baginya, bermain di depan berarti menjadi “pahlawan” di setiap laga. Sedangkan posisi bek sayap menurutnya hanya pemain bertahan di pinggir lapangan. Kurang heroik dan tidak akan membuatnya terkenal. Maka dari itu, saat pelatih meminta Ashito untuk bermain sebagai bek sayap, ia merasa terhina. Ia sedih. Ia merasa seperti semua mimpinya hancur.
Pola pikir Ashito yang seperti itu muncul karena dalam skema sepakbola tradisional, serangan dibangun dari gelandang atau penyerang tengah. Bek sayap jarang terlibat langsung dalam gol, sehingga kontribusi mereka sulit “terlihat” bagi penonton awam.
Ballon d’Or Condong ke Pemain Ofensif
Posisi sepakbola yang mudah terlihat dan tersorot jelas posisi yang punya prinsip bermain ofensif. Dan dalam sejarahnya, Ballon d’Or memang condong ke pemain-pemain menyerang. Menurut data yang dikemukakan oleh Top End Sport, dari 68 trofi Ballon d’Or yang sudah diberikan, 43 diantaranya dimenangkan oleh penyerang. 9 kali oleh gelandang serang, dan 7 kali oleh pemain winger asli.
Alasannya sederhana. Sepak bola adalah olahraga hiburan, dan tidak ada yang lebih mudah menggetarkan hati penonton selain gol spektakuler atau aksi solo yang menembus jantung pertahanan lawan. Seorang penyerang bisa mencetak satu gol dan menjadi pahlawan, sementara seorang bek sayap mungkin ia bekerja sempurna sepanjang 90 menit, namun hanya sedikit yang notice.
Kalau pun posisi bertahan ingin diakui, publik dan juri Ballon d’Or cenderung memilih bek tengah atau kiper sekalian. Karena mereka dianggap benar-benar “tembok utama” tim. Bek sayap justru sering dianggap pelengkap yang bisa diganti atau digeser ke posisi lain. Posisi bek sayap juga mudah digantikan oleh pemain yang lain, seperti winger atau bek tengah.
Evolusi Peran
Evolusi peran yang terlambat juga jadi salah satu alasan mengapa bek sayap kurang populer di bursa pemain terbaik Eropa. Berbeda dengan gelandang, bek atau striker, bek sayap jadi yang paling jarang dieksplorasi. Selama beberapa dekade, tugas bek sayap ya gitu-gitu aja.
Berdiri di garis terluar, jarang melintasi setengah lapangan lawan, tugas utamanya pun sederhana. Hentikan winger, merebut bola, lalu serahkan kepada gelandang atau penyerang. Namun, perlahan kiblat sepakbola mulai berubah. Tahun 2010-an, manajer-manajer visioner mulai sadar bahwa sisi lapangan adalah jalur yang belum dimanfaatkan sepenuhnya.
Bek sayap mulai diberi kebebasan maju, membantu serangan, bahkan menjadi sumber kreativitas. Contohnya sudah banyak, seperti Trent Alexander-Arnold yang diubah menjadi playmaker sewaktu di Liverpool, Alejandro Grimaldo yang sering merangsak ke kotak penalti atau mungkin Achraf Hakimi di PSG. Mereka kadang jadi pemecah kebuntuan lini serang.
Perubahan ini masih relatif baru, belum bisa diterima oleh banyak orang. Sementara Ballon d’Or sudah dari puluhan tahun lalu. Jadi, butuh transisi untuk seluruh mata dunia sadar bahwa bek sayap punya kontribusi besar dalam sebuah tim.
Faktor Komersial
Tak melulu dari dalam lapangan, faktor dari luar lapangan juga ada. Ya faktor komersial misalnya. Ketika sebuah klub merilis poster pertandingan besar, siapa yang terpampang di tengah? Hampir selalu penyerang andalan atau gelandang kreatif. Yang tampil adalah wajah yang identik dengan gol, selebrasi ikonik, dan momen-momen yang memicu decak kagum.
Nah, efeknya pun menjalar jauh. Publik yang terus dijejali wajah para penyerang dan playmaker mulai menganggap kalau tokoh utama dalam drama sepakbola ya mereka. Persepsi ini, disadari atau tidak ikut mempengaruhi juri Ballon d’Or. Dalam benak mereka, penghargaan prestisius itu sudah seharusnya diberikan pada pemain yang bukan hanya hebat di lapangan, tapi juga mendominasi narasi media dan ingatan kolektif penonton.
Distribusi Suara Voting
Hal itu pula yang membuat distribusi suara voting jadi semakin luas. Ketika daftar calon pemenang tiba di email para jurnalis di seluruh dunia, nama-nama penyerang dan playmaker otomatis terlintas lebih dulu. Bek sayap mungkin membutuhkan musim ajaib untuk bisa menjadi top of mind di benak para voters.
Di sisi lain, pilihan para voters terkadang lebih subjektif. Karena kedekatan dengan pemain, kekaguman, atau hanya bentuk respect semata. Akibatnya, proses voting sering tak sepenuhnya adil pada posisi seperti bek sayap.
Pada akhirnya, para bek sayap terjebak di situasi yang ironis. Mereka bisa menjadi pondasi permainan. Mereka juga bisa jadi pahlawan di menit-menit akhir. Namun, mereka tetap berada di balik cerita besar yang terus di glorifikasi oleh industri. Para bek sayap adalah pahlawan yang fotonya jarang dicetak besar di gerbang stadion, meski keringat yang mengucur dari dahi mereka sama banyaknya.
Sumber: ESPN, BBC, Top End Sport


