Beranda blog Halaman 795

7 Pelatih Hebat Yang Masih Menganggur Ini, Sayang Bila Tak Dimanfaatkan

Saat ini, harus diakui bila permainan sepakbola lebih kompetitif dari sebelumnya. Selama bertahun-tahun, ketatnya kompetisi sepakbola menyebabkan seorang pelatih kehilangan pekerjaan dalam waktu yang bahkan tergolong singkat.

Banyak terjadi pemecatan pelatih di berbagai klub yang bahkan berlabel raksasa. Hal itu yang pada akhirnya membuat sejumlah pelatih yang berlabel hebat sekalipun kehilangan pekerjaan.

Pada kesempatan kali ini, starting eleven akan coba merangkum deretan pelatih hebat yang masih menganggur.

Massimiliano Allegri (Italia) – Klub Terakhir: Juventus (2019)

Meski berhasil meneruskan konsistensi Juve di kompetisi Serie A, Massimiliano Allegri tetap kehilangan pekerjaannya pada tahun 2019 silam. Dia dipecat karena dinilai tak mampu memberi kejayaan bagi Juve di level Eropa.

Padahal ketika melihat perjalanannya, Allegri merupakan pelatih yang begitu luar biasa. Sejak ditunjuk sebagai pengganti Antonio Conte pada tahun 2014, Allegri sukses menunjukkan bahwa dia punya kualitas terbaik sebagai seorang juru taktik.

Allegri menerapkan strategi yang lebih halus dari Conte dan berhasil menumbuhkan mentalitas luar biasa kepada para pemainnya. Cara kerja tim yang diasuh Allegri tergolong efektif. Hal itulah yang pada akhirnya membuat Juve jadi tim yang begitu solid.

Lima tahun bertahan di Juve, Allegri menghasilkan 5 gelar Serie A untuk raksasa Turin, 4 Coppa Italia, 2 gelar Supercoppa Italia serta 2 medali perak kompetisi Liga Champions Eropa setelah menjadi runner-up dalam dua kesempatan.

Kini dirinya pun dinilai masih mencari klub yang ideal untuk bisa diajak kerja sama.

Mauricio Pochettino (Argentina) – Klub Terakhir: Tottenham Hotspur (2019)

Tidak bisa dipungkiri bila nama Mauricio Pochettino telah memberikan sejarah yang begitu luar biasa bagi Tottenham Hotspurs. Datang sebagai juru taktik yang tidak terlalu diperhitungkan, Poch muncul dengan segudang taktik jitu.

Dia berhasil menciptakan sebuah permainan luar biasa plus menjadi pihak yang pandai dalam menelurkan pemain-pemain muda berbakat. Namun sayang, meski berhasil membawa Tottenham ke final Liga Champions, tetapi hal tersebut dirasa kurang cukup oleh manajemen Tottenham hingga harus memecat pelatih berpaspor Argentina tersebut.

Masih berusia 48 tahun, mantan pelatih Southampton dan Espanyol itu masih dianggap sebagai salah satu pelatih terbaik di dunia. Pochettino pun memiliki sejumlah opsi menarik untuk dipilih karena ia layak untuk direkrut.

Ernesto Valverde (Spanyol) – Klub Terakhir: FC Barcelona (2020)

Nama Ernesto Valverde sempat menjadi idola di Camp Nou. Namun sayang, seiring berjalanya waktu, taktik kurang jelas yang ditunjukkan membuat para penggemar geram hingga membuat klub mengambil tindakan.

Dia gagal menciptakan suasana nyaman bagi setiap dan dianggap tidak mampu mengangkat performa tim dikala mereka sangat membutuhkan pengakuan.

Pelatih berusia 56 tahun ini menjadi yang paling disalahkan saat Barcelona gagal menjuarai Piala Super Spanyol 2019 lalu. Sekali lagi, menurut rumor yang beredar, Ernesto Valverde memiliki hubungan buruk dengan sejumlah pemain sehingga jabatannya sebagai pelatih terpaksa dicopot oleh manajemen tim. Valverde sudah menganggur sejak Januari 2020. Sejauh ini belum ada klub maupun tim nasional yang dikaitkan dengannya.

Namun dibalik berita buruk yang terus menghampiri, tidak bisa dipungkiri bila el Barca mampu tampil konsisten di liga dan menjadi juara meski di Eropa mereka gagal persembahkan gelar.

Maurizio Sarri (Italia) – Klub Terakhir: Juventus (2020)

Sama seperti Pochettino, Sarri, yang kita kenal sebagai salah satu pelatih paling kreatif, juga belum menemukan pekerjaan baru saat ini setelah resmi dipecat dari jabatannya sebagai pelatih Juventus pada Agustus 2020.

Pemecatan itu dilakukan, meski Sarri berhasil membawa Juventus merebut gelar juara di Liga Italia 2019/20. Prestasi Sarri juga tak sampai disitu saja, pelatih asal Italia itu telah membuktikan diri mampu membawa timnya menorehkan prestasi manis. Selain membawa Juventus kampiun Liga Italia, Sarri juga berhasil mengangkat trofi bersama Chelsea di Liga Eropa pada musim 2018/19.

Laurent Blanc (Prancis) – Klub Terakhir: Paris Saint Germain (2016)

Siapa yang baru sadar bila nama Laurent Blanc belum melatih kembali sejak tahun 2016, di mana PSG adalah klub yang terakhir ditanganinya. Mantan pemain Timnas Prancis ini pernah membawa Les Parisiens merajai Liga Perancis tiga kali berturut-turut yaitu pada musim 2013/14, 2014/15, dan 2015/16.

Meskipun begitu manajemen masih belum puas karena Blanc belum bisa membuat PSG berjaya di kancah Eropa, hingga akhirnya Ia dipecat dan belum melatih klub lagi sampai saat ini. Dirinya pernah diisukan menjadi incaran Manchester United untuk menggantikan Ole Gunnar Solskjaer.

Namun begitu sampai saat ini belum ada perkembangan tentang kabar tersebut.

Luciano Spalletti (Italia) – Klub Terakhir: Inter Milan (2019)

Nama Luciano Spalletti jelas menjadi salah satu pelatih terbaik asal Italia dalam dua dekade terakhir. Dia menjadi salah satu pelatih dengan taktik brilian yang tak jarang memanfaatkan kemampuan individu para pemain andalan.

Pelatih berkepala plontos ini pernah menemui kesuksesan besar bersama AS Roma. Ia berhasil membawa Roma finis di urutan kedua pada Liga Italia 2016/17. Sayangnya, ia tidak mempunyai hubungan baik dengan manajemen hingga akhirnya dipecat.

Saat bersama Inter, Spalletti yang berhasil membawa klub lolos ke kompetisi Liga Champions Eropa juga dianggap tidak memenuhi harapan. Ia gagal memberikan penampilan terbaik untuk Inter hingga akhirnya ia dipecat. Kini, Spalletti pun menganggur.

Leonardo Jardim (Portugal) – Klub Terakhir: Monaco (2019)

Jardim termasuk dalam pelatih yang sukses dalam menangani tim. Beberapa tim yang pernah ia latih pun menuai kesuksesan seperti Braga, Olympiakos, Sporting Lisbon, dan AS Monaco. Sosoknya pun bersinar saat menukangi Monaco, dimana dia berhasil membawa Monaco lolos hingga ke semifinal Liga Champions 2016/17.

Namun setelah itu dia mengalami penurunan performa. Jardim dipecat AS Monaco karena ia hanya mampu membawa timnya meraih satu kemenangan dalam sembilan pertandingan yang dijalani. Meski sempat kembali datang untuk membawa kebangkitan bagi Monaco, tetapi sekali lagi ia dipecat oleh klub yang berkompetisi di Liga Prancis tersebut.

APES! 5 Pemain Yang Disia-siakan Barcelona, Namun Kini Malah Jadi Bintang Sepakbola

Raksasa sepakbola, FC Barcelona, yang kini tengah berada dalam masa transisi, telah menjadi rumah bagi sebagian besar pemain bintang. Oleh sebab itu, sampai saat ini, meski masih menghadapi berbagai krisis, La Blaugrana sebisa mungkin bertahan untuk bisa bersaing di level tertinggi.

Namun begitu, meski tergolong sebagai klub besar, bukan sebuah kesalahan ketika seorang pemain memutuskan hengkang. Beberapa bintang sepakbola, yang tidak terpakai di Camp Nou malah berhasil masuk ke level terbaiknya, ketika mendapatkan destinasi baru.

Berikut ini kami sajikan deretan pemain yang disia-siakan oleh FC Barcelona, namun malah sukses menjadi bintang.

Adama Traore

Pemain bertubuh kekar ini lahir dan tumbuh besar di Barcelona. Wajar apabila Adama Traore kemudian merintis karirnya sebagai pesepakbola lewat akademi La Masia. Dia masuk akademi La Masia pada 2004 lalu. Bakatnya terasah dengan baik hingga akhirnya dipanggil memperkuat Barcelona B pada musim 2013/14.

Tapi sayang, Traore sulit menembus tim utama Barcelona yang kala itu diperkuat trio striker Lionel Messi, Neymar Jr, dan Luis Suarez. Pemain berdarah Mali itu hanya empat kali tampil bersama tim senior.

Minimnya kesempatan tampil yang diberikan kepadanya membuat Traore hengkang ke klub Premier League, Aston Villa pada 2015. Selanjutnya Traore pindah ke Middlesbrough dan berlabuh di Wolverhampton Wanderers pada musim panas 2018. Berkat kerja kerasnya yang gigih, Traore kini dipercaya memperkuat Timnas Spanyol.

Bahkan, karena berhasil tunjukkan permainan terbaiknya bersama Wolverhampton, Barcelona dikabarkan tertarik merekrut kembali Adama Traore. Namun Barcelona dalam posisi bukan favorit dalam perburuan jasa Adama Traore. Sejauh ini, ada nama Manchester City dan Juventus yang dalam posisi terdepan untuk mengamankan jasa Traore.

Manchester City menjadikan Adama Traore sebagai kandidat yang tepat untuk menggantikan Leroy Sane. Adapun Juventus ingin meremajakan lini sayap karena para pemain semisal Juan Cuadrado hingga Cristiano Ronaldo sudah tak lagi muda.

Adama Traore juga ingin kepastian tempat utama di Barcelona. Jika hal itu sulit direalisasikan, maka kubu Camp Nou bakal kesulitan mendatangkan Adama Traore.

Eric Garcia

Eric Garcia menjadi salah satu talenta terpanas La Masia yang tengah bermukim di Inggris. Eric Garcia bergabung bersama La Masia pada 2009. Saat itu, usianya baru menginjak delapan tahun. Garcia berkembang dengan baik semenjak menapakkan kaki di La Masia. Namun, Garcia baru mendapatkan sorotan ketika masuk ke tim U14 Barcelona.

Kala itu, Garcia sudah menunjukkan karakteristik yang paling utama dari pelajar di La Masia, yaitu kemampuan olah bola dan distribusi yang ciamik. Pada 2017 lalu, bakat Garcia terendus Manchester City. Dilaporkan, The Citizens melayangkan tawaran senilai sekitar 900 ribu poundsterling. Jumlah yang kecil, tetapi Barcelona dengan senang hati menerima itu.

Pada musim pertamanya, ia berkontribusi besar terhadap kesuksesan Tim U 18 City masuk ke semifinal UEFA Youth League. Musim berikutnya, ia mulai berlatih bersama tim utama. Kini, Garcia sudah menjadi andalan di tim utama City.

Pep Guardiola sudah berani memasangnya sebagai andalan di lini belakang. Tidak heran, bila Barcelona begitu ngebet merayunya untuk pulang seiring menuanya Gerard Pique dan kebutuhan akan bek tengah mumpuni.

Menurut kabar yang beredar, Barcelona terus dikaitkan dengan Eric Garcia yang kontraknya bersama City berakhir pada 2021. Pelatih Barcelona, Ronald Koeman dilaporkan tertarik mendatangkan Garcia ke Camp Nou. Chief Operating Officer Manchester City, Omar Berrada mengklaim sudah mengetahui mengenai minat Barcelona dan sejumlah klub lain kepada Garcia. Klub kaya raya itu pun ingin semua klub yang meminati bakat Garcia untuk memenuhi permintaan harga yang ditetapkan City, yakni sebesar 25 juta pounds.

Hector Bellerin

Bek kanan Spanyol, Hector Bellerin, memulai karir sepakbolanya di akademi Barcelona pada usia 8 tahun. Setelah 8 tahun bersama raksasa Spanyol tersebut, Bellerin pindah ke Arsenal pada 2011.

Langkah ke Inggris pun menjadi sangat tepat baginya. Pada usia 19 tahun, Hector Bellerin menjadi pemain reguler di Emirates. Dia saat ini adalah salah satu bek kanan terbaik di Liga Inggris dan mendapatkan beberapa klub papan atas Eropa, termasuk Barcelona, tertarik kepadanya.

Saat ini, Bellerin masih berusia 25 tahun. Andai ia tak terbekap cedera, bisa dipastikan jebolan La Masia itu bisa memberikan build up serangan mematikan dari sisi kanan pertahanan Arsenal guna membantu Nicolas Pepe, Pierre-Emerick Aubameyang maupun Alexandre Lacazette mendulang gol untuk Gunners.

Namun meski sempat dibekap cedera, Bellerin tetap tunjukkan kualitas sebagai salah satu bek kanan terbaik dunia. Malah, kini talentanya tidak hanya diminati oleh Barcelona yang ingin memulangkannya, namun juga Juventus, yang menyampaikan kekagumannya melalui pelatih Andrea Pirlo.

Pirlo ingin Bellerin mengisi sektor bek kanan Juventus yang selama ini kerap diisi Juan Cuadrado. Padahal, Cuadrado bukan bek kanan asli melainkan gelandang sayap. Jika bergabung dengan Juventus, Bellerin akan bereuni dengan mantan rekan setimnya di Arsenal, Aaron Ramsey. Gelandang asal Wales itu hengkang pada bursa transfer awal musim lalu dengan status bebas transfer.

Mauro Icardi

Tak banyak yang tahu jika Icardi pernah menimba ilmu di akademi sepak bola terbaik dunia, La Masia, Barcelona. Icardi lalu datang ke Italia melalui Sampdoria, bergabung dari Barcelona dengan status pinjaman. Ia bermain di tim junior pada 2011/12 mencetak 19 gol dalam 23 laga di level Primavera.

Di musim pertamanya, sejak masuk ke tim utama Sampdoria, Icardi berhasil mencetak 10 gol dalam 31 laga. Pada 16 Juli 2014, Icardi resmi diumumkan sebagai pemain Inter Milan. Icardi kemudian diberikan nomor punggung 9. Icardi mengatakan, hijrah ke Inter adalah mimpi yang menjadi nyata. Ia menyebut ‘mendapat banyak tawaran tapi lebih memilih Inter’.

Meski sempat terbeli berbagai isu miring, Icardi sukses menjadi andalan La Beneamata. Semasa membela Inter, ia mampu mengemas 124 gol dalam 219 laga.

Setelah tampil luar biasa di Inter, kini nama Icardi menggema bersama tim asal ibukota Prancis, Paris Saint Germain.

Thiago Alcantara

Thiago berhasil mencuri perhatian pemandu bakat Barcelona saat masih berusia muda, tepatnya kala dirinya masih berada di klub bernama Ed Val Minor Nigran. Secara bertahap, Thiago menjajaki setiap level dalam hirarki klub mulai dari tim muda hingga Barcelona B. Di Barcelona B, ia bertemu dengan Guardiola untuk pertama kalinya.

Guardiola, yang mendapatkan promosi menjadi pelatih tim utama, memberinya kesempatan menjalani laga debut pada tahun 2009 lalu saat Barcelona melawan Real Mallorca. Thiago berhasil membuktikan dirinya sebagai produk berkualitas dari La Masia berikutnya setelah Lionel Messi dan Sergio Busquets.

Namun setelah itu, dia memilih pergi dari klub dan mengikuti jejak Guardiola menuju raksasa Jerman, FC Bayern. Saat itu, alasannya pergi adalah karena jarang mendapat kesempatan kala berada di bawah asuhan Tito Vilanova. Minimnya kesempatan tampil di Barcelona membuat Bayern Munchen tidak menemui kesulitan berarti untuk membawanya pindah ke Allianz Arena.

Pada musim terakhir Guardiola di Bayern Munchen, Thiago diberi kepercayaan tampil sebanyak 42 kali di berbagai ajang. Sejak saat itu pula, dia terus menjadi andalan Bayern hingga menjadi salah satu aktor penting The Bavaria yang sukses mengangkat trofi Liga Champions Eropa musim lalu.

Kini, berkat kegemilangannya di atas lapangan, Thiago melanjutkan petualangan ke Inggris dan berniat menuju panggung juara bersama Liverpool.

Masa Kecil Penuh Derita Yang Membentuk Seorang Edin Dzeko

0

Masa kecil seorang bocah laki-laki kebanyakan dihabiskan dengan berbagai tawa dan sesekali mencela lawan bicara. Dalam siklus permainannya, bocah yang barangkali kerap habiskan waktu dengan teman sebaya tak pernah terbawa amarah. Mereka menganggap bahwa semua ucapan yang keluar hanyalah sebuah gurau belaka.

Selain sering memainkan permainan tradisional khas daerahnya, masa kecil anak laki-laki juga sering dihabiskan dengan permainan si kulit bundar. Tak hanya di Indonesia saja, seluruh bocah di dunia juga pasti merasakan hal yang sama.

Tak terkecuali masa kecil seorang bocah yang kini tengah menikmati masa jaya nya sebagai pemain ternama. Adalah Edin Dzeko. Pria asal Bosnia yang kerap menghabiskan waktunya dengan menendang bola.

Dalam sebuah kesempatan, Dzeko pernah mengatakan bahwa ia seringkali lupa waktu, kala kakinya sudah menyentuh benda yang menjadi bagian dari permainan favoritnya. Dari mulai matahari hamparkan cahaya, Dzeko tak pernah lelah meski kulit sudah merasakan sengatan yang begitu nyata. Ia terus memainkan bola sampai sang surya tak lagi tampakkan muka.

Atau setidaknya, ia akan berhenti kala orang tuanya sudah mengingatkannya untuk tidak lagi bermain bola. Ya, selain matahari yang menjadi penanda bahwa permainan telah mencapai masa kemunca, suara keras orang tuanya juga menjadi sebuah peluit panjang baginya untuk hentikan laju bola.

Bukan, hal ini bukan tentang Dzeko yang sudah lama langkahkan kaki dalam sebuah permainan, namun karena sebuah hal yang mungkin tidak ingin lagi diingatnya.

Saat itu, Dzeko masih ingat betul ketika ibunya berteriak kearahnya. Sang ibu yang punya firasat buruk akan anak kesayangannya tiba-tiba memanggil Dzeko untuk memintanya berhenti bermain dan segera masuk kedalam rumah. Ternyata, tanah lapang yang dijadikan Dzeko sebagai tempat permainan hancur tak berbekas setelahnya, pasca sebuah bom meluncur deras ke lokasi favoritnya.

Edin Dzeko, lahir pada 17 Maret 1986 di Sarajevo, Bosnia. Ia lahir dari pasangan Belma dan Midhat Dzeko. Masa kecilnya harus ia jalani dengan berbagai ketakutan. Dzeko merupakan korban dari perpecahan Yugoslavia yang berlangsung selama kurang lebih tiga tahun.

Bukan hal mudah bagi Dzeko untuk bertahan. Ia dan keluarganya bahkan harus mengungsi ke sebuah ruang bawah tanah setelah rumahnya hancur akibat sebuah bom yang dijatuhkan.

Saat kehancuran tanah lapang yang digunakan nya dan rekan-rekannya hancur, Dzeko juga mengaku kehilangan banyak teman. Itu karena dirinya tak sempat untuk menyelamatkan teman-temannya yang sedang asyik bermain sepak bola.

Kekacauan saat itu bahkan memunculkan sebuah suara sirine untuk mengingatkan para orang-orang disana. Jadi selain tenggelamnya matahari dan teriakan orang tuanya, permainan sepak bolanya juga harus berhenti jika sebuah sirine sudah terdengar.

“Selama terjadi perang, aku mengalami masa ketika harus berhenti main bola ketika sirine berbunyi,”

Sebagai seorang bocah, Dzeko tak terlalu paham dengan kondisi dan situasi bahaya yang terjadi. Dia hanya menuruti ketika orangtuanya meminta berhenti.

“Saat berusia 6 tahun, aku memang cukup tahu atas apa yang terjadi. Namun, tak berpikir terlalu jauh juga,”

“Namun, orangtua ku yang selalu khawatir. Tanpa mereka, mungkin aku tak di sini seperti sekarang.” kenang Dzeko (via asroma.com)

Dzeko yang menjadi korban perang saudara di Yugoslavia dan Semenanjung Balkan pun akhirnya bisa bernafas lega. Setelah lebih dari tiga tahun, perang berakhir. Setelah itu, ia benar-benar bisa salurkan bakat sepak bolanya. Dzeko yang baru berusia sekitar 10 tahun pun dengan semangat meminta sang ayah untuk mengantarkannya menuju tempat latihan.

Namun, semua tak semudah apa yang dibayangkan. Dzeko tidak bisa memulai segalanya dengan lancar. Ia kembali temui kendala dan butuh usaha ekstra untuk bisa kembali nyaman memainkan bola.

Kendati begitu, seperti apa yang orang bijak katakan, orang hebat tidak dihasilkan dari kemudahan, kesenangan, dan kenyamanan. Mereka dibentuk melalui kesulitan, tantangan, dan air mata.

Dzeko tampak memahami itu semua. Ia saat itu tengah berjuang untuk menciptakan lagu kehidupannya. Hidup yang layaknya sebuah permainan, ia mainkan dengan sangat hati-hati. Ia melewati semua tantangan, merajut mimpi, dan berusaha mewujudkan itu semua.

Tantangan Dzeko selanjutnya berada pada sebuah perjalanan jauh yang harus ia tempuh agar bisa sampai ke tempat latihan klub pertamanya, Zeljeznicar. Setelah sampai di tempat latihan, stadion yang akan ia gunakan untuk latihan ternyata sudah hancur dan menjadi bagian dari korban perang. Tidak ada yang tersisa. Hanya ada sebagian kecil lahan yang bisa digunakan.

“Ketika itu, aku ingat ayah membawaku ke klub Zeljeznicar untuk berlatih dan perlu gonta-ganti bus dan kereta untuk sampai,”

“Akan tetapi, segalanya telah hancur. Tak ada lagi yang tersisa, termasuk untuk lapangan sepak bola,” kata Dzeko

Saat sedang menjalani masa-masa seperti itu, ada satu hal yang selalu membuat Dzeko teringat dengan sang ayah. Yaitu, ayahnya yang merupakan sosok penyayang selalu memberikannya pisang sebelum bertanding. Dari pisang yang diberikan sang ayah, Dzeko selalu punya energi tambahan untuk berlatih, meski tempat latihannya telah hancur dan hanya menyisakan sedikit lahan.

Setelah rutin berlatih, sampailah pada masa-masa yang dinanti, yakni pemanggilan dirinya ke tim utama Zeljeznicar. Momen itu terjadi pada tahun 2003.

“Ketika itu, kami tengah berada di pusat perbelanjaan. Lalu, ada telepon dari pelatih bahwa aku akan bermain untuk tim utama besoknya,”

“Begitu aku memberi tahu kepada ayah, dia langsung terkejut dan menanyakan kapan, di mana, dan lawan siapa,” ujar Dzeko.

Bagi Dzeko momen tersebut menjadi sebuah hal yang telah membayar segala perjuangan dan penantiannya. Khususnya bagi sang ayah yang sudah banyak sekali memberikan yang terbaik baginya.

Namun di klub yang memberinya kesempatan itu, Dzeko sempat temui berbagai tantangan lainnya. Seperti misalnya ia tidak ditempatkan diposisi aslinya. Ia memulai permainan sebagai seorang gelandang sebelum akhirnya mematenkan tempat di posisi serang.

Hingga pada akhirnya, perjalanan Dzeko berlanjut ke negeri Ceko. Dzeko baru berusia 19 tahun kala hijrah ke Ceko dan bergabung dengan klub Teplice.

Di tim tersebut, bakat Dzeko mulai dimanfaatkan. Setelah dicoba dibeberapa posisi, Dzeko akhirnya diplot sebagai penyerang. Potensinya lalu mulai terasah, Dzeko mulai menemui titik terang di Bundesliga Jerman setelah hengkang dari Teplice. Dirinya tergabung dengan Wolfsburg.

Bermain untuk Wolfsburg, karakter kebintangannya mulai nampak. Bersama dengan Grafite, Edin Dzeko membuat duet lini serang yang begitu mematikan. Kedua pemain tersebut bahkan sukses memberikan gelar Bundesliga bagi Wolfsburg dan menjadi top skor di kompetisi tertinggi Jerman tersebut.

Wolfsburg menjadi simbol kesuksesan Edin Dzeko. Ia sukses mengharumkan nama Bosnia melalui klub tersebut.

Kemampuannya pun diakui oleh seantero Bosnia, tanah kelahirannya. Meski sempat diolok-olok dengan sebutan ‘Cloc’ atau ‘Stik Kayu Besar’, Dzeko berhasil membuktikan diri dan mendapat julukan sebagai ‘diamond’ atau Berlian dari Bosnia.

Menyusul permainan luar biasanya di Jerman, Dzeko langsung menjadi incaran klub-klub besar Eropa. Hingga pada akhirnya, Dzeko resmi berseragam Manchester City dan menjadi salah satu pemain dari dimulainya era kejayaan The Citizen.

Bermain untuk klub asal Inggris, Dzeko berhasil torehkan sejumlah gelar, termasuk dua trofi Liga Primer Inggris, FA Cup, dan beberapa trofi domestik lainnya.

Namun begitu, Dzeko tidak menikmati masa-masa nya di City. Penyerang asal Bosnia bahkan berujar kalau ia tak pernah bahagia kala berseragam tim biru langit. Alasannya adalah banyaknya persaingan di lini depan.

‘Selalu ada empat striker berkualitas di sana. Itulah mengapa aku selalu tidak bahagia. Dengan banyaknya pemain berkualitas, itulah yang harus kalian hadapi,” ucap Dzeko (via sportmole)

Dzeko merasa bahwa ia tidak layak menjadi pengganti. Ia cukup percaya diri dengan kemampuannya. Itulah sebabnya Dzeko memutuskan pindah dan ingin membuktikan bahwa dirinya punya kualitas jempolan untuk menjadi seorang pemain utama.

Pada musim 2015/16, Dzeko dipinjamkan ke AS Roma, sebelum akhirnya menandatangani kontrak permanen dan menjadi bintang disana.

Benar saja, apa yang dikatakan Dzeko bukan hanya bualan belaka. Saat resmi berseragam AS Roma, talentanya selalu keluar dengan sangat baik. Dzeko menjadi andalan dan hingga saat ini, namanya masih terus dilantangkan oleh para penggemar klub ibukota.

Meski belum pernah sumbangkan gelar untuk AS Roma, setidaknya, pemain yang mengidolakan Andriy Shevchenko ini berhasil torehkan sejumlah raihan bergengsi, seperti gelar top skor dan pemain terbaik tim serigala.

Berita Bola 14 Desember 2020: Cedera, Neymar Menangis – CR7 Cetak BRACE, Juve SIKAT Genoa – “Arsenal KALAH Karena Xhaka”

0

Starting Eleven News – Berita sepak bola terbaru hari ini edisi Senin 14 Desember Desember 2020. Pastikan obrolan mu dengan teman – teman diisi rangkuman berita dari kami.

CVD19 BUAT EVERTON MERUGI HINGGA RP 2,6 TRILIUN

Everton baru saja mengumumkan rekor kerugian klub yang mencapai 139,9 juta pounds atau sekitar Rp 2,6 triliun akibat dampak pandemi. Namun, angka tersebut menunjukkan bahwa klub berjuluk The Toffees tersebut juga belum mendapatkan untung setelah di musim sebelumnya mereka juga merugi hingga 111,8 juta pounds. Everton mengatakan dampak pandemi membuat mereka mendapatkan kerugian tak terduga sebesar 67,3 juta pounds karena pemotongan pendapatan di hari pertandingan dan siaran televisi.

BRUNO FERNANDES OPTIMIS MU RAIH GELAR MUSIM INI

Kegagalan Manchester United di Liga Champions musim ini tidak menyurutkan semangat sang bintang, Bruno Fernandes. Ia percaya kalau timnya mampu menjuarai ajang bergengsi lainnya seperti Premier League. Seperti diketahui, MU gagal lolos ke babak gugur setelah di laga terakhir fase grup tumbang dari RB Leipzig. MU hanya menempati peringkat ketiga dan harus melanjutkan kiprahnya di Europa League. Bagi Fernandes, hal tersebut tidak masalah. Ia yakin timnya akan memenangkan gelar Liga Primer Inggris musim ini.

MCGINN PERPANJANG KONTRAK DI ASTON VILLA

Gelandang internasional Skotlandia, John McGinn telah menandatangani kontrak baru dengan Aston Villa. Pemain berusia 26 tahun itu telah menyetujui kesepakatan yang akan membuatnya bertahan di klub hingga setidaknya 2025. McGinn bergabung dengan Villa dari Hibernian pada 2018 dan telah membuat 83 penampilan untuk klub midlands tersebut.

LIHAT KEBIASAAN ANEH RONALDO DI HARI NATAL, EKS MU HERAN

Cristiano Ronaldo dikenal sebagai salah satu pemain terbaik di dunia. Hal itu diakui oleh eks rekan setimnya di MU, Dimitar Berbatov. Berba sampai terheran-heran melihat perilaku aneh Ronaldo di hari Natal. “Cristiano Ronaldo adalah pemain yang bisa membangkitkan atmosfer kompetitif dalam tim. Saat hari Natal tiba, para pemain mendapat waktu untuk bersenang-senang. Tetapi dia sangat profesional, aku bahkan tidak pernah melihatnya minum.” Berba merasa kagum dan heran akan tindakan disiplin Ronaldo untuk tidak mengonsumsi minuman beralkohol.

CHELSEA SEDANG BAGUS, LAMPARD MALAH TIADAKAN PESTA NATAL

Sempat kesulitan di awal musim, Chelsea menunjukkan tajinya. Di Liga Inggris, pasukan Frank Lampard kini menempati papan atas. Di Liga Champions, mereka lolos ke 16 besar. Namun meski berhasil membawa tim tampil gemilang belakangan ini, para pemain Chelsea harus rela tidak bisa bersenang-senang di akhir tahun. Pasalnya, Lampard justru memutuskan untuk meniadakan gelaran pesta Natal tahunan klub. Keputusan ini tak cuma diambil demi mempertahankan fokus para pemain di periode sibuk saat Natal nanti, tapi juga untuk menjaga keselamatan pemain di tengah pandemi yang belum mereda.

KOKE BERHARAP SUAREZ COBA BUJUK LIONEL MESSI GABUNG ATLETICO MADRID

Kapten Atletico Madrid, Koke, tidak menyangkal bahwa dia menginginkan keberadaan Lionel Messi di timnya, menyusul Luis Suarez yang baru bergabung tahun ini, namun mengakui bahwa itu adalah hal yang sulit. Satu tantangan terbesar yang akan sulit dipenuhi oleh Los Rojiblancos adalah bagaimana caranya membayar gaji Messi yang akan tinggi, namun keberadaan Suarez akan sangat berguna untuk membujuknya. Koke sangat berharap penyerang Uruguay itu dapat meyakinkan Messi untuk gabung Atletico.

TOLAK ARSENAL, SZOBOSZLAI HAMPIR PASTI GABUNG KLUB JERMAN

Pemain RB Salzburg, Dominik Szoboszlai, telah memberikan jawaban yang membuat Arsenal gigit jari. Ia menolak tawaran dari berbagai klub raksasa Eropa demi bergabung dengan tim asal Jerman, RB Leipzig. Pemain 20 tahun tersebut menjadi incaran banyak klub besar Eropa setelah tampil apik bersama RB Salzburg musim ini. Kendati berperan sebagai gelandang, ia mampu menghasilkan delapan gol dan sembilan assist dari 19 laga. Menurut laporan, Szoboszlai disebut bakalan bergabung dengan klub asuhan Julien Nagelsmann itu saat bursa transfer bulan Januari dibuka.

EKS BINTANG REAL MADRID MENDUKUNG MODRIC BERTAHAN DI LOS BLANCOS

Mantan striker Real Madrid, Davor Suker telah meminta Madrid untuk mengkonfirmasi kontrak baru Luka Modric Suker, yang memenangkan gelar La Liga pada tahun 1997 selama karir bermainnya di Madrid, saat ini menjabat sebagai presiden federasi FA Kroasia. Pria 52 tahun itu mengatakan bahwa spekulasi tentang masa depan Modric harus diakhiri dengan tawaran kontrak baru. Kontrak Modric di Madrid memang hanya tersisa tujuh bulan atau sampai akhir musim ini.

BANDEROL HAALAND MULAI TERKUAK, CUKUP MAHAL UNTUK DITEBUS SANG PEMINAT

Erling Haaland belum genap setahun pindah ke Dortmund. Namun, dia dikabarkan sudah menjadi rebutan klub-klub besar Eropa, termasuk Real Madrid, Liverpool, Barcelona, dan Manchester United. Menurut laporan, Dortmund sudah menetapkan banderol Haaland. Harganya lebih dari tiga kali lipat dibanding biaya yang dikeluarkan Dortmund saat mendatangkan sang pemain dari RB Salzburg. Haaland dilabeli sekitar 75 juta euro atau setara Rp 1,28 triliun pada akhir musim keduanya di sana. Banderol Haaland pada akhir musim kedua itu dikabarkan tercantum dalam klausul kontraknya.

RIVALDO : BARCELONA SEMAKIN BURUK SAJA

Performa Barcelona semakin tidak mengesankan di mata sang legenda, Rivaldo. Ia menganggap El Barca harus berubah secara drastis jika ingin musim 2020/21 mereka terselamatkan. Pada ajang Liga Champions, Barcelona nampak perkasa di Grup G, dengan catatan satu kekalahan saja dari enam pertandingan. Namun di La Liga, Barcelona terlihat ciut. Lionel Messi dkk kini terdampar di papan tengah. Publik mulai meragukan Barca mampu menduduki empat besar klasemen akhir. Rivaldo pun sepakat dengan anggapan tersebut.

IBRAHIMOVIC BELUM KEPIKIRAN BUAT PENSIUN

Penyerang Swedia, Zlatan Ibrahimovic sama sekali belum terpikir untuk pensiun. Ia yakin kondisi fisiknya masih sangat prima untuk terus memberikan yang terbaik untuk AC Milan. “Saya akan terus melakukannya sampai saya tidak bisa melakukan hal-hal yang saya lakukan ini”. Di usia 39 tahun, Ibrahimovic secara luar biasa mampu membangkitkan Milan sejak merapat pada Januari lalu. Ia membawa Rossoneri ke puncak klasemen berkat torehan 10 golnya di Serie A musim ini.

SESUMBAR RAFAEL LEAO, BERSAMA IBRA MILAN BISA KALAHKAN SIAPA SAJA

Penyerang AC Milan Rafael Leao mengatakan Zlatan Ibrahimovic adalah sosok pemain yang kasar, namun ia yakin dengan kehadiran pemain asal Swedia itu, Rossoneri bisa mengalahkan tim mana saja. Tidak peduli siapa mereka. Menurutnya, Ibrahimovic adalah ikon: ketika Anda memiliki Ibra di tim, Anda bisa meraih gol-gol hebat. Leao mengaku ia mendapat banyak keuntungan bisa berlatih bersama Ibrahimovic setiap hari. Sebab ia jadi bisa belajar banyak hal baru.

TORINO TERTARIK DATANGKAN PATRICK CUTRONE

Torino dikabarkan sedang mempertimbangkan kepindahan penyerang Fiorentina, Patrick Cutrone dan Simone Zaza kemungkinan akan meninggalkan Granata pada Januari. Dilansir Football Italia, Marco Giampaolo telah mencari penyerang baru dan Zaza mungkin akan hengkang musim dingin ini. Cutrone ada dalam daftar keinginan direktur olahraga Davide Vagnati, bersama dengan Leonardo Pavoletti dari Cagliari. Laporan tersebut mengklaim Cutrone akan menelan biaya kurang dari 10 juta euro.

PSG AKAN BERUSAHA PINJAM DELE ALLI

Paris Saint-Germain akan kembali untuk mencoba mendatangkan Dele Alli dari Tottenham dengan status pinjaman pada bursa transfer Januari. Klub Prancis itu mencoba merekrut Alli di musim panas, tetapi ketua Tottenham Daniel Levy menolak untuk menyetujui kesepakatan tersebut. Masa depan Alli di Tottenham semakin tidak pasti menyusul ia hanya sekali menjadi starter di pertandingan Liga Primer musim ini. PSG disebut akan memanfaatkan situasi Alli dengan merekrutnya ke Parc Des Princes.

HASIL PERTANDINGAN

Liverpool dan Fulham bermain imbang satu sama pada pekan ke-12 Premier League. Fulham yang bertindak sebagai tuan rumah memimpin terlebih dahulu berkat gol Robby Feid lewat dentuman kaki kanannya di menit 25. Namun, lima belas menit jelang peluit akhir, Liverpool menyamakan skor lewat penalti Mohamed Salah. Di laga lainnya, Arsenal kalah 0-1 dari Burnley, Leicester City menang 3-0 atas Brighton. dan Crystal Palace bermain 1-1 dengan Tottenham Hotspurs.

Di ajang La Liga, Barcelona sukses meraih kemenangan atas Levante dengan skor 1-0 di Camp Nou. Gol semata wayang El Barca tercipta berkat lesakan kaki kiri Lionel Messi di menit 76. El Barca saat ini nangkring di posisi ke-8 klasemen sementara, sedangkan Levante berada di urutan ke-18.

Di ajang Serie A Italia, Juventus melibas Genoa 3-1 di Luigi Ferraris. Ketiga gol Juventus dibuat oleh Paulo Dybala melalui kaki kirinya serta dua gol penalti dari Cristiano Ronaldo di babak kedua. Sementara satu-satunya gol Genoa tercipta berkat Stefano Sturaro. Di pertandingan lainnya, AC Milan bermain imbang 2-2 melawan Parma.

RONALDO MAINKAN PERTANDINGAN KE-100 BERSAMA JUVENTUS

Cristiano Ronaldo sudah mencatatkan 100 penampilan untuk Juventus. Catatan tersebut dibuat oleh Ronaldo pada laga melawan Genoa di pekan 11 Serie A. 100 laga yang dilalui Ronaldo bersama Juventus adalah 71 di Liga Italia, 21 di Liga Champions, enam di Coppa Italia, dan dua di Piala Super Italia. Setelah tembus 100 pertandingan bersama Juventus, Ronaldo mengincar gol ke-100 untuk Bianconeri. Saat ini dia sudah mencetak 79 gol.

PSG DITUMBANGKAN LYON, NEYMAR CEDERA SERIUS

Olympique Lyon sukses pecundangi PSG 1-0 dalam laga penutup pekan ke-14 Liga Prancis di Parc des Princes. Kekalahan ini harus dibayar mahal sebab mega bintang mereka, Neymar, mengalami cedera di penghujung laga. Neymar terlihat menangis kesakitan di bagian ankle ketika berduel dengan Tiago Mendes. Akibat pelanggaran keras itu, Mendes pun diganjar kartu merah oleh wasit. Saat ditandu keluar lapangan, Neymar meneteskan air mata. PSG belum mengkonfirmasi sejauh mana cedera pemain internasional Brasil itu.

MESSI CETAK GOL KE-600 DENGAN NO PUNGGUNG 10 DI BARCELONA

Lionel Messi membuat catatan spesial di laga kontra Levante. Bintang Argentina itu kini telah mencetak 600 gol dengan mengenakan seragam Barcelona No 10. 600 gol itu dibuat sejak musim 2008/09, ketika Messi mewarisi nomor punggung yang dipakai Ronaldinho selama lima tahun. Secara total, Messi memiliki 642 gol sebagai pemain Barçelona, dengan 449 gol diantaranya tercipta di Liga Spanyol serta 118 gol di Liga Champions.

ARTETA TUDING KARTU MERAH XHAKA PENYEBAB KEKALAHAN ARSENAL

Manajer Arsenal Mikel Arteta mengkritik Granit Xhaka yang mendapatkan kartu merah saat the Gunners dikalahkan Burnley 0-1 di Emirates. Tuan rumah menguasai jalannya laga dengan penguasaan bola dan menciptakan peluang, sampai Xhaka mendapatkan kartu merah karena mencekik Ashley Westwood pada menit ke-58. Dengan keunggulan pemain, Burnley punya peluang untuk melancarkan serangan. Sampai akhirnya Aubameyang mencetak gol bunuh diri untuk memberikan kemenangan buat the Clarets. Arteta menyebut kartu merah Xhaka sebagai penyebab utama kekalahan Arsenal.

LIVERPOOL DAPAT KABAR BURUK DARI DIOGO JOTA

Kabar buruk menghampiri Liverpool. Salah satu pemain andalan Diogo Jota terancam absen dalam jangka waktu yang lama akibat cedera lutut. Pemain berkebangsaan Portugal itu cedera saat timnya bermain imbang 1-1 melawan Midtjylland pada matchday pamungkas Grup D Liga Champions, pekan kemarin. Dikabarkan, Jota kemungkinan besar absen setidaknya sampai dua bulan. Itu artinya dia harus menepi hingga pertengahan Februari mendatang.

DIBANTAI STUTTGART, DORTMUND RESMI MEMECAT FAVRE

Borussia Dortmund kehilangan kesabaran dengan kiprah sang pelatih, Lucien Favre. Kekalahan 1-5 dari Stuttgart, Jumat (12/12/2020), jadi laga terakhir Favre sebagai pelatih Dortmund. Pada Minggu (13/12/2020), Dortmund mengumumkan perpisahan dengan Favre. Pengumuman ini mengejutkan, mengingat performa Dortmund tidak terlalu buruk musim ini, hanya inkonsisten sama seperti tim-tim lain secara umum. Sayangnya kekalahan telak dari Stuttgart sepertinya sulit diterima. Alasan Dortmund memecat Favre mungkin didasarkan pada laju buruk di Bundesliga dengan hanya empat poin dari lima pertandingan terakhir.

COLUMBUS CREW RAIH GELAR PIALA MLS 2020

Columbus Crew resmi menjadi juara MLS Cup 2020 setelah mengalahkan Seattle Sounders dengan skor telak 3-0 di laga final. Pada laga yang digelar di Columbus Crew Stadium, ketiga gol Columbus dicetak oleh Lucas Zelarayan dan dua gol dari Derrick Etienne. Ini adalah gelar MLS Cup kedua Crew SC sejak pertama dibangun 26 tahun lalu.

RUMAH PAOLO ROSSI KEMALINGAN SAAT PEMAKAMAN

Rumah pahlawan Italia di Piala Dunia 1982, Paolo Rossi, di pedesaan Tuscan, Italia, dirampok pada Sabtu (12/12/2020) saat sang legenda dimakamkan. Kantor berita Italia AGI melaporkan bahwa istri Rossi, Federica, mengetahuinya setelah pulang dari upacara pemakaman di Vicenza. Barang-barang yang dirampok antara lain jam tangan Paolo Rossi dan sejumlah uang tunai. Seperti diketahui, Rossi meninggal dunia di usia 64 tahun pada kamis, 10 desember 2020.

KHEDIRA UMUMKAN KELUAR DARI JUVENTUS PADA JANUARI 2021

Sami Khedira telah mengkonfirmasi bahwa dia akan meninggalkan Juventus pada bursa transfer Januari 2021 mendatang. Ia mengisyaratkan bisa bergabung dengan Everton. Khedira belum pernah dimainkan sekalipun musim ini. Bahkan, ia tidak dimasukkan dalam skuad Juventus untuk Liga Champions. Bianconeri sedang menegosiasikan pemutusan kontrak gelandang Jerman itu lebih awal dari seharusnya yang baru berakhir pada Juni 2021.

MOMEN JOAO FELIX NGAMUK SAAT DIGANTI LAWAN MADRID

Joao Felix tampak marah di bangku cadangan Atletico Madrid usai diganti saat laga masih tersisa setengah jam melawan Real Madrid dalam lanjutan La Liga. Ketika itu, pelatih Diego Simeone menarik keluar Felix untuk digantikan dengan Saul. Felix awalnya bersikap tenang. Tapi Felix kemudian emosi sesampainya di bangku cadangan saat kamera televisi menayangkan gambar dirinya. Laga itu sendiri dimenangkan Madrid dengan skor 2-0.

 

Apa Kabar Dong Fangzhuo, Pemain China Pertama Yang Tampil Untuk MU?

0

Ada saja cerita unik yang menyelimuti dunia sepakbola. Kali ini, meski sudah tergolong lama, pemain bernama Dong Fangzhuo pernah membuat geger warga Asia karena menjadi pemain asal China pertama yang tampil bersama Manchester United.

Tepat pada tahun 2004, dengan biaya senilai 500 ribu pounds, Dong Fangzhuo resmi menjadi pemain China pertama yang tampil untuk Manchester United.

“Dong dibeli pada waktu yang tepat, tetapi dia jauh dari mapan. Dia baru berusia 18 tahun dan hanya bermain beberapa kali saja di liga. Aku merasa kalau perekrutan Dong hanya untuk meningkatkan penjualan kaus United di sana,” kata Brandon Chemers, pemimpin redaksi Wild East Football (via bleacher report)

Setelah bergabung dengan Manchester United, dia tidak bisa langsung bermain untuk tim senior karena masalah izin kerja. Karena masalah itu pula, dia lebih dulu dipinjamkan ke tim divisi bawah Liga Belgia.

Bersama klub Belgia tersebut, Dong bermain baik. Pada musim pertamanya, ia membuat tujuh gol dari 22 pertandingan. Ia bahkan menjadi top skor klub pada musim keduanya dengan torehan 18 gol dan mencetak dua hattrick.

Pada tahun 2006, setelah izin kerja keluar, Dong Fangzhuo mendapat peluang untuk kembali ke United. Benar saja, United memberi kontrak kepadanya sampai tahun 2010, dan membuatnya dipulangkan ke Old Trafford. Dong merasa begitu senang karena berkesempatan main bersama tim sekelas MU. Sebaliknya, MU juga tampak yakin dengan bakat yang dimiliki Dong.

Namun sayang, semua harapan tersebut seketika sirna. Entah mengapa, Dong tidak pernah bisa bersaing dengan nama-nama seperti Wayne Rooney, Cristiano Ronaldo, Alan Smith, dan Ole Gunnar Solskjaer.

“Dong itu punya segalanya. Secara fisik, Dong punya kekuatan, kecepatan, dan lain-lain. Ferguson bahkan mengatakan kepada ku bahwa Dong adalah pemain luar biasa yang akan sempurna untuk Inggris. Ferguson bahkan menyebutnya sebagai pemain eksplosif,” kata Su Maozhen, penguji Dong ketika melakukan trial di United.

Kualitas bagus nyatanya tidak mampu membawa Dong masuk ke dalam persaingan. Dia hanya empat kali tampil dan tidak pernah mencetak gol. Memasuki musim 2008/09, Dong bahkan tidak diberi nomor punggung lagi, setelah nomor 21 yang dikenakannya diberikan kepada Rafael.

Sebuah perjalanan yang sangat singkat untuk seorang pemain Asia yang dikontrak oleh Manchester United.

Seperti yang sudah disinggung, Dong hanya mendapat kesempatan tampil dalam beberapa pertandingan saja. Dia tercatat pernah mendapatkan kesempatan tampil sebagai starter saat Manchester United bertemu dengan Chelsea di Liga Inggris. Ia tampil selama 73 menit di laga yang berakhir 0-0 itu.

Kemudian, pada kompetisi Liga Champions, Don diberi menit bermain kurang lebih 20 menit saat Manchester United bermain imbang 1-1 melawan AS Roma. Lalu, di Piala Liga Inggris, dia bermain penuh ketika Manchester United berhadapan dengan Coventry City. Saat itu Setan Merah tumbang dengan skor 0-2.

Setelah karirnya terbengkalai di Manchester, Dong kemudian pulang ke Cina untuk kembali bermain bersama Dalian Shide. Akan tetapi, pengalamannya bersama United dan Royal Antwerp seolah tidak berguna ketika kembali ke Cina. Dalam dua musim, Dong tidak bisa mencetak gol yang membuat namanya tidak lagi dipercaya untuk memperkuat tim nasional.

Namun, dalam hal ini, MU merasa tidak dirugikan dengan gagalnya Dong tampil bersama skuat utama Setan Merah. Dilaporkan, sejak awal MU ternyata telah membuat perjanjian dengan Dalian. MU meminta biaya transfer untuk dikembalikan bila mereka tidak senang dengan penampilan Dong. Dalian menyanggupinya karena yakin Dong bakal bersinar di Old Trafford.

Melihat performa Dong, MU tentu saja tidak puas. Dan sesuai perjanjian, Dalian pun harus mengembalikan uang yang mereka setor sebelumnya. Jadi MU sama sekali tidak rugi secara finansial.

Dari MU, Dong kembali ke Dalian Shide. Meski tergolong gagal, Dong sendiri selalu merasa bangga pernah bergabung dengan MU.

“Aku tidak frustasi. Selama bertahun-tahun, banyak pemain bertalenta yang meninggalkan klub. Itu kesempatan yang langka bagi pemain manapun bermain di MU, jadi saya sangat bangga,” katanya.

Sejak pergi dari MU, entah kemanapun itu, nasib Dong selalu berjalan tanpa arah. Dia selalu gagal, meski telah bermain bersama Legia Warsaw, Portimonense, hingga melancong jauh bersama Mika, kesebelasan Liga Armenia. Kegagalan ini mempengaruhi mentalnya yang membuat Dong menjadi pemain yang temperamen.

Dalam karirnya, ia tercatat pernah dihukum karena memberi jari tengah kepada pendukung Beijing Institute of Technology setelah ditarik oleh pelatih karena mendapat kartu kuning. Dia juga tak jarang keluar malam dan melakukan kebiasaan yang tidak seharusnya dilakukan oleh para pesepakbola.

Sejak tahun 2015, Dong tercatat tidak memiliki klub hingga putuskan pensiun pada tahun 2016 silam.

Beberapa hal kurang menyenangkan juga sempat melanda Dong akibat karir yang tidak terlalu cemerlang. Pada tahun 2016, Dong secara mengejutkan muncul di salah satu acara televisi di Tiongkok. Wajah Dong berubah. Mantan pesepak bola itu mengaku terpaksa melakukan operasi plastik untuk memodifikasi wajah karena sering diejek masyarakat Tiongkok.

Ia diejek masyarakat Tiongkok karena tidak sukses berkarir sepak bola di Eropa.

Kini, Dong tengah mencoba untuk menularkan pengalaman sepak bolanya kepada anak-anak, beberapa di antaranya berkebutuhan khusus. Dia mencoba untuk melatih anak-anak di Kota Xiamen, Fujian, China. Dia berharap agar bisa membawa kebahagiaan kepada anak-anak tersebut.

Dia mengaku sangat mendapatkan kepuasan tersendiri ketika menularkan ilmunya, terlebih kepada anak-anak yang berkebutuhan khusus.

“Aku merasakan kemurnian mata dan hati mereka. Dan meskipun mereka mungkin memiliki beberapa keterbatasan fisik, jenis konsentrasi, keseriusan mereka. Gairah itu benar-benar menggetarkan,” ujarnya.

https://www.youtube.com/watch?v=ZUQSMziFMTI&t=7s

Kisah Hakim Ziyech: Ditinggal Sang Ayah, Sempat ‘Nakal’ & Kini Sukses Jadi Bintang Chelsea

0

Hakim Ziyech telah resmi menuntaskan kepindahannya ke Stamford Bridge. Tepat pada Juli lalu, playmaker kelahiran Belanda itu mengkonfirmasi telah bergabung dengan Chelsea. Diketahui bahwa Chelsea dan Ajax mencapai kesepakatan dengan nilai transfer sebesar 44 juta euro. Selama membela Ajax Amsterdam, Ziyech telah lama menjadi andalan, dengan mencetak 48 gol dan membuat 82 assist dari 165 pertandingan untuk Die Amsterdammers.

Perjalanan Hakim Ziyech dalam dunia sepakbola tergolong panjang. Dia punya banyak cerita untuk dikisahkan. Dari mulai pahit hingga manis, pemain yang kini berusia 27 tahun telah melewati semuanya.

Lahir di Belanda, Ziyech mengawali karir di Reaal Dronten. Pada tahun 2007, dia lalu pindah ke Heerenveen. Dia lebih dulu tampil di akademi selama kurang lebih lima tahun sebelum akhirnya masuk ke tim utama pada tahun 2012.

Bersama Heerenveen, Ziyech memainkan peran yang cukup penting. Dia menjadi andalan dan tampil dalam setidaknya 45 pertandingan selama dua musim. Penampilan terbaiknya terjadi pada musim 2013/14, ketika dia dipercaya untuk tampil dalam 36 pertandingan dan berhasil mencetak 11 gol. Dari situ, bakatnya mulai tercium oleh sejumlah tim asal Belanda, tak terkecuali Twente, klub yang pada akhirnya menjadi pelabuhan baru Ziyech.

Bersama FC Twente, nama Ziyech semakin dipandang luar biasa. Di musim 2014/15, Ziyech tampil oke dengan total 16 umpan yang menjadi gol dan mencetak 13 gol, sebuah torehan yang sangat baik bagi seorang gelandang. Selain keunggulan teknis, Ziyech juga ditunjuk sebagai kapten FC Twente. Dia juga memiliki kelebihan lain seperti cepat beradaptasi dengan rekan satu kesebelasan, mampu mendapatkan rasa hormat dan menebarkan pengaruh dari dan kepada rekan-rekan setimnya. Sesuatu yang mengindikasikan kematangan emosi dan jiwa kepemimpinan walaupun usianya masih muda.

Dia mampu tumbuh menjadi pemain yang begitu luar biasa. Dia merupakan tipe pemain dengan gaya gocek yang mampu menipu lini pertahanan lawan. Dia juga dibekali dengan kecepatan yang akan selalu membuat pemain lawan kebingungan.

Lebih dari itu, pemain berkaki kidal ini dapat pula ditempatkan di sayap kiri namun posisi yang dapat mengeksplorasi kemampuan terbaiknya tetaplah di tengah, di sepertiga kotak penalti lawan.

Di usia muda, Ziyech memang sudah tampil sangat luar biasa. Namun tahukah kalian bila ia memiliki masa lalu yang cukup memilukan? Sewaktu masih muda, ia harus bisa tabah menjalani hidup dengan rasa sakit ditinggal sang ayah yang harus berpulang lebih dulu. Pada saat itu, Ziyech masih berumur 10 tahun. Sang ayah harus berpulang setelah bertarung melawan penyakit yang sudah lama dideritanya. Sejak saat itu, ia mengemban misi menjadi seorang pesepakbola profesional untuk membantu keluarganya.

Sepeninggal sang ayah, kehidupan Ziyech mulai berubah. Rasa putus asa karena ditinggal oleh orang tercinta mempengaruhi kehidupannya di sekolah. Tidak jarang ia dilaporkan membolos dari kelas.

Hal itulah yang pada akhirnya membuat Ziyech dikeluarkan dari sekolah pada usia 16 tahun.

Lahir di Belanda membuat Ziyech sempat berseragam De Oranje U-19, U-20, dan U-21. Namun setelah itu dia memilih warga negara Maroko dan memulai debutnya di timnas pada 2015 lalu. Bersama Timnas Maroko, Ziyech justru tampil mengagumkan dan berhasil membawa negaranya lolos ke Piala Dunia 2018. Sementara Belanda malah gagal mengikuti turnamen sepak bola terbesar di dunia itu.

Berlanjut ke level klub, perlahan tapi pasti, seperti yang sudah dijelaskan. Dia memiliki perjalanan yang cukup apik hingga namanya semakin terbang mengudara ketika tampil bersama FC Twente. Akan tetapi, menjabat sebagai kapten di klub tersebut tidak benar-benar membuat Ziyech puas.

Ban kapten yang melingkar hanya bertahan selama lima bulan saja. Dia secara terbuka menyatakan kebenciannya terhadap klub dan langsung meminta untuk ditransfer ke klub lain. Ban kapten pun dicabut darinya. Beruntung, performanya tidak terganggu dan Ziyech berhasil mencatatkan 17 gol dan 10 assist.

Ditengah situasi pelik yang dialami Ziyech, Ajax Amsterdam datang memberi penawaran. Tepat pada tahun 2016, Ajax berhasil mendapatkan jasanya dengan harga sebesar 10 juta pounds. Tiga tahun berselang, seperti yang diketahui bersama, ia berhasil mengantar Ajax berjalan sampai babak semifinal Liga Champions.

Ziyech telah menciptakan 421 peluang mencetak gol untuk rekan satu tim di Eredivisie sejak debut bersama Ajax pada September 2016. Jumlah itu 134 kali lebih banyak dibandingkan rekan setimnya. Selain itu, tidak ada pula pemain yang memiliki assist (51), tembakan (528), menciptakan peluang (421) dan menyelesaikan drible (288) lebih banyak dari Ziyech di Eredivisie sejak dia berseragam Ajax.

Selama dua musim terakhir, tepat sebelum dia bergabung dengan Chelsea, hanya Mohamed Salah (79) dan Lionel Messi (77) yang melakukan lebih banyak tembakan di Liga Champions daripada Ziyech (75). Jumlah yang dimilikinya bahkan setara dengan Cristiano Ronaldo.

Empat musim membela Ajax, Ziyech pada akhirnya memilih untuk gabung dengan raksasa London, Chelsea. Disana, dia dipandang sebagai salah satu bintang karena punya kontribusi yang cukup menggelegar.

Ketika resmi mendaratkan kaki di Stamford Bridge, ekspektasi tinggi tentu tertuju pada Ziyech yang mampu mencatatkan 48 gol dan 82 asis dari 165 penampilannya bersama Ajax.

Pada akhirnya, kualitas Ziyech terbukti dalam sejumlah pertandingan yang dijalaninya bersama The Blues.

Salah satu yang membuat namanya mendapat sorotan adalah pada laga melawan Sheffield United di pekan ke-8 Premier League. Pemain 27 tahun itu punya andil besar bagi kemenangan The Blues. Ziyech memang tidak mencetak gol, tetapi dia membuat dua assist. Pemain berkebangsaan Maroko itu mengkreasi enam peluang di laga ini, paling banyak dibanding pemain lain.

Manajer Chelsea, Frank Lampard, memberi pujian tinggi atas aksi Hakim Ziyech. Lampard sangat senang dengan kemampuan pemain asal Maroko itu melepas crossing dengan kaki kiri dari posisi kanan serangan Chelsea.

Bukan hanya akurat, umpan-umpan kaki kiri Hakim Ziyech juga sulit diantisipasi lawan. Kaki kiri telah menjadi keunggulan utama eks pemain Ajax Amsterdam. Lebih dari itu, Ziyech punya teknik yang tidak diragukan lagi. Dia juga punya rasa percaya diri tinggi dan kemampuan membaca permainan yang begitu baik.

Sejak pra musim, performa Ziyech memang sudah tampak jelas. Umpan-umpan yang begitu akurat sukses membuat pemain depan Chelsea sangat dimanjakan.

Dari sejumlah rintangan yang sempat dihadapi, kini, Ziyech berambisi untuk membawa Chelsea naik ke panggung tertinggi.

La Fabrica: Akademi Pencetak Uang Real Madrid

Real Madrid yang saat ini menjadi salah satu klub tersukses di dunia masih terus diisi pemain-pemain kelas atas. Mereka juga memiliki akademi yang tak jarang ciptakan bakat luar biasa.

La Fabrica, yang merupakan akademi el Real, tak ubahnya menjadi pabrik pencetak pemain-pemain hebat bagi Real Madrid. Anak-anak yang bermain di akademi tersebut selalu dibekali motivasi besar untuk bisa bermain bersama bintang-bintang terhebat nantinya.

La Fabrica memang tidak terlalu populer, bila dibandingkan dengan tempat bermain anak-anak Katalan, La Masia. Namun sejak 2010, ketika diklaim kalah jumlah lulusan dengan La Masia, mereka langsung berbenah dan memperbaiki segalanya untuk bisa bersaing dalam menyalurkan bakat-bakat hebat.

Ada lebih dari 250 pemain muda penuh ambisi yang tampil di sana. Akademi ini sendiri berdiri pada tahun 1942. Terletak di Valdebebas, La Fabrica terbagi menjadi sejumlah kawasan, dengan nama Luis Figo, Zidane, Ronald, dan David Beckham.

Soal fasilitas, La Fabrica tidak perlu diragukan lagi. Mereka punya segala fasilitas penunjang untuk membantu kemudahan bagi perkembangan setiap pemain. Dengan segala kemewahan yang dimiliki, tak heran bila banyak sekali anak-anak yang terkesan ketika pertama kali memasuki gerbang La Fabrica.

La Fabrica memang diciptakan untuk menciptakan sebuah generasi emas para pemain sepakbola. Lebih dari sekadar berlatih sepakbola, anak-anak yang sudah menentukan pilihan untuk menimba ilmu di La Fabrica dibentuk untuk memiliki pikiran bahwa mereka semua sedang dipersiapkan untuk menjemput kejayaan. Dengan biaya yang tak murah, anak-anak disana tentu tidak akan melepas kesempatan begitu saja untuk bisa bertahan.

Roberto Rojas, salah satu eks-penghuni La Fabrica, berkata kepada Bleacher Report bahwa begitu wajar jika kejayaan akan menjemput anak-anak tersebut di sana.

“Sejak kalian datang di sana, sepak bola yang kalian yakini akan berubah, dari sesuatu hal yang membuat kegembiraan ke permainan yang akan memberikan kalian uang.”

Penekanan misi bagi anak-anak yang berlatih di La Fabrica dibentuk untuk menjadi sosok yang lebih dari seorang pesepakbola. Mereka harus mau berbagi loker dengan para pemain lain usai latihan, dan juga harus bisa menjaga sikap ketika tampil di layar televisi. Ketika kita melihat anak-anak yang tampil di La Masia, mungkin kita akan disuguhkan dengan anak dengan karakter yang benar-benar menjunjung tinggi nilai klub. Mereka akan tampil seperti pesepakbola pada umumnya.

Namun disini, para lulusan La Fabrica harus bisa menunjukkan perilaku sebagai seorang bintang.

Setidaknya, dalam 10 tahun terakhir La Fabrica sudah menerapkan sistem gugur bagi siapapun yang dianggap tidak layak untuk tampil bersama el Real. Mereka akan benar-benar menyeleksi pemain yang sekiranya layak berseragam el Real, dan bisa tampil di panggung tertinggi untuk memenuhi misi meraih gelar juara.

Dengan segala pelatihan yang diterapkan, serta fasilitas penunjang yang luar biasa, tak jarang kita temui bakat-bakat luar biasa saat ini. Beberapa lulusan terbaik La Fabrica adalah, Dani Carvajal. Carvajal adalah salah satu bek kanan terbaik di dunia saat ini. Kerja keras dan determinasinya berhasil membuatnya saat ini selalu menjadi pilihan utama Zinedine Zidane di sisi kanan pertahanan.

Sempat dipinjamkan ke Bayer Leverkusen selama semusim, Carvajal menjadi sosok yang tidak tergantikan sejak dirinya kembali ke Santiago Bernabeu.

Lalu ada nama Pablo Sarabia yang menjadi salah satu contoh alumni La Fabrica tersukses dalam satu dekade terakhir. Sempat dianggap gagal memanfaatkan potensi besarnya, pemain berusia 28 tahun tersebut berhasil tampil moncer dan menjadi bintang di Sevilla sebelum akhirnya diboyong oleh klub kaya raya, Paris Saint Germain.

Berikutnya ada bintang asal Spanyol yang kini tampil bersama Juventus, Alvaro Morata. Seperti Pablo Sarabia, Morata adalah salah satu lulusan terbaik yang pernah dimiliki oleh La Fabrica dalam satu dekade terakhir ini. Menjalani debut saat Real Madrid masih diasuh oleh Mourinho, dirinya berhasil menjadi pilihan utama di lini depan saat Carlo Ancelotti menjadi nahkoda Los Blancos.

Sempat hengkang ke Juventus dan kembali untuk menjadi kampiun La Liga Spanyol dan Liga Champions, Morata lagi-lagi hengkang dari Bernabeu dan merapat ke Chelsea. Dia juga sempat kembali ke kota Madrid dan membela Atletico Madrid, rival abadi mantan klub yang membesarkannya.

Kini, seperti yang sudah diceritakan, pemain berparas tampan ini kembali membela klub berjuluk Si Nyonya Tua dan menjadi andalan disana.

Hal yang perlu diperhatikan dari hebatnya sistem serta pelatihan La Fabrica adalah, mereka tidak terlalu pintar dalam menjaga para lulusannya untuk bisa bermain bersama Real Madrid. Entah merupakan strategi bisnis atau memang para pemain yang kesulitan mendapat kesempatan, La Fabrica seolah malah menjadi mesin pencetak uang bagi klub berjuluk Los Galacticos.

Dalam hal ini, Florentino Perez menjelaskan bahwa sebenarnya Real Madrid merasa senang dengan bakat luar biasa yang bisa mereka ciptakan. Namun sayang, di tim utama tak ada cukup ruang untuk menampung mereka yang dianggap layak mendapat kesempatan.

“Jika mereka bergabung dengan tim utama tentu kami akan senang. Tapi sayangnya, tidak ada cukup ruang bagi mereka semua,”

Setelah dalam 10 tahun terakhir La Fabrica berhasil mendapatkan sekitar 300 juta euro untuk penjualan para lulusan mereka, pada musim panas lalu, ada sejumlah bintang besar yang lagi-lagi dilepas Real Madrid, dimana mereka merupakan lulusan akademi La Fabrica.

Yang pertama adalah Achraf Hakimi. Pemain berbakat yang sempat berkarir di Jerman itu dibeli Inter Milan dengan nilai sebesar 40 juta euro. Pemain asal Maroko ini begitu diminati oleh Antonio Conte yang merasa punya sistem permainan yang cocok dengan sang pemain.

Kemudian ada Sergio Reguilon yang ditebus senilai 30 juta euro oleh Tottenham Hotspurs. Seperti diketahui, Reguilon punya banyak sekali peminat pada musim panas lalu. Dia yang punya bakat luar biasa tak mendapat tempat utama dibawah asuhan Zinedine Zidane hingga menjalani masa peminjaman di Sevilla. Tottenham Hotspurs yang melihat ini pun langsung mengambil kesempatan untuk mengamankan jasanya.

Nama yang tak kalah tenar adalah Oscar Rodriguez yang diboyong Sevilla dengan nilai 13,5 juta euro. Pemain yang berposisi sebagai seorang gelandang itu mahir dalam memanfaatkan bola mati. Bila kemampuannya semakin jauh berkembang, bukan tak mungkin bila el Real akan kembali menariknya, mengingat mereka masih punya hak kepemilikan sang pemain sebesar 25%.

Yang tak boleh terlupa adalah nama seperti Javi Sanchez bersama Sevilla, Jorge De Frutos & Dani Gomez bersama Levante, Miguel Baeza bersama Celta Vigo, dan juga Alberto Soro bersama Granada. Semua pemain itu telah terjual dengan nilai yang tidak lebih dari 5 juta euro.

Dengan banyaknya lembaran uang yang didapat, hanya pada bursa transfer musim panas lalu saja, sudah cukup membuktikan kalau La Fabrica banyak memberikan keuntungan bagi klub secara finansial.

https://www.youtube.com/watch?v=GduUfONe7s0&t=60s

Ketika Selebrasi Pemain Berujung Sanksi

0

Pesepakbola sering melakukan selebrasi usai mencetak gol, tujuan mereka adalah merayakan kegembiraan setelah berhasil mempersembahkan gol untuk kesebelasan yang dibelanya.

Selain itu, melakukan selebrasi juga dilakukan para pemain dengan tujuan melepaskan stres akibat tekanan saat bermain. Semua pemain selalu dituntut untuk menang, dan gol merupakan salah satu cara untuk memenangkan pertandingan.

Alasan lainnya para pemain lakukan selebrasi adalah membagi kebahagiaan tersebut dengan penonton yang menyaksikan pertandingan.

Sebuah selebrasi tercurah secara spontan, tapi kadang direncanakan. Beberapa di antaranya menyirat makna begitu dalam. Bisa berupa ungkapan atau keberpihakan politik kontroversial. Dalam beberapa kasus, selebrasi-selebrasi yang dilakukan justru berbuah hukuman kepada pemain itu sendiri. Dari mulai diganjar kartu merah hingga diberi sanksi berupa denda.

Seperti selebrasi yang dilakukan Nicolas Anelka. Pada Desember 2013, Anelka yang masih membela West Bromwich Albion berhasil mencetak gol ke gawang West Ham United.

Kemudian Anelka merayakan gol dengan meluruskan tangan kanan ke bawah dan menekuk tangan kiri hingga telapak menyentuh bahu tangan kanan. Gestur tersebut dikenal dengan nama quenelle atau simbol dari anti-semit atau anti-Yahudi.

Sebenarnya gestur tersebut dipopulerkan oleh aktivis politik sekaligus komedian asal Prancis bernama Dieudonne. Awalnya, quenelle dikenal sebagai simbol sekularisme Prancis. Entah bagaimana ceritanya hingga akhirnya quenelle menjadi begitu identik dengan simbol anti-semit.

Anelka sendiri telah mengonfirmasi bahwa selebrasinya itu merupakan bentuk dukungan untuk Dieudonne. Namun, Anelka mesti menerima hukuman lima kali larangan bermain dari Federasi Sepak Bola Inggris.

Selebrasi lain yang berujung sanksi dialami oleh Roman Shirokov. Dalam laga antara Zenit St Petersburg melawan Volgar Astrakhan, Shirokov berhasil cetak gol untuk Zenit di menit 90 untuk bawa timnya unggul 3-1, setelah itu ia melakukan Selebrasi dengan mengacungkan kepalan ke arah fans nya sendiri. Hal ini pun disambuk sorak kecewa oleh pendukungnya.

Hal itu dilakukan oleh Shirokov karena ia Diduga kesal dengan penggemarnya sendiri. Mengetahui hal tersebut, wasitpun bertindak tegas dengan menghampiri dan mengeluarkan kartu merah untuk pemain asal Russia tersebut. Setelah dapat kartu merah Shirokov pun terlihat pasrah.

Ajang piala dunia 2018 sempat menimbulkan sebuah kontroversi. Hal itu datang dari Granit Xhaka dan Xherdan Shaqiri. Mereka berdua mendapat sorotan seusai melakukan selebrasi gol saat melawan Serbia.

Baik Granit Xhaka dan Xherdan Shaqiri berselebrasi dengan melakukan aksi membuat simbol lewat tangannya seperti burung yang mengepakkan sayap dan menempelkannya di tengah dada. Diduga, selebrasi tersebut bermuatan politis. Atas hal itu Xhaka harus didenda oleh FIFA.

Emanuel Emenike juga mengalami ketidakberuntungan atas selebrasinya. Selebrasi tersebut memang berlebihan. Ia berhasil mencetak gol ke gawang Zenit di Liga Rusia. Hal yang menjadi masalah ialah selebrasinya yang menempukkan tangan kanannya ke pergelangan tangan kirinya seolah ia merupakan pecandu narkoba. Setelah itu ia langsung diberi kartu merah oleh wasit.

Pemain selanjutnya adalah Gareth Bale, Pada februari 2019 Bale berhasil mencetak gol kala bertandang ke markas Atletico Madrid. Gol itu adalah yang ke-100 bersama real Madrid untuk meraih kemenangan 3-1 di Wanda Metropolitano.

Dan ketika merayakan gol itu, Bale mengangkat lengan kanannya di dekat kepalanya dengan tanda provokasi yang jelas kepada para penggemar, lalu memberikan gerakan yang bisa dianggap cabul dan menghina dengan melipat tangannya dan memukulnya dengan tangan yang lain.

Setelah diselidiki oleh federasi sepakbola Spanyol, Bale harus menghadapi sanksi berupa larangan bermain dalam 12 pertandingan liga spanyol.

Selebrasi yang berujung hukuman juga dialami oleh Edinson Cavani. Ketika memperkuat PSG pada tahun 2014, Striker andalan Uruguay ini amat sumringah ketika dirinya berhasil mencetak gol lewat titik penalti.

Cavani pun merayakan golnya dengan bergaya ala penembak jitu yang menargetkan jarinya ke arah penonton. Sayangnya selebrasi tersebut dianggap sensitif dan berlebihan. Cavani pun diganjar kartu kuning kedua yang berujung kartu merah.

Pemain asal Swedia, Medi Dresevic, mendapat kartu kuning kedua usai melakukan selebrasi gol. Sebelumnya, usai mencetak gol, Dresevic berlari ke pinggir lapangan untuk kemudian duduk di tribun penonton.

Di sana, Dresevic bergaya sedang memberi aplaus, layaknya yang sering dilakukan penonton kepada pemain. Akan tetapi, aksi Dresevic tidak disukai wasit. Karena dinilai memperlambat permainan, ia pun mendapat kartu kuning kedua yang berujung kartu merah.

Mantan pemain MU, Carlos Teves juga terkena kartu merah usai berselebrasi. Dalam pertandingan yang mempertemukan Boca Junior melawan River Plate di liga Argentina, Tevez berhasil cetak gol untuk timnya, Boca Junior.

Selebrasi yang dilakukan Tevez memang dianggap berlebihan dan provokatif mengingat laga antara kedua tim di Liga Argentina memang selalu dalam tensi yang tinggi. Begitu mencetak gol dan melepaskan bajunya, Tevez melakukan tarian layaknya ayam.

Menurut wasit, selebrasi Tevez dinilai telah meremehkan lawan. Karena itu, Tevez pun menerima kartu merah langsung dari sang pengadil pertandingan.

Pada medio 2011, Neymar bisa dibilang pemain yang paling memiliki prospek untuk berkembang menjadi pesepakbola kelas dunia. Karena itu, tindak-tanduk Neymar pun selalu mendapat perhatian dari berbagai kalangan.

Bahkan tak jarang, aksi Neymar justru membuat pengadil pertandingan dibuat kesal oleh mantan pemain Barcelona tersebut. Pernah ketika membela Santos, Neymar melakukan selebrasi dengan menggunakan topeng bergambar wajah dirinya sendiri usai mencetak gol. Akan tetapi, selebrasi itu tidak disukai wasit yang memimpin pertandingan, sehingga Neymar harus rela diusir dari lapangan.

Kemudian adalah Dani Gbale, namanya mungkin asing ditelinga anda. Pemain yang satu ini adalah salah satu dari pemain yang selebrasinya diganjar kartu merah. Entah apa yang ada di pikiran pemain Portugal ini.

Setelah mencetak gol  ia nampak berlari di sisi lapangan kemudian berhenti dan menunjukkan pantatnya ke arah penonton. Sontak selebrasi itu pun membuat wasit mengeluarkan kartu kuning kedua yang berujung pada kartu merah pada Gbale.

Paolo Di Canio, Penyerang yang terkenal kala membela West Ham United dan Lazio memang kerap melakukan tindak kontroversial. Salah satunya, kala membela Lazio tahun 2005 silam, Di Canio terlihat melakukan gestur yang disebut mendukung gerakan terlarang. Gestur tersebut ditujukannya kepada fans AS Roma.

Di Canio yang kala itu berusia 37 tahun kemudian didenda 7 ribu paun atau sekitar Rp 115 miliar dan dihukum satu kali larangan bermain. Namun, Presiden FIFA saat itu, Sepp Blatter, mengatakan sanksi seumur hidup lebih pantas. Di Canio pun kemudian melakukan pembelaan dengan mengatakan dirinya tidak rasiss melainkan seorang fasis.

Selebrasi Robie Fowler juga tak luput dari sanksi. Usai mencetak gol ke gawang Everton tahun 1999 silam, legenda Liverpool tersebut melakukan selebrasi yang berujung denda sebesar 60 ribu paun atau sekitar Rp 900 miliar. Kala itu Fowler berlari ke garis putih dan melakukan gerakan membungkuk sambil seakan menghisap sesuatu.

Manajer Liverpool saat itu, Gerard Houllier, mengatakan gerakan tersebut adalah selebrasi memakan rumput, seperti yang kerap dilakukan Rigobert Song. Namun, kemudian Fowler mengakui selebrasinya tersebut merupakan bentuk protesnya kepada fans Everton yang menuduhnya memakai kokain.

Berselebrasi usai cetak gol boleh-boleh saja, namun tetap harus dalam koridor fairplay dan etika tetap harus dijaga.