Beranda blog Halaman 755

Sergio Aguero Tergoda Untuk Pindah Ke Chelsea

Sergio Aguero tergoda pindah ke Chelsea, karena striker Manchester City itu mengincar satu catatan di Liga Inggris. Aguero akan menjadi salah satu pemain berstatus bebas transfer yang paling diburu banyak tim papan atas, saat kontraknya di City selesai pada akhir musim ini. Aguero bertekad untuk mendongkrak posisinya dalam daftar pencetak gol terbanyak sepanjang masa di Liga Premier. Ia kini berada di posisi ke-4 daftar pencetak gol terbanyak sepanjang masa Liga Inggris, dengan koleksi 181 gol. Ia masih dibawah Alan Shearer, Wayne Rooney dan Andy Cole yang masing-masing mencetak 260, 208 dan 187 gol.

Sumber : Sportsmole

Mengapa Manchester City Disebut Sebagai Tetangga Yang Berisik Bagi MU?

1

Rivalitas sengit antara Manchester United dan Manchester City memang sudah jadi rahasia umum. Laga derby yang melibatkan keduanya  pun selalu menyajikan permainan dengan tensi tinggi. Kedua tim ini selalu ingin membuktikan diri sebagai yang terbaik di kota Manchester.

Sejauh ini, dalam segi jumlah trofi, Manchester United masih tercatat sebagai klub terbaik di kota Manchester. Tim berjuluk setan merah itu sudah meraih 20 titel Liga Inggris, 12 gelar FA Cup, dan 3 gelar Liga Champions. Sementara City baru dapat 6 titel liga Inggris, 6 gelar FA Cup dan belum pernah merengkuh trofi Liga Champions. Catatan tersebut jelas membuktikan bahwa MU masih lebih baik daripada City.

Namun, dalam kurun waktu satu dekade terakhir, Manchester Biru mulai mengusik Setan Merah.

Seperti sudah kita tahu, dulu City bukanlah apa-apa, mereka hanyalah tim yang sering menghuni papan tengah dan tak punya prestasi mentereng.

Tapi semuanya berubah 180 derajat tatkala taipan asal Uni Emirat Arab, Sheikh Mansour, mengambil alih kepemilikan klub yang bermarkas di Etihad Stadium tersebut.

Sejak kedatangan Mansour, keuangan City meningkat tajam. Si Langit Biru pun langsung belanja besar-besaran. Deretan pemain bintang, seperti, Kevin De Bruyne, Ruben Dias, Riyad Mahrez, Raheem Sterling, Rodri, João Cancelo, John Stones, Sergio Aguero, Robinho, Fernandinho, Gabriel Jesus, Edin Dzeko, Yaya Toure, hingga Mario Balotelli didatangkan ke Etihad Stadium.

City menjelma menjadi kekuatan besar dan mulai dianggap setara dengan MU.

Duel kontra MU di segala kompetisi pun menjadi ajang pertarungan harga diri dan gengsi. Saking panasnya rivalitas kedua tim, tak jarang terjadi sindir menyindir antar pemain hingga manajer.

Salah satu sindiran yang sangat terkenal adalah sindiran “noisy neighbours” alias tetangga berisik yang dilontarkan kubu MU pada City.

Yang menjadi pertanyaan adalah kenapa Manchester City disebut si tetangga berisik. Apakah mereka memang berisik? Atau apakah suporter mereka sering membuat kegaduhan sehingga disebut berisik?

Istilah ‘si tetangga berisik’ yang melekat pada kubu Manchester City muncul pada tahun 2009.

Sir Alex Ferguson, pelatih MU waktu itu adalah orang yang pertama kali melontarkan kalimat ‘si tetangga berisik’. 

“Terkadang, Anda punya tetangga yang berisik. Anda tidak bisa berbuat apapun soal itu. Mereka selalu berisik. Anda hanya harus terbiasa dengan itu, menyetel televisi dan mengatur suaranya sedikit lebih keras. Hari ini, para pemain menunjukkan performa mereka. Itu adalah jawaban terbaik dari semuanya.” kata Ferguson.

Kalimat tersebut diucapkan Ferguson saat melakukan perang urat syaraf dengan pelatih City kala itu, Mark Hughes. Itu terjadi pasca laga sengit yang dimenangkan MU atas City dengan skor 4-3 pada awal musim 2009/10.

Sindiran Ferguson mengacu terhadap sikap fans City yang beberapa kali menyindir MU, lantaran Sky Blues berhasil merayu Tevez agar menolak perpanjangan kontrak di Old Trafford untuk bergabung dengan City.

Ferguson murka ketika para fans City membuat poster besar gambar Carlos Tevez dengan latar belakang biru muda dan bertuliskan ‘Welcome to Manchester’ yang ditempatkan di pusat perbelanjaan.

Sebagai informasi, menjelang musim 2009/10, Tevez memang meninggalkan MU dan berlabuh ke The Cityzen. Menurut Ferguson, poster itu sangat norak dan provokatif. Selain itu, Ferguson juga menyindir langkah City yang jor-joran dalam membeli pemain pasca diambil alih oleh Sheikh Mansour.

Dalam beberapa kesempatan, Ferguson kerap melontarkan pernyataan yang intinya tidak menyukai Manchester City. Pada awal musim 2009/10, ia bahkan pernah mengatakan bahwa City adalah kesebelasan kecil dengan mentalitas yang kerdil. 

Namun, sindiran ‘si tetangga berisik-lah’ yang paling populer, dan kemudian digunakan oleh fans MU untuk mengolok-olok City. Mereka menganggap, City tak lebih dari bayang-bayang nama besar MU di kota Manchester.

Di samping itu, istilah tetangga berisik ternyata bukan cuma kiasan. Kenyataannya, Manchester City memang selalu berisik, mengganggu dominasi MU sejak diambil alih Sheikh Mansour.

Puncaknya adalah ketika City menghentikan dominasi The Red Devils di liga primer Inggris musim 2011/12. Ketika itu, City dengan deretan pemain bintangnya dan diarsiteki Roberto Mancini berhasil merengkuh trofi premier league secara dramatis di pekan terakhir musim tersebut. Bahkan dalam perjalanannya meraih gelar, City sukses menggulung MU dengan skor 6-1 di Old Trafford.

Tahun demi tahun, City makin konsisten menunjukkan kekuatannya di belantika sepakbola negeri ratu elizabeth. City mulai terlepas dari bayang-bayang MU Sementara MU, sejak Ferguson tak lagi melatih, selalu kesulitan menembus persaingan juara di kancah domestik.

Kisah Tokelo Rantie : Dicoret Pelatih Karena Kentut Sembarangan

0

Sepakbola selalu menyajikan fakta menarik untuk jadi pembahasan. Kali ini adalah soal pemain yang dicoret dari skuad karena kentut sembarangan. Nasib naas tersebut dialami oleh Tokelo Rantie, pemain asal Afrika Selatan. Jika biasanya seorang pemain dicoret dari skuad karena bermain buruk, tindakan indisipliner ataupun cedera, namun hal itu tidak berlaku bagi Rantie. Ia ditendang dari tim nasional karena kentut di depan sang pelatih. 

Tokelo Rantie merupakan salah satu pemain berbakat yang dimiliki Afrika Selatan. Karirnya dimulai di akademi Stars of Africa Academy, hingga pada 2009 ia masuk ke dalam skuad utama. Namun Rantie langsung dipinjamkan ke sejumlah klub seperti Ferroviario de Beira dan Maxaquene di negara tetangga Mozambik. Kemudian, ke Divisi II Liga Swedia, IFK Hassleholm, Orlando Pirates di Liga Afrika Selatan dan Malmo FF di Swedia.

Nama klub yang disebut terakhir berani mempermanenkan status Rantie meski sang pemain memulai musim dengan cedera lutut dan harus absen selama pramusim 2013. Bersama Malmo, Rantie menandatangani kontrak 4 tahun hingga akhir musim 2016. 

Setelah bermain cukup baik untuk Malmo, Rantie digaet klub Inggris, Bournemouth dan menjadi salah satu pemain yang diandalkan di klub tersebut. Pengalaman Rantie bermain di Eropa ternyata membuahkan hasil. Ia kerap dipanggil untuk memperkuat tim nasional Afrika Selatan. Debutnya dimulai pada 15 Juni 2012 dalam laga persahabatan melawan Gabon. 

Seiring berjalannya waktu, Rantie sering dipercaya untuk memperkuat tim nasional. Ia tampil di sejumlah pertandingan, baik turnamen piala Afrika, kualifikasi piala dunia ataupun pertandingan uji coba. Ia selalu dipercaya oleh juru taktik Afrika Selatan kala itu, Gordon Igesund, untuk mengisi lini depan skuad bafana-bafana.

Namun, nasib buruk kemudian menimpa Rantie seiring pergantian pelatih, dari Gordon Igesund ke Ephraim Mashaba pada 2014. Ia dicoret oleh Mashaba hanya karena angin yang keluar dari tubuhnya.

Peristiwa konyol itu terjadi dalam sebuah pelatnas singkat jelang pertandingan kualifikasi Piala Afrika 2017 pada 2016. Mashaba tampak geram dengan kelakuan pemainnya. Ia merasa dilecehkan oleh Rantie. Menurutnya, Rantie telah bersikap tidak sopan.

Atas alasan itu, Mashaba mendepak Rantie dari skuad.

Kabar pencoretan pemain kelahiran 8 September itu sangat mengejutkan dan sempat menjadi perdebatan sengit. Ditambah, posisi Rantie saat itu adalah pemain andalan timnas Afrika Selatan.

Banyak yang beranggapan bahwa Mashaba terlalu berlebihan. Parahnya, karena alasan nyeleneh sang pelatih, insiden pencoretan tersebut menjadi bahan candaan di Afrika Selatan selama berbulan-bulan.

Merasa tersudut karena masalah itu, Mashaba melontarkan alasan kuat mengapa ia mendepak Rantie.

“Untuk menjaga soliditas kekompakkan di tim ini, kami terpaksa mencoret Tokelo (Rantie) dari pemusatan latihan,” kata Mashaba saat itu.

Namun, berdasarkan investigasi yang dilakukan, sejumlah media mengklaim bahwa Rantie hanya menurunkan celananya dan tidak sengaja membuang gas di dekat pelatih berusia 69 tahun tersebut.

Asosiasi sepak bola Afsel (SAFA) secara resmi mengumumkan bahwa Tokelo Rantie telah dikeluarkan dari tim. Akan tetapi, mereka mengumumkan Rantie dicoret karena terlambat datang ke pemusatan latihan.

Tak lama setelah kejadian itu, Mashaba mengalami nasib tragis. Ia dipecat pada akhir tahun 2016 dan digantikan Stuart Baxter pada awal 2017.  Sementara Rantie kembali bermain, dan mendapatkan tempatnya lagi di skuad Afrika Selatan. 

Sayangnya karier klub Rantie mengalami kemunduran pasca meninggalkan Bournemouth menuju Genclerbirligi. Dia kurang produktif karena hanya mencetak 3 gol dari 26 laga. Kemudian, Rantie kembali ke negara asalnya untuk membela Cape Town City dan Mamelodi Sundowns.

Namun, bersama klub yang disebut terakhir, Rantie harus dipecat tanpa sekalipun mencatat menit bermain.

[embedyt] https://www.youtube.com/watch?v=WnjxiLhL7M4[/embedyt]

Masih Ingat Pemain Terbaik Cina Sun Jihai? Begini Nasibnya Sekarang

0

Saat membicarakan pemain Asia yang merumput di klub-klub Eropa, bisa dikatakan China agak tertinggal. Tidak seperti Jepang dan Korea yang pemainnya cukup rutin menghiasi liga-liga top Eropa, tidak banyak pemain asal negeri tirai bambu yang berkarir di benua biru. 

Bahkan, untuk  saat ini, pemain China yang sangat fenomenal karena bermain bagus di Liga elit eropa hanya Wu Lei. Wu Lei bisa disebut sebagai primadonanya sepakbola China sekarang ini.

Usianya memang sudah 29 tahun, namun Wu Lei sukses membuka mata dunia bahwa pesepakbola China juga bisa bersaing dengan bintang-bintang top eropa. Wu Lei, yang berposisi winger bermain untuk Espanyol sejak 2019. Sejauh ini, ia telah tampil sebanyak 66 kali di semua kompetisi dan membukukan 9 gol, dengan satu diantaranya dijaringkan ke gawang klub sekaliber Barcelona pada awal 2020 lalu.

Meski begitu, jauh sebelum sosok Wu Lei menjadi perbincangan, China juga pernah punya berlian yang pernah merumput di liga elit eropa bernama Sun Jihai. Bagi kalian penggemar Liga Inggris, khususnya tim Manchester City, nama Sun Jihai mungkin terdengar tidak asing lagi. Pasalnya, Sun Jihai pernah membela The Citizen selama kurun waktu yang cukup lama. 

Pemain yang berposisi sebagai bek itu bisa dikatakan sebagai pesepakbola terbaik China sepanjang masa. Aksi-aksinya di lapangan hijau selalu dinikmati oleh para penggemarnya. Jika Korea Selatan punya Park Ji Sung, maka China punya Sun Jihai. Sama seperti Park, Sun juga dinilai cukup sukses berkarir di sepakbola eropa. Sun disebut-sebut sebagai pesepakbola China paling sukses.

Sun Jihai lahir pada 30 september 1977 di Zhuanghe, Dalian, Liaoning, China. Awal mula karir sepakbola profesionalnya dimulai di klub bernama Dalian Shide, di mana Sun bermain di klub tersebut mulai tahun 1995. Debutnya terjadi pada 28 Mei 1995, ketika melawan Sichuan Quanxing.

Seperti banyak pemain muda China top di generasinya, Sun Juga punya  keinginan untuk pergi ke kamp pelatihan pemuda China di Brasil yang disponsori oleh Jianlibao. Namun sayangnya, ia tidak terpilih karena dinilai kurang memiliki potensi. Meski demikian, Sun tidak patah semangat. Ia percaya bahwa sebuah kegagalan adalah awal dari kesuksesan.

Setelah kekecewaan itu, Sun tampil lebih giat lagi, ia terus memantapkan dirinya bersama klub yang dibelanya. Hasilnya pun tak sia-sia, Sun turut mengantarkan Dalian Shide merebut 4 gelar Liga China, satu trofi piala FA China, dan dua gelar piala super China. Setelah menikmati kesuksesannya bersama Dalian, Sun mulai berpikir untuk mencari klub baru.

Bersama Fan Zhiyi, ia menandatangani kontrak dengan Crystal Palace pada Agustus 1998. Saat itu statusnya sebagai pemain pinjaman selama semusim. 

Sun Jihai dan rekannya tersebut tercatat sebagai pesepakbola China pertama yang bermain di Inggris. Sun melakukan debutnya bersama Palace dan alami kekalahan 0-3 saat melawan Bury pada leg pertama Piala Liga 1998/99. Bersama Palace, Sun tampil cukup apik. Lalu setelah masa peminjamannya selesai, kubu Dalian kembali memanggilnya saat harus berjuang keras di dasar liga pada musim 1999.

Seiring berjalannya waktu, bakat dan potensi Sun dalam mengolah si kulit bundar tercium oleh salah satu klub papan atas Inggris, Manchester City, meskipun saat itu City belum disebut sebagai klub elit di negeri ratu Elizabeth. Klub berjuluk The Cityzen itu memboyong Sun dari Dalian Shide pada Februari 2002. 

Sun, pemain yang juga sukses mengantarkan tim nasional China ke Piala dunia untuk pertama kalinya itu digaet dengan mahar 2 juta pounds atau sekitar Rp 38 miliar. Tahun 2002 bisa dibilang sebagai tahun keberuntungan Sun, selain direkrut klub besar Inggris, ia juga tampil membela China di ajang Piala Dunia 2002.

Sun sendiri tercatat sebagai pemain asia pertama yang bermain bagi Manchester City. Ia melakukan debut saat City meraih kemenangan 4-2 atas Coventry City. Sun juga ikut membawa Manchester Biru promosi ke Premier League 2002/2003. 

Selama berseragam City, Sun telah ukir berbagai kenangan. Ia pernah terpilih sebagai pemain terbaik edisi september 2002 dan menjadi pemain Asia Timur pertama yang mencetak gol di Liga Primer sebulan setelahnya saat City meraih kemenangan 2-0 atas Birmingham City.

Meski demikian, tidak selamanya perjalanan Sun mudah, ia juga pernah melewati masa sulit. Dirinya pernah cedera ligamen yang membuatnya absen nyaris di sepanjang musim 2004/05. Ia sempat kembali pulih dan berhasil kembali masuk starting line-up.  Tapi, pada musim 2006/07, ia kembali cedera dan absen hingga 10 Februari 2007.

Seiring kedatangan pelatih baru Sven Goran Eriksson dan badai cedera yang selalu menyertai, Sun sudah mulai kehilangan tempatnya di Man City.  Hingga pada akhirnya, setelah tujuh musim memperkuat disana dengan jumlah penampilan 123 laga, Sun pindah ke Sheffield United pada 2 Juli 2008.

Namun, karirnya tidak berjalan mulus bersama klub berjuluk The Blades tersebut. Cedera jadi alasan utama Sun bermain tidak bagus bersama Sheffield. Hingga kemudian ia dilepas ke klub satelit Sheffield di Negeri Tirai Bambu, Chengdu Blades pada 2009. Semenjak itu, karirnya mulai goyah. Ia melewati perjalanan karir yang naik turun. 

Guizhou Renhe, Chongqing Lifan dan Beijing Renhe adalah sejumlah klub profesional di Liga China yang menjadi pelabuhan selanjutnya bagi Sun Jihai sebelum putuskan gantung sepatu pada 2016.

Selepas pensiun, Sun tidak melanjutkan karir sebagai seorang pelatih, pengurus klub ataupun profesi lain yang berhubungan dengan sepakbola. Tapi ia memilih untuk menjadi pengusaha.

Sun mendirikan Beijing Haiqiu Technology Company alias HQ Sports pada Februari 2016. Selanjutnya, pada Desember 2016, Sun mengumumkan keberhasilan mendapatkan sumber dana untuk HQ Sports, yaitu dari China Media Capital (CMC), Tencent, dan Yuan Xun Fund.

HQ Sports merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang industri olahraga. HQ Sports menggabungkan acara bincang-bincang yang menampilkan Jihai, aplikasi media sosial olahraga bernama MiaoHi, dan alat prediksi pertandingan yang disebut Aplikasi Jihai.

Berkat dana dari sejumlah investor besar tersebut yang totalnya mencapai 60 Juta USD,  HQ Sports sekarang telah berkembang menjadi perusahaan yang stabil. Selain itu, perusahaannya juga mendapat dukungan sebanyak 30% dari City Football Group. Hanya 3 tahun setelah didirikan, perusahaan Sun Jihai memiliki basis 400 juta pengguna di China. Itu setara dengan gabungan tujuh populasi negara terbesar di Eropa.

Dari bisnis yang ditekuni, pemilik 80 caps timnas China tersebut disinyalir memiliki pendapatan bersih hingga 20 juta pounds per tahun atau setara Rp 398 miliar. Tentu saja, jumlah itu jauh lebih banyak dibanding gaji beberapa pesepakbola profesional di Eropa masa kini.

Itulah kisah Sun Jihai, dari seorang pesepakbola terkenal menjadi seorang pengusaha sukses. Sosok Sun akan selalu menjadi perbincangan, selain karena mampu mengangkat profil sepakbola Inggris di China, Sun pula-lah yang membuat Man City memiliki banyak fanbase di China.

[embedyt] https://www.youtube.com/watch?v=5dM6tXgiD9U[/embedyt]

 

Belanda & Julukan ‘Raja Tanpa Mahkota’ Yang Menyemat Pada Diri Mereka

0

Belanda merupakan salah satu negara terindah di dunia. Negara yang dijuluki sebagai negeri kincir angin itu menyajikan nuansa yang unik dimana perpaduan keindahan, kenyamanan, dan kemajuan menyatu menjadi sebuah oase yang menakjubkan.

Namun, bukan cuma soal lingkungan, keindahan Belanda juga terpatri dalam ranah sepakbola. Belanda dikenal mempunyai permainan aduhai nan berkelas di atas lapangan. Total Football menggambarkan bagaimana orang-orang Belanda memainkan si kulit bundar dengan begitu menawan.

Negeri berpenduduk 17 juta jiwa itu mempunyai sejarah panjang dalam sepak bola. Tersebarnya pemain asal negeri Tulip yang bermain di klub besar dunia membuktikan potensi tim berjuluk De Oranje tersebut.

Sisi lain kehebatan Belanda adalah bahwa mereka jarang absen di berbagai kejuaraan sepakbola level tertinggi seperti Piala Dunia dan Piala Eropa. Meski pada dua turnamen besar terakhir (piala eropa 2016 dan piala dunia 2018), mereka tidak ikut serta.

Walau terbilang tim kuat, ada satu yang membedakan Belanda dengan negara besar Eropa lainnya, yakni gelar juara dunia. Ya, meski berhasil tiga kali mencapai final, kegagalan demi kegagalan tampaknya tak mau lepas dari skuat Belanda.

Belanda merasakan kenangan pahit di partai final saat tampil di piala dunia tahun 1974, 1978 dan terakhir 2010.

Sebelum tahun 1974, Belanda tidak pernah lolos ke turnamen internasional apapun. Sempat bersaing di Piala Dunia 1934 dan 1938 di Italia dan Prancis, tetapi kemudian gagal lolos ke putaran final hingga piala dunia 1974.

Pada dekade 1970-an, Belanda menghasilkan generasi pemain yang luar biasa, seperti Johan Cruyff, Johnny Rep, Johan Neeskens, Arie Haan dan Rob Rensenbrink.

Dengan gaya terkenal yang berkembang di Ajax pada akhir 1960-an di bawah pelatih legendaris Rinus Michels dan pasukan yang dipimpin oleh ikon Johan Cruyff, Belanda mengembangkan filosofi yang mengajarkan dunia cara bermain yang baru.

Para pemain dan pelatih yang menginspirasi selama beberapa generasi, pengaruhnya telah terbukti dalam beberapa tim asing hebat yang telah muncul sejak itu.

Sisi Ajax, Feyenoord dan PSV yang memenangkan Piala Champions, Piala UEFA, dan Kejuaraan Dunia Klub pada 1970-an mendorong Timnas Belanda dari renungan di panggung dunia ke kekuatan yang dominan.

Di masa jayanya, Belanda sempat menggegerkan jagat sepakbola dengan gaya total football yang diusung Rinus Michels. Gaya sepak bola yang mengharuskan seluruh pemainnya bisa menyerang dan bertahan sama baiknya ini mampu diaplikasikan oleh Johan Cruyff dan kawan-kawan.

Hasilnya, mereka mampu menembus final Piala Dunia dua edisi berturut-turut. Yakni pada tahun 1974 di Jerman Barat dan 1978 di Argentina. Sayang pada dua laga final tersebut, Belanda harus puas menjadi Runner Up.

Meski gagal jadi sang jawara sesungguhnya, permainan Belanda kala itu mampu membius penikmat sepak bola. Permainan agresif dan atraktifnya benar-benar mengerikan tim-tim lawan di jagat raya. Wajar, pada akhirnya tim ini dijuluki ‘raja tanpa mahkota’.

Di putaran final Piala Dunia 1974, sinar Belanda begitu menyala. Tangan dingin sang pelatih bernama Rinus Michels membuat tim ini begitu disegani. Di turnamen ini pulalah lahir maestro ulung bernama Johan Cruyff.

Di babak penyisihan grup pertama, Belanda tergabung bersama juara dunia dua kali Uruguay, Swedia, dan Bulgaria. Pada fase ini, Belanda mencetak dua kali kemenangan dan sekali seri. Mereka sukses menghajar Uruguay dengan skor 2-0 dan Bulgaria dengan skor 4-1, serta bermain seri 0-0 kontra Swedia.

Di fase penyisihan grup kedua, Belanda makin menggila dengan mencetak tiga kemenangan, membukukan 8 gol tanpa kebobolan satupun. Tim-tim sekaliber Argentina dan Brasil mereka gilas dengan skor masing-masing 4-0 dan 2-0. Tim lain yang mereka hajar adalah Jerman Timur.

Kegemilangan inilah yang mengantar De Oranje menuju ke final bertemu dengan sang tuan rumah, Jerman Barat.

Laga puncak berlangsung di stadion olimpiade Munich pada 7 Juli 1974. Sejak awal, stadion sudah dipadati tujuh puluh ribu lebih penonton. Duel ini juga sekaligus mempertemukan dua legenda sepak bola dunia, Franz Beckenbauer vs Johan Cruyff.

Saat pertandingan dimulai, Cruyff sudah memberikan ancaman dengan solo run, yang memaksa Uli Hoeness menjatuhkannya di kotak penalti Jerman. Hadiah penalti pun diberikan dan Johan Neeskens menjalankan tugasnya dengan baik.

Dua puluh menit setelahnya Belanda masih menguasai permainan. Tapi Jerman menemukan jalan untuk melawan. Bernd Holzenbein dilanggar di kotak penalti Belanda. Paul Breitner mendapat tugas sebagai eksekutor penalti di menit ke-25.

Bek sayap kiri Jerman Barat tersebut berhasil menaklukkan Jan Jongbloed, penjaga gawang Belanda bernomor punggung 8. Skor antara Belanda dan Jerman Barat pun kembali sama kuat.

Di menit ke-43, satu gol kembali tercipta. Kali ini lewat penyerang tengah Jerman, Gerd Muller. Gol itu sekaligus menjadi yang ke-14 sepanjang keikutsertaan Mueller di turnamen empat tahunan tersebut.

Di babak kedua, gemuruh angin puting beliung total football Belanda menyerbu gawang Jerman Barat. Namun Sepp Maier, kiper Jerman Barat, berdiri kokoh bagaikan tembok baja menahan gempuran Belanda.

Alhasil, Belanda pulang dengan tangan hampa, hanya meninggalkan nama harum sebagai tim yang bermain paling menawan. Jerman Barat pun resmi menjadi juara dunia untuk kali kedua.

Empat tahun kemudian, pada Piala Dunia 1978 yang diselenggarakan di Argentina, Belanda kembali menembus final. Semangat total football yang mereka tunjukkan masih tetap impresif, walau tanpa sang maestro Johan Cruyff.

Namun kembali mereka harus gigit jari di final dan lagi-lagi perenggut ambisi mereka adalah sang tuan rumah.

Partai puncak yang digelar di Estadio Monumental, Buenos Aires pada 25 Juni 1978 berlangsung ketat. Argentina memimpin lebih dulu di menit 37 lewat aksi Mario Kempes sebelum akhirnya disamakan oleh Nanninga di menit 82.

Dengan skor imbang 1-1, laga berlanjut ke babak tambahan waktu. Satu menit jelang berakhirnya 15 pertama, mimpi buruk Belanda terjadi. Mario Kempes menjebol gawang Jan Jongbloed untuk kali kedua di menit 104.

Dan di menit 115, Daniel Bertoni memastikan kemenangan La Albiceleste 3-1. Argentina pun juara untuk kali pertama dan Belanda harus kembali mengubur mimpi meraih gelar.

Sejak kekalahan pada final Piala Dunia 1978, Timnas Belanda terus memperlihatkan permainan indah dan enak ditonton sampai pada akhirnya pada tahun 1988, mereka berhasil menjadi juara piala eropa usai di final mengalahkan tim favorit, Uni Soviet.

Seiring berjalannya waktu, timnas Belanda mencoba mencari peruntungan demi peruntungan di turnamen besar. Hingga pada sepuluh tahun lalu, di benua Afrika, Belanda mencoba menghapus kutukan tak pernah menang di final piala dunia.

De Oranje yang diasuh Bert Van Marwijk harus berhadapan dengan tim terkuat saat itu, Spanyol di laga puncak Piala Dunia 2010. Sayang, gol tunggal Andres Iniesta di menit 116 kembali membuat Belanda meratapi kegagalannya menjadi jawara dunia.

Usai gagal di Piala Dunia Afrika Selatan, sebenarnya pada edisi 2014 yang di gelar di Brasil, Belanda menunjukan permainan menjanjikan. Tim yang dikomandoi Robin Van Persie ini melaju jauh hingga semifinal.

Sayang di fase ini mereka kembali harus takluk dari Argentina yang dimotori Lionel Messi dan akhirnya hanya mampu menjadi juara tiga, setelah mengalahkan tuan rumah 3-0 tanpa balas.

Belanda memang raja sepakbola, raja yang mampu mempesona dengan sepakbola indah dan menyerang. Tapi raja itu tidak memiliki mahkota, karena satu gelar Juara Eropa tidak cukup sah untuk membuat mereka dinobatkan sebagai raja, sebelum mampu meraih Piala Dunia.

Pada akhirnya semua kegagalan Timnas Belanda di ajang piala dunia hanya patut kita kenang. Sebuah memori yang terekam dan akan selalu menghiasi buku sejarah sepakbola dunia.

[embedyt] https://www.youtube.com/watch?v=oR5-dPH-ER8[/embedyt]

Jadi Biang Kerok Tersingkirnya Tottenham di Liga Eropa, Siapa Sebenarnya Mislav Orsic?

0

Tottenham Hotspurs harus mengubur mimpi mereka untuk meraih trofi Liga Europa musim ini. Mimpi Tottenham meraih trofi pupus, usai secara mengejutkan takluk dari klub asal Kroasia, Dinamo Zagreb pada leg kedua babak 16 besar Liga Europa.

Pada laga yang digelar di stadion Maksimir, Zagreb, Tottenham sebenarnya punya modal bagus buat menyingkirkan sang lawan. Pasalnya, klub asal Inggris itu punya tabungan kemenangan 2-0 di leg pertama. Namun sayang, Tottenham gagal memanfaatkan itu, mereka justru kalah, dan tak tanggung-tanggung skornya sangat telak 0-3.

Bintang kemenangan Dinamo Zagreb pada pertandingan itu adalah Mislav Orsic. Orsic menciptakan tiga gol alias hattrick yang membuat langkah pasukan Jose Mourinho harus terhenti. Setelah sempat bermain imbang 0-0 di babak pertama, Orsic menjebol gawang Tottenham pada menit ke-62. Tujuh menit jelang laga berakhir, Orsic kembali mencetak gol untuk Zagreb.

Keunggulan 2-0 membuat agregat kedua tim jadi sama kuat 2-2. Kondisi ini memaksa pertandingan berlanjut ke babak perpanjangan waktu. Di babak inilah petaka datang untuk The Lilywhites. Pada menit ke-106, Orsic melakukan aksi individu luar biasa dengan melewati beberapa pemain Tottenham, sebelum akhirnya melepas tendangan yang tak mampu diantisipasi Hugo Lloris.

Kemenangan yang diraih Zagreb tidak cuma membawa mereka lolos ke perempat final, tapi juga melambungkan nama Mislav Orsic. Lalu siapa sebenarnya Mislav Orsic?.

Lahir pada 29 Desember 1992 di Zagreb, Mislav Orsic adalah pesepakbola profesional yang berposisi sebagai penyerang sayap, dan kadang ditempatkan sebagai gelandang serang. Ia mengawali karirnya bersama klub Inter Zapresic, tim yang berbasis di luar ibukota Kroasia, pada tahun 2009.

Setelah empat musim berada di sana, Orsic pindah ke klub Serie B Italia, Spezia pada musim panas 2013. Karirnya di Italia tak begitu mulus, di mana ia hanya tampil sebanyak 11 kali tanpa sekalipun mencetak gol di musim 2013/14.

Orsic lalu kembali ke tanah kelahirannya dan bergabung dengan Rijeka dengan biaya transfer yang tidak diketahui. Ia kemudian dipinjamkan ke klub Slovenia Celje dari Agustus hingga Desember musim 2014/15 di mana ia bermain dalam 13 laga dan mencetak 2 gol.

Setelah itu, ia dipinjamkan ke klub Korea Selatan, Jeonnam Dragons selama satu tahun. Selama masa pinjaman di Korea, Orsic tampil cukup mengesankan dan menjadi idola di klub tersebut.

Puas dengan performa Orsic, Jeonnam akhirnya mempermanenkan statusnya, dengan mahar 750.000 euro pada jendela transfer Januari 2016. Di K-League, Orsic menggunakan nama “Orsha”, hal ini dilakukan karena pemain Korea Selatan kesulitan memanggil namanya.

Sejak dipermanenkan, Orsic hanya menghabiskan waktu setengah tahun di Jeonnam, di mana ia bermain 16 pertandingan dan mencetak 5 gol. Setelah itu, dia dijual ke klub Liga Super China, Changchun Yatai seharga 1,3 juta euro.

Akan tetapi, kebersamaannya bersama Changchun Yatai hanya berlangsung selama satu tahun. Orsic lalu kembali ke Liga Korea pada Januari 2017, menandatangani kontrak dengan klub raksasa Ulsan Hyundai. Di klub inilah Orsic berhasil mendapatkan trofi pertamanya. Selama satu setengah tahun, ia sukses mengantarkan Ulsan merebut piala FA Korea.

Hampir empat musim melanglang buana di liga-liga di Asia, Orsic memutuskan untuk kembali ke Kroasia. Ia menerima tawaran Dinamo Zagreb pada musim panas 2018. Karirnya pun semakin berkembang.

Orsic kian melambungkan namanya di belantika sepakbola Kroasia. Namanya makin populer saat ia mencetak hattrick ke gawang Atalanta pada fase grup Liga Champions 2019/20. Apalagi, saat itu adalah laga debutnya di kompetisi prestis eropa.

Sayangnya, Orsic tak mampu membawa Zagreb lolos dari fase grup. Namun, meski begitu ia berhasil membawa Zagreb merengkuh beberapa trofi penting, seperti Liga Kroasia, dua kali secara beruntun dan Piala Super Kroasia.

Penampilan apik Orsic secara individu membuat pelatih timnas Kroasia, Zlatko Dalic kepincut. Dalic lalu memanggil Orsic untuk melakoni debutnya di level internasional pada 9 September 2019 dalam pertandingan kualifikasi Euro 2020 melawan Azerbaijan di Baku yang berakhir imbang 1-1, di mana ia masuk sebagai pengganti Ante Rebić pada menit ke-86.

Sampai dengan sejauh ini, pemain yang menjadi andalan timnas Kroasia di level junior ini telah mencatat 5 caps bersama timnas Kroasia.

[embedyt] https://www.youtube.com/watch?v=aOi47nAlaXE[/embedyt]

Mengenal Clairefontaine, Akademi Pencetak Bibit Unggul & Pusat Latihan Timnas Prancis

0

Clairefontaine. Namanya masih cukup asing di telinga pecinta sepak bola. Namun, Clairefontaine yang merupakan akademi dan pusat latihan timnas Prancis adalah bagian penting dari kesuksesan Prancis dalam 3 dekade terakhir.

Tiga tahun yang lalu, tim yang berjuluk Les Blues itu jadi jawara Piala Dunia 2018 dengan cara meyakinkan. Mengalahkan Kroasia 4-2 di final, Prancis mendapat trofi Piala Dunia keduanya setelah 1998. Namun, kesuksesan negara yang terkenal dengan Menara Eifelnya itu tidaklah instan. Ada proses panjang untuk meraihnya. Bahkan, Prancis pernah mengalami periode kering prestasi.

Dulu, Prancis bukanlah negara kuat yang cukup diperhitungkan di turnamen internasional. Setelah menjadi juara 3 Piala Dunia 1958, Les Blues butuh waktu nyaris 3 dekade untuk meraih prestasi lagi. Itupun berkat kegemilangan Michel Platini di Euro 1984.

Dibanding tetangganya seperti Jerman, Inggris, Spanyol, bahkan Belanda, Prancis tergolong tertinggal. Demi mengejar ketertinggalannya itu, federasi sepak bola Prancis (FFF) punya proyek besar. Yaitu membangun fasilitas akademi dan pusat latihan timnas Prancis.

Sejarah Terbentuknya Akademi Clairefontaine

Proyek tersebut diinisiasi oleh presiden federasi sepak bola Prancis, Fernand Sastre dan mantan pelatih timnas Prancis asal Rumania, Stefan Kovacs pada 1976. Setelah melalui diskusi dan perencanaan yang matang, pada 1985 dimulailah pembangunan Institut national du football de Clairefontaine (Clairefontaine).

Sebuah proyek yang tak main-main. Pasalnya, Clairefontaine dibangun di tengah hutan Rambouillet. Berlokasi 50 km dari barat daya kota Paris, Clairefontaine dibangun di area seluas 56 hektar. Proses pembangunannya sendiri memakan waktu selama 3 tahun.

Sejak dibuka pada Januari 1988, Clairefontaine langsung jadi pusat pengembangan pemain terbaik Prancis. Di area yang juga jadi pusat latihan tim nasional Prancis berbagai usia itu dibangun berbagai fasilitas penunjung, seperti 7 lapangan rumput, 3 lapangan sintetis, gym, kafetaria, hotel bintang lima, perpustakaan, lapangan tenis, auditorium, kolam renang, bahkan bioskop.

Akademi Clairefontaine sendiri diperuntukkan bagi anak laki-laki berusia 13-15 tahun. Syaratnya, memiliki kewarganegaraan Prancis dan tinggal di sekitaran wilayah Ile-de-France atau sekitaran kota Paris. Setiap musimnya hanya dipilih 23 anak yang akan dididik di akademi Clairefontaine.

Kurikulum akademi ini cukup unik. Mereka akan berlatih di Clairefontaine dari hari Minggu hingga Jumat. Mereka disediakan asrama di sana. Lalu, di tiap akhir pekannya, anak-anak Clairefontaine akan kembali bertanding untuk klubnya masing-masing. Begitu seterusnya hingga mereka lulus. Jadi, anak-anak di Clairefontaine tetap jadi anggota berbagai klub di Prancis.

Cara Akademi Clairefontaine Mendidik Bakat Muda Mereka

Berbeda dengan negara lain seperti Italia yang punya Catenaccio, Belanda dengan total football, atau Spanyol dengan Tiki-taka, sepak bola Prancis tak punya filososfi khusus. Di Clairefontaine sendiri, mereka menitikbertkan fokusnya untuk mengembangkan kemampuan individu tiap pemainnya.

Semua kelompok usia dilatih secara intens dan terstruktur. Mereka dididik dan bermain dengan formasi dasar 4-3-3. Formasi tersebut dipilih karena dinilai fleksibel dan dapat menciptakan banyak ruang yang bisa dieksploitasi.

Alasan lainnya, metode pelatihan di Clairefontaine tak berfokus pada taktik semata, tetapi pada pengembangan tiap individu yang dilatih secara berjenjang. Jean-Claude Lefargue, direktur dan pelatih di akademi Clairefontaine pernah mengungkap hal tersebut saat diwawancarai The Telegraph pada 2018 lalu. Tujuan dari diterapkannya filosofi itu adalah untuk menghasilkan pemain yang cerdas secara taktis, mahir secara teknis, dapat ditempa di manapun, dan mampu memainkan berbagai peran yang ditugaskan.

“Saya menggunakan contoh seorang aktor. Seorang aktor harus memainkan peran sebaik mungkin, tetapi hanya berdasarkan peran yang dimilikinya. Jika itu peran yang menyedihkan, dia harus sedih. Dalam sebuah pertandingan, sama saja. Jika Anda memiliki aktor yang sangat bagus, Anda tidak bisa hanya memberinya peran kecil. Kamu harus membuatnya lebih dari itu,” kata Jean-Claude Lefargue dikutip dari markingthespot.com (15/3/2020).

Selain menjalani berbagai program latihan, setiap anak yang berlatih di Clairefontaine juga wajib menjalani serangkaian tes atau ujian secara teratur. Tes tersebut meliputi tes fisik, medis, dan tes psikologi.

Tes psikologinya berupa tes kepribadian. Pemain akan dihadapkan dengan berbagai masalah pribadi dan situasi yang masih berhubungan dengan sepak bola. Lalu, mereka diminta untuk memecahkan masalah tersebut. Tujuannya adalah untuk membentuk individu yang kuat secara mental.

Sementara itu, tes medis yang dijalani bertujuan untuk membangun tubuh dan pikiran pemain. Utamanya dalam hal membantu pemain mengatasi masalah cedera dan rasa sakit saat proses pemulihan cedera di masa depan.

Tes fisik yang dijalani pemain akademi Clairefontaine juga bukan sekadar tes biasa. Salah satu tes yang mereka jalani adalah Swedish Beep Tests (VO2 Max). Tes ini bertujuan untuk mengukur kemampuan maksimal pemain dalam mengkonsumsi oksigen saat menjalani ativitas intens. Dengan didukung metode dan teknologi canggih, hasil berbagai tes tersebut akan terus dianalisis dan dibandingkan perkembangannya.

Para pelatih di Clairefontaine juga punya cara khusus dalam mendidik pemainnya. Hal-hal seperti kritikan, marah, dan kontak fisik yang berlebihan sangat dihindari. Para pelatih juga fokus memberi saran memberi latihan khusus dengan mempertimbangkan usia dan kemampuan si pemain. Boubacar Fofana, lulusan akademi Clairefontaine angkatan 98 pernah mengungkap hal tersebut.

“Di sini, pelatih kami melindungi kami, mereka memperhatikan kemajuan kami. Saat berada di pusat pelatihan, apakah Anda bagus dan Anda bermain, atau Anda tidak bagus dan Anda tidak bermain,” ujar Boubacar Fofana, lulusan Clairefontaine angkatan 98 dikutip dari lemonde.fr (2/5/2013).

Dengan kurikulum tersebut, akademi Clairefontaine sudah berhasil menelurkan banyak pemain berbakat, khususnya untuk timnas Prancis. Beberapa lulusan ternama dari akademi Clairefontaine antara lain, Thiery Henry, Nicolas Anelka, William Gallas, Louis Saha, Hatem Ben Arfa, dan di Piala Dunia 2018 kemarin ada Blaise Matuidi, Alphonse Areola, dan Kylian Mbappe yang merupakan lulusan Clairefontaine.

Hasil Didikan Clairefontaine Untuk Timnas Prancis

Kesuksesan Clairefontaine sejak awal didirikan membuat federasi sepak bola Prancis ketagihan. Mereka akhirnya membangun akademi serupa di berbagai wilayah di Prancis. Kini, Clairefontaine hanyalah 1 dari 13 akademi elit yang dikelola langsung oleh federasi sepak bola Prancis.

Meski punya berbagai fasilitas yang tersebar di wilayah Prancis, timnas Prancis berbagai kelompok umur tetap menggunakan Clairefontaine sebagai kamp latihan mereka. Salah satu kesuksesan besar mereka berkat fasilitas Clairefontaine adalah saat menjuarai Piala Dunia 1998.

Pada saat itu, timnas Prancis menggunakan Clairefontaine sebagai markasnya. Dengan dukungan fasilitas yang komplit dan jauh dari sorotan penggemar dan media, timnas Prancis sangat fokus membentuk tim di sana.

Sejak Clairefontaine dibangun hingga saat ini, Prancis secara berturut-turut telat memenangi Piala Dunia 1998, Euro 2000, Piala Konfederasi 2001 dan 2003, serta Piala Dunia 2018. Di samping itu, Les Blues juga jadi runner-up Piala Dunia 2006 dan Euro 2016.

Keberhasilan timnas Prancis jelas tak bisa dilepaskan dari jasa Clairefontaine. Kisah sukses Prancis sejak memiliki akademi dan pusat latihan Clairefontaine akhirnya membuat negara tersebut menjadi sorotan dunia dan akhirnya mentasbihkan Prancis sebagai salah satu kekuatan besar di sepak bola dunia.

Selain itu, keberhasilan Clairefontaine yang juga jadi pusat latihan tim nasional menginspirasi negara lain untuk membuat kawasan serupa. Inggris salah satunya. Pada 2012 lalu, FA meresmikan St. George’s Park National Football Centre yang jadi kamp latihan timnas Inggris berbagai kelompok usia. Ide dan sebagian besar modelnya terinspirasi langsung oleh Clairefontaine.

Wajar bila banyak yang meniru Clairefontaine. Sebab, dikutip dari markingthepost.com, La Masia saja pernah berkunjung untuk belajar di sana. Kini, akademi Clairefontaine masih terus beroperasi dan fasiltas penunjangnya juga terus direnovasi menyesuaikan dengan perkembangan zaman.

Dengan terus berlanjutnya program Clairefontaine yang juga dikembangkan secara merata di berbagai wilayah, tim nasional Prancis jelas tak akan kekurangan bakat-bakat hebat. Jika Clairefontaine mampu untuk terus memproduksi aktor hebat di lapangan hijau, bisa-bisa Prancis akan terus diisi generasi emasnya. Dengan begitu, timnas Prancis dapat terus mempertahankan prestasinya di kancah dunia.

 

Sumber Referensi: These Football Times, Marking The Post, Tifo Football, Lemonde