Teruntuk Bayern Munchen: Tolong Jangan Jadikan Semua Akan Munchen Pada Waktunya di UCL

spot_img

Babak baru perjalanan Liga Champions sudah memasuki tingkat akhir, hilal siapa saja yang berpotensi melenggang ke perempat final juga mulai terlihat satu persatu, meskipun tidak dipungkiri leg kedua nanti akan tersaji drama baru. Namun, bagi tim yang sudah menang di leg pertama setidaknya memiliki kesempatan lebih lebar untuk lolos.

Lagi dan lagi Bayern Munchen menunjukkan dominasi mereka di lapangan, membuktikan jika mereka tidak hanya jago di liga sendiri, nggak kek fans liga sebelah yang ngaku liganya terbaik di dunia tapi sering ngampas juga klubnya di Eropa. Bayern Munchen dipertemukan dengan elang ibukota Italia, Lazio. Dimana untuk sekian lamanya klub biru langit Italia baru saja kembali merasakan kompetisi tertinggi Eropa. Tentu saja hampir semuanya menjagokan Bayern karena titel mereka sebagai juara dunia dan pemegang trofi UCL musim sebelumnya. Bahkan The Bavarian belum mengalami kekalahan sejak di fase grup.

Leg pertama Lazio mendapatkan giliran sebagai tuan rumah yang harus dengan ramah menyambut tamunya, sang juara bertahan. Namun pelatih mereka, Simone Inzaghi menyuruh anak asuhnya untuk santuy saja saat menghadapi Bayern.

“Kita sih ya pengen ngasih permainan yang terbaik aja. Ini bukan pertama kalinya kita jadi tim underdog, dan ya lu tau kan sebelumnya juga kita tetep enjoy main aja.”

Lain halnya dengan Lazio yang mencoba untuk tetap menikmati permainan, Bayern Munchen di juara bertahan justru sedang mengalami hal kurang baik di pertandingan sebelumnya. Setelah menggondol gelar Piala Dunia Antar Klub, Bayern Munchen tampil mengampaskan diri di dua laga terakhir. Yang pertama mereka imbang dengan skor 3-3 melawan klub Arminia Bielefeld, ini klub asal mana pula saya juga nggak tahu.

Dan yang kedua Die Rotten harus menundukkan kepalanya saat kalah 1-2 dari Eintracht Frankfurt.

Hal-hal kekalahan seperti itu sebenarnya normal-normal saja dalam sepak bola, mengingat jadwal kompetisi juga udah padat kek jalan tol pas arus mudik, ditambah banyak pemain pilar Bayern yang cedera. Oleh karena itu laga di Liga Champions melawan Lazio adalah titik balik mereka untuk memperbaiki performa dan kembali ke jalur yang benar. Nggak kek pelatih lain yang kebanyakan alesan, Hansi Flick ini tetap berpositif thinking ditengah permasalahan klub asuhnya. Dilansir dari BBC Sport, dirinya berujar seperti ini.

“Gue nggak mau banyak alesan ah, gue pengen positif thinking aja udah. Pertandingan lawan Lazio itu laga yang bagus dan gue juga ngliatnya buat dijadiin motivasi aja.”

Selain mempertemukan kedua tim dengan komposisi plus minusnya masing-masing, duel antara Bayern dan Lazio juga mempertemukan antara Robert Lewandowski dan Ciro Immobile, dua pemain bernomor punggung 9 yang musim lalu saling sikut untuk mendapatkan sepatu emas sebagai tanda bukti siapa yang tergacor di Eropa. Baik Lewandowski dan Immobile dua-duanya masih sama menjadi ujung tombak serangan klub mereka dan belum menunjukkan tanda-tanda penurunan performa.

Namun nasib baik memang sedang menaungi si nomor 9 cabang Jerman, Robert Lewandowski dan kawan-kawan berhasil mengantongi kemenangan telak kala bertamu ke kota Roma. Dengan Lewandowski juga turut menyumbang satu gol untuk kemenangan timnya. Aura dominasi memang sudah menguat sejak menit awal laga berjalan, tidak dipungkiri Bayern adalah klub berpengalaman dengan segudang pencapaian, tidak terlalu sulit lah bagi mereka untuk memberikan tekanan pada lawan main. Gol pembuka hadir dari Robert Lewandowski sendiri yang berhasil memanfaatkan kelengahan Mateo Musacchio.

Gol lanjutan hadir kembali lima belas menit berselang, Jamal Musiala memperlebar jarak dengan bola tembakannya ke gawang Pepe Reina. Sampai gol penutup babak pertama diceploskan mantan pemain Manchester City, Leroy Sane kala memanfaatkan bola muntah. Babak pertama berakhir dengan skor mencolok 3-0. Agak susah dikejar memang kalo udah begini.

Leroy Sane kembali memukau pemirsa dengan aksi larinya yang macem maling ayam, sendirian bro dia lari sampe akhirnya jadi penyebab gol keempat buat Bayern, sekaligus gol pembunuh dalam laga, karena akan sangat sulit untuk elang ibukota menyamakan kedudukan.

Sebagai bentuk rasa hormat kepada tuan rumah, dan biar nggak malu malu banget kena bantai, Lazio akhirnya bisa mencetak gol hiburan lewat Joaquin Correa.

Peluang Lazio sebenarnya ada untuk memperbaiki defisit gol, cuma karena yang ngejaga gawang lawan mereka adalah seorang Manuel Neuer, jadi peluang peluang itu berhasil dimentahkan oleh sang kiper. Beda cerita ye kalo semisal yang kaga itu si Karius, beuhhhhh itu nggak usah capek-capek menciptakan peluang pun dia sendiri yang bakal blunder.

Saya pun nggak tahu bagaimana jadinya Bayern jika tidak ada Neuer di laga itu, pasalnya di babak kedua mereka benar-benar kalang kabut mencoba untuk meredam amukan Lazio, tambakan yang datang dari Luis Alberto dan Joaquin Correia sukses mengobrak ngabrik baris pertahanan Bayern. Meskipun tidak ada gol tambahan sampai peluit panjang dibunyikan, tapi mentalitas Lazio untuk selalu menyerang dan pantang menyerah patut diapresiasi. Menunjukkan jika peluit wasit belum berbunyi maka haram hukumnya untuk berhenti berjuang.

Tapi aksi heroik Lazio sayangnya agak terganggu sama drama yang dibuat pelatih mereka sendiri, pake acara protes minta pinalti gan. Simone Inzaghi menilai jika timnya seharusnya mendapatkan hadiah pinalti usai Ciro Immobile dilanggar. Karena dia menilai jika saja wasit memberikan pinalti, maka kemungkinan jalannya laga akan berbeda. Protesnya Inzaghi direkam Sky Sports Italia.

“Gue ngerti kok, gue paham kita ngadepin siapa. Gue sih ngrasa kalo di awal kita udah main bagus sebelum dateng kesalahan gol pertama itu, cuma ya harusnya kita dapet pinalti lah cuy pas skor 1-0 dan Immobile dilanggar. Gue nggak bilang Bayern nggak layang menang loh ya, cuma gue ngrasa aja ini tuh perkara cukup rumit cuy, ditambah kesalahan yang kita buat juga bikin tambah runyam aja.”

Ya nggak salah sih jika pelatih menilai tim mereka layak mendapatkan pinalti atau tidak, lagi-lagi memang soal sudut pandang. Tak dipungkiri meskipun sudah diterapkan adanya VAR yang diharapkan bisa mengurangi kontroversi, tapi tetap saja keputusannya tidak akan bisa menyenangkan semua pihak.

Buat pelatih Lazio, wajar kok bapak menilai jika itu pinalti dan protes. Kan drama juga bagian tak terpisahkan dalam sepak bola. Yang penting jangan ngitungin pinalti lawan aja sampe lupa kondisi tim sendiri, pusing nantinya dan jadi bahan tertawaan banyak orang. Tetap cheer up buat comeback di leg kedua nanti yaa.

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru