Kisah Hakim Ziyech: Ditinggal Sang Ayah, Sempat ‘Nakal’ & Kini Sukses Jadi Bintang Chelsea

spot_img

Hakim Ziyech telah resmi menuntaskan kepindahannya ke Stamford Bridge. Tepat pada Juli lalu, playmaker kelahiran Belanda itu mengkonfirmasi telah bergabung dengan Chelsea. Diketahui bahwa Chelsea dan Ajax mencapai kesepakatan dengan nilai transfer sebesar 44 juta euro. Selama membela Ajax Amsterdam, Ziyech telah lama menjadi andalan, dengan mencetak 48 gol dan membuat 82 assist dari 165 pertandingan untuk Die Amsterdammers.

Perjalanan Hakim Ziyech dalam dunia sepakbola tergolong panjang. Dia punya banyak cerita untuk dikisahkan. Dari mulai pahit hingga manis, pemain yang kini berusia 27 tahun telah melewati semuanya.

Lahir di Belanda, Ziyech mengawali karir di Reaal Dronten. Pada tahun 2007, dia lalu pindah ke Heerenveen. Dia lebih dulu tampil di akademi selama kurang lebih lima tahun sebelum akhirnya masuk ke tim utama pada tahun 2012.

Bersama Heerenveen, Ziyech memainkan peran yang cukup penting. Dia menjadi andalan dan tampil dalam setidaknya 45 pertandingan selama dua musim. Penampilan terbaiknya terjadi pada musim 2013/14, ketika dia dipercaya untuk tampil dalam 36 pertandingan dan berhasil mencetak 11 gol. Dari situ, bakatnya mulai tercium oleh sejumlah tim asal Belanda, tak terkecuali Twente, klub yang pada akhirnya menjadi pelabuhan baru Ziyech.

Bersama FC Twente, nama Ziyech semakin dipandang luar biasa. Di musim 2014/15, Ziyech tampil oke dengan total 16 umpan yang menjadi gol dan mencetak 13 gol, sebuah torehan yang sangat baik bagi seorang gelandang. Selain keunggulan teknis, Ziyech juga ditunjuk sebagai kapten FC Twente. Dia juga memiliki kelebihan lain seperti cepat beradaptasi dengan rekan satu kesebelasan, mampu mendapatkan rasa hormat dan menebarkan pengaruh dari dan kepada rekan-rekan setimnya. Sesuatu yang mengindikasikan kematangan emosi dan jiwa kepemimpinan walaupun usianya masih muda.

Dia mampu tumbuh menjadi pemain yang begitu luar biasa. Dia merupakan tipe pemain dengan gaya gocek yang mampu menipu lini pertahanan lawan. Dia juga dibekali dengan kecepatan yang akan selalu membuat pemain lawan kebingungan.

Lebih dari itu, pemain berkaki kidal ini dapat pula ditempatkan di sayap kiri namun posisi yang dapat mengeksplorasi kemampuan terbaiknya tetaplah di tengah, di sepertiga kotak penalti lawan.

Di usia muda, Ziyech memang sudah tampil sangat luar biasa. Namun tahukah kalian bila ia memiliki masa lalu yang cukup memilukan? Sewaktu masih muda, ia harus bisa tabah menjalani hidup dengan rasa sakit ditinggal sang ayah yang harus berpulang lebih dulu. Pada saat itu, Ziyech masih berumur 10 tahun. Sang ayah harus berpulang setelah bertarung melawan penyakit yang sudah lama dideritanya. Sejak saat itu, ia mengemban misi menjadi seorang pesepakbola profesional untuk membantu keluarganya.

Sepeninggal sang ayah, kehidupan Ziyech mulai berubah. Rasa putus asa karena ditinggal oleh orang tercinta mempengaruhi kehidupannya di sekolah. Tidak jarang ia dilaporkan membolos dari kelas.

Hal itulah yang pada akhirnya membuat Ziyech dikeluarkan dari sekolah pada usia 16 tahun.

