Beranda blog Halaman 773

Benarkah Masa Kejayaan Aguero Di Man City Teelah Habis?

Nama Sergio Kun Aguero sudah sangat lekat dengan kompetisi Liga Primer Inggris. Pria Argentina yang kini berusia 32 tahun sudah sangat lama berkarir di Inggris, dan telah menorehkan banyak prestasi.

Aguero memang punya potensi terbaik sebagai seorang penyerang. Selain pergerakannya yang menakutkan, Aguero juga punya kemampuan mencetak gol luar biasa. Pemain yang mengawali karir di Independiente ini sudah melakoni debut profesional sejak usia 17 tahun. Setelah itu, namanya melambung tinggi dengan torehan 23 gol dari 56 pertandingan yang dijalani.

Berjaya di level klub, Aguero juga sukses meraih asa di level Internasional. Dia yang masuk ke dalam timnas Argentina U-20, berhasil meraih gelar juara dunia sebanyak dua kali, yaitu pada tahun 2005 dan 2007. Setahun berselang, atau pada tahun 2008, Aguero juga berhasil mempersembahkan medali emas untuk Argentina di ajang Olimpiade. Ketika itu, Aguero menjadi andalan tim tango bersama nama bintang FC Barcelona, Lionel Messi.

Di usia yang masih tergolong muda, Aguero sudah diminati oleh sejumlah klub Eropa. Hingga pada akhirnya, dia bergabung dengan Atletico Madrid dan menjadi salah satu penyerang paling ditakuti. Sejak musim 2006/07, Aguero berhasil mencetak 101 gol untuk Los Rojiblancos dalam 234 kesempatan yang diberikan.

Lebih dari itu, dia juga berhasil mempersembahkan gelar Europa League dan Piala Super Eropa.

Menyusul potensinya yang sangat mengagumkan, klub kaya baru asal kota Manchester tak mau menyia-nyiakan kesempatan. Dengan gelontoran dana senilai 35 juta pounds atau setara 698 miliar rupiah, The Citizens berhasil mendapatkan jasa Aguero. Sejak bergabung dengan City, Aguero langsung jadi andalan. Dia memainkan setiap pertandingan dan mencetak banyak gol untuk klub barunya itu.

Satu momen terbaik dalam karirnya barangkali ketika ia menjadi penentu dari keberhasilan City dalam meraih gelar Liga Primer Inggris untuk kali pertama sepanjang sejarah. Ketika itu, satu sontekan nya ke gawang QPR berhasil membuat seluruh penggemar sepakbola bergidik. Dia menjadi penentu dari akhir kompetisi paling dramatis dalam sejarah sepakbola Inggris.

Sejauh ini, Aguero sudah mencetak setidaknya 374 gol sepanjang karir profesionalnya. Dia bahkan sudah berhasil menobatkan diri sebagai pencetak gol terbanyak Manchester City dengan raihan 256 gol.

Dengan menjadi pemain tertajam yang pernah dimiliki Manchester City, Aguero juga sekaligus menempati daftar keempat pencetak gol terbanyak di kompetisi Premier League, mengalahkan legenda Arsenal, Thierry Henry, dan eks penyerang Liverpool, Robbie Fowler.

Namun kini, performanya seolah menurun. Aguero yang usianya sudah lebih dari 30 tahun mulai jarang terlihat di papan skor. Musim ini, dia sungguh tenggelam dan mulai dilupakan. Padahal, pada musim 2018/19, dia masih bisa mencetak setidaknya 32 gol. Kemudian, di musim 2019/10, catatan gol nya cukup impresif, yaitu mencapai angka 23.

Di musim ini sendiri, dia hanya mampu mencetak sebanyak dua gol saja, dalam sembilan kesempatan yang dijalani. Di kompetisi Liga Primer Inggris sendiri, sama sekali tidak ada nama Aguero di daftar top skor, karena memang dia belum mampu mencetak gol dari 5 kesempatan yang diberi.

Musim ini jelas menjadi yang paling suram bagi Aguero. Betapa tidak, gol terakhirnya di tahun 2019 terjadi pada 29 Desember di tahun tersebut. Sementara setahun sebelumnya, ia mencetak gol terakhirnya pada 30 Desember. Kemudian di tahun 2017, koleksi gol terakhirnya di tahun tersebut terjadi pada 23 Desember.

Lalu kalian tahu kapan terakhir kali Aguero mencetak gol terakhirnya di tahun 2020? Pemain asal Argentina ini secara mengejutkan hanya mampu mencetak gol terakhirnya di tahun tersebut pada tanggal 21 Januari.

Memang benar bila tahun 2020 sepakbola sempat berhenti karena harus mematuhi aturan lockdown. Namun, itu hanya terjadi selama empat bulan. Sisanya masih ada sejumlah pertandingan yang dimainkan, dan tetap saja dia tidak bisa menambah koleksi golnya.

Fakta menarik namun sedikit kurang mengenakkan bagi sang pemain adalah, koleksi golnya di Etihad Stadium pada tahun 2020 masih lebih sedikit dari jumlah gol yang dicetak Alex Oxlade-Chamberlain di stadion yang sama.

Bila digali lebih dalam, masalah lain yang dialami Aguero di tahun 2020 adalah bukan hanya karena sepakbola terkena lockdown hingga membuatnya lebih sering menghabiskan waktu di depan layar komputer dan menjadi seorang streamer, namun juga masalah cedera serta virus yang sempat menghinggapi tubuhnya.

Ya, masalah cedera yang dialami Aguero belakangan ini memang sangat memprihatinkan. Dimulai pada september 2020, dia mengalami cedera lutut dan harus membuatnya istirahat sampai awal Oktober. Namun baru dua pertandingan ia kembali ke lapangan, masalah cedera datang lagi dengan kali ini adalah hamstring.

Sempat kembali dimasukkan ke dalam skuad setelah dua pertandingan, Aguero harus rela duduk di bangku cadangan terlebih dahulu dalam satu pertandingan melawan Spurs pada 21 November 2020, sebelum akhirnya kembali mengalami masalah lutut sampai awal Desember.

Namun setelah masalah cedera nya usai, Aguero harus mendapati dirinya terpapar virus dan membuatnya absen dalam kurang lebih tujuh pertandingan.

Setelah semua kembali normal, Aguero masih belum juga diberi kesempatan main ke lapangan. Pelatih Manchester City, Pep Guardiola, memang rindu untuk memainkan penyerang andalannya itu, akan tetapi dia tidak mau mengambil resiko dengan terus memantau perkembangan sang pemain agar benar-benar sembuh.

“Aku tidak sabar untuk menempatkan nya di tim,”

β€œDia sudah bermain beberapa menit musim ini dan musim lalu dia cedera. Aku ingin memastikan, untuknya, untuk kami. Jadi begitu aku bisa memilihnya, dia pasti akan bermain.” ujar Pep Guardiola (via goal)

Masalah cedera yang terus mendera Aguero bisa disebabkan karena usianya yang terus menua. Kontraknya dengan City sendiri akan berakhir pada Juni 2021. Apakah era kejayaan Aguero telah habis? Khususnya ketika berseragam City seperti sekarang ini?

Sejauh ini juga belum ada tanda-tanda perpanjangan kontrak, hingga membuat banyak tim yang memasang badan untuk memanfaatkan jasanya.

Menurut kabar, klub Spanyol, FC Barcelona, tertarik untuk mendatangkan Aguero. Selain itu, Atletico Madrid juga tertarik untuk memulangkan mantan penyerang andalannya itu. Sementara dari Italia, Juventus dan Inter Milan juga tak mau ketinggalan untuk menunjukkan ketertarikannya kepada sang pemain.

Lalu bila Aguero memang akan pergi dari Manchester City, siapa yang pantas menggantikannya? Menurut situs the football faithful, setidaknya ada lima kandidat yang dianggap cocok gantikan peran Aguero di lini serang Manchester Biru.

Nama pertama adalah Erling Haaland. Bintang asal Norwegia itu merupakan tipe penyerang ganas dan saat ini masih banyak diburu oleh klub besar Eropa. Haaland dianggap cocok dengan gaya permainan di Inggris dan diprediksi bakal meraih sukses besar bila bermain dengan para gelandang kreatif yang dimiliki City.

Berikutnya ada bintang Inter, Lautaro Martinez. Sama-sama berasal dari Argentina, Lautaro juga punya kemampuan terbaik sebagai seorang penyerang. Insting mencetak golnya tajam. Maka dari itu, bukan kesalahan bila Lautaro diminati oleh The Citizens.

Lalu, ada nama Harry Kane yang merupakan andalan Tottenham Hotspurs dan juga Luka Jovic, yang dinilai siap melambung tinggi bersama The Citizen. Pemain terakhir yang diprediksi akan sangat cocok dengan skema permainan City adalah Maxi Gomez.

Nama Maxi Gomez terus dihubungkan dengan sejumlah klub Inggris seperti Chelsea, Everton, hingga West Ham. Dia memang bukan salah satu sosok penyerang yang banyak dibicarakan belakangan ini. Namun penampilan yang cukup impresif bersama Valencia bisa dijadikan sebagai alasan bagi City untuk mendatangkannya sebagai pengganti Sergio β€œKun” Aguero.

[embedyt] https://www.youtube.com/watch?v=gKpGoYyvl1A[/embedyt]

 

Sumber referensi: Oh My Goal, Fourfourtwo, thefootballfaithful

Inilah 6 Penyerang Yang Tidak Lebih Tajam Dari Sergio Ramos

Nama Sergio Ramos, sampai saat ini masih menjadi bahasan menyusul ketajamannya di atas lapangan. Ya, meski berposisi sebagai seorang bek yang mulanya menempati posisi bek kanan, Sergio Ramos memiliki catatan gol yang sangat luar biasa. Meski tugas utamanya bukan sebagai pencetak gol, Sergio Ramos mampu menjebol gawang lawan sebanyak 128 kali sepanjang karirnya.

Dalam sejarah, tidak banyak pemain belakang yang mampu mencetak gol melebihi angka 100. Oleh karena itu, Sergio Ramos dianggap sebagai bek rasa striker. Penampilannya kerap paling menonjol diantara yang lain, dan bahkan beberapa kali dia menyelamatkan tim dari kekalahan lewat gol yang dicetaknya.

Saking hebatnya performa Sergio Ramos dalam sisi menyerang, sampai-sampai ada pemain yang berposisi penyerang, yang memiliki jumlah gol lebih sedikit dari kapten asal Spanyol tersebut.

Pada kesempatan kali ini, starting eleven akan merangkum 6 penyerang yang tidak lebih tajam dari Sergio Ramos.

Victor Anichebe

Nama Victor Anichebe memang tidak setenar penyerang hebat yang ada sekarang ini. Namun selama berseragam Everton, dia disebut sebagai salah satu striker yang cukup menakutkan di kompetisi Liga Primer Inggris. Sayangnya, anggapan tersebut tidak benar-benar tertuang di atas lapangan.

Anichebe sebetulnya punya fisik yang cukup mumpuni sebagai seorang penyerang. Tubuh besar, kuat, dan kecepatan yang bisa diadu membuatnya banyak diwaspadai. Namun seperti yang sudah disinggung, selama membela Everton, Anichebe tidak pernah mencetak lebih dari 10 gol pada setiap musim nya di kompetisi Liga Primer Inggris. Capaian terbaiknya ada pada musim 2012/13, dimana dia mampu mencetak sebanyak 8 gol.

Sepanjang karir, dia tercatat sebagai pemain yang pernah membela Everton, West Brom, Sunderland, hingga Beijing Enterprises. Sepanjang karir klub nya itu pula, Anichebe bermain dalam 254 kesempatan, dan hanya mampu mencetak 40 gol saja.

Dia yang memiliki 11 kesempatan di timnas Nigeria juga hanya mampu mencetak satu gol saja.

Raihan tersebut jelas kalah jauh dari Sergio Ramos yang saat ini masih aktif bermain, dimana Anichebe sudah memutuskan pensiun sejak 2018 lalu.

Christophe Dugarry

Christophe Dugarry merupakan pemain yang sudah pensiun sejak tahun 2005 silam. Dia yang berposisi sebagai striker tercatat pernah menjuarai trofi Piala Dunia bersama timnas Prancis pada 1998 silam.

Akan tetapi, trofi yang didapat tidak lantas membuatnya dianggap sebagai salah satu penyerang terbaik di dunia. Dalam karirnya, Christophe Dugarry sebetulnya pernah tercatat sebagai pemain AC Milan dan FC Barcelona. Namun, karir terbaiknya justru datang ketika ia masih membela Bordeaux.

Disana, dalam 324 penampilan, Christophe Dugarry berhasil mencetak 63 gol. Sementara di tim lain, capaian golnya tidak lebih dari 10 gol dalam setiap musim.

Jika melihat raihan gol Sergio Ramos yang mencapai 128, maka Christophe Dugarry memiliki capaian yang kalah jauh mengingat jumlah golnya hanya mento k di angka 97.

Andy Carroll

Nama Andy Carroll masih tercatat sebagai pemain Newcastle United. Di usianya kini yang menginjak 32 tahun, Carroll sudah mengalami masa yang tak diinginkan. Padahal seperti yang kita tahu, nama Andy Carroll sempat melambung ke permukaan setelah dia diboyong oleh Liverpool.

Ketika itu, dia digadang-gadang bakal menjadi bintang besar setelah dibeli pada tahun 2011. Namun sayangnya harapan itu pupus setelah Carroll tak mampu buktikan kualitas. Dari total 58 pertandingan yang dijalani, Carroll hanya mampu mencetak sebanyak 11 gol saja.

Setelah itu, dia dilego ke West Ham untuk kemudian kembali ke Newcastle United. Turunnya performa Andy Carroll juga dipengaruhi oleh masalah cedera yang terus mendera.

Sampai saat ini, setelah penyerang asal Inggris itu dicap telah kehilangan ketajamannya, raihan golnya hanya mencapai angka 82 saja.

Rodrigo

Rodrigo saat ini sudah berusia 29 tahun. Sebagai seorang penyerang, dia sebenarnya tidak memiliki karir yang terlalu buruk. Akan tetapi, jumlah gol yang diciptakan masih belum mampu menyaingi Sergio Ramos.

Sampai saat ini, Rodrigo baru mencetak sebanyak 121 gol sepanjang karir, baik di level klub maupun Internasional. Hal ini pun harus diakui oleh para penggemar Leeds United, dimana klub kesayangan mereka telah mengeluarkan dana senilai 29 juta euro untuk mendatangkan Rodrigo.

Sebelum bergabung dengan Leeds, Rodrigo telah mencetak delapan gol dalam 22 pertandingan untuk timnas Spanyol. Setelah pindah dari Benfica, Rodrigo telah tampil dalam 220 laga dan mencetak 59 gol. Sebagai seorang striker, Rodrigo merupakan tipe pemain yang tidak mampu mencetak 20 hingga 30 gol per musim.

Dado Prso

Penyerang yang identik dengan rambut gondrong, Dado Prso, pernah tercatat sebagai andalan tim asal Prancis, AS Monaco. Dia juga menjadi andalan timnas Kroasia dalam kurun waktu yang tidak sebentar.

Selama membela AS Monaco, Dado Prso berhasil mencetak sebanyak 45 gol. Disana, dia juga berhasil sumbangkan Piala Liga Prancis pada musim 2002/03 dan Piala Super Prancis pada 2000/01.

Namun sayang meski tergolong sebagai penyerang yang cukup dikenal, Dado Prso tidak banyak mencetak gol. Raihannya tak sampai melebihi catatan yang diciptakan Sergio Ramos.

Sepanjang karir sepakbolanya, Dado Prso telah berhasil menciptakan sebanyak 127 gol.

Danny Welbeck

Nama Danny Welbeck pernah disebut sebagai penyerang harapan timnas Inggris. Sayang semua itu gagal terwujud setelah sebagian karir sang pemain hanya berkutat pada masalah cedera.

Sebagai seorang pemain, Danny Welbeck sebetulnya punya kemampuan yang tak boleh diremehkan. Dia memiliki kecepatan dan insting mencetak gol lumayan. Dia juga tercatat pernah membela klub sekelas Manchester United hingga Arsenal.

Sayangnya, semua tak berakhir baik bagi sang pemain setelah ia terkena masalah cedera.

Dalam 334 penampilan yang dijalani, Welbeck hanya mampu mencetak sebanyak 74 gol saja. Raihan itu jelas berada jauh dibawah catatan yang diciptakan Sergio Ramos.

Kini di usianya yang telah menginjak 30 tahun, Danny Welbeck tercatat sebagai pemain Brighton.

[embedyt] https://www.youtube.com/watch?v=jq1YpOoGRYI[/embedyt]

Dear Manchester United: ‘Welcome To The Team,’ Arsenal Nggak Kompak Ih

Setelah laga UCL pekan ini selesai, tentu ada kompetisi kasta kedua yang masih saja diperjuangkan para pelakunya. Itung-itung hiburan lah setelah musim sebelumnya gagal finish di empat besar, atau lebih gokilnya lagi karena terdepak dari fase grup Liga Champions. Tapi disini saya nggak akan bahas semua laganya, banyak kali ih, pegel jariku buat ngetiknya. Jadi cuma tim Premier League aja yang akan saya ghibahin. Tim liga lain nyusul aja ya besok-besok kalo sempet.

Oke yang pertama ini ada Tottenham Hotspur yang dipimpin oleh juru parkir terminal cabang London, Jose Mourinho. Tottenham ini di tangan Mourinho ya cemana yah saya bilangnya, bingung asli cuy. Kadang bagus sampe bisa ngebantai lawan berjilid-jilid, kadang pula maennya macem pesaing Swansea. Kalo boleh dikata Tottenham ini belum terlalu konsisten bersama Mourinho. Awal musim gacor sampe diprediksi bisa jadi juara, pertengahan udah mulai keliatan kehabisan bensin macam Arsenal.

Hanya saja di kompetisi gugur seperti UEFA Europa League atau Carabao Cup Mourinho ini track recordnya memang cukup bagus. Leg pertama babak 32 besar UEL juga berhasil membawa Tottenham menang telak dengan skor 4-1 saat melawan Wolfsberger. Ini nih asiknya ngikutin Liga Malem Jumat, nama klubnya aneh-aneh dan jarang didenger, tapi terkadang bisa memberikan perlawanan sengit.

Karena masih terkendala Covid-19 yang nggak tau kapan ilangnya, sama seperti laga Liverpool kemarin, pertandingan klub asal Inggris diadakan di tempat netral karena nurut kebijakan peraturan pemerintah setempat. Kebetulan laga Tottenham ini diadakan di Puskas Arena.

Tottenham memang diunggulkan untuk menang dan benar saja belum lima belas menit bermain, gol sudah langsung datang dari Oppa Son Heung-Min. Dilanjut gol kedua yang datang dari pasien BPJS yang dapet minjem di Madrid, Gareth Bale. Tumben kali ini orang nggak gabut yekan. Untuk Madrid sendiri, asli ini mereka kek tukar tambah nggak sih, nglepas Gareth Bale yang notabene cuma nongkrong di klinik, tapi habis itu pemain mahal mereka, Eden Hazard, malah ikutan jadi pasien BPJS kek si Bale. Pusing kali tuh pasti Florentino Perez liatnya.

