Beranda blog Halaman 796

Mengapa Bernd Leno Tak Memakai Jersey Kiper Saat Melawan Wolves?

0

Sepakbola menjadi olahraga yang menarik untuk disaksikan. Bukan soal kalah atau menang, namun lebih kepada permainan menawan di atas lapangan. Bagi penggemar sepakbola sejati, kalian pasti sering menonton kompetisi sepakbola entah itu Liga Inggris, Spanyol atau Italia tiap akhir pekan.

Jika dicermati, dalam pertandingan sepakbola pasti ada satu pemain yang mengenakan atribut berbeda dibanding yang lainnya. Pemain itu adalah seorang penjaga gawang yang memakai jersey yang berbeda dengan rekan satu timnya.

Hal itu merupakan salah satu dari sekian banyak aturan yang ada dalam dunia sepakbola. Terkait dengan seragam kiper yang berbeda, hal itu memang diwajibkan oleh FIFA. Penjaga gawang harus memakai seragam yang membedakan mereka dari para pemain lain dan wasit.

Aturan tersebut tercantum dalam Laws of the Game FIFA dalam Aturan 4 Tentang Perlengkapan Pemain di bagian pembahasan Warna yang berbunyi bahwa ‘Setiap penjaga gawang harus memakai warna yang membedakannya dari pemain lain, wasit dan asisten wasit’

Umumnya seorang penjaga gawang memakai jersey khusus kiper saat bertanding di atas lapangan. Namun, hal itu tidak dilakukan oleh Bernd Leno saat membela Arsenal melawan Wolverhampton Wanderers pada pekan ke-10 Liga Primer Inggris 2020/21.

Biasanya Leno memakai kostum kiper berwarna hijau terang, tapi untuk laga yang berlangsung di Emirates Stadium tersebut, ia mengenakan kostum tandang pemain biasa atau non-kiper berwarna putih, sedangkan 10 pemain Arsenal lainnya mengenakan baju kebesaran berwarna merah.

Leno memakai jersey tandang Arsenal itu bukannya tanpa alasan. Bukan untuk gaya-gayaan, ataupun menarik simpati penonton. Tapi ada alasan khusus yang memaksa kiper asal Jerman itu menggunakan kostum tandang Arsenal berwarna putih.

Alasan pemilihan seragam yang tak biasa tersebut dikarenakan penjaga Wolverhampton Wanderers, yakni Rui Patricio juga menggunakan jersey yang berwarna hijau. Dalam aturan Premier League, penjaga gawang tidak boleh mengenakan serangan dengan warna sama, meski berada di ujung lapangan yang berbeda.

Aturan itu dibuat mungkin untuk menghindari kebingungan yang bisa terjadi apabila salah satu kiper meninggalkan gawangnya untuk menyambut sepak pojok atau tendangan bebas. Hal tersebut biasanya terjadi di menit-menit akhir pertandingan, meski tidak menutup kemungkinan terjadi di tengah laga.

Sebenarnya Wolves sebagai tim tamu yang bertanggung jawab atas kesamaan warna kostum kiper, tapi mereka tiba di Emirates Stadium tanpa membawa warna cadangan, yang berarti memaksa Leno untuk berganti pakaian.
Tim berjuluk Meriam London pun mengonfirmasi perubahan seragam tersebut beberapa saat sebelum kick off. Namun, tidak dijelaskan lebih jauh mengapa mereka lebih memilih jersey tandang yang berwarna putih untuk dikenakan Bernd Leno.

Padahal, skuad asuhan Mikel Arteta itu masih memiliki seragam kiper lainnya yang berwarna. Sayangnya, warna hitam mungkin saja juga tidak boleh dipakai untuk saat itu karena sama seperti seragam wasit yang digunakan oleh Michael Oliver.

Pada laga itu sendiri, seragam putih Leno tampaknya tidak bertuah, pasalnya Arsenal takluk di tangan Wolves dengan skor tipis 2-1. Gol tim tamu dicetak oleh Pedro Neto dan Daniel Podence. Sedangkan the Gunners membuat gol melalui aksi Gabriel.

Berita Bola 12 Desember 2020 : CALON Pemain Terbaik FIFA 2020 – Messi DIPAKSA Gabung Napoli – Alaba ke Real Madrid

0

Starting Eleven News – Berita sepak bola terbaru hari ini edisi Sabtu 12 Desember Desember 2020. Pastikan obrolan mu dengan teman – teman diisi rangkuman berita dari kami.

PABLO MARI MINTA ARSENAL TAK PECAT ARTETA

Bek Arsenal Pablo Mari menegaskan, dirinya akan terus memberikan dukungan penuh pada manajer Mikel Arteta. Dia berharap Arteta tetap menjabat di posisinya saat ini di Emirates Stadium. Menurutnya, jika Arsenal memutuskan untuk mengganti manajer, maka itu termasuk ke dalam tindakan yang tergesa-gesa. Dia meminta klub untuk sabar dan memberi waktu lebih bagi Arteta untuk bisa segera temukan formula terbaiknya.

ARSENAL MASUK PERBURUAN ERIC GARCIA

Rencana Barcelona untuk mendatangkan Eric Garcia ke Camp Nou tidak berjalan mulus. Klub Inggris, Arsenal diberitakan juga meminati jasa bek Manchester City itu. Menurut laporan, Arsenal saat ini tengah fokus untuk memperkuat lini pertahanan mereka. Mikel Arteta menilai lini pertahanan The Gunners terlalu keropos. Sehingga mereka butuh tambahan tenaga di sektor itu. Arteta mengetahui betul kualitas Garcia saat ia masih menjadi asisten Pep, sehingga ia ingin bek asal Spanyol itu pindah ke London Utara.

KAI HAVERTZ BICARA SOAL POSISI IDEAL

Kai Havertz boleh dibilang kesulitan menemukan ritme di klub baru dan liga baru. Dia punya potensi luar biasa, hanya belum cukup terlihat di lapangan. Havertz pun bicara soal adaptasi dan posisi terbaiknya di lapangan. Dia mengaku lebih senang bermain di posisi yang lebih ofensif. Namun begitu, dia mengembalikan keputusan ke tangan pelatih. Baginya, dia akan selalu memberikan yang terbaik, meski harus berjuang untuk beradaptasi di posisi yang tidak biasa ditempatinya.

MOURINHO PUJI TENDANGAN BEBAS BALE

Pelatih Tottenham Hotspur, Jose Mourinho, memuji kontribusi Gareth Bale dalam laga kontra Royal Antwerp. Meski Bale hanya bermain selama 58 menit, tetapi ia cukup memberi kontribusi besar. Terutama pada gol pertama Tottenham yang dicetak Carlos Vinicius. Seperti diketahui, gol tercipta berkat tendangan bebas Bale yang membentur tiang gawang Antwerp. Setelah itu, bola muntah tersebut diselesaikan oleh Carlos Vinicius yang berdiri sangat bebas tanpa pengawalan satu pemain pun. Mourinho mengatakan Bale telah membuat tendangan bebas yang bagus dan itu menjadi hal yang sangat berarti bagi Tottenham.

VAN PERSIE PERNAH MINTA ARSENAL BOYONG CHIELLINI

Robin van Persie mengungkapkan, dirinya pernah menyuruh Arsenal untuk mendatangkan Giorgio Chiellini. Ketika itu, van Persie menganggap lini belakang Arsenal keropos. Dia merasakan betul hal tersebut dan mendorong Meriam London untuk merealisasikan perekrutan Chiellini. Menurutnya, pengalaman yang dimiliki Chiellini sangat bagus untuk masa depan Arsenal. Namun, The Gunners enggan mendengar permintaan legenda Belanda tersebut.

SOLSKJAER DIMINTA CADANGKAN DE GEA MUSIM INI

Legenda Arsenal, Paul Merson, mengkritisi habis-habisan kiper Manchester United, David de Gea. Merson bahkan meminta pelatih Ole Gunnar Solskjaer untuk mencadangkan De Gea di sisa musim ini. Saat berhadapan dengan Leipzig, De Gea dinilai jadi biang terciptanya gol ketiga Leipzig dari Justin Kluivert dimana dia terlalu lambat untuk mengambil bola. Sebagai gantinya, Paul Merson meminta United segera memainkan Dean Henderson yang bermain apik bersama Sheffield United musim lalu.

BEK SHAKHTAR UCAPKAN TERIMA KASIH KEPADA LUKAKU

Inter Milan terpaksa harus meraih hasil kurang mengesankan ketika menjalani pekan keenam Grup B Liga Champions. Menghadapi Shakhtar Donetsk, I Nerazzurri harus puas menyelesaikan laga dengan skor 0-0. Pada menit ke-89, Inter sebenarnya berpeluang memenangkan pertandingan melalui sundulan Alexis Sanchez. Akan tetapi peluang emas yang didapatkan Sanchez itu gagal jadi gol, lantaran bola hasil sundulannya mengenai Romelu Lukaku. Karena hal itulah, bek Shakhtar, Mykola Matvienko mengucapkan banyak terima kasih kepada Lukaku. Dia mengakui bahwa Shakhtar sangat berhutang budi terhadap aksi Lukaku.

TERSINGKIR DARI UCL, INTER KEHILANGAN BANYAK UANG

Inter Milan harus mengakhiri petualangan mereka di kompetisi Eropa lebih cepat. Tidak hanya mencoreng sejarah mereka di kompetisi tersebut, Inter juga kehilangan banyak uang karena kegagalan ini. Pasalnya, jika Nerazzurri mampu lolos ke babak 16 besar, mereka akan mendapat uang hadiah sebesar 9,5 juta euro atau sekitar 162,8 miliar rupiah. Inter bahkan berpotensi untuk mengantongi total 50 juta euro atau setara 856,6 miliar rupiah, jika mampu tampil apik di fase grup. Sayangnya, selama berada di fase grup, Inter hanya bisa meraih satu kemenangan.

JELANG DERBY, SIMEONE PUJI PERFORMA REAL MADRID

Setelah berhasil meloloskan Atletico Madrid ke fase gugur Liga Champions, Diego Simeone langsung diberi pertanyaan tentang laga derby. Saat ini, Atletico memang tengah berada di puncak klasemen. Sementara itu, tim sekota mereka, Real Madrid berada di posisi ke empat. Kendati demikian, Simeone tetap tidak mau meremehkan Real Madrid. Baginya, klub raksasa itu tetap memiliki pemain luar biasa dan sampai saat ini terus tampilkan performa yang cukup memuaskan. Dirinya pun akan dengan sekuat tenaga membawa Atletico memenangi laga.

VAZQUEZ TAK PUSINGKAN KONTRAK DI MADRID

Bintang Real Madrid, Lucas Vazquez, mengatakan bahwa perpanjangan kontrak bukan menjadi prioritasnya saat ini. Ia mengaku lebih memilih untuk terus bekerja keras dan menunjukkan performa terbaiknya di setiap pertandingan. Musim ini, Vazquez berhasil mendapatkan cukup banyak kepercayaan bermain dari Zidane. Hal ini ia dapatkan karena Dani Carvajal, Alvaro Odriozola dan Nacho Fernandez harus menepi karena tersandung masalah cedera. Sejauh ini, Vazquez memiliki koleksi 18 gol dan 39 assist dari 167 penampilan di bawah komando Zidane.

FC BAYERN KLAIM TAK BUTUH HAALAND

Bos Bayern Munchen, Karl-Heinz Rummenigge, menegaskan bahwa pihaknya tak membutuhkan Erling Haaland. Hal itu diungkapkan karena Bayern masih punya sosok Robert Lewandowski. Lewandowski menjadi pemain paling bersinar pada musim 2019/20 karena sukses membawa Munchen merengkuh treble winners. Selain itu, sang penyerang juga punya statistik gila dengan membuat 55 gol dalam 47 pertandingan di seluruh kompetisi musim lalu.

MODRIC BERHASIL BUKTIKAN KUALITAS PADA ZIDANE

Karir Luka Modric di Real Madrid pernah dicap sudah habis usai tampil tak stabil pada musim 2019/20 lalu. Setelah dicadangkan Zidane, dia meminta sang pelatih untuk menurunkannya demi membangun ritme. Awalnya Zidane ragu, tapi setelah kehabisan opsi pemain, dia akhirnya memenuhi permintaan Modric. Yang terjadi adalah, Zidane memetik buah dari keputusan tersebut. Performa Modric mampu kembali seperti semula. Dia mengontrol pertandingan dari lini tengah sekaligus meladeni para penyerang.

SOAL RASISME WASIT DI LAGA PSG, ERDOGAN SINDIR PRANCIS

Beberapa waktu lalu, laga liga Champions antara Paris Saint-Germain melawan Istanbul Basaksehir dihentikan. Hal itu terjadi karena ada insiden rasisme yang dilakukan oleh salah seorang asisten wasit. Setelah ramai diperbincangkan, kabar tersebut sampai dikomentari oleh presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan. Secara jelas dan tegas, Erdogan menyebut hal ini sejalan dengan sikap Prancis yang kerap melakukan pendekatan rasis.

WENGER SARANKAN PSG JANGAN REKRUT MESSI

Kontrak Lionel Messi di Barcelona bakal habis di musim panas mendatang atau tepat pada Juni 2021. Kabarnya Messi tidak memperpanjang kontraknya, yang artinya dia bisa dipinang secara cuma-cuma oleh klub mana saja. Dalam hal ini, Arsene Wenger pun turut memberi komentar. Ia menyarankan PSG untuk tidak ikut dalam euforia transfer Messi. Eks pelatih Arsenal itu menganggap PSG sudah memiliki Mbappe yang jauh lebih muda dan punya kualitas sama. Mbappe dianggap sebagai pemuda paling potensial, yang bisa meneruskan jejak La Pulga di kancah sepakbola dunia.

PSG TOLAK LANJUT MAIN LAWAN ISTANBUL, MBAPPE BANGGA

Kylian Mbappe turut menyampaikan rasa bangga nya kepada PSG yang memilih menghentikan pertandingan melawan Istanbul Basaksehir. Sebagaimana diketahui, pertandingan dibatalkan dengan skor kedudukan masih 0-0 setelah wasit keempat dituduh menggunakan istilah rasis terhadap asisten Basaksehir, Pierre Webo. Mbappe merasa bahwa hal ini memang harus diberantas. Oleh sebab itu, dia bangga dengan aksi PSG dan sama sekali tidak kecewa ketika mengetahui pertandingan harus diulang di hari yang berbeda.

HASIL PERTANDINGAN

Dari laga pembuka pekan ke-12 Liga Primer Inggris, Leeds United dipermalukan oleh tamunya, West Ham 2-1. Bertanding di Elland Road, Leeds lebih dulu memimpin berkat gol Mateusz Klich. Namun West Ham berhasil membalikkan keadaan berkat gol yang diciptakan oleh Tomas Soucek dan Angelo Ogbonna. Kemenangan ini membawa West Ham merangsek naik ke urutan kelima. Sedangkan Leeds tertahan di peringkat ke-14.

Di kompetisi Bundesliga Jerman, Wolfsburg sukses mengalahkan Eintracht Frankfurt dengan skor 2-1. Pada laga yang digelar di Volkswagen Arena itu, Frankfurt memimpin berkat gol Bas Dost di menit ke-63. Namun, dalam 15 menit terakhir babak kedua, Wolfsburg membalikkan kedudukan berkat dua gol dari Wout Weghorst.

RESMI, INILAH FINALIS THE BEST FIFA FOOTBALL AWARDS 2020

FIFA resmi mengumumkan finalis The Best FIFA Football Awards 2020 pada Jumat (11/12/2020). Untuk Finalis Pemain Pria Terbaik ada Cristiano Ronaldo, Lionel Messi dan Robert Lewandowski. Pelatih Pria Terbaik terdapat Marcelo Bielsa (Leeds United) Hans-Dieter Flick (Bayern München) Jürgen Klopp (Liverpool FC). Untuk Finalis Kiper Pria Terbaik ada Alisson Becker (Liverpool) Manuel Neuer (Bayern Muenchen) Jan Oblak (Atletico Madrid). Sedangkan Finalis Pemain Wanita Terbaik adalah Lucy Bronze, Pernille Harder dan Wendie Renard. Pemenang akan diumumkan pada 17 desember 2020 mendatang.

NOMINASI FIFA PUSKAS AWARD 2020

FIFA juga telah mengumumkan calon peraih FIFA Puskas Award 2020. Dalam kategori Puskas Award tahun ini terdapat tiga kandidat yakni gol dari Heung Min Son ke gawang Burnley, gol Luis Suarez ke gawang Real Mallorca, dan gol salto Georgian de Arrascaeta ke gawang Ceara FC. FIFA sendiri akan mengumumkan pemenang dari FIFA Puskas Awards ini pada hari Kamis, 17 Desember 2020.

JUVENTUS SIAPKAN RENCANA BOYONG PAUL POGBA DI BULAN JANUARI

Juventus nampaknya masih berminat memulangkan Paul Pogba. Melansir dari Football Italia, raksasa Italia tersebut ingin duduk satu meja dengan Manchester United untuk mendiskusikan masa depan sang pemain di bulan Januari nanti. Untuk merekrut Pogba, Juve dilaporkan harus menjual beberapa pemainnya terlebih dahulu. Bukan cuma itu, Juve juga harus meyakinkan Pogba untuk menurunkan gajinya dan mempersuasi MU agar mau melepasnya dengan skema pinjaman plus opsi pembelian pada akhir musim.

MOURINHO DAN BRUNO FERNANDES TERBAIK EPL NOVEMBER 2020

Jose Mourinho dan Bruno Fernandes sukses menyabet penghargaan sebagai pelatih dan pemain terbaik Liga Inggris pada bulan November 2020. Mourinho mendapatkan penghargaan Pelatih Terbaik setelah tampil mengesankan bersama Tottenham sepanjang bulan lalu. Tercatat, dari empat laga yang dimainkan, Spurs berhasil meraih tiga kemenangan dan hanya satu kali imbang. Sedangkan Bruno sukses membawa Setan Merah meraih tiga kali kemenangan dari empat laga Premier League, dan berkontribusi besar dengan menorehkan empat gol dan dua assist pada bulan lalu.

DEMI MARADONA, BOATENG PAKSA MESSI PINDAH KE NAPOLI

Penggawa AC Monza, Kevin-Prince Boateng menyarankan Lionel Messi untuk pindah ke Napoli di musim panas 2021 mendatang. Alasannya karena Boateng merasa Messi harus bermain di klub yang pernah dibela Diego Maradona sewaktu masih aktif menjadi pesepakbola profesional. Menurut Boateng, Messi yang selalu dikaitkan dengan Maradona harus memberikan penghormatan terakhirnya kepada legenda Timnas Argentina tersebut. Maradona yang telah meninggal dunia dua pekan lalu dirasa Boateng perlu mendapatkan kado perpisahan terbaik dari La Pulga.

JELANG DERBY MADRID, ZIDANE SANJUNG ATLETICO

Pelatih Madrid, Zinedine Zidane menyanjung Atletico jelang pertemuan kedua tim di ajang La Liga akhir pekan ini. Kedua tim terpisah selisih enam poin di klasemen sementara; Atletico di puncak dengan 26 poin hasil 10 laga, sedangkan El Real di posisi empat dengan memainkan satu laga lebih banyak. Zidane mengakui kehebatan Atletico. Disebutnya, Permainan apik dari Atletico bisa mengantarkan Los Colchoneros menjadi juara di akhir musim. “Ya (favorit juara), mereka menunjukkan bentuk itu sekarang. Mereka adalah tim yang melakukan yang terbaik di lapangan,” Ucap Zidane.

LAWAN FULHAM, LIVERPOOL KEMBALI DIPERKUAT ALLISON

Liverpool melawan Fulham pada pekan ke-12 Liga Inggris 2020/21 di Stadion Craven Cottage, Minggu 13 Desember 2020. Jelang pertandingan tersebut, Pelatih Liverpool, Jurgen Klopp, membawa kabar baik. Klopp menyatakan Alisson Becker kemungkinan besar akan kembali berada di bawah mistar gawang Liverpool setelah absen dua minggu karena cedera hamstring. Selama Alisson absen, kiper Liverpool dipercayakan kepada Kelleher.

REAL MADRID SELANGKAH LAGI BOYONG DAVID ALABA

Real Madrid akan kedatangan David Alaba dari Bayern Munchen. Dilansir Daily Mail, Madrid tinggal selangkah lagi mencapai kesepakatan sehingga pemain 28 tahun itu bisa datang secara gratis pada bursa transfer musim panas tahun depan. Sama seperti Sergio Ramos, kontrak Alaba di Bayern juga akan habis akhir musim ini. Sejauh ini, ia menolak perpanjangan kontrak karena menginginkan kenaikan gaji agar jumlahnya sejajar dengan para pemain bergaji tertinggi di tubuh Die Roten.

ERLING HAALAND JALANI PEMULIHAN DI QATAR

Borussia Dortmund dipastikan tidak akan diperkuat striker andalan mereka, Erling Haaland untuk jangka waktu cukup lama. Mesin gol asal Norwegia itu saat ini sedang menjalani pemulihan di Qatar setelah mengalami cedera hamstring. Direktur Olahraga Dortmund, Michael Zorc menyatakan Haaland telah mengajukan izin untuk pergi ke Qatar. Menurut Zorc, Haaland saat ini ditangani para ahli untuk bisa mengembalikan kondisinya.

 

Kisah Masal Bugduv, Pemain HOAX Yang Gegerkan Transfer Sepakbola Inggris

Sepakbola memang menjadi hal yang begitu menarik untuk diikuti. Tak hanya soal hasil pertandingan saja. Atau bahkan, sebatas pemain populer yang berhasil mencetak gol. Sepakbola lebih dari itu. Kita bisa mendapat banyak sekali hiburan, hanya dengan satu berita yang kemudian berkembang menjadi besar.

Sepakbola Inggris, kita kenal sebagai salah satu yang paling digemari di dunia. Disana ada banyak sekali manusia yang haus akan berita si kulit bundar. Maka dari itu, tak sulit bagi penulis berita untuk menggiring ribuan kepala kepada sebuah informasi yang belum diketahui kebenarannya.

Hal itu pernah terjadi dalam sebuah bursa transfer sepakbola, ketika seorang jurnalis bernama Declan Varley menulis berita tentang tim kesayangannya, Arsenal.

Declan dikenal sebagai seorang jurnalis ulung asal Irlandia. Sebagai seorang seniman kata, dia begitu mengidolakan sosok Padraic O Conaire. Padraic sendiri merupakan tokoh sastra asal Irlandia di era 1882. Dia telah menciptakan banyak karya, dimana salah satu yang paling terkenal adalah “My Little Black Donkey”.

Karya tersebut merupakan sebuah fiksi yang kemudian membuat namanya melambung tinggi. Terinspirasi oleh karya fiksi sang idola, Declan tiba-tiba memiliki rencana unik nan menantang. Memanfaatkan lahan sepakbola, dia tertarik untuk menciptakan tokoh fiktif dengan tujuan untuk mengetahui tingkat kesadaran penggemar sepakbola akan sebuah berita palsu.

Tepat pada tahun 2008, ketika sepakbola tengah disibukkan dengan berita transfer, Declan secara sengaja menciptakan tokoh fiktif bernama Masal Bugduv. Dia sengaja menghapus sumber asli dan mengedepankan sumber anonim yang tentunya masih perlu diuji kebenarannya.

Karena dia adalah seorang penggemar berat Arsenal, maka tanpa pikir panjang ia membuat headline yang begitu menghebohkan, dengan mencatut nama tim meriam London. Ketika itu Declan membuat berita bahwa Arsenal begitu tertarik dengan pemain bernama Masal Bugduv. Dalam hal ini, Masal Bugduv digambarkan sebagai seorang pemain muda berusia 16 tahun yang memiliki skil luar biasa. Dia berasal dari Moldova. Meski tak banyak yang tau kepopulerannya, Masal Bugduv digambarkan sebagai sosok yang bakal menjadi masa depan Arsenal.

Declan menulis berita sedemikian rupa. Meski pemain yang dimaksud tidak pernah ada, dia tetap meneruskan eksperimennya untuk menguji kejelian para penggemar, atau bahkan media-media besar.

Benar saja, tak lama setelah ia menyebarkan berita tersebut, banyak sekali media yang terpedaya. Malah, media sekelas The Times juga tak ketinggalan untuk memberitahukan informasi tentang Arsenal yang tinggal selangkah lagi mendapatkan jasa Masal Bugduv.

Mereka menuliskan bahwa Bugduv merupakan striker 16 tahun berbakat dari Moldova yang sangat mungkin bergabung ke Arsenal.

“Dia (Bugduv) juga tengah didekati oleh klub besar Eropa lainnya,” tulis The Times.

Segala pemberitaan yang berkaitan dengan Bugduv banyak mencatut sumber yang ditulis oleh Declan. Praktis, dalam hal ini, dia berhasil membuktikan bahwa benar sepakbola adalah tempat yang mudah tersebar hoax atau berita palsu.

Declan, setelah mengetahui dunia heboh dengan Masal Bugduv langsung mengklarifikasi bahwa itu merupakan berita palsu. Disini dia sama sekali tidak merasa bersalah, karena memang tujuan awalnya hanya untuk mengetahui tingkat kejelian media dalam mengambil sebuah sumber berita.

Hasilnya, dia dapat menyimpulkan kalau sepakbola memang tempat yang begitu nyaman untuk menyebarkan berita yang bahkan belum diketahui kebenarannya. Dia meminta para penggemar khususnya untuk tidak mudah percaya dengan pemberitaan media. Apalagi, tentang berita transfer yang memang rentan sekali dengan berita-berita yang belum diketahui kebenarannya.

Kelumpuhan & Kursi Roda Yang Membawa Ferland Mendy Ke Real Madrid

0

Pada musim panas 2019 lalu, Real Madrid secara resmi mengkonfirmasi bergabungnya Ferland Mendy sebagai rekrutan anyar mereka. Bek kiri asal Prancis itu diboyong dari Olympique Lyon dengan nilai transfer sekitar 48 juta euro atau setara 771,6 miliar rupiah. Ferland Mendy hengkang ke Santiago Bernabeu setelah menjalani dua musim di Lyon. Transfer Mendy ketika itu rampung menyusul kesepakatan Real Madrid mendapatkan Jovic, Eden Hazard, Eder Militao, dan Rodrygo.

Diboyong klub sekelas Real Madrid, Mendy diproyeksikan sebagai pengisi pos bek sayap kiri untuk bersaing dengan Marcelo. Meski sempat diragukan karena dia harus bersaing dengan salah satu bek kiri terbaik, dan pada masa-masa awalnya di Spanyol dia beberapa kali mendapat cedera, Mendy nyatanya mampu membuktikan kualitasnya dengan sangat baik.

Sampai pada musim ini, Ferland Mendy dinilai sukses menggusur posisi Marcelo di posisi bek kiri Real Madrid. Mendy mendapat banyak poin positif dari hasil kinerjanya di Stadion Santiago Bernabeu. Seperti yang sudah dijelaskan, pada awal kedatangannya ke Madrid, penampilan Ferland Mendy dinilai jauh dari kata memuaskan. Di pramusim ia bahkan dibekap cedera hamstring saat menghadapi Arsenal.

Performa buruknya berlanjut saat Real Madrid ditahan 2-2 Villarreal di laga La Liga pekan ketiga dan kalah 0-3 oleh PSG di matchday 1 Grup A Liga Champions Eropa. Pelatih Real Madrid, Zinedine Zidane akhirnya memutuskan kembali mempercayai Marcelo sebagai starter. Namun, bek senior asal Brasil ini pun tampil mengecewakan.

Entrenador berkebangsaan Prancis itu kemudian beralih lagi kepada Mendy. Bek kiri berusia 25 tahun tersebut tidak menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan kepadanya.

Mendy tampil gemilang saat memainkan laga el Clasico pertama musim lalu di Camp Nou. Ia turun sebagai starter sedangkan Marcelo hanya duduk di bangku cadangan di laga yang berakhir 0-0 itu.

Keberadaan Mendy di lini belakang telah membuat segalanya menjadi lebih mudah bagi Los Blancos. Sebaliknya bagi Marcelo, situasinya kian pelik karena sekarang dia dikabarkan akan dilepas Los Blancos.

Mendy, sedari dulu memang sudah menjadi sosok pantang menyerah. Tak hanya menyoal tentang perjuangannya di atas lapangan saja, namun juga dalam kehidupan yang sebenarnya.

Ferland Mendy menceritakan kisah hidupnya yang penuh rintangan saat diperkenalkan sebagai rekrutan anyar Real Madrid. Dia, selain sudah ditinggal oleh sang ayah sejak usia 11 tahun, juga sempat mengubur mimpi menjadi seorang pesepakbola, setelah mengalami kelumpuhan.

Mendy lahir di Meulan-en-Yvelines, Prancis, dari keturunan Senegal. Dia dibesarkan di lingkungan yang kurang bersahabat. Pada saat usianya menginjak 12 tahun, Mendy menyadari kalau pinggang nya terkena sebuah infeksi berbahaya. Namun begitu, dia tidak langsung membawanya ke dokter karena terkendala masalah biaya. Oleh sebab itu, tidak ada penanganan apapun mengenai penyakitnya itu.

Barulah saat usianya menginjak 16 tahun, dia merasakan sakit luar biasa di bagian pinggang. Dia lalu dirawat di rumah sakit bahkan sampai tak bisa berjalan. Radang sendi yang ia derita disebabkan bakteri, virus, atau fungus, yang masuk lewat aliran darah atau luka yang terbuka tapi tak diobati.

Kondisi ini, yang secara langsung mempengaruhi sendi, bisa menyebabkan kelelahan, rasa sakit, menggigil, dan bengkak. Selama tujuh sampai delapan bulan, ia berjuang untuk sembuh dari penyakitnya. Dalam kondisi itu, Mendy tidak bisa berjalan dan hanya bisa berbaring, dan menggunakan kursi roda bila memang dibutuhkan.

Karena mengalami penyakit tersebut, Mendy yang saat itu sudah bergabung dengan PSG langsung diputus kontrak. Mimpinya terkubur, dengan dirinya langsung merasa hancur dan benar-benar tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Setelah dirinya mulai bisa berjalan meski masih sulit untuk berlari, tawaran datang dari klub yang bermain di divisi empat FC Mantes. Setahun tampil di akademi tersebut, Mendy lalu bergabung dengan Le Havre. Namun sayang, dia merasa sedikit kesulitan karena harus bersaing dengan sejumlah pemain hebat yang memiliki posisi yang sama.

Ditengah-tengah perjuangannya untuk bangkit, Mendy masih merasa kalau menjadi pemain sepakbola profesional hanyalah angan-angan belaka. Malah ketika usianya sudah lebih dari 20 tahun, Mendy belum juga menunjukkan tanda-tanda akan sukses. Praktis, hal tersebut semakin membuatnya terpuruk dan berpikir untuk berhenti mengejar mimpi.

Namun Mendy masih belum mau menyerah. Perlahan tapi pasti, dia mulai naik ke level berikutnya. Meski Le Havre masih diisi oleh pemain yang dianggap lebih hebat darinya, Mendy sekali lagi belum mau menyerah. Akhirnya pada musim 2015/16, Mendy mendapatkan tempat di tim utama dan tampil dalam 11 pertandingan.

Sejak menjadi bagian dari tim inti Le Havre, permainan Mendy semakin berkembang dan membuat tim-tim seperti West Bromwich Albion, Brighton Hove and Albion, hingga Crystal Palace tertarik untuk merekrutnya.

Namun pada akhirnya, Mendy lebih memilih untuk bertahan di Prancis dan bergabung dengan salah satu raksasa disana, Lyon.

Diawal kedatangannya, Mendy banyak dikritik oleh penggemar karena rentan terkena cedera. Akan tetapi, dengan cepat ia membuktikan dengan sebuah 16 cleansheet sepanjang musim. Selama kurang lebih dua musim bermain di Lyon, Mendy tampil dalam 79 pertandingan.

Dari situ, pentingnya sosok Mendy bagi Lyon membuat Real Madrid terkesima. Mereka langsung melayangkan tawaran untuk membawa sang pemain menuju Estadio Santiago Bernabeu.

Perlu diketahui bahwa diterimanya tawaran dari Real Madrid oleh Mendy merupakan saran dari Raphael Varane.

“Aku berbicara dengan Varane, dan dia berkata bahwa ini adalah klub terbaik di dunia,”

“Dia berkata akan membantu ku bergabung dengan baik di ruang ganti. Itu akan membuat ku merasa lebih mudah, karena aku bermain dengannya di Prancis,”.

“Aku sangat senang bisa menjadi bagian dari Real Madrid. Aku paham dengan kualitas Marcelo. Dia memiliki karir yang hebat dan aku akan belajar banyak darinya,” ucap Mendy.

Kini, berkat kerja keras dari sebuah kursi roda, Ferland Mendy mampu membuktikan diri kalau dirinya layak disebut sebagai salah satu bek kiri terbaik di dunia. Tinggal seberapa banyak trofi yang bisa ia sumbangkan bagi klub asal Madrid, atau setidaknya, seberapa kuat dirinya bertahan di sebuah tantangan yang lebih berat bersama Real Madrid.

Harvey Esajas, Pegawai Sirkus Yang Pernah Main Bersama AC Milan

0

Nama Harvey Esajas mungkin terdengar begitu asing di telinga para pecinta sepakbola. Namun begitu, kisahnya cukup menarik untuk diulas. Bagi siapapun yang mendengar, pemain ini akan menjadi sebuah sosok unik yang mungkin membawa sedikit senyum di wajah para penikmatnya.

Harvey Esajas merupakan mantan pemain sepakbola yang lahir di Belanda. Dia merupakan pemain berketurunan Suriname yang memulai karir sepakbolanya di ASV Wartburgia. Tak berselang lama, dia bergabung dengan akademi Ajax Amsterdam untuk kemudian menimba ilmu di Belgia bersama Anderlecht.

Esajas adalah pemain yang berposisi sebagai seorang bek. Dalam perjalanannya, dia pernah tampil bersama nama-nama hebat semacam Clarence Seedorf, Nwankwo Kanu, dan juga Patrick Kluivert.

Pada tahun 1993, dia memulai karir profesionalnya bersama Feyenoord. Namun tidak ada prestasi memebanggakan yang bisa ia ciptakan. Klub tersebut malah menjadi awal dari kejatuhannya sebagai seorang pesepakbola. Malah, titik terendah nya di Feyenoord adalah ketika dia tidak dianggap sebagai penggawa klub. Esajas sering ditinggalkan oleh rombongan dan membuatnya jarang sekali mendapat kesempatan bermain.

Hanya tiga tahun bertahan disana, dia lalu pindah ke Groningen dan terus bergonta ganti klub, termasuk bersama tim cadangan Real Madrid pada tahun 1999. Namun sekali lagi, bergonta ganti klub tetap tak membuat namanya menjadi lebih baik. Di titik itu, dia justru menyadari kalau sepakbola bukanlah tempat untuknya mencari rezeki.

Pada tahun 2001, Esajas lalu memutuskan untuk gantung sepatu. Di sela-sela waktunya usai pensiun dari dunia sepakbola, Esajas sempat melakukan sejumlah pekerjaan, termasuk menjadi pegawai sirkus di Spanyol. Ketika ia membutuhkan uang lebih, pekerjaan sebagai seorang tukang cuci piring juga tak jarang dilakoni.

Setelah menghilang dari dunia sepakbola selama kurang lebih tiga tahun, Esajas akhirnya kembali ke lapangan hijau. Kisah kepulangannya ke dunia sepakbola dimulai ketika ia bercerita tentang masalah hidupnya kepada Clarence Seedorf. Perlu diketahui kalau Esajas sangat dekat dengan Seedorf. Oleh karenanya, pemain yang menggondol lima trofi Liga Champions Eropa itu langsung memberikan bantuan.

Tepat di tahun 2004, Seedorf datang sebagai dewa penyelamat Esajas. Esajas yang bercerita tentang keinginannya untuk kembali bermain bola didengar baik oleh Seedorf. Seedorf lalu menyampaikan hal tersebut kepada pelatih AC Milan saat itu, Carlo Ancelotti.

Dengan bobot tubuh 100 kg, Esajas secara ajaib diizinkan untuk berlatih di Milanello. Hanya dalam waktu tiga bulan saja, Esajas mampu memangkas berat badannya sebanyak 15 kg. Melihat keseriusan serta dedikasi Esajas, Ancelotti mulai terkesan. Hingga pada akhirnya, ketika kompetisi Serie A musim 2004/05 dimulai, dia dimasukkan ke dalam skuad I Rossoneri yang akan berlaga.

Setelah mendapat pengalaman yang cukup buruk sebelumnya, Esajas kini mendapati dirinya berada di barisan pemain cadangan salah satu klub terbesar di dunia. Momen terbesarnya lalu tiba pada Januari 2005, ketika ia tampil dalam pertandingan AC Milan melawan Palermo di ajang Coppa Italia.

Dia datang sebagai pengganti Massimo Ambrosini. Momen tersebut menjadi hadiah terbesarnya yang sudah sabar dan mau berlatih keras untuk kembali ke lapangan hijau.

Meski hanya tampil selama kurang lebih tiga menit dan membuat satu penampilan saja, Esajas merasa sangat terkesan bisa tampil bersama AC Milan.

Setelah menjadi bagian dari sejarah AC Milan, Esajas kemudian pindah ke klub Serie C, AC Legnano. Kemudian ia bergabung dengan klub Calcio Lecco dan memutuskan pensiun dari dunia sepakbola pada tahun 2007.

Kali ini, ia benar-benar pensiun dan tak lagi kembali ke lapangan hijau.

Europa Conference League: Mengenal Kompetisi Kasta Ketiga Baru Dari UEFA

0

Beberapa tahun lalu, sempat ramai bahwa UEFA akan menelurkan kompetisi kelas tiga bagi klub-klub Eropa dengan koefisien UEFA rendah. Hingga tepat pada 2019, kabar tersebut akhirnya diresmikan dengan badan sepakbola tertinggi Eropa bakal meluncurkan kompetisi bernama Europa Conference League, yang akan mulai digelar pada musim 2021/22 mendatang.

Kompetisi ini sejatinya sudah dirancang sejak 2015 lalu, namun baru resmi diberitakan kembali belum lama ini. Kabarnya, Europa Conference League akan dimainkan pada kamis malam, persis seperti kompetisi Liga Europa.

UEFA mengklaim kalau turnamen ini dapat bertindak sebagai sarana untuk memberi deretan klub dari negara dengan kompetisi berkoefisien rendah kesempatan untuk maju ke tahap berikutnya. Setelah semua serba serbi kompetisi tersebut sudah disiapkan, pada tahun 2018, pembahasan akan kompetisi ini semakin intens hingga memunculkan sejumlah keputusan.

Dilaporkan, kompetisi ini bakal melibatkan 184 tim dari 55 negara, dan 46 tim yang gugur dari kompetisi Liga Champions Eropa plus Liga Europa. Pada fase grup, nantinya hanya akan melibatkan sebanyak 32 tim saja. 32 tim tersebut lolos dari tiga jalur, yakni, 17 tim dari negara dengan kompetisi berkoefisien UEFA kecil, 5 tim dari champions path atau tim yang tersingkir dari kualifikasi Liga Champions maupun Liga Europa. Kemudian 10 slot lainnya bakal diisi oleh tim yang tersingkir dari play-off Liga Europa.

Dalam hal tim, tim yang memenangkan kompetisi Europa Conference League berhak atas satu tempat di fase grup Liga Europa, dengan catatan bila tim tersebut tidak lolos ke kompetisi Liga Champions Eropa di kompetisi domestik.

Seperti yang sudah dijelaskan, Europa Conference League bakal mengakomodasi kepentingan liga-liga berkoefisien rendah di UEFA, dengan rincian 26 juara piala domestik dari asosiasi peringkat 30 hingga 55 UEFA, 24 runner-up piala domestik dari asosiasi peringkat 30 hingga 54 kecuali Liechtenstein, dan 22 tim peringkat ketiga liga domestik asosiasi peringkat 29 hingga 51 kecuali Liechtenstein.

Mirip dengan Liga Champions Eropa, format kompetisi Europa Conference League akan menempatkan delapan grup dari empat tim, diikuti oleh babak 16 besar, perempat final, semifinal hingga final, dimana laga puncak bakal dimainkan di Stadion Nasional Albania.

Stadion tersebut dilaporkan berkapasitas 21.690 penonton. Final akan diselenggarakan pada 25 Mei 2022, dimana hal tersebut disampaikan langsung oleh pihak UEFA pada 3 Desember lalu.

Dengan digelarnya Europa Conference League ini, perubahan juga dialami oleh Liga Europa. Jika saat ini fase grup Liga Europa diikuti oleh 48 klub, nantinya kompetisi level kedua itu hanya akan diikuti oleh 32 tim di fase grup. Total, ada 96 tim yang berlaga di kompetisi antarklub Eropa mulai 2021 nanti.

Ada sejumlah tanggapan menarik mengenai diluncurkannya kompetisi ini. Kebanyakan dari penikmat sepakbola menganggap bahwa kompetisi ini hanya akal-akalan UEFA untuk mengeruk banyak keuntungan.

Kompetisi ini memang tak ubahnya mirip dengan kompetisi UEFA Nations League yang bahkan mendapat kritikan langsung dari bintang asal Jerman, Toni Kroos.

Bintang Real Madrid, Toni Kroos, merasa bahwa pesepakbola masa kini hanya menjadi boneka yang digunakan oleh FIFA dan UEFA. Menurutnya, pemain tidak berdaya dalam diskusi tentang kompetisi seperti Nations League dan kemungkinan kompetisi baru lainnya.

“Pada akhirnya, sebagai pemain, kami hanyalah boneka untuk semua hal baru yang diciptakan oleh FIFA dan UEFA. Tidak ada yang meminta kami,” kata Kroos

Kroos, yang membuat penampilan ke-100 untuk tim nasional Jerman pada Oktober lalu, berada dalam skuad untuk pertandingan persahabatan melawan Republik Ceko. Ia juga masuk dalam skuad untuk pertandingan Nations League melawan Ukraina dan Spanyol.

Ia menyoroti banyaknya perubahan kompetisi yang digelar oleh federasi sepakbola dalam satu musim antara lain Nations League, atau Piala Super Spanyol di Arab Saudi, atau Piala Dunia Antarklub dengan 20 tim atau lebih. Ia merasa bahwa turnamen hanya dirancang untuk menyedot segalanya secara finansial klub dan secara fisik pemain.

Ambisi UEFA dalam menelurkan kompetisi Europa Conference League memang tidak bisa dipungkiri dari alasan finansial. Meski mereka mengatakan bahwa ini akan memberi kesempatan bagi negara dengan koefisien UEFA rendah kesempatan, tetap saja, hal ini tidak luput dari masalah keuntungan besar, sama seperti apa yang dikatakan Toni Kroos, dimana UEFA memiliki ambisi yang dianggap serupa ketika menciptakan kompetisi UEFA Nations League.

Semakin banyaknya kompetisi yang digelar juga tidak menjamin sebuah klub akan mencapai level tertinggi. Mereka yang berhadapan dengan tim-tim yang sama lemahnya, tentu tidak serta merta menaikkan level mereka untuk bersaing dengan tim yang sudah terbiasa dengan kompetisi kelas atas.

6 Bersaudara Yang Berhasil Meraih Trofi Liga Champions Eropa

Sudah ada banyak sekali pemain hebat yang berhasil memenangkan trofi Liga Champions Eropa. Bahkan, ada seorang pemain yang memenangkan trofi tersebut tidak hanya sekali, melainkan berkali-kali. Namun begitu ada juga pemain bintang yang sama sekali belum pernah mencicipi panggung juara Liga Champions Eropa.

Hal itu membuktikan bahwa turnamen ini sangatlah bergengsi, dan tidak bisa diraih dengan mudah, bahkan oleh pemain yang berstatus bintang. Maka dari itu, apa yang telah dilakukan oleh enam pemain bersaudara ini sangatlah luar biasa.Hal itu membuktikan bahwa turnamen ini sangatlah bergengsi, dan tidak bisa diraih dengan mudah, bahkan oleh pemain yang berstatus bintang. Maka dari itu, apa yang telah dilakukan oleh enam pemain bersaudara ini sangatlah luar biasa.

Pasalnya, mereka berhasil memenangkan trofi Liga Champions Eropa.

Rafinha & Thiago – (Alcantara Brothers)

Dengan kualitas yang dimiliki oleh Alcantara bersaudara, wajar bila mereka menjadi pemain bersaudara yang sangat beruntung, karena bisa meraih gelar Liga Champions Eropa. Anak dari seorang mantan pemain bernama Mazinho ini telah tampil bersama sejumlah klub besar Eropa, dimana mereka berkesempatan jadi jawara di benua biru.

Alcantara bersaudara tampil bersama di akademi FC Barcelona. Namun saat Rafinha memutuskan untuk bertahan di klub, saudaranya, Thiago memilih untuk tampil bersama FC Bayern di tahun 2013. Meski berpisah, kedua pemain itu tetap meraih kesuksesan nya masing-masing.

Untuk kompetisi Liga Champions Eropa, Thiago sukses menjadi juara pada tahun 2011 bersama FC Barcelona, dan di tahun 2020 bersama FC Bayern. Sementara Rafinha, dia menjadi bagian dari Los Cules yang sukses menjadi jawara di tahun 2015.

Gabriel & Diego – (Milito Brothers)

Gabriel dan Diego, menjadi dua nama pemain yang sangat bersinar pada masa jayanya. Gabriel begitu moncer bersama Real Zaragoza, dari tahun 2003 sampai 2007. Sementara Diego, dia juga pernah berjaya bersama Genoa pada musim 2008/09.

Mereka bersinar di posisinya masing-masing, dimana Gabriel sangat kuat sebagai seorang pemain bertahan, dan Diego yang sangat lihai dalam menjebol gawang lawan.

Gabriel, yang pada akhirnya bergabung dengan FC Barcelona sukses menjuarai trofi Liga Champions Eropa pada tahun 2011. Sementara Diego, pemain yang beroperasi di lini depan itu sukses menjadi bintang Inter Milan kala meraih treble winner, termasuk Liga Champions Eropa, pada tahun 2010.

Lucas & Theo – (Hernandez Brothers)

Hernandez bersaudara, sama sama punya skil dan kualitas luar biasa. Kedua pemain itu pun mengambil jalan suksesnya masing-masing. Lucas Hernandez, yang kita kenal sebagai pemain FC Bayern berhasil menjuarai Liga Champions Eropa pada tahun 2020. Dia menjadi bagian dari skuad Bavaria yang sukses menghancurkan Paris Saint Germain di partai final.

Sementara itu, Theo Hernandez, yang punya kecepatan luar biasa di sisi kiri berhasil memenangkan trofi prestise itu di musim 2017/18 bersama raksasa Spanyol, Real Madrid. Kini, dia melanjutkan perjalanan luar biasanya bersama dengan raksasa Italia, AC Milan. Dia sukses menjadi andalan dan berniat mengembalikan era kejayaan klub berjuluk I Rossoneri.

Frank & Ronald – (De Boer Brothers)

De Boer bersaudara juga menjadi pemain yang sama-sama berjaya pada masanya. Mereka pernah menjadi andalan timnas Belanda, di mana Ronald de Boer memiliki 67 caps dan mencetak 13 gol sementara Frank memiliki 112 caps. Selain itu, mereka juga pernah berjaya di level klub bersama Ajax Amsterdam. Mereka berdua menikmati kesuksesan bersama dengan raksasa asal Belanda, dimana keduanya sukses menjadi bagian dari era kejayaan Die Amsterdammers di panggung Eropa.

Ronald de Boer terkenal sebagai pemain yang bisa menempati banyak posisi. Di timnas, ia biasa bermain sebagai gelandang serang, penyerang tengah, ataupun gelandang kanan. Di klubnya, Ajax, ia juga bermain di sektor gelandang serang dan juga gelandang kiri. Ronald bermain di Piala Dunia 1994, 1998, dan menjadi pilar di Piala Eropa 1996 dan 2000.

Sementara itu Frank de Boer memiliki posisi sebagai pemain belakang. Ia terkenal akan kecepatannya serta umpan-umpannya yang akurat. Ia juga menjadi spesialis tendangan bebas. Ia merupakan kapten timnas Belanda hingga masa pensiunnya di Piala Eropa 2004.

Menyusul kesuksesan kedua pemain tersebut, tim seperti FC Barcelona, Glasgow Rangers, Al Rayyan, hingga Al Shamal pernah mencicipi kemampuan luar biasa dua pemain itu.

Michael & Brian – (Laudrup Brothers)

Michael dan Brian Laudrup, sama-sama diberkahi dengan skil mumpuni. Mereka benar-benar menjadi pemain yang sangat ditakuti dan dianggap sebagai yang terbaik pada masanya. Mereka menjadi andalan timnas Denmark, dan juga tim yang dibelanya.

Michael Laudrup, pernah begitu berjaya bersama FC Barcelona yang sukses meraih gelar Liga Champions Eropa di tahun 1992. Ketika itu, dibawah asuhan Johan Cruyff, Michael Laudrup menjadi andalan di lini tengah.

Untuk Brian Laudrup, mantan pemain yang kini berusia 51 tahun ini juga pernah meraih kesuksesan bersama AC Milan, ketika menjadi raja di Eropa pada tahun 1994. Sepanjang karirnya, Brian pernah bermain untuk klub-klub seperti Rangers, Chelsea, FC Bayern, hingga Fiorentina.

Selama bertahun-tahun, bakat Michael dan Brian Laudrup akan selalu dikenang sebagai salah satu pemain bersaudara yang sangat berpengaruh dalam dunia sepakbola.

Gary & Phil – (Neville Brothers)

Di antara semua pemain bersaudara yang pernah memainkan permainan kulit bundar di Liga Primer Inggris, Neville bersaudara mungkin menjadi salah satu yang paling terkenal dalam sejarah bersama dengan Charlton bersaudara.

Gary Neville merupakan pemain yang sudah mematenkan tempat bek sayap di skuad Setan Merah asuhan Sir Alex Ferguson. Sementara Phil Neville, dia menjadi pemain yang lebih fleksibel, dimana posisi bek maupun gelandang pernah dicicipinya.

Baik Gary dan Phil merupakan pemain legendaris Manchester United. Gary Neville mengawali karirnya di Manchester United pada tahun 1992 dan pensiun di tahun 2011. Dalam karirnya bersama MU, pria yang kini berusia kepala empat itu telah memenangkan 8 gelar Liga Primer Inggris, 3 FA Cup, serta 2 Liga Champions Eropa.

Sementara itu sang adik, Phil Neville, memiliki waktu bersama MU yang lebih singkat dibanding kakaknya. Phil bergabung dengan The Red Devils di tahun 1995. Ia memutuskan hengkang ke Everton di tahun 2005. Selama kurun waktu 10 tahun di MU, ia telah memenangkan 6 gelar Liga Primer Inggris, 3 FA Cup, dan tentunya 1 Liga Champions Eropa.

Mengingat Tahun Ajaib & Luar Biasa Messi Ketika Berhasil Mencetak 91 Gol

0

Sampai saat ini, meski performanya cenderung menurun, Lionel Messi masih menjadi salah satu pemain paling berbahaya di dunia. Dia masih menjadi ancaman bagi setiap lawan yang dihadapi.

Masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya, Messi terus menunjukkan skil luar biasa ketika tampil diatas lapangan. Jika melihat permainannya yang begitu spektakuler, wajar bila nama Messi sangatlah akrab dengan sejumlah rekor luar biasa.

Salah satu rekor yang akan sulit dipecahkan dalam waktu dekat adalah ketika pemain berjuluk La Pulga mencetak 91 gol dalam satu tahun kalender.

Pada pertandingan penutup tahun 2012 di La Liga, menghadapi tuan rumah Real Valladolid, Lionel Messi, resmi mencatatkan gol ke-91 yang ia ciptakan dalam setahun. Di laga itu, Messi mencetak gol kedua Barca di menit ke-59, setelah sebelumnya Xavi membuka kemenangan timnya di menit ke-43. Valladolid sempat mengejar lewat gol Javi Guerra di menit ke-89, namun Cristian Tello memastikan kemenangan 3-1 untuk Barca dengan gol tambahan di injury time.

Kembali ke Messi, rekor 91 gol ini sendiri tergolong spektakuler, yang notabene kian menahbiskan dirinya sebagai salah satu pencetak gol terhebat yang juga pemain terbaik dunia.

Dia melewati rekor gol legenda Jerman, Gerd Muller yang mencetak 85 gol dalam setahun sepanjang 1972 untuk timnas Jerman dan Bayern Munich. Berkat rekornya tersebut dia mendapatkan penghargaan pemain terbaik dunia atau Ballon d’Or 2012. Ketika itu, Messi menjadi satu-satunya pemain yang sukses meraih gelar pemain terbaik empat kali secara beruntun sejak 2009.

Kendati demikian, dia tidak lupa dengan jasa Muller yang menjadi sumber inspirasi pria yang kini berusia 33 tahun tersebut untuk mencetak 91 gol dalam setahun. Usai meraih penghargaan Ballon d’Or, Messi mengirimkan jersey Barcelona untuk Muller lengkap dengan nama Messi dan nomor 10 di punggung. Tak hanya itu, Messi juga menuliskan pesan untuk Muller di jersey tersebut.

“Untuk Gerd Muller, yang aku hormati dan kagumi, peluk dari ku,” tulis Messi.

Tak hanya itu, eks Presiden Barca, Sandro Rosell juga mengirimkan surat kepada Karl-Heinz Rummenigge dan mengatakan jika Muller membuat Messi terinspirasi untuk menjadi pesepakbola yang lebih baik lagi.

Tahun tersebut memang menjadi yang paling luar biasa bagi Messi, atau bahkan bagi dunia sepakbola itu sendiri.

Catatan luar biasa yang diciptakan Messi terlahir dari beragam cara yang tentunya sangat mengagumkan. Messi mencetak ke-91 golnya di tiga kawasan, yaitu Eropa, Amerika Latin dan Amerika Utara. Tepatnya, dia mencetak gol di 8 negara, 23 kota, dan di 26 stadion.

Dia menciptakan 79 gol untuk Barcelona dan 12 gol untuk timnas Argentina. Selain 81 gol diciptakan melalui kaki andalannya, 7 gol tercipta dari kaki kanan dan 3 diantaranya melalui kepala. Selain itu, ke-91 gol Messi dicetak ke gawang 36 kiper berbeda. Messi mencetak gol secara hampir merata di 11 bulan berbeda tahun 2012, kecuali Juli, dengan sebanyak 13 gol dicetak pada bulan Maret. Gol-golnya dicetak di 6 hari berbeda, kecuali Senin, dengan 28 gol pada hari Sabtu dan Minggu.

Catatan lainnya adalah, Messi lebih sering menciptakan gol di rentang menit ke 76 hingga 90 dimana sebanyak 24 gol berhasil diciptakan. Sementara itu, dalam rentang menit pertandingan ke 1 hingga 15, dia hanya bisa menciptakan sebanyak lima gol saja. Untuk rentang menit berikutnya, Messi rata-rata menciptakan lebih dari 12 gol.

Sebanyak 37 di antara gol-gol Messi dicetak di babak pertama, dengan sisanya, 54 gol, diciptakan pada babak kedua.

Selanjutnya, Messi berhasil ciptakan sebanyak 59 gol dari open play, 14 gol dari titik pinalti, 7 dari tendangan bebas, dan sisanya dengan cara yang lain.

Lebih lanjut, deretan tim yang gawangnya dibobol oleh Lionel Messi sepanjang tahun 2012 adalah Bayer Leverkusen, Malaga, Real Mallorca, Valencia, Athletic Bilbao, Levante, Osasuna, Rayo Vallecano, Real Betis, Real Madrid, Real Zaragoza, Spartak Moscow, Atletico Madrid, timnas Brasil, Deportivo La Coruna, Getafe, Granada, Real Sociedad, timnas Swiss, AC Milan, Cordoba, timnas Jerman, Racing Santander, timnas Uruguay, Celtic, Chelsea, timnas Chile, timnas Ekuador, timnas Paraguay, Espanyol, Real Valladolid, sampai Sevilla.

Dalam menciptakan gol sebanyak itu, ada sejumlah pemain yang membantu memberi assist kepada Lionel Messi, termasuk Andres Iniesta dengan penyumbang assist terbanyak. Ada juga nama lain seperti Alexis Sanchez, Gonzalo Higuain, Sergio Aguero, Angel Di Maria, Cesc Fabregas, Xavi Hernandez, hingga Sergio Busquets.

Selain menciptakan rekor yang pada akhirnya melampaui capaian Muller, sebelumnya striker bernomor punggung 10 ini juga menorehkan sejarah baru dengan melampaui perolehan gol legenda Brasil Pele dalam setahun dengan raihan 76 gol. Tahun 2012 juga menjadi tahun yang spesial bagi Messi karena kabar bahagia datang setelah ia secara resmi menjadi ayah pasca sang kekasih, Antonella Roccuzzo, melahirkan anak laki-laki yang diberi nama Thiago.

Sebelumnya Messi diberikan izin untuk meninggalkan sesi latihan pagi bersama rekan setimnya di Barca. Setelah mendapatkan izin, pemain yang saat itu berusia 25 tahun tersebut langsung menuju ke rumah sakit di kota Barcelona untuk menemani persalinan Roccuzzo.

Di rumah sakit Messi beserta keluarga termasuk orang tua messi yang bernama Jorge dan Celia harus menunggu beberapa jam saat proses persalinan. Akhirnya tepat pukul 17.00 waktu setempat akhirnya anak laki-laki pertama Messi lahir dengan keadaan sehat.

“Hari ini, aku menjadi orang paling bahagia di dunia. Anak ku lahir, dan aku berterima kasih kepada Tuhan atas karunia ini! Terima kasih kepada keluarga ku atas dukungannya yang besar dari semua orang,” ungkap Messi.