Lahir di Belanda membuat Ziyech sempat berseragam De Oranje U-19, U-20, dan U-21. Namun setelah itu dia memilih warga negara Maroko dan memulai debutnya di timnas pada 2015 lalu. Bersama Timnas Maroko, Ziyech justru tampil mengagumkan dan berhasil membawa negaranya lolos ke Piala Dunia 2018. Sementara Belanda malah gagal mengikuti turnamen sepak bola terbesar di dunia itu.

Berlanjut ke level klub, perlahan tapi pasti, seperti yang sudah dijelaskan. Dia memiliki perjalanan yang cukup apik hingga namanya semakin terbang mengudara ketika tampil bersama FC Twente. Akan tetapi, menjabat sebagai kapten di klub tersebut tidak benar-benar membuat Ziyech puas.

Ban kapten yang melingkar hanya bertahan selama lima bulan saja. Dia secara terbuka menyatakan kebenciannya terhadap klub dan langsung meminta untuk ditransfer ke klub lain. Ban kapten pun dicabut darinya. Beruntung, performanya tidak terganggu dan Ziyech berhasil mencatatkan 17 gol dan 10 assist.

Ditengah situasi pelik yang dialami Ziyech, Ajax Amsterdam datang memberi penawaran. Tepat pada tahun 2016, Ajax berhasil mendapatkan jasanya dengan harga sebesar 10 juta pounds. Tiga tahun berselang, seperti yang diketahui bersama, ia berhasil mengantar Ajax berjalan sampai babak semifinal Liga Champions.

Ziyech telah menciptakan 421 peluang mencetak gol untuk rekan satu tim di Eredivisie sejak debut bersama Ajax pada September 2016. Jumlah itu 134 kali lebih banyak dibandingkan rekan setimnya. Selain itu, tidak ada pula pemain yang memiliki assist (51), tembakan (528), menciptakan peluang (421) dan menyelesaikan drible (288) lebih banyak dari Ziyech di Eredivisie sejak dia berseragam Ajax.

Selama dua musim terakhir, tepat sebelum dia bergabung dengan Chelsea, hanya Mohamed Salah (79) dan Lionel Messi (77) yang melakukan lebih banyak tembakan di Liga Champions daripada Ziyech (75). Jumlah yang dimilikinya bahkan setara dengan Cristiano Ronaldo.

Empat musim membela Ajax, Ziyech pada akhirnya memilih untuk gabung dengan raksasa London, Chelsea. Disana, dia dipandang sebagai salah satu bintang karena punya kontribusi yang cukup menggelegar.

Ketika resmi mendaratkan kaki di Stamford Bridge, ekspektasi tinggi tentu tertuju pada Ziyech yang mampu mencatatkan 48 gol dan 82 asis dari 165 penampilannya bersama Ajax.

Pada akhirnya, kualitas Ziyech terbukti dalam sejumlah pertandingan yang dijalaninya bersama The Blues.

Salah satu yang membuat namanya mendapat sorotan adalah pada laga melawan Sheffield United di pekan ke-8 Premier League. Pemain 27 tahun itu punya andil besar bagi kemenangan The Blues. Ziyech memang tidak mencetak gol, tetapi dia membuat dua assist. Pemain berkebangsaan Maroko itu mengkreasi enam peluang di laga ini, paling banyak dibanding pemain lain.

Manajer Chelsea, Frank Lampard, memberi pujian tinggi atas aksi Hakim Ziyech. Lampard sangat senang dengan kemampuan pemain asal Maroko itu melepas crossing dengan kaki kiri dari posisi kanan serangan Chelsea.

Bukan hanya akurat, umpan-umpan kaki kiri Hakim Ziyech juga sulit diantisipasi lawan. Kaki kiri telah menjadi keunggulan utama eks pemain Ajax Amsterdam. Lebih dari itu, Ziyech punya teknik yang tidak diragukan lagi. Dia juga punya rasa percaya diri tinggi dan kemampuan membaca permainan yang begitu baik.

Sejak pra musim, performa Ziyech memang sudah tampak jelas. Umpan-umpan yang begitu akurat sukses membuat pemain depan Chelsea sangat dimanjakan.

Dari sejumlah rintangan yang sempat dihadapi, kini, Ziyech berambisi untuk membawa Chelsea naik ke panggung tertinggi.

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru