Masa Kecil Penuh Derita Yang Membentuk Seorang Edin Dzeko

spot_img

Masa kecil seorang bocah laki-laki kebanyakan dihabiskan dengan berbagai tawa dan sesekali mencela lawan bicara. Dalam siklus permainannya, bocah yang barangkali kerap habiskan waktu dengan teman sebaya tak pernah terbawa amarah. Mereka menganggap bahwa semua ucapan yang keluar hanyalah sebuah gurau belaka.

Selain sering memainkan permainan tradisional khas daerahnya, masa kecil anak laki-laki juga sering dihabiskan dengan permainan si kulit bundar. Tak hanya di Indonesia saja, seluruh bocah di dunia juga pasti merasakan hal yang sama.

Tak terkecuali masa kecil seorang bocah yang kini tengah menikmati masa jaya nya sebagai pemain ternama. Adalah Edin Dzeko. Pria asal Bosnia yang kerap menghabiskan waktunya dengan menendang bola.

Dalam sebuah kesempatan, Dzeko pernah mengatakan bahwa ia seringkali lupa waktu, kala kakinya sudah menyentuh benda yang menjadi bagian dari permainan favoritnya. Dari mulai matahari hamparkan cahaya, Dzeko tak pernah lelah meski kulit sudah merasakan sengatan yang begitu nyata. Ia terus memainkan bola sampai sang surya tak lagi tampakkan muka.

Atau setidaknya, ia akan berhenti kala orang tuanya sudah mengingatkannya untuk tidak lagi bermain bola. Ya, selain matahari yang menjadi penanda bahwa permainan telah mencapai masa kemunca, suara keras orang tuanya juga menjadi sebuah peluit panjang baginya untuk hentikan laju bola.

Bukan, hal ini bukan tentang Dzeko yang sudah lama langkahkan kaki dalam sebuah permainan, namun karena sebuah hal yang mungkin tidak ingin lagi diingatnya.

Saat itu, Dzeko masih ingat betul ketika ibunya berteriak kearahnya. Sang ibu yang punya firasat buruk akan anak kesayangannya tiba-tiba memanggil Dzeko untuk memintanya berhenti bermain dan segera masuk kedalam rumah. Ternyata, tanah lapang yang dijadikan Dzeko sebagai tempat permainan hancur tak berbekas setelahnya, pasca sebuah bom meluncur deras ke lokasi favoritnya.

Edin Dzeko, lahir pada 17 Maret 1986 di Sarajevo, Bosnia. Ia lahir dari pasangan Belma dan Midhat Dzeko. Masa kecilnya harus ia jalani dengan berbagai ketakutan. Dzeko merupakan korban dari perpecahan Yugoslavia yang berlangsung selama kurang lebih tiga tahun.

Bukan hal mudah bagi Dzeko untuk bertahan. Ia dan keluarganya bahkan harus mengungsi ke sebuah ruang bawah tanah setelah rumahnya hancur akibat sebuah bom yang dijatuhkan.

Saat kehancuran tanah lapang yang digunakan nya dan rekan-rekannya hancur, Dzeko juga mengaku kehilangan banyak teman. Itu karena dirinya tak sempat untuk menyelamatkan teman-temannya yang sedang asyik bermain sepak bola.

Kekacauan saat itu bahkan memunculkan sebuah suara sirine untuk mengingatkan para orang-orang disana. Jadi selain tenggelamnya matahari dan teriakan orang tuanya, permainan sepak bolanya juga harus berhenti jika sebuah sirine sudah terdengar.

“Selama terjadi perang, aku mengalami masa ketika harus berhenti main bola ketika sirine berbunyi,”

Sebagai seorang bocah, Dzeko tak terlalu paham dengan kondisi dan situasi bahaya yang terjadi. Dia hanya menuruti ketika orangtuanya meminta berhenti.

“Saat berusia 6 tahun, aku memang cukup tahu atas apa yang terjadi. Namun, tak berpikir terlalu jauh juga,”

“Namun, orangtua ku yang selalu khawatir. Tanpa mereka, mungkin aku tak di sini seperti sekarang.” kenang Dzeko (via asroma.com)

Dzeko yang menjadi korban perang saudara di Yugoslavia dan Semenanjung Balkan pun akhirnya bisa bernafas lega. Setelah lebih dari tiga tahun, perang berakhir. Setelah itu, ia benar-benar bisa salurkan bakat sepak bolanya. Dzeko yang baru berusia sekitar 10 tahun pun dengan semangat meminta sang ayah untuk mengantarkannya menuju tempat latihan.

Namun, semua tak semudah apa yang dibayangkan. Dzeko tidak bisa memulai segalanya dengan lancar. Ia kembali temui kendala dan butuh usaha ekstra untuk bisa kembali nyaman memainkan bola.

Kendati begitu, seperti apa yang orang bijak katakan, orang hebat tidak dihasilkan dari kemudahan, kesenangan, dan kenyamanan. Mereka dibentuk melalui kesulitan, tantangan, dan air mata.

Dzeko tampak memahami itu semua. Ia saat itu tengah berjuang untuk menciptakan lagu kehidupannya. Hidup yang layaknya sebuah permainan, ia mainkan dengan sangat hati-hati. Ia melewati semua tantangan, merajut mimpi, dan berusaha mewujudkan itu semua.

Tantangan Dzeko selanjutnya berada pada sebuah perjalanan jauh yang harus ia tempuh agar bisa sampai ke tempat latihan klub pertamanya, Zeljeznicar. Setelah sampai di tempat latihan, stadion yang akan ia gunakan untuk latihan ternyata sudah hancur dan menjadi bagian dari korban perang. Tidak ada yang tersisa. Hanya ada sebagian kecil lahan yang bisa digunakan.

“Ketika itu, aku ingat ayah membawaku ke klub Zeljeznicar untuk berlatih dan perlu gonta-ganti bus dan kereta untuk sampai,”

“Akan tetapi, segalanya telah hancur. Tak ada lagi yang tersisa, termasuk untuk lapangan sepak bola,” kata Dzeko

Saat sedang menjalani masa-masa seperti itu, ada satu hal yang selalu membuat Dzeko teringat dengan sang ayah. Yaitu, ayahnya yang merupakan sosok penyayang selalu memberikannya pisang sebelum bertanding. Dari pisang yang diberikan sang ayah, Dzeko selalu punya energi tambahan untuk berlatih, meski tempat latihannya telah hancur dan hanya menyisakan sedikit lahan.

Setelah rutin berlatih, sampailah pada masa-masa yang dinanti, yakni pemanggilan dirinya ke tim utama Zeljeznicar. Momen itu terjadi pada tahun 2003.

“Ketika itu, kami tengah berada di pusat perbelanjaan. Lalu, ada telepon dari pelatih bahwa aku akan bermain untuk tim utama besoknya,”

“Begitu aku memberi tahu kepada ayah, dia langsung terkejut dan menanyakan kapan, di mana, dan lawan siapa,” ujar Dzeko.

Bagi Dzeko momen tersebut menjadi sebuah hal yang telah membayar segala perjuangan dan penantiannya. Khususnya bagi sang ayah yang sudah banyak sekali memberikan yang terbaik baginya.

Namun di klub yang memberinya kesempatan itu, Dzeko sempat temui berbagai tantangan lainnya. Seperti misalnya ia tidak ditempatkan diposisi aslinya. Ia memulai permainan sebagai seorang gelandang sebelum akhirnya mematenkan tempat di posisi serang.

Hingga pada akhirnya, perjalanan Dzeko berlanjut ke negeri Ceko. Dzeko baru berusia 19 tahun kala hijrah ke Ceko dan bergabung dengan klub Teplice.

Di tim tersebut, bakat Dzeko mulai dimanfaatkan. Setelah dicoba dibeberapa posisi, Dzeko akhirnya diplot sebagai penyerang. Potensinya lalu mulai terasah, Dzeko mulai menemui titik terang di Bundesliga Jerman setelah hengkang dari Teplice. Dirinya tergabung dengan Wolfsburg.

Bermain untuk Wolfsburg, karakter kebintangannya mulai nampak. Bersama dengan Grafite, Edin Dzeko membuat duet lini serang yang begitu mematikan. Kedua pemain tersebut bahkan sukses memberikan gelar Bundesliga bagi Wolfsburg dan menjadi top skor di kompetisi tertinggi Jerman tersebut.

Wolfsburg menjadi simbol kesuksesan Edin Dzeko. Ia sukses mengharumkan nama Bosnia melalui klub tersebut.

Kemampuannya pun diakui oleh seantero Bosnia, tanah kelahirannya. Meski sempat diolok-olok dengan sebutan ‘Cloc’ atau ‘Stik Kayu Besar’, Dzeko berhasil membuktikan diri dan mendapat julukan sebagai ‘diamond’ atau Berlian dari Bosnia.

Menyusul permainan luar biasanya di Jerman, Dzeko langsung menjadi incaran klub-klub besar Eropa. Hingga pada akhirnya, Dzeko resmi berseragam Manchester City dan menjadi salah satu pemain dari dimulainya era kejayaan The Citizen.

Bermain untuk klub asal Inggris, Dzeko berhasil torehkan sejumlah gelar, termasuk dua trofi Liga Primer Inggris, FA Cup, dan beberapa trofi domestik lainnya.

Namun begitu, Dzeko tidak menikmati masa-masa nya di City. Penyerang asal Bosnia bahkan berujar kalau ia tak pernah bahagia kala berseragam tim biru langit. Alasannya adalah banyaknya persaingan di lini depan.

‘Selalu ada empat striker berkualitas di sana. Itulah mengapa aku selalu tidak bahagia. Dengan banyaknya pemain berkualitas, itulah yang harus kalian hadapi,” ucap Dzeko (via sportmole)

Dzeko merasa bahwa ia tidak layak menjadi pengganti. Ia cukup percaya diri dengan kemampuannya. Itulah sebabnya Dzeko memutuskan pindah dan ingin membuktikan bahwa dirinya punya kualitas jempolan untuk menjadi seorang pemain utama.

Pada musim 2015/16, Dzeko dipinjamkan ke AS Roma, sebelum akhirnya menandatangani kontrak permanen dan menjadi bintang disana.

Benar saja, apa yang dikatakan Dzeko bukan hanya bualan belaka. Saat resmi berseragam AS Roma, talentanya selalu keluar dengan sangat baik. Dzeko menjadi andalan dan hingga saat ini, namanya masih terus dilantangkan oleh para penggemar klub ibukota.

Meski belum pernah sumbangkan gelar untuk AS Roma, setidaknya, pemain yang mengidolakan Andriy Shevchenko ini berhasil torehkan sejumlah raihan bergengsi, seperti gelar top skor dan pemain terbaik tim serigala.

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru