Beranda blog Halaman 714

BeNeLiga, Merger Liga Belgia dan Belanda yang Menuai Pro-Kontra

0

Sudah begitu lama sejak klub Belanda dan Belgia meraih prestasi di kompetisi eropa. Kini, demi dapat kembali bersaing dengan liga top Eropa lainnya, otoritas kedua liga kini tengah menggodok rencana merger Liga Belgia dan Liga Belanda dalam kompetisi BeNeLiga.

Apa itu BeNeLiga? Berikut ulasannya.

Proyek BeNeLiga pertama kali terungkap pada 2019 lalu. Adalah pemilik Club Brugge, Bart Verhaeghe yang mengungkap proyek ambisius itu kepada surat kabar Prancis, Le Monde.

“Kami sedang menyiapkan kompetisi bersama Belanda untuk memperkecil jarak ke lima negara teratas Eropa. Sepak bola Belgia sedang bangkit dan telah memasuki modernitas. Kami dapat memanfaatkan pasar yang terdiri dari 28 juta orang.” kata Bart Verhaeghe dikutip dari footballpink.net (27/8/2020).

Menggabungkan Eredivisie dengan Jupiler Pro League, proyek merger liga top Belanda dan Belgia ini bisa pula disebut sebagai liga super. Pasalnya, dalam perencanaannya, liga gabungan ini akan berisi 18 tim top dari Belgia dan Belanda.

Berdasarkan keterangan Bart Verhaeghe, BeNeLiga nantinya akan diikuti 8 klub perwakilan Belgia dan 10 klub dari Belanda. Mereka akan ditempatkan dalam satu kompetisi yang membuat BeNeLiga bakal menjadi liga lintas batas negara pertama di Eropa.

Pada 16 Maret lalu, lewat pernyataan resminya, majelis umum Liga Pro Belgia dengan suara bulat telah sepakat untuk mendukung BeNeLiga. Dalam keterangannya, keputusan tersebut diambil setelah sebanyak 25 klub papan atas Belgia memberikan suara untuk mendukung BeNeLiga.

“25 klub dengan suara bulat ingin memberikan setiap kesempatan untuk keberhasilan yang mungkin terjadi di BeNeLiga. Manajemen Pro League sekarang akan berperan aktif dalam proyek ini,” tulis Pro League dalam sebuah pernyataan, dikutip dari proleague.be (16/3).

Hingga detik ini, struktur 18 tim yang nantinya ikut BeNeLiga musim pertama belum dapat dipastikan. Namun, menurut laporan SkySports, pihak Liga Belgia telah mengusulkan 7 klub yang terpilih sebagai wakilnya.

Mereka adalah Club Brugge, Anderlecht, Standard Liege, Gent, Genk, Royal Antwerp, dan Charleroi. Sementara itu, klub kedelapan yang mewakili Liga Pro Belgia belum diputuskan. Dari pihak Eredivisie Belanda, Ajax, PSV Eindhoven, Feyenoord dan AZ Alkmaar disebut-sebut bakal bergabung dengan BeNeLiga.

Belum ada tanggal pasti kapan BeNeLiga akan digulirkan. Namun, merujuk pada situasi kedua liga, badan audit internasional, Deloitte memperkirakan bahwa BeNeLiga kemungkinan besar bakal dimulai di musim 2025/2026 mendatang. Hal ini berdasarkan situasi kedua liga yang masih terikat kontrak dengan beberapa sponsor, khususnya kontrak hak siar TV.

Akan tetapi, berbeda dengan Liga Pro Belgia yang sudah menyatakan dukungannya, pihak Eredivisie Belanda belum memberikan sikap resminya. Justru, belakangan ini muncul keraguan dari pihak Belanda.

Masih banyak klub-klub Belanda yang belum mengambil sikap terkait rencana BeNeLiga, khususnya klub-klub kecil dari Eredivisie. Belum pastinya proyek merger ini membuat beberapa direktur klub masih skeptis tentang peluang keberhasilan BeNeLiga di masa depan.

Tak hanya itu, meski dipandang akan saling menguntungkan secara finansial, tetapi BeNeLiga masih menimbulkan banyak pertentangan, khususnya dari kalangan suporter. Jajak pendapat yang dilakukan oleh Statista menunjukkan adanya perpecahan suara. Sebanyak 47% penggemar menyatakan mendukung, sementara 46% lainnya memilih menentang proyek BeNeLiga, dan 7% sisanya memilih netral.

Beberapa kelompok pendukung Belanda dan Belgia menyatakan keprihatinannya, khususnya mereka yang berasal dari Liga Belanda. Kelompok Suporter Kolektif Belanda adalah salah satu pihak yang menentang proyek BeNeLiga. Melalu pernyataan presidennya, Matthijs Keuning menilai akan sulit untuk membuat semua klub di Belanda setuju dengan proyek ini.

“Kami tidak antusias tentang itu. Budaya sepakbola unik kami akan hilang dengan merger semacam ini. Eredivisie adalah kejuaraan yang memiliki sepak bola yang menarik dan pemain yang bagus. Kami tidak begitu mengerti bagaimana mereka bisa menghilangkan citra itu dengan bergabung dengan Belgia, yang kompetisinya berbeda citra karena korupsi dan hal-hal gila lainnya.” kata Matthijs Keuning, presiden Supporterscollectief Nederland dikutip dari footballpink.net (27/8/2020).

Senada dengan pernyataan tersebut, presiden suporter Belgia, Eddy Janssis juga masih ragu dengan proyek BeNeLiga. Meski 25 klub Belgia telah menyatakan dukungannnya, namun kenyataannya kelompok suporter Belgia masih ragu bila harus away ke Belanda.

“Apakah mereka sudah memperhitungkan konsekuensi besar dalam hal keamanan? Bagaimana pengalaman penggemar akan berubah? Kriteria apa yang akan digunakan untuk menentukan siapa yang akan ambil bagian? Bagaimana Anda mengelola tiket Eropa? Banyak pertanyaan, sangat sedikit jawaban.” kata Eddy Janssis, presiden suporter Belgia dikutip dari footballpink.net (27/8/2020).

Sekilas, proyek merger Liga Belanda dan Belgia ini cukup mirip dengan rencana European Super League yang telah batal beberapa waktu lalu. Keduanya adalah liga super yang mempertemukan klub-klub besar dan kuat. Namun, ada perbedaan besar antara BeNeLiga dan European Super League.

Jika ESL digelar secara tertutup dengan 15 anggotanya yang kebal degradasi, BeNeLiga tidak menerapkan sistem semacam itu. 18 tim yang akan mengisi slot di BeNeLiga nantinya diperhitungkan berdasarkan capaian dan performa tim di musim-musim sebelumnya.

Tak hanya itu, BeNeLiga juga direncanakan bakal menerapkan sistem promosi dan degradasi. Dengan begitu, BeNeLiga tak hanya jadi liga super bagi klub papan atas saja, nantinya akan dibuat juga divisi dua dan divisi di bawahnya untuk mengakomodir seluruh klub di Belanda dan Belgia. Bahkan, rencanaya kompetisi domestik seperti Belgian Cup dan KNVB Cup tetap akan digelar tanpa terganggu dengan BeNeLiga.

Lalu, apa tujuan sebenarnya dari dibentuknya BeNeLiga yang banyak menimbulkan pro dan kontra ini?

Salah satu tujuan terbesar dari proyek BeNeLiga tak lain tak bukan adalah demi meningkatkan level kompetisi di Belanda dan Belgia. Seperti yang kita ketahui, kompetisi sepak bola di Belanda dan Belgia hanya dikuasai oleh segelintir klub top saja.

Di Belanda saja, dalam kurun waktu 30 tahun terakhir, trofi Eredivisie hampir pasti selalu diperebutkan oleh tim-tim “the big three”, yakni Ajax Amsterdam, PSV Eindhoven, dan Feyenoord Rotterdam.

Hanya AZ Alkmaar dan FC Twente yang pernah mengusik persaingan the big three dan merasakan juara. Itupun hanya terjadi di 2 musim saja, tepatnya di musim 2008/2009 dan 2009/2010. Sebelum dan setelah itu, trofi Eredivisie tak pernah jauh dari ‘the big three’.

Sementara itu, persaingan juara di Liga Pro Belgia dikuasai oleh dua klub terbesar Belgia, Anderlecht dan Club Brugge. Memang, Standard Liège pernah merasak juara di tahun 2008 dan belakangn Genk dan Gent juga ikut meramaikan persaingan. Namun, trofi liga masih begitu dikuasai oleh Anderlecht dengan 34 gelar dan Club Brugge dengan 16 gelar.

Dengan adanya BeNeLiga, klub-klub besar nan kaya seperti Ajax ataupun Anderlecht tak lagi jadi penguasa tunggal di liga. Mempertemukan klub-klub kuat dari dua negara bertetangga itu dapat menciptakan persaingan yang makin kompetitif di level domestik.

Kompetisi yang makin kompetitif akan berimbas pada kualitas klub-klub Belanda dan Belgia di Eropa. Pasalnya, meski tak pernah kekurangan bakat-bakat hebat, klub-klub Belada dan Belgia sering kali hanya jadi batu loncatan untuk hijrah ke liga-liga top Eropa.

Dampak positif lainnya, BeNeLiga dapat mendatangkan untung yang lebih besar kepada klub-klub pesertanya. Hasil studi dari Deloitte memperkirakan bahwa BeNeLiga dapat menghasilkan hingga 400 juta euro setiap tahunnya hanya dari kesepakatan hak siar saja. Angka tersebut jauh dengan pendapatan hak siar Liga Pro Belgia yang hanya 103 juta euro per musim atau Eredivisie yang cuma menghasilkan 80 juta euro per musim.

Selain alasan finansial, tujuan lain dari proyek BeNeLiga adalah demi menyaingi liga top Eropa dan memperkecil ketimpangan dengan mereka. Seperti yang kita ketahui, klub dari lima liga top Eropa sangat menguasai kompetisi Eropa, khususnya Liga Champions.

Sejak Porto juara Liga Champions 2004, setiap finalis Liga Champions berikutnya selalu berasal dari 5 liga top Eropa. Bahkan, hanya Porto saja yang berhasil melewati babak penyisihan grup di Liga Champions musim ini. Jumlah klub dari liga-liga kecil yang mampu melaju ke tahap akhir Liga Champions perlahan-lahan menurun setiap tahunnya.

Selain akan berimbas positif ke klub, BeNeLiga secara langsung juga akan berdampak positif ke timnas masing-masing negara. Meski berpotensi mencoreng tradisi dan rivalitas klub-klub lokal, serta masih banyaknya supoter yang kontra, kenyataannya BeNeLiga juga mendapat dukungan dari banyak pihak, termasuk para legenda.

Mantan kapten timnas Belgia, Vincent Kompany adalah salah satu orang yang pro dengan BeNeLiga. Kompany yang kini menjabat sebagai pelatih Anderlecht itu jadi pendukung vokal proyek merger tersebut. Selain Kompany, legenda timnas Belanda, Marco van Basten juga pro terhadap BeNeLiga.

Van Basten bahkan termasuk pihak yang memperjuangkan bergulirnya BeNeLiga. Menurut Van Basten, kesenjangan tim-tim Belanda dan Belgia dengan tim dari 5 liga top eropa makin besar. Dengan merger, klub Belanda dan Belgia bisa menjadi kekuatan yang diperhitungkan.

“Bagi saya, sepak bola terbaik menuntut kinerja. Jika Anda ingin mempertahankan sepak bola papan atas di negara-negara seperti Belgia dan Belanda, merangsang BeNeLiga sangat penting.” kata Van Basten dikutip dari voetbalkrant.com (24/4).

Dengan masih banyaknya pro-kontra dan belum jelasnya sistem dan kepastian kickoff-nya, perbincangan BeNeLiga masih akan terus berlanjut. Sikap dan keterlibatan UEFA akan sangat mempengaruhi boleh tidaknya BeNeLiga bergulir. Jika jadi, sepak bola akan mengikuti langkah liga hoki es Belanda dan Belgia yang sudah lebih dulu melakukan merger.

Bagaimana football lovers, apakah kamu termasuk yang pro atau kontra dengan proyek BeNeLiga?

***
Sumber Referensi: Sportspromedia, ad.nl, Forbes, Inside World Football, Football Pink, Voetbalkrant

Keputusan Paling Kontroversial Yang Pernah Dibuat Florentino Perez

Florentino Perez masih tercatat sebagai presiden salah satu klub terbesar di dunia, Real Madrid. Melalui gelontoran dana yang dimiliki, Perez memang layak disebut sebagai sosok yang berhasil menjadikan el Real sebagai salah satu tim paling konsisten di dunia. Dia tak jarang datangkan pemain-pemain hebat yang tersebar di seluruh dunia, hingga membuat tim tersebut terus berada dalam jalur prestasi.

Akan tetapi, dibalik jasa besarnya kepada klub, Florentino Perez juga dikenal sebagai sosok kontroversial. Dia banyak timbulkan keputusan yang banyak ditentang, yang bahkan masih diingat sampai sekarang.

Seperti pada bahasan kali ini, starting eleven akan coba merangkum deretan keputusan paling kontroversial yang pernah dibuat Florentino Perez.

 

“Menculik” Luis Figo Dari FC Barcelona

Ketika uang sudah bicara, semua memang tampak mudah. Hal itulah yang dilakukan Florentino Perez dalam prosesnya merekrut Luis Figo. Pada Juli 2000, Luis Figo secara mengejutkan menapakkan kaki di Estadio Santiago Bernabeu, setelah sebelumnya menjadi andalan sekaligus bintang yang banyak dipuja para penggemar FC Barcelona.

Di tahun tersebut, Figo sudah didatangkan dengan nilai sebesar 62 juta euro atau setara lebih dari 1 triliun rupiah. Angka yang benar-benar gila untuk mendatangkan seorang pemain saja pada periode tersebut.

Sekali lagi, dibalik kepindahan kontroversial Luis Figo dari FC Barcelona menuju Real Madrid, terdapat sosok Perez yang disebut pemain asal Portugal tersebut telah menjebaknya. Ketika itu, Perez yang mencalonkan diri untuk jadi presiden Real Madrid memberikan janji kepada seluruh pemilih, bila dia berhasil menduduki kursi tertinggi el Real, maka dia akan mendatangkan bintang Barcelona, Luis Figo.

Janji tersebut pun sudah direncanakan sebelumnya, dimana dia telah bertemu dengan agen Figo dan membuat perjanjian khusus. Akhirnya setelah Perez resmi menjadi presiden Real Madrid, Luis Figo pun secara otomatis harus menyebrang ke Bernabeu karena kesepakatan yang sebelumnya telah dibuat melalui sang agen.

Transfer itu tidak akan pernah dilupakan dunia, penggemar FC Barcelona khususnya. Penggemar el Barca menyebut Figo sebagai pengkhianat terbesar karena telah berani bergabung dengan rival abadi mereka, Real Madrid.

 

Membiarkan Vicente del Bosque Pergi

Vicente del Bosque merupakan salah satu pelatih terbaik dalam sejarah Real Madrid. Dia menjadi pelatih legendaris yang mampu memberi kejayaan besar bagi klub berjuluk Los Blancos.

Selama periode 1999 sampai dengan 2003, Vicente del Bosque berhasil memenangkan gelar Liga Champions Eropa sekaligus trofi La Liga. Dengan prestasi yang didapat, dia pun berharap bisa bertahan lebih lama di Real Madrid. Pun dengan para penggemar yang menginginkan del Bosque untuk tetap tinggal saat masa kontraknya habis.

Akan tetapi, secara mengejutkan, Florentino Perez menolak rencana perpanjangan kontrak Vicente del Bosque. Perez menyebut bila del Bosque sudah tidak sanggup lagi menanggung beban yang diberikan klub. Sontak hal tersebut membuat semua orang kaget.

Perez sejatinya sempat menawarkan jabatan direktur teknik bagi del Bosque. Namun sang pelatih menyebut tawaran itu sebagai penghinaan. Akhirnya, karena tidak tercapai kesepakatan, Perez pun dengan begitu mudah membiarkan del Bosque pergi. Kejadian itu lantas disebut sebagai salah satu penyesalan terbesar Real Madrid.

Pasalnya, usai del Bosque pergi, prestasi Real Madrid langsung merosot tajam. Terlebih, mereka harus berjuang sangat keras untuk bisa berjaya di panggung Eropa.

 

Menjual Claude Makelele

Menjual Claude Makelele mungkin disesalkan oleh banyak pihak yang berada di Real Madrid.

Ketika itu, pemain asal Prancis tersebut dianggap sebagai salah satu galactico terbaik yang dimiliki Real Madrid. Keberadaan Makelele dianggap penting oleh siapapun, tak terkecuali para pemain Real Madrid. Sayangnya, Perez yang tidak menyukai sosok Makelele langsung membiarkannya pergi tanpa pernah membahas perpanjang kontrak sang gelandang.

Banyak yang menyebut bila alasan Perez mendepak Makelele adalah karena sang presiden tidak menginginkan adanya pemain berkulit hitam di Real Madrid. Hal itu pun disadari oleh Makelele, dimana dia menyebut bila Perez memang punya perlakukan berbeda terhadap para pemain berkulit hitam.

Akhirnya, polemik yang terjadi ketika itu dimanfaatkan oleh Chelsea yang masih membangun kekuatan terbaik mereka. Keputusan Perez dalam mendepak Makelele pun dikecam oleh pemain seperti Zinedine Zidane dan juga Luis Figo, yang mengatakan bila sang presiden telah mencederai kekuatan timnya sendiri.

Benar saja, Madrid kesulitan meraih gelar juara setelah kehilangan Makelele. Sementara itu, Chelsea justru menjadi salah satu tim terbaik Eropa dengan Makelele yang berada di lini tengah mereka.

 

Menolak Untuk Merekrut Ronaldinho dan Eto’o

Memilih untuk tidak merekrut Ronaldinho dan Samuel Eto’o meski memiliki kesempatan untuk melakukannya mungkin menjadi keputusan terburuk yang pernah dilakukan Perez. Betapa tidak, dua bintang sepakbola itu justru menjadi andalan untuk tim rival mereka, FC Barcelona. Eto’o dan Ronaldinho bahkan tidak hanya membawa Barca berjaya di La Liga, namun juga di Eropa.

Pada tahun 2003 silam, Perez sejatinya punya kesempatan untuk merekrut Ronaldinho. Namun sama seperti kasus Makelele, Perez lebih memilih untuk mendatangkan David Beckham yang dianggap punya paras lebih tampan. Atau dengan kata lain, Perez menolak untuk merekrut sang bintang asal Brasil karena memiliki wajah yang jelek, dan diprediksi takkan bisa membuat klubnya mendapat keuntungan dari penjualan jersey.

Kemudian, untuk Eto’o, pemain asal Kamerun itu juga memiliki perasaan yang sama. Dia merasa bahwa Perez kurang menyukai pemain berkulit hitam. Namun kabar diluar menyebutkan kalau Perez tidak menganggap Eto’o lebih baik dari Ronaldo maupun Raul. padahal, Eto’o ketika itu bermain sangat baik bersama Mallorca.

Akhirnya, hal tersebut dimanfaatkan FC Barcelona untuk mengambil tindakan. El Barca memberikan tawaran kepada Eto’o dan langsung diterima oleh sang pemain.

 

Menjadi Dalang Dari Terbentuknya Kompetisi Liga Super Eropa

Masih hangat diperbincangkan, Florentino Perez banyak mendapat cercaan, setelah dianggap sebagai dalang dari terbentuknya proyek ESL. Kompetisi Liga Super Eropa yang nantinya akan mempertemukan tim terbaik di seluruh Eropa itu dianggap sangat kontroversial.

Banyak yang menyebut bila Perez hanya ingin mempertebal kantong sendiri tanpa memikirkan nilai-nilai sepakbola yang sesungguhnya. Maka dari itu, dia mendapat pertentangan, tidak hanya dari kalangan pemain, namun juga pelatih dan yang lainnya.

Setelah hanya sekitar dua hari, proyek ESL pun ditangguhkan. Banyak klub yang sebelumnya bergabung memilih untuk mengundurkan diri dengan alasan tekanan dari banyak pihak, terutama penggemar.

Namun begitu, Perez masih belum menyerah. Dia akan mencari cara lain untuk menjelaskan kepada semuanya bahwa proyek ini sangatlah tepat untuk “menyelamatkan” sepakbola.

Apa Saja Tugas-Tugas Asisten Pelatih Dalam Sepakbola?

0

Jika, seorang pelatih kerap menjadi perhatian media sehingga membuatnya terkenal dan dikagumi banyak orang, maka si asisten pelatih sangat jarang mendapat sorotan media. Di satu sisi, media memang lebih suka menyoroti pemain maupun pelatih utama.

Tak mengherankan jika nama-nama asisten pelatih tidak banyak dikenal oleh publik. 

Sangat sedikit orang yang mengenal sosok seperti Zeljko Buvac, Thomas Schneider, atau Herman Burgos. Sebagian orang mungkin mengenalnya secara dekat, atau hanya tahu sebatas nama, tapi tetap saja nama-nama tersebut tidak sepopuler pelatih kepala. 

Buvac adalah asisten Jurgen Klopp di Liverpool, Schneider pernah menjadi asisten Joachim Loew di Timnas Jerman dan Burgos adalah asisten Diego Simeone di Atletico Madrid sejak 2011 hingga 2020.

Padahal, meski asisten pelatih bertugas di balik layar, namun peran mereka sama pentingnya dengan seorang pelatih utama. Bahkan, bisa dikatakan tanpa seorang asisten, pelatih utama tak akan ada apa-apanya.

Seperti saat Pep Guardiola melatih Barcelona. Tanpa sosok Tito Vilanova sebagai asistennya, belum tentu Guardiola bisa membawa Barcelona meraih 14 trofi dalam kurun waktu 2008-2012.

Lalu ada pula duet Brian Clough dan Peter Taylor. Bagi Clough, Taylor bukan hanya sekadar asisten pelatih, tapi juga tempat berkeluh kesah.

Keduanya pernah mengambil peran bersama-sama di empat klub berbeda, yakni Hartlepool United, Derby County, Brighton & Hove Albion, dan Nottingham Forest. Mereka dikenang karena meraih dua gelar Piala Eropa (Liga Champions) berturut-turut. 

Hubungan pelatih dan asisten yang sudah disebutkan tadi bisa dijadikan bukti bahwa asisten pelatih punya peran sangat penting dalam kesebelasan sepakbola.

Dalam jajaran kepelatihan sebuah kesebelasan, asisten pelatih sering diidentikkan sebagai yang nomor dua. Rata-rata penghasilan asisten pelatih pun hanya separuh dari gaji yang diterima sang pelatih.

Namun begitu, asisten pelatih diplot sebagai tangan kanan dari seorang pelatih.

Untuk Itu Apa Saja Tugas – Tugas Asisten Pelatih Bola?

Selain menyiapkan peralatan untuk latihan, para asisten pelatih juga bertugas memberikan instruksi khusus terkait apa yang diinginkan pelatih kepada para pemainnya. Disini, asisten pelatih harus bisa memastikan bahwa para pemain di dalam tim bisa memahami dan mengerti apa yang diinginkan oleh sang pelatih.

Di satu sisi, sang asisten juga harus lebih memahami apa keinginan bosnya, sehingga bisa membantu para pemain untuk menerapkan taktik dan strategi dalam latihan maupun pertandingan.

Tak cukup sampai disitu, asisten pelatih juga membantu urusan bosnya dalam mengorganisasi, pelatihan dan menyusun rencana yang akan dijalankan sebuah tim sepakbola, serta memastikan bahwa rencana itu bisa berjalan sesukses mungkin.

Tugas lain seorang asisten pelatih adalah menjaga para pemainnya agar tetap dalam koridor disiplin dan mendorong mereka agar terus semangat. 

Terkadang, saat memberikan program latihan, sang pelatih kepala bisa menjadi sosok yang sangat kejam. Hal ini biasanya bisa mempengaruhi mood para pemain.

Disini, asisten pelatih menjadi orang yang bertanggung jawab dalam menjaga mood para pemain agar terus semangat berlatih. Tak heran jika asisten pelatih justru memiliki hubungan yang lebih dekat dengan para pemain ketimbang pelatih kepala.

Untuk itu, seorang asisten pelatih sepak bola juga harus memiliki pola pikir dan jiwa yang sehat, karena tak jarang mereka harus berperan layaknya ayah untuk para pemain.

Lalu, tugas lain seorang asisten pelatih adalah memantau semua pemain selama sesi latihan untuk mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan masing-masing pemain. 

Selain itu, asisten pelatih juga bertugas mengembangkan program untuk mengamati setiap pemain saat latihan dan pertandingan, serta mengidentifikasi hal-hal yang dirasa perlu dibenahi untuk kemudian dibuat perencanaan sesuai kebutuhan.

Tugas lainnya yang harus dilakukan oleh asisten pelatih, yakni mengembangkan dan menerapkan jadwal latihan mingguan sebagai bagian dari strategi perencanaan.

Tak cukup sampai disitu, asisten pelatih juga harus memiliki pemahaman taktikal yang baik. Karena tidak jarang, dalam sebuah pertandingan, sang pelatih meminta pendapat maupun saran akan taktik yang harus diterapkan pada tim.

Tugas asisten pelatih yang lainnya adalah menghadiri konferensi pers, memberikan laporan perkembangan pemain, maupun memberikan motivasi pada pemain yang mentalnya sedang down.

Dalam praktiknya asisten pelatih dalam sebuah tim tidak melulu berisi satu orang. Bisa juga lebih. Seperti trio Steve Holland – Rui Faria – Silvino di Chelsea, atau duet Antonio Gomez – Fabio Pecchia di Real Madrid.

 

 

Sumber referensi : Pandit, Sportdetik, Great

7 Pemain Ini Dipercaya Bakal Segera Tinggalkan Real Madrid

Real Madrid, setiap tahunnya, selalu aktif untuk terus mengembangkan dan juga memperbaiki skuad yang ada. Mereka yang boleh dibilang sebagai tim terbaik di dunia selalu punya ambisi menjadi sang juara dalam segala kompetisi. Dengan target yang selalu tinggi, tak jarang pula hal tersebut berdampak pada situasi sejumlah pemain. Ada dari mereka yang menjadi korban karena dianggap tidak bisa mengikuti perkembangan tim, ataupun dianggap sudah tidak bisa lagi diandalkan.

Pada musim ini, tampaknya akan ada banyak pemain Real Madrid yang pergi. Merujuk pada beberapa faktor ada beberapa pemain yang tampak bakal berganti kostum pada musim depan. Kira-kira siapa sajakah pemain yang dipercaya bakal tinggalkan Real Madrid? Simak ulasannya berikut ini.

 

Mariano Diaz

Nama Mariano Diaz berpotensi pergi dari Estadio Santiago Bernabeu. Sejak didatangkan ke Real Madrid, nama Diaz memang jarang sekali didengungkan para penggemar. Dia jarang dimainkan dan bisa dianggap gagal penuhi harapan.

Selama diberi kesempatan tampil, dia kesulitan tampil konsisten. Tidak ada permainan yang pada akhirnya membuat eks pemain Lyon ini mengesankan penggemar. Sejauh ini, sudah ada beberapa klub yang dikatakan siap menampung jasa pemain 27 tahun ini. AS Roma, AC Milan, sampai Real Sociedad dikabarkan tertarik kepadanya.

Selain itu, tiga klub Liga Primer Inggris, Crystal Palace, Leicester City, dan Everton juga tak mau ketinggalan untuk dapatkan jasa Mariano Diaz.

 

Álvaro Odriozola

Pemain berusia 25 tahun, Álvaro Odriozola, kabarnya masuk ke dalam daftar jual Real Madrid. Álvaro Odriozola memang minim kontribusi kepada klub. Di kompetisi liga saja, jumlah penampilannya tak lebih dari 5 kali. Meski didatangkan dari Real Sociedad dengan harga yang cukup mahal (35 juta euro) pada tahun 2018 lalu, Álvaro Odriozola gagal buktikan kualitas.

Álvaro Odriozola juga sempat dipinjamkan ke FC Bayern sebelum akhirnya kembali ke Spanyol. Namun sekali lagi, dia gagal tunjukkan kualitas yang dimiliki.

Kini, klub asal ibukota itu mencari peminat sang pemain yang ingin membayar hingga 20 juta euro. Dia akan dijual karena diberitakan sudah tidak masuk lagi ke dalam rencana sang pelatih Zinedine Zidane.

 

Borja Mayoral

Pada Oktober 2020 lalu, Real Madrid resmi melepas Borja Mayoral ke AS Roma dengan status pinjaman. Sang pemain dilaporkan bakal tinggal di ibukota Italia selama kurang lebih dua tahun. Dilepasnya Borja Mayoral ke Roma adalah karena pemain muda berbakat itu gagal beradaptasi dengan skema permainan Zidane.

Sebelumnya, dia bahkan sempat dipinjamkan selama semusim ke Wolfsburg (2016/17) dan dua musim di Levante.

Kini, setelah menjalani musim yang cukup baik dengan AS Roma, sang pemain ingin bertahan di Stadion Olimpico. Disisi lain, Real Madrid juga tampak bakal melepasnya secara permanen. Dengan begitu, keinginan Borja Mayoral yang ingin terus memperkuat Roma pun berpotensi terkabul.

 

Isco

Nama Isco sudah sejak lama diberitakan bakal segera pergi meninggalkan Real Madrid. Hal itu berkaitan dengan situasinya yang tampak sulit mendapat kepercayaan pelatih. Isco sebenarnya masih dikontrak sampai musim panas 2022, namun sekali lagi, dia tampak tidak dibutuhkan di tim.

Menurut beberapa sumber, Isco bahkan tidak hanya kehilangan kepercayaan dari pelatihnya saja, namun juga rekan-rekan setimnya. Dia juga kalah bersaing dengan nama-nama seperti Luka Modric, Casemiro, Toni Kroos hingga Fede Valverde.

Di tengah isu kepergian Isco dari Real Madrid, Everton melalui pelatih Carlo Ancelotti tertarik untuk mendatangkan sang pemain ke kompetisi Liga Primer Inggris.

Selain Everton masih ada tim lainnya yang juga berminat dengan jasa Isco. Mereka adalah Juventus, Napoli, sampai Arsenal.

 

Marcelo

Selain Isco, ada nama Marcelo yang juga merupakan pemain lama, yang berpotensi dilepas oleh Real Madrid dalam waktu dekat ini.

Marcelo pada musim ini kurang mendapat kepercayaan dari pelatih Zinedine Zidane. Dia beberapa kali tampil dibawah performa terbaiknya dan mulai kalah bersaing dengan nama baru yang lebih fresh dan konsisten. Secara blak-blakan, Zidane bahkan berucap kalau dia tidak akan menahan pemain yang memang ingin pergi. Dalam hal ini, Marcelo menjadi pemain yang dimaksud Zinedine Zidane.

Satu destinasi yang kemungkinan bakal dijajal Marcelo adalah Juventus. Klub asal Italia itu sudah sejak lama menunjukkan ketertarikannya kepada pemain asal Brasil. Terlebih, disana ada nama Cristiano Ronaldo yang kita semua tahu merupakan sahabat dekat Marcelo sewaktu di Real Madrid.

Selain nama Juventus, klub milik David Beckham, Inter Miami, juga tampak bakal mencuri kesempatan bila memang ada celah untuk merekrut Marcelo.

 

Gareth Bale

Gareth Bale kini masih menjalani status sebagai pemain pinjaman di klub yang telah membesarkan namanya, Tottenham Hotspurs. Namun dia tidak menunjukkan perbaikan performa selama berada di bawah asuhan Jose Mourinho. Dirinya pun berpotensi kembali ke Real Madrid musim depan.

Nahas, klub asal Spanyol tersebut tampak tidak ingin lagi menerima kedatangan Gareth Bale. Madrid tampak ingin melepas Gareth Bale dan mendapat dana yang cukup untuk menambal keuangan klub di masa pandemi. Sebab, Bale menjadi pemain dengan gaji tertinggi di Madrid saat ini, dengan nilai 600 ribu pounds per pekan atau sekitar 11,9 miliar rupiah. Jika ditotal setahun, maka angkanya mencapai 31 juta pounds atau setara 622 miliar rupiah.

Selain karena faktor keuangan, keinginan Madrid untuk melepas Bale adalah karena mereka ingin mencoba mendatangkan salah satu dari dua pemain muda hebat saat ini, Erling Haaland atau Kylian Mbappe.

 

Sergio Ramos

Sergio Ramos, sudah sering diberitakan bakal segera tinggalkan Real Madrid. Hal itu pun tampak bakal menjadi kenyataan setelah Madrid tak kunjung menunjukkan tanda-tanda bakal mempertahankan sang pemain dalam waktu yang lebih lama.

Di usia yang sudah menginjak 35 tahun, Ramos baru tampil dalam 20 laga musim ini. Hal itu sudah sedikit membuktikan bahwa dirinya memang telah dipersiapkan untuk dijual. Beberapa kali, nama Varane, Eder Militao, dan juga Nacho Fernandez, juga masih menjadi nama yang terus diandalkan oleh Zinedine Zidane.

Faktor lain yang membuat Real Madrid begitu yakin untuk melepas Ramos adalah karena sang pemain memaksa klub untuk memberinya kontrak selama dua tahun plus kenaikan gaji.

 

Begini Cara Klub Sepak Bola Hasilkan Uang dari Stadion

Sepak bola telah bertransformasi menjadi industri yang menggiurkan. Di era sepak bola modern, klub dituntut untuk mandiri, khususnya menghasilkan pemasukan yang tak hanya mampu menghidupi klub, tapi juga menghasilkan keuntungan.

Salah satu sumber pemasukan klub sepak bola adalah dari stadion. Bagi klub sepak bola modern, stadion tak cuma aset atau fasilitas biasa, tapi juga potensi yang bisa mereka maksimalkan sebagai penghasil pundi-pundi uang.

Lalu, bagaimana cara klub sepak bola mengasilkan uang dari stadionnya? Berikut ulasannya.

 

1. Tiket pertandingan

Tiket jadi salah satu sumber pemasukan utama dari stadion. Klub modern lazimnya menyediakan tiket pertandingan yang dijual harian dan musiman.

Namun, di klub besar khususnya yang berasal dari Eropa, mereka tak hanya menjual tiket tribun atau VIP saja. Ada satu jenis tiket yang dijual sangat eksklusif hingga melebihi kelas VVIP. Tiket tersebut adalah hospitality tickets.

Sesuai namanya, hospitality tickets adalah tiket termewah yang ditawarkan klub kepada penonton. Pemegang tiket ini akan ditempatkan di ruang khusus ber-AC dengan pelayanan sekelas hotel dan restoran berbintang.

Beberapa keuntungan yang didapat pemegang tiket ini antara lain, diijinkan turun langsung ke lapangan baik sebelum dan sesudah pertandingan, mendapat layanan makanan dan minuman ala restoran mewah, hingga mendapat suvenir eksklusif. Beberapa bahkan menyediakan paket berfoto bersama pemain atau legenda.

Namun, hanya klub dengan stadion dan fasilitas megah saja yang punya pelayanan ini. Liverpool contohnya. Harga paket hospitality di Anfield dimulai di angka 2.900 poundsterling (sekitar Rp. 58 juta)* per pertandingan. Itu adalah harga di musim 2016/2017, tentu sekarang harganya jauh lebih mahal.

2. Persewaan Stadion

Di luar jadwal pertandingan, khususnya di jeda musim, klub bisa mendapat pemasukan dari berbagai fasilitas stadion yang mereka sewakan dengan berbagai penawaran paket. Banyak klub sepak bola menghasilkan uang dengan menyewakan stadion mereka untuk berbagai acara, seperti pesta, kegiatan amal, konferensi, bahkan pernikahan.

Kandang Manchester City misalnya. Etihad Stadium mengenakan biaya 100 poundsterling (sekitar Rp. 2 juta)* per orang yang ingin menikmati paket sarapan dan makan malam di sana. Sementara itu, Carrow Road, markas Norwich City mengenakan biaya sekitar 1.500 poundsterling (sekitar Rp. 30 juta)* kepada pengunjung yang ingin merasakan bertanding di dalam stadion.

Contoh stadion paling modern yang punya fasilitas terlengkap adalah Veltins Arena. Stadion berkapasitas 62,271 kursi milik Schalke itu punya lapangan yang bisa digeser keluar-masuk stadion. Dengan teknologi itu, Veltins Arena dapat digunakan untuk berbagai keperluan.

Tercatat, kandang dari Schalke itu pernah dipakai untuk berbagai ajang olahraga lain, seperti tinju, Speedway Grand Prix (2007, 2008), Ice Hockey World Championship (2010), dan juga disewa untuk mengadakan konser musisi ternama. Bon Jovi, Metallica, hingga Coldplay pernah manggung di dalam Veltins Arena.

 

3. Penjualan Makanan dan Merchandise Resmi

Sebagian besar klub mendirikan official store mereka di kompleks stadionnya. Berbagai merchandise resmi, mulai dari jersey, bola, atau syal dan beragam memorabilia dijual di sini.

Selain itu, klub biasanya juga menyediakan toko makanan dan minuman ringan di sekitar stadion. Makanan dan minuman yang dijual oleh gerai resmi klub adalah sumber penghasilan kecil bagi klub sepak bola di hari pertandingan atau acara lainnya.

 

4. Museum dan Tur Stadion

Klub papan atas biasanya menyediakan paket tur stadion kepada para pengunjungnya sepanjang tahun. Klub yang punya reputasi bagus, deretan trofi mentereng, atau sejarah panjang juga mendirikan museum di sekitar stadion mereka. Museum tersebut jelas jadi daya tarik fans yang ingin melihat atau berfoto dengan memorabilia klub yang terkenal.

Salah satu klub Liga Primer Inggris, Aston Villa mengenakan biaya 15 poundsterling (sekitar Rp. 300 ribu)* untuk orang dewasa dan 10 poundsterling (sekitar Rp. 200 ribu)* untuk anak di bawah 18 tahun yang hendak menikmati tur stadion Villa Park. Aston Villa juga menawarkan tur lengkap dengan makan siang, khusus untuk hari Minggu, dengan biaya 30 poundsterling (sekitar Rp. 600 ribu)* untuk dewasa dan 20 poundsterling (sekitar Rp. 400 ribu)* untuk anak di bawah 18 tahun.

5. Sponshorsip dan Naming Rights

Namun, penghasilan terbesar klub dari stadion berasal dari kesepakatan mereka dengan berbagai sponsor, termasuk sponsor yang berminat membeli naming rights atau hak penamaan stadion. Menurut KPMG Football Benchmark, kesepakatan naming rights jadi sumber pemasukan terbesar ketiga di sektor komersial setelah kesepakatan dengan pemasok jersey dan sponsor utama di jersey.

Penjualan hak penamaan stadion sangat akrab di Amerika yang juga menjadi pelopornya. Di Eropa sendiri, naming rights sangat akrab dengan klub-klub Jerman. Berdasarkan survei KPMG, 78% klub Bundesliga menyematkan nama sponsor di stadionnya.

Musim ini, sebanyak 14 klub Bundesliga telah menjual naming rights stadion mereka. Borussia Dortmund misalnya. Hak penamaan Westfalenstadion dijual ke perusahaan asuransi, Signal Iduna sejak tahun 2005 lalu hingga 2021.

Di Italia, hanya 4 klub yang menjual hak penamaan stadionnya, salah satunya Juventus. Juve sukses menjual naming rights J Stadium kepada perusahaan asuransi ternama, Allianz terhitung sejak 1 Juli 2017 hingga Juni 2030.

Menurut catatan KPMG, nilai kontrak terbesar penjualan naming rights masih dipegang oleh Manchester City. The Citizen mendapat pemasukan dari maskapai penerbangan Uni Emirat Arab, Etihad Airways sebesar 17,1 juta euro pertahun (sekitar Rp. 301 miliar)*, terhitung sejak 2011 lalu hingga akhir musim 2021 ini.

Di bawah City ada Atletico Madrid dengan stadion barunya, Wanda Metropolitano. Setelah membeli kepemilikan Estadio Metropolitano dari pemerintah kota Madrid, Atletico lalu merenovasi stadion tersebut lalu menjual hak penamaan stadionnya kepada Wanda Group. Diketahui, Atletico menerima pemasukan 9,6 juta euro pertahun (sekitar Rp. 169 miliar)* dari perusahaan IT asal China itu hingga 2022 nanti.

Akan tetapi, perlu diketahui bahwa klub sepak bola baru bisa memaksimalkan potensi pendapatannya apabila stadion yang mereka pakai berstatus milik sendiri. Sebab, apabila stadion tersebut masih bersifat sewa, maka klub masih wajib membayar biaya sewa dan perawatan kepada sang pemilik asli.

Di Liga Italia ketimpangan itu begitu terlihat. Stadion Juventus yang cuma punya kapasitas 41.507 kursi punya pemasukan yang jauh lebih tinggi dibanding Giuseppe Meazza yang punya kapasitas 75.923 kursi. Jumlah kehadiran fans di stadion Juve juga masih kalah dibanding AC Milan dan Inter Milan.

Namun, fakta berkata lain. Pada tahun 2019 saja, penghasilan Juventus di sektor matchday revenue yang sangat ditunjung oleh fasiltas stadion, seperti penjualan makanan dan minuman serta khususnya tiket pertandingan mencapai 208,5 juta euro (sekitar Rp. 3,7 triliun)*. Angka tersebut jauh meninggalkan penghasilan Inter Milan yang hanya mendapat pemasukan sebesar 159,2 juta euro (sekitar Rp. 2,8 triliun)*.

Inilah salah satu sebab semakin banyaknya klub besar Eropa yang tengah berencana membangun stadionnya sendiri. Beberapa klub juga sedang merenovasi stadionnya agar semakin megah. Dengan punya stadion sendiri, klub dapat memaksimalkan segala potensi pendapatannya.

Semakin klub tersebut berprestasi, punya basis fans yang besar, dan punya stadion yang megah, stadion mereka bisa jadi destinasi wisata yang menarik, baik bagi wisatawan domestik maupun internasional.

Itulah beberapa cara klub sepak bola mengasilkan uang dari stadionnya. Dengan makin berkembangnya sepak bola ke arah industri, bukan tak mungkin bakal makin banyak inovasi yang dilakukan klub sepak bola untuk menghasilkan uang dari stadionnya di masa depan.

*Asumsi kurs 1 Poundsterling = Rp. 20.000 & asumsi kurs 1 Euro = Rp. 17.000

 

***
Sumber Referensi: Football Stadium, KPMG, 90min, Football Iconic, El Arte del Futbol