MU vs Arsenal: Adu Mekanik Striker Baru di Premier League 2025/26

spot_img

Laga perdana Manchester United di Premier League musim 2025/26 ibarat sepeda motor yang udah lama ngejogrok di parkiran, tiba-tiba dipake buat drag race di jalan raya. Skema permainan belum matang, kerangka tim belum terbentuk dengan baik, Setan Merah udah dipaksa untuk menghadapi Arsenal, tim yang musim lalu mengalahkan Real Madrid.

Ini bukan final kepagian lagi, tapi hari penghakiman bagi Manchester United. Jika mereka tampil buruk, sudah jelas mental pemain akan hancur. Kepercayaan fans pun akan terus menurun. Yaaa…. setidaknya selama satu minggu ke depan. Mereka yang tadinya yakin bakal tsunami trofi justru membanjiri kolom komentar dengan hujatan. 

Namun, di sisi lain keyakinan membara justru terpancar dari wajah Ruben Amorim. Pelatih asal Portugal itu menegaskan bahwa tim asuhannya punya semua modal untuk menaklukkan Arsenal. Ia ingin mengawali musim dengan indah. Apalagi laga ini dimainkan di Old Trafford, markas Setan Merah. 

Head to Head

Manchester United dan Arsenal sudah puluhan bahkan ratusan kali bertemu di Premier League. Namun, ada alasan yang membuat Ruben Amorim punya kepercayaan diri yang tinggi. Ya, head to head-nya dengan Arsenal asuhan Mikel Arteta cukup baik. Sejauh ini, Amorim dan Arteta sudah saling berhadapan sebanyak lima kali. 

Dari lima pertemuan itu, tak semuanya dimainkan dengan skuad Manchester United. Ada laga yang dimainkan Ruben Amorim sebagai pelatih Sporting CP. Pertemuan ini terjadi saat keduanya bertemu di babak 16 besar Europa League. Kedua laga berakhir imbang dengan skor identik, 2-2. Namun, pasukan Amorim menang di babak adu penalti.

Dengan begitu, Ruben Amorim mengantongi dua kemenangan, dua seri, dan baru kalah sekali dari Mikel Arteta. Kekalahan tersebut terjadi di pertemuan pertama di Premier League musim 2024/25. Kala itu, Amorim yang sudah menangani Manchester United kalah 2-0 di Emirates Stadium. Itu adalah pertandingan Premier League ketiga bagi Amorim. 

Kekalahan itu jadi pembelajaran bagi Amorim. Itu dibuktikan dengan hasil yang membaik di pertemuan berikutnya. Pada Maret 2025, Amorim pun telah memperbaiki skema permainannya. Bermain di Old Trafford, United yang tergopoh-gopoh di dasar klasemen pun berhasil menahan imbang Meriam London dengan skor 1-1.

MU Batu Sandungan Arsenal

Hasil imbang mungkin terkesan seperti win win solution. MU tak kalah, dan Arsenal tetap mendapatkan poin. Tapi, jika dipandang dari kacamata Arsenal, hasil imbang di paruh kedua musim 2024/25 adalah kegagalan yang memalukan. Bagaimana tidak? United kala itu bertengger di posisi 14 klasemen sementara. Sedangkan Arsenal masih berada di jalur perburuan gelar.

Hasil imbang melawan United pekan itu membuat Arsenal semakin jauh dari Liverpool di puncak klasemen. Karena di pekan yang sama, The Reds meraih kemenangan telak atas Soton. Tak berhenti di situ, United ini emang doyan jailin Arsenal. Mereka juga jadi batu sandungan Kai Havertz cs di ajang Piala FA. 

Bertemu di ronde ketiga, Arsenal justru ditahan imbang 1-1 oleh Bruno Fernandes cs. Padahal di laga itu United cuma main dengan sepuluh orang, usai Diogo Dalot diusir keluar karena melepaskan tekel keras ke Mikel Merino. Extra time berlangsung tanpa gol tambahan, kendati Arsenal terus menekan. Saat dilanjutkan ke adu penalti, di situlah petaka Arsenal muncul.

Arsenal terpeleset setelah Havertz gagal menjalankan tugasnya. Tendangan pemain Jerman itu berhasil diblokir oleh Altay Bayindir. Joshua Zirkzee kemudian menunaikan tugasnya dengan sempurna sebagai algojo penentu kemenangan 5-3 untuk United.

Kekuatan dan Kelemahan MU

Kepercayaan diri memang penting, tapi kepercayaan diri dan modal apik di musim lalu tak pernah cukup untuk menentukan bagaimana 90 menit ke depan akan berjalan. Apalagi ini musim baru. Sudah banyak perubahan dan penyesuaian yang dilakukan oleh kedua tim. Maka dari itu, di sini kita akan menganalisa kekuatan dan kelemahan masing-masing tim.

Dimulai dari Manchester United. Sebetulnya, kekuatan United masih belum tertakar. Sebab, lini depan mereka mengalami perombakan total. Matheus Cunha dan Bryan Mbeumo didatangkan. Dua pemain paling konsisten di Premier League musim lalu itu siap menunjukan kreativitas dan ketajaman guna mengobrak-abrik pertahanan Arsenal yang dipimpin Gabriel Magalhaes dan William Saliba.

Secara skema, Ruben Amorim terlihat akan menjadikan sayap sebagai pemikul peran krusial. Amorim biasanya mengandalkan formasi dasar 3-4-3 atau 3-4-2-1 yang bisa berubah menjadi 5-4-1 saat bertahan. Pola ini memberinya keuntungan melawan tim seperti Arsenal yang gemar membangun serangan lewat lini tengah dan sisi sayap. 

Dengan tiga bek tengah, Amorim bisa mengunci pergerakan penyerang Arsenal di half-space. Sementara wing-back siap melakukan pressing cepat ke Bukayo Saka maupun siapapun nanti yang menempati posisi sayap. Secara teori, memang begitu. Tapi pertahanan United sangat bermasalah dengan apa yang dinamakan IQ dan konsistensi.

Lini pertahanan United masih jadi titik terlemah dalam permainan. Mereka tak bisa menerjemahkan instruksi Ruben Amorim dengan baik dan benar. Disuruh menjalankan Plan A, bisa jadi yang diaplikasikan justru Plan K, bukan B lagi. Karena saking menyimpangnya. Terlebih, kiper MU musim depan kayaknya sih masih Andre Onana ya. Tempatkan bola di pojok gawang, niscaya bola akan masuk gawang dengan sendirinya. 

Kekuatan dan Kelemahan Arsenal

Sama halnya dengan Manchester United, Arsenal juga tampil agresif di bursa transfer musim panas kali ini. Mikel Arteta hampir mengeluarkan 200 juta pound untuk memperkuat timnya. Target pasti adalah memperbaiki kedalaman skuad. Maka dari itu, setiap lini mendapatkan pemain tambahan musim depan.

Kehadiran Martin Zubimendi dan Christian Norgaard memberikan kontrol dan kedalaman taktik di sektor tengah. Memungkinkan kombinasi Declan Rice dan Martin Odegaard tampil lebih leluasa dalam mendistribusikan bola dan mengatur tempo permainan. Arteta sepertinya ingin membangun tim yang mampu menguasai lini tengah. Ide ini sama seperti apa yang dilakukan gurunya, yakni Pep Guardiola di Manchester City.

Dengan mendominasi lini tengah, harapannya Arsenal bisa mengurung pertahanan United. Jika sudah demikian, maka kontrol permainan jelas jadi milik Arsenal. Selain itu, Arsenal masih mempertahankan kekuatan di lini belakang, terutama lewat duet William Saliba dan Gabriel. Ditambah, Arsenal punya dorongan yang kuat untuk membuktikan diri. Lagi pede pedenya nih mereka.

Tapi, bukan berarti Arsenal datang tanpa kelemahan. Setiap permasalahan sudah berusaha diselesaikan oleh Mikel Arteta. Tapi, sang pelatih lupa bahwa dirinya juga perlu dievaluasi. Terkadang, Arteta kurang kreatif dalam memilih pemain. Dirinya acap kali terlambat untuk memasukan pemain dari bangku cadangan demi mengubah permainan. 

Arteta tak piawai membawa anak asuhnya keluar dari tekanan. Itu pula yang membuat anak asuh Mikel Arteta kadang kesulitan mempertahankan keunggulan di babak kedua. Karena gaya bermainnya sama seperti babak pertama. Udah ketebak. Jadi, kalau United bisa unggul lebih dulu sih kelabakan tuh Arteta.

Adu Striker

Terus gimana soal efisiensi penyelesaian akhir dikenal jadi masalah Arsenal musim lalu? Tenang, masalah ini sudah ada solusinya. Mikel Arteta mendapatkan bala bantuan dari Viktor Gyokeres. Striker asal Swedia ini hadir sebagai target man yang kuat, mampu melakukan hold-up play, dan menambah dimensi baru bagi serangan Arsenal.

Posturnya pun sempurna untuk Premier League. Pria Nordik ini tinggi nan kekar layaknya para Viking. Jika Mikel Arteta mampu memaksimalkan potensi Gyokeres, ini akan membuka lembaran baru bagi sejarah lini depan Arsenal. Dalam konteks menghadapi Manchester United, keberadaan striker nomor 9 yang klinis bisa jadi pembeda.

Sialnya, bukan Arsenal saja yang punya bomber baru. Manchester United yang tak mau kalah juga memiliki Benjamin Sesko sebagai ujung tombak. Arsenal mungkin dikenal sebagai “Gudang Senjata”, tapi senjata buatan Slovenia ini belum pernah mereka cicipi. Sesko bukan sekadar nomor 9, dia adalah teka-teki yang belum sempat dibaca oleh Mikel Arteta.

Asli! Laga ini bakal jadi laga adu mekanik bagi dua penyerang ini. Jika laga antara MU dan Arsenal diibaratkan sebagai perang kecepatan dan kekuatan, maka Sesko dan Gyokeres bak dua bilah pedang yang saling beradu. Mereka akan saling unjuk ketajaman demi nasib klub di musim depan.

Sumber: Premier League, Metro, Football London

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru