Biasanya, kita akan lebih sering membicarakan tiga penyerang terbaik yang dimiliki sebuah tim. Sebut saja trio Liverpool yang diisi nama Mo Salah, Roberto Firmino, dan Sadio Mane. Atau trio Barcelona yang dulu pernah diisi oleh nama Neymar Jr, Luis Suarez, dan Lionel Messi.
Para pemain-pemain depan itu memang mematikan. Tapi bisakah kita sedikit bercengkerama dan membicarakan tentang duet bek-bek terbaik yang pernah ada? Bukan hanya duet antara dua bek, namun empat bek sekaligus.
Pada bahasan kali ini, starting eleven akan memberikan sajian tentang kuartet lini pertahanan terbaik sepanjang masa.
Daftar Isi
Kennedy, Hansen, Lawrenson & Neal
Bek-bek terhebat yang muncul pada baris pertama dalam daftar ini adalah pemain hebat Liverpool yang hadir dari pertengahan 1980-an. Hansen adalah pemain paling populer dari kelompok tersebut. Pemain tengah kelas dunia ini memiliki pemahaman yang begitu brilian tentang sebuah permainan. Hansen berduet dengan bek super tangguh bernama Lawrenson. Lalu ada Kennedy yang menjadi palang pintu terbaik di sisi kiri.
Sementara Neal merupakan bek kanan yang tak kenal lelah dan sangatlah cerdas. Selama empat tahun bersama, kuartet terbaik yang pernah dimiliki Liverpool ini sukses memenangkan 3 gelar Divisi Pertama, 3 Piala Liga, Piala Eropa, dan Charity Shield.
Liverpool Reserves – 1980-81 Season pic by harry ormesher pic.twitter.com/fOuYKD0474
— Angies Liverpool was 😇🍰 (@angiesliverpool) April 27, 2021
De Boer, Blind, Rijkaard & Reiziger
Jauh dari anggapan empat bek terbaik, orang-orang lebih mengenal susunan tiga bek terbaik asal Belanda yang diisi nama-nama seperti De Boer, Blind dan Reiziger. Sementara Rijkaard terkadang beroperasi dalam peran yang sedikit lebih maju. Namun dalam perannya, ia juga tak jarang membantu pertahanan tim hingga membuat pemain yang sudah ada terlihat lebih tangguh dan kokoh.
Semua pemain internasional Belanda yang memenangkan masing-masing 42, 72, 73, dan 112 pertandingan untuk de Orannje ini memiliki kemampuan individu yang sangat baik. Frank Rijkaard, meski saat itu telah berada di ambang pensiun, tetap menjadi pemain yang menonjol. Bersama dengan Frank De Boer, ia menjadi pemain bertahan yang memiliki kemampuan teknis luar biasa.
Sementara Reiziger memiliki kecepatan yang amat mengagumkan, meskipun secara defensif ia tidak terlalu mahir. Kuartet ini benar-benar menghabiskan satu musim bersama, dan sukes memenangkan Eredivisie, Liga Champions, dan Johan Cruyff Shield.
🇳🇱🏆 Ajax’s 1995 Champions League winners – Litmanen, Seedorf, Davids, Rijkaard, George, Reiziger, Overmars, F de Boer, R de Boer, Van der Sar, Blind – WHAT A TEAM!!!!#ajax #ajaxfc #footballmemories #fcajax #ucl #championsleague #uclwinners #uclhistory #championsleaguehistory pic.twitter.com/mbyq8jXM7l
— Football Memories (@FM_Twittah) June 1, 2018
Maldini, Nesta, Stam & Cafu
Melihat pemain dalam daftar ini, sudah bisa dibayangkan seberapa hebat kekuatan yang mereka miliki. Keempatnya adalah bek kelas dunia, dan untuk mendefinisikan kehebatan mereka, butuh istilah yang tak sembarangan. Maldini, Nesta, dan Cafu, semuanya merupakan pemain yang punya sejarah penjang bersama AC Milan. Sementara Jaap Stam hanya menghabiskan dua musim di San Siro.
Selama itu, mereka berhasil memenangkan Piala Super Italia, dan finish sebagai runner-up di kompetisi Serie A. Mereka nyaris mendapatkan gelar Liga Champions Eropa, namun sayang harus takluk dari Liverpool dalam sebuah pertandingan yang amat dramatis.
Maldini jelas mewakili sosok pemain dengan teknik defensif sempurna. Kalian pun bisa menggunakan deskripsi yang sama untuk menggambarkan kehebatan seorang Alessandro Nesta, yang merupakan salah satu dari pemain belakang yang hebat sepanjang masa. Untuk Stam, ia merupakan seorang raksasa dalam lini pertahanan, yang ukuran tubuh, kecepatan, dan kekuatannya membuat dirinya sangat sulit ditaklukkan.
Sementara Cafu, dia tampak seperti pemain yang memiliki tiga paru-paru. Stamina super dan kecepatan luar biasa menjadi mimpi buruk bagi setiap lawan di sisi lapangan.
In 2005, AC Milan literally had 11 legends in their starting XI. 👌
– Dida
– Cafu
– Stam
– Nesta
– Maldini
– Gattuso
– Pirlo
– Seedorf
– Kaká
– Crespo
– ShevchenkoUnreal team. 🙌 pic.twitter.com/YeSTF1Ty8G
— FutbolBible (@FutbolBible) April 1, 2020
Facchetti, Guarneri, Picchi & Burgnich
Empat bek di lini pertahanan yang membentuk fondasi hebat di Inter Milan ini begitu terkenal pada pertengahan 1960-an. Selama lima tahun, kuartet ini membentuk pertahanan grandel yang amat sulit ditaklukkan. Dimulai dari Facchetti, dirinya bisa dibilang sebagai bek sayap ofensif pertama di Eropa. Dalam hal soliditas, pertahanan mereka bisa disebut sebagai yang terbaik sepanjang masa.
Facchetti merupakan sebuah ancaman nyata bagi siapapun yang gemar menyerang dari sisi kiri. Untuk Guarneri, dia merupakan sosok bek tengah yang begitu solid.
Picchi menjadi bek dengan teknik membaca permainan yang begitu baik. Sementara Burgnich, ia memiliki julukan ‘Batu’. Jadi sudah bisa ditebak seperti apa hebatnya dia di lini pertahanan. Di bawah kepemimpinan Helenio Herrera, empat bek ini berkontribusi dalam 3 gelar Serie A, 2 Piala Eropa, dan 2 Piala Intercontinental, hanya dalam waktu lima tahun.
“Sarti, Burgnich, Facchetti /
Bedin, Guarneri, Picchi /
Jair, Mazzola, Domenghini /
Suárez, Corso.”#WorldPoetryDay 🖤💙 pic.twitter.com/ajU7VCqXTe— Inter (@Inter_en) March 21, 2019
Breitner, Schwarzenbeck, Beckenbauer & Vogts
Berikutnya ada pertahanan Jerman Barat antara tahun 1971 dan 1977, yang terdiri dari Paul Breitner, Hans-Georg Schwarzenbeck, Franz Beckenbauer dan Berti Vogts. Tiga dari empat pemain tersebut, nama Schwarzenbeck menjadi yang paling populer. Dia adalah bek tengah yang sangat ulung dan pandai menyapu bola.
Beckenbauer, juga tak kalah tangguh. Ia begitu populer dan punya kemampuan terbaik sepanjang masa. Ia dikenal sebagai seorang pembaca permainan yang brilian, sangat berani, teknis, dan merupakan sosok penyapu bola yang sangat baik. Sementara Breitner adalah bek kiri yang tak kenal lelah. Untuk Vogts, ia sama konsistennya dengan mereka. Dirinya punya energi tak kalah super dan kecerdasan yang begitu mengagumkan.
Berkat kerjasama yang sangat baik, mereka sukses memenangkan Piala Dunia tahun 1974.
West Germany: Franz Beckenbauer-5, Sepp Maier-1, Georg Schwarzenbeck, Rainer Bonhof, Bernd Hölzenbein, Herbert Wimmer, Gerd Müller , Wolfgang Overath, Dieter Herzog, Paul Breitner and Berti Vogts, WM74 1974.6.26. W.Germany 2-0 Yugoslavia, at Düsseldorf pic.twitter.com/qhCNtDanfc
— tphoto (@tphoto2005) July 30, 2018
Lizarazu, Blanc, Desailly & Thuram
Berikutnya, ada nama-nama yang tak kalah mengagumkan. Empat bek asal Prancis ini telah memenangkan trofi Piala Dunia 1998 dan Euro 2000. Di posisi bek kiri, Lizarazu bisa menjadi pelari yang tak kenal lelah. Kemudian Blanc akan selalu menjadi pemain berbakat yang membawa kombinasi teknik terbaik dalam permainan. Lalu ada Desailly yang terkenal sangat tangguh. Dia tak akan pernah membiarkan pemain lawan memenangkan bola. Dan Thuram, adalah salah satu bek kanan terbaik yang pernah ada dalam sejarah sepak bola.
Ketika keempatnya bermain bersama, Prancis nyaris dipastikan tidak pernah kalah dalam sebuah pertandingan.
… and European Championship winning defence of Blanc, #Desailly, #Thuram and #Lizarazu. Overall, he recorded 97 caps and scored 16 goals. In 1999, the readers of @francefootball magazine voted him the 4th-best French player of all time, behind #Platini, #Zidane and #Kopa. pic.twitter.com/YnS4iPgse7
— Fútbolismo ⚽️🌎🌍🌏⚽️ (@ftblsm) November 19, 2019
Maldini, Baresi, Costacurta & Tassotti
Yang terakhir adalah kumpulan bek-bek terbaik asal Negeri Pizza. Paolo Maldini, seperti yang sudah dijelaskan, merupakan bek terbaik yang pernah ada. Franco Baresi, juga punya reputasi terbaik sebagai seorang bek sekaligus kapten dalam wajah AC Milan. Sementara Costacurta, akan selalu menjadi bek tengah yang tidak kenal kompromi serta punya kecerdasan luar biasa. Yang terakhir, nama Tasotti akan selalu dikenang sebagai bek terbaik yang mengandalkan kecerdasannya.
Mereka total menghabiskan sebelas tahun bersama, dan dalam kurun waktu tersebut, mereka telah membentuk susunan kuartet di lini pertahanan yang amat luar biasa.
Di bawah Arrigo Sacchi, para pemain tersebut menjadi monster di lini belakang. Mereka bermain begitu apik dan sangat efektif. Antara tahun 1988 dan 1995, di bawah Sacchi untuk kemudian dilanjutkan oleh Fabio Capello, Milan sukses memenangkan gelar Piala Eropa sebanyak tiga kali dan kalah di final sebanyak dua kali.
tassotti, costacurta, baresi, maldini
3 were from the primavera and tassotti was signed on a free.
the greatest back four in football history cost nothing, hope this helps https://t.co/OFAKp73yxA pic.twitter.com/ypI5gYhgyA
— christian ✟ (@finallyaquino) May 17, 2020
Selain susunan empat pemain bertahan tersebut, nama-nama seperti Marcelo, Varane, Ramos dan Carvajal, atau Marcelo, Pepe, Ramos dan Carvajal, juga layak mendapat perhatian. Jangan tinggalkan pula susunan pemain belakang seperti Cole, Terry, Carvalho dan Ferreira di Chelsea. Serta Evra, Vidic, Ferdinand dan Neville yang pernah berjaya bersama Manchester United.


