Mengenal Clairefontaine, Akademi Pencetak Bibit Unggul & Pusat Latihan Timnas Prancis

  • Whatsapp
Mengenal Clairefontaine, Akademi Pencetak Bibit Unggul & Pusat Latihan Timnas Prancis
Mengenal Clairefontaine, Akademi Pencetak Bibit Unggul & Pusat Latihan Timnas Prancis

Clairefontaine. Namanya masih cukup asing di telinga pecinta sepak bola. Namun, Clairefontaine yang merupakan akademi dan pusat latihan timnas Prancis adalah bagian penting dari kesuksesan Prancis dalam 3 dekade terakhir.

Tiga tahun yang lalu, tim yang berjuluk Les Blues itu jadi jawara Piala Dunia 2018 dengan cara meyakinkan. Mengalahkan Kroasia 4-2 di final, Prancis mendapat trofi Piala Dunia keduanya setelah 1998. Namun, kesuksesan negara yang terkenal dengan Menara Eifelnya itu tidaklah instan. Ada proses panjang untuk meraihnya. Bahkan, Prancis pernah mengalami periode kering prestasi.

Bacaan Lainnya

Dulu, Prancis bukanlah negara kuat yang cukup diperhitungkan di turnamen internasional. Setelah menjadi juara 3 Piala Dunia 1958, Les Blues butuh waktu nyaris 3 dekade untuk meraih prestasi lagi. Itupun berkat kegemilangan Michel Platini di Euro 1984.

Dibanding tetangganya seperti Jerman, Inggris, Spanyol, bahkan Belanda, Prancis tergolong tertinggal. Demi mengejar ketertinggalannya itu, federasi sepak bola Prancis (FFF) punya proyek besar. Yaitu membangun fasilitas akademi dan pusat latihan timnas Prancis.

Sejarah Terbentuknya Akademi Clairefontaine

Proyek tersebut diinisiasi oleh presiden federasi sepak bola Prancis, Fernand Sastre dan mantan pelatih timnas Prancis asal Rumania, Stefan Kovacs pada 1976. Setelah melalui diskusi dan perencanaan yang matang, pada 1985 dimulailah pembangunan Institut national du football de Clairefontaine (Clairefontaine).

Sebuah proyek yang tak main-main. Pasalnya, Clairefontaine dibangun di tengah hutan Rambouillet. Berlokasi 50 km dari barat daya kota Paris, Clairefontaine dibangun di area seluas 56 hektar. Proses pembangunannya sendiri memakan waktu selama 3 tahun.

Sejak dibuka pada Januari 1988, Clairefontaine langsung jadi pusat pengembangan pemain terbaik Prancis. Di area yang juga jadi pusat latihan tim nasional Prancis berbagai usia itu dibangun berbagai fasilitas penunjung, seperti 7 lapangan rumput, 3 lapangan sintetis, gym, kafetaria, hotel bintang lima, perpustakaan, lapangan tenis, auditorium, kolam renang, bahkan bioskop.

Akademi Clairefontaine sendiri diperuntukkan bagi anak laki-laki berusia 13-15 tahun. Syaratnya, memiliki kewarganegaraan Prancis dan tinggal di sekitaran wilayah Ile-de-France atau sekitaran kota Paris. Setiap musimnya hanya dipilih 23 anak yang akan dididik di akademi Clairefontaine.

Kurikulum akademi ini cukup unik. Mereka akan berlatih di Clairefontaine dari hari Minggu hingga Jumat. Mereka disediakan asrama di sana. Lalu, di tiap akhir pekannya, anak-anak Clairefontaine akan kembali bertanding untuk klubnya masing-masing. Begitu seterusnya hingga mereka lulus. Jadi, anak-anak di Clairefontaine tetap jadi anggota berbagai klub di Prancis.

Cara Akademi Clairefontaine Mendidik Bakat Muda Mereka

Berbeda dengan negara lain seperti Italia yang punya Catenaccio, Belanda dengan total football, atau Spanyol dengan Tiki-taka, sepak bola Prancis tak punya filososfi khusus. Di Clairefontaine sendiri, mereka menitikbertkan fokusnya untuk mengembangkan kemampuan individu tiap pemainnya.

Semua kelompok usia dilatih secara intens dan terstruktur. Mereka dididik dan bermain dengan formasi dasar 4-3-3. Formasi tersebut dipilih karena dinilai fleksibel dan dapat menciptakan banyak ruang yang bisa dieksploitasi.

Alasan lainnya, metode pelatihan di Clairefontaine tak berfokus pada taktik semata, tetapi pada pengembangan tiap individu yang dilatih secara berjenjang. Jean-Claude Lefargue, direktur dan pelatih di akademi Clairefontaine pernah mengungkap hal tersebut saat diwawancarai The Telegraph pada 2018 lalu. Tujuan dari diterapkannya filosofi itu adalah untuk menghasilkan pemain yang cerdas secara taktis, mahir secara teknis, dapat ditempa di manapun, dan mampu memainkan berbagai peran yang ditugaskan.

“Saya menggunakan contoh seorang aktor. Seorang aktor harus memainkan peran sebaik mungkin, tetapi hanya berdasarkan peran yang dimilikinya. Jika itu peran yang menyedihkan, dia harus sedih. Dalam sebuah pertandingan, sama saja. Jika Anda memiliki aktor yang sangat bagus, Anda tidak bisa hanya memberinya peran kecil. Kamu harus membuatnya lebih dari itu,” kata Jean-Claude Lefargue dikutip dari markingthespot.com (15/3/2020).

Selain menjalani berbagai program latihan, setiap anak yang berlatih di Clairefontaine juga wajib menjalani serangkaian tes atau ujian secara teratur. Tes tersebut meliputi tes fisik, medis, dan tes psikologi.

Tes psikologinya berupa tes kepribadian. Pemain akan dihadapkan dengan berbagai masalah pribadi dan situasi yang masih berhubungan dengan sepak bola. Lalu, mereka diminta untuk memecahkan masalah tersebut. Tujuannya adalah untuk membentuk individu yang kuat secara mental.

Sementara itu, tes medis yang dijalani bertujuan untuk membangun tubuh dan pikiran pemain. Utamanya dalam hal membantu pemain mengatasi masalah cedera dan rasa sakit saat proses pemulihan cedera di masa depan.

Tes fisik yang dijalani pemain akademi Clairefontaine juga bukan sekadar tes biasa. Salah satu tes yang mereka jalani adalah Swedish Beep Tests (VO2 Max). Tes ini bertujuan untuk mengukur kemampuan maksimal pemain dalam mengkonsumsi oksigen saat menjalani ativitas intens. Dengan didukung metode dan teknologi canggih, hasil berbagai tes tersebut akan terus dianalisis dan dibandingkan perkembangannya.

Para pelatih di Clairefontaine juga punya cara khusus dalam mendidik pemainnya. Hal-hal seperti kritikan, marah, dan kontak fisik yang berlebihan sangat dihindari. Para pelatih juga fokus memberi saran memberi latihan khusus dengan mempertimbangkan usia dan kemampuan si pemain. Boubacar Fofana, lulusan akademi Clairefontaine angkatan 98 pernah mengungkap hal tersebut.

“Di sini, pelatih kami melindungi kami, mereka memperhatikan kemajuan kami. Saat berada di pusat pelatihan, apakah Anda bagus dan Anda bermain, atau Anda tidak bagus dan Anda tidak bermain,” ujar Boubacar Fofana, lulusan Clairefontaine angkatan 98 dikutip dari lemonde.fr (2/5/2013).

Dengan kurikulum tersebut, akademi Clairefontaine sudah berhasil menelurkan banyak pemain berbakat, khususnya untuk timnas Prancis. Beberapa lulusan ternama dari akademi Clairefontaine antara lain, Thiery Henry, Nicolas Anelka, William Gallas, Louis Saha, Hatem Ben Arfa, dan di Piala Dunia 2018 kemarin ada Blaise Matuidi, Alphonse Areola, dan Kylian Mbappe yang merupakan lulusan Clairefontaine.

Hasil Didikan Clairefontaine Untuk Timnas Prancis

Kesuksesan Clairefontaine sejak awal didirikan membuat federasi sepak bola Prancis ketagihan. Mereka akhirnya membangun akademi serupa di berbagai wilayah di Prancis. Kini, Clairefontaine hanyalah 1 dari 13 akademi elit yang dikelola langsung oleh federasi sepak bola Prancis.

Meski punya berbagai fasilitas yang tersebar di wilayah Prancis, timnas Prancis berbagai kelompok umur tetap menggunakan Clairefontaine sebagai kamp latihan mereka. Salah satu kesuksesan besar mereka berkat fasilitas Clairefontaine adalah saat menjuarai Piala Dunia 1998.

Pada saat itu, timnas Prancis menggunakan Clairefontaine sebagai markasnya. Dengan dukungan fasilitas yang komplit dan jauh dari sorotan penggemar dan media, timnas Prancis sangat fokus membentuk tim di sana.

Sejak Clairefontaine dibangun hingga saat ini, Prancis secara berturut-turut telat memenangi Piala Dunia 1998, Euro 2000, Piala Konfederasi 2001 dan 2003, serta Piala Dunia 2018. Di samping itu, Les Blues juga jadi runner-up Piala Dunia 2006 dan Euro 2016.

Keberhasilan timnas Prancis jelas tak bisa dilepaskan dari jasa Clairefontaine. Kisah sukses Prancis sejak memiliki akademi dan pusat latihan Clairefontaine akhirnya membuat negara tersebut menjadi sorotan dunia dan akhirnya mentasbihkan Prancis sebagai salah satu kekuatan besar di sepak bola dunia.

Selain itu, keberhasilan Clairefontaine yang juga jadi pusat latihan tim nasional menginspirasi negara lain untuk membuat kawasan serupa. Inggris salah satunya. Pada 2012 lalu, FA meresmikan St. George’s Park National Football Centre yang jadi kamp latihan timnas Inggris berbagai kelompok usia. Ide dan sebagian besar modelnya terinspirasi langsung oleh Clairefontaine.

Wajar bila banyak yang meniru Clairefontaine. Sebab, dikutip dari markingthepost.com, La Masia saja pernah berkunjung untuk belajar di sana. Kini, akademi Clairefontaine masih terus beroperasi dan fasiltas penunjangnya juga terus direnovasi menyesuaikan dengan perkembangan zaman.

Dengan terus berlanjutnya program Clairefontaine yang juga dikembangkan secara merata di berbagai wilayah, tim nasional Prancis jelas tak akan kekurangan bakat-bakat hebat. Jika Clairefontaine mampu untuk terus memproduksi aktor hebat di lapangan hijau, bisa-bisa Prancis akan terus diisi generasi emasnya. Dengan begitu, timnas Prancis dapat terus mempertahankan prestasinya di kancah dunia.

 

Sumber Referensi: These Football Times, Marking The Post, Tifo Football, Lemonde

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *