Sudah begitu lama sejak klub Belanda dan Belgia meraih prestasi di kompetisi eropa. Kini, demi dapat kembali bersaing dengan liga top Eropa lainnya, otoritas kedua liga kini tengah menggodok rencana merger Liga Belgia dan Liga Belanda dalam kompetisi BeNeLiga.
Apa itu BeNeLiga? Berikut ulasannya.
Proyek BeNeLiga pertama kali terungkap pada 2019 lalu. Adalah pemilik Club Brugge, Bart Verhaeghe yang mengungkap proyek ambisius itu kepada surat kabar Prancis, Le Monde.
“Kami sedang menyiapkan kompetisi bersama Belanda untuk memperkecil jarak ke lima negara teratas Eropa. Sepak bola Belgia sedang bangkit dan telah memasuki modernitas. Kami dapat memanfaatkan pasar yang terdiri dari 28 juta orang.” kata Bart Verhaeghe dikutip dari footballpink.net (27/8/2020).
Menggabungkan Eredivisie dengan Jupiler Pro League, proyek merger liga top Belanda dan Belgia ini bisa pula disebut sebagai liga super. Pasalnya, dalam perencanaannya, liga gabungan ini akan berisi 18 tim top dari Belgia dan Belanda.
Berdasarkan keterangan Bart Verhaeghe, BeNeLiga nantinya akan diikuti 8 klub perwakilan Belgia dan 10 klub dari Belanda. Mereka akan ditempatkan dalam satu kompetisi yang membuat BeNeLiga bakal menjadi liga lintas batas negara pertama di Eropa.
🚨🚨🚨 BREAKING NEWS
25 Belgian clubs have voted in favour of a merger with the Dutch Eredivisie, with a view to creating a cross-border league named the Beneliga.
👀 This took us by surprise.#football #footballnews #FootballPassion pic.twitter.com/K7sqoKv6VV— My Footy Kit (@MyFootyKit2) March 18, 2021
Pada 16 Maret lalu, lewat pernyataan resminya, majelis umum Liga Pro Belgia dengan suara bulat telah sepakat untuk mendukung BeNeLiga. Dalam keterangannya, keputusan tersebut diambil setelah sebanyak 25 klub papan atas Belgia memberikan suara untuk mendukung BeNeLiga.
“25 klub dengan suara bulat ingin memberikan setiap kesempatan untuk keberhasilan yang mungkin terjadi di BeNeLiga. Manajemen Pro League sekarang akan berperan aktif dalam proyek ini,” tulis Pro League dalam sebuah pernyataan, dikutip dari proleague.be (16/3).
🚨🚨🚨 BREAKING NEWS
25 Belgian clubs have voted in favour of a merger with the Dutch Eredivisie, with a view to creating a cross-border league named the Beneliga.
👀 This took us by surprise.#football #footballnews #FootballPassion pic.twitter.com/K7sqoKv6VV— My Footy Kit (@MyFootyKit2) March 18, 2021
Hingga detik ini, struktur 18 tim yang nantinya ikut BeNeLiga musim pertama belum dapat dipastikan. Namun, menurut laporan SkySports, pihak Liga Belgia telah mengusulkan 7 klub yang terpilih sebagai wakilnya.
Mereka adalah Club Brugge, Anderlecht, Standard Liege, Gent, Genk, Royal Antwerp, dan Charleroi. Sementara itu, klub kedelapan yang mewakili Liga Pro Belgia belum diputuskan. Dari pihak Eredivisie Belanda, Ajax, PSV Eindhoven, Feyenoord dan AZ Alkmaar disebut-sebut bakal bergabung dengan BeNeLiga.
These 8 Belgian teams are currently in consideration for the Beneliga. Do you think the Beneliga should be created and should these 8 teams be chosen? 🤔🇧🇪🇳🇱@KRCGenkofficial @rscanderlecht @Standard_RSCL @SportCharleroi @ESSEVEELIVE #beneliga #jpl #eredivisie #betfirst #betting pic.twitter.com/NlaAGjWpzi
— betFIRST (@betfirst) April 4, 2021
Belum ada tanggal pasti kapan BeNeLiga akan digulirkan. Namun, merujuk pada situasi kedua liga, badan audit internasional, Deloitte memperkirakan bahwa BeNeLiga kemungkinan besar bakal dimulai di musim 2025/2026 mendatang. Hal ini berdasarkan situasi kedua liga yang masih terikat kontrak dengan beberapa sponsor, khususnya kontrak hak siar TV.
Akan tetapi, berbeda dengan Liga Pro Belgia yang sudah menyatakan dukungannya, pihak Eredivisie Belanda belum memberikan sikap resminya. Justru, belakangan ini muncul keraguan dari pihak Belanda.
Masih banyak klub-klub Belanda yang belum mengambil sikap terkait rencana BeNeLiga, khususnya klub-klub kecil dari Eredivisie. Belum pastinya proyek merger ini membuat beberapa direktur klub masih skeptis tentang peluang keberhasilan BeNeLiga di masa depan.
Tak hanya itu, meski dipandang akan saling menguntungkan secara finansial, tetapi BeNeLiga masih menimbulkan banyak pertentangan, khususnya dari kalangan suporter. Jajak pendapat yang dilakukan oleh Statista menunjukkan adanya perpecahan suara. Sebanyak 47% penggemar menyatakan mendukung, sementara 46% lainnya memilih menentang proyek BeNeLiga, dan 7% sisanya memilih netral.
Beberapa kelompok pendukung Belanda dan Belgia menyatakan keprihatinannya, khususnya mereka yang berasal dari Liga Belanda. Kelompok Suporter Kolektif Belanda adalah salah satu pihak yang menentang proyek BeNeLiga. Melalu pernyataan presidennya, Matthijs Keuning menilai akan sulit untuk membuat semua klub di Belanda setuju dengan proyek ini.
“Kami tidak antusias tentang itu. Budaya sepakbola unik kami akan hilang dengan merger semacam ini. Eredivisie adalah kejuaraan yang memiliki sepak bola yang menarik dan pemain yang bagus. Kami tidak begitu mengerti bagaimana mereka bisa menghilangkan citra itu dengan bergabung dengan Belgia, yang kompetisinya berbeda citra karena korupsi dan hal-hal gila lainnya.” kata Matthijs Keuning, presiden Supporterscollectief Nederland dikutip dari footballpink.net (27/8/2020).
Senada dengan pernyataan tersebut, presiden suporter Belgia, Eddy Janssis juga masih ragu dengan proyek BeNeLiga. Meski 25 klub Belgia telah menyatakan dukungannnya, namun kenyataannya kelompok suporter Belgia masih ragu bila harus away ke Belanda.
“Apakah mereka sudah memperhitungkan konsekuensi besar dalam hal keamanan? Bagaimana pengalaman penggemar akan berubah? Kriteria apa yang akan digunakan untuk menentukan siapa yang akan ambil bagian? Bagaimana Anda mengelola tiket Eropa? Banyak pertanyaan, sangat sedikit jawaban.” kata Eddy Janssis, presiden suporter Belgia dikutip dari footballpink.net (27/8/2020).
Sekilas, proyek merger Liga Belanda dan Belgia ini cukup mirip dengan rencana European Super League yang telah batal beberapa waktu lalu. Keduanya adalah liga super yang mempertemukan klub-klub besar dan kuat. Namun, ada perbedaan besar antara BeNeLiga dan European Super League.
Jika ESL digelar secara tertutup dengan 15 anggotanya yang kebal degradasi, BeNeLiga tidak menerapkan sistem semacam itu. 18 tim yang akan mengisi slot di BeNeLiga nantinya diperhitungkan berdasarkan capaian dan performa tim di musim-musim sebelumnya.
Tak hanya itu, BeNeLiga juga direncanakan bakal menerapkan sistem promosi dan degradasi. Dengan begitu, BeNeLiga tak hanya jadi liga super bagi klub papan atas saja, nantinya akan dibuat juga divisi dua dan divisi di bawahnya untuk mengakomodir seluruh klub di Belanda dan Belgia. Bahkan, rencanaya kompetisi domestik seperti Belgian Cup dan KNVB Cup tetap akan digelar tanpa terganggu dengan BeNeLiga.
Lalu, apa tujuan sebenarnya dari dibentuknya BeNeLiga yang banyak menimbulkan pro dan kontra ini?
Salah satu tujuan terbesar dari proyek BeNeLiga tak lain tak bukan adalah demi meningkatkan level kompetisi di Belanda dan Belgia. Seperti yang kita ketahui, kompetisi sepak bola di Belanda dan Belgia hanya dikuasai oleh segelintir klub top saja.
Di Belanda saja, dalam kurun waktu 30 tahun terakhir, trofi Eredivisie hampir pasti selalu diperebutkan oleh tim-tim “the big three”, yakni Ajax Amsterdam, PSV Eindhoven, dan Feyenoord Rotterdam.
Hanya AZ Alkmaar dan FC Twente yang pernah mengusik persaingan the big three dan merasakan juara. Itupun hanya terjadi di 2 musim saja, tepatnya di musim 2008/2009 dan 2009/2010. Sebelum dan setelah itu, trofi Eredivisie tak pernah jauh dari ‘the big three’.
Sementara itu, persaingan juara di Liga Pro Belgia dikuasai oleh dua klub terbesar Belgia, Anderlecht dan Club Brugge. Memang, Standard Liège pernah merasak juara di tahun 2008 dan belakangn Genk dan Gent juga ikut meramaikan persaingan. Namun, trofi liga masih begitu dikuasai oleh Anderlecht dengan 34 gelar dan Club Brugge dengan 16 gelar.
Dengan adanya BeNeLiga, klub-klub besar nan kaya seperti Ajax ataupun Anderlecht tak lagi jadi penguasa tunggal di liga. Mempertemukan klub-klub kuat dari dua negara bertetangga itu dapat menciptakan persaingan yang makin kompetitif di level domestik.
Kompetisi yang makin kompetitif akan berimbas pada kualitas klub-klub Belanda dan Belgia di Eropa. Pasalnya, meski tak pernah kekurangan bakat-bakat hebat, klub-klub Belada dan Belgia sering kali hanya jadi batu loncatan untuk hijrah ke liga-liga top Eropa.
Dampak positif lainnya, BeNeLiga dapat mendatangkan untung yang lebih besar kepada klub-klub pesertanya. Hasil studi dari Deloitte memperkirakan bahwa BeNeLiga dapat menghasilkan hingga 400 juta euro setiap tahunnya hanya dari kesepakatan hak siar saja. Angka tersebut jauh dengan pendapatan hak siar Liga Pro Belgia yang hanya 103 juta euro per musim atau Eredivisie yang cuma menghasilkan 80 juta euro per musim.
Selain alasan finansial, tujuan lain dari proyek BeNeLiga adalah demi menyaingi liga top Eropa dan memperkecil ketimpangan dengan mereka. Seperti yang kita ketahui, klub dari lima liga top Eropa sangat menguasai kompetisi Eropa, khususnya Liga Champions.
Sejak Porto juara Liga Champions 2004, setiap finalis Liga Champions berikutnya selalu berasal dari 5 liga top Eropa. Bahkan, hanya Porto saja yang berhasil melewati babak penyisihan grup di Liga Champions musim ini. Jumlah klub dari liga-liga kecil yang mampu melaju ke tahap akhir Liga Champions perlahan-lahan menurun setiap tahunnya.
Selain akan berimbas positif ke klub, BeNeLiga secara langsung juga akan berdampak positif ke timnas masing-masing negara. Meski berpotensi mencoreng tradisi dan rivalitas klub-klub lokal, serta masih banyaknya supoter yang kontra, kenyataannya BeNeLiga juga mendapat dukungan dari banyak pihak, termasuk para legenda.
Mantan kapten timnas Belgia, Vincent Kompany adalah salah satu orang yang pro dengan BeNeLiga. Kompany yang kini menjabat sebagai pelatih Anderlecht itu jadi pendukung vokal proyek merger tersebut. Selain Kompany, legenda timnas Belanda, Marco van Basten juga pro terhadap BeNeLiga.
“For me, top football means pursuing high[er] goals and achievements. If you want to keep high level football in countries such as Belgium and the Netherlands, then promoting and encouraging BeNeLiga is a must.”
[Marco van Basten – @Nieuwsblad_be]#football #Beneliga pic.twitter.com/DIpLq4KBsO
— weTalk Ajax (@ajax_talk) April 24, 2021
Van Basten bahkan termasuk pihak yang memperjuangkan bergulirnya BeNeLiga. Menurut Van Basten, kesenjangan tim-tim Belanda dan Belgia dengan tim dari 5 liga top eropa makin besar. Dengan merger, klub Belanda dan Belgia bisa menjadi kekuatan yang diperhitungkan.
“Bagi saya, sepak bola terbaik menuntut kinerja. Jika Anda ingin mempertahankan sepak bola papan atas di negara-negara seperti Belgia dan Belanda, merangsang BeNeLiga sangat penting.” kata Van Basten dikutip dari voetbalkrant.com (24/4).
Dengan masih banyaknya pro-kontra dan belum jelasnya sistem dan kepastian kickoff-nya, perbincangan BeNeLiga masih akan terus berlanjut. Sikap dan keterlibatan UEFA akan sangat mempengaruhi boleh tidaknya BeNeLiga bergulir. Jika jadi, sepak bola akan mengikuti langkah liga hoki es Belanda dan Belgia yang sudah lebih dulu melakukan merger.
Bagaimana football lovers, apakah kamu termasuk yang pro atau kontra dengan proyek BeNeLiga?
***
Sumber Referensi: Sportspromedia, ad.nl, Forbes, Inside World Football, Football Pink, Voetbalkrant