Tottenham mengakhiri babak pertama dengan keunggulan tiga gol, berkat gol ketiga yang datang dari Lucas Moura. Di babak kedua pihak lawan mulai memberikan ancaman serangan. Inget kawan-kawan, mau menang segede apapun DNA Jose Mourinho itu parkir. Yap, parkir. Akhirnya dapat lah tuh voucher pinalti buat Wolfsberger. Lumayan, berkat gosok voucher itu Wolfsberger bisa memperkecil ketertinggalan.

Namun kualitas individu pemain memang tak bisa dibohongi, Tottenham unggul jauh dari lawannya. Gol keempat datang lagi untuk mereka oleh pemain yang masuk dari bangku cadangan, Carlos Vinicius. Skor akhir 4-1 sampai laga usai. Eh tunggu, 4-1? Seperti…aduh nggak enak ngomongnya. Tetep kawal aja lah ya.

Mou just being Mou, tidak akan ada yang berubah. Saat ditanya wartawan Sky Sports bagaimana komentarnya mengenai kemenangan besar Tottenham, ya responnya seperti biasa. Super santuy dengan agak songong, tapi itu yang jujur saya pribadi sangat suka ketika Mou agak songong.

“Gue sih nganggep ini biasa aja, bukan kek menang yang wah banget gitu loh. Cuma kemenangan yang menurut gue seneng aja, kemenangan yang bikin hati seneng. Kek gini deh, saat kita menang pasti suasana di dalam pesawat pas perjalanan pulang beda lah ya kek pas kita kalah, ada rasa seneng gitu pastinya. Tapi pas udah besoknya lagi di sesi latihan ya semuanya kembali kek biasa aja.”

Tottenham menang dan nyekor 4 gol, MU juga menang dan nyekor 4 gol, cuma Arsenal sama Leicester City doang nih tim Inggris yang nggak kompak. Masa yang lain menang gede mereka malah imbang. Yaudah jadinya kan saya julid pengen ghibahin mereka. Tapi karena nanti kepanjangan, saya pilih Arsenal aja buat kita bully disini.

Seperti biasa, titisan permainan peninggalan Arsene Wenger masih bersemayam juga sama anak-anak London Utara. Muter-muter aja kerjaannya sampe lupa gawangnya ada dimana. Arsenal ini mampu mendominasi pertandingan jalannya laga, tapi tetep nggak bisa menang juga. Udah susah-susah bawa bola sampe kotak pinalti, abis itu bingung dah mau pada ngapain karena nggak bisa manfaatin buat jadi gol. Tau gitu mending maen Ludo aja klean daripada maen bola.

Gol belum dapet pake ada acara handball segala itu si Smith Rowe, jadilah Benfica unggul duluan lewat gol pinalti. Untung aja Bukayo Saka datang sebagai penyelamat kekalahan Arsenal, golnya dia berhasil menyeimbangkan papan skor, dan bertahan 1-1 sampai peluit panjang dibunyikan.

Gagalnya Arsenal mencatatkan kemenangan tentu membuat kecewa sang manager, Mikel Arteta. Pasalnya jika saja di leg pertama Arsenal bisa menang, apalagi menang besar, mereka bisa mengistirahatkan pemain intinya pada saat leg kedua nanti, karena tidak dipungkiri padatnya jadwal terlalu riskan juga jika tidak ada rotasi. Belum lagi ditambah beban berat laga selanjutnya yang akan menghadapi Manchester City di liga lokal. Runyam udah runyam.

“Kita sih udah ada usaha ya cuy buat main dengan baik, tapi ya mau gimana lagi baik Arsenal atau Benfica sama-sama agak oleng pas 20 menit terakhir. Tapi harusnya sih kita bisa dapet hasil yang lebih baik dari ini (mengingat peluang Arsenal sebenarnya banyak, tapi ya itu nggak jadi gol).”

Lanjut deh ini terakhir, puncak dari segala kelucuan Liga Malem Jumat. Ada si Setan Merah yang berkeliaran ke Liga Malem Jumat karena terusir dari Liga Champions. Harusnya sekalian fansnya pada jaga lilin dah tuh pas nonton biar makin uwwu.

Manchester United sepertinya bisa mengakhiri kutukan fase gugur saat melawan klub La Liga. Seperti yang kita ketahui sebelumnya, sudah tiga musim belakangan MU selalu gagal di fase gugur kala menghadapi klub Spanyol. Yok kita absen sama-sama.

Yang pertama mereka kalah dari Sevilla di leg kedua babak 16 besar Liga Champions musim 2017/2018. Biang kerok utamanya siapa disini? Oh jelas, Ben Yedder. Bagi fans MU, Ben Yedder adalah mimpi buruk yang selamanya tidak akan mereka lupakan. Asli deh kalian tanya aja sama temen kalian yang fans MU, masih kenal nggak sama Ben Yedder. Nggak ditabok aja udah untung kalian.

Berlanjut musim berikutnya, yaitu musim 2018/2019. MU kembali didepak oleh klub Spanyol, kali ini Barcelona. Setelah sebelumnya secara mengejutkan mampu comeback sensasional melawan PSG, kutukan itu malah menghampiri MU. Baik di leg pertama maupun kedua MU sama-sama kalah, dan harus terhenti di perempat final. Lumayan sih bisa sampe quarter, nggak kek sekarang. Lolos fase grup aja kaga.

Terakhir nih baru terjadi musim kemaren, lagi-lagi MU harus ketemu sama Sevilla. Dan tau kan bagaimana akhirnya? Kalah. Ngampas. Sekaligus menambah daftar panjang tambahan kutukan semifinal.

Cuma kali ini deh keknya agak mendingan bisa menang lawan klub Spanyol, Real Sociedad. Laga ini juga digelar di tempat netral, yaitu di kandang Juventus, Allianz Stadium. Mayan ya cuy, mumpung pemiliknya lagi traveling ke markas Porto, tapi tetep kalah juga mereka disono.

Bruno Fernandes membuka keunggulan untuk MU di babak pertama, hingga keran gol pada bocor saat babak kedua berjalan. Kekuatan magis Bruno Fernandes semakin menjadi-jadi, dia nyetak gol lagi di babak kedua ini. Asli lah bang, lu nggak cape apa yah mikul beban satu klub? Eh perlu dicatat untuk kalian semua, golnya sah, semua tanpa gosok voucher kek biasanya. Jadi pantes lah nih orang dapet kredit. Dilanjut gol ketiga hadir dari Marcus Rashford.

Gol keempat datang dari Daniel James, setelah sebelumnya golnya dianulir gara-gara offside, akhirnya dendam dah tuh bocah nyetak gol beneran tanpa offside di menit-menit akhir. MU menutup laga dengan kemenangan meyakinkan 4-0. Hampir pasti akan lolos ke babak selanjutnya. Tapi perlu hati-hati juga lah ya, PSG aja dulu udah unggul 4-0 kena comeback juga jadi 6-1.

Aktor utama dalam kemenangan MU jelas saja ada di Bruno Fernandes, dia ini memang nyawanya MU. Kalau ada satu pemain yang bisa merubah kondisi satu tim, ya dia jawabannya. Scholes aja ngasih komentar positif, khusus untuk bang Bruno Fernandes. Komentarnya dilansir dari BT Sport ya.

“Bruno itu menurut gue bener bener rekrutan yang bagus banget. Dia emang udah keliatan jago sejak awal dateng ke MU, pokoknya kek udah ada jaminan lah tiap laga dia pasti terlibat dalam proses gol. Dia itu kek punya gambaran gitu loh di kepalanya, dia kaya tau aja posisi pemain itu ada dimana, dari kemampuannya itu jadi dia bisa ngirim umpan yang akurat.”

Buat fans MU, do’a yang baik-baik ajalah supaya Bruno selalu dikasih kesehatan buat main, karena kalo dia underperform ambyar sudah kalian.

Semua Akan Munchen Pada Waktunya

Slogan semua akan Munchen pada waktunya memang bukan kaleng-kaleng, karena itu bukan spekulasi dari netijen yang hobi nyari sensasi, bukan. Tapi nyata adanya dan selalu berjalan hampir setiap musim. Baik di lingkup kompetisi maupun transaksi jual-beli.

Sudah hampir satu dekade juara Bundesliga selalu bermuara ke kota Munchen, nyaris tidak ada halangan serius untuk menyudahi dominasi mereka di liga. Musim kemarin The Bavarian baru saja mengakhiri liga dengan raihan treble winner yang kedua kalinya, dan belum genap dua pekan kebelakang mereka bisa memecahkan rekor Barcelona sebagai klub satu-satunya yang meraih sixtuple. Ya memang sih ada bedanya juga, Munchen sixtuple sebagai angkatan generasi Corona.

Terakhir kali Bayern gagal juara Bundesliga Jerman itu jaman Juergen Klopp belum jadi pelatih gabut yang ngitungin pinalti lawan, alias dia masih waras gitu lah fokus ke timnya sendiri bareng Borussia Dortmund. Sisanya semua diboyong Munchen, bahkan trofi kaleng-kaleng macem DFB Pokal pun nggak mau ketinggalan diangkutin juga. Ini pemilik klub macem udah ngebeli liganya sekalian pas ngakuisisi Munchen.

Memang tidak dipungkiri jika faktor finansial amat berpengaruh terhadap dominasi suatu klub di liga. Seperti contohnya PSG yang saat ini menguasai Liga Perancis, Manchester City? Dia masih kalah kuat dengan nama besar Manchester United yang masih melindungi si Setan Merah sebagai klub terkaya di tanah Britania.

Bayern Munchen merupakan raksasa Jerman yang juga subur secara finansial. Memang sih rata-rata klub Jerman itu saham terbesarnya milik suporter, tapi sokongan sponsor ternama seperti Audi, Adidas dan Allianz juga turut menyumbang menjadi sumber terbesar kucuran kekayaan Bayern. Belum ditambah kecerdikan orang-orang manajemen klub yang pintar mengelola keuangan, mereka mampu mendatangkan pemain gratisan dengan kualitas mumpuni dari sesama tim Bundesliga, sekaligus mendatangkan pemain impor dengan harga tergolong murah tapi skill nggak murahan. Blunder Renato Sanches anggep aja cuma khilaf ya itu gengs.

Selain karena faktor sponsor, Bayern Munchen bisa mendominasi liga juga dipengaruhi karena mereka hobi sekali memboyong pemain dari sesama tim Bundesliga. Istilah kasarnya jambal tim sendiri bonus bisa sekalian ngegembosin tim lawan. Cerdik kali ah. Agak sedih memang kadang-kadang, tapi mau gimana lagi ya sepak bola kan tetap kompetisi yang harus dimenangkan, jadi siapa yang mampu ya dia yang menang. Dan nggak terlalu susah juga proses kepindahan pemain dari sesama tim Jerman tuh, nggak seribet liga lain macam Premier League atau La Liga.

Jika di Liga Inggris saat suatu klub ingin memboyong pemain lawan, apalagi itu pemain kunci, pasti puanjang sekali dramanya, udah gitu harganya juga mahal nggak ketulungan. Macam Fernando Torres saat pindah ke Chelsea dan Harry Maguire saat direkrut Manchester United. Di La Liga pun sama juga, Antoine Griezmann yang pindah dari Atletico ke Barcelona juga wow sekali harganya, sampe sampe itu cicilan lama amat lunasnya.

Ngomong-ngomong kepindahan pemain, ada lah beberapa nama yang Munchen rekrut dari sesama tim Bundesliga. Dimana nama-nama tersebut merupakan pemain andalan dari klubnya terdahulu. Yang paling anget nih karena kemaren baru pengumuman, ada Dayot Upamecano.

Minggu kemaren RB Leipzig secara resmi mengumumkan jika mereka sudah mencapai kesepakatan untuk melepas Dayot Upamecano ke Bayern dengan harga €42,5 juta. Eh malihhh itu pemain rumornya lari larian ke MU, Liverpool, Chelsea kesana kemari dan tertawa, resminya ya ke Munchen juga. Kan sudah aku bilang nggak usah lah terlalu ngarep, karena semua akan Munchen pada waktunya.

Si Dayot ini baru akan bergabung dengan Bayern pada bulan Juli mendatang. Nah loh musim depan auto nggak bisa diganggu gugat lagi ini dominasinya Munchen. CEO RB Leipzig, Oliver Mintzlaff juga memberi klarifikasi nih buat kita semua yang penasaran kenapa dia melepas pemain andalannya ke klub rival. Ini saya dapet dari situs resmi klub ya, jadi valid no debat.

“Pasti lah bro kita pengennya si Dayot ya stay aja di Leipzig. Tapi, Dayot ya kek pemain pada umumnya, dia pengen lah ngejalanin tantangan baru di karirnya, jadi yaudah mumpung ada kesempatan dia ambil deh.”

Ini juga agak mirip-mirip sama kasusnya Robert Lewandowski dulu. Bedanya masih mending Leipzig nglepas pemain masih tetep dapet duit, lah si Lewy ini dulu dilepas ke Bayern gretongan, alias gratis tanpa dipungut biaya, ongkir doang kali ya. Pada tahun 2014 silam Lewandowski memang pindah dari Dortmund ke Bayern karena sudah habis kontrak dan dia tidak mau memperpanjang. Nah pantesan kan ye sekarang Dortmund kalo ngasih harga ke pemainnya bener bener nggak ada akhlak, rupanya pernah rugi dulu nglepas si Lewy.

Dodol kali memang, padahal di musim sebelumnya, Dortmund bisa melepas Mario Gotze juga ke Bayern dengan harga €37 juta, dimana harga segitu udah pecahin rekor sebagai pemain Jerman termahal kedua setelah Mesut Ozil. Wajar sih Gotze dilirik sama Bayern, pasalnya Bayern pernah kalah sama Dortmund di Piala Jerman 2012, jadilah dia ngebajak Gotze yang notabene pemain bintang Dortmund untuk memperkuat amunisi mereka. Terus hasilnya bagaimana kawan-kawan? Kalian tau sendiri jawabannya lah ya, Gotze balikan lagi sama Dortmund.

Dua tahun setelah kepindahan Robert Lewandowski, Bayern Munchen kembali mendatangkan pemain dari Borussia Dortmund. Kali ini ada Mats Hummels yang ditebus dengan harga €35 juta, nilai yang sudah masuk kategori standar di tahun itu. Kedatangan Mats Hummels ini semakin membuat baris pertahanan Bayern makin paten, total dia membantu Bayern Munchen memenangkan tiga Bundesliga, tiga DFL Super Cup, dan satu DFB Pokal. Untuk Mats Hummels ini sebenarnya bukan orang asing bagi Bayern, karena sebelum disekolahin ke Dortmund dia memang pemain Bayern.

Jauh sebelum nama-nama itu menghiasi Allianz Arena, ada nama Manuel Neuer yang juga direkrut Bayern dari sesama tim Bundesliga, yaitu Schalke. Pada saat itu ada dua spekulasi terkait masa depan Neuer, dia ini pengen nyari tantangan baru buat main di klub besar, dan saat itu Manchester United juga santer dikaitkan akan merekrut Neuer sebagai pengganti Edwin Van Der Sar. Bahkan Sir Alex Ferguson juga memang minat dengan skill Neuer ini. Tapi ternyata Neuer pengennya pindah ke sesama klub Jerman, mendaratlah dia ke Bayern Munchen. Lalu bagaimana dengan nasib MU? Tenang, mereka merekrut kiper Atletico Madrid, David De Gea dan masih bertahan jadi palang pintu terakhir MU sampai tulisan ini diterbitkan.

Kurang lebih itulah alasan mengapa Bayern Munchen bisa mendominasi liga mereka sendiri, tapi saya pribadi tetap menaruh respek yang tinggi buat Munchen, terlepas dari hobi mereka yang membajak pemain lawan. Setidaknya Bayern Munchen menjadi klub besar ya karena usaha mereka sendiri, hasil kerja orang-orang dan suporter mereka yang solid, sehingga mental juara untuk bersaing di Eropa pun ada.

Teruntuk Bayern Munchen: Tolong Jangan Jadikan Semua Akan Munchen Pada Waktunya di UCL

Babak baru perjalanan Liga Champions sudah memasuki tingkat akhir, hilal siapa saja yang berpotensi melenggang ke perempat final juga mulai terlihat satu persatu, meskipun tidak dipungkiri leg kedua nanti akan tersaji drama baru. Namun, bagi tim yang sudah menang di leg pertama setidaknya memiliki kesempatan lebih lebar untuk lolos.

Lagi dan lagi Bayern Munchen menunjukkan dominasi mereka di lapangan, membuktikan jika mereka tidak hanya jago di liga sendiri, nggak kek fans liga sebelah yang ngaku liganya terbaik di dunia tapi sering ngampas juga klubnya di Eropa. Bayern Munchen dipertemukan dengan elang ibukota Italia, Lazio. Dimana untuk sekian lamanya klub biru langit Italia baru saja kembali merasakan kompetisi tertinggi Eropa. Tentu saja hampir semuanya menjagokan Bayern karena titel mereka sebagai juara dunia dan pemegang trofi UCL musim sebelumnya. Bahkan The Bavarian belum mengalami kekalahan sejak di fase grup.

Leg pertama Lazio mendapatkan giliran sebagai tuan rumah yang harus dengan ramah menyambut tamunya, sang juara bertahan. Namun pelatih mereka, Simone Inzaghi menyuruh anak asuhnya untuk santuy saja saat menghadapi Bayern.

“Kita sih ya pengen ngasih permainan yang terbaik aja. Ini bukan pertama kalinya kita jadi tim underdog, dan ya lu tau kan sebelumnya juga kita tetep enjoy main aja.”

Lain halnya dengan Lazio yang mencoba untuk tetap menikmati permainan, Bayern Munchen di juara bertahan justru sedang mengalami hal kurang baik di pertandingan sebelumnya. Setelah menggondol gelar Piala Dunia Antar Klub, Bayern Munchen tampil mengampaskan diri di dua laga terakhir. Yang pertama mereka imbang dengan skor 3-3 melawan klub Arminia Bielefeld, ini klub asal mana pula saya juga nggak tahu.

Dan yang kedua Die Rotten harus menundukkan kepalanya saat kalah 1-2 dari Eintracht Frankfurt.

Hal-hal kekalahan seperti itu sebenarnya normal-normal saja dalam sepak bola, mengingat jadwal kompetisi juga udah padat kek jalan tol pas arus mudik, ditambah banyak pemain pilar Bayern yang cedera. Oleh karena itu laga di Liga Champions melawan Lazio adalah titik balik mereka untuk memperbaiki performa dan kembali ke jalur yang benar. Nggak kek pelatih lain yang kebanyakan alesan, Hansi Flick ini tetap berpositif thinking ditengah permasalahan klub asuhnya. Dilansir dari BBC Sport, dirinya berujar seperti ini.

“Gue nggak mau banyak alesan ah, gue pengen positif thinking aja udah. Pertandingan lawan Lazio itu laga yang bagus dan gue juga ngliatnya buat dijadiin motivasi aja.”

Selain mempertemukan kedua tim dengan komposisi plus minusnya masing-masing, duel antara Bayern dan Lazio juga mempertemukan antara Robert Lewandowski dan Ciro Immobile, dua pemain bernomor punggung 9 yang musim lalu saling sikut untuk mendapatkan sepatu emas sebagai tanda bukti siapa yang tergacor di Eropa. Baik Lewandowski dan Immobile dua-duanya masih sama menjadi ujung tombak serangan klub mereka dan belum menunjukkan tanda-tanda penurunan performa.

Namun nasib baik memang sedang menaungi si nomor 9 cabang Jerman, Robert Lewandowski dan kawan-kawan berhasil mengantongi kemenangan telak kala bertamu ke kota Roma. Dengan Lewandowski juga turut menyumbang satu gol untuk kemenangan timnya. Aura dominasi memang sudah menguat sejak menit awal laga berjalan, tidak dipungkiri Bayern adalah klub berpengalaman dengan segudang pencapaian, tidak terlalu sulit lah bagi mereka untuk memberikan tekanan pada lawan main. Gol pembuka hadir dari Robert Lewandowski sendiri yang berhasil memanfaatkan kelengahan Mateo Musacchio.

Gol lanjutan hadir kembali lima belas menit berselang, Jamal Musiala memperlebar jarak dengan bola tembakannya ke gawang Pepe Reina. Sampai gol penutup babak pertama diceploskan mantan pemain Manchester City, Leroy Sane kala memanfaatkan bola muntah. Babak pertama berakhir dengan skor mencolok 3-0. Agak susah dikejar memang kalo udah begini.

Leroy Sane kembali memukau pemirsa dengan aksi larinya yang macem maling ayam, sendirian bro dia lari sampe akhirnya jadi penyebab gol keempat buat Bayern, sekaligus gol pembunuh dalam laga, karena akan sangat sulit untuk elang ibukota menyamakan kedudukan.

Sebagai bentuk rasa hormat kepada tuan rumah, dan biar nggak malu malu banget kena bantai, Lazio akhirnya bisa mencetak gol hiburan lewat Joaquin Correa.

Peluang Lazio sebenarnya ada untuk memperbaiki defisit gol, cuma karena yang ngejaga gawang lawan mereka adalah seorang Manuel Neuer, jadi peluang peluang itu berhasil dimentahkan oleh sang kiper. Beda cerita ye kalo semisal yang kaga itu si Karius, beuhhhhh itu nggak usah capek-capek menciptakan peluang pun dia sendiri yang bakal blunder.

Saya pun nggak tahu bagaimana jadinya Bayern jika tidak ada Neuer di laga itu, pasalnya di babak kedua mereka benar-benar kalang kabut mencoba untuk meredam amukan Lazio, tambakan yang datang dari Luis Alberto dan Joaquin Correia sukses mengobrak ngabrik baris pertahanan Bayern. Meskipun tidak ada gol tambahan sampai peluit panjang dibunyikan, tapi mentalitas Lazio untuk selalu menyerang dan pantang menyerah patut diapresiasi. Menunjukkan jika peluit wasit belum berbunyi maka haram hukumnya untuk berhenti berjuang.

Tapi aksi heroik Lazio sayangnya agak terganggu sama drama yang dibuat pelatih mereka sendiri, pake acara protes minta pinalti gan. Simone Inzaghi menilai jika timnya seharusnya mendapatkan hadiah pinalti usai Ciro Immobile dilanggar. Karena dia menilai jika saja wasit memberikan pinalti, maka kemungkinan jalannya laga akan berbeda. Protesnya Inzaghi direkam Sky Sports Italia.

“Gue ngerti kok, gue paham kita ngadepin siapa. Gue sih ngrasa kalo di awal kita udah main bagus sebelum dateng kesalahan gol pertama itu, cuma ya harusnya kita dapet pinalti lah cuy pas skor 1-0 dan Immobile dilanggar. Gue nggak bilang Bayern nggak layang menang loh ya, cuma gue ngrasa aja ini tuh perkara cukup rumit cuy, ditambah kesalahan yang kita buat juga bikin tambah runyam aja.”

Ya nggak salah sih jika pelatih menilai tim mereka layak mendapatkan pinalti atau tidak, lagi-lagi memang soal sudut pandang. Tak dipungkiri meskipun sudah diterapkan adanya VAR yang diharapkan bisa mengurangi kontroversi, tapi tetap saja keputusannya tidak akan bisa menyenangkan semua pihak.

Buat pelatih Lazio, wajar kok bapak menilai jika itu pinalti dan protes. Kan drama juga bagian tak terpisahkan dalam sepak bola. Yang penting jangan ngitungin pinalti lawan aja sampe lupa kondisi tim sendiri, pusing nantinya dan jadi bahan tertawaan banyak orang. Tetap cheer up buat comeback di leg kedua nanti yaa.

Chelsea Seperti Terlahir Kembali di Tangan Tuchel

Hiruk-pikuk pemecatan Frank Lampard sepertinya sudah mulai susut secara perlahan, tergantikan dengan performa apik The Blues di masa transisi mereka dengan pelatih yang baru. Memang sih belum menunjukkan hasil yang waw banget, baru selangkah menuju perempat final UCL dan setapak menuju empat besar klasemen. Tapi progres mereka bersama Tuchel cukup bisa dikatakan stabil.

Di laga lanjutan Liga Champions minggu ini kemenangan Chelsea berhasil mencuri banyak perhatian, mengalahkan berita kemenangan sang juara bertahan. Karena memang selain fansnya sendiri, tak banyak yang mengunggulkan Chelsea akan menang mengahadapi Atletico Madrid yang sedang ada di puncak performanya di Liga Spanyol, membelakangi dua raksasa Real Madrid dan Barcelona.

Namun sekali lagi apapun bisa terjadi di lapangan kan ya. Jalannya laga cukup seru juga, Atletico memang menekan Chelsea tapi gagal memanfaatkan peluang yang hadir dari blunder Eduardo Mendy. Thomas Lemar pun gagal memanfaatkan umpan yang diberikan Luis Suarez untuk dijadikan gol. Mabok ketularan Martial deh kayanya ini orang.

Chelsea baru bisa menciptakan peluang justru saat laga akan memasuki waktu setengah jam, meskipun segala daya upaya yang dilancarkan Timo Werner selalu berakhir nihil dan tidak berbuah gol sama sekali sampai babak pertama usai. Nah makanya dari sini kita belajar jangan beli pemain dari Bundesliga, kena prank kan kalian beli mahal-mahal tapi ngampas juga. Mending Abang Giroud kemana-mana lah.

Semenjak ditangani Tuchel, Chelsea ini selalu berhasil menguasai jalannya pertandingan dengan perolehan ball possession yang unggul jauh dari lawannya, sama seperti saat melawan Atletico, meskipun sulit juga buat mereka nyetak gol karena cuma oper oper oper lupa gawangnya ada dimana.

Di tengah kegabutan para pemirsa yang menonton, hadirlah Lord panutan dari The Blues, anak didik Arsenal yang dicintai seluruh Gooners, pemilik gelar tertinggi pelaku sepak bola yaitu Piala Dunia walaupun main tanpa shoot on target, siapa lagi kalo bukan Oliver Giroud. Giroud mencetak gol super sensasional dengan akrobatik.

Asli deh ini orang jarang nyekor tapi sekalinya nyetak gol bener bener cakep dan jadi krusial. Dulu di Arsenal juga gol kalajengkingnya selalu dielu-elukan. Jika saya lihat, keberadaan Giroud ini sama seperti Marouane Fellaini, antara guna nggak guna tapi selalu bisa jadi kartu As.

Nggak cuma kita aja yang terkesima dengan gol saltonya Giroud, dia sendiri juga nggak nyangka. Dilansir dari BBC, Giroud bilang begini soal golnya.

“Gimana yah cuy, bukan terlalu pede apa gimana nih, cuma kita sih yakin aja sama kualitas tim sendiri. Jujur gue nggak ngerti deh sama gol itu, gue cuma nyoba fokus nendang bola aja.”

Eh btw kalian tau nggak kalo golnya Giroud di Liga Champions itu sudah terkumpul 6 gol, terhitung semenjak dirinya pergi meninggalkan Arsenal tahun 2018 kemaren. Sementara Arsenal semenjak ditinggal Giroud mereka tidak membukukan satu gol samasekali di Liga Champions. Iyalah, main di UCL pun enggak, udah betah mereka ke Liga Malem Jumat sama fans MU. Udah lah ya mending pulangin aja Arsene Wenger, seampas-ampasnya Wenger tetap auto jaminan UCL deh tiap musim.

Akhirnya Chelsea mengakhiri laga tandang dengan tabungan satu gol, satu langkah awal untuk menuju ke perempat final. Memang tidak bisa ditolak kalau kedatangan Tuchel ke Stamford Bridge ini mengubah banyak elemen di Chelsea, dari mentalitas pemain, taktik, sampai jalannya permainan di lapangan. Ya kalau boleh jujur Tuchel ini memang punya kualitas kok buat nglatih sebuah tim, dulu dia dipecat dari PSG bukan karena nggak hebat, tapi sepertinya bosen aja itu sultan PSG nengok dia tiap hari, jadi pengen ganti suasana sama pelatih baru. Toh mau siapapun pelatihnya, PSG udah pasti juara Ligue 1. Moyes kalo disuruh latih PSG juga keliatan bagus.

Yang terlihat mencolok dari performa Chelsea belakangan ini adalah formasi tiga bek yang kembali diterapkan oleh Tuchel. Seperti yang kita ketahui sebelumnya, Chelsea sejak era Antonio Conte memang sangat pakem dengan formasi ini sampai bisa juara di musim pertama dia melatih. Solidnya lini belakang ini yang dulu sempat hilang saat di tangan Lampard. Dari seluruh kompetisi yang dipimpin Tuchel bersama Chelsea, hanya ada dua gol saja yang bersarang di gawang mereka, jelas sangat berbeda dari pelatih sebelumnya yang langganan kena bantai.

Lalu bagaimana dengan Atletico? Anak asuh Diego Simeone ini dibilang buruk aslinya ya tidak juga, masih lumayan dengan ball possession 41 persen, hanya terlalu menunggu kesalahan lawan dan hasilnya tidak ada shoot on target yang mereka lesatkan. Berbanding terbalik dengan Chelsea yang mengoleksi 5 tembakan tepat sasaran.

Permainan Atletico semakin ambyar kala Oliver Giroud mencetak gol indah, hal itu secara langsung mengacaukan ritme permainan mereka. Seperti kata Chris Sutton yang dilansir Daily Mail.

“Giroud ini kek emang udah punya bakat deh buat bikin gol yang bagus-bagus, dan golnya kali ini bener bener krusial banget.”

Terkait prediksi siapa yang akan lolos, Atletico sendiri bertekad untuk membalas kekalahan mereka di leg kedua nanti. Memang jika Chelsea selangkah lebih maju untuk ke perempat final, tapi koleksi satu gol mereka belum bisa dikatakan aman, masih harus tetap waspada mengingat Atletico adalah tim paling konsisten di Liga Spanyol musim ini. Laga antara dua tim ini akan menjadi duel yang seru bulan Maret mendatang. Jadi menurut saya belum ada yang pasti siapa yang akan lolos nantinya, masih abu-abu kek kisah percintaan kalian.

Keirrison, Kisah Wonderkid Brasil Yang Jadi Pembelian Terburuk Barcelona

Brasil dipercaya menjadi negara yang menghasilkan bakat-bakat hebat. Para pemain disana banyak dimanfaatkan oleh klub-klub besar, bahkan ketika masih berusia muda sekalipun. Fenomena itu sudah sangat wajar terjadi. Ada banyak pemain muda yang diburu oleh klub top Eropa, meski beberapa dari mereka tak sepenuhnya berhasil.

Layaknya kehidupan, keputusan yang diambil memang tidak selalu membawa keberuntungan. Ada banyak faktor yang mempengaruhi mengapa sang pemain bisa gagal tampil di level tertinggi.

Bahasan kali ini merujuk pada seorang pemain berbakat asal Brasil bernama Keirrison.

Ada apa dengan Keirrison? Keirrison merupakan pemain muda berbakat yang sudah bergabung dengan klub raksasa FC Barcelona di usia muda. Tepat pada tahun 2009, ketika usianya menginjak 20 tahun, Keirrison resmi bergabung dengan Barcelona dari Palmeiras. Dia dibayar dengan mahar sebesar 14 juta euro dan diberi kontrak sampai lima tahun ke depan.

Bergabung dengan Barcelona membuat Keirrison girang bukan kepalang. Dia mengaku sering mengikuti klub tersebut, hingga bisa tampil bersama el Barca disebutnya sebagai mimpi yang menjadi kenyataan. Selain itu, dia dengan percaya diri mengatakan kalau akan menembus skuad utama Barcelona yang dilatih oleh Pep Guardiola.

Namun sayang, semua angan-angannya sama sekali tidak bisa menjadi kenyataan. Dia kandas dan lebih sering menjalani masa peminjaman dalam waktu yang lama.

Seorang pemain yang seharusnya membuktikan diri sebagai salah satu rekrutan terbaik kini, pada akhirnya malah dikenang sebagai salah satu yang terburuk, padahal awal karir Keirrison dimulai dengan sebuah letupan.

Saat berstatus remaja, dia membantu Coritiba meraih promosi ke Serie A Brasil sebelum tampil apik di musim pertamanya di level tertinggi. Selama kampanye 2008, dia sukses mengemas 41 gol hanya dari 58 penampilan, memainkan peran penting untuk membantu klubnya meraih Campeonato Paranaense.

21 gol di liga membuatnya keluar sebagai top skor Serie A Brasil dan dia menjadi pemain termuda yang melakukan itu pada momen tersebut.

Sebuah transfer ke Palmeiras lantas terjadi pada Januari 2009 namun jelas bahwa waktu Keirrison di negara asalnya hanya sebentar karena ketajamannya menarik minat klub Eropa.

Barcelona yang pada akhirnya berhasil mendapat jasa Keirrison harus lebih dulu bersaing dengan Liverpool. Klub asal Inggris tersebut begitu tertarik dengan jasa sang pemain namun belum mampu menandingi popularitas tim asal Catalan.

Seperti yang sudah disinggung di awal, Keirrison tidak langsung mendapat tempat utama di Barcelona. Guardiola, yang baru saja membawa Barca meraih treble bersejarah di musim pertamanya di tampu kepemimpinan, punya ide lain untuk Keirrison.

Meskipun jelas Guardiola terkesan dengan apa yang telah dicapai penyerang itu di Brasil, ia menjelaskan bahwa Keirrison tidak akan mengenakan seragam utama Barcelona dalam waktu dekat.

“Dia sangat muda. Dia punya beberapa statistik hebat. Sulit untuk menemukan pencetak gol ulang,” kata Guardiola.

“Klub telah memutuskan untuk mengontraknya tetapi dia akan dipinjamkan. Aku tidak akan mengandalkan dia untuk musim ini.”

Masalah yang ia dapat di Barcelona tampak menjadi sebuah karma baginya. Ya, diceritakan, Keirrison yang memang punya statistik luar biasa sewaktu berada di Brasil, pernah membuat pelatih Palmeiras dipecat.

Pada Juni 2009 silam ketika kabar ketertarikan Barcelona kepada Keirrison terus berhembus, sang pemain menunjukkan sikap yang tidak profesional kepada klub. Pelatih Palmeiras ketika itu, Luxemburgo, mengaku marah dengan keputusan klub yang memecatnya.

Ternyata setelah ditelusuri, dipecatnya sang pelatih adalah karena dia pernah berucap kepada klub, bahwa selama ia jadi pelatih, Keirrison tidak akan bermain; bahkan bila ia batal ke Barca. Namun ternyata, di balik semua itu ada alasan kuat yang dilontarkan sang pelatih. Dia berkata, Keirrison memperlihatkan ketidakprofesionalan dan rasa kurang hormat kepada nya dan klub. Keirrison dianggap sudah merasa menjadi bintang besar. Maka dari itu, Luxemburgo yang geram langsung membuat pernyataan semacam itu.

Namun sekali lagi, sikapnya dipandang lain oleh klub. Ia dipecat dan diberitahu bila pemecatannya sama sekali tidak berkaitan dengan hasil yang diterima klub, melainkan karena dia menolak untuk memainkan Keirrison.

Setibanya di Barcelona, seperti yang kita tahu, Keirrison seperti menjadi pemain yang tidak diinginkan oleh Pep Guardiola. Meski mendapat kontrak selama lima tahun dari Barcelona, Keirrison sama sekali tidak memberi jasa apapun bagi Barcelona. Dia malah menghabiskan lima tahun ke depan dengan kegagalan, dan bahkan tidak mampu mengamankan menit bermain reguler di sejumlah klub.

Benfica menjadi pemberhentian pertamanya sejak dipinjamkan oleh Barcelona. Hasilnya, dia gagal bersinar. Dengan banyaknya striker yang dimiliki Benfica, Keirrison kesulitan untuk menembus tim utama. Dia tidak mampu bersaing dengan nama-nama seperti Oscar Cardozo, Nuno Gomes dan Javier Saviola.

Manajer Benfica Jorge Jesus sama sekali tidak terkesan dengan Keirrison, hingga membuat keputusan untuk sama sekali tidak memainkannya di paruh kedua musim masa peminjamannya.

Dengan begitu, Keirrison langsung mengambil keputusan untuk bergabung dengan Fiorentina, yang lagi-lagi dengan status pemain pinjaman.

Meski mendapatkan lebih banyak waktu bermain di Stadio Artemio Franchi, dan bahkan mencetak dua gol di Serie A, Keirrison gagal meyakinkan tim asal Tuscan itu bahwa ia layak dipertahankan. La Viola memutuskan untuk mengakhiri kontraknya secara prematur setelah hanya enam bulan dan sang pemain tiba-tiba kembali ke Brasil pada Juli 2010, untuk dipinjamkan ke Santos.

Disana, karirnya juga tak benar-benar cemerlang. Selain tidak menjadi pemain di tim utama, Keirrison juga mengalami sejumlah masalah cedera.

Karena dinilai tak mampu berkembang dengan baik, Barcelona pada 2014 silam memutuskan untuk menjual sang pemain. Ia dilepas ke klub masa kecilnya, Coritiba. Namun disana dia juga gagal bersinar hingga harus rela bergabung dengan tim kasta bawah demi mendapat kesempatan bermain reguler.

Sempat kembali ke Serie A bersama Coritiba, kontraknya diputus pada Juni 2019. Dia yang berstatus sebagai pemain tanpa klub pun kini berkarir bersama Palm Beach Stars.

Mendapat ketertarikan dari Barcelona yang sempat membuatnya angkuh, benar-benar membuat karirnya hancur. Alih-alih menjadi klub impian, Blaugrana justru menjadi tim yang membuat perjalanannya terasa amat mengenaskan.

[embedyt] https://www.youtube.com/watch?v=exk1K7cFb4k[/embedyt]

 

Sumber referensi: planetfootball

Berita Bola 5 Maret 2021: Viral! Selebrasi Kocak Messi – Gattuso Jadi Pelatih Wolves – Liverpool Catat REKOR Buruk

KLOPP LARANG PEMAINNYA BELA TIMNAS JIKA DIKARANTINA

Manajer Liverpool Jurgen Klopp mengancam akan menarik pemain dari pemanggilan tim nasional bulan ini. Ia cemas dengan kemungkinan pemainnya harus dikarantina sekembalinya dari timnas pada Kualifikasi Piala Dunia. Seperti diketahui, Inggris menerapkan karantina 10 hari bagi orang yang baru saja bepergian ke 10 negara yang masuk daftar red zone. Liverpool setidaknya memiliki empat pemain yang masuk kategori tersebut, yakni trio Brasil Alisson Becker, Roberto Firmino, dan Fabinho serta penyerang Portugal, Diogo Jota.

Sumber : Mirror

BRENDAN RODGERS MEMUJI KIPER KASPER SCHMEICHEL

Pelatih Leicester City, Brendan Rodgers, menilai, Kasper Schmeichel layak berada dalam jajaran kiper terbaik di pentas Liga Primer Inggris musim ini. Penilaian ini tidak terlepas dari performa impresif Schmeichel kala the Foxes ditahan imbang Burnley 1-1 di lanjutan Liga Primer. Terlepas dari gol yang dicetak Matej Vydra usai memanfaatkan kesalahan operan Hamza Choudhury pada menit keempat, Schmeichel terbukti mampu tampil apik di sisa laga. Kiper berusia 34 tahun itu tercatat melakukan total enam penyelamatan dalam laga yang digelar di Stadion Turf Moor tersebut.

Sumber : Sportsmole

BUKAN MESSI, ANSU FATI SEBUT PEMAIN INI SEBAGAI REKAN TERBAIK

Bintang Barcelona, Ansu Fati, baru-baru ini mengungkapkan nama rekan setim yang ia anggap sebagai terbaik di Barcelona. Rekan terbaik yang Ansu Fati sebut bukanlah sang mega bintang Blaugrana, Lionel Messi. Adapun rekan yang dimaksudnya yakni bek Manchester City, Eric Garcia. Menurut Fati, Garcia adalah seorang rekan terbaik karena banyak membantunya ketika sama-sama menimba ilmu di La Masia. Takdir seolah berjodoh untuk kedua pemain. Pasalnya, Eric Garcia dikabarkan akan kembali ke Barcelona pada akhir musim 2020/21.

Sumber : Marca

PENGAKUAN MENGEJUTKAN SEMEDO TENTANG MESSI DI SESI LATIHAN

Bek Barcelona, yang saat ini dipinjamkan ke Wolves, mengklaim pemain Argentina itu tidak perlu melatih tendangan bola mati dalam latihan. Nelson Semedo telah berbicara tentang kemampuan ‘alami’ Lionel Messi dari bola mati, menegaskan superstar Barcelona itu tidak pernah latihan tendangan bebas. “Saya tidak pernah melihatnya melakukan tendangan bebas dalam latihan, selama saya berada di sana. Aku bersumpah dia tidak pernah melakukannya!” ujar Semedo.

Sumber ; Barcablaugranes

BARCELONA KE FINAL COPA DEL REY, TER STEGEN SENANG GAGALKAN PENALTI

Marc-Andre Ter Stegen, kiper Barcelona, senang bisa berkontribusi secara nyata di balik kemenangan 3-0 Barcelona atas Sevilla dalam laga leg kedua semifinal Copa Del Rey. Sevilla sebenarnya sempat memiliki peluang emas untuk menyamakan kedudukan menjadi satu sama. Peluang itu lahir pada menit ke-73 saat Sevilla mendapatkan hadiah tembakan penalti. Namun, eksekusi Lucas Ocampos gagal bersarang di jala gawang Barcelona. Ter Stegen sukses menghalaunya. Ter Stegen mengatakan, kunci kemenangan yang paling penting adalah keyakinan dan kepercayaan diri.

Sumber ; Football Espana

REAL BETIS INCAR BEK MUDA BARCELONA

Real Betis mengamati situasi Oscar Mingueza di Barcelona. Kesepakatan bek saat ini berakhir musim panas ini, tetapi Barca memiliki opsi sepihak untuk memperpanjangnya hingga 2023. Betis telah melakukan kontak dengan para pengawas Mingueza tentang kepindahan di musim panas. The Verdiblancos melihat Mingueza sebagai pengganti potensial untuk Aissa Mandi, yang akan pergi ketika kesepakatannya berakhir pada bulan Juni.

Sumber : Tribalfootball

DEMI RONALDO, JUVENTUS DISEBUT PERTIMBANGKAN JUAL DE LIGT

Demi memperbarui kontrak Cristiano Ronaldo, Juventus tengah mempertimbangkan menjual salah satu pemain andalan asal Belanda, Matthijs de Lift. De Ligt berada di musim keduanya bersama Juve dan dipandang sebagai calon penerus kapten Giorgio Chiellini. Menurut laporan, De Ligt dapat diuangkan untuk membantu mendanai perpanjangan 12 bulan ekstra untuk kontrak Ronaldo. Ronaldo saat ini memiliki kesepakatan hingga 2022 dan telah memberi tahu Juve bahwa dia ingin memperpanjangnya satu tahun lagi.

Sumber : Tribalfootball

CALON KAPTEN INTER MILAN BAKAL TEKEN KONTRAK

Inter Milan akan menawarkan NicolΓ² Barella kontrak baru 4,5 juta euro per tahun hingga 2026. Mantan pemain Cagliari itu adalah satu dari pemain Antonio Conte yang tak tersentuh karena dia sudah memainkan 34 pertandingan di semua kompetisi sejauh musim ini. Pemain 24 tahun ini memiliki 10 assist dan tiga gol pada 2020/21 dan direksi Nerazzurri berencana untuk memperpanjang kontraknya. Kontrak lama Barella saat ini berakhir pada 2024, tetapi CEO klub Beppe Marotta bertekad untuk memperpanjang masa tinggalnya dengan menawarkan pemain itu kenaikan gaji.

Sumber : Football Italia

INTER MILAN BELUM MELUNASI PEMBAYARAN LUKAKU KE MU

Inter Milan dilaporkan masih menunggak pembayaran transfer Romelu Lukaku kepada Manchester United. Seperti diketahui, Inter membeli Lukaku dari MU pada musim panas 2019 dengan mahar 74 juta euro atau Rp 1,2 triliun dan diikat kontrak hingga Juli 2024. Inter kabarnya berhutang 50 juta euro atau Rp 861 miliar kepada MU sebagai klub yang menjual Lukaku. Si Ular juga tidak membayar bonus 5 juta euro atau Rp 86,1 miliar yang termasuk dalam klausul kontrak pembelian Lukaku dari Setan Merah.

Sumber : Football Italia

CALON PENGGANTI GATTUSO DI NAPOLI

Dikutip Football Italia, Napoli dan Gennaro Gattuso akan berpisah pada akhir musim dan Aurelio De Laurentiis sedang mempertimbangkan lima kandidat untuk menggantikan pemenang Piala Dunia itu. Kelima kandidat pengganti Gattuso adalah Rafael Benitez, Ivan Juric, Maurizio Sarri, Roberto De Zerbi dan Vincenzo Italiano. Gattuso terancam dipecat karena hasil negatif yang diraih I Partenopei. Selain tampil buruk di Serie A, mereka juga tersingkir dari Liga Europa serta Coppa Italia dan menurut laporan, hubungan antara Gattuso dan De Laurentiis memburuk.

Sumber : Football Itala

KEYLOR NAVAS KURANG KASIH SAYANG SEMASA DI REAL MADRID

Keylor Navas pernah begitu sukses di Real Madrid. Namun, kiper Kosta Rika itu mengaku tidak mendapat dukungan sepenuhnya. Sejak bergabung pada tahun 2014, Navas membantu Madrid meraih trofi La Liga sekali, trofi Piala Super Spanyol sekali, trofi Liga Champions tiga kali beruntun, tiga kali Piala Super Eropa, dan empat kali Piala Dunia Antarklub. Hingga kemudian pada 2018/19, ia tersingkir karena kedatangan Thibaut Courtois. Navas sendiri kini bermain di PSG, dan sudah membantu Les Parisiens meraih empat trofi sejak kedatangannya. Navas pun membandingkan situasi di PSG dan Madrid. Menurutnya, ia merasakan kasih sayang lebih banyak di PSG ketimbang di Spanyol.

Sumber : Marca

PRA MUSIM INTER MIAMI, GONZALO HIGUAIN TAMPIL BAGUS

Pramusim yang sedang berlangsung untuk banyak tim Major League Soccer (MLS), Gonzalo Higuain telah mengangkat alis dengan tampilan barunya saat tampil bersama Inter Miami. Higuain menandatangani kontrak dengan tim David Beckham musim lalu dan kemudian menjadi pemain dengan bayaran tertinggi di MLS, menghasilkan 7,5 juta dollar per musim, dengan kesepakatan hingga tahun 2022 berada disana. Sekarang, menjelang kampanye keduanya, Higuain kini memiliki janggut lebat dan hampir sepenuhnya botak.

Sumber : Marca

PSG TERTARIK DATANGKAN BENJAMIN MENDY

PSG dilaporkan mengawasi perkembangan seputar masa depan Benjamin Mendy di Manchester City. Bek kiri itu sedang berjuang untuk mendapatkan waktu bermain di klub. Performa apik dari Joao Cancelo dan Oleksandr Zinchenko membuat dirinya baru mengemas enam penampilan di Liga Premier musim ini. Mendy juga pernah bikin kontroversi dengan melanggar protokol kesehatan beberapa waktu lalu. Ketidakpastian seputar posisi Mendy di Man City membuat PSG menjadi salah satu klub yang memantau situasi dengan cermat.

Sumber : Sportsmole

UEFA DAKWA RED STAR BELGRADE KARENA RASIS

UEFA telah mengumumkan dakwaan terhadap Red Star Belgrade karena ‘perilaku rasis’ dan ‘nyanyian ofensif’ selama pertandingan melawan Milan di Serbia. Red Star segera meminta maaf atas cercaan etnis yang diarahkan pada Ibrahimovic selama pertandingan Liga Europa, karena pemain asal Swedia itu diolok-olok oleh pendukung Red Star yang tidak seharusnya berada di stadion. Atas dakwaan ini, Red Star terancam hukuman berat dari UEFA jika terbukti bersalah.

Sumber : Football Italia

NEYMAR SEMAKIN DEWASA SEMENJAK TAK BERKOSTUM BARCELONA

Neymar kini semakin dewasa dan berkembang pesat sejak meninggalkan Barcelona. Hal itu diungkapkan eks pelatih Timnas Brasil, Tite, yang menilai Neymar memiliki jejak karier yang semakin meningkat di Paris Saint-Germain. Pemain berusia 29 tahun itu semakin meningkatkan reputasinya di Parc des Princes selama empat tahun terakhir, terlepas dari serangkaian masalah cedera dan indisipliner, dan Tite yakin ia sekarang lebih peduli dengan permainan tim ketimbang individunya.

Sumber : Goal

HASIL PERTANDINGAN

Dari lanjutan Liga Primer Inggris, Liverpool harus menyerah dari Chelsea dengan skor tipis 1-0. Bertanding di Anfield, anak asuh Jurgen Klopp itu takluk berkat gol Mason Mount di menit 42. Dengan hasil ini, Chelsea naik ke peringkat 4 dengan perolehan 47 poin dari 27 pertandingan. Sedangkan Liverpool berada di posisi 7 dengan koleksi 43 poin. Pada laga lainnya, Fulham takluk 0-1 dari Tottenham Hotspurs, dan Everton menang 1-0 atas West Brom.

Di Liga Italia Serie A, Inter Milan sukses mempermalukan tuan rumah Parma dengan skor 2-1. Dua gol Nerazzurri dicetak oleh Alexis Sanchez masing-masing pada menit 54 dan menit 62. Sedangkan satu gol balasan Parma tercipta berkat Hernani di menit 71. Dengan hasil ini, Inter semakin kokoh di puncak klasemen dengan koleksi 59 poin dari 25 laga. Sementara Parma kini masih berada di urutan ke-19.

Dari laga leg kedua babak semifinal Copa Del Rey, Athletic Bilbao menyingkirkan Levante lewat kemenangan 2-1 di stadion Ciudad de Valencia. Bilbao lolos ke partai puncak berkat keunggulan agregat 3-2 setelah di leg pertama bermain imbang satu sama. Kelolosan Bilbao harus ditentukan di masa perpanjangan waktu berkat gol Alex Berenguer di menit 112. Di partai final sendiri, Bilbao akan menghadapi Barcelona pada 17 april 2021 mendatang.

Sumber ; Livescore

KALAH DARI CHELSEA, LIVERPOOL CIPTAKAN REKOR BURUK

Liverpool meraih rekor baru yang justru tidak mereka inginkan setelah dikalahkan Chelsea. Rekor baru itu adalah Liverpool mendapat lima kekalahan beruntun di kandang di ajang Liga Primer. Padahal sebelumnya, mereka sempat menikmati 68 laga tanpa kalah di Anfield, yang merupakan laju terpanjang kedua dalam sejarah kompetisi teratas Inggris. Seturut hasil semalam, Liverpool juga menjadi juara bertahan Liga Primer yang menelan lima kekalahan kandang beruntun di liga.

Sumber : Goal

MALANGNYA NASIB MESUT OZIL, BEBAS DARI ARSENAL KINI JUSTRU CEDERA

Mantan punggawa Arsenal, Mesut Ozil mengalami cedera parah dan terpaksa ditarik keluar saat memperkuat Fenerbahce di laga kontra Antalyaspor, kamis (4/3) malam waktu setempat. Gelandang yang tampil sebagai starter untuk keempat kalinya itu bahkan sampai ditandu di awal babak kedua karena tidak bisa berjalan dalam hasil imbang 1-1 semalam. Ozil jatuh dalam posisi salah hingga mencederai engkelnya seusai berduel dengan penyerang lawan Fredy. Ozil dilaporkan akan absen antara empat dan enam minggu.

Sumber : Goal

MAKIN BUGAR, NEYMAR BERPELUANG TAMPIL KONTRA BARCELONA

Kondisi Neymar dikabarkan semakin bugar dan pemain asal Brasil itu diperkirakan bakal siap reuni dengan mantan rekannya di Barcelona, Lionel Messi. Dilaporkan media Prancis, Neymar berpartisipasi dalam latihan PSG pada hari Kamis untuk pertama kalinya sejak menderita cedera pangkal paha pada 10 Februari. Kembalinya Neymar menjadi alarm bagus buat PSG yang akan bertemu Barcelona dalam laga leg kedua babak 16 besar Liga Champions pekan depan.

Sumber : France

PEMAIN BARCELONA GERARD PIQUE CEDERA LAGI

Gerard Pique punya kabar buruk untuk Barcelona. Pemain yang menjadi salah satu aktor keberhasilan Barcelona melaju ke final Copa Del Rey itu keseleo di ligamen lutut kanan hingga harus menepi dalam beberapa pekan ke depan. Pique yang dimainkan sebagai starter dalam laga kontra Sevilla menahan sakit di penghujung babak tambahan setelah lututnya terkilir. Mantan pemain MU itu sempat mendapat perawatan. Tapi dirinya memaksa untuk kembali bermain dan menyelesaikan laga. Setelah dicek, tim medis klub memastikan Pique tak bisa bermain di beberapa laga selanjutnya.

Sumber : Barcauniversal

LAWAN BAYERN, DORTMUND TERANCAM TAK DIPERKUAT DUA BINTANGNYA

Duel big match bertajuk Der Klassiker akan tersaji akhir pekan ini antara Bayern Munchen vs Borussia Dortmund di Allianz Arena. Namun, tim tamu terancam tak diperkuat dua pemain intinya, yakni bek kiri Raphael Guerreiro dan penyerang Jadon Sancho. Kedua pemain itu mengalami cedera otot ketika Dortmund mengalahkan Monchengladbach di ajang DFB Pokal selasa lalu. Pihak Dortmund saat ini sedang menunggu perkembangan terbaru dari cedera kedua bintangnya itu.

Sumber : bvbbuzz

GIANLUIGI DONNARUMMA MASUK PRIORITAS TRANSFER CHELSEA

Sebuah informasi beredar mengenai rencana transfer Chelsea di musim panas nanti. Dikutip dari Football Italia, The Blues tertarik untuk membeli Gianluigi Donnarumma dari AC Milan. Pelatih Chelsea Thomas Tuchel ingin memboyong Donnarumma karena ia tidak puas dengan performa Edouard Mendy. Peluang Chelsea untuk memboyong Donnarumma sangat terbuka lebar. Kontrak sang kiper di San Siro akan berakhir di tahun 2022 mendatang. Dan sejauh ini Donnarumma masih belum mau meneken kontrak baru di Milan. Namun, untuk mendapatkan Donnarumma, Chelsea harus bersaing dengan sejumlah klub.

Sumber : Football Italia

TERANCAM DIPECAT NAPOLI, GATTUSO DIBIDIK WOLVES

Masa depan Gennaro Gattuso di Napoli sedang buram, seiring dengan penampilan buruk tim belakangan. Kondisi tersebut pun, tak ayal, berujung pada rumor pemecatannya dari kursi kepelatihan I Partenopei. Kini dilansir dari football Italia, klub asal Inggris Wolverhampton Wanderers tengah mempelajari situasi dan profilnya secara seksama untuk menjadi kandidat manajer pada musim depan. Lebih lanjut, sumber yang sama mengatakan bahwa penunjukkan Gattuso lebih dari sekadar ide bagi Wolves, yang dikabarkan siap untuk mengakhiri kerja sama dengan Nuno Espirito Santo setelah penampilan buruk tim pada musim ini.

Sumber : Football Italia

INTER SIAP GAJI PEMAIN JANUARI DAN LUNASI UTANG KE MU

Inter Milan siap membayar gaji pemainnya di bulan Januari lalu. Sebelumnya sempat muncul kabar pemain Inter baru digaji sampai dengan bulan Oktober – November 2020. Penunggakan gaji pemain Inter ini dikarenakan karena krisis finansial akibat pandemi. Selain membayar gaji pemain, Inter juga akan membayar utang bonus Romelu Lukaku ke Manchester United. Pemilik Inter, Suning Group kini tengah bekerja keras untuk menjual 30 persen sahamnya ke PIF, agar mendapat dana segera demi melunasi hutangnya tersebut.

Sumber : Football Italia

SELEBRASI KOCAK MESSI DI LAGA BARCELONA VS SEVILLA

Bintang Barcelona, Lionel Messi menjadi sorotan dalam duel antara Barcelona dan Sevilla di leg kedua babak semifinal Copa del Rey pada Kamis kemarin. Sebab, ia melakukan selebrasi kocak di pertengahan laga. Messi tampak kegirangan seperti anak kecil melihat Pique mencetak gol penyeimbang di menit ke-94. Sontak, video tersebut kemudian menjadi viral. Seperti diketahui, pada laga itu Barcelona berhasil menyingkirkan Sevilla secara dramatis dengan skor 3-0.

Sumber : Football Espana