Belanda & Julukan ‘Raja Tanpa Mahkota’ Yang Menyemat Pada Diri Mereka

spot_img

Belanda merupakan salah satu negara terindah di dunia. Negara yang dijuluki sebagai negeri kincir angin itu menyajikan nuansa yang unik dimana perpaduan keindahan, kenyamanan, dan kemajuan menyatu menjadi sebuah oase yang menakjubkan.

Namun, bukan cuma soal lingkungan, keindahan Belanda juga terpatri dalam ranah sepakbola. Belanda dikenal mempunyai permainan aduhai nan berkelas di atas lapangan. Total Football menggambarkan bagaimana orang-orang Belanda memainkan si kulit bundar dengan begitu menawan.

Negeri berpenduduk 17 juta jiwa itu mempunyai sejarah panjang dalam sepak bola. Tersebarnya pemain asal negeri Tulip yang bermain di klub besar dunia membuktikan potensi tim berjuluk De Oranje tersebut.

Sisi lain kehebatan Belanda adalah bahwa mereka jarang absen di berbagai kejuaraan sepakbola level tertinggi seperti Piala Dunia dan Piala Eropa. Meski pada dua turnamen besar terakhir (piala eropa 2016 dan piala dunia 2018), mereka tidak ikut serta.

Walau terbilang tim kuat, ada satu yang membedakan Belanda dengan negara besar Eropa lainnya, yakni gelar juara dunia. Ya, meski berhasil tiga kali mencapai final, kegagalan demi kegagalan tampaknya tak mau lepas dari skuat Belanda.

Belanda merasakan kenangan pahit di partai final saat tampil di piala dunia tahun 1974, 1978 dan terakhir 2010.

Sebelum tahun 1974, Belanda tidak pernah lolos ke turnamen internasional apapun. Sempat bersaing di Piala Dunia 1934 dan 1938 di Italia dan Prancis, tetapi kemudian gagal lolos ke putaran final hingga piala dunia 1974.

Pada dekade 1970-an, Belanda menghasilkan generasi pemain yang luar biasa, seperti Johan Cruyff, Johnny Rep, Johan Neeskens, Arie Haan dan Rob Rensenbrink.

Dengan gaya terkenal yang berkembang di Ajax pada akhir 1960-an di bawah pelatih legendaris Rinus Michels dan pasukan yang dipimpin oleh ikon Johan Cruyff, Belanda mengembangkan filosofi yang mengajarkan dunia cara bermain yang baru.

Para pemain dan pelatih yang menginspirasi selama beberapa generasi, pengaruhnya telah terbukti dalam beberapa tim asing hebat yang telah muncul sejak itu.

Sisi Ajax, Feyenoord dan PSV yang memenangkan Piala Champions, Piala UEFA, dan Kejuaraan Dunia Klub pada 1970-an mendorong Timnas Belanda dari renungan di panggung dunia ke kekuatan yang dominan.

Di masa jayanya, Belanda sempat menggegerkan jagat sepakbola dengan gaya total football yang diusung Rinus Michels. Gaya sepak bola yang mengharuskan seluruh pemainnya bisa menyerang dan bertahan sama baiknya ini mampu diaplikasikan oleh Johan Cruyff dan kawan-kawan.

Hasilnya, mereka mampu menembus final Piala Dunia dua edisi berturut-turut. Yakni pada tahun 1974 di Jerman Barat dan 1978 di Argentina. Sayang pada dua laga final tersebut, Belanda harus puas menjadi Runner Up.

Meski gagal jadi sang jawara sesungguhnya, permainan Belanda kala itu mampu membius penikmat sepak bola. Permainan agresif dan atraktifnya benar-benar mengerikan tim-tim lawan di jagat raya. Wajar, pada akhirnya tim ini dijuluki ‘raja tanpa mahkota’.

Di putaran final Piala Dunia 1974, sinar Belanda begitu menyala. Tangan dingin sang pelatih bernama Rinus Michels membuat tim ini begitu disegani. Di turnamen ini pulalah lahir maestro ulung bernama Johan Cruyff.

Di babak penyisihan grup pertama, Belanda tergabung bersama juara dunia dua kali Uruguay, Swedia, dan Bulgaria. Pada fase ini, Belanda mencetak dua kali kemenangan dan sekali seri. Mereka sukses menghajar Uruguay dengan skor 2-0 dan Bulgaria dengan skor 4-1, serta bermain seri 0-0 kontra Swedia.

Di fase penyisihan grup kedua, Belanda makin menggila dengan mencetak tiga kemenangan, membukukan 8 gol tanpa kebobolan satupun. Tim-tim sekaliber Argentina dan Brasil mereka gilas dengan skor masing-masing 4-0 dan 2-0. Tim lain yang mereka hajar adalah Jerman Timur.

Kegemilangan inilah yang mengantar De Oranje menuju ke final bertemu dengan sang tuan rumah, Jerman Barat.

Laga puncak berlangsung di stadion olimpiade Munich pada 7 Juli 1974. Sejak awal, stadion sudah dipadati tujuh puluh ribu lebih penonton. Duel ini juga sekaligus mempertemukan dua legenda sepak bola dunia, Franz Beckenbauer vs Johan Cruyff.

Saat pertandingan dimulai, Cruyff sudah memberikan ancaman dengan solo run, yang memaksa Uli Hoeness menjatuhkannya di kotak penalti Jerman. Hadiah penalti pun diberikan dan Johan Neeskens menjalankan tugasnya dengan baik.

Dua puluh menit setelahnya Belanda masih menguasai permainan. Tapi Jerman menemukan jalan untuk melawan. Bernd Holzenbein dilanggar di kotak penalti Belanda. Paul Breitner mendapat tugas sebagai eksekutor penalti di menit ke-25.

Bek sayap kiri Jerman Barat tersebut berhasil menaklukkan Jan Jongbloed, penjaga gawang Belanda bernomor punggung 8. Skor antara Belanda dan Jerman Barat pun kembali sama kuat.

Di menit ke-43, satu gol kembali tercipta. Kali ini lewat penyerang tengah Jerman, Gerd Muller. Gol itu sekaligus menjadi yang ke-14 sepanjang keikutsertaan Mueller di turnamen empat tahunan tersebut.

Di babak kedua, gemuruh angin puting beliung total football Belanda menyerbu gawang Jerman Barat. Namun Sepp Maier, kiper Jerman Barat, berdiri kokoh bagaikan tembok baja menahan gempuran Belanda.

Alhasil, Belanda pulang dengan tangan hampa, hanya meninggalkan nama harum sebagai tim yang bermain paling menawan. Jerman Barat pun resmi menjadi juara dunia untuk kali kedua.

Empat tahun kemudian, pada Piala Dunia 1978 yang diselenggarakan di Argentina, Belanda kembali menembus final. Semangat total football yang mereka tunjukkan masih tetap impresif, walau tanpa sang maestro Johan Cruyff.

Namun kembali mereka harus gigit jari di final dan lagi-lagi perenggut ambisi mereka adalah sang tuan rumah.

Partai puncak yang digelar di Estadio Monumental, Buenos Aires pada 25 Juni 1978 berlangsung ketat. Argentina memimpin lebih dulu di menit 37 lewat aksi Mario Kempes sebelum akhirnya disamakan oleh Nanninga di menit 82.

Dengan skor imbang 1-1, laga berlanjut ke babak tambahan waktu. Satu menit jelang berakhirnya 15 pertama, mimpi buruk Belanda terjadi. Mario Kempes menjebol gawang Jan Jongbloed untuk kali kedua di menit 104.

Dan di menit 115, Daniel Bertoni memastikan kemenangan La Albiceleste 3-1. Argentina pun juara untuk kali pertama dan Belanda harus kembali mengubur mimpi meraih gelar.

Sejak kekalahan pada final Piala Dunia 1978, Timnas Belanda terus memperlihatkan permainan indah dan enak ditonton sampai pada akhirnya pada tahun 1988, mereka berhasil menjadi juara piala eropa usai di final mengalahkan tim favorit, Uni Soviet.

Seiring berjalannya waktu, timnas Belanda mencoba mencari peruntungan demi peruntungan di turnamen besar. Hingga pada sepuluh tahun lalu, di benua Afrika, Belanda mencoba menghapus kutukan tak pernah menang di final piala dunia.

De Oranje yang diasuh Bert Van Marwijk harus berhadapan dengan tim terkuat saat itu, Spanyol di laga puncak Piala Dunia 2010. Sayang, gol tunggal Andres Iniesta di menit 116 kembali membuat Belanda meratapi kegagalannya menjadi jawara dunia.

Usai gagal di Piala Dunia Afrika Selatan, sebenarnya pada edisi 2014 yang di gelar di Brasil, Belanda menunjukan permainan menjanjikan. Tim yang dikomandoi Robin Van Persie ini melaju jauh hingga semifinal.

Sayang di fase ini mereka kembali harus takluk dari Argentina yang dimotori Lionel Messi dan akhirnya hanya mampu menjadi juara tiga, setelah mengalahkan tuan rumah 3-0 tanpa balas.

Belanda memang raja sepakbola, raja yang mampu mempesona dengan sepakbola indah dan menyerang. Tapi raja itu tidak memiliki mahkota, karena satu gelar Juara Eropa tidak cukup sah untuk membuat mereka dinobatkan sebagai raja, sebelum mampu meraih Piala Dunia.

Pada akhirnya semua kegagalan Timnas Belanda di ajang piala dunia hanya patut kita kenang. Sebuah memori yang terekam dan akan selalu menghiasi buku sejarah sepakbola dunia.

[embedyt] https://www.youtube.com/watch?v=oR5-dPH-ER8[/embedyt]

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru